Tulisan random di malam minggu

Karena terkadang, ada hal – hal yang terlalu kita ambil pakai hati. Istilah anak muda jaman sekarang; baper.

Iya

Saya baper malem ini. Setelah menghabiskan waktu beberapa menit mengobrol dengan seseorang dan lalu ada kalimat yang dia ucapkan, dan saya terluka oleh kalimat itu. Padahal, saya paham kalau dia gak ada maksud sama sekali untuk melukai hati saya

Berhubung sampai jam 23.55 ini saya belum bisa tidur, saya jadi menuliskan ini deh di blog. Si baby A udah tidur dengan beberapa kali ngigo kan. Mas bojo masih di restoran. Jadi daripada saya ngomong sama tembok (halah) atau stalking forum gosip dan akun gosip lainnya, mendingan saya nulis di blog. Udah lama rasanya gak nulis hal random.

Hari ini saya menemukan hal baru (selaen kebaperan tingkat dewa saya atas kalimat si kawan); Baby A meluapkan emosi jengkel dengan luar biasa drama sekali hari ini. Well, saya gak bisa menceritakan lewat tulisan. Dia tadi nangis heboh karena gk mau digendong orang lain. Dan karena saking jengkelnya, dia sampai sempet sempetnya pas digendong saya … dia nowel rambut si penggendong yang bikin dia kesel. Dan pas orangnya nengok ke arah Baby A, baby A buang muka.

Iya sodara sodara, Baby A sudah bisa melengos

Siapa nduk yang ngajarin?

Yang mau saya ceritakan lagi adalah tentang Dilan (yakin kalau dikung baca ini dia langsung meluncur ke kolom komentar, ga akan dia selesain nih bacaan). Saya belum nonton filmnya (dan mungkin gak akan nonton – pasti ibu ibu dengan anak bayi akan paham sudah berapa lama kita gak ke bioskop), tapi saya sudah baca bukunya

Jujur, saya sudah merasakan yang 4 juta penonton rasakan saat baca bukunya. Senyum senyum sendiri. Inget jaman putih abu abu

…walaupun saya gak sekolah di Bandung, walaupun tahun 90 saya masih esde, walaupun pacar saya bukan anak genk motor, walaupun saya gak secantik milea (bold!)..

Saya senyum senyum sendiri, sambil malu malu gitu.

…inget semua malu-malu sederhana yang saya rasakan waktu SMA. Sumringahnya saya disenyumin sama senior dari jendela kelas, gegap gempitanya hati ini didatengin di kost kostan sama mas mas itu, dianterin pulang pas siaran malem minggu, nerima surat dari si dia yang ada di TU gara gara ngirim suratnya lewat sekolah,

Ya ampun. Lucu ya dengan hal itu aja dulu kita bisa seneng. Nek bahasa jermannya : mbungah

Begitulah, cinta pernah sesederhana itu. Sebelum menjadi rumit dan kompleks dengan bertambahnya usia. Rindu gak sih sama hal hal sederhana yang bisa bikin kita bahagia? (Note: gak usah dijawab, dijadiin renungan aja sendiri. Hahahahahahaha)

Tapi, kalau kesemsemnya saya pas baca buku Dilan masih ngalahin kesemsemnya saya pas baca buku balada si roy.

Balada si roy yang saya baca pas SMA, minjem di taman bacaan. Saya lupa lupa ingat sih semua ceritanya. Tapi saya gak akan pernah lupa betapa saya suka (banget) sama tokoh Roy di situ

Entah ada hubungannya apa engga, ternyata si Mas Bojo dulunya tukang berantem macam si roy. TERUS KENAPA YAK?!?

Ah sudahlah. Si Baby A kebangun. Mari kita tinggalkan memori sejenak, kita tinggalkan si ais jaman SMA untuk kembali menjadi Ibu ais, wanita thirty something yang sedang berusaha menahan lapar tengah malam dan menidurkan anaknya kembali.

Satu yang pasti, yang lalu tak mungkin terulang.

Cheers,

Advertisements

I’m sorry

Ceritanya, barusan saya curhat. Curhat sama seorang kawan. Cerita kalau saya begini, saya begitu, lalu dia ngasih tahu sepotong kalimat yang pernah saya tulis di blog ini.

Saya spechless. Spechless karena saya pernah menuliskan hal yang ternyata masih berkorelasi dengan saya yang sekarang (btw, itu tulisan saya sekitar 6 tahun lalu), dan spechless karena saya seperti ditampar sama diri sendiri melalui kawan saya itu. In good way.

Rasanya kayak diulang lagi aja ya itu yang namanya masalah. Padahal packaging masalahnya beda, mungkin sikap yang diambil bisa sama. Kayak soal matematika. Angka nya beda, rumusnya aja sama.

Well, itu juga lah yang membuat saya ingin menulis lagi malam ini. Menuliskan sedikit cerita dari apa yang saya alami hari ini. Sekedar mengingatkan diri saya sendiri dan catatan kecil untuk bidadari saya ketika dia besar nanti.

Semuanya memang berawal dari dia, si genduk ayu satu ini yang bikin saya terus belajar dari hari ke hari. Dulu aku skeptis ketika orang bilang kita belajar dari anak. Ternyata benar; ada hal hal istimewa yang akhirnya kita dapatkan dari memiliki anak.

Itulah kenapa memiliki anak akhirnya menjadi komitmen seumur hidup yang harus kita pertimbangkan dengan baik sebelum memutuskan untuk memiliki.

Oke. Si Baby sudah masuk usia 7 bulan. Itu berarti, dia sudah harus masuk usia untuk menikmati Makanan Pendamping Asi (btw, saya boleh bangga dikit gak sih kalau Baby A lulus ASIX 6 bulan. Yey!). Tadinya mau cerita perjuangan akhirnya lulus ASIX 6 bulan, tapi ternyata tantangan yang menantang udah di depan mata; Baby A mogok makan. Nduk ayu GTM. Alias gerakan tutup mulut

Kira kira begitu deh mukanya kalau ada sendok depan mulutnya dia. Lemes dong saya sebagai emak emak baru nan idealis yang mau apa apa nya terbaik. Karena saya cukup bahagia ketika di bulan pertama Baby A MPASI, dia lahap makan apa pun yang saya suguhkan. Saya cobain deh tuh resep resep MPASi.

Tiba saat masuk usia 7 bulan, bertepatan juga dengan kami yang sedang berlibur mudik pulang kampung, mulai deh Baby berulah ga mau makan. Tadinya saya keukeuh maunya dia makan sambil duduk. Eh uti nya liat dia gak mau makan, mulai digendong. Saya iya in aja. Biar cepet. Pikir saya, nanti akan saya ajarkan lagi makan di High Cair nya.

Digendong udah gak mempan, aliasnya Baby A udah bosen juga. Mulai deh diajak keluar rumah liat kucing, liat pohon, liat apa aja yang bisa diliat di depan rumah. Makin senewen dong saya. Apalagi begitu balik ke Jakarta dan didudukkan ke high cairnya dia benar benae GTM. Bahkan diajak bercanda pun dia hanya senyum tapi tutup mulut.

Saya yang tadinya kekeuh mau bikin MPASI homemade, akirnya menyerahkan bagian permakanan ke bubur bayi instan dan makanan instan lainnya. Yang penting dia mau makan.

I just like sorry to her because i’m not tryin my best.

Akhirnya, saya belajar untuk tidak memaksakan apa yang saya mau, apa yang saya kira terbaik.

Sama halnya ketika saya harus menjemput dia pulang dari kantor dan meletakkan dia di kursi depan sebelah sopir bukan di kursi bagian belakang. Hanya karena saya merasa takut dia terjungkal dan saya gak liat. Padahal, saya tahu dengan menaruh dia di depan resiko dia terluka lebih besar ketika mengalami kecelakaan.

Oh. Dan saya tahu apa yang mereka bilang tentang pilihan pilihan yang saya lakukan dengan MPASI instan dan car seatnya Baby A.

…tapi seperti yang Donna Ball katakan itu, …to do the right thing even when you’re not sure what the right thing is …and to forgive yourself, over an over again, for doing everything wrong.

Kadang, ada hal hal yang harus kamu tuliskan untuk kamu ingat lagi. Pesan moral pada malam ini adalah, just keep swimming … just keep swimming…

Hehehehehehe

Pesan moral sesungguhnya adalah, kadang kita perlu kok menggunakan headset untuk meredam nada nada minor yang orang lontarkan ke kita atas pilihan pilihan dalam hidup kita. Namun gak ada salahnya kita mendengarkan mereka juga, karena ketika mereka berkomentar untuk pilihan kita … artinya mereka peduli sama kita.

We can make it balance.

Iya gak sih?

Make it simple. Ngurus anak itu gak mudah. Apalagi ditambah ngurus anak di jaman apa-apa mudah untuk diakses dan dibuat perbandingan (hei. Baca deh postinganku dibawah postingan ini persis!), gak usah ditambah dengan beban pikiran yang gak penting. Dari jaman orangtua kita dulu memang banyak yang berubah pastinya, namun satu yang gak berubah adalah semua orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya.

Well, sekian curhatan emak emak galau gara gara timbangan badannya naik tidak berbanding lurus dengan timbangan berat badan Baby nya.

Cheers!

Obrolan Ruang Pumping

Halo… selamat pagi dari pesisir Jakarta.

Jadi, setelah maternity leave saya udah habis, saya pun kembali ke rutinitas. Ke rutinitas sebagai pekerja. Working mom istilah kecenya. Yaaaaampun…, waktu saya nulis tesis 6 tahun lalu soal working mom gak sesulit ini rasanya. Gak percaya juga sih akhirnya saya bisa sampai di tahap ini.

Mengikuti peraturan pemerintah (dan rengekan mamak mamak perah di kantor), kantor kami memiliki ruang khusus ibu menyusui. Yang baru dilaunching beberapa hari sebelum saya masuk kantor

Nah di kantor saya sekarang ada total 4 orang ibu menyusui dan sekitar 5 orang calon ibu menyusui. Dan 1 ibu menyusui yang sedang hamil (banyak yah ceu? Gitu deh … kantor saya mah kantor bawa rejeki. Banyak orang nikah, banyak orang hamil, banyak orang lahiran tahun ini). Jadi ruangan khusus ini selain dipakai buat pumping mamak perah, juga dipakai buat calon calon mamak perah yang lagi mabok buat istirahat ngelurusin punggung.

Serunya, kadang obrolan ke mana mana. Dari obrolan soal serikat pekerja, gosip gosip kantor, sampek ngomongin tetangga sebelah. Jangan salah … yang ngejalanin nota dinas untuk pengadaan ruang pumping sudah wanti wanti kalau ruangan pumping harus digunakan sebagaimana mestinya. Sampai ada artikel soal larangan ghibah dipajang di dinding ruangan. No ghibah.

Kalau curhat ngomongin suami termasuk ghibah?

Hahahahahahaha.

Jadi, sesi pumping saya kemaren diisi dengan curhatan soal para suami. Mamak mamak di ruangan yang berisi dua mamak perah dan satu calon mamak bercerita soal suami masing masing. Topik besarnya kelakuan suami saat istri hamil.

Curhat lah itu mulai dari suami yang pulang malam, lagi pengen makan apa tapi suami nurutinnya pas udah gak pengen. Atau pas malam malam pertama keadaan baby, gimana suami siaga ga tidur semaleman cuman buat ngeliat si kecil tidur (dan bernafas). Gimana suami menghandle baby blues, gimana suami jadi tumpahan emosi saat kesal dengan mertua, dan masih banyak cerita lagi.

Dan at that moment itu saya sadar. Kemaren saya sadar, bahwa setiap perjalanan rumah tangga , setiap perjalanan being a mother itu berbeda.

Every motherhood has their own journey. Ada mamak mamak perah macam kami yang masih harus bergumul dengan asip, pompa, dan rindu membuncah di tiap detiknya. Belum lagi kalau tiba tiba galau kalau disuruh lembur. Doh anak gue siapa yang nidurin. Ada juga mamak mamak yang galau karena hal lainnya.

Susah memang untuk tidak saling membandingkan kehidupan kita dengan yang lain saat ini. Di saat kita bisa memandang kehidupan orang laen dengan mudah. Sawang sinawang. Kalau kata mbah nya Aska begitu. Tapi ya begitulah tantangan jadi mamak mamak di era millenial seperti ini. Bukankah banyak kemudahan yang kita dapat saat ini? Banyak info, banyak peralatan canggih untuk memberikan yang terbaik bagi anak anak kita. Ya kan? Tapi ya itu … saking canggihnya, kita jadi bisa mengintip perjalanan ibu lainnya. Setelah ngintip, sibuk denh membandingkan. Kadang sampai sampai lupa bersyukur dengan kehebatan hidup kita sendiri.

Sibuk ngeliatin anaknya mbak instragamers, sibuk deh ngikutin makannya, stimulusnya, ampai lupa liatin anak sendiri punya tahapan perkembangan sendiri.

Hidup ini sudah terlalu sibuk kan kalau harus ngikutin kehidupan orang lain juga?

Sekian.

Ps: tulisan ini saya buat untuk diri sendiri juga yang kadang serung unmood tanpa sebab. Hahahahahay

Menikah : sebuah pergeseran makna

Beberapa minggu belakangan ini, entah bagaimana ceritanya ada begitu banyak prahara rumahtangga yang (ceritanya) menghampiri saya. Dari cerita selingkuh dalam rumahtangga, cerita si anu begini, si itu begono.

Ada cerita yang cukup menarik, semoga saya gak dibilangin nyeritain aib orang yah. Kita ambil pelajaran saja dari cerita ini.

Ceritanya, mari kita sebut dia mawar. Mawar, menikah dengan kumbang setelah menjalani kisah kasih selama sekian tahun. Hingga tiba suatu hari, mawar menemukan kenyataan bahwa kumbang selingkuh dengan teman mawar. How could?

Yeah, betapa how could lagi kalau saya ceritakan alasan dibalik perselingkuhan itu bisa terjadi. Kumbang (kurang lebih) berkata kepada Mawar : “menurut kamu kenapa sampek aku selingkuh? Karena kamu gak bisa aku apa apain. Kamu gak pernah mandi habis pulang kerja”

As simple as that.

Kamu …. gak pernah mandi, mawar.

How could?

Setelah saya survey kecil kecilan ke sekitar saya, sedihnya, mereka bilang “iya, itu bisa saja terjadi”

Kok sedih ya. Terus saya dapet bonus nasehat malahan

Makanya, jadi perempuan itu pandai jaga badan, yang wangi. Biar suami betah”

Sejak kapan menikah itu diukur dengan seberapa sering kita mandi? Saya baru dua tahun menikah. Tahu apalah saya ini soal menjaga keharmonisan rumahtangga? Yang ada, saya banyak dapet nasehat.

Suruh rajin mandi

Suruh mulai fitness

Mulai ngurang ngurangin bawelnya

Mulai belajar masak

Bagaimana dengan cinta sejati? Bagaimana dengan menerima apa adanya? Bagaimana dengan kenyamanan? Bagaimana dengan sekarang atau limapuluh tahun lagi kutetap akan mencintaimu?

Dan pada akhirnya … nasehat pamungkas yang saya terima; mari kita jalani rumahtangga kita masing-masing.

Selasa baik, medio september 2017. Ditengah dokumen dokumen pending setelah melewati cuti 3 bulan.

Ps: tadinya maunya niatnya nulisnya bukan ini. Tapi yang ditulis malah begini. Yasudahlah.

Ini harus kuceritakan

Dan rasa ini harus kuceritakan. Ketika kau datang lagi. Lagi. Di saat hidupku sedang berjalan di relnya, sesuai dengan apa yang telah aku impikan sekian lama

Ketika hidupku sedang menakjubkan, ketika hidupku (pada akhirnya) berjalan sebagaimana mestinya.

Ketika semua baik baik saja, kamu datang. Iya, kamu. Yang pernah menjadi tokoh dalam setiap mimpi masa remajaku. Kamu, yang pernah menjadi alasan semua senyum bodohku. Kamu, yang pernah menjadi alasan semua detak jantung yang berdetak lebih cepat. Menyapaku.

Hello,

Katamu.

Hello, katamu. Dan cukup membuat duniaku jungkirbalik. 

Andai kamu tahu, tiap detail tentangmu masih kuingat dengan baik. Hangat matamu saat tersenyumpun samar sama masih bisa kurasakan. Lalu seperti tumpahan hujan di bulan Desember,  memori rasa tentangmu tumpah. Berjatuhan di sudut hati yang sudah lama tak tersentuh. 

Ah kamu. 

Tapi, setelah melakukan berjuta kesalahan di masa lalu … aku tak ingin melakukannya lagi. Aku tak ingin merusak kebahagian dan kehidupanku saat ini

Debaran jantung yang tak menetap ini rasanya tak sepadan kutukar dengan hidupku yang sedang baik baik saja. Senyuman bodoh ini rasanya tak sepadan ditukar dengan kenyamanan ini

Memang benar, kadang hidup bercerita tentang pencarian comfort zone yang menyenangkan. Beranjak dari satu comfort zone ke comfort zone lainnya. Tapi, ada tempat singgah  yang membahagiakan.

Dan bagiku, keluargaku bukan sekedar tempat singgah yang membahagiakan. Hidupku saat ini adalah perwujudan seluruh doaku yang dikabulkan oleh Nya. Dan aku tidak butuh melakukan kesalahan lagi untuk membuktikannya. 

God has perfect timing. Always. 

And i know for good that i’m done with you

Well … i’m done

Now, i feel it

Hai, selamat malam kawans. 

Gimana kabar? Udah weekend yah? Hiks, udah berkurang jatah cuti 3 bulan saya berarti. It means … sekitar 1,5 bulan lagi saya harus masuk kerja, kembali ke rutinitas dan meninggalkan rutinitas saya sejak 1,5 bulan yang lalu yang berputar pada si bayi ini

Malam ini, sambil ngeliatin dia tidur … sama seperti malam malam sebelumnya sejak kehadiran ia dalam kehidupan saya… saya selalu mikir. Jenis mikir yang …

Paham ga sih? Hahahahahaha.

Dulu, jaman masih gadis kinyis kinyis (halah) … gak kepikiran kalau saya bakal jadi ibu yang ngurusin anak. Bayangan saya dulu kalau saya punya anak saya serahin ajalah ke ibu saya untuk ngerawatnya; mandiin, ganti popok, lelo lelo nya. Sama saya nya pas mau tidur aja, pas lucu lucu nya aja

Sungguh pemikiran yang dangkal dan egois. Maklum. Masih jamannya mikirin diri sendiri waktu itu. Waktu itu saya bukannya benci sama bayi. Enggak. Saya cuman gak tahu harus gimana sama mereka. Karena, mereka masih keciiiiiiil.kalau udah dua tahun kan udah seru, udah bisa diajak maen. Kalau masih bayi kan gendong aja syerem …

Tapi, begitu Baby A lahir, perjumpaan pertama saya sama dia gak bisa diungkapkan dengan kata kata. Dia didorong pake kereta bayi sama suami saya (yang sumringah), sambil bilang

“Ini dedek dijemput ayah. Udah wangi, udah cantiiiik”

Saya, yang waktu itu lagi belajar bangun after operasi. Yang beberapa menit lalu bolak balik ngeluh sakit, bolak balik ngeluh nyeri dan pusing, begitu liat kereta bayi didorong langsung duduk dengan sempurna dan tangan terulur.

Lalu mbak bidannya menyerahkan buntelan itu, sambil bilang “ibu bisa gendongnya?”

Saya ga menjawab. Karena jujur, saya belum pernah menggendong bayi baru lahir. At all. 

Ketakutan itu semua luluh melihat kesayangan saya dan uget uget nya. Saya langsung menyambut tangan bidan yang terulur, menggendong dia dan langsung saya sapa,

‘Assalamualaikum dek, ini ibu’

Karena kata kata itulah yang biasa saya ucapkan ke dia sedari dia masih ada di dalam perut saya. sudahlah … lewatlah semua wejangan bidan yang ngasih tahu harus begini, harus begitu … gak boleh ini, gak boleh itu. Saya hanya memandangi wajah mungilnya dan tubuhnya yang uget uget dalam pelukan saya, 

Saya jatuh cinta pada pandangan pertama sama si kecil ini. Bayi paling lucu dan menggemaskan yang pernah saya liat (YAIYALAHYAAAH, ANAK SENDIRI!!)

HAHAHAHAHAHA.

dan akirnya saya merasakan apa yang ibu-ibu di luar sana rasakan. Seklise apapun yang mereka ungkapan tentang pertemuan pertama dengan si buah hati, begitu kamu mengalaminya …. kamu akan merasa sebagai manusia paling bahagia di dunia.

I know, because now i feel it.

***

Selain itu, ada beberapa hal yang akhirnya saya rasakan. Setelah sekian lama hanya jadi penonton dan tukang komentar bagi new mommies di luar sana, akhirnya saya merasakan hal – hal berikut;

1. Gak berhenti motoin anak

Hahahahaha. Dulu, saya suka sebel kalau ada orang yang tiap lima menit upload foto anaknya. Ternyataaaa ibuk ibuk sekalian, saya ngalaminnya. Saya ngalamin yang namanya pengen motoin anak terus. Dari dia nguap, nangis, ekspresi kelaperan, pokoknya segala ekspresi maunya diabadikan. Ig stories saya, wasap status saya, timeline twitter saya … semua mukanya Baby A. Can’t help it. Rasanya dunia saya berputar di dia sekarang. Gallery hp penuh foto dia. 

Padahal. In my case. Dia baru 1,5 bulan. Hehehehehehe

Jadi buat temen – temen di ig, di twitter saya semoga gak bosen liat foto foto upload an saya yah. Toh kalau bosen discroll aja terus. πŸ˜ƒ

2. Galau soal ASIP

sebenernya galau yang pertama soal ASI sik. Asli galaunya. Sampe sampe tiap malem saya nangis. Nangis karena ASI saya ga keluar 4 hari. Ngerasa ga berhasil jadi ibu. Apalagi Baby A sempet masuk inkubator, alias balik lagi ke dirawat di rumah sakit gara gara kuning. Rasa rasa nya bidan si ruangan perina menatap saya dengan tatapan nyinyir ‘huh. Lo pikir jadi ibu gampang?’ Ke saya

Iya. Itu cuman perasaan saya doang. Galau lah saya waktu Baby A masuk rumah sakit buat diterapi blue light. Ngeliat dia yang masih kecil ditutup matanya dan cuman pake pampers dimasukin di inkubator, terus dikasih lampu biru. Terus emaknya suruh pulang. Suruh pumping. Apapun yang terjadi harus pumping, terus nyetor ASIP tiap hari. Bahkan ayahnya pun ga boleh njenguk masuk. Kebayang gak sih saya baru seminggu jadi ibu. Bahkan cara pumping aja masih belajar. Bahkan sekali pumping cuman basahin pantat botol, disuruh nyetor ASIP tiap hari. Karena rumah sakit tempat Baby A dirawat waktu itu pro ASIX. 

Disitulah saya tahu rasanya ketika ada orangtua bilang ‘kalau bisa dipindahin sakitnya anak saya, pindahin aja ke saya

Again, now i feel it.

Oia, headlinenya di point ini kan ASIP yak. Sebagai calon ibu bekerja nantinya saya butuh kan yah yang namanya ASIP. Jadi saya mulai tuh cari tahu soal ASIP. Karena ngerasa udah kecolongan gak memahami soal menyusui dari awal kehamilan, saya jadi kepo banget soal perah memerah ini. Banyak baca di internetlah gimana caranya mendapatkan stok ASIP yang banyak.

Berujung pada kegalauan; baby A kalau siang gak kenal waktu kalau nenen. Hari ini dia minta nenen tiap satu jam sekali. Kemaren dia minta nenen di jam jam tertentu aja. Dan sebagai emak – emak baru yang possesip, saya selalu seneng ada di deket dia. Selalu happy kalau nyusuin dia. Bawaannya tiap dia nangis malah saya kasih ASI. Jadi akirnya fokus saya lebih ke breastfeeding. Langsung. Gak kepikiran merah. Kalau mau tidur dan lagi scroll scroll explore ig baru ngeh soal perahan, sambil bertekad besok akan mulai pumping.

Dan tiba esoknya, saya tenggelam dalam kenikmatan memberikan ASI langsung ke Baby A. 

1,5 bulan lagi padahal saya kerja. Stock ASIP masih sebegitu aja. Galau?

Yeah. Now, i feel it.

3. Begadang

Ini mah gak usah ditanya dan dijelaskan yah. Buat orangtua yang punya newborn baby pasti ngalaminnya. Alhamdulillah yah, Baby A sejak umur sebulan kalau malem boboknya anteng. Biasanya dari habis magrib dia tidur, terus bangun jam 10, yang kedua ntar sekitar jam 12, terus jam setengah 3 an ntar bangun lagi, sampek jam 5 kadang gak tidur.

Alhamdulillah… emaknya yang pelor ini masih bisa ngimbangin. Ngimbangin dengan kadang dia lagi nenen, saya tidur sambil duduk. Keahlian yang saya peroleh sejak mulai kerja dan sering ikut rapat. LOL.
4. Jatuh cinta setiap hari

No need to explain. Setiap orangtua (baru) pasti merasakannya. Ya kan? Dan heran sama jenis bentuk cinta yang ini. Mau dia jerit nangis dan bikin panik kaya apapun, mau dia bikin kita gak tidur semaleman, mau dia bikin payudara kita sakit dan ngilu sampe luka, kita gak pernah bisa untuk marah. 

Apalagi kalau dikasih tatapan mata dia…

Now, i feel it

***

Nduk, tulisan ini ibu buat untuk mengungkapkan rasa cinta ibu yang membuncah ke kamu. Mungkin akan banyak up and down dalam relasi hubungan mother – daughter kita nantinya, jika saat down itu datang ke kita, semoga tulisan ini menjadi pengingat bahwa kamu adalah anugrah terindah dalam hidup ibu. 

I love u, nduk.  Always.

Hei, Aska!

Jadi … begini ceritanya.

Mbak – mbak tukang drama yang punya blog ini telah menjadi emak – emak beranak satu. Officially tanggal 31 mei 2017 kemaren, mbak – mbak yang punya blog ini melahirkan buah cintanya ke dunia. Kebayang gak sih … mbak – mbak yang kalau kata dikung : mbak mbak galau ini jadi ibu. Ibu. Ibu loh ini. Mbak mbak yang 8 tahun yang lalu memulai blog ini, yang ngegalauin kaptennya (remember him? Hahahahaha, iya juga yah … apa kabar tuh orang? Update terakhir sih udah punya anak satu). Yaudahlah yah, balik lagi ke headline postingan ini : MBAK MBAK DRAMA QUEN YANG PUNYA BLOG INI UDAH JADI IBUK!!!

Perkenalkan, namanya Adzkiyya Maheswari Junianto (biar besok kalau kamu googling namamu, blog ibumu ini muncul, nduk. Hehehehehe). 


Mau cerita darimana yah soal si kecil ini? Cerita dari proses melahirkannya saja yah.

Jadi, setelah hari kesekian saya cuti … belum ada tanda tanda si dedek mau keluar dari perut. Padahal saya cuti udah saya bikin mepet sama due date. Seminggu sebelum due date saya baru cuti. Karena belum ada tanda mules atau apapun, 3 hari sebelum due date saya masih balik ngantor lagi. Nyelesein sedikit tanggungjawab yang belum selesai.kebayang kan dengan perut gede dan hidung yang juga besar, saya masuk kantor. Otomatis itu temen temen kantor pada nanyain ngapain saya masuk kantor lagi. 

Saya bilang aja, saya pusing di rumah nungguin mules. Kalau di kantor kan enak, gak kepikiran. Karena tenaganya kepake buat mikirin kerjaan. Setuju? 

Di hari due date dan perkiraan umur kandungan 40 weeks, saya pergi ke dokter saya. Itupun masih nyetir sendiri, ditemenin sama ibu mertua. Nyampek di rumah sakit, setelah nunggu antrian dan ditensi plus ditimbang (totally saya naik 15 kilo aja dong di kehamilan yang menginjak 40 weeks itu), saya ketemu sama dokter kandungan yang mungil dan cantik dan jadi idola mas suamik (hahahahaha, kudu yah ditulis).

Pas di USG, bu dokter bilang kalau kondisi kehamilan saya menderita plasenta previa. Yang mana, plasenta si kecil nutup jalan lahir. Di usia 40 weeks. 

Panik? 

Banget. Lahwong beberapa hari sebelumnya saya periksa ke dokter kalau semua baik baik saja, bahwa perjalanan kehamilan saya menunggu mules. Tapi memang beda dokter  sih. 

Jadi, memang saya menggunakan jasa dua dokter kandungan.

Kenapa is? Simpel sih alesannya. Yang satu dokter dari jaman saya gadis. Tapi beliau bekerja di rumah sakit umum, which is saya harus bayar kalau konsul ke dia.

Yang satu dokter baru dari rumah sakit kantor. Baru praktek di rumah sakit kantor di usia kehamilan saya sekitar 5 bulan. 

Yang gratis vs yang bayar.

Tahu dong, sebagai kaum kelas penggemar gratisan dari jaman dulu saya milih jasa dokter yang mana. Sudah jelas yang dokter dari rumah sakit kantor. Dokternya asik, masih muda dan membuat nyaman kalau konsul ke dia. Apa aja bisa saya tanyain. Tapi sayang, rumah sakitnya untuk pelayanan agak membuat saya kudu sesabar mungkin.

Tapi saya masih tetep ke dokter dari jaman saya gadis itu. Alesannya: karena pelayanan rumah sakitnya enak, cepet, ga banyak ngantri juga.

Nah, sebelum konsul 40 weeks itu, saya konsul ke dokter yang rumah sakit umum. Dia bilang semua baik – baik saja. Saya tinggal nunggu mules. Makanya saya kaget banget waktu tau ternyata kepala janin saya belum masuk jalan lahir, malah plasentanya yang masuk di jalan lahir. Diputuskan untuk SC hari itu juga, dikarenakan ketuban saya sudah keruh. 

Panik dong. Udahlah berangkat ke rumah sakit berdua mertua, masih nyetir sendiri. Mana ada persiapan mau operasi. Nego sama bu dokter yang cantik. Akhirnya saya diijinin pulang setelah cek kondisi jantung si kecil masih bagus. 

Pulanglah saya dengan kalut dan menahan tangis. Nyampek rumah, saya telponlah ibu saya sambil lagi lagi menahan tangis. 

Akhirnya setelah episode drama dan air mata serta diskusi dengan mas suamik, kami sepakat kalau si kecil akan lahir melalui operasi SC. Masih sesungukan tuh saya. Alesannya yang pertama; mungkin sama kaya alasan ibu ibu hamil lainnya yang pengen banget melahirkan dengan normal. Apalagi saya sempet banyak baca soal gentle birth. Dan memang diniatkan untuk melahirkan normal. Makanya saya banyak jalan, banyak jongkok, banyak nungging di bulan bulan terakhir kehamilan. 

Alasan berikutnya simpel sih. Saya takut dioperasi. Saya takut ngebayangin ada pisau bedah ngoyak ngoyak badan saya. Apalagi yang diceritain temen temen yang pernah SC agak cukup seram juga. 

Dan jujur, saya merasa ‘kalah’ kalau SC. Karena gak bisa dipungkiri, masih banyak orang yang menganggap ketika melahirkan dengan SC itu bla bla bla, begini begitu. 

Di malam sebelum saya operasi, saya menemukan sebuah video acara talkshow, saya lupa nama acarany apa. Tapi kata – katanya saya inget banget “tujuan dari kehamilan kan bukan melahirkan normal, melainkan melahirkan bayi yang sehat. Dan juga ibu yang sehat”

Akhirnya, saya menenangkan diri saya dengan mantra mantra positip. Yasudahlah, terserah orang mau bilang apa tentang proses melahirkan saya yang ‘tidak hebat’ ini. Toh nyatanya memang  kondisinya tidak memungkinkan saya untuk melahirkan normal. Segala jenis mules dan kontraksi yang digadang gadang orang ketika hamil besar sama sekali gak saya rasakan. Disitulah saya semakin cinta sama bayi saya; dia tahu ibunya memiliki toleransi rendah terhadap rasa sakit. Disuntik anestesi aja saya meringis dan mau turun rasanya dari meja operasi. Hahahahahaha

***

Di malam menjelang operasi, mas suamik megangin tangan saya dan ikut berbaring di sebelah saya. Malam itu udah gak pake nangis lagi saya nya. Udah lebih ke arah pasrah. Pasrah dan gak sabar mau ketemu si  kecil yang sering nendang-nendang itu. Saya heart to heart sama mas suamik menceritakan semua kegelisahan saya. 

Operasi dijadwalkan pukul 08.00 pagi, dan saya baru tidur pukul 02.30 dinihari. Pukul 06.30 saya dibangunkan untuk ditensi. Kemudian datang dokter anestesi saya. Si dokter mencium aroma panik saya. Beliau ketawa dan bilang, “tenang aja bu, SC tuh enak kok. Besok besok pasti ketagihan deh”

Cukup menenangkan.

Tapi kan itu yang ngomong dokter. Sama kaya pedagang makanan, semua yang dia jual dia bilang enak. 

Pukul 08.10 saya digiring ke kamar operasi. Mau masuk kamar operasi, suami saya lari – lari. Saya cium tangannya, dia disuruh susternya nyium saya. Dan yang dia cium perut saya dong. Bukan jidat saya atau bibir saya. 

Dasar laki laki.

Harapan saya sih sebenernya setelah melihat foto mbak NR yang habis SC dan ada suaminya mendampingi, saya kira mas suamik boleh ngedampingin saya di kamar operasi. Ternyata gak boleh. Hiks.

Udahtuh, saya masuk kamar operasi. Perlu diceritain gak detailnya? Detail bagaimana saya berbaring telanjang di hadapan banyak orang? Detail bagaimana saya mati-matian milih dokter cewe biar ‘daleman’ saya gak dilihat pria lain dan ternyata di ruangan operasi isinya banyak pria. Detail bagaimana saya gak berhenti dzikir, menyebut nama Allah dikarenakan saya ketakutan setengah mati. Detail bagaimana saya merasa sendiri dan terasing di ruangan operasi yang dingin itu. Detail bagaimana saya mendengar ketuban saya dipecah dan tidak lama saya mendengar suara tangisannya, 

Si bidadari kecil saya.

Adzkiyya maheswari junianto.

Si bidadari surga yang cerdas dari keluarga junianto.

Tangisannya keras. Saya terharu. Di detik saya mendengar tangisannya saya menitikkan air mata. Entah kenapa. 

Lalu tersusunlah dengan manis, bagaimana si kecil akan menjadi teman baik saya. Kami akan shopping bareng, nongkrong bareng, dia akan menjadikan saya sahabat terbaiknya. Dia akan melewati hal – hal menakjubkan sebagai seorang wanita,  yang sudah saya lewati. 

Sisi drama saya ternyata masih kental. Bahkan di meja operasi.

Tangisannya keras sekali. Saya sempet nanya sama dokter yang lagi obok obok perut saya

Saya : dok, itu suara anak saya yah?

Dokter : iya. Kenapa mbak,

Saya : kenceng banget yah dok

Dokter : iya, dia nangis karena untuk pertama kalinya dipisah dari ibunya. 

Saya terharu. Ada yang menangis sekeras itu karena berpisah dengan saya. Kan. Drama.

Gak lama saya denger tangisannya, ada suster datang membawa bungkusan  kain hijau yang ternyata si bayi; “bu, selamat yah anaknya perempuan *dibuka kaen pembungkusnya, dikasih liat alat kelaminnya* semuanya lengkap yah buk, tangan, kaki dan jari jarinya. Telinga juga.”

Lalu si kecil ditaruh di dada saya. Dan saya melihat sendiri gimana dia merayap berusaha mencari *maaf* puting susu saya dan menghisapnya

Walaupun moment itu hanya beberapa menit (karena ruang operasi kan dingin banget yah, jadi si bayik gak boleh lama lama di dalem ruang operasi), saya langsung jatuh cinta se cinta cinta nya sama bayi saya itu.

Dan, perlu diketahui bersama. Ternyata itu baru awal. Setiap harinya sejak hari si kecil dilahirkan, rasa cinta itu bertambah.

Lagi dan lagi, lagi dan lagi.

Saya merasa tidak pernah mencintai orang dengan cara seperti ini.

Tapi. Tahu apalah saya.

Saya emak emak baru. Baru tahu rasanya punya anak.

Haru. Biru. Syahdu.

So. Hai, aska. Selamat datang di dunia. Mungkin ibu mu ini akan banyak bercerita tentang kamu, tentang rasanya memiliki kamu. Mungkin juga tidak. Tapi yang pasti … kamu itu anugrah terindah ibu. Sehat terus, nduk. Kita sama sama belajar yah. Semoga doa doa yang orang – orang panjatkan di hari kelahiranmu dikabulkan.

Aamiin

***
Ps : nduk, saat kamu baca tulisan ini…. mungkin kamu sudah besar yah. Maaf yah nak untuk segala drama ibumu ini. Kamu tahu ibu sayang selalu sama kamu.