bercerita tentang flores

Awal tahun ini, keluarga kami mendapatkan satu berita yang menyenangkan. menyenangkan? yah menyenangkan harusnya. karena Bapak saya pindah tugas ke Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur; tanah kelahirannya.

He just coming home.

Lalu mulailah rencana-rencana dibuat. termasuk saya, sibuk membuat jadwal. maklum, setahun jadi buruh saya belum pernah mengambil cuti. berbeda dengan saat kuliah kan yah… kita punya libur-libur tertentu yang bisa kita manfaatkan (contoh: saat mengerjakan tugas akhir. hahahahaha… everyday is a holidat with a deadline!).

Dan bulan April ini dipilihlah sebagai bulan perubahan bagi keluarga kami; semua koper dikeluarkan (termasuk koper-koper vintage punya mamak saya yang kece-kece itu…..), rumah diobrak-abrik dan dipilih barang apa yang akan dibawa dan barang mana yang akan ditinggal.

Abah – Mamak – Agil berangkat dari akhir bulan Maret. Keluarga kakak saya berangkat terpisah, dan saya serta sepupu saya merencanakan perjalanan dengan rute: jakarta – kupang – ende – labuan bajo – bali – jakarta.

Alasan untuk mampir – mampir bukan semata karena pengen liburan (ACTUALLY ITU YANG UTAMA) tapi juga karena belum ada pesawat langsung dari Jakarta – Ende. Ende itu di mana sih Is letaknya? Di pulau flores.

Jelasnya sih bisa Bukaklah atlas. Bukaklah peta Indonesia tuh. Dan kalau pernah nyimak pelajaran sejarah jaman esde, pernahlah disebut kalok Bung Karno; salah satu proklamator negara ini pernah dibuang ke Kota Ende.

Jum’at 4 april 2014

Nah tanggal 4 April dini hari sekitar pukul 02.30 saya naik pesawat menuju Kupang dari Bandara SoeTa. Naiknya batik air, harga tiketnya sekitar 1jutaan. okeh Fain, ngaku deh karena kemaren saya kebanyakan diskusi sama travelmate saya yang kebetulan sepupu saya, saya dapet tiket seharga 1.106.00/orang untuk Jakarta – Kupang.

Sampai di Kupang pukul 06.30 waktu setempat. Kupang ini Ibukota Provinsi ya. Nah saya di kupang hanya stay beberapa jam aja karena udah dapet tiket pesawat Kupang – Ende naik transnusa jam 12.10 dengan harga tiket sekitar 500ribuan/orang.

Bandara Ende
Bandara Ende

Sampai di Kota Ende sekitar jam 13.00 waktu setempat, saya langsung dijemput untuk kemudian mejeng di pantai dan nunggu perahu kecil yang ngebawa saya dan sepupu saya nyusul keluarga besar yang sudah berkumpul di Pulo Ende yang jaraknya kurang lebih 2jam perjalanan menggunakan perahu motor.

Selama perjalanan itu, saya dan sepupu saya terkagum-kagum sama pemandangan sekitar. terakhir saya ke situ sekitar tahun 2005 dan keadaan sekitar belum banyak berubah;

Sesampainya di Pulo Ende,  saya dan sepupu saya disambut sama keluarga besar kami. kami menyempatkan diri keliling – keliling ke rumah sodara – sodara sebelum akhirnya menetap di salah satu rumah penduduk yang konon katanya masih sodara jauh kami. Malam itu dihabiskan dengan kumpul keluarga dan bercerita mengenai perjalanan kami, mengenai keluarga, mengenai kesibukan saya di Ibu Kota.

Di kampung bapak saya di Pulo Ende ini tepatnya di desa Kemo fyi aja nih, belum ada listrik selama 24 jam. Jadi listrik baru ada jam 6malam sampai jam 6 pagi. untuk air tawar pun masih langka. mangkanya, kalok disuguhin teh manis saya seringnya cengengesan sendiri. soalnya tehnya ada asin asinnya gitu.

 

Sabtu, 5 April 2014

saya, oom saya dan tante saya.
saya, oom saya dan tante saya.

Besokan paginya, setelah beres sarapan, saya keliling Pulo. nah itu tuh poto di atas saya lagi pose di jalan masuk ke Dusunnya tempat bapak saya lahir. Saya lagi cari aer buat mandi yang gak terlalu asin (hahahaha, becanda ding, aselinya saya lagi  nyariin emak saya yang pagi – pagi udah ngilang entah ke mana). Tapi Alhamdulillah yah waktu terakhir ke tempat ini tahun 2005 belum ada sinyal, sekarang sinyal telkomsel (hanya operator ini yang berjaya di sini) udah mulai kenceng bahkan bisa dipakek buat internetan loh.

Lepas jam 10, rombongan keluarga saya siap – siap untuk kembali ke kota Ende. naik perahu lagi tuh kan yah. Bedanya perahu kali ini udah diblok buat rombongan keluarga besar saya. kurang lebih kaya beginilah suasana di perahu motor yang dimaksud;

perahu Al Amin dari Pulo ende menuju Ende

Nah begitulah kurang lebih suasananya. Sampai di Kota Ende, kami beristirahat sejenak di penginapan. saya sekamar sama keluarga kakak saya, kami hari itu memfokuskan diri beristirahat, karena esokan paginya kami punya agenda seru untuk jalan – jalan. Dan juga karena dari sore hari saya kena demam. Kayanya saya masuk angin karena begadang di malam sebelumnya pas perjalanan Jakarta – Kupang dan kena angin laut melebihi batas tubuh saya mampu menerimanya (ahseeek).

Minggu, 6 April 2014

Alhamdulillah, paginya badan saya udah bisa diajak kompromi. Demam saya udah turun, dan juga kondisi udah lumayan fit. Akhirnya piknik yang sudah direncanakan semalem bisa terwujud deh. Saya, sepupu saya, keluarga kakak saya dan beberapa Anggota keluarga lainnya memutuskan untuk piknik ke Danau Kelimutu.

Familiar gak sih sama danau itu? Ituloh danau yang ada di duit 5000-an jaman kita esde, danau yang bisa berubah-rubah warnanya. Saya ke Danau yang letaknya di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu  ini pagi jam 7an. dan itu salah banget. karena kalau mau dapet view bagus, mendingan dateng nyampek sana sebelum matahari terbit, karena sunrise nya bagus dan kabut belum turun.

Danau ini berada di ketinggian 1631 meter di atas permukaan laut, dan terdapat 3 danau di satu kawasan dengan satu danau yang agak terpisah, dan harus ditempuh dengan tangga yang banyak bangeeeet. ada istilahya tangganya dinamai 1000 anak tangga.

Serukah perjalanan ke sini? Seru! Karena kita tracking kan tuh diantara hutan gitu. Dan udaranya seger banget 🙂

ais ariani at kawasan danau kelimutu

Danau nya mana Is? silahkan cek akun fesbuk atau akun instagram saya ya di @aisariani, kalok saya uplod banyak foto nanti kasian yang  buka blog saya; lemot banget. hahahahaha. dan untuk yang mau nyimak legenda soal danau kelimutu ini, silahkan buka ini untuk lebih jelasnya, karena sama seperti tangkuban perahu dan batu malinkundang, danau kelimutu pun memiliki legendanya sendiri yang menjelaskan bagaimana terbentuknya tiga danau tersebut (sekali lagi: menurut legenda).

Senin, 7 April 2014

Hari ini kami free dari kegiatan bersenang – senang, karena hari ini adalah inti dari perjalanan kami sekeluarga. Kami ada acara keluarga besar. jadi gak ada yang bisa dikunjungi,

so langsung ke hari berikutnya yah….

Selasa, 8 April 2014.

Hari ini kami punya agenda; berkunjung ke rumah pembuangan Bung Karno waktu dibuang di Ende, cari dan beli oleh-oleh, sama makan bareng sekeluarga inti. Maklum aja, dari kita nyampek di Ende kami sekeluarga inti susah sekali kumpul. Saya, agil, kakak, mbakyu ipar, si kecil Zee, emak saya. Kalau Bapak saya sih lagi sibuk sama tugas barunya yah.

Hari itu dimulai dengan makan bareng di restoran padang (orang padang jauh sekali yah merantaunya itu, walaupun yang jual TERNYATA orang jawa! Hahahahaha).  Kemudian lanjut ke art shop sehati di deket bandara, saya belanja – belanja deh tuh beli syall, beli tas etnik gitu. Saya ngabisin duit di art shop ini sampek 500.000,- yang sebagian besar saya beliin tas-tas lucu buat saya sendiri (hahahahaha).

Dari situ kami ke Fanny art shop, (masih) nyari oleh – oleh. Hahahahaha. Nyari oleh-olehnya seru loh. beli kain – kain tenun ikat gitu … bagus – bagus. saya sih gak beli untuk kain-kain yang lucu itu. cukup ngeliat aja… secara larange.

ini salah satu contoh kain dari kampung Bapak saya
ini salah satu contoh kain dari kampung Bapak saya

nah … setelah puas belanja – belanji yah, kami ke rumah pembuangan BUng Karno di Jalan Perwira. Tahun 2005 kami pernah ke situ dan pas kemaren itu ke sana lagi, tempatnya sudah berubah. Jadi bagus loh. Bagus banget 🙂

rumah pembuangan Bung Karno di Ende

Rabu, 9 April 2014

Well… hari ini adalah hari terakhir kami di Kota Ende. Karena sesuai dengan rencana kami akan melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo dengan pesawat jam 13.10

Paginy, saya sempet tuh maen ke Taman Renungan Bung Karno di pusat kota, di deket nol kilometernya KOta Ende. Tamannya bagus loh … walaupun masih belum selesai pembangunannya, tetapi udah keliatan gitu bentuknya ke depan bakal bagus.ada pohon – pohon rindangnya yang bikin teduh, secara udara di Flores gituyah panasnya membahana sekali.

patung Bung Karno di Taman Renungan Bung Karno
patung Bung Karno di Taman Renungan Bung Karno

Konon katanya, di taman inilah Bung Karno merenungkan mengenai pancasila. patung ini dibikin menghadap ke laut dan membelakangi suasana kota-nya.

***

Fufufufufufu…. selesai juga part 1 dari tulisan trip yang suah saya rencanakan untuk menulis dari 2minggu lalu.

untuk part lebih serunya, ditunggu yah…. saya akan update lagi deh. karena kalau dibikin dalam satu postingan nanti pada bosen yang baca #alasan :mrgreen:

hahahahaha….

***

so pertanyaannya: kalian sudah pernah ke Ende belum?

lagi – lagi soal buku

Selama di Purwokerto, saya memiliki tugas untuk menemani Tante saya, yang merupakan istri dari adeknya Bapak saya (benerkan Tante?). Hal ini dikarenakan Oom saya sedang tugas ke luar, jadi saya diharapkan bisa menggantikan salah satu tugas Oom (baca: nganter jemput Anak) selama si Oom gak ada.

Sebenarnya ini tugas favorit buat saya. Saya bisa banyak banget belajar karakter anak dari berbagai usia. FYI nih, anak Tane dan Oom saya ini empat orang. Satu kelas 3 SMP, nomor dua kelas 1 SMP, nomor tiga kelas 5 SD dan yang kecil kelas 1 SD.

saya biasa memanggil mereka dengan sebutan cindil. entah kata darimana itu.

nah malam ini, saya seperti biasa, datang ke rumah Tante di jam makan malam. menghemat duit yang sudah tidak dihemat itu memang jobdesc-nya jobseeker kek saya. jadi apa aja yang gak mengeluarkan duit dan mendatangkan manfaat saya lakoni (hahahahaha…)

Si cindil satu yang kelas 3 SMP dan beranjak ABG ini memiliki hobi baca kek saya. Dan saya pernah menganjurkan buku-buku yang menurut saya bakal dia suka. Yah kek 5cm-nya Donny Dhirgantoro (walopun dia ngaku ada beberapa part yang dia gak paham. yaiyalah ya.. menurut ngana?), atau serial Girl Talk yang saya baca waktu seumur dia.
Saya sih ngerasa buku itu cocok buat si Cindil satu. secara umur dan juga budaya serta nilai yang diajarkan di keluarga Tante saya.

Nah, malam ini saya datang nih (cerita kok mubeng maring ndi baen Is…) ngeliat ada novel teenlit dengan judul ‘The Uncensored Confession karya Nina Malkin. Ngeliat dari judulnya saya tahu itu novel terjemahan. saya ambil buku itu.

Terus Tante ngomong pas ngeliat saya megang buku itu:

“Ya ampun Mbak itu novel kok isinya begitu yah? Isinya ada seks bebas gitu. padahal diceritakan di situ kalau itu tokohnya umurnya 15 tahun. mau melepas keperawanan gitu.”

Saya buka bukunya. Terpampang di halaman muka ‘teenlit’. Jelaslah si Cindil satu memilih buku ini dari rak buku Toko buku, karena tulisannya Teenlit.

Tapi yah kalau isinya seperti yang disebutkan oleh Ibunya, kok bisa yah?

Saya gak kaget sih kalau novel terjemahan bisa memuat hal-hal yang seperti disebutkan seperti itu di atas. Karena memang budaya kita berbeda. Tapi apakah Cindil satu yang beranjak ABG itu sudah cukup dewasa untuk melihat budaya yang berbeda itu?

Saya akhirnya bilang sama Cindil satu buat pinter-pinter milih bacaan, bacalah karya-karya seperti Lima Sekawan, Mallory Towers, yang setahu saya sedang dicetak ulang. Tapi itukan yang terlihat yah? Bagaimana jika cindil satu membaca buku-buku teenlit yang isinya yang seperti  itu di tempat lain?

Sebenarnya label ‘teenlit’ itu melalui Quality Control gak sih? siapa yang menempatkan itu?

Saya belum baca bukunya sih. Makanya cuman nanya aja

:mrgreen:

see you next post!

*postingan ii dibuat diantara teriakan Cindil empat, huru hara cindil dua dan tiga yang mau mbantuin tugas nggambar kakaknya dan gempuran #nomention dari web sebelah. hahahahaha…selesaaaih!

Belajar bersama si forza

Haiii! Happy Saturday!

di hari sabtu ini saya mau ngebahas soal belajar nyetir. beberapa tahun yang lalu, pas saya SMA, mamah ngotot nyuruh saya belajar nyetir. saya males banget yah. secara dulu gak ada mobil juga buat belajar. dan saya dibilangin sama temen saya: “elo kagak usah belajar nyetir. kan punya sodara laki tuh. kalok elo udah belajar nyetir, nanti elo disuruh-suruh melulu loh!”

tapi mamah saya juara banget nyuruhnya. juara banget juga ngototnya. akhirnya ogah-ogahan saya daftar les nyetir. nah udah daftar nyetir gitu saya ogah-ogahan pula berangkat. habis pelatihnya galak. hahahahaha. itu waktu saya kelas satu kalok gak salah.

jauh sebelum itu saya belajar motor sama pacarnya si kakak (Sekarang jadi mantan). dan itu kocak banget…secara saya ini kan tingginya agak di atas rata-rata yah buat ukuran seorang wanita, si pacarnya kakak ini badannya mungil gitu. kebayangkan repotnya dia mesti ngajarin raksasa kek saya ini.

nah balik lagi ke nyetir mobil. waktu berlalu..saya sudah melupakan dasar-dasar saya belajar nyetir mobil. hingga mamah pensiun, mamah membeli mobil Forza kecil buat kakak saya. tapi si kakak ini jarang make’nya. sering dia tinggal di purwokerto itu mobil, sedangkan dia kuliah di Semarang.

Jadilah itu mobil sering nganggurnya, saya yang waktu itu ngerasa gak butuh dan gak bisa yah males aja kali naek-naek. Tapi adalah beberapa kali itu mobil dipake sama *uhuk* saya dan gebetan saya *uhuk* hahahahaha. tapi kita rame-rame kok perginya (yah soo??).

Namun cerita paling seru dari mobil itu saat saya berkenalan dengan C3. karena itu mobil beberapa kali kami pake buat ‘dolan’ dan saya memperlancar nyetir saya juga naek Forza itu akhirnya dengan C3 sebagai tentornya. diantara anggota C3 waktu itu yang bsia lancar nyetir si Budi. Si ferri sebenernya bisa, cuman karena gak pernah dipake, dia juga kagok-kagok gitu. Yang paling parah yah si Sendy itu. dia pernah naek ke pembatas di putaran deket terminal lama Purwokerto pas lagi nyetir. setelah itu Budi kapok dan gak pernah ngijinin Sendy bawa mobil,

Saya? Mobil yang saya bawa pernah mati di lampu merah. saya histeris. pindah ke belakang hingga setir diambil alih si Ferri. hahahahha…

Mobil Forza itu sekarang sudah berpindah tangan alias dijual buat modal kakak saya merantau ke Sumatera. Tapi kenangan diantaranya masih ada banget. Secara waktu itu kendaraan Forza itu juga yang tahu kisah cinta saya dengan si mantan *uhuk* Mobil itu juga yang sering dibilangin sauna berjalan sama si Sendy. Mobil itu juga yang pernah memaksa saya dan sepupu saya berhenti di tengah hujan badai karena AC gak nyala, wiper juga rusak. dan walhasil saya foto-foto. Fotonya entah pada di mana, yang kesisa di laptop cuman ini:

Mobil itu juga yang jadi media si Agil, adek saya belajar nyetir. Dulu si agil yang SMP saya kerjain, suruh nyetirin saya dan si dia yang lagi pacaran. herannya kok ya agil mau aja loh waktu itu. Mobil itu juga pernah jadi mobil antar jemput agil dari SMP nya dan pulangnya kita pernah ngejar-ngejar gebetannya AGil hanya untuk tahu di mana rumahnya. Hahahahaha…

Pernah loh itu mobil ketubruk gerobak sampahnya tukang sampah dan pintu supir gak bisa dibuka. ngamuknya kakak saya, sampek nyumpah-nyumpah. untunglah si mantan wkatu itu punya kenalan bengkel yang bisa ketok magic dengan harga bersahabat. Ulah terakhir saya sama forza itu adalah saya ngilangin bemper depan si Forza setelah menabrak tong sampah (ini kenapa berhubungan dengan sampah melulu yah?). Hahahaha…

ini ceritain belajar nyetir apa nostalgia sama si Forza sih? Dua-duanya lah yah. soalnya saya kepikiran nulis postingan ini setelah beberapa minggu yang lalu saya dolan sama si Sendy dan Budi, pas lagi jalan gitu kok saya inget kami pernah bareng-bareng kek begitu (hanya saja saat itu minus Ferri) beberapa tahun yang lalu (10 tahun, maybe?) hahaha hihihihi dan seru-seruan bareng. Sayang kamera digital dan handphone berkamera belum eksis diantara kami waktu itu. kalau sudah kan bisa buat jadi pembanding foto ini:

di pojok sebelah sana itu si Budi, guru nyetir saya 😀

***
terimakasih Sendy dan Budi buat ide postingannya. Pssst…dua mingu yang lalu pas ada kesempatan pergi sama Budi, saya juga nyerahin setir saya ke dia gara-gara saya panik gak bisa parkir di basement. hahahahahaha. Hidup Budi!

***
Bagaimana dengan kawan-kawan? Pertama kali belajar naek motor, mobil atau sepeda sama sapa?

potong bebek angsang, angkot meywah dan majalah bekas

pfiuuuuh… sudah lama sekali ternyata si ais ini gak ngupdate blog *bersihin sarang laba-laba* . padahal katanya udah nganggur, padahal katanya mau nulisfiksi, padahal katanya punya program hari kamis manis, padahal katanya…

padahal katanya….

ah banyak sekali padahal katanya. gak ada sih yang disalahin.. emang dasarnya si ais nya  aja gak bisa konsisten. mari kita bercerita sajalah yah… daripada terus-terusan ngarang alasan 😛

sudah seminggu ini saya ada di rumah orangtua saya, di Jakarta. Hari-hari saya di rumah orangtua biasanya garing bin garing. Maksudnya, kerjaan saya gak jauh beda kalok lagi di kontrakan saya di Jogja: tidur, makan, tidur, makan aja… paling ketambahan nyuci sama disuruh-suruh sama mamah.

nah..tapi laen ceritanya kalok ada ponakan saya, si Zi yang cerdas nian itu. Si Zi ini ceritanya lagi liburan di rumah Uti-nya, berbarengan dengan saya yang juga lagi liburan (er… er… bukan liburan. tepatnya menghibur diri jadi pengangguran! hahahaha..).

salah satu contohnya adalah hari ini. hari ini as usual Zi bangun tepat saat adzan shubuh berkumandang. Setelah Mamah Zi sholat, Mamah Zi menyiapkan keperluan Papah Zi untuk berangkat ke kantor. yaaaah… kek nyiapin sarapan, baju kantor dan sebagai-bagainya.

Terus Zi gimana? Zi tiada lain tiada bukan bersama dengan No’anya ini (FYI, saya dipanggil No’a yang merupakan singkatan No’o Ais. No’o itu bahasa kampung Bapak saya yang artinya Adeknya Ayah).

Kebayang bukan, si ais yang nyawanya belon lengkap ini harus menjaga balita shubuh-shubuh. biasanya saya ngajak Zi maen boneka, jadi saya mendongeng dan ngoceh. Dulu waktu masih bayi, saya masih bisa sambil tidur-tiduran ngedongengnya. Tapi sekarang udah umur 21 bulan lebih, saya harus lebih kreatif kalau gak dia bisa nangis dan sibuk nyariin dan nginthil sama mamahnya.

Dan pagi ini titik kreatifitas saya mungkin sudah sedikit mati. akhirnya saya dunlud video lagu anak-anak di youtube. judulnya potong bebek angsa. Zi keliatan seneng banget nonton bebek-bebek joged. Bosen dengan potong bebek angsa, dia saya puterin hockey Pokey. Begitu video selesai, Zi bergumam; ‘potong bebek angsang…’

gubraaaak

jadilah hari ini saya cekikan dengerin Zi nyanyi potong bebek angsang.

***

okey, baiklah cukup opening dari saya… mari kita lanjut ke inti tulisan (Whaaat???  Jadi ini belum nyampek inti tulisan? Pengantar sepanjang itu??)

gak, saya cuman becanda kok. saya cuman mau nulis itu aja. tadinya niat cerita soal kejamnya ibu kota. tapi kok saya kesannya sok tahu sekali. tahu apalah saya ini soal kejamnya ibu kota. jarang-jarang juga saya di Jakarta. Jakarta saya juga Jakarta pinggiran.

Tapi biarkan pengangguran dari Jakarta pinggiran (yang jarang ada di Jakarta) ini menuliskan beberapa patah kata soal Jakarta:

‘Jakarta itu istimewa, tempat kita belajar banyak hal. Yang patut diperhatikan  dari orang-orang Jakarta adalah bukan fisik yang lelah, tapi jiwa-jiwa yang lelah yang membuat mereka heartless.’

kok begitu? entahlah. seminggu di Jakarta setelah menghabiskan waktu sekian tahun di Jogja (dan Purwokerto) membuat saya kadang ‘norak’ dengan kesenjangan sosial (dan masalah-masalah sosial) di Jakarta. Err.. ini bukannya jarang terjadi, tapi saya sering ngerasa norak ngeliat kehidupan di sini.

maksud saya: sudah tiga kali lebih saya naek metromini yang kernetnya anak kecil di bawah umur, yang kalok dia berdiri di depan metromini kagak keliatan kali! sudah dua kali saya melihat lansia jatuh turun dari bis kota. sudah puluhan kali (er… berlebihan!) saya melihat lansia berdiri susah payah dan anak-anak muda itu duduk santai di busway. sudah tiga kali saya ‘dipalak’ sama preman yang bilang ‘lebih baik kami meminta ikhlas seribu-dua ribu daripada kami nyopet atau merampok!’ (what the ??!?! ) –> see?? see?? see betapa noraknya saya!!!!

Ya Tuhan…. kadang saya cuman bisa ngucap dalam hati berulang kali. Sambil melirik orang-orang lain yang nampaknya wajar-wajar saja menanggapi hal yang saya anggap fenomena melalui kacamata saya.

Maka kalau ada yang bernyanyi di depan saya lagu ‘siapa suruh datang Jakarta’… saya akan dengan (tidak begitu) lantang menjawab ‘rasa cinta saya pada mamah saya yang membawa saya kembali ke sini,’

***

PS: buat kamu… kamu dan kamu yang mau datang ke Jakarta (untuk menetap), Bukan hanya siapkan fisik dan mental. Tapi juga hati. Capek fisik bisa hilang dengan istirahat, tapi capek emosi itu sungguh menguras energi dan kadang gak bisa dihilangkan hanya dengan mengistirahatkan badan.

PS lagi: kenapa judulnya begitu? karena tadinya mau cerita soal Zi yang heboh sekali tiap kali liat angkot meywah, dan juga seorang Pak Tua yang membawa setumpuk majalah bekas yang jatuh di terminal senen. Tapi gak jadi. kepanjangan :mrgreen:

I just wanna be normal

saya baru pulang dari rumah orang tua saya, mangkanya saya jarang banget update blog. bukan karena gak ada bahan, tapi karena mood saya mendadak menurun drastit untuk nulis. kok bisa? yaah.. kalau mau menguji kesabaran saya, suruh aja saya tinggal di rumah orang tua saya satu bulan penuh. kalo saya gak curhat habis-habisan sama kamu, berarti saya lulus dapet sertifikat “orang sabar”…

anyway, bukan mau curhat itu kok. kalo curhat itu mah saya bisa ketiduran di depan layar ini, penuh pro dan kontra pastinya. dan lagian, ntar saya di cap jadi anak durhaka lagi. padahal ga maksud saya ngomongin orang tua. ahh sudahlah.. ntar ada yang bocor. repot lah.

saya mau cerita, kalau saya punya pelajaran2 yg harus diingat baik2:

  1. kalau lagi parkir dgn kijang lama, jangan lupa narik rem tangan, biar itu mobil gak bergerak dengan sendirinya begitu kamu lepas kaki kamu dari rem. btw, rem tangannya ada di bawah setir, bukan di samping bangku pengemudi…  (diambil dari pengalaman bodoh saya waktu panik liat mobil temen saya yang saya parkir dan jalan sendiri begitu saya mau ngunci pintu)
  2. kalau lagi berantem sama pacar, dan niat ninggalin pacar kita di tengah keramean, make sure kalau itu bener2 yang kamu inginkan, bukan emosi sesaat yang bikin kamu balik lagi buat nyari2 dia. dan menyesal setengah mampus waktu nemu dia gak ada di sana dan membuat kamu menangis sepanjang perjalanan pulang (sumpaah.. gak ada bagus2nya kalau kamu nangis sendirian di transjakarta jam dlapan malem, saya mengalaminya dan terpaksa nunduk sepanjang jalan pulang. gak usah berharap ada sutradara video klip ngeliat kamu, karena lagu yang ada itu cuman khayalan di kepala kamu saja. hahahahahaha).
  3. dari situ juga dapat diambil pelajaran, hindari sekali lagi : HINDARI bertengkar di tengah keramean. sumpah, adegan itu cuman bagus di tonton, gak bagus buat dilakuin. karena yang pengen kamu lakuin adalah menyelesaikan masalah, yang kamu dapatkan malah masalah baru.
  4. kalau ada pilihan2 dalam hidup kamu, jangan dengerin orang lain. hmph, saran yang agak extreem yah? okeh, kita ganti kata2nya : silahkan dengarkan orang lain, saran2 mereka boleh jadi bahan pertimbangan, tapi ingat, jangan jadikan itu dasar kamu mengambil keputusan. karena, keputusan yang menyangkut diri kamu sendiri, kamu yang menjalaninya, bukan orang lain. Kebingungan akan selalu ada, tapi pasti ada jalan keluar kok. berdiam diri saja, tanyakan apa yang kamu mau
  5. PENTING untuk dicari tahu : apa yang kamu mau…
  6. barang bekas tidak masalah, asal kita ikhlas menerimanya
  7. Terkadang kita berharap pasangan berubah but the rules is : THEY WILL NEVER CHANGE (diambil dari kata2 sahabat saya,). Jangan percaya sepenuhnya sama kata2 itu. ada yang berubah. tapi kamu melihatnya tidak sebagai kemajuan, karna kamu melihat dengan harapan. Jadi saat harapan itu tidak terpenuhi, yah kamu menganggap mereka gak berubah. Jadi? cari tahu sendiri saja, menggunakan feeling kmu 🙂
  8. Pacar kamu jam karet, suka lupa waktu, lebih memilih mafia wars daripada mengirimi kamu sms mesra ataupun message mesra. putusin saja dia kalau kamu mau ribut terus soal itu. tapi kalau kamu BAHAGIA dengan itu semua, go on.. hal2 tersebut terlalu kecil untuk diributkan
  9. saat sahabat kamu bilang “GUE BILANG JUGA APA”, itu artinya dia care sama kamu, dah ngasih tau kamu dari awal, sayang kamu retarded ajah. hahahahahahaha.. love isnt blind, its retarded (diambil dari film, maafkan kebodohan saya yang gak nanya film apa itu. huehehehehehe…). sayang sahabat saya itu kadang suka lupa, kadang tanpa cinta pun saya retarded kok. *plaak*
  10. saat ada orang yang memberi perintah kamu membuka control panel, itu BUKAN sekali lagi BUKAN Ctrl+P. karna Ctrl+P itu adalah shortcut untuk ngeprint di word, bukan shortcut ke control panel (ini lah ciri2 orang curiga saya retarded,  karna saya melakukan itu beberapa hari yang lalu)
  11. Nonton di MPX grande hari minggu siang, sepi bo!!!
  12. Jangan menerima telpon saat kamu lagi di angkot dan gak tahu pasti dimana kamu turun, karna kamu bisa hanya ngasih seribu rupiah ke supirnya, padahal yang dibutuhkan 2500
  13. Gak usah iri sama temen2, sodara2 yang sudah bekerja, yah mereka bisa sih jalan2 dan nongkrong sesuka hati pulang jam berapapun, tapi mereka kesulitan untuk menentukan beberapa hal (semua orang punya jalan masing2, pergunakan saja kesempatannya. hehehehehe)
  14. hmmph…..
  15. Kalau naek angkot dari halim ke jababeka, pastikan kamu tau dimana kamu menyimpan duit, karena gak ada lucu2 nya kamu nyari duit di kantong dengan heboh, ganggu temen sebelah kamu tau.. dan pastikan kamu pake kaos menyerap keringat, karena kamu bakal jadi cendol di dalam angkot itu, dempet2an nya ya oloooo…..
  16. Kalau mamah kamu bilang mau belanja ke care4 sebentar, dan kamu suruh nunggu di luar, dan mamah kamu ngejanjiin beli in kmu es krim, jangan percaya. karena mamah kamu gak tau pasti kesukaan kamu apaan, dia malah membawa seper empat liter es krim (kadang mamah saya beneran lupa kalau kapasitas perut saya ga seluas itu). saya suka es krim, tapi kalau dimakan bareng pacar saya 😀
  17. ingat baik2 dimana mamah kamu menaruh barang2nya (hp, dompet, sisir), karena bisa dengan tiba2 beliau amnesia mendadak, lupa menaruh it dimanah dan kamu yang kena semprot

Sumpah.. itu pelajaran2 kecil yang mau saya ingat baik2. saya posting disini, siapa tahu berguna bagi orang lain…