coffee conversation

Kinan menyeruput tehnya perlahan. Sangat perlahan, seolah olah teh yang ada dalam cangkir itu adalah air suci yang harus diminum dengan perlahan. Seteguk teh manis hangat itu mengaliri kerongkongannya dan perlahan perasaan hangat dari teh itu mengaliri hatinya. Seolah seperti itu.

Padahal Kinan tahu, perasaan hangat tersebut bukan berasal dari Peach Tea hangat yang baru diseduh Mbok Nah sore ini. Perasaan hangat di hatinya secara jelas Kinan tahu penyebabnya. Penyebabnya adalah pertemuannya dengan Genta siang tadi.

Iya, Genta yang pernah mengisi hari-harinya lima tahun lalu.  Tadi siang Kinan bertemu dengan Genta itu. Genta yang pernah dua tahun menjadi sandaran hatinya, Genta yang pernah membantunya menyelesaikan tugas akhirnya waktu kuliah dulu, Genta yang menjadi teman berbaginya yang setia, Genta yang mengenalkannya pada dunia Advertising, Genta yang mengajarkan bagaimana bersikap profesional, Genta yang mendampinginya memasuki dunia pekerja, Genta yang dikhianatinya lima tahun lalu. Dan yah, Genta yang memilih pergi pada akhirnya.

Pertemuan itu bukan pertemuan yang tidak disengaja. Pertemuan Siang tadi merupakan pertemuan yang murni direncanakan. Direncanakan oleh mereka berdua, casual lunch yang malah berujung coffee time di Gedung Perkantoran tempat Genta bekerja.

Benak Kinan melayang ke percakapan yang terjadi siang tadi dengan Genta.

***

 

“Jadi, Sekarang kamu udah berhenti total dari dunia Advertising?” Genta.

“Kalau total sih belum yah Ta, masih satu divisi sama anak – anak Marketing, masih sering banget nongkrong sama anak – anak Marcom” Kinan

But guess you’re the boss now, Ki”  Genta.

Not yet, Ta. I’m just a slave” Kinan.

” Hahahahaha. But we are corporate slave. Don’t you agree?” Genta.

Tawa renyah dan sapaan hangat di mata Genta belum berubah. Kinan paham betul itu. Lalu percakapan seolah mengalir, membahas apa saja yang Kinan lakukan empat tahun terakhir. Bagaimana akhirnya Genta  membangun Advertising Agency miliknya yang dirintisnya dari jaman mereka sama sama kuliah dulu dan harus melihat bisnisnya itu hancur setahun lalu ketika satu persatu sahabatnya yang sama – sama membangun bisnis tersebut memilih menyebrang ke berbagai lini bisnis lainnya.

Pembicaraan siang tadi khas pembicaraan reuni yang terjadi saat Kinan berkumpul bersama kawan – kawan kuliahnya. Apalagi yang mereka bicarakan selain pekerjaan (elo inget Andrea? Angkatan 2005, sekarang dia kan udah jadi Manager loh di Unilever. Atau sejenis pertanyaan kasual; ‘Marcom tempat lo siapa sekarang yang megang?), bisnis, Aset, dan kalau yang ngumpul banyakan perempuannya … maka topik bahasan bertambah; keluarga.

Dan saat membahas topik terakhir biasanya Kinan beringsut menghindar. Kinan paling malas jika topik yang sedang seru – serunya tentang Advertising tiba – tiba harus berubah haluan ke topik keluarga. Alasannya sudah jelas. Karena Kinan memang belum berkeluarga. Dia lelah menghadapi hunusan pandangan mata teman – teman kuliahnya; yang seolah – olah meminta penjelasan kenapa dirinya masih belum berkeluarga. Seakan Kinan tahu kenapa dia belum berkeluarga.

Tapi bersama Genta, pembicaraan tidak berbelok ke pembicaraan tentang keluarga. Entah karena Genta seorang laki – laki atau mungkin karena Genta juga menghindari topik tersebut.

***

” Kamu masih seperti yang dulu Ki” Genta.

Dan pernyataan itu menggantung begitu saja siang tadi.  Menutupi perasaan gugupnya, Kinan perlahan mengambil cangkir di depannya siang tadi. Sejuta pertanyaan berkecamuk di pikirannya.

Apa maksud Genta? Sudah jelas Kinan berubah sejak lima tahun yang lalu. Kinan lima tahun lalu tidak mungkin akan tampil dengan sepatu dengan heels setinggi tujuh senti. Kinan yang lima tahun lalu tidak mungkin menggunakan blazer dan rok seperti siang tadi. Kinan yang dulu bahkan tidak tahu bahwa eyeshadow bisa digunakan sebagai ganti pensil alis. Kinan yang lima tahun yang lalu hanya mengandalkan lip gloss body shop favoritnya.Kinan yang dulu pasti sudah menghabiskan sore bersamamu, bukan menikmati peach Tea seperti saat ini seorang diri.

Namun Kinan yang dulu pasti akan dengan mudahnya terbang melayang hanya dengan kerlingan mata yang teduh milik Genta. Bukan berati kerlingan mata itu sudah tidak teduh lagi, hanya saja …

Untungnya ojeg on-line pesanan Kinan sudah tiba dan hal tersebut seperti memaksa mereka berdua untuk menyudahi reuni kecil mereka tanpa memberi kesempatan Kinan untuk memberikan tanggapan atas pernyataan Genta.

Saved by the ojeg.

***

to be continued. maybe.

***

masih ingat cerita Kinan – Genta – Bima yang pernah saya coba tulis sekitar enam tahun lalu? Saya sedang mencoba meneruskannya. Well, proyek kecil – kecilan saja, untuk melarikan diri sejenak dari rutinitas. Kalau mampu dan sempat yah dilanjutkan, kalau tidak yah disempat – sempatkan saja. 

P.S : ada yang pengen baca cerita sebelumnya? Here’s the link! 

 

Advertisements

[Berani Cerita #08] kopi darat

“Iyah.. Gue di parkiran. Elo dimana?”

….

“Hahahahaha. Iyah. Gue pake cardigan cokelat ya. See u, Gung”

Klik. Vera menutup handphonenya. Tersenyum. Seyuman yang sudah lama tidak tampak di bibirnya. Sejak Indra, kekasihnya selama 3tahun meninggalkannya demi wanita lain, Vera tidak pernah lagi tersenyum secerah ini.

Perlahan, Vera membuka pintu mobilnya. Nyaris pintu itu menabrak seorang wanita berjilbab ungu.

“Vera..!” wanita itu tampak terkejut.

“Vania?”

***

Vera akhirnya menghabiskan waktu  di kedai kopi bersama Vania. Vera menceritakan berakhirnya hubungannya dengan Indra.

“Jadi elo mergokin dia selingkuh?”

” Gak begitu juga Van. Si Indra ngaku sama gue kalau hati dia udah ada orang lain”

“Udah?? Dia ngilang gitu abis ngomong gitu?”

“Iya. Dia cabut ke Holland kata keluarganya. Ngelanjutin S2 di sana.”

“terus…. elo gak berusaha ngubungin dia?”

“aih… gue punya harga dirilah. Laki udah bilang gak mau sama gue, mosok gue kejar-kejar. Apalagi dia bilang udah ada yang laen!”

hening. tidak ada pembicaraan lebih lanjut. kemudian Vera membuka Handphonenya, membaca sms yang masuk dan tersenyum hangat. Yang dinantinya sebentar lagi datang.

“Terus..elo udah nemu pengganti?” Vania bertanya setelah mendapati senyum cerah Vera.

“Belum… eh bukan. eh…Sebenernya gue…” Mata Vera melirik ke kanan, ke kiri. Mencari seseorang.

“Elo ada janji?”

Vera diam.

“Kalau gue cerita, elo jangan ketawa..”

***

“Hahahahahhaha…”

“Elo tuh ya Van..!” Vera memberengut.

“Elo kocak banget! Jatuh cinta sama pria yang baru lo kenal lewat twitter? Baru kenal 3bulan!”

“Tapi Agung baik bangeeet. Mau dengerin segala curhatan gue. Dan dia ngertiin gue. dia bisa tahu  gue cocoknya pake baju warna apa, dia ngerti pas gue curhat soal Fifi, senior kantor gue yang judes banget. dan dia janji nemenin gue ke midnight sale besok malem!”

“elo yakin si Agung ini cowok?”

“Sial!”

Vera memaki sambil mengeluarkan lipstik dari tas make-upnya.

“Nih lipstik ini dia yang milihin warnanya! Dia ngasih link gambar lipstik ini via BBM. dia bilang bibir gue cocok pake warna ini!”

Vania menatap Vera bingung. Vera mengoleskan bibir tipisnya dengan lipstik merah menyalanya.

“Vera?” Bahunya dicolek oleh seorang pria.

“Agung?”

“Ya ampon boook…akhirnya kita ketemu boook!!” Pria itu langsung cipika-cipiki dengan gaya mendayu-dayunya dan gerakan kemayu.

Vera terkesiap. Dia melirik Vania yang sesudah pulih dari shocknya nampak menahan tawa.

Entah apa yang lebih membuat Vera kaget. Pria yang didepannya yang menggunakan baju batik merah menyala dipadu topi pantai, atau kenyataan bahwa si pria ini ternyata adalah Agung, virtual crush-nya selama 3bulan terakhir. Dia tidak pernah memahami bahwa Agung  itu ternyata…

“sebentar yah bok… brondong akikah lagi parkir!”

gaya Agung kenes saat menyebut kata brondong, lengkap dengan kedipan mata minimousenya.

Vera menelan ludah. Vania menahan tawa. Vera haus. mengambil cangkir kopinya. menelan sisa kopinya hingga tandas. dan Vera merutuki dirinya yang meninggalkan warna lipstik di cangkir kopinya.

sisa lipstik

“nah itu dia! Honeeeeyyyy!!!!” Agung melambaikan tangannya ke arah pintu masuk cafe. sekuat tenaga. Tenaganya yang mendayu-dayu itu.

Sesosok pria menghampiri meja mereka.

“Hon …. lama banget..”

Agung memberengut manja kepada pria itu, yang ternyata…

“Indra?”

Bau kopi masih semerbak keluar dari mulut Vera saat menyebutkan nama pria yang baru datang.

***

*jumlah kata: pas 500 cyin!

Ya ampoon. lumayan susah yah buat flash fiction ternyata :mrgreen:

banner-BC#08

dan (tak) mungkin part.3

“…And after all you’re my wonderwall…”

Di tengah kosentrasiku mengerjakan design sebuah web pesanan seorang kawan, sayup-sayup kudengar penggalan lagu lawas milik Oasis dari kamar sebelah. Tanpa bisa dicegah aku teringat padanya.

Diandra.

Ini lagu favoritnya. Apa kabarnya dia sekarang? Ah, tidak. Tidak! Aku tak boleh memikirkan hal lain. Konsentrasi. Fokus. Pekerjaanku harus selesai malam ini, tak ada waktu untuk bermain-main. Apalagi bermain dengan masa lalu.

Sepuluh menit kemudian.

“Shit!”

Ku-minimize tampilan program design yang tengah kukerjakan. Kuraih cangkir di ujung meja komputerku. Kosong. Aku butuh kopi baru. Sambil membakar sebatang rokok kunyalakan kompor untuk memasak air panas. Sedikit lagi pekerjaanku selesai, aku butuh istirahat. Kubuka pintu kamarku agar udara bisa berganti. Di langit bulan purnama. Diandra sangat menyukai purnama.

Ah.. Lagi-lagi Diandra. Apa-apa masih serba ingat Diandra. Liat gula sisa es teh, ingat Diandra. Lewat Rumah Makan Padang, ingat Diandra. Denger suara sirene mobil pemadam kebakaran, ingat Diandra.

Bersama Diandra, aku belajar dua hal. Saling mencintai tidaklah cukup untuk membuat suatu hubungan bisa bertahan. Komunikasi dan saling mengerti juga diperlukan. Termasuk kemauan, kemauan tuk mempertahankan hubungan tersebut. Itu yang pertama. Yang kedua adalah melepaskan tidak serta merta melupakan. Sekian tahun telah berlalu, walau kala itu aku yang melepakan Diandra dari genggaman tanganku, melepaskan harapanku untuk dapat bersamanya, nyatanya aku masih saja sulit tuk melupakannya. Mungkinkah aku dapat melupakannya? Menghapus semua sisa rasa yang masih tertinggal, mungkinkah?

“Piiiiiiiiiiiiiippp..”

Ah, airku sudah mendidih. Kuseduh kopiku lalu menambahkan dua sendok teh gula seperti biasanya. Sambil mengaduk kopi kuraih handphone di atas meja.

1 new message

From: Eca

Mas Deni, gimana kerjaannya? Sudah selesaikah? Kalau belum, yang semangat ya.. Ohya aku juga mau sekalian ngingetin, besok kita ada janji ke butik buat fitting baju pengantin. Jangan tidur terlalu malam loh. Apalagi pagi. Jaga kesehatan. Met malam masku sayang.. XO

Sambil mengunci pintu kamar kutekan speed dial nomer 2 hp ku.

Calling Eca

“Halo Dek.. Kok belum tidur sih? Oh.. Iya, bentar lagi kelar kok nge-design-nya. Hm.. Hm.. Oke, met bobok ya dek. Luv you.” Kutekan tombol END.

Cintaku pada Eca memang tak sebesar cintaku pada Diandra. Kuakui itu. Hanya saja Eca adalah orang yang telah kupilih untuk bersama menjalani masa depan, bukan orang lain, apalagi Diandra.

Jadi tak apa bukan bila terkadang aku masih teringat pada Diandra? Terkadang mengenang memori disaat kami masih bersama? Tak apa bukan sekedar mengenang? Toh kenangan tetaplah hanya sebatas kenangan dan tak ada yang bisa dilakukan lagi terhadapnya.

Aku tak salah bukan?

****
Nyampek juga di part tiga ini. Sayangnya ini bukan bikinan saya, melainkan bikinan partner in crime saya, gemana? udah sesuai ekspektasi? kalau udah sesuai ekspektasi berarti gagal. Gak ada faktor kejutan dong. Hahahahahaha… Lagi mikir, mau dilanjutkan gak nih yah si Diandra – Deni – Eca ini? secara stok kenangan masih banyak #eh bukaaaaaan…. stok cerita masih banyak. hasil kepo sana kepo sini :mrgreen:

tahu kan saat ada satu hasil kepo-an yang bikin ngomong gini: ‘waah seru nih dijadiin cerita! nah dari kemaren saya dapet banyak ‘aha moment’ kek begitu 😀

sebaiknya saya tanya si partner ituh…gmana cuy, mau kita lanjutkan ini? Kita gandeng penulis laen kalok mau, biar seru. Hahahahahaha.

~~~~~~~

dan (tak) mungkin part.2

Aku membanting handphoneku. Kesal. Yah. aku kesal. kesal berjuta – juta kesal. Kesal yang tidak pernah aku rasakan. Andai saja rasa kesal ini bisa kuubah jadi duit, sudah kaya aku. Sudah tidak perlu lagi aku bekerja kepada si kepala besar itu.

Sambil menahan kesal aku berjalan menuju meja belajarku di pojok kamar. di atas meja itu terdapat laptop dan beberapa pigura foto berisi fotoku dan foto Mas Deni, pria yang sudah mengisi hari-hariku beberapa bulan terakhir ini.

Ah… mas Deni, pria yang baik banget sebenarnya. Menyenangkan. Dan kami sudah memiliki rencana untuk menikah di akhir tahun ini. Tapi yah itu…. dari awal pertemuan, aku sudah sadar sepenuhnya bahwa aku tidak akan pernah memiliki hatinya. Karena hati Mas Deni masih milik Diandra, wanita yang pernah mendampinginya dari SMA.

Darimana aku tahu kalau hati Mas Deni tidak bisa kumiliki? Aku beritahu kawan, wanita itu memiliki intuisi yang tak terkalahkan oleh peramal manapun.

Aku tahu Mas Deni masih menyimpan foto Diandra di dompetnya, walaupun semua foto wanita itu seudah dihapus di Facebook dan laptopnya. Aku tahu Mas Deni masih mengingat dentingan pianonya walaupun ia tidak mengakui itu. Aku tahu matanya masih menerawang jauh bila mendengar beberapa lagu yang pernah mereka mainkan bersama saat masih SMA. Aku tahu Mas Deni masih membuka profile facebook, akun twitter bahkan mem-bookmark blog Diandra. Aku tahu ia masih beberapa kali salah menyebut namaku.

Aku tahu semua itu. Tapi kenapa aku masih mau bersama dan melangkah bersama Mas Deni?

Entah. Mungkin ini cinta. Atau bisa jadi ini bodoh.

***
Klik… klik… klik…

Aku membuka Facebook. Situs itu selalu menjadi prioritas yang kubuka untuk pertama kali setiap aku membuka laptop. Dan bukan untuk membuka siapa yang memposting apa di wall Facebookku, atau membuka profile Mas Deni. Aku membuka profile Diandra.

Diandra. Mantan pacar tunanganku.

dan aku hanya melihat semua foto – fotonya. terkadang aku melihat timeline-nya sampai saat pertama kali ia membuat facebook. di mana ia masih saling berkirim komentar dengan Mas Deni.

Aku cemburu, aku cemburu pada tiap kesempatan yang ia miliki bersama Mas Deni. Bagaimana ia menyemangati Mas Deni saat Mas Deni pertama kali merantau di pulau sebrang. Bagaimana mas Deni menulis di wall Diandra mengenai rindunya yang begitu besar. Bagaimana mereka berharap segera datang hari libur nasional hanya untuk saling bertemu.

Aku sebenarnya sakit jiwa gak sih membuntututi mantan pacar tunanganku sampai sejauh ini?

***

Hihiihihihi..versi ini dibuat saat saya dan si partner berjumpa di sebuah sudut coffee shop. maklumin ajah kalau sedikit ngaco. karena sambil ngetik, sambil hahaha hihihihi bercerita, sambil update status sana-sini.
ini versi si wanita satu lagi. kejutan apalagi yang akan disampaikan oleh kisah ini? tunggu kelanjutannya sodara – sodara (jika berkenan :mrgreen:
aiiiiiih….

dan (tak) mungkin

Hari ini untuk kesekian kalinya aku melihat profile Facebookmu dan melihat nama itu lagi di wall-mu. Ya Tuhan, kenapa hati ini masih terasa teriris ya melihat nama itu? Melihat bagaimana ia memanggilmu ‘Mas’ dan bagaimana kamu merespon itu dengan ‘dek’ serta bagaimana kawan – kawan mu ikut mengomentari tulisan wanita itu dengan gojekan – gojekan yang dulu biasa mereka tujukan kepadaku.

Lalu aku mengscrool ke bawah dan aku menemukan itu lagi; fotomu dan foto wanita itu. Tentu saja wanita itu yang mengupload foto itu, kamu masih seperti dulu; tidak pernah mengupload foto. Di foto itu kamu dan wanita itu tersenyum bahagia sembari memamerkan cincin. Cincin! Cincin yang pernah aku harap akan menjadi milikku.
Seolah itu belum cukup menyakiti hatiku, aku mengklik nama wanita itu. Sudah puluhan kali aku melihat profile wanita itu. Lihatlah bagaimana ia tersenyum, apakah kau melihat bayanganku di wajah wanita itu?

Ditya, sahabat baikku pernah berkata seperti ini kepadaku “Gila! itu cewek mirip banget sama kamu. Yah… gak mirip seratus persen mirip sih, tapi lihat senyumnya…”

Selebihnya aku menutup telinga. Aku tidak mau lagi mendengar cerita tentang dia. Tentang wanita itu. Tapi lihat aku sekarang: membuka profile dia di facebook. Aku membaca informasi itu berulang kali. Resa Putri Hermawan. Nama yang indah. Nama apa yang kau gunakan untuk memanggilnya? Putri? Resa? Eca? Ah iya, kamu memanggilnya ‘dek. Dek… terdengar hangat yah?

Aku kembali menggarami luka di hatiku sendiri dengan terus membaca profile wanita itu. Teman – temannya memanggilnya dengan panggilan Eca. Dan sepertinya ia wanita yang menyenangkan. Karena banyak sekali teman – temannya yang menulis di wall-nya hanya untuk menanyakan kabarnya yang sudah menghilang seminggu dari kantor. Tentu saja dia menghilang seminggu, dia kan pulang kampung untuk menerima lamaranmu.

Ya Tuhan. Lamaran. Harusnya aku yang ada di posisi dia. Dam*! Jutaan kali aku mencoba menghalangi diri sendiri untuk menyebutkan perasaan itu. Perasaan tersingkirkan dari kehidupanmu. Perasaan wanita itu merebut posisiku. Tapi memang itu semua yang aku rasakan.

Aku yang bersamamu selama enam tahun terakhir, aku yang bersamamu selama kamu merantau di kota orang. Aku yang setia menyambutmu datang saat kamu kembali ke kota ini. Aku yang selalu kamu hubungi di tiap malam kamu merasa kesepian di minggu – minggu pertamamu di perantauan. Aku yang selalu menyemangatimu di detik – detik jatuhmu menyusun skripsi.Aku adalah orang pertama yang kamu beritahu saat kamu harus pindah ke pulau seberang. Masih ingatkah itu semua?

Kita pernah bermimpi membangun sebuah keluarga kecil terdiri dari dua anak, persis seperti saran dari pemerintah. Kita pernah bermimpi menghiasi keluarga kita dengan musik indah dari alunan gitarmu dan permainan pianoku. Kita pernah bermimpi untuk mendidik anak – anak kita dengan model pendidikan homeschooling, karena itulah aku mengambil jurusan pendidikan. Kita pernah bermimpi memiliki rumah mungil dengan taman yang luas, agar anak – anak kita bisa bebas berlarian. Kita pernah bermimpi untuk menikah di usia 25 tahun, dan kamu berjanji melamarku di ulangtahunku yang ke-25 yang bertepatan dengan ulang tahun ibumu. Bahkan di umur kita yang waktu itu masih 17 tahun, kita pernah memiliki mimpi untuk membangun keluarga di atas perbedaan kita.

Dan mimpi itu masih tetap mimpi. Karena esok adalah ulangtahunku yang ke-25, aku sendiri di sini, menatap laptop. Melihat profile facebookmu dan tunanganmu. Tunanganmu. Tunanganmu. yang bukan aku.

it’s not goodbye that hurts, but the flashback that follow

Dan tak mungkin bila kita bersama di atas perbedaan… yang selamanya mengingkari
(Dygta – Tak mungkin melepasmu)

***

di sela pekerjaan saya sebagai jobseeker, sempat terpikir untuk menjadi penulis. dan in isalah satu fiksi saya yang saya tulis di sela-sela berburu pekerjaan *tsaaah.
hope you enjoy this. psstt… ini terinspirasi (TERINSPIRASI loh yah) dari kisah nyata seseorang…

see you next post

***
PS: gambarnya nyolong dari sini.

Kepada pemilik senyum mempesona sepanjang masa,

Aku tidak pernah memiliki rencana untuk terpesona pada senyumanmu itu. Ingatkah saat pertama kali kita bertemu? Kau tidak tersenyum, kau bahkan melirik galak ke arahku. Jika saja saat itu sendal jepit yang aku pegang, sudah kulempar sendal itu ke wajahmu. Beruntunglah kau, aku memegang handphone yang baru dua bulan resmi menjadi milikku. Aku biarkan saja kekesalanku menguap dan aku membalas lirikanmu dengan senyum terbaik yang bisa kuberikan. Kenapa senyum? Karena aku yakin, senyuman adalah cara paling mudah untuk meredakan konflik. Aku berharap sangat pertemuan pertama kita tidak menghasilkan konflik walaupun dibuka dengan lirikan galakmu.

Baiklah, kuberitahu kau satu rahasia: pesona pertamamu yang berhasil membuat jantungku berdetak ribuan kali lebih cepat adalah tatapan matamu yang sayu, yang menyimpan berjuta misteri yang membuatku ingin mengetahuinya. Tahukah kau seperti saat kau pergi ke toko buku favoritmu, lalu kau melihat ada satu buah buku yang sangat menarik hingga membuatmu ingin membuka lembar-lembar di dalamnya. Namun itu tidak mungkin dilakukan saat itu juga karena biasanya buku – buku bagus di toko buku diberi sampul plastik ketat yang tidak memungkinkan untukmu melihat lembar di dalamnya. Seperti itu lah kesan kedua yang kudapat darimu dari perjumpaan pertama kita; setelah lirikan galakmu yang menyebalkan. Aku ingin mengetahui dirimu lebih jauh. Mengetahui lebih mendalam mengenai tatapan sayu itu.

Sepuluh menit setelah pertama kali bertemu, kau menghampiriku. Ah… mungkin memang sudah takdir jika malam itu menjadi malam milik kita. Kau menghampiriku. Karena instruktur kita menyuruhmu. Menyuruhmu untuk satu kelompok diskusi denganku. Mukamu masih galak. Galak dan sayu. pernahkah kau mengetahui kombinasi itu? Jika belum, aku menyimpannya. Akan kubagi padamu jika kau mau.

Kembali ke malam itu. Kau diam dalam kelompok kita. Entah apa yang kau pikirkan. Aku berusaha sangat keras mengungkapkan pendapat terbaik yang aku bisa. Kenapa? Tentu saja untuk menarik perhatianmu. Ah hati memang bisa bercanda, tapi ia tidak berbohong saat mengirimkan sinyal. Berdetak berpuluh kali lebih cepat saat aku tak sengaja terperangkap dalam sayu-nya matamu. Lalu… voila.. kau pun tersenyum saat aku mengungkapkan pendapat. Pendapat yang aku yakin akan membuat guru bahasa Indonesiaku bangga setengah mati, karena aku bisa mengingat setiap perkataannya.

mungkin aku harus berterimakasih kepada Guru bahasa Indonesiaku itu, karena berkat dialah aku menemukan senyuman paling mempesona sepanjang masa. andai Leonardo Da Vinci masih hidup, maka bukan Monalissa yang ia lukis, melainkan kau. Aku yakin. Atau separuh yakin. Karena aku kan tidak paham soal lukisan. Yang aku paham saat ini hanya senyumanmu itu candu bagiku.

Jadi, kepada pemilik senyum mempesona sepanjang masa, terimakasih untuk senyumanmu itu. Beri aku waktu, karena aku akan berusaha terus hingga akulah yang menjadi alasan favoritmu untuk tersenyum, bukan gadis di wallpapper handphonemu, bukan gadis yang mengirimu sms, bukan pendapat yang aku tiru dari Guru Bahasa Indonesiaku, bukan lagi apapun, melainkan aku. Aku.

***

FYI, cerita di atas hanyalah sebuah fiksi. terisnpirasi dari seseorang yang tidak bisa disebutkan namanya. Hahahahaha. oh iya, gambarnya ngambil dari sini

see u next post 🙂

terjebak nostalgia

suara merdu itu mengalun dari sudut kamar. dengarkanlah apa yang Raisa lantunkan, ia sepertinya sedang menemani lamunanku

namun aku takkan pernah bisa..ku..
takkan pernah kumerasa, rasakan cinta yang kau beri. kuterjebak di ruang nostalgia.
semua yang kurasa kini tak berubah sejak dia pergi.

aku terjebak di satu masa dalam hidupku. saat aku masih bersamanya. bersama dia, yang sedang tersenyum dengan mata sipitnya yang lucu itu, pfiuhhh… dia sedang memandangku dari dompetku. Ya, aku masih menyimpan foto kami berdua, di dalam dompet. tidak ada yang pernah tahu. dan jangan sampai ada yang tahu.

kenapa?

jangan tanya kenapa. Karena aku benci bentuk pertanyaan itu. karena dengan satu kata pertanyaan itu mampu membuatku mengingat kembali jutaan penyesalan yang merayap dalam hatiku, penyesalan yang selalu hadir bila mengingat dia.

siapa dia? hanya cinta pertama. cinta pertama dalam balutan seragam abu-abu. cinta monyet yang sayangnya tumbuh tanpa seijinku. namun itulah pelajaran yang selalu kupahami, jangan pernah menyebut kata hanya untuk sebuah cinta.

***

 
Teras Rumah, Maret 2006

” Tapi kamu pernah bilang sama aku, kalau kamu gak pernah percaya sama kata-kata cinta itu tidak harus memiliki! kamu sendiri yang bilang kalau yang namanya cinta itu harus diperjuangkan. bullshit kata-kata kamu!!”  Nafasku tersengal mengucapkan kalimat itu. Aku gak pernah percaya kamu mengucap kata putus. Lagi.

” karena memang nyatanya seperti itu…” Kamu. Dengan suara lemah.

” Berarti kamu udah gak cinta sama aku?” Aku. Masih dengan emosi.

” Bukan begitu, aku masih cinta sama kamu. Tapi rasa ini sakit tiap kali inget kejadian dulu itu, rasanya…” Kamu. Dengan kalimat menggantung.

Akhirnya air mata itu turun. di pipiku. basah, sama seperti tanah di depan kita yang basah oleh rintik hujan yang sedaritadi menemani kita. Pelan, tanganmu meraih tanganku.

” Jangan nangis. Kamu mbikin aku sedih…” Kamu. sambil terus menggenggam tanganku.

” Aku ternyata lemah. aku ternyata egois. Aku lebih memilih untuk tidak merasakan sakit daripada harus terus bersama kamu. Maaf ndut, aku gak bisa. Aku…”

Belum selesai kalimatmu itu, aku menyerah. Aku meninggalkanmu di teras. Aku masuk ke dalam rumah, berlari menuju kamarku di lantai dua. Aku membanting pintu, memeluk si Oon, boneka bebek hadiah darimu. Aku menangis dan terus menangis.

Tidak pernah terbayang sebelumnya kalau malam ini akan tiba. Tiga tahun lebih kebersamaan kita, dan kamu memilih hari ulang tahunku untuk bilang putus Fi?

***

tenaaaang… tenaaang… ini bukan kisah nyata. ini cuman fiksi. seperti yang diketahui bersama. sejak resmi jadi mahasiswa pengangguran, saya gak bisa lagi mengkambinghitamkan kuliah atau tesis atau apapun untuk alasan saya males ngupdate blog. nah, untuk menumbuhkan rasa keinginan saya menulis, saya berusaha membuat fiksi. niatnya sih ngikutin yang dilakukan si Pethakilan di sini.

dia punya ide mbikin fiksi yang serial, tapi tidak bersambung dan tidak berurutan. kenapa? karena otak dia diagonal, dan saya ngikut aja. Hahahahaha.. Just for fun, kalau niat yah dilanjutin, kalau gak niat yah kudu memaksa diri buat dilanjutin. Karena percaya atau tidak, saya punya jutaan ide cerita, tapi tidak pernah berani membuatnya. mungkin, ini step kesekian saya untuk memulainya, lagi. Gak usah maksa buat suka, beneran. Karena kata Kant, selera tidak bisa diperdebatkan :mrgreen:

***

 

Postingan Serial Fiksi yang belum bernama ini disponsori oleh: Pethakilan yang memberikan ide, Raisa dan lagu terjebak nostalgianya, dan nostalgia saya atas hujan dan dia yang pernah memberikan saya ayam goreng enak di bulan November (yang diinget cuman ayam, harap maklum, pas nulis ini saya lagi laper berat).