kopdar yang (ceritanya) tertunda: part 2

Nah.. seperti janji saya kemarin (kemarin dan kemarinnya, hihihihihi..)… saya akan menceritakan sosok yang saya temui juga di hari minggu ceria itu. Namanya Ghariza, saya biasa memanggil dia Gher. dia ini di bawah saya satu tahun. Jadi sewaktu saya kelas dua SMA, dia jadi adek kelas saya. Sebenarnya yang teman seangkatan saya justru mbakyunya Gher. Tapi dengan proses yang simpel dan tiba – tiba aja gitu, saya dan Gher malah jadi akrab banget. Bahkan lebih sering saya curhat sama dia, sama kakaknya aja gak pernah cerita – cerita gitu. hihihihihi…

dari dulu, dari jaman SMA, Gher ini memang sudah terlihat dewasa. baik dari tingkah laku maupun dari pola pikir. kenapa saya berani bilang begitu? karena saya dulu lumayan sering curhat sama dia, dan dia memberikan advice yang bikin saya bilang; ‘iya juga ya’

dan pssst… jangan kasih tahu dia yah, saya pernah beberapa kali menulis nama dia di buku harian saya sebagai salah satu teman yang membangkitkan semangat saya, hihihihihihihi.

Jadi, minggu itu saya memang merencanakan juga bertemu dengan Gher. kangen mendengarkan dan didengarkan si Ibu dokter itu. Maka, saya mengirim message ke dia, mengajak bertemu. ternyata dia ada acara hingga sore. ah saya pikir waktu yang pas adalah setelah saya bertemu dengan Ne,  saya bisa bertemu dengan Gher. iya, tempatnya masih sama, di chocoklik juga (lama – lama minta dibayar nih sama chocoklik karena sering menyebutkan nama itu di sini).

dan mendekati Maghrib, Gher menepati janjinya untuk ‘nyamperin’ saya di chocoklik. dan karena obrolan saya dan Ne tak kunjung usai, jadilah saya mengenalkan Ne dengan Gher. dan memang Purwokerto itu kota kecil,  ternyata eh ternyata… Gher dan Ne ini memiliki beberapa teman yang saling mengenal. Teman sekantor Gher ternyata sahabatnya Ne. Dan ohiya lupa, setelah dirunut – runut juga ada beberapa orang kenalan saya yang dikenal oleh Ne juga. see?? kebayangkan kecilnya kota Purwokerto itu? Tapi itu membuktikan juga soal teori six degrees yang entah dari kapan itu pengen saya tulis di sini.

Nah, gak berapa Ne pulang. dan saya melanjutkan chitchat dengan Gher. seperti yang biasa saya lakukan saat bersama Gher: saya hampir dipastikan selalu bercerita soal kehidupan percintaan saya dan juga hal – hal penting dalam hidup. Entah kenapa, itu seperti menjadi kebiasaan yang sangat menyenangkan saat bersama Gher. Saya bercerita soal captain, soal friendship life saya yang pernah kisut, dan masih banyak lagi. Seperti sebuah jawaban untuk pertanyaan singkat: how’s life?

Ah Gher itu saya rasa cocok banget kuliah di Psikologi. bawaannya mau curhat kalok ketemu dia (bawaan saya doang kali yak?!?!?)

hahahahha… namun disamping itu, Gher juga bercerita soal pekerjaan, calon suami, keluarga dan beberapa hal lainnya.

so, kenapa saya bilang berkualitas hari minggu kemaren? Karena saya bertemu dengan dua wanita hebat yang mampu membuat saya tersenyum di akhir hari. mereka, tanpa melakukan apa – apa, mereka… hanya dengan menjadi teman mengobrol di sore hari dan di temani secangkir cokelat, mampu membawa pikiran saya berkelana liar (Jadi, kamu bengong dan melamun is waktu ngobrol sama mereka?!?! gàk… gak gituuu!!!)

dan itu membuat saya menyadari bahwa manusia pada hakikatnya adalah juga makhluk sosial. manusia butuh untuk didengar, dan butuh untuk mendengar. kita harus melakukan kedua hal tersebut (mendengar dan didengar) itu secara seimbang agar bisa tersenyum  di akhir hari. terkadang manusia hanya belum bisa mendengar dan di dengar dengan porsi yang pas. atau kita memang sudah mulai terbiasa untuk selalu minta didengar tanpa mau mendengar. Padahal telinga saja lebih banyak daripada mulut.

Anyway, akhir kata saya mengucapkan terimakasih kepada dua wanita yang menginspirasi tulisan ini, dan semoga ada waktu lain buat kita chitchat lagi yah. terimakasih Ne, terimakasih Gher.

 

terimakasih 🙂

Kopdar yang (ceritanya) tertunda

Hai kamuu… kamuu.. dan kamuuuu… yang sedang nungguin cewek manis ini posting :mrgreen: (hihihihihi….) Akhirnya saya datang membawa postingan istimewah!

Wait.. kenapa istimewah? karena, karena… minggu lalu saya Kopdar. setelah sekian lama gak kopdar – kopdar, setelah sekian lama tidak aktif di dunia perblog-an, setelah rasanya saya seperti drama queen yang mau pensiun (etdah…ada gitu?!?), akhirnya saya KOPDAR!!!

jeng jeng.. dan siapakah blogger beruntung yang bertemu dengan drama Queen yang mau pensiun ini? *heleh.. bahasanya! Sebelum bertemu dengan blogger tersebut, ada baiknya kita simak cerita berikut ini.

*Backsound: namaku cinta, ketika kita bersamaaaaa (Butiran Debu by Rumor à itu lagu lagi happening banget yah. di kuping saya. ) aku terjatuuuh dan tak bisa bangkiiit lagiiih!! *

Hari : Minggu Ceria.  Tanggal : 20 mei 2012.

Minggu siang itu, saya yang lagi jadi pengangguran di Purwokerto bergerak ceria ke rumah oom saya. Rumah oom saya dan rumah kostan saya itu jaraknya satu gang. saya di Blok G, oom saya di blok D. Tiap hari kerjaan saya bolak – balik aja dari blok G ke blok D ataupun sebaliknya. disamping saya jadi tukang ojeg buat anak – anaknya, saya juga jadi fans berat mereka yang hobinya ganggu kesenangan mereka. jadi kalok mereka lagi asik nonton, saya suruh mereka mandi. mereka lagi asik internetan, saya suruh mereka sholat. mereka masih terkantuk – kantuk baru bangun, saya suruh mereka cepet siap – siap buat berangkat sekolah.

Namun minggu itu berbeda. Karena hari minggu, saya agak siang nyamperin rumah oom saya. Nyampek di sana, mereka udah heboh menyambut saya (gak juga ding), karena saya janji ngajak mereka jalan – jalan. padahal aselinya cuman makan siomay di depan GOR, yang gak jauh dari perumahan kami. berbondong – bondonglah saya ajak mereka ke tukang siomay kuah di depan GOR.

Nah pulang dari situ, saya mendapatkan kabar dari seorang blogger yang bilang kalau dia sudah mau masuk Purwokerto. Saya memang janji sama blogger tersebut untuk menjemput dia dan kami bakalan nongkrong – nongkrong cantik di Chocoklik (iya, tempat itu lagi).

Setelah ketemu dengan dia di depan Andhang Pangrenan, kami meluncur ke chocoklik yang letaknya di sekitar jalan Merdeka (kalok salah maaf ya, sayakan orang Purwokerto bajakan KW5).

Sampai di sana, saya dan dia memilih kursi yang paling depan, di dekat pintu masuk, tujuannya apalagi selain buat saya mejeng! (huahahahahahaha… kagak ding, aselinya karena bangku PW yang kosong cuman tinggal di situ).

Lalu mengalirlah obrolan dari kami, dua wanita manis yang minum minuman manis. Saya tampilkan aja yah foto blogger manis nan cerdas ini,

yup! dia adalah Ne, blogger Banyumas yang  sering memiliki rangkaian kata puitis di blognya. Saya kenal Ne itu dari jaman dulu deh. dari jaman blog saya belon punya nama dramaLand. dan saya memang terkesima oleh rangkaian kata- kata puitisnya. Maksud saya, ahhh gimana yah… saya itu orang yang susah merangkai kata puitis yang elok dibaca, elok dipandang, eloklah pokonya!

Makanya, terkesimalah saya pas mampir di blognya Ne, waktu itu dia belum memajang fotonya. Ih misteriuslah dengan sendang jiwanya itu. baru keluar fotonya pas ada kuis kalok gak salah. Lupa kuis apa. kalok gak salah kuisnya komandan yang itu *nunjuk sambil malu – malu*

Nah… pas saya mulai kenal dan kopdar sama Nandini, ternyata eh ternyata mereka berdua teman akrab. Yah sama kek saya, teman ketemu di blog, bedanya cuman mereka berdua sering telpon – telponan, saya sama nandini lebih sering ketemunya daripada saling mengunjungi di blog. Hihihihihihi.

Minggu itu, saya banyak bercerita dengan Ne. Sampek heran juga saya, betah juga saya ngobrol lama dengan teman wanita tanpa ngegosip (nahloh). baik ngegosipin orang lain maupun ngegosipin diri sendiri alias curhat. Topik obrolan berpusat pada nyamannya kota Purwokerto dan seberapa banyak kota ini berubah, tempat mana – mana saja yang sudah tidak eksis. Jadi, Ne ini ternyata eh ternyata SMA nya gak jauh dari SMA saya (satu SMA sama kaka si mantan euy! Hahahahahaha.. info ga penting sumpah). Dan berhubung usia kami gak jauh berbeda, jadi kami mengalami ‘situasi’ Purwokerto yang sama, perubahan – perubahan Purwokerto yang berkembang pesat lima tahun terakhir.

Namanya juga wanita yah, ujung – ujungnya ngomongin anak, walopun bukan anak sendiri. begitu juga dengan kami kemarin. ahhh banyak sekali lah yang dibahas. dan as usual, setelah kopdar saya biasa mencocokkan imej si blogger yang di kepala dengan yang ada di realitas. dan Ne yang saya temui sedikit berbeda dengan yang ada di bayangan saya. bayangan saya Ne itu tipe serius yang mencintai sastra dan sedikit tertutup, ternyata gak loh. kami bisa ngobrolin soal kerjaan, pilihan hidup, nilai – nilai kehidupan (cieeeh..).

ah saya merasa berkualitas sekali minggu sore saya itu. Karena disamping bertemu dengan Ne, saya juga bertemu dengan salah seorang adek kelas saya sewaktu SMA. Mau tahu siapa dia? Tunggu episode selanjutnyah! karena saya akan menceritakan soal dia secara khusus.

so, terimakasih Ne untuk waktunya. maaf ya… kopdar karoke kita terpaksa ditunda. tapi next time kalok aku di Purwokerto lagi, kita karoke ya!

see u next post!

purwokerto : dulu dan sekarang

sudah beberapa hari terakhir (err.. owkey.. lebih dari seminggu terakhir) saya ada di Purwokerto. ada beberapa kisah yang pernah saya tulis di panggung ini, penasaran pengen tahu? silahkan cek di sini.

*itu gak wajib kok, cuman sekadar prolog ajah 🙂

dan semenjak kedatangan saya ke Purwokerto, ada buanyak hal yang berubah. mari kita bahas beberapa perubahan tersebut yah.

1. purwokerto dulu: jalan gatot soebroto (depan SMA saya) dulu itu jalannya satu arah. dari arah barat ke timur.

purwokerto sekarang: jalan itu menjadi dua arah. kenapa? jangan tanya saya. saya juga gak tahu.

2.  purwokerto dulu: jalanan depan GOR Satria Purwokerto sampai jalan Soeparno (depan biologi Unsoed) itu merupakan jalanan yang sepi, gelap di malam hari dan pemandangannya hanya sawah. suka dijadiin tempat mojok sama pasangan – pasangan yang gak mampu bayar hotel *Hlah?!?

purwokerto sekarang : jalanan depan GOR itu jadi area wisata kuliner, banyak banget tempat makan di sana. mulai dari Bebek Pak Slamet, Iga Bakar Mas giri, Ayam Penyet Suroboyo, Siomay Kuah, Blasta Casual Resto, ada banyak lagi deh….

3. Purwokerto dulu : kampusnya dikit. jelas, yang paling tersohor itu ada UNSOED, terus ada Unwiku dan setelah saya lulus SMA, baru itu heboh yang namanya UMP.

Purwokerto sekarang: ada beberapa kampus baru di kota ini. sebut aja BSI, LP3I (itu kampus kan yah?), Amikom. ditambah UNSOED yang mbukak beberapa program studi baru sepuluh tahun terakhir, dapat dipastikan jumlah mahasiswa di Purwokerto beragam sekali.

4. Purwokerto dulu: gak ada tempat nongkrong yang happening. dulu, kalau bubaran panitia – panitian acara sekolah, paling di Ayam Goreng Alfath, disusul kehadiran ABG (Ayam Baru Gedhe). mall? gak ada. kerjaannya kalau makan burger bukan di Mcd atau KFC. tapi di Aroma, di jalan Jendral Soedirman, tempat favorit saya.

Purwokerto sekarang: beeeuuughhh! ada kedai kopi, ada chocoklik yang jadi favorit temen – temen saya kalau nongkrong, ada… ada beberapa lah tempat nongkrong sekarang. belum lagi jumlah tempat karoke yang menjamur di kota ini. AGP (Anak Gaul Purwokerto) gak bakal haus hiburan kalau di sini.

reunion: high schools time at chocoklik

 

5. Purwokerto dulu: sepi. kalau jam delapan malam itu lewat depan perumahan saya di Dr. Soeparno, sepi banget.

Purwokerto sekarang: rame banget! rasanya jumlah kendaraan di Purwokerto nambah berapa kali lipat deh.

6. Purwokerto dulu : saya punya kenangan sendiri dengan suatu tempat di deket Unsoed, namanya ‘es jorok’. dulu si *ehem* mantan pernah ngajak saya ke sana. itu – menurut dia – tempat first date kami. tempatnya kecil, sumpek. tapi karena dulu makannya masih cengar – cengir sumringah mupeng, ya horeh horeh dan menyejukkan bangeeet. di dindingnya dulu aada coretan – coretan ABG yang mampir ke situ.

Purwokerto sekarang: tempat es joroknya udah pindah. iya masih rame, tapi sudah jauh lebih baik daripada tempat yang dulu. tapi isinya lebih dikit, dan tentu saja harganya juga sudah jauh berbeda!

penampilan es jorok, atau es campur tepatnya :mrgreen:

7. Purwokerto dulu: terminalnya kecil. dan rada – rada kumuh gitu. letaknya di deket Rajawali, satu – satunya bioskop di kota ini.

Purwokerto sekarang: terminalnya besar. sudah lebih bersih. dan letaknya di.. di… hadeh lupa nama daerahya. dan terminal lama sekarang dijadiin taman kota, namanya Andhang  Pangrenan yang asyiik banget buat duduk – duduk dan chitchat sama temen.

Andhang Pangrenan, should be: PURWOKERTO,

8. Purwokerto dulu: kalok lewat rumah berpagar ijo di jalan Piere Tendean, pasti mampir terus teriak – teriak: ‘Nduuuut!!!’

Purwokerto sekarang: pagernya udah jadi warna merah, udah gak pernah teriak – teriak lagi. kalok nengok sih masih. hahahahahahahaha…

***

ya itulah beberapa perubahan Purwokerto yang paling berasa bagi saya, disamping jalan – jalan yang bertambah lebar (beda yah boo sama jalan – jalan di Jakarta yang rasanya tambah sempit!). kalok hal yang sama sih ada beberapa, diantaranya: kost – kostan saya waktu SMA yang masih begitu – begitu aja bangunannya, jalan depan kostan yang masih kek begitu, tukang burger di Aroma yang masih banyak peminat dan masih banyak bawang bombaynya, warganya masih ngomong ngapak, radio tempat saya pernah siaran masih di Gandasuli, err… apalagi ya?!?

***

kawan – kawan sendiri pernah ke Purwokerto? Apa yang paling diingat dari kota ini?

berbicara mengenai kejujuran

baiklah, sebelum blog ini ‘dituduh’ jadi blog yang dianggurin, maka di hari rabu selo ini (emang kapan kamu gak selo Is?) saya akan mencoba menjabarkan apa yang ada di kepala saya.

beberapa hari belakangan ini, saya sedikit terganggu dengan pemikiran-pemikiran yang loncat dari kepala saya. tentang satu hal: jujur.

bukan jujur kacang ijo, atau jujur ayam. tapi ini jujur yang saya ambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia Online  (yang versi cetak kagak punya soalnya…. hehehehe) sebagai:

[a] (1) lurus hati; tidak berbohong (msl dng berkata apa adanya); (2) tidak curang (msl dl permainan, dng mengikuti aturan yg berlaku): mereka itulah orang-orang yg — dan disegani; (3) tulus; ikhlas

kenapa jujur itu bukan diartikan sebagai apa adanya yah?
baiklah, baiklah.. abaikan saja pernyataan saya itu. saya akan mencoba menjelaskan kenapa kata itu berlompatan dari pemikiran saya beberapa hari belakangan ini. ini erat kaitannya dengan pemikiran lainnya.
apa itu?
pemikiran dengan siapa saya bisa menjadi diri saya sendiri. dulu saya berpendapat seperti ini: dengan teman terbaik lah saya bisa menjadi diri saya sendiri. nyatanya, semakin ke sini, semakin bertambah umur, semakin sedikit teman, maka semakin sedikit juga dengan siapa saya bisa menjadi diri saya sendiri.
Lalu tiba – tiba muncul pemikiran seperti ini: memang diri kamu sendiri itu seperti apa?
bossy. ceriwis. tukang komplen. ga mau kalah. suka plinplan. gak suka sama orang lelet. gak suka sama orang plinplan (hah! eat thaaat!!!). senang bersosialisasi. senang bercerita. cinta damai. ga suka cari masalah.
ah.. kalau dilanjutin pasti makin kontradiktiflah diri saya ini. gak suka cari masalah, tapi gak mau kalah. gak suka orang plinplan, tapi diri sendiri plinplan. saya sebagaimana manusia lainnya menyadari bahwa kata sempurna jauhlah dari penggambaran diri. nah, di tengah ketidaksempurnaan ini, saya masih mencari seberapa banyak sih orang yang bisa menerima sifat dan sikap saya ini?
siapa kawan terdekat saya saat ini? bahkan blog ini pun sudah tidak lagi menjadi kawan terbaik seperti waktu pertama kali dibangun. terlalu …. terlalu apa yah… terlalu malas akhirnya saya membagi semuanya di sini.
si partner in crime apa kabar Is? Persahabatan kami di bangun di awal bukan dengan tipe ‘menceritakan segala sesuatu setiap saat’. persahabatan kami dibangun di atas simbiosis mutualisme yang kental. kami saling membutuhkan di awalnya. saya butuh kawan untuk mendengarkan cerita saya yang banyak, dia butuh kawan untuk nganter ke kampus. saya butuh kawan untuk memberitahu bahwa yang saya lakukan tidak salah, dia butuh kawan untuk mendengarkan otak kriminalnya (hahahahaha!). ya… kami sama-sama menyadari bahwa yang kami sama-sama membutuhkan. hingga saat ini, saat dia sudah tidak tinggal di Jogja dan dengan segala macam kesibukannya (cie… sibuk..), kami jadi jarang berkomunikasi. sehingga dia tidak mengetahui gelisah apa yang bergelayut di otak saya yang sering dibilang lemot ini sama dia.
sama ranger hitam yang digadang-gadang jadi partner saya di kampus? ah.. hubungan kami hanya sebatas sks *hlah?!?! hahahahaha. adalah beberapa sisi yang diketahui olehnya, namun saat ingin bercerita lebih banyak, saya takut mendapat pandangan celaan dari dia. saya merasa kok dia bukan tipe orang yang akan senyum – senyum yah kalau mendengar hal – hal yang berkeliaran di kepala saya? yang ada dia malah bilang; ‘apaan sih mbek??’
sama si captain? well… hubungan kami sudah berakhir setengah tahun yang lalu, walau masih berkomunikasi dengan baik, tapi tetap saja saya tidak bisa membagi diri saya sepenuhnya ke dia.
sama beruang kutub tetangga saya? walau kemarin dia saya curhati habis-habisan soal kegelisahan saya dua minggu terakhir, dan cuman dia yang menyadari kalau saya gelisah, tapi tetap saja dia bukan orang yang saya jadikan ‘tempat menjadi diri sendiri, apa adanya’.
sama mamah dan bapak? hahahahahaha… bisa abang ijo muka mereka kalau mendengar isi kepala saya (iyah, ada beberapa part tentang mereka).
sama si oom udin yang pernah saya gilai tulisannya? ya… walaupun kemaren juga habis curhat sama dia, tapi saya belum bisa saja menjadi apa adanya di depan dia. walaupun saya tahu, dia paling cuman bilang dodol atau apalah atas semua perkataan saya yang ga penting.
sama kawan saya yang seniman handal itu? err…  banyak hal yang tertinggal di antara kami yang harus diceritakan. dan butuh lebih dari sekedar hai untuk mengatasinya.
atau sama mamahnya Ardian? si sahabat sebangku saya sewaktu SMA? status kami berdua banyak banget bedanya. dia sudah menikah dengan satu anak berumur enam tahun, saya masih single belum menikah walau jatuh cinta sama anak kecil. dia PNS yang sudah bisa menyicil rumah, saya masih pengangguran yang luntang – luntung ditraktir melulu kalo ketemuan. dia sudah membangun hubungan yang manis dengan teman SMA kami lebih dari tujuh delapan tahun, saya masih mencari pangeran (atau kodok?) saya.
perbedaan – perbedaan itu memang tidak terlalu terasa saat kami mengobrol hahahahihihi selama enam jam atau bahkan tiga hari. tapi harus diakui bahwa pola pikir kami berbeda. apalagi selama bertahun tahun kami tidak berkomunikasi.
Lalu dengan siapa sebenarnya saya bisa jadi diri sendiri???? bisa menceritakan semua pemikiran saya, bisa bersikap apa adanya, bisa tanpa beban bersikap tanpa takut orang berpikiran macam – macam.
mungkin. mungkin tidak akan pernah ada. karena dalamnya laut bisa dikira, dalamnya hati siapa yang tahu? saya tidak pernah tahu apa yang ada di pikiran teman – teman saya setelah nama mereka saya tulis di sini. eh tapi emang mereka tahu kalo itu mereka?
hahahahha.. ini lagi nulis apa sih? kagak jelas amet yak…. tadinya ngomongin jujur, ujung2nya ngomongin temen, ujung2nya gak tahu dah apaan!
eh btw, actually sekarang saya gak pengangguran lagi loh. nih jadwal saya:
06.30 : nganter sasa dan yaya, ke jalan jensud dan yang stunya ke deket lapangan porka
10.30 : njemput nisa di bancarkembar
14.30 : njemput yaya dan nisa, satu di  Jatiwinangun dan satu di deket lapangan Porka.
late lunch with avis and Yaya

jadi saya gak pengangguran – pengangguran bangetlah yah :mrgreen:

***

so, the point is: sama siapa sih sebenarnya kamu bisa menjadi diri sendiri? atau malah gak tahu seperti apa diri kamu sendiri itu?

harlem beat

ini kamis perdana sodara-sodara. kamis perdana di bulan februari maksude. eh ini cuman perasaan saya aja, atau gemana yah… sebelum memutuskan menggunakan nama kamisManis buat postingan bertema saya, saya punya rasa sendiri sama hari kamis.

saya selalu merasa yang namanya kamis itu romantis. hari mana lagi coba yang bisa se rima dengan kata romantis selain hari kamis?

hahahhaha. ah sudahlah yah, gak usah diperdebatkan lah yah masalah manis-manisan ini. yang jelas saya masih manis-manis aja kok *hloh?!?

bulan Februari itu… identik sama bulan cinta yak? iya gak sih? ah buat saya mah tiap bulan bulan untuk jatuh cinta, menikmati rasa. tapi bulan februari memang spesial, karena ada dua orang yang ulang tahun di bulan ini. dua orang yang special. dulu.

:mrgreen:

baiklah… baiklah.. daripada obrolan ini kemana-mana dan sampai lewat nih hari kamis, bisa gagal kan kamis manis-nya.

***

Harlem Beat. ini judul komik. komik yang saya baca jaman SMA kalau gak salah. komik soal basket gitu. saya jarang beli komik. kenapa? Karena saya orangnya kikir; gak mau rugi. beli komik harganya lumayan. tapi habisnya cepet. kecuali untuk komik yang sukak banget, saya jarang banget beli komik.

paling detektif conan sama hai miiko.

nah…. khusus harlem beat ini saya bacanya gak minjem. gak minjem dari temen maksudnya, minjemnya dari taman bacaan. satu komik gopek (dulu loh… sekarang mah satu komik 1200 kalau gak salah).

terus kenapa komik itu saya tulis di sini? karena ada masanya saya tergila-gila banget sama komik ini.  apalagi sama tokoh Sawamura. beeeuuuhh sampek berkhayal saya kalau dia itu tokoh nyata yang bisa saya temuin di sekolah.

nah, gara-gara komik ini juga jaman SMA saya ngebet jadi anak basket. dengan tujuan bisa se keren Mizuki. dan sekalian kali aja ada yang bisa digebet, yang se ‘cool’ Sawamura. hahahahaha…

(yang pada kenyataannya adalah: saya sempet masuk jadi tim inti basket sebelum akhirnya dicoret dari tim. kemudian si senior cool yang bernama d*m*s ternyata temennya kakak saya yang gak mungkin banget digebet, gigit jari deh mewujudkan kehidupan komik di kehidupan nyata saya)

komik harlem beat ini edisinya sampek 29 kalau gak salah, dan ada satu part di seri 29 yang membekas banget buat saya, hingga saya menulisnya di buku harian saya

Suatu saat nanti… akan tiba waktunya, saat masa muda itu berlalu menjadi kenangan.

Namun… perasaan dan impian di masa muda itu tak kan hilang,

walaupun tertimbun di dalam kesibukan sehari-hari yang padat,

ia akan terus bersinar di suatu tempat yang istimewa di hati kita.

Jadi, janganlah kamu melupakannya. di dalam dirimu ada batu yang akan selalu bercahaya, dan kalau kamu merentangkan tangan, ia pasti akan selalu memberimu kekuatan.

di saat hari esok tidak terlihat, ia akan menjadi obor yang menunjukkan jalan.

 

***

cukup sekian kamis manis minggu ini. masih kurang manis? buka FB saya deh, pandangi foto saya di situ. hihihihihihi…

see u next post 🙂

Dear Me: A Letter To my 16 year old self

Tadi… pas buka WP, saya nemu postingan dengan judul yang menarik, mirip dengan judul yang saya buat  –> Dear Me: A Letter to my 16 Year Old Self 

di situ Traci bercerita kalau dia menemukan sebuah majalah yang didalamnya memuat sebuah publikasi buku yang berjudul : Dear Me: A Letter to my Sixteen Year Old Self’, edited by Joseph Galliano. Buku itu berisi 75 tulisan orang-orang terkenal (ada J.K Rowling, Hugh Jackman, Stephen King, dan masih banyak lagi..). mereka menulis surat untuk diri mereka sendiri di umur mereka yang jauh lebih muda. Dan si Traci yang postingannya saya baca, juga melakukan hal yang sama.

dan kalau kamu buka web buku tersebut, kamu bakal menemukan surat-surat dari pembaca untuk diri mereka sendiri di waktu muda.

di sini, saya juga akan melakukan hal yang sama. seru banget deh keknya, dan sepertinya akan jadi surat yang panjang. Hahahaha…

hey my 16 year old, this for u 🙂

Dear Aren,

yeah… aku tahu saat ini kamu lagi senang-senangnya menulis nama ‘Aren’ di penjuru kelas. hentikanlah Vandalisme seperti itu. Tidak baik bagi adek kelas kamu melihat seluruh penjuru kelas diisi dengan tulisan ‘Aren was here’ tanpa tahu siapa Aren itu. Makhluk apa Aren itu. Aren yang mereka tahu adalah gula jawa. Kamu akan menemukan suatu hari nanti bahwa ‘Aren was here’ sudah tidak keren sama sekali.

Cobalah fokus untuk belajar, dan berhentilah bermain setiap pulang sekolah, karena di akhir caturwulan kedua, wali kelas mu akan senang menyindirmu: si siswa aktif di organisasi tetapi peringkat dua terbawah. Well, ditambah: Mamahmu akan selalu mengingatkanmu bahwa kamu bukannya bodoh, hanya saja malas dan terlalu senang bermain – main.

Yeah.. nilai akuntansimu memang bagus, sangat bagus malahan untuk seseorang yang memiliki nilai matematika begitu rendah. Pertahankan itu. Karena, gedung kuliah Fakultas Ekonomi di kampus idamanmu lebih keren dibandingkan gedung kuliah fakultas lain yang kamu idamkan. Ttapi ingatlah bahwa nilai akuntansi saja tidak akan cukup untuk menembus Fakultas idaman di Universitas terkenal itu. Jangan terlalu sering bolos les (!!!).

Berhentilah untuk berusaha membuat Jurusan Bahasa diadakan, karena: itu tidak akan terjadi saat kamu menginjak kelas 3. Seberapa seringnya kamu bernyanyi di kelas mengenai mars Jurusan Bahasa itu.

Kamu bertemu dengan seorang sahabat yang hebat bernama Fajar. Dia memberikan begitu banyak pelajaran begitu banyak buat kamu (yeah..walaupun kamu harus mengerjakan ulangan Akuntansinya, tapi dia tetap sahabat yang baik kok!). Dan kamu akan bersahabat dengan dia bertahun-tahun kemudian, walaupun kamu akan mengalami begitu banyak masalah dengan dia. Yeaah.. bagian dia putus dari pacarnya yang akan menjadi sahabatmu kelak, itu akan membuat Fajar menjauh dari kamu, dan berusahalah lebih untuk memahaminya, karena sahabat seperti Fajar akan sulit kamu temukan, bahkan sepuluh tahun kemudian, kamu akan menemukan teman lain, tapi tidak ada yang seperti dia.

Oh iya, kamu akan terjun ke dunia yang kamu cintai: dunia radio. Kamu menjadi penyiar muda bersama beberapa kawan satu sekolah, dan nikmati saja itu. Kamu akan menaksir teman penyiar muda-mu, penyiar seniormu, atau bahkan kakak dari rekan penyiar mudamu (yess, mas satu itu memang tampan dan mempesona, tapi dia akan mmematahkan hatimu, tapi nikmati saja perasaan diinginkan oleh pria berseragam).

Gak usah repot memikirkan dengan sepenuh hati siapa yang akan jadi pacar kamu, karena: si wahyu teman penyiar muda-mu itu sepertinya homo, Vian senior mu itu akan hilang kontak dalam waktu setahun, dan Mas berseragam itu akan menikah dengan anak atasannya di kesatuan. Mereka akan mewarnai hari-harimu tentu saja, dan itu sangat menyenangkan. Tapi tidak usah dipikirkan sampai pusing, nikmati saja.

suatu hari, kamu akan bertemu dengan Gitaris tampan yang akan memberikan begitu banyak pelajaran juga dalam hidupmu, tapi ingat: Jangan lepaskan kesempatanmu di dunia penyiar karena dia, teruslah datang tiap malam minggu, dan senin sore ke radio. Bukankah kamu sangat menikmati dunia siaranmu? Toh kamu masih bisa pacaran di hari lain. Kamu masih bisa berjalan – jalan di minggu pagi (nikmati-lah minggu pagi di GOR!), kamu bahkan bisa menghabiskan waktu seharian di hari minggu bersama dia… walau hanya untuk baca komik bareng, nonton VCD, atau makan es duren di Purbalingga.

Tetaplah bekerjasama dengan tim majalah sekolah dan juga majalah dinding, kuatkan dan kumpulkan niat untuk membuat buku tahunan (dan oh yaaa… coba kamu ‘galak’ saat kawan-kawan mu meminjam buku tahunan SMP mu. karena sekarang aku mencarinya tidak ketemu!!).

Soal pria? ah jangan pusing… pria akan datang dan pergi dalam kehidupanmu. Bahkan pria yang sedang kamu taksir mati-matian sekarang akan menjadi kawan mengobrol yang menyenangkan, walaupun ia tidak menjadi kekasihmu. Ia hanya akan menjadi ‘kakak’ yang baik untukmu (dan semakin banyak ‘kakak’ dalam hidupmu ke depan nanti, percayalah…)

Kamu akan dicoret dari tim Basket memang, dan itu aku paham.. sangat menyedihkan. Tapi ingatlah kata-kata temanmu: ‘Ah.. mending kamu gak masuk, tim nya parah banget. dia (dia yang menggantikan tempatmu di tim inti) kemampuannya payah banget‘.

Yeah… kamu akan membenci banyak orang, termasuk dia yang merebut tempatmu di tim inti basket, dan beberapa temanmu di Pramuka, dan soal surat kaleng yang mengkritik kepemimpinanmu? jangan ambil pusing, pengirim surat itu bisa saja salah satu teman dekatmu, sesama ‘pejabat’ di Dewan Ambalan. Dia hanya tidak puas sama kinerjamu, don’t take that too personal. Dan soal kakak kelas yang sebel sama kamu? Gak usah diambil pusing… mereka juga akan berhenti sebel sama orang.

And just for your information, kamu tidak akan pernah berhenti dibenci orang. Because you’re just human beings. You also make mistakes like the others. You just have to try learn from your mistake. And sometimes people just hate you for no reason. They hate you for a simple reason: envy.

oh iya satu lagi: berhentilah untuk makan gula pasir! Jagalah kesehatan gigi kamu walaupun behel di gigimu sudah dilepas! Karena gigimu akan rusak kalau kamu tidak menjagany. oh iya satuuuu lagi: kamu mungkin akan membenci  orangtua mu karena tiap larangan yang mereka keluarkan membuatmu kesal, tapi sadarilah: itu semua BENAR BENAR untukmu, bukan untuk mereka. Mereka melakukan larangan- larangan itu, karena mereka sudah pernah ada di posisi mu: menjadi remaja 16 tahun. Dan, ketahuilah bahwa orangtua-mu sudah banyak melakukan begitu banyak kompromi kepadamu.

wow, aku menulis surat yang lumayan panjang buat kamu ternyata. Akan ada part dua sepertinya (hahahahaha..). Keep writing. tetap menulis di buku harianmu, karena aku membaca buku itu tiap hari. You’re my inspiration, Aren!

and always remember: that every person comes in your life for a reason, even they come up with dislikeness. Some people come into your life and quickly go, some stay for a while and leave a footprints in our heart, and we are never ever be the same.

Love u,

ais ariani (yes, there no more ‘aren’ here..)

eh ya ampuun.. ternyata seru juga loh nulis kek gini.  Pantesan di situs buku itu ada beberapa pembaca yang menulis di situ. kira-kira sapa yah yang mau ngado buku ini ke saya? :mrgreen:

If you could send a letter to yourself aged 16, what would you write in it?

***

P.S : ada yang nanya Aren itu apa? atau ada yang bisa memberikan jawabn?

november sekian tahun yang lalu

eh udah bulan november aja, eh udah bulan ke-11 ajah, eh udah musim hujan, eh masih jadi mahasiswa, eh masih lajang aja, eh masih berkutat di masalah cinta-cintaan (kek gak punya kehidupan aja Is. Hahahahahaha…)

Buat saya, bulan november menyimpan banyak cerita. dari bertahun-tahun lalu. sebut saja november 2000, sebelas tahun yang lalu. Masih segar dalam ingatan waktu menginjakkan kaki di Purwokerto, dan menjadi warga di kota satria itu.

Iya… November tahun 2000 merupakan titik dimana saya menjadi anak kost. awalnya waktu itu tinggal di kost-kostan yang dikelola olah oom saya, namun di tahun kedua, oom saya pindah rumah dan jadilah saya penghuni kost-kostan sama kek yang laen: makan sendiri, nyuci sendiri, tidur sendiri, ngomel sendiri, hehehehehe…

kalau ada yang tanya alasan saya pindah dari Jakarta ke Purwokerto, maka akan saya jawab begini:

“biar gak ikut tawuran, gak kena narkoba, dan gak hamil di luar nikah”

dan biasanya habis saya jawab gitu, yang bertanya akan bilang; ‘serius!?!’

mereka mengira saya bercanda. Padahal saya serius menjawab pertanyaan itu. Alasan saya pindah ke Purwokerto padahal orangtua gak tinggal di sana dan lagi usia saya waktu itu belon menginjak 16tahun adalah memang benar adanya begitu: biar saya gak terlibat kanakalan remaja Ibukota.

Perlu diketahui, saya sempat bersekolah selama 3bulan di SMA Negri di Ibukota (cara nulisnya Ibu Kota apa Ibukota sih?!!? jadi bingung dan males nyari yang bener. hehehehehhe…)

kita ganti aja jadi Jakarta. Jadi, selama tiga bulan saya sempat sekolah di SMA di daerah Jakarta Pusat. di daerah Rawasari tepatnya (ah cuman ada satu SMA Negri saya rasa disitu). nah pas SMA disitulah saya melihat realita kenakalan remaja. sebutlah saya norak. tapi saya baru tahu kalau ada anak sekolah bisa ngerokok di lorong sekolah. baru tahu ada anak sekolah bisa madol. tuh kan bener saya norak.

karena dari TK, SD sampai SMP saya bersekolah di sekolah swasta yang memiliki aturan cukup ketat, dari seragam hingga jam pelajaran. mungkin juga karena saya sekolahnya gak di sekolah unggulan yak pas SMA. hehehehe

tapi jujur, saya menikmati itu. menikmati ngobrol dan makan di kelas pas jam pelajaran, menikmati cabut pas upacara 17an, menikmati bergerombol dan santai-santai di kantin menjelang jam masuk, menikmati cabut ke UKS, ya some kind of that lah. walau cuman 3bulan, tapi saya lumayan menikmati dan sempet pulak dapet cinta lokasi di kelas.

november 2000, kepindahan saya ke Purwokerto mengikuti jejak kakak saya yang sudah lebih dulu pindah. Dan sampai saat ini saya tidak menemukan alasan yang lebih masuk akal dibandingkan jawaban saya itu atas kepindahan saya. Karena memang saya seperti hilang ingatan saat mau pindah dari Jakarta ke Purwokerto

dan, percayalah Purwokerto jauh lebih sepi sebelas tahun yang lalu dibandingkan sekarang. Bagaimana Anak Baru Gede yang pengennya jalan-jalan ke mall dan kongkow-kongkow bareng ama temen-temennya mau pindah ke kota kecil yang gak punya bioskop?

eh tapi bioskop bukan masalah buat saya, karena saya juga jarang nonton di bioskop. lebih nyaman nyewa VCD buat ditonton di rumah. bisa di skip, bisa di fwd kalau bosen.

di bulan-bulan pertama kepindahan saya, saya memang ngomel dan misuh-misuh menyatakan ketidaksetujuan saya, serta bersikap bermusuhan dengan siapa saja.BT berat. kemana-mana mesti dibonceng Kakak saya, atau gak naek becak. Belum lagi ada mata pelajaran muatan lokal yang isinya nari sama karawitan, belum lagi kawan-kawan sekelas yang terlihat menahan tawa setiap kali saya ngomong dengan logat Jakarta (mereka gak tahu kalau saya menjepit pipi saya dengan gigi; menahan tawa mendengar logat ngapak mereka! hahahahhaha…)

ah tapi benar kata orang tak kenal maka tak sayang. waktu jugalah yang mengenalkan saya pada Purwokerto dan cuaca ajaibnya, ramah penduduknya dan logat ngapak-ngapak yang lucu itu.dan waktu juga yang membuat saya jatuh cinta pada Purwokerto. kalau ibarat orang, Purwokerto adalah cinta pertama saya. karena bersama Purwokertolah saya membentuk diri saya, mencari jatidiri saya (dan mungkin sampai sekarang belum ketemu, hihihihihi…), dan di Purwokerto lah saya banyak belajar.

Bahkan, dulu saat pertama kali kuliah, ditanya asli mana, saya selalu menjawab; ‘Purwokerto’. cihuy kan? sampai akhirnya saya sadar; saya gak segitu ngapaknya buat dibilang orang Purwokerto 😦

dibalik sepi dan ajaib cuacanya, buat saya Purwokerto adalah kota yang akan selalu memiliki tempat di hati saya.

karena hanya di Purwokerto saya bisa ngomong ngapak tanpa diketawain. Hahahahahaha..

hidup ngapak!

so, itu cerita saya di bulan november sebelas tahun lalu, gimana dengan ceritamu? *iklan mode : on*

ulang Janji

SMA adalah masa jaya-jayanya sebagai seorang pemuda (cieee…). Masanya mencari jati diri (yang ternyata ampek setua ini belon ketemu), masanya jatuh cinta pertama kalinya, masanya belajar mengenai komunitas dengan segala konflik di dalamnya, masanya belajar bertanggungjawab pada pilihan-pilihan.

Heleh ngemeng apa coba si ais.

Pengantar ceritanya aneh banget deh. Padahal hari ini saya mau cerita soal hari Pramuka. Yup, tepat hari ini, tanggal 14 Agustus diperingati sebagai hari Pramuka. Saya tidak akan pernah melupakan itu, sama seperti saya tidak melupakan tanggal 17 Agustus sebagai hari kelahiran saya hari kemerdekaan RI maksudnya 😉

Terus hubungannya masa SMA sama tanggal 14 Agustus sebagai hari pramuka apaan Is? Karena, pertama kali tahu hari pramuka itu jatuh pada tanggal 14 Agustus, pas saya SMA. Harap maklum, di Ibu Kota keknya sepahaman saya ekskul Pramuka tidak membahana seperti di daerah. Di Purwokertolah saya belajar mengenal Pramuka. Awalnya sempet gondok waktu tahu ekskul Pramuka wajib buat siswa kelas satu. Gondoknya karena: what? Pramuka? Terakhir kali ‘pramuka’an itu waktu SD, masih Siaga, masih belajarnya Dwi Dharma, masih belajar simpul-simpulan yang gampang-gampang itu. Eh ini kok pas SMA suruh ngapalinnya Dasa Dharma, terus tali temalinya emang udah gak ada yang ada belajar masang dragbar (ini nulisnya pegimane sih?), terus rasanya semua orang sekitar saya pada bisa sandi Morse, sandi rumput dan atau Semaphore!

Owemji… Pramuka adalah horor bagi saya. Gak seperti kebanyakan anak-anak kelas satu laennya yang males berangkat latihan pramuka, saya tidak malas, saya hanya takut. Takut karena saya gak hafal Dasa Dharma, takut karena saya gak bisa bahasa jawa, takut karena saya gak bisa semaphore, pokoknya ketakutan-ketakutan atas ketidakmampuan saya sebagai seorang Pramuka.

Tappppi… bagian yang paling konyol dari keaktifan saya di Pramuka pas SMA adalah: si anak baru yang tidak bisa apa-apa, yang ngapalin Dasa Dharma pas Kemah Bakti Bina Laksana (ini bener bukan kepanjangan dari KBBL?), yang ujian SKU (Syarak Kecakapan Umum, isn’t it?) untuk Penegak Bantara-nya bisa dirapel dalam waktu singkat, yang  ngeloncatin dragbar ini terpilih sebagai Pradana. Kamu gak tahu Pradana? Coba cek di sini buat mengetahui struktur kepengurusan Dewan Ambalan.

Konyol menurut saya adalah karena itu  pertama kalinya sifat sok ngatur dan sok tahu saya diakui dalam struktur (Hahahahahahaha….).

Sepanjang karir saya sebagai Pradana *tsaah saya mengalami banyak peristiwa yang membuat saya belajar bahwa: tidak selamanya kawan yang mendukung secara politik  atas kepemimpinan kamu mendukung setiap keputusan kamu. Dan mereka bisa jadi merupakan kritikus handal dalam setiap langkah kepemimpinan kamu. Politik itu hebat loh, bisa menjadikan kamu musuh publik sekaligus dicintai oleh publik. Jadi, buat adek-adek yang pengen belajar politik praktis, masuklah organisasi. Gak usah Pramuka kalau kamu bersin-bersin pas pake baju cokelat itu. Kamu bisa ikut Pencinta Alam, PMR, atau Paskibra atau OSIS.

FYI aja nih… Pramuka menurut saya mencakup semua ekskul. Kamu bisa jadi anak pencinta alam di Pramuka (saya nyicip rapling juga di Pramuka), kamu bisa jadi anak PMR di Pramuka (hei,kan udah dibilang: belajar bikin dragbar), terus kamu bisa belajar baris bebaris juga di pramuka, dan yang pasti: kamu bisa belajar mengenai Organisasi di Pramuka.

dan, kamu bisa belajar mengenai cinta di Pramuka. Huahahahhahaha…..

***

Salah satu prosesi yang tidak dilupakan saat memperingati hari Pramuka pas SMA adalah: Ulang Janji. Ulang janji biasanya dilakukan di malam 14 Agustus, biasanya tanggal 13 malem. Ulang janji pertama saya itu tanggal 13 Agustus 2001, saat itu saya sudah dilantik menjadi Penegak Bantara, tapi belum menjadi Dewan Ambalan. Kami berbaris memutari semacam api unggun lalu ada sepuluh petugas yang membawa obor dan mengucap Dasa Dharma Pramuka:

  1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
  3. Patriot yang sopan dan ksatria
  4. Patuh dan suka bermusyawarah
  5. Rela menolong dan tabah
  6. Rajin, trampil dan gembira
  7. Hemat cermat dan bersahaja
  8. Disiplin, berani dan setia
  9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
  10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan

Dan entah kenapa, setelah itu saat berkumandang lagu Syukur saya merinding. Haru. Saya mencintai masa-masa keaktifan saya di Dewan Ambalan Pandawa Srikandi tempat saya bernaung dulu. Itu adalah masa-masa penuh kenangan, penuh pengalaman, penuh pembelajaran dari masa SMA saya.

Walaupun sangat sedikit kawan-kawan saya sekarang yang percaya kalau saya ini Pradana Dewan Ambalan (jangankan mereka, hlahwong saya ajah juga kadang gak percaya…).

Selamat Hari Pramuka wahai Pramuka Indonesia

🙂

Salam Pramuka!!

 

***

Postingan kali ini didukung oleh kenangan tahun-tahun saya di Dewan Ambalan Pandawa dan Srikandi GuDep 02.456-02.457 (yang kalau ditulis di sini bakalan jadi ber part-part), dukungan dari Wikipedia untuk Dasa Dharma Pramuka-nya (it’s been 10 years! udah lupa banyak saya. Hahahhahaha).

PS: Foto yang saya punya cuman ini, maklum jaman saya SMA belon ada teknologi kamera digital, dan saya terlalu malu buat ‘nyuri’ foto di sanggar, dan ini juga hasil tag-tag an di FB. Hehhehehehe…Gak akan ketebak juga saya yang mana. Hlahwong burem ngono kuwi og

purwokerto kota satria

setelag berkenalan di ibu kota dan sempat nyangkut di pesisir utara, sekarang saya terdampar di purwokerto. Tau purwokerto gak? Itu loh yang masuk kabupaten Banyumas, yang punya kampus negri berjudul UNSOED (Universitas Soedulur-sedulur katanya), yang… pernah memiliki ikon kota makhluk bernama Mayangsari (serius loh, rumah dia tuh pernah happening banget pada masa itu. suatu ke ajaiban yg menjengkelkan,)

Purwokerto itu tempat dimana saya (merasa) tumbuh dan berkembang. banyak banget pengalaman2 pertama saya di kota ini. Pertama ngerasain maen gamelan, pertama ngerasain ikut pelajaran menari (serius, itu dua pelajaran ada di kurikulum SMA saya),

pertama kali ikut baris di alun2, pertama kali ikut pramuka (gini2 saya penegak bantara loh! Pradana Ambalan Skrikandi lagi.. hi3.. jadi kangen sama temen2 saya di Ambalan Pandawa Srikandi), pertama kali jajan di kantin yang boleh ngutaang (hehehehe..)

pertama kali belajar naek motor, pertama kali belajar kemah di hutan, pertama kali belajar kenal dunia radio, pertama kali belajar basket, pertama kali jatuh cinta (ahahahahahaha, cinta monyet),

pertama kali belajar rapling, pertama kali belajar nyetir mobil, pertama kali ke luar kota bareng temen2 (dan kena razia polisi pamong praja, dikira kita bolos), pertama kali menyadari bahwa saya punya bakat terpendam sebagai tukang tebar pesona (itu kata Fajar, sahabat saya yang pernah nemenin saya jalan ke kantin, tapi ngambek ke kantin sendirian pada akhirnya, karena gak tahan nungguin saya yang kalau tiap lewat kelas manapun, pasti berhenti buat nyapa -dgn senyum TP andalan kata fajar-siapapun yang ada di kelas tersebut)

pertama kali belajar jadi anak kost, anak rantau, yang kaya raya di tanggal2 tertentu saja dan miskin terus di sisa2 tanggal lainnya,

pertama kali juga belajar berantem sama mamah (ahahahahahaha..), pertama kali … apalagi yah?

hmph yang gak bakal saya lupa sih, pertama kali di bangunin pake sodokan sapu sama ade saya dari luar jendela kamar, saat ade saya itu pulang malem, dan pintu udah dikunci in

DSC05917

iyah..bener. dari luar jendela ini, adek saya nyodok2 muka saya yang lagi tidur pake ujung sapu, supaya bangun dan bisa bukain pintu bwt dia. dan tebak.. itu jam berapa? jam 12 malem, dan ade saya baru kelas 3SMP. adek saya emang hebaat.. hi3….