Mencintaimu dengan sungguh sungguh

Saya : “ade tuh punya perasaan yang semakin hari semakin tidak terdefinisikan ke mas. Sampai susah dirangkai dengan kata-kata”

Dia : “kalau gitu yah sms aja … ”

***

Know what? Percakapan itu terjadi antara saya dan mas suamik. Saya dan dia punya kebiasaan ngobrol yang agak ajaib – menurut saya sih. Mengikuti jadwal kerja kami yang gak sama, dia dengan shift dan saya yang kerja secara 8 to 5. Kami lebih sering pillow talk. Tahu kan obrolan obrolan menjelang tidur … dan salah satu percakapan saya beberapa yang lalu dengan dia yah itu.

Saya belum pernah kan yah cerita soal mas suamik. Hehehehehe… okeh, cerita yah dari awalnya. Kurang lebih dua tahun yang lalu. Saya masih kerja di kantor lama waktu itu, dan atasan saya meminta saya untuk mencari tempat meeting. Bukan hotel. Bisa buat berkumpul sekitar 40orang.

Nah, kebetulan beberapa hari sebelum dapet perintah itu, saya dan gerombolan saya waktu itu lagi seneng banget menemukan tempat nongkrong di salah satu sudut di daerah paling hips di utaranya Jakarta (baca: kelapa gading).

Singkat cerita, sebelum mengajukan tempat itu ke atasan .. saya survey dulu ke lokasi itu secara detail (actually, kita nongkrong di tempat itu 5hari berturut turut jadinya). Tapi malem itu saya nanya sama waitress nya, bagaimana prosedur kalau saya mau reserve tempat untuk 40 orang. Dipanggilah si bapak supervisor. Dia nyamperin meja saya dan temen temen, mencoba membantu saya membuat rancangan reservasi untuk bos.

Obrol punya obrol, si bapak spv ini medok banget ngomongnya, saya nyeletuk lah, “mas nya orang tegal yah?”

Dia: “bukan mbak, saya dari purwokerto”

Hebohlah teman teman saya yang jumlahnya cuman dua orang itu.

Teman 1 : “ya ampun mas, satu kampung sama temen saya ini *sambil nunjuk saya* mau ga mas sama dia?”

Teman 2: “iya mas, dia lagi nyari pacar”

Idih banget kan temen saya. Akirnya jadi bahan becandaanlah kita berdua. Becanda sekaligus ngerayu biar dapet diskon sih.

Teman 1 : “iya mas, belum nikah kan?”

Dan dia dengan senyum mautnya itu ngejawab “belum, mbak”

***

Sisanya kapan kapan saya ceritain deh bagaimana kencan pertama kita (kencan?), bagaimana dia dengan suara medoknya itu nembang lagu yen ing tawang ana lintang, bagaimana dia ‘nembak’ saya (di pinggir jalan, depan indomaret, saya masih pake seragam kantor lama, gak ada romantis romantianya deh),

Kisah kasih kami gak semulus ceritanya raffi dan Gigi yah. Banyak banget perbedaan dari kami yang kadang memaksa kami untuk saling menjauh, mencoba berpikir ulang tentang kebersamaan kami. Kami dididik dari latar belakang keluarga yang berbeda, bahkan suku yang berbeda. Jenis pekerjaan, kebiasaan sehari hari, obrolan sehari hari, tingkat pendidikan, semuanya tentang saya dan dia itu berbeda.

Dia bukan tipe laki-laki yang betah diajak mengobrol dan menganalisa semua perilaku manusia-manusia di sekitar kami (yang senaaaang banget saya dan teman teman saya lakukan), dia bukan pria kece yang punya bakat fotografi terpendam, dia bukan pria keren dengan teman gaul yang beredar di mana-mana.

Dia pria sederhana yang punya prinsip-prinsip menakjubkan dalam hidup, pria lugu yang entah bagaimana caranya mampu bertahan dengan sifat dan sikap saya yang bisa sangat amat menyebalkan. Pria pendiam yang sabar dengerin saya ngoceh tentang kehidupan saya, tanpa meremehkan, dan dia benar-benar mendengarkan. Bukan sekedar belagak mendegarkan yah. Karena sering dia mampu menceritakan kembali apa yang saya ceritakan (part keisengan saya: suka nyuruh orang nyeritain ulang cerita saya, kalau saya rasa dia gak dengerin cerita saya. Tapi bener deh, pria pria di luar sana bisa belajar untuk mendengarkan dengan lebih baik biar terwujud perdamaian dunia #halah).

Gak, saya gak memuja dia setinggi langit kok. Dia punya kelemahan juga. Dia bukan superhero. Dia bukan Dr. Beno -nya Ika Natassa, bukan juga Nimo – nya Cintapuchino. Dia pria biasa. Yang jutek, gak romantis, hobi melarikan diri ke dalam gua kalau mendapatkan masalah (seperti pria lainnya :?:?:?), pria yang cenderung gak peka sama sensitifitas wanita, dia lempeng selempeng lempengnya alias gak ekspresif,

… tapi dia juga pria humoris yang mampu membuat saya tersenyum dengan lawakannya yang di luar logika, dengan kata-kata polosnya yang tak terduga, pria jenaka yang juga bijaksana dalam menghadapi hidup, pria sederhana yang punya rancangan gambaran masa depan yang sesuai dengan rancangan masa depan saya, pria pemimpi yang paling realistis yang pernah saya kenal, pria berhati lembut namun mampu membuat saya tidak terlalu drama (belum cukup berhasil, sih. Hahahahahaaha),

Dia pria yang mampu membuat saya menikmati hidup, mampu mengatasi ketakutan saya untuk berkomitmen jangka panjang, dia mampu meyakinkan saya bahwa ada pria yang siap mengahadpi semua keajaiban saya, bahwa ada pria yang mau berjuang bersama sama … bukan hanya diperjuangkan.

Namun yang paling utama adalah … dia membuktikan kata-katanya. Dia memegang kata katanya yang dia ucapkan dari awal kita deket. Diantara para pria penebar janji itu, hanya dia yang mampu menghadapi bapak saya, bersabar untuk setiap prosesnya.

Dan ternyata benar apa yang nenek bilang … bahwa … mereka yang mengucapkan ‘aku tuh sayang banget sama kamu, gak pernah aku sesayang ini sama orang lain’ atau mereka yang hobi menebar keseriusan dengan bercerita tentang ‘betapa seriusnya aku sama kamu‘; atau mereka yang melakukan hal-hal romantis lainnya (termasuk ngajak kamu ke rumah yang dia cicil dan bilang ‘ini rumah kita’), akan kalah dengan pria yang berani dateng ke Bapak kamu dan ‘meminta’ kamu dari Bapakmu.

Dulu saya pernah menganggap sepele hal itu. Itu loh .. bagian -serius-meminta-saya-ke-bapak. Aaahhh… semua pria bisa kok melakukannya. Big no no girls, gak semua pria bisa melakukannya. Mereka biasanya hanya bisa mengatakannya. Ada perbedaan besar di situ.

Mereka yang bisa mengatakannya ke kamu, belum tentu berani menghadap ke bapak kamu, mendengarkan jawaban Beliau, mengikuti tiap tahapan dengan sabar dan yakin bahwa tidak ada wanita lain dalam hidupnya yang ia inginkan selain kamu. Dan … pria ini melakukannya untuk saya.

image
My man 💕

… tapi dia pun berproses, bukan pria yang sejak awal berani. Dia pun pernah mundur untuk mempertimbangkan kembali. Melalui malam-malam tukar pikiran kami, diantara gelas kopi plastik favorit kami, nasi goreng pojok jalan kesukaan kami, kami banyak berbagi rasa takut, kagum, semua rencana-rencana kami, impian-impian kami. Sampai akhirnya waktu, kesempatan, keadaan, dan rencana Allah yang membawa hati kami dengan yakin melangkah ke jenjang pernikahan.

***

Well … sekilas yah tentang si mas suamik malam ini. Semoga bisa menjadi semacam awal yang baik bagi saya untuk kembali nulis. Aamiin?

AAMIIN

see u, temans!
😙😙😙😙😙😙

disalip lagi, Is?

Disalip lagi, is?

 

Hai, kawans. Apa kabar? Semoga selalu diberi hati yang penuh syukur ya 🙂

Judul di atas adalah sebuah caption untuk foto yang dikirim sama salah satu kawan saya beberapa hari yang lalu.

Fotonya agak gak etis juga ya dipajang di sini. Saya trauma majang majang foto, ntar malah dimaki maki sama pihak yang gak suka kalau saya majang majang foto seenak udelnya.

Tapi ya udalah ya, kisah buram akir taun saya waktu dimaki orang gara gara foto foto saya di salah satu akun socmed cukup my partner in crime dan dikung aja yang paham. Sama mereka aja saya uda puas abis diledekin. Konon kalau satu perblogan dramaland tau #drama hahahahaha 😆

Oke. Balik ke caption foto disalip lagi, Is  – yang dikirim sama sahabat saya itu. Fotonya sih simpel. Foto … you know jenis foto yang diambil sesaat setelah ijab kabul, setelah sang mempelai pria mengucapkan ijab dan menjabat tangan ayahanda mempelai wanita. Sesaat setelah mereka menandatangani buku nikah, lalu pasti ada adegan foto pamer buku nikah kan… nah foto seperti itu yang dikirim sahabat saya di suatu pagi yang cerah beberapa hari yang lalu.

Sebenernya kalau itu fotonya kiwil yang nikah lagi atau siapapun itu saya ga akan ampek terbersit bikin postingan hari ini.

Itu … yang jadi tokoh di foto ‘pose sejuta umat penganten baru’ adalah …. jreng jreng jreeeeng … *drumroll*

Jrengggg …. jreeeeeng ….

Captain.

Yess. That captain married with somebody i don’t know who.

Kalau kawan kawan yang enam atau lima taunan yang lalu baca blog ini (and now you can read at my arsip. Cmon…. quick, before i erase that all. Hahahahaha), pasti kenal sama tokoh captain. Bahkan ada beberapa orang yang saat ngetik real name nya captain di search engine akan nyasar ke blog ini.

Iya. Cinta masa muda jaman kuliah hura hura dan jaman baru baru ngeblog dan alasan saya punya blog ini, dan juga pria yang pernah jadi alasan saya menyandang gelar miss drama, menikah.

Menikah. Dengan wanita lain. Repeat once more: menikah. Bukan sama saya. Tapi sama wanita lain.

Ga ada yang salah sih … i mean … kisah saya sama dia sudah berakhir bertahun tahun lalu. Dan.. -Alhamdulillah di antara kisah masa lalu,- sama dia bisa dibilang saya bisa menyematkan kata kata “berpisah dengan baik”

I mean … cuman sama dia setelah putus kita masih bisa komunikasi dengan baik. Bisa ngobrol, nggosip, kadang diselipin curhatan, sama diskusi diskusi a la anak filsafat gagal (secara ya bok dulu kita kuliah di jurusan yang sama). Tanpa ada goda goda tergoda. Ada satu titik di mana kita ngerasa, memang lebih baik kita temenan. Karena less expectation kali yak. Tapi … tetep ya boooook … pas liat foto itu rasanya di hati tuh kaya ditusuk tusuk jarum pentul. Bukan jenis sakit yang “hiks dia nikah sama wanita lain, harusnya sama gueeee” tapi jenis sakit yang “kampret. Gue disalip. Lagi.”

Fyi aja, beberapa bulan yang lalu juga salah satu mantan kisah masa lalu saya baru naik pelaminan juga. Kebanyakan kisah masa lalu sih lo Is! Oke. Karena ini blog adalah saksi bisu sisi diri saya yang gak saya bagi sama yang laen, saya mau jujur nyeritain perasaan saya waktu liat itu.

Saya galau. Galau … kenapa pria pria itu tidak memiliki keyakinan untuk menikah dengan saya, tapi bisa menikah dengan wanita wanita yang mereka temui setelah saya. Serius loh ini, semua mantan saya setelah putus, bertemu wanita lain terus nikah. Feels like charlie on good luck chuck kalau ada yang pernah nonton pilemnya Jessica Alba yang jadi pelatih pinguin. Minus sex scene ya.

good luck chuck

Apa. Ada. Yang. Salah. Sama. Saya. Ya.

Actually, beberapa kawan bilang kalau saya punya pola. terlepas yah dari penyebab berakhirnya kisah – kisah drama percintaan saya di masa lalu (saya belajar, semakin sedikit yang tahu kisah sebenernya yang terjadi semakin baik, karena terkadang … apa yang ada di pikiran orang – orang gak akan pernah bisa kita kontrol, ya kan? jadi … biarkan saja mereka di luar sana punya cerita versi mereka mengenai kehidupan kita. hahahahaha)

Jadi .. begini pola hubungan percintaan saya (menurut para sahabat): ‘punya pacar – punya back up – akirnya putus – jadian sama back up plan saya – nuntut diseriusin (every woman have this stage, right?) – nuntut kepastian – pria nya ragu – nyari back up lagi – saat pria mulai yakin, saya ketakutan – bikin masalah – putus.’ Terlepas dari bener atau ga yang sahabat sahabat saya bilang, saya jadi introspeksi diri. Something wrong.

Mungkin yang salah bukan pria pria itu. Mungkin saya yang salah mengenai ide ‘menikah’ yang saya miliki. atau mungkin, seperti yang beberapa sahabat saya katakan: “makanya Is, harus fokus. kalau gak fokus ya susah…”

Apapun itu, saya sedang ada di dalam tahap krisis kepercayaan diri. bahwa mungkin … at the end, saya lah yang mengacaukan semuanya. Saya pernah curhat pada seorang sahabat “when you always having bad relationship, if you have a good one, you can’t stop thingking when bad thing will happen

segala macam teori dan pikiran positif sudah saya coba untuk saya sugestikan ke pikiran saya untuk mwnghLu pikiran – pikiran jelek itu. tapi tetap aja … ah. saya galau kan. saya sudahi saja postingan ini. daripada makin gak jelas.

Rasanya sudah lama tidak mencurahkan rasa terdalam seperti ini. *kemudian lanjut ngelamun*

 

 

monolog: bukankah

bukankah ini yang nantinya akan kita butuhkan?

genggaman tangan yang tidak harum memang tapi selalu ada, senyuman teduh yang menyambut kita pulang, bahu kuat yang mampu menampung semua masalah namun cukup nyaman untuk bersandar, kata-kata yang tidak selalu indah namun selalu menenangkan, kata-kata yang tidak mengandung perintah namun mampu membuat patuh.

aku selalu takut. aku takut. takut untuk kembali menaruh harapan. sudah kah aku ceritakan bahwa hati ini adalah hati yang payah. hati yang selalu, selalu, selalu menaruh harapan pada tempat yang salah. dulu. kali ini aku sangat berhati-hati menaruh harapan. aku sudah memohon maaf pada hatiku sendiri, karena membiarkannya terluka berulang kali. aku berkata padanya bahwa itu semua adalah pelajaran yang harusnya bisa diambil hikmahnya. hei, bukankah semua terjadi karena suatu alasan? hanya saja terkadang kita terlalu sibuk mencari alasan itu, sampai tidak bisa melihat saat alasan itu datang dengan sendirinya. mengetuk pintu kenyataan, memohon diberikan kesempatan untuk menjelaskan kenapa begini kenapa begitu.

terkadang, kita terlalu sibuk menganalisa, mencoba menerka kenapa begini kenapa begitu, apa yang salah dan siapa yang salah. aku menghabiskan waktuku melakukan itu. setelah mereka pergi satu persatu, meninggalkanku dalam sebuah pertanyaan besar; kenapa. tahukah kamu, KENAPA merupakan pertanyaan paling sering diajukan saat sesuatu berhubungan dengan hati entah itu jatuh hati ataupun patah hati. bukan begitu?

you can spend minutes, hour, days, weeks even months analyzing a situation trying to put the pieces together. Justifying what could’ve, should’ve, would’ve happened. Or you can leave the pieces on the floor and…. move on!

seperti dia yang pernah berkata;

Hidup bukan hanya bercerita tentang jari manis, kapan dilingkarkan cincin atau kapan sanggup melingkarkan cincin, hidup juga menceritakan sembilan belas jari lainnya, suka dukanya, sumringah nelangsanya, ragamnya, ramainya, sepinya, tanpa terkecuali.*

entah ke mana langkah kaki ini akan mengantarkanku, tapi aku selalu berharap langkah kaki ini mengarahkanku kepadamu, calon suamiku.

***

monolog kali ini dibantu dengan sepenuh hati oleh malam minggu syahdu (aeeeh), blog *maucokelat (nulis lagi nape), dieka dikung yang gak pernah bosen nanyain kapan aku updet postingan, dan kamu yang masih setia bukain dramaLand walau jarang banget updet.

***

just moving on

Lalu biarkan,

biarkan saja rasa ini menghilang. seperti embun pagi yang kemudian hilang dalam teriknya mentari. Dan bila esok pagi embun kembali menghampiri, biarkan saja. sekali lagi: biarkan saja.

Apapun yang terjadi di kolong langit ini, sudah ada yang mengatur. Percayakan saja.

Karena seperti yang selalu aku percayai: bahwa cinta itu bukan untuk mereka yang lemah. Cinta itu untuk mereka yang berani.

dan, aku di sini. masih berani. berani untuk mencinta lagi.

dear past

***

gambar dari sini

summer camp at Pare (Part3)

happy monday all!
hehehehehehe… ini postingan soal Pare sampek kapan Is? (jawabannya adalah: sampek bosan! hahahahaha) karena tiga minggu saya di sana itu merupakan tiga minggu yang unfergetable lah istilahnya. kalau saya punya kesempatan lagi, saya mau banget buat ngulang tiga minggu menakjubkan itu.

deu…mulai lebay deh ah saya. di part yang pertama saya sudah menceritakan beberapa ‘pengantar’ soal kampung inggris Pare, Kediri. Nah di postingan kedua saya sudah menceritakan ‘rumah’ saya selama saya tinggal di sana. Kira-kira part 3 ini saya cerita soal apa yaaah… hmm…hmm *mikir* soal kisah cinta? hahahahaha, sayangnya gak ada kisah kasih (saya) di sana 😦 gak ada waktu buat galau-galau gak jelas. mari saya ceritakan keseharian saya di sana bagaimana.

ready? Go!

jadi di Pare itu kan setiap lembaga kursus rata-rata membuka pendaftaran setiap tanggal 10 dan 25 di setiap bulan. Kok setiap bulan Is? iya, jadi rata-rata lembaga itu memiliki short program yang berdurasi minimal dua minggu. see? kilat banget kan? Tapi itu minimal loh, maksimalnya ada yang satu program berlangsung selama enam bulan. Programnya macem-macem, seperti yang sudah pernah saya jelaskan sebelumnya. nah… sekali saya bilang nih: don’t expect too much. tempat ini bukan tempat yang bisa membuat kamu mendadak langsung lancar mampus ngenglish. Tapi tempat ini memang kondusif bangeeet buat belajar bahasa inggris. minimal kamu akan nambah rasa percaya diri dan juga ngilangin rasa malu kamu.

Ok Sip.. lanjut nih yah.

Nah, saya datang kalau tidak salah mengikuti periode 10 Juni 2012 kemaren. saya daftar di dua lembaga, satu saya mengambil kelas speaking di Lembaga Daffodils (yang terkenal sama program speakingnya) yang kedua saya ngambil TOEFL di Oxford. Kenapa saya pilih dua lembaga itu? Gak tahu juga sih, itu hasil search di internet juga. hihihihi… Untuk speaking saya ambil satu bulan, dan untuk TOEFL saya ambil dua minggu.

Hari pertama saya tepar mampus. karena saya baru sampai di Pare jam enam pagi, rebutan kamar mandi, jam tujuh sudah ada kelas (kelas TOEFL) sampai jam setengah 10, jam sepuluh saya ngejar kelas speaking di Daffodils, kelar jam dua belas, jam setengah tiga sampai jam empat saya ada kelas lagi di Oxford (kelas TOEFL), terus jam setengah tujuh sudah ada program di Camp tempat saya tinggal.

dan lokasi Daffodils – Oxford – Fajar Camp itu berjauhan. gak jauh-jauh banget sih… tapi lumayan bikin saya mijet-mijet betis di akhir hari, karena di sana rata-rata alat transportasinya adalah sepeda.

hari pertama dan hari kedua merupakan hari saya beradaptasi lah. beradaptasi sama udara Pare yang kalok malem dingin banget tapi kalok siang panase pool, beradaptasi juga sama situasi ‘ke amna-mana kudu naek sepeda’ (tapi fuuuun banget bagian ini! saya gak butuh waktu lama loh!), beradaptasi dengan kondisi saya harus satu kamar dengan tiga orang ajaib tapi menyenangkan yang berasal dari Lombok, Jakarta dan Solo, beradaptasi ngelemesin lidah buat lancar ngomong pake bahasa inggris, beradaptasi buat nutupin umur (dem! paling tua aja loh saya di sana! bahkan tutor di camp saya juga umurnya masih di bawah saya semua. hahahahahahaha), beradaptasi ngumpetin gelar (dengan polos tiap ditanya saya jawab saya masih kuliah di Psikologi, angkatan 2009. dueerrr… hihihihihihi).

di hari kelima, saya mulai menikmati semua rutinitas itu. bangun pagi – program shubuh di camp – berangkat ke oxford – berangkat ke Daffodils – pulang makan, tidur, sholat – berangkat ke oxford – nongki2 sore – pulang ke camp, – program malam di Camp – gosip sambil ngantri mandi.

ah intinya saya bersenang-senang dan belajar deh. di tengah-tengah rutinitas saya itulah menemukan keinginan saya dalam hidup: saya pengen bisa terus belajar. saya pengen terus mengetahui, mengetahui dan mengetahui. berproses, dan terus berproses dari tidak tahu menjadi mengetahui tentang sesuatu, meskipun proses itu lambat (hehehehehe).

nah memasuki minggu ketiga, saya sudah selesai dengan program saya di Oxford yang memakan wkatu paling banyak di keseharian saya. Saya bingung setelah itu ngapain. Harusnya sih saya lanjutin karena yang saya ambil cuman kelas Structure doang, harusnya lanjut ke Listening dan Reading. Tapi saya jenuh. Jenuh banget malahan belajar TOEFL, walopun tutornya (say hai to Miss Ifa! Hai Miss Ifa!!) sangat menyenangkan. tapi memang saya juga ogah-ogahan belajar TOEFL :mrgreen:

akhirnya saya lihat program apa yang bisa saya ambil di Camp saya. as we know, saya tinggal di Camp yang juga merupakan lembaga kursus yang menyediakan beberapa program. nah waktu itu, saya ‘tertarik’ dengan dua orang tutor di Fajar. ini tertariknya jangan diartikan tertarik yang kek gemana loh ya… saya tertarik dengan cara mereka mengajar, karena ada kawan serumah saya yang mengambil program dengan tutornya mereka berdua.

Tutor yang pertama adalah Miss Hanum, dia sekaligus pemilik Fajar English Course, Miss Hanum ini ngajar kelas Speaking. Miss Hanum meiliki metode belajar yang santai banget tapi bisa membuat kita confidence buat ngomong. Beberapa kali saya sempet ‘nyuri’ masuk kelas Speakingnya dia, dan emang seru banget kelasnya!

Tutor yang kedua Mister Sigit. dia ini kata temen saya dateng ke Pare setahun yang lalu dan mulai dari nol belajar bahasa inggrisnya, dan dia intensif belajar Pronounciation. Dan sebelumnya beberapa kali saya pernah ngobrol dengan dia, dan emang pelafalan dia bagus.

Akhirnya saya mengambil dua kelas di Fajar English Course di Minggu ketiga saya. Secara saya belajar di ‘rumah sendiri’ saya lebih santai. Belajarnya di halaman rumah sendiri, jadi sambil nunggu kelas sebelumnya kelar, saya bisa gosip-gosip dulu sama temen secamp, atau makan jagung, atau lari ke kamar mandi kalau kebelet pipis. hihihihihi…

sayangnya, di minggu keempat saya harus segera pulang ke Jogja, karena harus mengejar tanggungjawab saya waktu itu: being a jobseeker. Jadi semua program itu tidak saya tuntaskam semua. di senin keempat saya di sana, saya berpamitan. Miss Hanum melepas kepergian saya sambil memeluk saya serta membuat saya berjanji untuk tidak melupakan Fajar. Saya terharu, karena di kelas terakhir dia yang saya ikuti, dia memberikan kesan dan pesan terhadap saya yang membuat saya sangat terkesan.

satu hal yang saya pelajari dan sampai saat ini membuat saya sulit melupakan keberadaan saya tiga minggu di Pare adalah: kesederhanaan masyarakat Pare, bentuk kesederhanaan yang saya rasa sulit saya temui di kota besar macam Jakarta ini (*pfiuuuhh), serta ketekunan orang-orang yang pergi ke sana (kebayang gak sih ada orang jauh-jauh dateng dari makasar ke situ hanya untuk belajar bahasa inggris, padahal umurnya baru 12 tahun!).
Di sana juga saya belajar bahwa berbagi ilmu tidak akan pernah membuat kamu berkurang ilmunya. Tutor-tutor saya di sana bukanlah mereka yang jagooo banget di bidangnya, ada banyak orang yang lebih jago saya rasa. Tapi mereka memiliki keinginan untuk memberikan apa yang mereka miliki walaupun sedikit. Dan mereka melakukan itu dengan senang, terlihat dari cara mereka mengajar.

ahhh… Andai saja kehidupan saya ini tidak harus bersinkronasi dengan kehidupan orang lain (baca : orangtua) mungkin saya akan memilih untuk kembali ke sana dan tinggal lebih lama di sana (hehehehehehe…). well, someday mungkin itu bisa saya realisasikan. Someday over the rainbow (itu keknya somewhere deh Is. hahahahaha).

ah sudahlah, postingan senin ini ditutup dulu, next time saya lanjutkan mengenai list harga kali yak, yang bakal bikin mupeng.
ok deh, see u next post yah :mrgreen:

*searah jam* : baliho Fajar English Course di depan gang masuk Camp. Saya dan Ayay, temen satu kelas di Pronoun. Kawan-kawan secamp. suasana desa tulungrejo, Pare. Miku, sepeda saya yang selalu menemani saya di sana. Iga bakar favorit saya yang muraaaah banget!

#12HariMenulis #2

Hai kawan. memasuki hari kedua dari tantangan yang saya buat kemaren. Dan sebelumnya saya mau mengajak kawan-kawan untuk berkunjung ke rumah Mbak Devi, mbakyu asal Purbalingga yang beberapa hari yang lalu baru berkunjung ke Jogja.

kenapa harus ke sana Is? Karena ada foto saya *kalem*

:mrgreen:

baiklah, malam hari yang sunyi ini saya ingin menulis sesuatu yang cukup penting. Penting buat siapa Is? Well… penting buat saya lah paling tidak. hihihihi….

 

Tanyalah aku berapa harga kontrakan di Jakal KM 7

Tanyalah aku apa saja aspek Meaning of Work

Tanyalah aku apa saja alat pengumpul data dalam penelitian kualitatif

Tanyalah aku siapa Perdana Mentri Inggris sekarang

Tanyalah aku berapa harga tukar Euro saat ini

Tanyalah aku berapa banyak lampu merah dari seturan ke perempatan Demakijo

Tanyalah kode SWIFT Bank Mandiri terbaru

Tanyalah aku siapa penyanyi lagu someone like you (lagu kebangsaan Mantan menikah)

Tanyalah aku siapa yang menyanyikan lagu cinta terlarang versi terbaru,

Bahkan,

sekarang kamu bisa bertanya tentang perasaanku kepadamu,

walau untuk pertanyaan terakhir tidak ada jawabannya di google,

tapi kamu bisa menemukan jawabannya di hatiku.

dan ya, aku masih mencintaimu.

 

*terinspirasi dari tulisan saya sendiri di blog ini setahun yang lalu, yup tepat setahun yang lalu.

PS: untuk kode SWIFT Bank Mandiri terbaru (Desember 2011) adalah : BMRIIDJA (kali aja ada yang nanyain beneran.. hehehehehhe..)

#12HariMenulis #1

Selamat Hari Senin. Saya bangun pagi ini dengan perasaan aneh yang teramat sangat. Saya punya jutaan alasan untuk tetap berada di atas kasur. Udara yang nyaman, selimut dan bantal yang menggoda, kenyataan saya sudah putus dari captain, kenyataan bahwa saya kehilangan seorang teman (lagi), kenyataan bahwa saya punya waktu sisa 3hari lagi untuk mengemas barang-barang saya di rumah kwarasan ini dan harus pindah (lagi), kenyataan bahwa hidung saya tersumbat parah, dan kepala yang jedug-jedug.

Kenyataan bahwa: saya ingin tidur dan merasakan kedamaian tidur sesaat saja lagi. Beberapa hari belakangan ini saya sedang merasa ada di dasar kekecauan hidup saya. Semuanya berjalan ke arah kekacauan. Kekacauan besar kesekian dalam hidup saya. Gak sih, gak parah – parah banget memang. Kan bukan tanpa alasan blog saya namanya dramaLand :mrgreen:

Saya kehilangan pacar saya, kehilangan seorang teman saya, kehilangan deadline penulisan tesis kesekian kali, kehilangan rumah kontrakan saya. Kalau di jidat saya ada tulisan, maka KACAU adalah tulisan itu.

Kemudian iseng saya membuka blog saya yang sudah lama sekali tidak saya sentuh kolom add new post-nya. Saya terkejut. Jelek sekali produktivitas saya lima bulan terakhir. Bahkan tidak lebih dari sepuluh tulisan tiap bulannya. Saya lagi – lagi menyalahkan hal-hal di luar saya. Ya koneksi lah.. ya tesis lah, ya teman-teman saya yang sering ngajak saya main.

Emang paling gampang itu kalau nyalahin orang lain atau hal lain di luar kita. Gampang banget. Sama kek pembantu yang diomelin sama majikannya pas dia nggoreng pisang sampek gosong. Dia bilang; ‘Nganu Bu.. kompore apine kebesaran sih Bu.. jadinya gosong deh pisangnya’

Nyebelin kan itu pembantu? Jelas-jelas dia yang salah, pake nyalahin kompor. Tapi itu lah yang terjadi pada saya, yang menyalahkan orang lain atas rendahnya produktivitas saya di blog ini. Padahal kalau dipikir-pikir: blog – blog saya, yang bisa nambahain tulisan kan cuman saya, mau sibuk kek apa juga kalau udah niat pasti sempat lah. Hlah wong dulu dengan tugas dan jadwal kuliah yang lebih padet aja saya bisa kok nulis dan jadi part of everyday post-nya WP. Sekarang? Dengan waktu luang yang turah – turah ini, kenapa malah gak bisa?

Bukankah begitu juga dengan hidup saya? Yang bisa membenahinya ya saya sendiri. Memangnya kenapa kalau jadi jomblo lagi? (Hikkks.. bagian bilangnya ke emak ituloh gemannnnnnaaaa?!?!?!), memangnya kenapa kalau tesis saya belon kelar? (Pegimane mau kelar kalau gak dikerjain Is?!?!), memangnya kenapa kalau pindahan lagi? (Hell yeah..! pindahan itu gak mudah, percayalah, tapi setidaknya ini bukan pertama kalinya Is, u can do it. As always! ). Memangnya kenapa kalau hidup saya (sedang) kacau. Sometimes, shit happens. Bukankah begitu?

Shit not always happens kan?

Mari kita bereskan shit itu, ais ariani (euuuu…). Dan satu janji saya sama panggung saya ini adalah: saya menantang diri saya sendiri untuk produktif selama 12 hari ke depan. Dimulai hari ini. Maka proyek menantang diri saya sendiri itu adalah : #12hariMenulis

Selama 12 hari ke depan saya akan menulis di blog ini. Apa saja. Dan sepanjang apapun. Kenapa 12 hari? Karena 30 kelamaan, dan 5 hari kependekan. Hahahahahaha. see you next post, key 🙂

and don’t ask me why…. (again)