kembali ke rumah

udah pada tahu kan saya ini sudah kembali tinggal bersama orangtua saya sejak beberapa bulan yang lalu.

melihat dari sejarah (did i write sejarah? padahal baru beberapa tahun yang lalu), saya ini ‘pergi’ keluar dari rumah dan officially gak tinggal sama orangtua sejak tahun 2000. Udah lama yah? Lumayanlah.

ada banyak hal yang berubah sejak terakhir saya tinggal di rumah di tahun 2000. dulu, di tahun 2000 saya punya space satu kamar sendiri yang isinya yah barang-barang sendiri. barang-barang itu masih ada sebenarnya sekarang, hanya saja semenjak saya keluar rumah, udah banyak keberadaannya yang berpindah ruangan.

kasur yang dulu kasur springbed kecil yang keberadaannya sudah lebih dulu ada di dunia dibanding saya sudah berganti springbed king size yang menyedot space kamar yang kecil.

tapi yang lain masih tetep: meja rias yang dipasang menempel setinggi saya waktu SMP (dan sekarang kalok mau make itu saya serba salah, mau duduk dibawah gak kliatan, mau berdiri yang kliatan cuman dada saya), lemari plastik yang sekarang isinya cuman baju-baju bekas, rak berkas parsel lebaran yang isinya buku-buku saya.

yang bertambah: lemari kayu mamak yang diungsikan ke atas, karena kalok ditarok di kamar Beliau, bisa kerendem banjir. dan jutaan pritilan gak penting yang mbikin kamar saya kek gudang.

dan sejak saya officially pindah ke rumah mamak, saya pengen banget menjadikan kamar itu kamar saya. karena dulu itu jadi semacam kamar tamu. kamar buat siapa saja yang mau menginap. karena yah, cuman di kamar itu aja kondisinya lumayan -walaupun-dengan-banyak-barang-gak-penting.

nah, dalam rangka ingin menjadikan kamar itu senyaman mungkin, saya memiliki beberapa ide sebenernya:

pertama, saya punya obsesi mengganti kasur yang ada di kamar. Karena dulu itu kasurnya ukuran king size yang bikin ruangan tampak sempit. akhirnya, Alhamdulillah saya bisa beli kasur sendiri, walopun nyicil (gak usah ketawa! tiap orang yang saya bilangin kalok saya nyicil kasur itu ujung-ujungnya pada ketawa. karena menurut mereka harusnya saya nyicil barang lain, kek handphone kek, tipi kek, mobil kek. tapi gmana dong, saya butuhnya kasur waktu itu). jadi kasur baru tapi nyicil saya itu udah teronggok manis di kamar.

kedua, saya pengen banget punya lemari sliding. buat baju-baju saya yang gak gitu banyak itu. karena sampek saat ini, baju saya masih di koper dan kardus (kasian yak, kek idup nomaden aja).

ketiga, saya pengen nggeser itu meja rias. jadi, model meja rias saya itu meja rias yang kacanya ditempel, terus bawahnya ada meja yang ditempel di dinding juga (sayang ga sempet motret). waktu masang meja rias itu tinggi saya belum setinggi sekarang, jadi yah gitu deh. sekarang kalok mau make itu kaca, saya nunduk-nunduk gak jelas.

keempat, saya pengen banget ngebuangin semua benda-benda pritilan kecil yang saya gak tahu punya siapa. karena tiap ada yang nginep di rumah, sering banget ninggalin entah itu majalah, buku, kaos, kaos kaki, daleman jilbab tau apapun deh yang kecil-kecil. malah kadang sampah kardus sepatu. bingung? saya juga bingung.

***

tapi, selaen persoalan kamar. ada satu persoalan besar yang saya masih berusaha memperbaikinya: adaptasi dengan aturan rumah. harus pulang jam segini, harus bangun jam segini, kalau libur jangan dipakek tidur doang,

uring-uringan? Pasti. beruntunglah saya pindah ke rumah dengan status saya yang bukan pengangguran, alias ada yang dikerjain cyiiin. hahahahha. jadi jarang juga di rumah. paling mengurut dadanya kalok udah weekend. ais harus begini, ais harus begitu, kenapa gak begini, kenapa gak begitu.

so, ada yang mau ngasih tips gak buat saya cepat beradaptasi dengan perubahan ‘tinggal sendiri’ menjadi ‘tinggal bersama orangtua’?

ditunggu :kiss:

 

 

Advertisements

lagi – lagi soal buku

Selama di Purwokerto, saya memiliki tugas untuk menemani Tante saya, yang merupakan istri dari adeknya Bapak saya (benerkan Tante?). Hal ini dikarenakan Oom saya sedang tugas ke luar, jadi saya diharapkan bisa menggantikan salah satu tugas Oom (baca: nganter jemput Anak) selama si Oom gak ada.

Sebenarnya ini tugas favorit buat saya. Saya bisa banyak banget belajar karakter anak dari berbagai usia. FYI nih, anak Tane dan Oom saya ini empat orang. Satu kelas 3 SMP, nomor dua kelas 1 SMP, nomor tiga kelas 5 SD dan yang kecil kelas 1 SD.

saya biasa memanggil mereka dengan sebutan cindil. entah kata darimana itu.

nah malam ini, saya seperti biasa, datang ke rumah Tante di jam makan malam. menghemat duit yang sudah tidak dihemat itu memang jobdesc-nya jobseeker kek saya. jadi apa aja yang gak mengeluarkan duit dan mendatangkan manfaat saya lakoni (hahahahaha…)

Si cindil satu yang kelas 3 SMP dan beranjak ABG ini memiliki hobi baca kek saya. Dan saya pernah menganjurkan buku-buku yang menurut saya bakal dia suka. Yah kek 5cm-nya Donny Dhirgantoro (walopun dia ngaku ada beberapa part yang dia gak paham. yaiyalah ya.. menurut ngana?), atau serial Girl Talk yang saya baca waktu seumur dia.
Saya sih ngerasa buku itu cocok buat si Cindil satu. secara umur dan juga budaya serta nilai yang diajarkan di keluarga Tante saya.

Nah, malam ini saya datang nih (cerita kok mubeng maring ndi baen Is…) ngeliat ada novel teenlit dengan judul ‘The Uncensored Confession karya Nina Malkin. Ngeliat dari judulnya saya tahu itu novel terjemahan. saya ambil buku itu.

Terus Tante ngomong pas ngeliat saya megang buku itu:

“Ya ampun Mbak itu novel kok isinya begitu yah? Isinya ada seks bebas gitu. padahal diceritakan di situ kalau itu tokohnya umurnya 15 tahun. mau melepas keperawanan gitu.”

Saya buka bukunya. Terpampang di halaman muka ‘teenlit’. Jelaslah si Cindil satu memilih buku ini dari rak buku Toko buku, karena tulisannya Teenlit.

Tapi yah kalau isinya seperti yang disebutkan oleh Ibunya, kok bisa yah?

Saya gak kaget sih kalau novel terjemahan bisa memuat hal-hal yang seperti disebutkan seperti itu di atas. Karena memang budaya kita berbeda. Tapi apakah Cindil satu yang beranjak ABG itu sudah cukup dewasa untuk melihat budaya yang berbeda itu?

Saya akhirnya bilang sama Cindil satu buat pinter-pinter milih bacaan, bacalah karya-karya seperti Lima Sekawan, Mallory Towers, yang setahu saya sedang dicetak ulang. Tapi itukan yang terlihat yah? Bagaimana jika cindil satu membaca buku-buku teenlit yang isinya yang seperti  itu di tempat lain?

Sebenarnya label ‘teenlit’ itu melalui Quality Control gak sih? siapa yang menempatkan itu?

Saya belum baca bukunya sih. Makanya cuman nanya aja

:mrgreen:

see you next post!

*postingan ii dibuat diantara teriakan Cindil empat, huru hara cindil dua dan tiga yang mau mbantuin tugas nggambar kakaknya dan gempuran #nomention dari web sebelah. hahahahaha…selesaaaih!

berbicara mengenai kejujuran

baiklah, sebelum blog ini ‘dituduh’ jadi blog yang dianggurin, maka di hari rabu selo ini (emang kapan kamu gak selo Is?) saya akan mencoba menjabarkan apa yang ada di kepala saya.

beberapa hari belakangan ini, saya sedikit terganggu dengan pemikiran-pemikiran yang loncat dari kepala saya. tentang satu hal: jujur.

bukan jujur kacang ijo, atau jujur ayam. tapi ini jujur yang saya ambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia Online  (yang versi cetak kagak punya soalnya…. hehehehe) sebagai:

[a] (1) lurus hati; tidak berbohong (msl dng berkata apa adanya); (2) tidak curang (msl dl permainan, dng mengikuti aturan yg berlaku): mereka itulah orang-orang yg — dan disegani; (3) tulus; ikhlas

kenapa jujur itu bukan diartikan sebagai apa adanya yah?
baiklah, baiklah.. abaikan saja pernyataan saya itu. saya akan mencoba menjelaskan kenapa kata itu berlompatan dari pemikiran saya beberapa hari belakangan ini. ini erat kaitannya dengan pemikiran lainnya.
apa itu?
pemikiran dengan siapa saya bisa menjadi diri saya sendiri. dulu saya berpendapat seperti ini: dengan teman terbaik lah saya bisa menjadi diri saya sendiri. nyatanya, semakin ke sini, semakin bertambah umur, semakin sedikit teman, maka semakin sedikit juga dengan siapa saya bisa menjadi diri saya sendiri.
Lalu tiba – tiba muncul pemikiran seperti ini: memang diri kamu sendiri itu seperti apa?
bossy. ceriwis. tukang komplen. ga mau kalah. suka plinplan. gak suka sama orang lelet. gak suka sama orang plinplan (hah! eat thaaat!!!). senang bersosialisasi. senang bercerita. cinta damai. ga suka cari masalah.
ah.. kalau dilanjutin pasti makin kontradiktiflah diri saya ini. gak suka cari masalah, tapi gak mau kalah. gak suka orang plinplan, tapi diri sendiri plinplan. saya sebagaimana manusia lainnya menyadari bahwa kata sempurna jauhlah dari penggambaran diri. nah, di tengah ketidaksempurnaan ini, saya masih mencari seberapa banyak sih orang yang bisa menerima sifat dan sikap saya ini?
siapa kawan terdekat saya saat ini? bahkan blog ini pun sudah tidak lagi menjadi kawan terbaik seperti waktu pertama kali dibangun. terlalu …. terlalu apa yah… terlalu malas akhirnya saya membagi semuanya di sini.
si partner in crime apa kabar Is? Persahabatan kami di bangun di awal bukan dengan tipe ‘menceritakan segala sesuatu setiap saat’. persahabatan kami dibangun di atas simbiosis mutualisme yang kental. kami saling membutuhkan di awalnya. saya butuh kawan untuk mendengarkan cerita saya yang banyak, dia butuh kawan untuk nganter ke kampus. saya butuh kawan untuk memberitahu bahwa yang saya lakukan tidak salah, dia butuh kawan untuk mendengarkan otak kriminalnya (hahahahaha!). ya… kami sama-sama menyadari bahwa yang kami sama-sama membutuhkan. hingga saat ini, saat dia sudah tidak tinggal di Jogja dan dengan segala macam kesibukannya (cie… sibuk..), kami jadi jarang berkomunikasi. sehingga dia tidak mengetahui gelisah apa yang bergelayut di otak saya yang sering dibilang lemot ini sama dia.
sama ranger hitam yang digadang-gadang jadi partner saya di kampus? ah.. hubungan kami hanya sebatas sks *hlah?!?! hahahahaha. adalah beberapa sisi yang diketahui olehnya, namun saat ingin bercerita lebih banyak, saya takut mendapat pandangan celaan dari dia. saya merasa kok dia bukan tipe orang yang akan senyum – senyum yah kalau mendengar hal – hal yang berkeliaran di kepala saya? yang ada dia malah bilang; ‘apaan sih mbek??’
sama si captain? well… hubungan kami sudah berakhir setengah tahun yang lalu, walau masih berkomunikasi dengan baik, tapi tetap saja saya tidak bisa membagi diri saya sepenuhnya ke dia.
sama beruang kutub tetangga saya? walau kemarin dia saya curhati habis-habisan soal kegelisahan saya dua minggu terakhir, dan cuman dia yang menyadari kalau saya gelisah, tapi tetap saja dia bukan orang yang saya jadikan ‘tempat menjadi diri sendiri, apa adanya’.
sama mamah dan bapak? hahahahahaha… bisa abang ijo muka mereka kalau mendengar isi kepala saya (iyah, ada beberapa part tentang mereka).
sama si oom udin yang pernah saya gilai tulisannya? ya… walaupun kemaren juga habis curhat sama dia, tapi saya belum bisa saja menjadi apa adanya di depan dia. walaupun saya tahu, dia paling cuman bilang dodol atau apalah atas semua perkataan saya yang ga penting.
sama kawan saya yang seniman handal itu? err…  banyak hal yang tertinggal di antara kami yang harus diceritakan. dan butuh lebih dari sekedar hai untuk mengatasinya.
atau sama mamahnya Ardian? si sahabat sebangku saya sewaktu SMA? status kami berdua banyak banget bedanya. dia sudah menikah dengan satu anak berumur enam tahun, saya masih single belum menikah walau jatuh cinta sama anak kecil. dia PNS yang sudah bisa menyicil rumah, saya masih pengangguran yang luntang – luntung ditraktir melulu kalo ketemuan. dia sudah membangun hubungan yang manis dengan teman SMA kami lebih dari tujuh delapan tahun, saya masih mencari pangeran (atau kodok?) saya.
perbedaan – perbedaan itu memang tidak terlalu terasa saat kami mengobrol hahahahihihi selama enam jam atau bahkan tiga hari. tapi harus diakui bahwa pola pikir kami berbeda. apalagi selama bertahun tahun kami tidak berkomunikasi.
Lalu dengan siapa sebenarnya saya bisa jadi diri sendiri???? bisa menceritakan semua pemikiran saya, bisa bersikap apa adanya, bisa tanpa beban bersikap tanpa takut orang berpikiran macam – macam.
mungkin. mungkin tidak akan pernah ada. karena dalamnya laut bisa dikira, dalamnya hati siapa yang tahu? saya tidak pernah tahu apa yang ada di pikiran teman – teman saya setelah nama mereka saya tulis di sini. eh tapi emang mereka tahu kalo itu mereka?
hahahahha.. ini lagi nulis apa sih? kagak jelas amet yak…. tadinya ngomongin jujur, ujung2nya ngomongin temen, ujung2nya gak tahu dah apaan!
eh btw, actually sekarang saya gak pengangguran lagi loh. nih jadwal saya:
06.30 : nganter sasa dan yaya, ke jalan jensud dan yang stunya ke deket lapangan porka
10.30 : njemput nisa di bancarkembar
14.30 : njemput yaya dan nisa, satu di  Jatiwinangun dan satu di deket lapangan Porka.
late lunch with avis and Yaya

jadi saya gak pengangguran – pengangguran bangetlah yah :mrgreen:

***

so, the point is: sama siapa sih sebenarnya kamu bisa menjadi diri sendiri? atau malah gak tahu seperti apa diri kamu sendiri itu?

#12harimenulis #10

Postingan ini aselinya udah saya tulis dari hari minggu lalu. dan kenapa kepending sampek hari ini? Because oh because jaringan modem saya lagi bersekutu entah dengan apa hingga saya susah banget ngupload foto.

Padahal, inti dari postingan ini adalah: pamer muka saya dan kawan-kawan saya. hihihihihihi…

Postingan ini saya mau menceritakan beberapa kawan saya yang membantu kepindahan saya dan adek saya seminggu yang lalu (yup, tepat seminggu yang lalu saya jadi warga Kayen).

FYI, barang saya dan adek saya sebenernya dikit. Beneran dikit, tapi kawan-kawannya (baca: pritilan-pritilan) aja yang banyak :mrgreen:

jadi oleh karena itu, kami membutuhkan kawan-kawan yang dengan rela berkorban dan tabah untuk membantu kami mengangkat barang-barang.

actually, saya cerita lewat foto aja kali yak, sekalian membayar hutang di dua postingan sebelumnya saat saya bercerita soal kepindahan kami, kan fotonya gak masuk-masuk tuh. nihhh beberapa fotonya….

foto pertama:

saya dan adek saya dengan latar pick up pindahan kami

Foto pertama ini diambil oleh Dini, teman adek saya. Yang lucunya adalah: si  Dini ini gak tahu kalau dia dimintai tolong untuk membantu kami pindahan. Jadi begitu nyampek ke kontrakan lama saya dan bersalaman dengan saya, dia nanya; ‘Mbak mau pindahan ya?’

yah jelas saya heranlah…. nih anak gak pernah muncul maen ke rumah, kok tiba-tiba muncul dan diajak si agil buat beberes. memang pintar si agil ini. Foto ini diambil setelah kami sukses Upload barang ke Pick up sewaan. FYI aja nih, itu cuman barang-barang besar aja yang diangkut. sementara yang kecil-kecil sukses masuk mobilnya si Ranger Hitam dengan tiga kali bolak-balik.

Dari kemaren nyebut Ranger hitam. siapa sih dia Is? dialah si Demput, teman sekampus saya yang dua hari kemaren pas pindahan mendadak membuka jasa angkut, karena bolak-balik dari kontrakan lama saya ke kontrakan baru. Dan bersama dia juga saya menemukan hunian kecil yang sekarang jadi kontrakan saya dan adek saya.

Emang seperti apa si Demput ini? Nih fotonya ada di Foto kedua:

ranger hitam yang bagaikan bolang hari itu

Foto ini diambil setelah pickup nyampek di depan kontrakan baru saya. Dengan sigap si Demput ini langsung lompat ke Pick up yang berisi barang-barang. sukses bikin saya ngakak. karena saya belum pernah melihat makhluk satu ini segitu hebohnya pecicilan. Apalagi dengan seragam bola dan celana pendeknya itu. Jauh banget dari kesan sok cool dan jaim dia di kampus dengan polo shirt atau kemejanya.

Apalagi pas dia dengan gagah berani ngangkat karung yang isinya buku-buku saya, yang mana ketika saya dan si kawan mencoba mengangkatnya, kami cuman meringis. Meringis gak kuat maksudnya. Ehtapi si Demput ini sukses loh ngangkat karung buku itu sendirian *keprok Tangan* (tapi curiga juga sih, dia melakukan itu karena jaim sama saya dan si kawan. ego nya sebagai pria memaksa dia untuk bsia ngangkat karung. hahahahaha)

Daaaaan… Foto terakhir adalah foto kami fullteam, minus tukang potret yang tidak pernah mau tampak di foto, takut ketahuan ganteng katanya (huek… kresek item mana.. kresek item…)

agil, demput, dini, orang keren, ari

Foto terakhir diambil di halaman rumah saya, saya memasak makanan yang enak-enak gitu deh saat pindahan itu, jadi kami makan-makan enak habis pindahan (ini ada yang percaya gak yah saya nulis kalimat ini?!?!).

:mrgreen:

dan setiap kali saya memandang foto terakhir itu, saya merasa pengen meluk mereka semua (hahahahahaha. taruhan: orang paling kanan pasti udah kabur duluan), mereka lah yang membuat saya tetap bisa cengar cengir, tetap bisa berada di atas rel dengan kondisi kacau waktu itu.Merekalah yang menyadarkan saya seberapa menyebalkan dan gak pentingnya kata-kata omelan saya waktu itu, mereka selalusiap mengangkat barang-barang dan menyapu dan gebrok-gebrok sofa dan menggeser perabot, dan nyelotip kabel dan bla dan bla dan bla…

terimakasih, terimakasih tim Jasa Pindahan Kwarasan-Kayen Desember 2011 *kecupSatuSatu*

see u next post!

 

dear mom and dad, we love u!

kami memiliki panggilan yang  berbeda untuk kedua orangtua kami. Saya dan kakak saya memanggil kedua orangtua saya dengan sebutan Mamah dan Bapak, Kakak Ipar saya memanggil kedua orangtua kami dengan sebutan Bapak dan Ibu, sama seperti adek saya yang juga memanggil kedua orangtua saya dengan sebutan Bapak dan Ibu.

untuk cucu, kedua orangtua kami menyiapkan panggilan ‘Abah dan Uti’

dan hari ini tepat 31 tahun yang lalu kedua orangtua saya menikah di Semarang dengan segenap cinta dan kasih .  Dan hari ini, saya mengucapkan ‘happy anniversarry dear Mamah dan Bapak’…

we love both of you, always….

dan semoga kami bisa lulus dalam waktu dekat

😉

XOXO,

ais ariani

selamat ulang tahun Bro :)

dulu sewaktu baru bisa berbicara, saya memiliki kewajiban untuk memanggil kakak saya dengan sebutan; ‘Mas Arsyid’.  tapi saya mendatangi mamah suatu waktu dan berkata;

mah, ais gak bisa manggil matati, kalau ais manggilnya Kakak boleh gak?

[lidah saya menyebut mas arsyid dengan sebutan: matati]

setelah itu saya selalu manggil dia dengan sebutan Kakak. dan itu membuat dia memiliki panggilan Kakak oleh beberapa anggota keluarga besar. dia bukan kakak yang menakjubkan, bukan kakak yang perhatian sepenuhnya kepada saya dan adek saya, dia kakak yang menyebalkan, menjengkelkan dengan segala macam godaan dan ledekan yang dia alamatkan ke saya.

dia memiliki bakat seni yang tidak diturunkan secara genetik ke saya. dia jago gambar. jago banget untuk ukuran saya. hingga saya sering meminta dia mengerjakan tugas gambar saya. dia menyanggupi, dengan syarat : “bikinin gw mie goreng!”

dan saya bagaikan kacung, selalu membuatkan dia mie goreng. kedua orangtua kami bekerja sewaktu kami masih duduk di bangku sekolah dasar, hingga di rumah selalu ada persediaan mie instan dalam beberapa kardus. ada kalanya, dalam seminggu saya, adek saya dan kakak saya menghabiskan satu kardus dalam satu minggu. sebagian besar dimakan oleh kakak saya dengan menyuruh saya untuk membuatkannya.

bukan cuman itu, dia adalah kakak yang cukup manipulatif. dia bisa mengatasnamakan kami, adek-adeknya untuk meminta sesuatu ke orangtua kami. dulu, sewaktu meminta playstation demi mengganti super nintendonya, dia mengatasnamakan kami;

“iyah mah… beli playstation ajah, biar ais gak maen dingdong melulu. dia bisa maen di rumah, agil gak maen ke rumahnya Anzal melulu”

fyi: dulu saya emang ada masanya saya doyan maen dingdong or whatever itulah namanya.

dan saat playstation sudah di tangan, apakah dia memberikan waktu bagi adek-adeknya yang polos ini menggunakannya? tentu tidak, karena dia lebih memilih berbagi stick dengan kawan-kawannya. adek-adeknya yang cupu dan polos ini hanya bisa bermain PS saat dia tidak ada di rumah. dan ini cukup sulit, karena PS masuk lemari yang di kunci saat weekdays dan hanya dikeluarkan saat weekend.

sewaktu tahun 1991 kami sekeluarga pulang ke kampung Bapak saya di Flores, kakak saya menjadi bintang di kampung. dia mampu berbaur dengan anak-anak aseli situ. dia menciptakan permainan-permainan yang menakjubkan, yang mampu membuat anak-anak aseli penduduk kampung situ memujanya. sementara adek saya masih terlalu kecil untuk saya ajak bermain dan penduduk aseli rasanya agak lebih sulit menerima anak perempuan [atau saya yang kurang bisa berbaur?]. Jadi saya hanya sembunyi di ketek mamah saya, sementara iri setengah mati melihat Kakak bermain dengan leluasa dengan kawan-kawannya.

adaptasi yang dia lakukan di Purwokerto saat masuk salah satu SMA Negeri di kota itu sangat menakjubkan, sehingga tidak ada yang percaya bahwa saya si anak baru dari Jakarta ini adalah adek kandung dia. dan dia memang tidak pernah mau berramah tamah di depan umum dengan saya [hahahahahaha…].

saya pernah membencinya, setengah mati. saya pernah meneriakinya dengan segala macam makian kalau dia dengan isengnya ngerjain saya. saya pernah berharap tidak memiliki Kakak laki-laki. Itu dulu, sewaktu kami masih muda, sewaktu darah kami masih berapi-api seperti lagunya Bang Oma.

Hubungan kami bukanlah hubungan ideal kakak-adik yang saling perhatian.

tapi sebenarnya, jauh di lubuk hati saya, saya sebenarnya mengaguminya. mengagumi kesederhanaannya dalam bersikap, ke kreativitasannya serta keteguhan hatinya. Tahukan kawan bahwa dia menikah di usia yang lebih mudah daripada saya saat ini? dan usia kami hanya terpaut dua tahun, namun ia sudah memiliki anak lucu berumur satu tahun.

saya iri dengan kemampuannya yang cukup berani dalam mengambil keputusan untuk menikah.

saya tahu, dalam lubuk hati yang paling dalam dia menyayangi saya, adik perempuan satu-satunya. dengan caranya yang unik. dia dan kawan-kawan SMA nya pernah membuat perjanjian bahwa tidak ada yang boleh mendekati adeknya [pantes saya dicuekin waktu naksir temen sekelasnya. Hahahahaha…]. dia tertawa meledek tiap ada pria yang saya akui sebagai ‘pacar’. Semua pria. mulai dengan si ini begini atau si itu begitu, pasti dapat label dari dia.

saya memujanya dalam diam. mungkin dia tidak pernah tahu bahwa saya mengimpikan membangun rumahtangga seperti ia dan istrinya. saya mengimpikan memiliki anak yang lucu seperti Zaidan, puteranya. saya ingin memiliki rumah yang hangat dengan lantunan ayat suci seperti rumahnya.

saya mengidolakannya, bahkan tanpa sadar ternyata si Captain pun memiliki sikap tak peduli a la anak sulung seperti kakak saya.

dan di tanggal 3 Juni ini, dia si Kakak yang menakjubkan itu berulangtahun.

Selamat Ulang Tahun, Kak. Kakak mungkin bukan Kakak terbaik yang dimiliki oleh seorang adek perempuan, tapi aku sayang Kakak.

🙂

*dan selamat juga buat Kak Lely yang ternyata berulang tahun juga hari ini. selamat ulang tahun Kak, semoga sukses selalu yah

[telatnya] maret ceria

sumpeh ye… saya jadi orang itu telat banget deh ih… tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. bukan begitu mbak Lidya?

😀

hehehhehee.. sebelumnya, saya mengucapkan selamat ulang tahun dulu buat Pascal yang ke lima  dan Alvin yang pertama, semoga Aa’ dan dede bisa menjadi anak yang dibanggakan kedua orangtua, bisa sukses di dunia dan akhirat yah

tentang kami, si A3

weks.. ukuran kertas yah is? hehehhehehe.. bukan. ini bukan merupakan ukuran kertas. ini merupakan singkatan dari nama saya, kakak dan adek saya. ada si sulung Arsyid [yang biasa dipanggil Kakak Acid], ada si tengah Ais [yang pualing cantik] dan ada si bontot Agil [yang paling gokil].

seperti layaknya kakak-beradik waktu kecil, saya, Kakak dan Agil berkomunikasi dengan cukup akrab lewat teriakan. hahahahaha… Agil memuja Kakak habis-habisan. Apapun yang dilakukan Kakak pasti mendapatkan dukungan selalu dari Agil. Termasuk menjahili saya, si malang nan rupawan ini.

dulu rumah orangtua kami selalu rame oleh teriakan saya yang selalu dijahili mereka berdua, saya lah si minoritas yang termarginalkan! dan suara saya lah yang paling membahana di rumah dengan teriakan: ‘mamaaah… kakak acid nakal!’

and guess what? sampe setua ini pun kalau lagi kumpul bertiga saya masih sering terjajah. bahkan waktu terakhir ketemu sama kakak saya kemaren, sempet-sempet nya loh saya masih teriak-teriak kek begitu! [gara-gara kakak saya ngitik-ngitik saya dari belakang pas saya masak]

😦

kami, si A3

Istimewanya si anak tengah

namun, dalam beberapa hal nasib  anak tengah dan satu-satunya wanita diantara pria-pria itu membuat saya merasa teristimewakan. antara lain: karena hanya saya yang sering diajak mamah saya belanja, hanya saya yang diajak mamah saya kondangan, dan hanya saya yang boleh minta budget khusus untuk membeli baju, make up dan all girl”s stuff  laen nya.

Keistimewaan lainnya adalah : saya tidak pernah dapet jatah menyetir kalau sudah ada kedua saudara saya, tidak pernah kebagian jatah mencuci mobil kalau ada mereka. Namun di lain pihak; saya lah si vokal itu, saya lah yang selalu di suruh nanya jalan kalau kami tersesat, saya lah yang selalu di suruh minta menu kalau kami di restoran baru, saya lah yang selalu di suruh mencoba menu baru yang aneh-aneh, saya lah yang disuruh nelpon untuk memesan makanan [daritadi kenapa contohnya makanan yak?!?!] dan saya lah yang selalu di geret mamah untuk menemani Beliau ke pasar subuh-subuh.

Keluarga saya me-label saya pada label : si anak yang gak kenal malu. Kalau ada keharusan tampil di depan umum mewakili keluarga, maka tunjuklah si tengah ini, yang pasti akan selalu siap ber’muka badak’

😀

Kakak dan adik saya jelas berbeda dengan saya; mereka paham komputer [yang mana saya tidak], mereka gak bisa masak [uhuy, saya sudah mulai bisa masak walau sedikit-sedikit], mereka sewaktu SMA dan kuliah masuk jurusan eksakta [saya adalah anak sosial sejati, dari putih abu-abu ampe setua ini selalu masuk jurusan sosial, makanya gelagepan di suruh belajar statistik], mereka diberkahi bakat seni yang lumayan… well.. setidaknya mereka kalau karoke gak fals [gak kaya saya yang anti tempo dan nada. hahahahahaha], kecerdasan spasial yang lumayan banget [dan saya lebih kepada mereka yang memiliki kecerdasan verbal].

dan satu yang pasti : hanya saya yang doyan nulis. jadi hanya saya yang punya blog!

hahahahahaha….

***

postingan [sedikit] narsis ini diposting untuk memeriahkan ulang tahun Pascal dan Alvin dalam acara maret ceria-nya mbak Lidya