Masih ada

Iya, ternyata rasa sedih itu masih ada. Belum hilang sempurna. Sejak mendapatkan hari libur setelah kejadian itu, saya jadi hobi nongkrong depan tipi. Nonton pilm pilm yang menarik menurut saya. Berteman dengan remote-remote, saya melewati hari, menanti mas suami kembali untuk berbagi cerita lagi.

Nah diantara film-film itu, ada beberapa film yang ada adegan wanita melahirkan. Dan sudenly, tanpa aba-aba dan tanpa rangsangan lebih lanjut, mengalir aja gitu air mata saya. Ada jutaan seharusnya di kepala saya saat melihat adegan itu.

Ternyata saya memang belum over it. Iya, saya sudah bisa menceritakan kejadian itu tanpa air mata, sudah bisa ngobrol sama mas suamik soal kehilangan itu …

… tapi ternyata kadang saya suka masih ngerasa sedih. Apalagi inget pas perjalanan ke Bandung itu saya banyak ngobrol sama dia, saya ajak ngobrol sepanjang jalan. Secara waktu itukan saya nyetir sendiri.

Suka tiba tiba bangun tidur saya nangis aja gitu inget dia.

Ternyata kehilangan saya kali ini sebesar itu.

Iya, saya tahu semua kalimat kalimat hiburan itu, saya paham bahwa semuanya akan indah pada waktunya. But somehow, saya hanya ingin menangis. Meresapi tiap jengkal kesedihan, mencoba menikmatinya.

Ah. Hanya mereka yang tidak bersyukur yang terus terusan berkubang dengan kesedihan. Iya, itu betul. Tapi tiap mereka yang pernah merasakan kehilangan, pasti punya moment di mana dia hanya ingin bersedih. Dia hanya ingin mengenang. Bukan untuk menyesali dan memutar waktu. Hanya ingin sejenak berkawan dengan sedih. Sejenak saja.

Karena kesedihan bukan untuk dijadikan sahabat, kita punya jutaan alasan untuk bersyukur. Bukankah rahasia kenikmatan itu bukan pada rasa nikmatnya, namun lebih kepada rasa syukur nya kan?

Yuk, kemasi hati untuk kembali ke rutinitas. Simpan sedihnya, mbak ais :):):)

xoxo,

Enjoy and keep writing

Advertisements

Mencintaimu dengan sungguh sungguh

Saya : “ade tuh punya perasaan yang semakin hari semakin tidak terdefinisikan ke mas. Sampai susah dirangkai dengan kata-kata”

Dia : “kalau gitu yah sms aja … ”

***

Know what? Percakapan itu terjadi antara saya dan mas suamik. Saya dan dia punya kebiasaan ngobrol yang agak ajaib – menurut saya sih. Mengikuti jadwal kerja kami yang gak sama, dia dengan shift dan saya yang kerja secara 8 to 5. Kami lebih sering pillow talk. Tahu kan obrolan obrolan menjelang tidur … dan salah satu percakapan saya beberapa yang lalu dengan dia yah itu.

Saya belum pernah kan yah cerita soal mas suamik. Hehehehehe… okeh, cerita yah dari awalnya. Kurang lebih dua tahun yang lalu. Saya masih kerja di kantor lama waktu itu, dan atasan saya meminta saya untuk mencari tempat meeting. Bukan hotel. Bisa buat berkumpul sekitar 40orang.

Nah, kebetulan beberapa hari sebelum dapet perintah itu, saya dan gerombolan saya waktu itu lagi seneng banget menemukan tempat nongkrong di salah satu sudut di daerah paling hips di utaranya Jakarta (baca: kelapa gading).

Singkat cerita, sebelum mengajukan tempat itu ke atasan .. saya survey dulu ke lokasi itu secara detail (actually, kita nongkrong di tempat itu 5hari berturut turut jadinya). Tapi malem itu saya nanya sama waitress nya, bagaimana prosedur kalau saya mau reserve tempat untuk 40 orang. Dipanggilah si bapak supervisor. Dia nyamperin meja saya dan temen temen, mencoba membantu saya membuat rancangan reservasi untuk bos.

Obrol punya obrol, si bapak spv ini medok banget ngomongnya, saya nyeletuk lah, “mas nya orang tegal yah?”

Dia: “bukan mbak, saya dari purwokerto”

Hebohlah teman teman saya yang jumlahnya cuman dua orang itu.

Teman 1 : “ya ampun mas, satu kampung sama temen saya ini *sambil nunjuk saya* mau ga mas sama dia?”

Teman 2: “iya mas, dia lagi nyari pacar”

Idih banget kan temen saya. Akirnya jadi bahan becandaanlah kita berdua. Becanda sekaligus ngerayu biar dapet diskon sih.

Teman 1 : “iya mas, belum nikah kan?”

Dan dia dengan senyum mautnya itu ngejawab “belum, mbak”

***

Sisanya kapan kapan saya ceritain deh bagaimana kencan pertama kita (kencan?), bagaimana dia dengan suara medoknya itu nembang lagu yen ing tawang ana lintang, bagaimana dia ‘nembak’ saya (di pinggir jalan, depan indomaret, saya masih pake seragam kantor lama, gak ada romantis romantianya deh),

Kisah kasih kami gak semulus ceritanya raffi dan Gigi yah. Banyak banget perbedaan dari kami yang kadang memaksa kami untuk saling menjauh, mencoba berpikir ulang tentang kebersamaan kami. Kami dididik dari latar belakang keluarga yang berbeda, bahkan suku yang berbeda. Jenis pekerjaan, kebiasaan sehari hari, obrolan sehari hari, tingkat pendidikan, semuanya tentang saya dan dia itu berbeda.

Dia bukan tipe laki-laki yang betah diajak mengobrol dan menganalisa semua perilaku manusia-manusia di sekitar kami (yang senaaaang banget saya dan teman teman saya lakukan), dia bukan pria kece yang punya bakat fotografi terpendam, dia bukan pria keren dengan teman gaul yang beredar di mana-mana.

Dia pria sederhana yang punya prinsip-prinsip menakjubkan dalam hidup, pria lugu yang entah bagaimana caranya mampu bertahan dengan sifat dan sikap saya yang bisa sangat amat menyebalkan. Pria pendiam yang sabar dengerin saya ngoceh tentang kehidupan saya, tanpa meremehkan, dan dia benar-benar mendengarkan. Bukan sekedar belagak mendegarkan yah. Karena sering dia mampu menceritakan kembali apa yang saya ceritakan (part keisengan saya: suka nyuruh orang nyeritain ulang cerita saya, kalau saya rasa dia gak dengerin cerita saya. Tapi bener deh, pria pria di luar sana bisa belajar untuk mendengarkan dengan lebih baik biar terwujud perdamaian dunia #halah).

Gak, saya gak memuja dia setinggi langit kok. Dia punya kelemahan juga. Dia bukan superhero. Dia bukan Dr. Beno -nya Ika Natassa, bukan juga Nimo – nya Cintapuchino. Dia pria biasa. Yang jutek, gak romantis, hobi melarikan diri ke dalam gua kalau mendapatkan masalah (seperti pria lainnya :?:?:?), pria yang cenderung gak peka sama sensitifitas wanita, dia lempeng selempeng lempengnya alias gak ekspresif,

… tapi dia juga pria humoris yang mampu membuat saya tersenyum dengan lawakannya yang di luar logika, dengan kata-kata polosnya yang tak terduga, pria jenaka yang juga bijaksana dalam menghadapi hidup, pria sederhana yang punya rancangan gambaran masa depan yang sesuai dengan rancangan masa depan saya, pria pemimpi yang paling realistis yang pernah saya kenal, pria berhati lembut namun mampu membuat saya tidak terlalu drama (belum cukup berhasil, sih. Hahahahahaaha),

Dia pria yang mampu membuat saya menikmati hidup, mampu mengatasi ketakutan saya untuk berkomitmen jangka panjang, dia mampu meyakinkan saya bahwa ada pria yang siap mengahadpi semua keajaiban saya, bahwa ada pria yang mau berjuang bersama sama … bukan hanya diperjuangkan.

Namun yang paling utama adalah … dia membuktikan kata-katanya. Dia memegang kata katanya yang dia ucapkan dari awal kita deket. Diantara para pria penebar janji itu, hanya dia yang mampu menghadapi bapak saya, bersabar untuk setiap prosesnya.

Dan ternyata benar apa yang nenek bilang … bahwa … mereka yang mengucapkan ‘aku tuh sayang banget sama kamu, gak pernah aku sesayang ini sama orang lain’ atau mereka yang hobi menebar keseriusan dengan bercerita tentang ‘betapa seriusnya aku sama kamu‘; atau mereka yang melakukan hal-hal romantis lainnya (termasuk ngajak kamu ke rumah yang dia cicil dan bilang ‘ini rumah kita’), akan kalah dengan pria yang berani dateng ke Bapak kamu dan ‘meminta’ kamu dari Bapakmu.

Dulu saya pernah menganggap sepele hal itu. Itu loh .. bagian -serius-meminta-saya-ke-bapak. Aaahhh… semua pria bisa kok melakukannya. Big no no girls, gak semua pria bisa melakukannya. Mereka biasanya hanya bisa mengatakannya. Ada perbedaan besar di situ.

Mereka yang bisa mengatakannya ke kamu, belum tentu berani menghadap ke bapak kamu, mendengarkan jawaban Beliau, mengikuti tiap tahapan dengan sabar dan yakin bahwa tidak ada wanita lain dalam hidupnya yang ia inginkan selain kamu. Dan … pria ini melakukannya untuk saya.

image
My man 💕

… tapi dia pun berproses, bukan pria yang sejak awal berani. Dia pun pernah mundur untuk mempertimbangkan kembali. Melalui malam-malam tukar pikiran kami, diantara gelas kopi plastik favorit kami, nasi goreng pojok jalan kesukaan kami, kami banyak berbagi rasa takut, kagum, semua rencana-rencana kami, impian-impian kami. Sampai akhirnya waktu, kesempatan, keadaan, dan rencana Allah yang membawa hati kami dengan yakin melangkah ke jenjang pernikahan.

***

Well … sekilas yah tentang si mas suamik malam ini. Semoga bisa menjadi semacam awal yang baik bagi saya untuk kembali nulis. Aamiin?

AAMIIN

see u, temans!
😙😙😙😙😙😙

stop judging

hai temans! selamat hari minggu

*bersihin sarang laba – laba di tembok keraton putih*

hehehehehee. udah lama banget yah saya si ais ariani, pemilik dramaLand ini gak berdrama ria di dramaland kesayangan. gak boleh nyalahin keadaan yang bertambah sibuk dengan urusan kerjaan sih, nyatanya banyak orang – orang di luar sana yang tetap bekerja dan tetap produktif nulis, ya kan. jadi, yang bisa disalahkan dalam penurunan produktivitas menulis adalah: saya sendiri; karena gak bisa membagi waktu.

baeklah, kita mulai hari minggu pagi ini dengan sedikit produktif dalam dunia perblog-an. mumpung saya lagi ditinggal sendirian di kamar hotel nih, gara – gara semua keluarga saya yang weekend ini lagi berkumpul di satu kota memutuskan nengok ke rumah salah satu kerabat. dan saya memutuskan untuk stay di hotel karena -ngeluhnya- sakit.

apa yang akan kita obrolkan pagi ini? ditemani cangkir teh hangat ini? hmm…. sadar atau gak yah, kehidupan saya dua tahun belakangan ini berubah. berubah banget.

dulu waktu masih jadi mahasiswa, pekerjaan saya: galau – ngeblog – galau – ke perpust – galau – ngeblog – galau – revisi tesis.

sekarang: ngurus SPPD – nomorin surat – terima invoice – ngelobi sales hotel – mikir makan siang apa – terima complain karyawan lain soal hal-hal umum – cek imel – dan jutaan pekerjaan rutin yang biasa dikerjain staf sdm & umum macam saya.

fyi, setelah satu tahun lebih saya bekerja di salah satu divisi di salah satu perusahaan besar di pinggiran Jakarta, saya sekarang pindah ke divisi (finally!) SDM & Adm. Kantor di anak perusahaan si perusahaan besar.

banyak perubahan terjadi lagi setelah itu.

jam kantor yang gila – gilaan. kerjaan yang kayanya ga ada habisnya (tapi, bukankah begitu ya yang namanya pekerjaan?). teman – teman sekantor yang cukup seru dan gila. pada akhirnya temen kantor saya gak berkutat seputaran si mbak sekretaris aja sih senengnya, sekarang saya punya teman sekantor wanita yang lumayan banyak. teman sekantor yang laen? yah kurang lebih berkutat masih itu – itu aja, cuman udah lebih variatif aja sekarang, gak cuman isinya oom – oom bos dan oom – oom pandu. sekarang udah banyak papa – papa muda yang kerjaannya lembur dan kemudian ngeluh ga punya waktu buat anak mereka. hehehehe

but, life is choice, right?

hidup ini adalah pilihan. dari saat kita membuka mata di pagi hari, kita punya pilihan; untuk terus hidup di mimpi – mimpi kita (baca: terus tidur), atau memberi kesempatan diri kita menghidupi mimpi (baca: mengejar mimpi *kemudian soundtracknya Jrock*). saat kita keluar rumah pun kita disuguhi pilihan. beragam. mau naik apa nih ke kantor? bisa naek angkutan umum, naik ojek, nebeng tetangga, atau ikut komunitas nebengers (eh).

pas udah memutuskan pilihan, kita pun akan dipaksa untuk menuju pilihan lainnya. kalau naik angkutan umum, naik yang jalur mana yah yang cepet. nebeng juga gitu, nebeng sama yang mana ya. atau minta jemput siapa ya, pacar atau selingkuhan (halah).

hidup ini penuh dengan pilihan!

eits, kata siapa hidup HANYA seputaran pilihan? hidup juga berbicara soal bertahan pada pilihan, berjuang untuk pilihan. ya kan?

pemikiran itulah yang kerap menghampiri saya, staf baru dan pejuang baru di ibu kota ini. kadang saat perjalanan pulang dari kantor saya banyak berpikir; ‘aku ini ngapain sih sebenernya kerja sampai jam segini, jauh dari keluarga, ketemu pacar aja gak sempet, nulis dan baca aja udah jarang banget, ibadah juga seenaknya, hubungan sama Sang Pencipta hanya sekedar syarat, hubungan dengan sahabat juga boro – boro mempertimbangkan kualitas dan kuantitas, untuk sekedar say helo aja kadang gak punya tenaga, cita-cita untuk kembali ke bangku kuliah menguap sudah dengan pemikiran gile aja mau kuliah lagi, kapan waktunya!,’

bener kata coach Rene di harian kompas di kolom Ultimae u – nya; the problem is not the lack of time, but the lack of focus

karena memang betul begitu. kadang saya mau dateng ke kantor jam berapapun saya punya ritual buang waktu macam ini: nyampek kantor – ngobrol di pantry sama OB atau sama temen kantor yang dah dateng duluan, biasanya edisi curhat soal kerjaan juga – nyalain komputer – mbukak Youtube, bikin playlist hari ini – cek list to do – mulai kerja – dissamperin bos, dicek atau disuruh ngerjain apa gitu – kerja lagi – disamperin OB, dilaporin makanan di kulkas habis, atau makan siang hari ini mau pesen apa – mulai kerja – makan siang dateng – kerja lagi – terima telpon – akhirnya ngurusin pesan dari penelpon – ke gedung sebelah ngobrol – eh kebablasan dikasih kerjaan sama bos di sebelah – tiba – tiba sudah jam lima – cek to do list, baru separuh selesai – akhirnya lembur, karena punya tanggungjawab menyediakan makan malam.

banyak hal – hal yang harusnya sudah bisa saya delegasikan ke orang lain, tapi entah mengapa saya masih taking control di situ. Kenapa? Entah.

ah, lagi – lagi judul sama isi gak nyambung :sigh:

pada intinya begini: dulu, jaman masih jadi mahasiswa yang berjuang menyelesaikan tugas akhir, saya merasa menjadi mahasiswa adalah peran yang sangat berat dengan segala tuntutan revisi dan pemuasan pertanyaan sebagai seorang peneliti. saat itu saya memandang seorang pekerja hanyalah sekumpulan orang – orang yang kebanyakan bermimpi tentang mewujudkan ide lalu kemudian terjebak di dunia nyaman mereka dan berteriak tersiksa oleh rutinitas; manusia – manusia cengeng yang tidak berani.

tapi sekarang setelah melewati proses itu, setelah menjadi bagian dari; -manusia manusia cengeng tidak berani, saya paham. sangat paham, ada begitu banyak yang memang harus dipertimbangkan dalam melangkah saat kamu sudah menjadi seorang pekerja. apalagi pekerja di suatu sistem besar. kamu punya apa yang mereka sebut tanggungjawab.

manusia – manusia cengeng tidak berani ini lah yang sebagian besar menjadi roda – roda perusahaan dalam berputar, yang membuat sebagian besar perekenomian Indonesia berputar, persis seperti yang Hugo Cabaret katakan saat dia berada di jam besar di stasiun (dalam film Hugo yang tayang di 2012)

Everything has a purpose, clocks tell you the time, trains takes you to places. I’d imagine the whole world was one big machine. Machines never come with any extra parts, you know. They always come with the exact amount they need. So I figured if the entire world was one big machine… I couldn’t be an extra part. I had to be here for some reason. And that means you have to be here for some reason, too.

we’re not an extra part. we had to be here for some reason.

termasuk kami, si manusia – manusia cengeng yang tidak berani. di pundak kami ada banyak tanggungjawab, beban, peran yang harus kami pikul.

dan satu hal yang pasti berubah dari ais, si mahasiswa pejuang kelulusan yang telah menjadi pejuang ibu kota adalah; ‘stop judging’

karena kita benar – benar tidak pernah tahu alasan sebenarnya seseorang dalam melakukan sesuatu. ya kan? kita gak pernah tahu alasan si ani datang telat ke kantor, kenapa si kijang biru di depan nyalip kita dengan seenaknya, atau kenapa si joko mau jadi selingkuhan si melati, kita gak akan pernah tahu.

Ya gak sih?

susah memang mengurangi kebiasaan bergunjing (halah), tapi mulai lah untuk lebih memahami bahwa ada alasan kenapa orang melakukan sesuatu.

Be kind, for everyone you meet is fighting a hard battle

everyone you meet is fighting a hard battle, be kind

oke, baiklah kalau begitu .. mari kita menikmati sisa hari minggu ini dengan bersenang – senang 🙂

bercerita tentang flores

Awal tahun ini, keluarga kami mendapatkan satu berita yang menyenangkan. menyenangkan? yah menyenangkan harusnya. karena Bapak saya pindah tugas ke Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur; tanah kelahirannya.

He just coming home.

Lalu mulailah rencana-rencana dibuat. termasuk saya, sibuk membuat jadwal. maklum, setahun jadi buruh saya belum pernah mengambil cuti. berbeda dengan saat kuliah kan yah… kita punya libur-libur tertentu yang bisa kita manfaatkan (contoh: saat mengerjakan tugas akhir. hahahahaha… everyday is a holidat with a deadline!).

Dan bulan April ini dipilihlah sebagai bulan perubahan bagi keluarga kami; semua koper dikeluarkan (termasuk koper-koper vintage punya mamak saya yang kece-kece itu…..), rumah diobrak-abrik dan dipilih barang apa yang akan dibawa dan barang mana yang akan ditinggal.

Abah – Mamak – Agil berangkat dari akhir bulan Maret. Keluarga kakak saya berangkat terpisah, dan saya serta sepupu saya merencanakan perjalanan dengan rute: jakarta – kupang – ende – labuan bajo – bali – jakarta.

Alasan untuk mampir – mampir bukan semata karena pengen liburan (ACTUALLY ITU YANG UTAMA) tapi juga karena belum ada pesawat langsung dari Jakarta – Ende. Ende itu di mana sih Is letaknya? Di pulau flores.

Jelasnya sih bisa Bukaklah atlas. Bukaklah peta Indonesia tuh. Dan kalau pernah nyimak pelajaran sejarah jaman esde, pernahlah disebut kalok Bung Karno; salah satu proklamator negara ini pernah dibuang ke Kota Ende.

Jum’at 4 april 2014

Nah tanggal 4 April dini hari sekitar pukul 02.30 saya naik pesawat menuju Kupang dari Bandara SoeTa. Naiknya batik air, harga tiketnya sekitar 1jutaan. okeh Fain, ngaku deh karena kemaren saya kebanyakan diskusi sama travelmate saya yang kebetulan sepupu saya, saya dapet tiket seharga 1.106.00/orang untuk Jakarta – Kupang.

Sampai di Kupang pukul 06.30 waktu setempat. Kupang ini Ibukota Provinsi ya. Nah saya di kupang hanya stay beberapa jam aja karena udah dapet tiket pesawat Kupang – Ende naik transnusa jam 12.10 dengan harga tiket sekitar 500ribuan/orang.

Bandara Ende
Bandara Ende

Sampai di Kota Ende sekitar jam 13.00 waktu setempat, saya langsung dijemput untuk kemudian mejeng di pantai dan nunggu perahu kecil yang ngebawa saya dan sepupu saya nyusul keluarga besar yang sudah berkumpul di Pulo Ende yang jaraknya kurang lebih 2jam perjalanan menggunakan perahu motor.

Selama perjalanan itu, saya dan sepupu saya terkagum-kagum sama pemandangan sekitar. terakhir saya ke situ sekitar tahun 2005 dan keadaan sekitar belum banyak berubah;

Sesampainya di Pulo Ende,  saya dan sepupu saya disambut sama keluarga besar kami. kami menyempatkan diri keliling – keliling ke rumah sodara – sodara sebelum akhirnya menetap di salah satu rumah penduduk yang konon katanya masih sodara jauh kami. Malam itu dihabiskan dengan kumpul keluarga dan bercerita mengenai perjalanan kami, mengenai keluarga, mengenai kesibukan saya di Ibu Kota.

Di kampung bapak saya di Pulo Ende ini tepatnya di desa Kemo fyi aja nih, belum ada listrik selama 24 jam. Jadi listrik baru ada jam 6malam sampai jam 6 pagi. untuk air tawar pun masih langka. mangkanya, kalok disuguhin teh manis saya seringnya cengengesan sendiri. soalnya tehnya ada asin asinnya gitu.

 

Sabtu, 5 April 2014

saya, oom saya dan tante saya.
saya, oom saya dan tante saya.

Besokan paginya, setelah beres sarapan, saya keliling Pulo. nah itu tuh poto di atas saya lagi pose di jalan masuk ke Dusunnya tempat bapak saya lahir. Saya lagi cari aer buat mandi yang gak terlalu asin (hahahaha, becanda ding, aselinya saya lagi  nyariin emak saya yang pagi – pagi udah ngilang entah ke mana). Tapi Alhamdulillah yah waktu terakhir ke tempat ini tahun 2005 belum ada sinyal, sekarang sinyal telkomsel (hanya operator ini yang berjaya di sini) udah mulai kenceng bahkan bisa dipakek buat internetan loh.

Lepas jam 10, rombongan keluarga saya siap – siap untuk kembali ke kota Ende. naik perahu lagi tuh kan yah. Bedanya perahu kali ini udah diblok buat rombongan keluarga besar saya. kurang lebih kaya beginilah suasana di perahu motor yang dimaksud;

perahu Al Amin dari Pulo ende menuju Ende

Nah begitulah kurang lebih suasananya. Sampai di Kota Ende, kami beristirahat sejenak di penginapan. saya sekamar sama keluarga kakak saya, kami hari itu memfokuskan diri beristirahat, karena esokan paginya kami punya agenda seru untuk jalan – jalan. Dan juga karena dari sore hari saya kena demam. Kayanya saya masuk angin karena begadang di malam sebelumnya pas perjalanan Jakarta – Kupang dan kena angin laut melebihi batas tubuh saya mampu menerimanya (ahseeek).

Minggu, 6 April 2014

Alhamdulillah, paginya badan saya udah bisa diajak kompromi. Demam saya udah turun, dan juga kondisi udah lumayan fit. Akhirnya piknik yang sudah direncanakan semalem bisa terwujud deh. Saya, sepupu saya, keluarga kakak saya dan beberapa Anggota keluarga lainnya memutuskan untuk piknik ke Danau Kelimutu.

Familiar gak sih sama danau itu? Ituloh danau yang ada di duit 5000-an jaman kita esde, danau yang bisa berubah-rubah warnanya. Saya ke Danau yang letaknya di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu  ini pagi jam 7an. dan itu salah banget. karena kalau mau dapet view bagus, mendingan dateng nyampek sana sebelum matahari terbit, karena sunrise nya bagus dan kabut belum turun.

Danau ini berada di ketinggian 1631 meter di atas permukaan laut, dan terdapat 3 danau di satu kawasan dengan satu danau yang agak terpisah, dan harus ditempuh dengan tangga yang banyak bangeeeet. ada istilahya tangganya dinamai 1000 anak tangga.

Serukah perjalanan ke sini? Seru! Karena kita tracking kan tuh diantara hutan gitu. Dan udaranya seger banget 🙂

ais ariani at kawasan danau kelimutu

Danau nya mana Is? silahkan cek akun fesbuk atau akun instagram saya ya di @aisariani, kalok saya uplod banyak foto nanti kasian yang  buka blog saya; lemot banget. hahahahaha. dan untuk yang mau nyimak legenda soal danau kelimutu ini, silahkan buka ini untuk lebih jelasnya, karena sama seperti tangkuban perahu dan batu malinkundang, danau kelimutu pun memiliki legendanya sendiri yang menjelaskan bagaimana terbentuknya tiga danau tersebut (sekali lagi: menurut legenda).

Senin, 7 April 2014

Hari ini kami free dari kegiatan bersenang – senang, karena hari ini adalah inti dari perjalanan kami sekeluarga. Kami ada acara keluarga besar. jadi gak ada yang bisa dikunjungi,

so langsung ke hari berikutnya yah….

Selasa, 8 April 2014.

Hari ini kami punya agenda; berkunjung ke rumah pembuangan Bung Karno waktu dibuang di Ende, cari dan beli oleh-oleh, sama makan bareng sekeluarga inti. Maklum aja, dari kita nyampek di Ende kami sekeluarga inti susah sekali kumpul. Saya, agil, kakak, mbakyu ipar, si kecil Zee, emak saya. Kalau Bapak saya sih lagi sibuk sama tugas barunya yah.

Hari itu dimulai dengan makan bareng di restoran padang (orang padang jauh sekali yah merantaunya itu, walaupun yang jual TERNYATA orang jawa! Hahahahaha).  Kemudian lanjut ke art shop sehati di deket bandara, saya belanja – belanja deh tuh beli syall, beli tas etnik gitu. Saya ngabisin duit di art shop ini sampek 500.000,- yang sebagian besar saya beliin tas-tas lucu buat saya sendiri (hahahahaha).

Dari situ kami ke Fanny art shop, (masih) nyari oleh – oleh. Hahahahaha. Nyari oleh-olehnya seru loh. beli kain – kain tenun ikat gitu … bagus – bagus. saya sih gak beli untuk kain-kain yang lucu itu. cukup ngeliat aja… secara larange.

ini salah satu contoh kain dari kampung Bapak saya
ini salah satu contoh kain dari kampung Bapak saya

nah … setelah puas belanja – belanji yah, kami ke rumah pembuangan BUng Karno di Jalan Perwira. Tahun 2005 kami pernah ke situ dan pas kemaren itu ke sana lagi, tempatnya sudah berubah. Jadi bagus loh. Bagus banget 🙂

rumah pembuangan Bung Karno di Ende

Rabu, 9 April 2014

Well… hari ini adalah hari terakhir kami di Kota Ende. Karena sesuai dengan rencana kami akan melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo dengan pesawat jam 13.10

Paginy, saya sempet tuh maen ke Taman Renungan Bung Karno di pusat kota, di deket nol kilometernya KOta Ende. Tamannya bagus loh … walaupun masih belum selesai pembangunannya, tetapi udah keliatan gitu bentuknya ke depan bakal bagus.ada pohon – pohon rindangnya yang bikin teduh, secara udara di Flores gituyah panasnya membahana sekali.

patung Bung Karno di Taman Renungan Bung Karno
patung Bung Karno di Taman Renungan Bung Karno

Konon katanya, di taman inilah Bung Karno merenungkan mengenai pancasila. patung ini dibikin menghadap ke laut dan membelakangi suasana kota-nya.

***

Fufufufufufu…. selesai juga part 1 dari tulisan trip yang suah saya rencanakan untuk menulis dari 2minggu lalu.

untuk part lebih serunya, ditunggu yah…. saya akan update lagi deh. karena kalau dibikin dalam satu postingan nanti pada bosen yang baca #alasan :mrgreen:

hahahahaha….

***

so pertanyaannya: kalian sudah pernah ke Ende belum?

late post : happy birthday to me

MERDEKA!

walau udah telat 5 hari ini postingan, tapi saya tetap semangat loh nulisnya *nulis sambil lompat-lompat* hehehehe. gimana kabarnya temans? sehat? Saya Alhamdulillah sehat, walopun lagi sariawan gak sembuh-sembuh. Sembuh di lidah, muncul di bawah lidah. sembuh di bawah lidah, muncul lagi di ujung bibir. Heran. antara kurang gizi sama banayk pikiran sih keknya.

Kalau jerawat jangan ditanya. Persis kek ABG yang baru ulang tahun ke17, jumlah jerawat di wajah saya juarak banget deh. ampek bingung, padahal saya jarang banget kan makek kosmetik macem2. dari jaman kuliah dulu yah pembersih wajah saya itu-itu aja, paling cuman nambah bedak. sama sedikit eyeshadow, sama eyelinner. itu juga cuman dikit. kalau kambuh centilnya pake mascara.

ini ngomongin apaan sih? kok tiba-tiba lanjut ke kosmetik? Hehehehe.

saya pengen ngomongin soal …. soaaal… soal ULANG TAHUN SAYA. yey..

5hari yang lalu, tepat saat Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-68, saya berulangtahun yang ke-17 *duer. HAHAHAHAHA.

age is not only nummber for me. really. seberapa keras usaha saya buat menganggap age is only number, dalam lubuk hati saya yang paling dalam saya masih gak terima dengan kenyataan dan harapan yang gak sejalan. Saya berharap memiliki beberapa cita-cita dan target yang sudah tercapai saat usia saya menginjak usia saya saat ini.

Tapi, bukankah begitulah hidup? Tak melulu bicara soal kekecewaan terhadap sesamanya, hidup juga berbicara soal bagaimana menyeimbangkan antara harapan dan kenyataan. Dan, di sini saya, memiliki harapan-harapan baru di umur saya yang sudah berkurang jatahnya di dunia ini,

terimakasih buat kawans yang sudah mengingat ulang tahun saya walaupun tidak tertera di Fesbuk, terimakasih buat kamu yang bahkan tidak menyempatkan diri untuk memberikan ucapan selamat. it’s ok… yang penting saya mohon doanya, agar saya selalu berada di jalan yang diridhoi oleh Nya, dan juga selalu dimudahkan untuk bersyukur.

Dan, semoga selalu bahagia! THAT’S!

happy birthday ariani!

dan terimakasih sangat untuk semua sahabat terbaik saya, yang menyempatkan diri untuk berkumpul Sabtu kemarin. sekali lagi: i’m so lucky havin’ you all in my life. terimakasih sudah jadi barisan supporter utama saya. terimakasih untuk semua drama, nostalgia, canda tawa, kata-kata jujurnya, testimoni atas kebodohan-kebodohan saya, terimakasih untuk tidak menjudge saya seperti yang beberapa orang lakukan, terimakasih untuk dukungan tiada hentinya.

semoga tahun depan kita masih bisa bersama :kiss:

***

mempelajari kehilangan

Assalamu’alaikum….

*edisi Lebaran, salamnya jadi lebih agamis*

hehehehe. hai, hai haloo semuanyah. Temans, gimana kabarnya? Gimana lebarannya? Gimana liburannya?

kalau saya ni… Tahun ini, merupakan lebaran pertama saya setelah bekerja. Alhamdulillah, Alhamdulillah dan Alhamdulillah, rasa syukur yang gak bisa saya ungkapkan dengan baik, karena saya ngerasa bersyukur banget atas semua rejeki dan karunia yang menghampiri saya tahun ini. Berkah yang luar biasa 🙂

Namun, namanya juga hidup, ada beberapa hal yang terjadi dalam dua bulan terakhir yang menjadi bahan renungan buat saya. Pernah saya bilang, bahwa yang namanya hidup itu mengajarkan banyak hal. Sayangnya sering kita lewatkan karena kita terlalu sibuk mengeluh.

Satu pelajaran dalam hidup yang saya dapat di bulan Ramadhan ini adalah soal keikhlasan. keikhlasan yang pertama adalah soal jodoh (*uhuk). jadi begini, dari awal tahun seperti yang pernah saya bagi di sini, saya sudah patah hati. patah hati dengan seseorang yang pernah begitu dekat dengan saya namun lebih memilih untuk bersama dengan orang lain yang mungkin lebih bisa memahami dia. setelah lepas dengan dia, jujur saya mengakui banyak perubahan dalam hidup saya. Perubahan itu gak perlu saya ceritakanlah yah, mungkin ada beberapa orang yang sudah menyadari, atau mungkin ada yang bisa nebak juga. Hahahahaha…

***

Pelajaran keikhlasan yang berikutnya yang Dia coba sampaikan kepada saya adalah saat gadget kesayangan saya yang baru berumur beberapa bulan dan saya beli menggunakan gaji pertama saya, HILANG. okeh, coba dibold: HILANG. hilang di rumah sendiri. Lucu? Lebih lucu lagi kalau saya ceritakan kejadiannya. Tapi gak usahlah ya, bukan itu point yang mau saya ceritakan.

Point yang mau saya ceritakan adalah: dalam beberapa bulan terakhir saya LAGI-LAGI mengalami banyak kehilangan. selain kehilangan calon *uhuk*, kehilangan gadget, saya juga kehilangan beberapa sahabat-sahabat baik yang pernah mewarnai dunia saya beberapa tahun terakhir. Iya, gerombolan power rangersnya bubar *nangis di pojokan*

Saya terpuruk. Memaki. Jutaan kali. Nyinyir. Ribuan kali. Membahasnya berulang kali dengan siapapun saya bisa membahasnya. mendadak jadi ahli analisa perilaku. Kenapa bisa begini kenapa bisa begitu. Kenapa bisa hilang kontak, kenapa bisa menjauh, kenapa bisa hilang gadgetntnya, kenapa bisa buruk hubungannya, apakah gengsi akhirnya mengalahkan kecewa, apakah rindu akhirnya tergerus gengsi. Hal-hal seperti itu telah coba saya bahas. dengan orang lain, maupun dengan diri sendiri (let’s call that with ‘kontemplasi’) HAHAHAHAHA. dan berakhir dengan menjadi Ustadzah; “Ya memang udah jalanNya begitu….”

awalnya saya marah. marah. sangat marah. seperti yang saya bilang, saya memaki, saya nyinyir, saya mengumpat, sampai akhirnya saya menangis karena tidak mampu mengungkapkan kekesalan di hati.

Coba kamu bayangkan temans, apa yang kamu miliki terrengut darimu dan hilang dalam kehidupanmu? Hal-hal yang sudah pernah kamu perjuangkan untuk mendapatkannya.

Setelah puas dengan amarah saya, saya tersadarkan saat memasuki bulan Ramadhan kemarin, bahwa benar adanya tidak ada yang abadi di dunia ini. Toh, pada akhirnya kita akan kehilangan semua yang kita miliki kan? Bukan masalah ditinggalkan atau meninggalkan, tapi masalah bagaimana ia pergi, bagaimana ia hilang. Dan itulah yang harus membuat kita belajar. Kita harus belajar mengenai kehilangan. Karen pada dasarnya, manusia adalah makhluk pembelajar.

Apalah arti hidup ini tanpa pembelajaran mengenai kehilangan? Kita tidak akan menemukan jika kita tidak kehilangan. Dan yang perlu kita lakukan dalam proses tersebut adalah belajar juga mengenai keikhlasan,

mengikhlaskan /meng·ikh·las·kan/ v memberikan atau menyerahkan dng tulus hati; merelakan: kami telah ~ kepergiannya; dia ~ tanahnya untuk tempat pembangunan rumah sakit;

***

From the bright side, saya selalu mendapatkan kata-kata bijak ini, “Insya Allah diganti dengan yang lebih baik”, jadi jika belum mendapatkan gantinya, artinya Allah belum merestui.

Dan memang terbukti. Setelah kehilangan teman dekat di awal tahun, saya sempat dekat dengan seseorang yang memang lebih baik dari si itu yang lama. Walaupun Si itu yang baru juga sudah hilang lagi (hahahahaha. duerr), tapi saya yakin, Allah menyimpan yang terbaik pada akhirnya.

Gusti Allah mboten sare, ‘nduk.

begitu nasihatnya kan?

***

So, saya dan segenap kru dramaLand mengucapkan, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Taqaballahu minna wa minkum. Selamat idul Fitri 🙂 Semoga ada berkah tersisa di penghujung tahun ini, semoga ada pelajaran yang bisa kita ambil.

forgive others

tebak-tebak berhadiah.

halo, selamat hari selasa.

apa kabar temans? udah didenger belum playlist saya yang kemaren? walaupun saya curiga yang baca postingan saya yang kemaren itu cuman si dikung yang baca. hahahahaha.. gak apa-apa juga sih, secara saya-nya juga udah lama gak blogwalking, udah lama ga promoin blog saya kemana-mana. jadi paling yang baca postingan terbaru saya yah mereka-mereka yang follow blog saya di wp ini.

jadi sesuai janji saya yang entah kapan itu, saya mau bikin giveaway, ini saya punya hadiah kecil-kecilan aja sih…  hadiahnya berupa kaos cakep yang didesain di Jogja, dan ini produk aseli Indonesia loh. ini nih produknya salah satu saya pake:

ais dan agil on ngartun Jogja

gimana? produk lainnya bisa kamu temukan di sini. tertarik? nah, saya mau bagi-bagi kaus itu semua gratis. gratis tis tis. buat tiga orang yang beruntung.

tunggu, si ais dalam rangka apa inih bagi-bagi kaos? gak mungkin dong tanpa daya dan upaya. emang di dunia ini ada yang gratis beneran gratis? ada sih, udara misalnya. kebahagian juga kadang bisa kita dapatkan dengan gratis beneran. hehehehehe….

tapi buat kaos kece ini, usahanya gak susah kok. cuma disuruh nebak. makanya tebak-tebak berhadiah judulnya.

perhatikan foto di bawah ini dengan seksama,

ais kecil

kenal gak sama anak ini? kenal? kalau kenal kira-kira siapa namanya? umurnya berapa?

ditunggu jawabannya yah di komen di bawah ini.. biar seru. waktunya dua minggu aja yah. apa dua hari? apa dua bulan? hmm. dua minggu deh.

ok, saya ulang yah, tebak nama anak kecil yang ada di putu itu, umurnya berapa. tulis jawabannya di kolom komentar. syaratnya? kagak ada syarat dah ah. ribet :mrgreen:

saya tunggu sampek dua minggu ke depan, kriteria pemenangnya yang bisa dengan tepat menjawab dua pertanyaan di atas. dan kalau ada lebih dari 3jawaban yang benar, maka kata Pakde: kaleng susu nona yang menentukan pemenangnya 🙂

so? jangan ragu buat ikutan yah! i’ll wait. rugi kalok gak ikutan! :mrgreen:

***

update 3 Juli 2013

NB: sumpah. tingkat kegaptekan saya ternyata ngalahin mamak saya. saya pikir tadi komennya udah dimoderatorin. ternyata belum :mrgreen:

terlanjur sudah yah, ya udah deh selamat menebak yak temans! jangan terpengaruh jawaban yang duluan-duluan. yakin pada jawaban anda! *macak pengawas Ujian*