kembali ke rumah

udah pada tahu kan saya ini sudah kembali tinggal bersama orangtua saya sejak beberapa bulan yang lalu.

melihat dari sejarah (did i write sejarah? padahal baru beberapa tahun yang lalu), saya ini ‘pergi’ keluar dari rumah dan officially gak tinggal sama orangtua sejak tahun 2000. Udah lama yah? Lumayanlah.

ada banyak hal yang berubah sejak terakhir saya tinggal di rumah di tahun 2000. dulu, di tahun 2000 saya punya space satu kamar sendiri yang isinya yah barang-barang sendiri. barang-barang itu masih ada sebenarnya sekarang, hanya saja semenjak saya keluar rumah, udah banyak keberadaannya yang berpindah ruangan.

kasur yang dulu kasur springbed kecil yang keberadaannya sudah lebih dulu ada di dunia dibanding saya sudah berganti springbed king size yang menyedot space kamar yang kecil.

tapi yang lain masih tetep: meja rias yang dipasang menempel setinggi saya waktu SMP (dan sekarang kalok mau make itu saya serba salah, mau duduk dibawah gak kliatan, mau berdiri yang kliatan cuman dada saya), lemari plastik yang sekarang isinya cuman baju-baju bekas, rak berkas parsel lebaran yang isinya buku-buku saya.

yang bertambah: lemari kayu mamak yang diungsikan ke atas, karena kalok ditarok di kamar Beliau, bisa kerendem banjir. dan jutaan pritilan gak penting yang mbikin kamar saya kek gudang.

dan sejak saya officially pindah ke rumah mamak, saya pengen banget menjadikan kamar itu kamar saya. karena dulu itu jadi semacam kamar tamu. kamar buat siapa saja yang mau menginap. karena yah, cuman di kamar itu aja kondisinya lumayan -walaupun-dengan-banyak-barang-gak-penting.

nah, dalam rangka ingin menjadikan kamar itu senyaman mungkin, saya memiliki beberapa ide sebenernya:

pertama, saya punya obsesi mengganti kasur yang ada di kamar. Karena dulu itu kasurnya ukuran king size yang bikin ruangan tampak sempit. akhirnya, Alhamdulillah saya bisa beli kasur sendiri, walopun nyicil (gak usah ketawa! tiap orang yang saya bilangin kalok saya nyicil kasur itu ujung-ujungnya pada ketawa. karena menurut mereka harusnya saya nyicil barang lain, kek handphone kek, tipi kek, mobil kek. tapi gmana dong, saya butuhnya kasur waktu itu). jadi kasur baru tapi nyicil saya itu udah teronggok manis di kamar.

kedua, saya pengen banget punya lemari sliding. buat baju-baju saya yang gak gitu banyak itu. karena sampek saat ini, baju saya masih di koper dan kardus (kasian yak, kek idup nomaden aja).

ketiga, saya pengen nggeser itu meja rias. jadi, model meja rias saya itu meja rias yang kacanya ditempel, terus bawahnya ada meja yang ditempel di dinding juga (sayang ga sempet motret). waktu masang meja rias itu tinggi saya belum setinggi sekarang, jadi yah gitu deh. sekarang kalok mau make itu kaca, saya nunduk-nunduk gak jelas.

keempat, saya pengen banget ngebuangin semua benda-benda pritilan kecil yang saya gak tahu punya siapa. karena tiap ada yang nginep di rumah, sering banget ninggalin entah itu majalah, buku, kaos, kaos kaki, daleman jilbab tau apapun deh yang kecil-kecil. malah kadang sampah kardus sepatu. bingung? saya juga bingung.

***

tapi, selaen persoalan kamar. ada satu persoalan besar yang saya masih berusaha memperbaikinya: adaptasi dengan aturan rumah. harus pulang jam segini, harus bangun jam segini, kalau libur jangan dipakek tidur doang,

uring-uringan? Pasti. beruntunglah saya pindah ke rumah dengan status saya yang bukan pengangguran, alias ada yang dikerjain cyiiin. hahahahha. jadi jarang juga di rumah. paling mengurut dadanya kalok udah weekend. ais harus begini, ais harus begitu, kenapa gak begini, kenapa gak begitu.

so, ada yang mau ngasih tips gak buat saya cepat beradaptasi dengan perubahan ‘tinggal sendiri’ menjadi ‘tinggal bersama orangtua’?

ditunggu :kiss:

 

 

Advertisements

Summer camp at Pare (Part 4)

happy Mondaaaay!!!

Hai.. hai kawans. how’s your monday? hopefully like mine: colorfull! Actually pengen ikutan kontesnya Pakdhe, udah punya bahan. tapi pas buka ternyata baru ngeh kalok udah habis bok deadline-nya (tata bahasa si ais kacau euy!).

Okeh.. bagaimana kalok saya lanjutin soal summer camp saya di Pare? As my promise kemaren di postingan sebelum ini, saya janji mau ngasih list harganya. tahan nafas dulu yah, karena harganya murah-murah bok!

nih buat gambaran kasaran uang yang saya keluarkan pas saya di Pare (di luar transport saya ke sana yah):

1. Biaya Camp : Rp. 100.000
2. Biaya kursus TOEFL structure dua minggu (OXFORD): Rp. 100.000
3. Biaya kursus speaking satu bulan (Daffodils) : Rp. 175.000
4. Biaya kursus speaking & Pronounciation (Fajar English Course) dua minggu : Rp. 70.000 (@ 35.000)
5. Biaya sewa sepeda satu bulan : Rp. 50.000
6. Biaya makan : Rp. 350.000 (yang ini aseli kasar banget loh, soalnya saya kalau makan saya sesuka hati aja, tapi FYI aja nih biaya makan di sana murah bok! sekali makan sekitar 3500 – 5000. Kecuali kalau mau makan iga bakar di cafe damai, yang juarak banget rasanya, itu harganya 12.000).
7. Biaya lain-lain : 150.000 (ini biaya beli-beli souvenir, atau karokean –> ada tempat karoke yang lumayan loh di sana!, atau sekedar jalan-jalan).

Nah sekitar segitulah biaya NORMAL nya kalau kita mau menghabiskan waktu satu bulan dengan ikut empat kelas selama sebulan. Jadi, besaran biayanya tergantung banget sama kelas yang mau kita ambil. Nah, harga masing – masing kelas itu variatif depends on lembaganya, lihat aja saya ngambil kelas di tiga lembaga, harganya variatif kan?. tapi yah percaya banget deh gak semahal lembaga bahasa Inggris yang ada di kota-kota besar.

teman-teman sekelas di Oxford 🙂

Biaya tambahan yang akan lebih besar adalah biaya tambahan untuk kita pergi-pergi ke tempat wisata. Karena kelas itu biasanya ada senin-jumat, sabtu – minggu libur, nah biasanya anak-anak itu bikin kelompok-kelompok kecil buat pergi travelling. Ini yang saya gak sempet ngikut. err…actually bukan gak sempet, gak ada duit tepatnya. hahahahha… kan tujuannya ke sana belajar, bukan wisata (*cih! padune ndak ado piti mak!!)

kalau biaya travelling ini depends on masing-masing kelompok yah, tapi sekitaran 150.000 – 200.000an kalok gak salah. Biasanya yang paling sering itu ke Bromo (sunrise-nya bagus banget! dan banyak bule yang bisa buat sparing partner), atau ke Pulau Sempu, atau ke Malang, atau bahkan ke Bali. semakin banyak temen sekelompok, semakin murah.

Gambaran Pulau Sempu, Jawa Timur. Nyolong dari temen sekamar yang ikutan pergi ke sana

***

nah kira-kira apa yang belon nih? masih banyak loh sebenarnya, next time kalok niat saya lanjutin deh. atau kalau ada yang mau nanya-nanya lebih lanjut bisa nanya di kolom komentar, atau hubungin saya di efbe kek, di twitter kek, atau yang udah punya nomor saya bisa sms saya, ok? Kalik aja saya bisa nemenin ke sana, mau ketemuan sama cinlok saya *hush!
huahahahahha…

dear dramaland, happy birthday to you!

dear dramaLand,

hari ini kamu ulang tahun. maafin aku yah… tidak seperti tahun lalu saat aku mbikin event dramaLand punya gawe untuk memperingati hari ulang tahun kamu, tahun ini aku bahkan melupakan hari ulangtahun kamu.

ya ampun.. entah sudah berapa banyak kata penyesalan yang aku tulis di sini; menyesal nyuekin kamu, menyesal gak update kamis manis, menyesal udah mengkhianati komitmen antara kita.

ah, ternyata usia komitmen itu tidak mempengaruhi bagaimana kita menghargai komitmen itu. people changes, so do i. perubahan paling mendasar dari hubungan kita adalah bagaimana aku memperlakukanmu, bagaimana aku memperlakukan kawan – kawan blogger.

kamu, pernah menjadi duniaku, tempatku berbagi segala hal. ah… bahkan aku mengkhianati buku harianku denganmu. dan sekarang aku mengkhianatimu dengannya. apa aku memang tipe pengkhianat? mungkin. beruntung aku tidak hidup di jaman penjajahan, mungkin kalau hidup di jaman itu aku sudah menyebrang ke pihak Belanda, karena sepertinya aku ini gampang sekali dicuci otaknya.

banyak sekali yang terjadi belakangan ini, dan aku rasa kamu belum mengetahuinya. ah… kalau soal lulus kuliah itu kamu sudah tahu. terimakasih untuk itu, terimakasih karena kamu mau menampung semua cerita suka duka ku kuliah selama tiga tahun, terimakasih juga kamu mau menampung semua cerita soal captain (ahhahahahah….. !).

apa yang bisa aku berikan di hari ulangtahunmu yang ketiga ini? kalau kamu berbentuk manusia, aku sudah bisa melihatmu berlari, bisa melihatmu tertawa seperti Zi, bernyanyi seperti Zi AKu bisa menghadiahkanmu semangkuk siomay kuah yang lagi jadi favoritku saat ini. atau ronde, atau putu ayu.

aku rindu. rindu berbagi sepenuh hati kepadamu. banyak hal yang berubah, bukan hanya diriku tapi dunia sekitarku. tapikan memang begitu. Things change. Friends leave. But life doesn’t stop for anybody. ya kan? ya kan?

setahun terakhir merupakan tahun yang banyak merubah sudut pandang aku akan semua hal. termasuk mengenai keabsolutan. dan komitmen. dan… pertemanan.

itu semua akhirnya membawah aku pada pemahaman seperti ini: sebenarnya yang berubah itu objek/subjeknya, atau cara kita memandangnya? kamu… kamu sebagai objek tidak berubah, karena kamu tidak tumbuh, mungkin kamu berkembang. dengan berbagai fitur yang bertambah dan atau berubah, but overall kamu tidak berubah. kamu itu dramaLand. sudut pandangku yang merubahmu kan? ah tak tahulah… bingung juga jadinya aku.

dan satu hal lagi yang aku pelajari selama setahun terakhir adalah: kebanyakan orang tidak akan melihat kamu berproses, yang mereka lihat adalah hasil. namun apabila kamu melakukan hal yang terbaik dalam proses tersebut, kamu tidak perlu meragukan hasilnya.

ah terlalu panjang untuk sebuah ucapan selamat ulang tahun. sekali lagi selamat ulangtahun, dramaLand. semoga komitmen kita ke depan semakin jaya, semakin mesra dan kembali hangat seperti dulu, karena i really, really, miss our time *cup

 

happy birthday to u, dear my lovely dramaLand. hope u always be my part of life. love u

adaptable, bukan adaptor

Hidup ini merupakan sebuah proses adaptasi yang tidak berkesudahan. Hal ini saya sadari saat melihat anak dari sepupu saya yang berumur enam tahun (anaknya, bukan sepupu saya yang umurnya enam tahun), sedang bermain pasir di depan rumah tetangganya. Padahal di rumahnya sedang ada hajatan besar, si Bude dari anak itu menikah. Semua orang sibuk, keadaaan hiruk pikuk dan mungkin anak ini tersingkirkan. Bisa karena itu ia bermain pasir di luar, atau bisa juga karena kehadiran sodaranya, anak dari Budenya yang lain yang baru berumur dua bulan. ia tersingkirkan. hanya itu yang saya pahami,

Padahal beberapa tahun yang lalu ia adalah pusat dunia di sekitarnya. Bude- budenya, Uti dan Opa nya, semua ‘menanggap’ ia. Ia adalah matahari, dan Bude-Bude, Opa-Uti dan yang lain adalah planet-planet yang mengitarinya.

Setelah menemukan ia bermain pasir di rumah tetangga dengan baju pesta itu, saya menyadarinya bahwa saya juga pernah ada di posisi itu. Pernah menjadi pusat dunia dari orangtua saya saat saya lulus S1 tiga tahun lalu, namun beberapa saat kemudian lenyap karena hamilnya Kakak Ipar, calon cucu pertama di dalam keluarga. Dan kehadiran saya makin lenyap setelah si kecil Zi lahir. Zi adalah pusat dunia dari orangtua saya.

Saya beberapa kali berulah menarik perhatian orangtua saya saat itu, tapi tetap saja dunia mereka berputar di  Zi.

Dan sekarang mungkin saya sedang menjadi pusat dunia mereka. saya mau wisuda. saya lulus. anak mereka yang pertama kali meraih gelar master (masterchef kaliii). Saya tahu beberapa saat pusat dunia keluarga ini adalah Kakak saya, yang dipindahtugaskan ke Pekanbaru dengan gaji yang cukup besar. Ouch…. dan saya pengangguran. dan single ting ting yang belum punya ‘calon’ buat digandeng.

jadi pusat dunia mereka juga pastinya, someday. but in different way.

kenyataan itu membuat saya galau berkepanjangan dan resah serta gelisah tak berkesudahan (yeah sampai saat ini). Ya ampuuun… gue udah lulus. Ya ampuuun… gue bukan mahasiswa lagi. Ya ampuuun kalau ada yang nanya-nanya soal kuliah terus gue gak bisa jawab gemana dong? Kalau gue ketahuan begonya gemana dong? Kalau gue ngomong bahasa inggris belepotan gemana dong? bedanya Plato ama Socrates apaan? bedanya fenomenologisnya Russel sama Heidegger apaan? err…. Ibnu Sina itu dokter bukan? err… bedanya Maslow sama Roger apaan? tahap perkembangan dari teori psikoanalisa itu apa aja?  PERFECT itu kepanjangan dari apa? Reliabilitas sama Validitas apa bedanya dalam mengukur Performance karyawan?  eh ya ampuun… gue make alat tes aja kagak bisa!!!!

Rasanya pengen banget membalikkan waktu ke usia awal dua puluhan, di saat tuntutan dari lingkungan sekitar masih belum begitu banyak.

Lalu tiba-tiba saya sadar; (persis saat melihat si anak kecil bermain pasir itu) hei… hidup ini proses. dan di dalam sebuah proses itu ada perubahan, dan dalam perubahan itu kita harus beradaptasi bukankah?

Jika hidup ini adalah proses yang berubah terus menerus, maka kita harus bisa beradaptasi terhadap semua perubahan itu. Kita harus adaptable terhadap ini semua.

saat balita, kita harus beradaptasi dari bayi ke balita. lalu setelah itu kita harus beradaptasi ke masa anak-anak awal, anak-anak tengah, anak-anak akhir lalu masuk ke remaja awal, remaja tengah, dan seterusnya. itu jika dilihat hanya dalam kacamata tahap perkembangan. belum dengan peran kita yang tadinya jadi anak bungsu eh tiba-tiba adek lahir. tadinya jadi anak es de, eh jadi anak es em pe. tadinya anak sekolahan jadi mahasiswa. dan masih banyak lagi…

itu semua adalah suatu kemutlakan yang harus dihadapi.

Kita berpindah dari satu proses ke proses yang lain, dari satu peran ke peran yang lain, dari satu masalah ke masalah yang lain. Kita manusia dirancang sempurna untuk semua proses ini.

Lalu saya berkata pada diri saya sendiri: semua orang punya berbagai cara untuk beradaptasi. Si anak kecil yang bermain pasir mungkin caranya adalah menyingkir dari keramaian dan menemukan permainannya sendiri yang mengasyikkan dan nyaman bagi dirinya. tugas saya saat ini adalah mencari cara untuk beradaptasi dengan proses perubahan yang sedang terjadi dalam hidup saya seraya meyakinkan diri sendiri bahwa saya juga merupakan makhluk Tuhan yang memiliki proses adaptasi yang begitu hebat untuk bisa ada di titik ini sekarang.  dan, tidak lupa satu hal penting: bahwa tiap proses adaptasi ada proses belajar di dalamnya. karena pada dasarnya manusia adalah makhluk pembelajar.

Seperti kata seorang sahabat, Tuhan tidak pernah bermain dadu dengan alam semesta, termasuk dengan makhluk ciptaanNya.

selamat datang: mahasiswa baru!

salam begajulan wahai mahasiswa baru

🙂

hi kamu!! hai kamu wahai mahasiswa baru. selamat datang di kampus tercinta. selamat datang di dunia kebebasan. selamat datang di kampus yang tahun ini punya program ngepit, jadi mendingan mobil atau motor kamu gak usah dikirim ke kota ini,minta Papih dan Mamih kirim sepeda kamu, Fixie yang kemaren baru kamu beli… dibawa ajah, tiap jumat ada kok sepedahan gaul gitu…. temui saja di Jalan Mangkubumi, di deket benteng di jalan Malioboro, atau di deket Gramedia Soedirman.

Saran saya sih, mendingan gak usah bawa kendaraan ke Jogja. Jogja udah cukup ramai. Dan saran saya lagi, kalau kamu punya kekasih di kota asal kamu, lebih baik kamu putuskan dulu, karena di Jogja banyak orang keren *tepokdada*, banyak tempat cihuy buat bedua-an; sebut ajah alun-alun, angkringan Lik Man, sepanjang jalan Mangkubumi juga asik tuh buat ngobrol-ngobrol, atau ke pocinan di pakualam.

atau kalau kamu merasa gak kelas nongkrong di tempat begituan, kamu bisa mengunjungi kedaikopi di Jalan Kaliurang, di Jalan gejayan, atau Momento di Jembatan Merah, Gejayan. atau kamu bisa nanya sama kawan saya yang doyan Pethakilan, dia lumayan tahulah tempat nongkrong dengan harga terjangkau.

Jadi, putusin dulu kekasihmu di kota asalmu. Daripada kamu selingkuh karena gak tahan setia, mendingan diputuskan dulu. Lagian kamu masih muda, butuh kenal dengan orang banyak dulu…

kamu mau beli perlengkapan kost macam kasur dan tiker? Beli ajah di Liman, di Jalan Malioboro, disebrang Kepatihan. Itu tempat emang pelayanannnya agak jutek, tapi harganya miring bangeeet. Kalau beli kasur juga bisa dianter ke kostan kamu. Terus kalau mau beli alat-alat masak, ember, tong sampah, alat makan dan semacamnya belinya di Progo, letaknya di deket Taman Budaya Yogya (TBY) di belakang jalan Malioboro (saya lupa nama jalannya).

Nah di deket Progo itu juga ada tempat namanya Shoping, itu bukan buat belanja-belanji baju, itu tempat jualan buku murah. Kamu harus nawar tapi. Logat kamu kalau bisa di medok-medokin, tapi jangan lebay. Sok akrab ajah ama penjualnya: bilang kamu pernah beli di situ. Mau merintis jadi koruptor? di situ ada beberapa makalah yang bisa kamu plagiat-in, kamu akui jadi karya kamu. Di jual. Murah. Beberapa karya tulis senior-senior kamu, lumayan buat tugas kuliah.

dan berhenti menyumpah ini adalah desa sepi dan hening. ini bukan desa loh. Ini kota. tapi berhentilah berharap soal blitz, di sini hanya ada 21 dan XXI, tapi itu gak lagi penting. Karena ada banyak hal yang bisa menggantikannya. Jalanan yang ramah, udara yang segar, makanan yang murah, warga Jogja yang hangat,

dan please, please… jangan hancurkan logat warga aseli Jogja. Belajarlah bahasa jawa sedikit-sedikit. Minimal berbicaralah bahasa Indonesia yang baik dengan warga aseli Jogja. Setidaknya lafalkan monggo atau nderek langkung. Bagaimanapun, kamu adalah pendatang, hargailah Tuan Rumah 🙂

Baiklah, itu dulu yah…nanti kalau ada tambahan, Kakak tambahkan di sini.

PS: tulisan ini saya buat saat kemaren siang mendapati Mirota Kampus,salah satu tempat saya hobi jalan-jalan deket kampus dipenuhi oleh mahasiswa baru. Saya baru sadar kalau minggu ini adalah minggu pertama bagi adek-adek Mahasiswa Baru masuk kampus.

Selamat datang sekali lagi mahasiswa baru, dan mohon maaf lahir bathin buat kawan-kawan semua. maaf kalau saya ada salah di postingan maupun di komen. Maaf atas kelalaian menelantarkan blog ini, dan membuat kawan-kawan bosen tiap balik ke sini postingannya masih itu-itu aja. Hehehehe. Anyway, maaf lahir bathin yah 🙂

bau badan

kamu pernah punya seorang kawan yang *maap bau badannya gak enak? Gak usah kawan deh… misalnya kamu lagi naek bis, bis AC yah yang gak ada pertukaran udara di dalamnya, nah kamu nyium bau asem, bau sepet, bau yang membuat kamu gak doyan makan, bau yang membuat kamu ingin menutup hidung secepatnya.

Atau kawan sekelas kamu di kampus, atau kawan satu ruangan di kantor, ada gak yang punya bau badan? Dan, seberapa besar keinginan kamu dan kemauan kamu mbuat mbilangin ke dia yang bersangkutan soal bau badan itu?

Saya sih lebih memilih diam. Saya memilih tidak bilang apa-apa. Dan syukurlah orang-orang yang berinteraksi intens sama saya gak ada yang bau badannya sepet.

Tapi, sering terlintas dalam pikiran saya: kira-kira siapa yah yang bakalan bilang ke dia yang punya bau badan gak enak soal bau badannya yang gak enak itu? *eh dong gak sih?

Maksud saya, mamahnya dia, adek nya dia, atau pasangannya dia gak ngebilangin ke dia yah kalau badannya bau? Bukan bau badan yang sesekali gituloh. Tapi ini the real bau badan. Kan bisa yah pake cologne, deodoran, atau bedak BB Har*m S*ri gitu (jadi inget seseorang yang gak make deodoran tapi kebiasaannya pake bedak itu. ihiir…).

Apa saya ajah sih yang bawel soal beginian? Serius deh. Saya suka agak terganggu sama bau badan yang asem, sepet dan bikin selera makan ilang. Makanya kadang saya kalau udah seharian kagak mandi, biasanya iseng nyium-nyiumin ketek saya. Make sure ajah gak bau. Indikasi saya harus mandi biasanya adalah: saya gak doyan nyium-nyiumin ketek saya (gak usah dibayangin yah bo, takut nanti gak doyan makan lagi. Hahahahahaha…). Tapi pertanyaan berikutnya adalah: darimana saya tahu ketek saya bau kalau hidung saya sudah sangat familiar dengan bau badan saya yang gak enak.

Kemaren saya lagi mikir: kalau badan saya bau nya gak enak, kira-kira kawan-kawan saya bakal ngasih tahu saya gak yah? Karena saya yakin.. yang bersangkutan gak ngerasa terganggu dengan bau badannya: udah biasa boo. Udah familiar itu tadi.

Sama kek sifat buruk saya : manja, lebay, emosian. Saya gak bakal tahu kalau saya itu manja, kalau gak dibilangin sama gebetan saya pas kelas dua SMA *ehem.  Saya gak bakal tahu kalau saya itu dangkal dalam menghadapi cobaan hidup kalau gak captain yang bilangin *ehem lagi. Saya gak tahu kalau saya itu galak dan jutek kalau gak dibilangin sama kawan-kawan dekat saya. Terakhir kemaren salah seorang kawan bilang saya naif. Saya belum bisa memutuskan itu sifat buruk atau baik.

Ah … ukuran baik dan buruk ajah saya belon bisa menentukan. Tapi saya bisa menentukan loh badan yang bau atau gak!

😀

Terus korelasinya apa Is bau badan sama sifat buruk? Entahlah, tapi sempet kepikiran begini: sangat sedikit orang yang bakal bilang ke saya soal sifat buruk saya. Sama sedikitnya dengan orang yang bakal bilang ke saya kalau badan saya bau *nyiumketek*

Hanya mereka yang peduli yang berani bilang itu. Yah gak sih?

Dan lagi, kita sudah terlalu terbiasa dengan sifat buruk dan bau badan yang kita punya. Kita merasa owkey-owkey aja. Kita merasa diri kita baik-baik saja, bau badan kita sip lah. Karena it’s in me. *kek slogan iklan. Hidung kita sudah terlalu familiar dengan bau badan kita dan diri kita sudah terlalu terbiasa dengan sifat buruk kita.

Beberapa tahun lalu ada yang pernah bilang ke saya gini:

“Sahabat sejati itu bakaln ngebilangin ke kita kalau bulu idung kita keluar.”

So, kita butuh cermin, buat lihat bulu idung kita. Kita butuh nyium ketek kita dan make sure sama orang-orang sekitar kita bertanya: badan gue bau gak sih?

Kita butuh introspeksi diri soal sifat buruk kita, dan kita juga butuh orang lain sebagai ‘cermin’.

episode: keran kamar mandi yang patah

sudah berjuta kali saya menorehkan kata di kolom add new post ini, tapi selalu saja saya hapus lagi, hapus lagi dan hapus lagi. saya bersemangat dengan kalimat pertama saya, masih bersemangat memasuki paragraf kedua, lalu mati ide di paragraf ketiga.

Ya Tuhan, ternyata menulis itu tidak mudah. saya selalu menganggap remeh menulis. karena saya selalu bisa menulis. saya tidak pernah menganggap menulis itu sebuah keahlian, karena saya berpikir semua orang bisa menulis. Hingga ada beberapa kawan saya menanyakan: kok kamu bisa sih nulis? Biasanya pertanyaan kek gitu saya jawab dengan nyengir. Karena saya gak tahu juga jawabannya.

Saya menulis buku harian dari tahun 1997, dan ngeblog dari tahun 2004 (apa 2005?) ah sekitar tahun segitu lah.

Jadi saya selalu menganggap menulis itu seperti bernafas. Toh tulisan saya tujuannya hanya untuk memuaskan nafsu saya. Kadang ada yang kurang kalau saya tidak menulis. Tulisan saya memang gak bagus-bagus banget. seenak udele, sesuka jidat, tapi sekali lagi: saya tidak bertujuan apa-apa selaen memuaskan hasrat dalam diri *tsaaaah….

Hingga beberapa hari belakangan ini, saya merasa: owemji… gemana nih, gw gak bisa nulis! padahal di kepala berkejaran apa saja yang ingin saya tulis. soal kompre saya dan revisinya, soal adek saya yang KKN (saya mau cerita soal KKN saya empat tahun lalu), soal karoke galau bareng kawan-kawan saya, soal pelarian saya dan kawan-kawan ke Pantai Selatan, soal kopdar saya dengan beberapa blogger minggu lalu, soal malam sabtu dan pengalaman saya yang kocak, soal kelakuan aneh orang-orang di sekitar saya, dan soal hari anak kemaren.

Ya ammmmpppuuun… bahkan untuk menulis hal sepele macam puisi rindu aja saya mati ide. Ternyata menulis itu tidak mudah, kawan. Bahkan untuk menulis tak berkonsep macam yang saya lakukan.

Baiklah, daripada saya berceloteh tak menentu saya mau menceritakan pengalaman saya pagi ini yang panik pas bersih-bersih kamar mandi belakang. kenapa panik? apa pasalnya? karena pas ngosek dinding kamar mandi, saya nyenggol keran dan kerannya patah ajah loh gitu…

Langsunglah itu aer muncrat  kemana-mana, dan saya langsung beradegan mengibas-ngibaskan rambut dengan siraman aer dari keran yang patah, kek di iklan shampo. terus berkhayal a la iklan sabun jaman dulu: “hari hari bersamamu…dalam suka dalam duka, lembutnya perhatianmu..” *ini iklan jaman kapan yah? dulu yang nyanyi AB3,*

tapi percayalah: itu bohong. saya tidak mengibas-ngibaskan rambut. saya jerit sambil merutuki kebodohan saya dan berharap ada pangeran dateng membawa alat-alat tukangnya dan bisa memperbaiki itu semua.

tidak usah diceritakanlah akhirnya bagaimana. tapi yang jelas saya menyadari: bahwa saya emang ngeyel. saat kawan saya mengerutkan kening saat saya gak bisa masang galon, dengan penuh percaya diri saya bilang: “aku kan menyisakan pekerjaan buat laki-laki. kalau semua hal saya bisa mengerjakannya, ntar suami saya ngapain dong?

in fact: wahai wanita seluruh dunia, belajarlah mengganti bohlam lampu yang mati, belajarlah mengganti galon sendiri, belajarlah mengganti gas, belajarlah untuk mengganti keran yang patah, karena perasaan depresi mungkin menghampirimu saat kamu panik mengerjakan hal sepele tapi kamu gak bisa.

atau kalau tidak, marilah mengoleksi nomor telepon tukang galon, tukang gas atau tukang-tukang laen yang bisa membantu kamu, kawan

😉

hidup terlalu indah kalau hanya kamu lewati dengan menyesali apa yang tidak ada dalam hidup kamu. *pukpuk*