3 weeks

Assalamu’alaikum Temans,

Selamat Siang semuaaaaa… hei, kamu.. iyah kamuuu yang lagi ngeluangin waktu untuk baca tulisan ini, terimakasih yah sudah mau merelakan waktu berharganya untuk sekedar nengok ke blog yang sedang mati suri ini. hahahahaha. Kamu apa kabar? Sehat? Mari berbagi cerita sama saya yah.

Saya mau cerita nih sebenernya. Jadi, beberapa hari yang lalu pas di jalan pulang kantor saya seperti biasa dengerin radio. Topik di radio itu adalah tentang persiapan pernikahan. Dueng… saya inget, saya masih berhutang cerita sama blog kesayangan saya ini tentang …… *jeng jeng* *drum roll* pernikahan saya. my wedding. my own wedding. can i repeat once more? FINALLY, I GOT MARRIED COUPLE WEEKS A GO!

Can u imagine that? Ms. Drama Queen yang hobi menebar drama dan kegalauan di setiap socmednya ini, finally… (iyah, akhirnya) melangkah ke –apa-yang-orang-orang-bilang-denganjenjang hidup yang lebih serius‘. bukan hidup mereka yang belum menikah gak serius atau belum serius, tapi saya kan cuman ngikutin apa kata orang.

tapi jujur deh … saya kemarin tuh kaya mimpi. apalagi pas ketemu temen blogger macem si putri usagi dan dikung *males nge link*, mereka kan dateng ke hari bahagia saya. mereka yang tahu banget kisah drama percintaan saya dari blog saya, dari twitter saya, belum lagi kalau pas ketemu kita langsung curhat – curhatan. Apalagi dikung yang malahan berhadapan langsung dengan drama hidup saya yang dari nangis bombay soal sahabat, ribut sama istri orang lah. Sampek dia (si dikung) pernah bilang “emang mbak ais mah orangnya suka nyari masalah”

Pas mereka menghampiri saya dan salaman sama saya di hari bahagia saya, rasanya kaya saya mau jingkrak – jingkrak dan meluk mereka deh. pengen banget teriak “finally, i did it!”

Ada Irni juga, anak gaul se Pontianak (lagi – lagi aku males ngelink) yang mosting di halaman fesbuk saya dan baru saya cek pagi ini. Dia bilang;Temen ngeblog dari awal awal baru ‘bisa nulis’ sampe sekarang. Temen blogger yang berteman dari dianya masih kuliah s2 sampe pengangguran dan hingga dapat kerja jadi bisa kopdaran di pontianak!!Pengen banget ketemuan lagi. Ngobrol2 lagi. Kalau bisa sambil bawa krucil2 yang buat gak tenang emaknya ngobrol. Hihihi. Bahagia selalu aisss. Keep blogging!!

Saya sadar, ada banyak cerita di blog ini yang mereka tahu, yang mereka baca, dan somehow mereka adalah bagian dari perjalanan hidup saya. Kadang penasaran juga sih sama temen – temen ngeblog yang lain. Kaya Kang Guskar, Kak Jul (eh yang ini enggak ding, masih sering bbman, hahahaha), oom enha, pakde, bu piet (abis mensyenan di twitter kemaren, aku tunggu jeung novelnya! hahahahaha), mbak ina, si bhi berceloteh, orange vanila (saya lupa namanya. hiks), si oom zahru, nda -lupa nama blognya-, oouch…jangan lupakan tante hera dong yang ngeblog cuman sebentar tapi bertemennya bisa ampek sekarang, nandini yang terakhir ketemu di jogja -dan masih sering tahu kabar via path ataupun ig-, sya si gula jawa, ari tunsa, terus si asop, mbak nik yang sekarang punya baby umur 14bulan (itupun taunya via fesbuk), terus siapa lagi sih temen ngeblogku dulu?

Mereka semua apa kabar ya?

Jadi sebenernya aku mau nulis soal proses akhirnya aku menikah, atau nulis soal temen – temen ngeblog sih ini? typically me. Nulis kagak ada guideline nya.

Lah, kamu maunya saya nulis soal temen ngeblog dulu apa tentang my wedding dulu nih?

Hayo… hayo … hayo …

Someday, someone will walk into your life and make you realize why it never worked out with anyone else
Someday, someone will walk into your life and make you realize why it never worked out with anyone else

Jadi, aku harus cerita darimana dulu ini?

Advertisements

Sesak

Aku terkapar oleh rasa yang menggebu ini. Seperti dikelilingi oleh harap pada jutaan imaji, aku pun berusaha menuntaskan tiap kewajibanku.

Hanya saja, tuntutan tanggungjawab ini semakin menjadi di tiap harinya. Aku seperti dikejar dalam labirin panjang yang tak jua kutemukan jalan keluarnya.

Sampai sampai mulutpun lelah untuk mengeluh. Karena keluhanku bagaikan repitisi yang membuat orang lelah. Lalu apa gunanya aku jika hanya membuat orang lain jengah?

Mimpiku sederhana, kawan. Aku hanya ingin bahagia. Dan … aku hanya ingin kehadiranku akn membuat orang lain bernafas lebih mudah.

Namun nyatanya mewujudkannya jauh dari kata sederhana.

Dewasa tidak melulu soal umur. Tidak melulu bicara mengenai berhenti galau. Tidak melulu berbicara mengenai politik, perdamaian dunia, atau apapun yang mereka siarkan dalam berita. Dewasa juga tidak melulu soal berhenti menyakiti dan berhenti menyalak.

Terkadang, dewasa mengenai tanggungjawab. Terhadap hidup.

Bukan berhenti di memaknai hidup.

Aku sesak, oleh tiap rutinitas yang memburu ini. Jeda sesaat pun ternyata tidak mengurangi sesak. Mungkin yang harus diubah adalah cara memandangku terhadap ini semua. Aku hanya anak kemarin sore yang belajar mengenai rutinitas. Tau apa aku mengenai ini semua?

Tentang Gedung Yunani

Dear All, hai…

Apa Kabar? Lama gak bersua ya, udah mau akhir bulan ketiga aja nih. Gak nyangka waktu begitu cepat berlalu. No wonder si Mbak ais suka lupa hari (nah. loh) … hehehehehe. Belakangan ini, sejak menyadari betapa menyenangkannya membaca tulisan sendiri di masa lalu … Saya semacam punya keinginan kuat untuk bisa kembali menulis.

Akhirnya di sini lah saya, di pojokan sebuah Coffee shop (yang selalu jadi favorit saya menghabiskan my me time) di dekat rumah, memangku laptop, membuka wordpress, berusaha mencari ide untuk menulis.

banyak sekali kawan yang ingin saya ceritakan. tentang bos saya sekarang yang ternyata subscribe blog saya (entah sudah diunsubscribe atau belum, anyway.. hola Bos!), tentang seorang teman pekerjaan saya dan bagaimana proses adaptasi saya, tentang bagaimana relasi saya dengan inner circle saya, tentang saya yang belum melaporkan SPT saya, tentang rencana getaway saya ke Jogja (lagi, untuk kesekian kalinya), tentang keinginan saya untuk menghabiskan lebaran di kampung halaman Bapak saya, tentang banyak hal.

terutama tentang tahun ketiga saya di belantara ibukota ini, bagaimana rasanya menjadi bagian dari rutinitas ini, tentang bagaimana akhirnya saya terbentuk perlahan menjadi budak kapitalis, tentang rencana besar saya 15 tahun mendatang, tentang rasa sesak yang masih menghampiri setiap kali … ah sudahlah, yang saya tulis harusnya tidak melulu soal rasa kan yah?

beberapa hari yang lalu saat reread blog saya sendiri ini, saya menemukan beberapa tulisan yang membuat saya tercengang. literally. takjub aja kok saya bisa menulis tentang hal – hal seperti itu ya. tentang pendidikan, tentang makna bekerja.

Lucu ya… bagaimana berbulan – bulan saya membaca dan memahami tentang Makna Bekerja untuk penelitian saya untuk pada akhirnya saya hanya menjadi semacam penghuni rak buku. Ke mana semua teori dan pengetahuan saya waktu itu? Jujur, dalam hati yang paling kecil saya rindu. Rindu menjadi mahasiswa dengan kewajiban membaca jurnal. Rindu menghirup aroma perpustakaan. Rindu mengalami kesulitan saat harus memahami abstrak sebuah jurnal.

ah kawan, terkadang rasa itu hanya sebuah ilusi.

baiklah, mengisi minggu malam ini… saya akan mencoba untuk bercerita mengenai Gedung Yunani, salah satu bangunan di Kampus saya. walaupun si dikung dan oom han yang nyebelin itu sering bilang saya gak filosofis, gak bisa dipungkiri bahwa saya memiliki ijazah dari Filsafat UGM. admit that hei boys, saya ini alumni Filsafat UGM (hahahahahaha!).

Jadi, salah satu gedung kampus saya itu adalah Gedung Yunani. Gedung berlantai dua di sisi timur kampus. Kalau teman – teman pernah melewati kampus UGM dan berada di Lembah UGM, pasti bisa langsung melihat penampakan gedung itu. Dinamakan gedung Yunani karena ada lima pilar besar di depannya.

Ceritanya, beberapa minggu yang lalu saya sedang membuka akun Facebook saya. tahukan .. hanya untuk tahu ada berita terbaru apa dari kawan – kawan onlen saya (termasuk beberapa blogger yang dulu pernah akrab banget, biasanya saya tahu kabar terbaru dari mereka ya lewat Facebook, sejak saya berhentu BW beberapa tahun terakhir), saya menemukan beberapa foto dari dosen S1 saya. kaget bukan kepalang .. ternyata Gedung Yunani akan dirubuhkan dan akan diganti dengan Gedung Baru.

saya diam. bolak – balik melihat foto – foto yang ada. mencoba meresap tiap foto yang ada. ikut merasakan tiap narasi yang Bapak Dosen hadirkan. Saya seperti ikut merasakan sepersekian rasa yang Bapak Dosen ceritakan terhadap bangunan berlantai dua itu. Bangunan itu terdiri dari ruang dosen dan ruang perpustakaan di bawahnya, serta ada semacam ruang komputer (pada jaman itu). Bagaimanapun saya menghabiskan waktu enam tahun di Gedung itu -tidak seperti Bapak Dosen yang mungkin lebih banyak menghabiskan waktunya.

Saya melihat foto – foto itu dan perlahan tapi pasti saya kembali ke masa – masa itu. Masa di mana masih menjadi mahasiswa rantau. Bagaimana saat pertama kali melewati gedung tersebut saya dihinggapi rasa bangga bahwa saya akan menjadi mahasiswa. untuk kemudian saya merasa lelah harus melihat gedung itu terus, lalu berganti kepada rasa takut karena ‘kok gue gak bisa lulus – lulus sih dari sini??’ untuk kemudian berganti dengan perasaan haru dan rela memutar jauh hanya untuk melihat tulisan ‘Fakultas Filsafat’ di gedungnya tiap kali kembali ke Jogja saat tidak menjadi warga Jogja lagi.

Kenangan – kenangan itu kembali. Tiap sudutnya seakan bercerita.

gedung Yunani

dulu .. di sudut ini ada bangku – bangku kayunya. kalau mau menunggu jadwal bimbingan Skripsi, saya biasanya nunggu di sini. pernah juga menunggu jadwal untuk ujian lisan mata Kuliah Kapita Selekta Filsafat Barat dan Metode – Metode Filsafat -dua mata kuliah yang ujiannya lisan. sudut ini paham sekali tiap debaran gugupnya mahasiswa.

Gedung Yunani 1

Kalau sudut yang ini beda lagi, biasanya di sini kami mengintip – ngintip apakah dosen pembimbing kami ada di ruangan atau tidak. Kalau gak ada, kami buru – buru menaruh draft tulisan kami. Syukur – syukur gak ketahuan dosen lainnya, jadi aman. Hahahahaha.. nanti tinggal sms Dosen dan bilang kalau draft nya sudah kami taruh di meja ibu. mohon bantuannya. begitu.

Gedung Yunani 2

Sudut yang ini punya cerita yang berbeda. biasanya kawan – kawan seangkatan akan duduk – duduk manis. istilah Jogjanya tengtengcrit. alias tengu’ tengu’ cerito (apa bahasa Indonesia-nya, Dab?). Biasanya sambil godain anak – anak jurusan lain yang lewat. Karena di depan sudut ini adalah jalan menuju Gedung Perkuliahan.

Sudut ini juga dulu tempat saya ngobrol sama gebetan (gebetan – gebetan) saya (hahahahaha!).

gedung YUnani 3

ah… saya emang orangnya gampang terjebak di masa lalu. seperti sekarang ini. hahahaha.

tapi gak kok, bukan berarti saya gak siap menghadapi berkas payroll besok senin, atau kenyataan adanya berkas anak PKL yang sudah teronggok sebulan lebih di meja saya. Saya siap. hanya saja … ya begitulah.

saya nulis ini bukan berarti saya menolah dirubuhkannya Gedung itu ya. enggak. sama sekali bukan itu. Saya hanya mencoba meresapi tiap sudutnya untuk terakhir kalinya. Tempat di mana saya pernah memperjuangkan sesuatu, tempat yang pernah jadi saksi tawa saya bersama kawan – kawan, nervous nya saya saat mau ujian, sampai air mata saya saat dinyatakan tidak lulus di salah satu mata kuliah.

bukan ingin kembali. hanya meresap rasa yang pernah ada, untuk kembali mengingat semangat itu. seperti yang Wells pernah bilang: ‘We all have our time machines, don’t we. Those that take us back are memories…And those that carry us forward, are dreams

after all, we must keep moving forward, right?

Just keep swiming … just keep swiming 🙂

keep swiming

selamat menghadapi Senin, Kawan!

PS: closingnya gak asyik. soalnya udah malem. Coffee shopnya udah mau tutup. hahahaha. ciao!

 

mari kita berbicara soal sepakbola

yuk mari.

heihoooo … selamat hari senin!

Apa kabar temans?

Siapa yang masih terkantuk – kantuk hari inihh??? Siapa yang masih merasakan euforia gol-nya Gotze pagi tadiiii? siapa yang masih kesel karena ternyata gol-nya Higuain terganjar offside padahal udah selebrasi???

Siapa yang masih sok tahu soal bolaaa??

untuk pertanyaan terakhir itu,  jawabannya adalah: Mbak ais.

Hahahahahaha.

Dua pertandingan terakhir Piala Dunia 2014 saya nonton dong. Gak tanggung – tanggung, saya nobar sama temen saya di salah satu cafe – cafean di daerah Kelapa Gading. nanti kapan – kapan sata review lah itu cafe. sekalian promo. kali aja ada yang mau ke sana, saya bisa titip es teh tarik favorit saya. hehehehehe…

Jadi, hari minggu dinihari saya dijemput sama temen saya sekitar jam setengah satuan. iya, kita dengan pede dan takut ga dapet tempat dateng jam sgitu. kocaknya temen saya ini baru jadi supir keluarga ke Cikarang. jadi, dia seharian ga sempet nabung tidur. walhasil dia nunggu dari jam satu itu ke mulainya Brazil – Belanda bolak – balik terkantuk – kantuk.

Saking garing ga ada bahan obrolan karena nyawa masing – masing (saya baru bangun tidur 15 menit sebelum dijemput), kita kebanyakan makan sama minum aja. lumayanlah sambil bercanda sama Waitress – waitressnya yang udah kenal sama kita berdua 😀

begitu pertandingan mulai, ada masalah teknis. proyektor yang disediain di lantai atas (kita dapet meja di lante atas dari cafe itu) gak berfungsi baik. mas – mas supervisor mulai panik, saya pun ikutan panik. kenapa? Karena kami kan sehati #nahLoh

hahahahahaha.

Akhirnya pada menit kesekianlah itu proyektor uda bisa konek sama tipi. sementara belum konek, bagaikan penonton VIP, kami nonton pertandingan dari lantai dua.

terus gimana Is pertandingannya? Haduh .. sedih lah nontonnya. Walau ga sesedih pas lawan Jerman ya, pas liat si Abah – Abah megangin dummy nya Piala dunia sambil bengong … rasanya ikutan sedih.

Nah pas lawan Belanda ini … kalah juga sih ya. gak seru lah pertandingannya.

nih suasana perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2014, sepi kan yah?
nih suasana perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2014, sepi kan yah?

 

kita skip ke pertandingan dini hari tadi ya.

saya dateng ke cafe yang sama jam dua lewat sekian, ternyata telat. saya pikir mulainya jam 3 kan yah sama kek kemarennya itu. Jebul saya salah jam. beginilah penonton bola musiman gayanya sejuta. uda sibuk ribut dulu sama spv Cafe nya gara-gara saya reserve cuman buat berdua diprotes sama dia. begitu dateng, kita telat sodara – sodara. Dan ternyata kita dapet tmpat persis depan layar proyektor. meja kecil di pojokan dengan kursi cuman satu, dan terpaksa saya geret – geret kursi dari meja sebelah. rame gilak!

Gak serame di  La Piazza sih ya,

Mulai deh itu sorak sorai pendukung masing – masing tim. Saya sama temen saya yang nonton bareng ini sama – sama megang Argentina. Yah paling gondok pas Higuain ngegol-in. uda bersorak sampek lompat – lompat dari kursi lah kami tuh, ternyata baru disorot si hakim garis ngangkat bendera.

ganti bersoraklah itu pendukung Jerman.

Seru. Pertandingan finalnya seru pake banget. Argentina yang katanya CUMAN punya Messi (dan Jerman punya tim, katanya) mampu membuat Jerman bermain hingga babak tambahan dimainkan.

Apalagi melihat statistik pas kelar babak pertama, Argentina cuman megang bola 30 sekian persen. Sisanya bola dikuasai Jerman. sampek mikir, ini maen setengah lapangan apa gimana. kan kasian, Neuer jarang disorot *halah*

pas abis babak kedua udah ga sempet lagi merhatiin statistik, tapi permainan Brazil yang katanya cuman ngandelin Messi patut diacungi jempol kok.

Firasat jelek pas Klose diganti. aduh pemaen satu ini dulu baru – baru keluar adek saya masih esde dan ngefans banget. bahkan dulu imel pertama dia klose_29@yahoo.com sekarang adek saya uda semester akhir kuliah. kebayang umurnya. Totti aja udah pensiun (Totti maning si ais… ais… ). Diganti sama Gotze yang ganteng.

gerombolan mas – mas belakang saya seneng banget begitu si pemaen bundes liga ini masuk. saya mah gak paham sepak terjang dia. secara pemaen cadangan yah bok. dan baru ngegolin sekali juga pas piala dunia.

dan emang hokinya si Gotze, tendangan kaki kirinya yang cakep itu berhasil ngebobol gawangnya Romero. mengingat yah .. shootnya Jerman udah berulang kali berhasil dihalau sama Romero.

sekali lagi, sorak sorai gemuruh pendukung Jerman terdengar. mereka nunjuk – nunjuk seragam yang mereka pakai, seakan – akan bilang; “INI GUE MENAAAANG INIH!!!”. dan hebohnya itu loh …

sebenernya ulah penonton bola di Nobar itu lucu ya. kaya sodara mereka aja yang maen, kek kakak sama Abang mereka aja yang maen, kaya negara mereka aja yang maen hebohnya sampek segitunya.

salah satu pendukung Argentina yang gayanya udah kek pacarnya aja yang kalah
salah satu pendukung Argentina yang gayanya udah kek pacarnya aja yang kalah

Tapi emang iya sih ya. saya ini bukan penggila bola, tapi penonton musiman yang seneng sama euforia-nya. jauh sebelum upacara pembukaan bulan kemaren, saya udah ancang – ancang mau nobar

cuman berhubung jadwal ga sefleksibel dulu dan udah punya rutinitas, dijadwalin nonton dua pertandingan terakhir aja, yang laen biar pas selo aja nontonnya, di rumah.

dan nobar itu emang juara banget deh rame dan serunya.

yang heboh maen di lapangan ada, yang heboh sorak sorai di depan layar ya ada. yang kasian yang Waitressnya karena kudu bolak balik ngambil dan nganter pesenan. sama dedek – dedek yang tanggung umur yang diajak sama oom atau tante atau bapak emaknya buat nonton; dengan upah eskrim. dan berakir di pojokan kursi nyaris ketiduran.

ya begitulah sepakbola, asyiknya kalau diomongin gak ada habisnya. besok ketemu sama temen yang doyan bola yah yang dibahas golnya si Gotze, bahkan offside nya Higuain sampek empat tahun ke depan juga masih dibahas itu. ya ga? Hahahahahaha.

dan beginilah tulisan dari si pengamat sepakbola amatir yang nonton bola musiman.

so, jagoan kamu Jerman bukan? Apa mendadak Jerman?

sampai ketemu di Euro 2016 yah.

***

🙂

ini saya an temen saya yang nonton sambil ngeceng tadi pagi hihihihihi..
ini saya dan temen saya yang nonton sambil ngeceng tadi pagi
hihihihihi..

nostalgia internet

Selamat Hari Senin, Temans!

Pagi tadi, saya ikut kelas bahasa inggris yang difasilitasi kantor. jadi, saya dapet jatah untuk belajar bahasa inggris dua kali seminggu masing – masing selama dua jam.  awalnya agak males ya boook, tapi kok sayang banget kesempatan emas buat belajar disia-siakan. we know lah, kesempatan buat belajar kan gak dateng ke semua orang. apalagi kesempatan itu gratis yess. hahahahaha..

Nah, pagi tadi di kelas kita belajar ‘express feeling’. disuruhlah itu kitamenceritakan 15 ‘feelings’ yang kita rasakan selama paling gak sebulan terakhir. tadinya saya mau curhat onair kan yah. tapi harus jaim dong kalau sama temen – temen kantor, saya harus dikenal sebagai mbak ais yang cuek dan cool (aeeh matek).

jadi saya cuman menceritakan feeling yang so so aja, salah satunya adalah enthusiastic. why? because we have one day off in da middle of this week. ya ampoon…. sejak kerja, i’m very craving for day off. jadi dapet satu tambahan libur tanpa mengurangi cuti itu amazing banget rasanya buat saya. hahahahaha.

bukannya saya membenci pekerjaan saya, hanya saja … saya seneng aja dapat waktu buat tidur lebih lama. hehehehehehe…

eh topik yang mau dibahas bukan itu sih. topik yang mau dibahas itu sebenernya gara – gara tiba – tiba saya keingetan sama logo ini:

friendsterhahahahahaaa ….

ayoh generasi internet 2000-an. ada yang masih inget sama logo ini gak? sama testimonial? sama bullbo alias bulletin board? sama kolom last seen, sama kolom who’s vied me. ahahahaha.

aduh, saya kok jadi terharu yah. ketahuilah temans, jaman friendster itu adalah jaman yang tidak cukup mengenakan untuk stalking, secara dulu social network belum ada kaya sekarang yess. jadi kalau mau nyari tahu tentang seseorang yah cari tahu aja lewat testi. ada masanya loh kita teriak – teriak; “eh … isi testi gue dong”

ya gak sih?

isi testi menjadi seru karena disitu akan ada testimonial temen – temen tentang kita. kind of “ais itu … bla bla bla and bla..”

sayang banget saya gak sempet nyimpen screen shot dari halaman friendster saya, karena sejak 31 mei 2011 friendster udah berubah jadi social entertainment site, yang saya gak tahu deh sekarang kabarnya gimana.

buat yang belum tahu, friendster itu ada sebelum adanya Facebook, twitter, myspace, yah masih agak deketan generasinya sama mIRC (remember that? someday yah… saya nulis tentang miRC).

penampilan friendster nih semacam kaya gini:

friendster page on 2006

yang seru dari friendster bagi saya adalah, kolom testimonial. why? karena, kalau lagi BT dan lagi gloomy gak jelas, saya biasanya baca kolom testimonial buat naikin mood dan self esteem. seneng rasanya baca komentar orang lain tentang diri kita sendiri (ya ampun, mbak ais narsisnya jaman dulu. heheheheehe). tapi, kalau kita mau kenal sama seseorang jaman dulu nih ya… saya juga ‘cari tahu’ gebetan saya yah lewat friendster. bagaimana teman- temannya memandang dia, bagaimana teman – temannya menilai dia. kalau sekarang apa yah perbandingannya?

nah selain itu .. di friendster ada juga fasilitas bulletin board. itu semacam kaya notes  yang bisa kita tulis dan bisa dibaca sama semua orang. cmiiw yah .. dan kita juga bisa baca bullbo (singkatan bulletin board pada masanya) yang dipost sama temen – temen friendster kita. biasanya di sini saya nulis gak penting banget .. biasanya jawab 20 pertanyaan gak penting yang pernah dipost sebelumnya sama temen saya. semacam situs springme kali yah kalau jaman sekarangg. kadang pertanyyan – pertanyyannya pun gak jelas, kaya “lagi dengerin musik apa?” atau “tadi sebelum nulis bullbo ini habis buka situs apaan?” atau “online dari mana?” alay kan saya jaman dulu ikut-ikutan nulis begituan?

selain itu, friendster dulu punya blog loh. dan di sanalah blog seorang mbak ais dimulai. dan amat sangat alay sekali. kalau untuk ini ada sih screen shotnya di blog salah seorang temans. tapi gak mau saya kasih link ah. ntar jadi ajang si dikung sama oom han buat ngebully saya :,(

secara tata bahasa, gaya nulis, pemilihan huruf, pemilihan kata, yang kalau saya baca lagi sekarang bikin saya pengen nanya “itu siapa yang nulis?”

ya padahal ada nama saya-nya di situ.

kalau saya gak salah inget, jejak kehadiran friendster masih saya tempel di salah satu buku harian saya. yaitu berupa print – printan testi – testi terbaik dari teman – teman friendster saya. saya pajang disitu buat jadi mood booster saya kalau lagi gloomy gak jelas. hihihihi.

dan, sama seperti situs pertemanan lainnya, friendster juga punya fasilitas buat nyimpen foto.

seru deh jadinya nostalgia dengan friendster ini, walaupun sejak mei 2011 itu… semua foto, testi, bulbo dan data – data yang ada di friendster udah dihapus. jadi, hilang sudah jejak kealay-an saya.

ALhamdulillah, besok suami dan anak – anak saya gak perlu tahu kalau saya pernah alay dan ajaib.

***

so, gimana dengan teman – teman … punya akun friendster gak dulu?

***

and by the way, thank for Gadel for the screen shoot of friendster on 2006 🙂

sepak bola, puasa, pilpres dan microwave

Selamat Hari Jumaaat..

di jumat yang indah dan cerah serta panas ini, saya lagi selo banget. Oom bos lagi pergi rapat di luar, kerjaan juga untuk hari ini belum ada yang urgent. ada sih, tapi masih bisa besok lah. hahahahaha…

ini gara – gara mbak ina nulis soal piala dunia, pas saya buka reader saya. yah ada beberapa topik yang menarik sih. tapi sebagian besar terbagi dalam tiga topik; kalau gak nulis soal politik, nulis soal piala dunia atau gak nulis soal bulan puasa.

dan saya masih aja nulis soal cinta cintaan. galau galauan.

hahahahaha.

tapi yang paling seru emang blognya mbak ina ini nih, saya ampek baca berulang kali. pelipur lara dan tambahan informasi bagi fans bola musiman kaya saya. iya, saya kan nonton bola kalau ada musimnya aja. kaya sekarang lagi musim piala dunia, saya ikutan hore.

ikutan hore juga waktu Italy menang lawan Inggris (PUS!) dan ikutan nangis waktu Italy harus balik kandang. lagi – lagi gagal lolos ke 16 besar. uda dua kali piala dunia gak lolos, semoga 2018 your turn yes Azzuri 🙂

dan ikutan dadah – dadah waktu Spain si mantan juara dunia harus pulang duluan.

Jagoan saya jelas Italy lah.. dengan atau tanpa Totti bagi saya Italy itu favorit. gak tahu juga kenapa, padahal saya gak paham bola, mungkin karena saya suka makan Pizza kali yah :mrgreen:

tapi berhubung Italy udah balik, saya dari awal punya dua jagoan. Argentina lah jagoan kedua saya. kenapa? Yah karena dia negara Amerika Latin. Berhubung dilaksanakan di Amerika Latin, saya yakin yang juara pasti Amerika latin. Kenapa Argentina? Ya karena Brazil udah banyak yang mjagoin..  iya. saya sok tahu. dibantah juga boleh loh bagi penggemar negara eropah.

apakah saya menonton semua pertandingan itu? jawabannya tidak. tidak pernah. hahahahaha… saya tahu semua itu lewat temlen di twitter, dan atau malah baca – baca berita atau kek baca blognya Mbak ina itu.

kenapa gak nonton Is? Satu, jadwalnya gak nyambung nih. antara sahur dan besoknya kudu bangun pagi. Kedua, karena gak ada partnernya.

piala dunia 2010 kan ada tuh bekas sahabat saya yang nemenin saya nonton sambil smsan sama gebetan masing masing eh ga taunya gebetan saya di… eh gak jadi, bulan puasa cyiin…

atau ga si adek ganteng kesayangan saya, kita nongkrong jerit – jerit di kontrakan. Sekarang? Ada sih yang nemenin, tapi masih nemenin lewat bbm doang. Lagian nonton bola sambil bbman apa aseknyaa..

Alasan ketiga, gak ada sih. cuman dua alasan itu aja; teman dan waktu.

intinya, saya belum nonton satu pertandinganpun deh.  rencananya nanti malem saya mau tuh nonton jerman prancis. pegang mana Is? ndak tahu saya. kalau mbak ina megang jerman nih, aku megang Prancis deh. soalnya ada Zidane *hlah. salah zaman :))))

****

next topic; politik. saya cuman nunggu sampe minggu tenang datang dan masa kampanye berakhir. ini pemilu ketiga saya (APPPPAA?? OW EM JI, saya ketauan gak imut – imut lagi deh. hahahahaha). dan sepanjang ingatan saya, kali ini adalah pemilu dengan kampanye terburuk sepanjang tiga kali pemilu. lupakan arak – arakan yang menakutkan, kampanye ini lebih sadis lagi. hampir dipastikan di berbagai macam social media (maaf, udah lama saya gak nonton tivi) tiap hari pasti ada aja yang posting tentang politik. badly, yang diposting gak jarang yang negatif.

saya ngerasa gak punya kapasitas buat ikutan kampanye. bukan karena gak dibayar *EH! bukan karena itu. bukan karena filsafat politik saya dapet nilai D (walau udah tiga kali ngulang yess),

tapi karena saya masih merasa pemilu itu ada azasnya, yakni LUBER, langsung umum dan bebas RAHASIA. jadi, sebagai pemilih saya akan tetap menjadi pemilih yang merahasiakan pilihan saya.

dan, seperti yang pernah saya singgung entah di mana saya lupa. jika saya berkomentar mengenai politik maka saya tidak bisa membawa diri saya pribadi saja. tapi pasti akan membawa nama institusi tempat saya bekerja, kampus tempat saya belajar dan juga orangtua saya.

nah, bagi saya yang terakhir itu yang paling berat saya juga untuk saat ini.

tapi itu sebenernya berlaku bukan cuman kalok komentar politik sih, berlaku juga untuk komentar yang laennya. ya kan?

So, untuk soal politik saya komen hore aja yes 🙂

****

Puasa. Selamat menunaikan ibadah puasa yah buat teman – teman semua. saya udah harus siap – siap pulang nih, jadi postingan soal microwave kapan – kapan aja ya saya lanjutinnya. hehehehehe…

***

so, apa tim favorit kamu?

***

enjoy 🙂

reblog : i don’t know how she does it

heiho… welcome June 🙂 selamat bulan Juni. Half year is already gone, isn’t it? Gak nyangka banget yah.. udah beredar ajaloh tanggalan hari libur dan cuti bersama tahun 2015 di group wasap saya. malem ini saya pengen reblog salah satu tulisan saya tahun 2011, jaman saya lagi mau nyusun tesis (it’s been 3 years! wew!)… tapi saya edit dikit yah, gak semuanya saya masukin yah. soalnya ada banyak kepentingan politik di dalam situ *tsah.

postingan ini nulis tentang resensi buku yang saya baca judul bukunya i don’t know how she does it by Allison Pearson. so, here is it…

bercerita tentang Kate Reddy, seorang manajer investasi yang memiliki keluarga dengan dua orang anak. secara garis besar, buku ini menceritakan work-family conflict yang dialami oleh seorang Ibu yang bekerja. Kate memiliki dua peran yang harus dijalaninya, peran di kantor sebagai satu dari sedikit wanita yang bekerja di kantornya dan juga perannya di rumahtangga.

Kate memiliki seorang suami dan dua orang anak; Emily yang berusia lima tahun dan Ben yang masih berumur satu tahun. Kate mencintai pekerjaannya, namun dia juga berusaha yang terbaik bagi keluarga yang [sudah pasti] dicintainya.

Dalam buku ini digambarkan bagaimana Kate berusaha menyeimbangkan kedua perannya. menjadi Ibu yang bekerja akan jauh lebih sulit dibandingkan menjadi Ayah yang bekerja, dan satu part yang paling menggambarkan bagian ini adalah saat Kate bercerita bagaimana seorang pria akan terlihat keren, terlihat sangat mencintai keluarga saat memajang foto anak, istri dan keluarga-lah secara garis besar. Tapi menurut Kate, semakin tinggi jabatan seorang wanita bekerja, maka semakin sedikit foto yang dipajang.

Sama halnya seperti saat rapat mahapenting terjadi di suatu divisi dan seorang Pria meminta ijin untuk tidak ikut meeting, dengan alasan; “mengambil raport anak” maka akan mendapat respon;‘aaah soooo sweeet’. tapi jika wanita yang melakukannya, maka biasanya yang ia dapatkan adalah celaan betapa ia tidak bisa mengatur waktu.

The women in the offices of EMF [Kate’s firm] don’t tend to display pictures of their kids. The higher they go up the ladder, the fewer the photographs. If a man has pictures of kids on his desk, it enhances his humanity; if a woman has them it decreases hers. Why? Because he’s not supposed to be home with the children; she is.

well, buku ini memuat jungkir baliknya seorang Kate berusaha menjadi ibu dan karyawan serta istri yang baik. bagaimana ia mengakali ‘kue supermarket’ menjadi seperti  kue homemade, bagaimana ia selalu berusaha ‘menyogok’ anaknya dengan berbagai mainan yang ia beli setelah bertugas ke luar negri, bagaimana ia berusaha menolak berhubungan seks dengan suaminya, bagaimana Kate mengupah pengasuh anak-anaknya dengan upah yang cukup tinggi agar memperlakukan anak-anaknya dengan baik, bagaimana akhirnya suaminya pergi dari rumah mereka saat Kate sedang bertugas di luar negri.

Saya belum mengalami posisi seperti Kate; seorang Ibu yang bekerja. Makanya saya terkejut menyadari betapa beratnya menjadi Ibu yang bekerja. No offense buat Ayah yang bekerja, suwer. Coba kalau kawan-kawan lagi nganggur dan mencari jurnal penelitian mengenai ‘working mother’ maka kawan-kawan akan menemukan sejumlah penelitian.

Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan  oleh Cinamon dan Rich (2002), yang mengatakan bahwa sumber konflik pada ibu yang bekerja biasanya adalah karena adanya peran ganda, yaitu peran sebagai ibu rumah tangga (istri dan ibu dari anak-anaknya) dan juga peran sebagai pekerja. Setiap peran tentu saja menuntut konsekuensi dan tanggung jawab yang berbeda, yang terkadang saling bertentangan.

Mereka juga berkata wanita yang bekerja ternyata lebih sering mengalami konflik dan permasalahan keluarga dibanding pekerjaannya karena bagi kebanyakan wanita keluarga merupakan domain yang paling penting dalam kehidupannya. Permasalahan ini tidak sedikit mempengaruhi pekerjaan dan dapat menciptakan gangguan bagi mereka, sehingga menyebabkan penurunan kinerja.

Lagi, ngapain sih seorang wanita bekerja? Well, itu akan bergeser sedikit mengarah ke Tesis yang saya angkat. Terdapat beberapa dorongan kenapa wanita bekerja. Bisa karena faktor ekonomi, faktor relasional yang berkaitan dengan kebutuhan sosialisasi mereka, faktor aktualisasi diri juga menjadi salah satu faktor pendorong seorang wanita bekerja.

Faktor yang mendorong seorang wanita bekerja pada akhirnya berhubungan erat dengan bagaimana wanita memaknai pekerjaan mereka.

Pemaknaan wanita bekerja berbeda dengan pemaknaan bekerja pada pria, karena wanita pekerja memiliki konflik dan dorongan yang mungkin berbeda dengan pria dalam bekerja. Maka makna kerja bagi wanita pekerja dipengaruhi oleh alasan yang mendorong mereka untuk bekerja yang nantinya akan membawa kepada penetapan peran kerja, hasil yang diharapkan dari bekerja, serta batasan aktivitas pada wanita dalam bekerja.

Jadi, makna kerja bagi tiap Ibu yang bekerja akan kembali lagi pada tujuan dan nilai-nilai yang dianut oleh Ibu tersebut.

Hehhehehehehehe. saya mengacungkan jempol saya empat-empatnya untuk semua Ibu yang bekerja. Mereka hebat. Walaupun kalau boleh memilih pilihan saya di masa depan, saya ingin bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga full time. Andai saja, saya bisa 😀

pas baca tulisan ini sekarang, saya masih proses mencari… apa makna bekerja bagi saya? You know what…. saya gak paham. Saya gak paham apa makna saya bekerja saat ini (isn’t it ironic?) Hahahahaha… mungkin harus jadi bahan renungan tengah tahun ini yess.

semoga temans sehat dan bahagia menyambut bulan yang katanya romantis ini ya 🙂

keep the good works!