Begini,

Ada hal hal yang kemudian harusnya kita lupakan. Nada nada sumbang yang berbicara di belakang kita, gosip tidak penting soal selebriti yang bahkan tidak kita ketahui korelasinya dengan kita.

Tuhan sempurna menciptakan memori kita yang terbatas ini. Dengan segala kelebihannya, memori kita miliki mekanisme tersendiri untuk memilih mana yang harus kita ingat dan mana yang dilupakan.

Dilupakan atau terlupakan itu hanyalah masalah teknis. Tidak peduli mana yang terjadi, ujungnya adalah perginya beberapa keping hal dari memori kita

Pernah terbayangkan gak jika memori kita tidak memiliki mekanisme ini? Mungkin teori Freud tidak akan lahir ya. Mungkin. Mungkin kepala kita akan sering hang, sama seperti handphone yang kepenuhan memori.

Ya kan.

Satu lagi alasan untuk terus bersyukur, kali ini karena Tuhan menciptakan mekanisme lupa dalam hidup kita.

Kebayang gak sih kalau kita masih ingat sakit hati pertama kita?

Ouch.

Cheers.

Maret 2019

Dear Dramaland,

Hari ini tanggal 20 Maret 2019. 10 tahun sudah umurmu tahun ini. Dulu waktu memulai blog ini umurku masih gadis belia 20tahunan. Malam ini saat aku menulis ini aku sedang memandang anak keduaku tertidur lelap setelah puas dia menyusu padaku.

Bisa kau bayangkan itu hai Dramaland ? Aku, si ais yang memulai blog ini dengan penuh drama (gak penting) di umur 20an telah menjadi mamak mamak (masa kini) dengan dua anak.

Biar kujelaskan padamu, waktu berumur belasan tahun dan masih duduk di bangku SMA….aku pernah berkhayal dan membayangkan menjadi dewasa. Membayangkan menikah di usia 25 tahun, memiliki anak di usia 26 tahun, kemudian anak kedua di usia 28 tahun. Lalu menapaki karir dan menjadi Manager di usia 30 tahun. Lalu… khayalanku berhenti di situ. Pengetahuanku mengenai tahap tahap kehidupan terbatas waktu itu sehingga menganggap di usia 30 aku akan menjadi pribadi yang matang, dewasa dan akan menguasai dunia.

Aku gak paham jika ingin menikah di umur 25 tahun, aku harus bertemu dengan Pangeranku sebelum usia 25 tahun. Jika aku ingin menjadi Bos di usia 30 tahun, aku harus menjadi supervisor dulu sebelumnya. Atau apapun itu yang disyaratkan untuk menduduki jabatan itu di bidang entahlah apa.

Ternyata …. menjadi dewasa itu rumit dan konyol. Aku hanya bisa tersenyum jika membaca ulang tulisan tulisan di blog ini. Darimana semua waktu dan kata yang bisa aku luangkan untuk menuliskan semua postingan yang ada di sini?

10 tahun lalu aku tidak pernah membayangkan akan begini jadinya … akan menjadi ibu ibu pekerja yang merisaukan soal ASI Perah, berat badan, tumbuh kembang balita, pola karir, komunikasi dalam pernikahan dan jutaan permasalahan kecil lainnya yang kadang mewarnai hari hariku.

Typically

Ah sudahlah. Kemampuanku menuangkan isi kepala ke dalam tulisan sepertinya harus sering dilatih. No excuse. Aku punya waktu untuk membuat caption foto di instagram, untuk membuat threat di twitter, berselancar di forum gosip, nonton Boril jadi juri di youtube, taaapiii gak punya waktu untuk menulis di blog?

Itulah kenapa banyak hal tertunda dalam semua rencanaku.

Ternyata aku pandai membuat alasan.

Cheers,

Tiga tahun dan sedikit cerita

Pagi tadi, mas bojo nyiapin sarapan nasi uduk si teteh dari gang sebelah yang hari kemaren saya pengenin. Sudah beberapa hari saya setiap berangkat ke kantor dan ngelewatin si Teteh jualan, pengen banget mampir terus membeli sebungkus nasi uduknya. Tapi ramenya pembeli bikin saya mikir berulang kali. Bisa bisa telat ngantor kalau saya mampir dulu.

Keinginan terpendam saya itu saya sampaikan ke mas bojo; kenapa ya kok kangen nasi uduk si teteh.

Surprise, pagi tadi di meja makan sudah tersedia dengan manis sebungkus nasi uduk dan bonus kue lupis kesukaan saya (juga!). Saya tanya, dalam rangka apa mas bojo beliin nasi uduk, soalnya jaman saya hamil si genduk saya sering banget beli nasi uduk itu dan mas bojo seringnya protes (rame banget mau makan doang!). Lah kok ini ujug ujug dia bawain itu nasi uduk.

Singkat cerita, sampai di kantor, saya buka komputer… terus jalan ke pantry ambil minum dan sendok. Balik ke meja saya lihat layar komputer dan mendapati hari ini adalah anniversarry pernikahan saya dan mas bojo.

Ya Tuhan. Kok saya bisa lupa.

Langsung wasap mas bojo (lagi. Setelah sebelumnya laporan kalau sudah sampai kantor, lagi buka nasi uduknya), sambil menulis rangkaian kata mesra meminta maaf atas kelalaian saya melupakan wedding anniversarry kami.

Dan mas bojo bales wasap saya kurang lebih gini; itu makanya ada lopis sama nasi uduk hadiah anniversarry. Ya walaupun gak ngucapin nanti juga ade tahu.

I just like… hmmmmm oke. *garuk garuk keyboard, gregetan*

That’s soooooo him. Gak romantis, datar, flat, straight to the point, but (somehow) … that’s why i love him.

Entah kenapa, dia mampu meredakan saya yang meledak-ledak ini.

Gak jarang sih kita suka ribut akan hal-hal kecil gak penting gara-gara sifat saya yang meledak ledak ini.

Wait

Sebenarnya, selama 3 tahun perjalanan berkeluarga ini (Alhamdulillah) … kami sangat jarang ribut saling tuding berantem rame gitu. Bukan gak pernah ya…. hal-hal kecil macam handuk basah gak dijemur di luar, motor dia yang dia parkir ngalangin jalan keluar mobil pas saya mau ngantor, kebiasaan dia tidur seenak jidat di sabtu-minggu, jahilnya dia melesetin lagu di depan genduk, ketidakteraturan dia untuk makan, dan hal-hal kecil lainnya pastilah bikin kita berdua masih ribut (ehem. Sebenernya saya yang cerewet dan dia tetap pada sifat aslinya : datar).

***

Entah karena memang sudah umur atau memang muka saya keliatan tua … gak jarang ada beberapa kawan yang percaya sama saya buat curhat permasalahan hidup ke saya. Mungkin karena mereka tahu saya belajar psikologi jadi saya bisa diharapkan memberikan masukan yang wise (Walaupun somehow ujung ujungnya saya gantian yang curhat. Hahahahaha!). Pertanyaan yang kadang muncul adalah:

– bagaimana saya tahu kalau mas bojo adalah jodoh saya?

Jawabannya : saya gak tahu. Setelah melewati episode panjang bertemu dengan kodok kodok sebelumnya, saya juga pesimis bahwa hubungan kami akan berhasil. Maksud saya, setelah gagal sekian kali ada perasaan gak percaya yang muncul ketika dia menyatakan niat untuk serius. Lalu apa yang membuat saya yakin? Actually i don’t know. But one thing for sure …. setelah apa yang terjadi diantara kami, setelah semua drama saya lakoni dalam hubungan ini, he stayed. And just like that …. booom … semua jalan dan niat kami untuk serius dimudahkan dan tak menemui kendala berarti.

– apa perbedaan setelah dan sebelum menikah?

Jawabannya: banyak, kakaaaaa. Kalau mau dibikin list baru besok shubuh saya kelar nulis postingan ini. Hahahahahaahaha.

Dulu sebelum nikah tuh ya saya kurus gitu deh, masih hobi makek eyelinner, lipstik dan contact lens. Masih berusaha terlihat good looking di depan dia.

Sekarang? Udah mandi sama pake body lotion aja yang penting. Maskara saya ampek kering kerontang dianggurin. Fokus ke rajin keramas dan tetap wangi menyambutnya pulang (aeeehh).

Dulu saya tuh hobi drama ngirim gambar gambar di pinterest yang menyentuh hati, sama sering ngasih surprise kue atau kado tiap tanggal 12.

Sekarang? Anniversarry aja lupa. Hahahahaha

Dulu kalau tidur sendiri, kak.

Sekarang bertiga, bonus pelukan dari belakang tiap malem. Dan entah ya, kadang kalau dia pulang kampung atau lembur dan gak bisa pulang … saya sering merasa gak bisa tidur dan kasur terasa luaaaas sekali. Aeeeehhhh…

***

Perjalanan 3 tahun ini masih piyik banget, masih muda. Masih belum ada apa-apanya dengan perjalanan kami ke depan. Hanya saja saya mau menuliskan hal ini sekarang, biar nantinya saat saya membuka tulisan ini di tahun-tahun mendatang, saya bisa diingatkan lagi tentang perasaan ini, tentang pemikiran ini, tentang betapa beruntungnya saya dengan doa doa yang saya ucapkan dulu perlahan mulai terwujud.

***

Dear Pii…

Happy anniversarry once again. Maaf kealpaan ade mengingat hari ini. Kalimat maafnya sudah terrangkai sempurna dan siap ade sajikan ke mas, nanti. Terimakasih tak terhingga sudah mengajarkan untuk selalu pandai bersyukur, untuk selalu sabar dalam tiap langkah hidup ini, untuk selalu bahagia dengan hal hal sederhana yang kita wujudkan

Sama sama belajar ya untuk menjadi lebih baik, untuk sama-sama lebih melihat kepada apa apa yang kita miliki dan bersyukur karenanya daripada terus menerus meratapi kekurangan.

Tolong, jangam lelah untuk membimbing istrimu ini. Masih panjang perjalanan kita, masih terbata cara kita menghadapi dunia, dan masih banyak yang belum kita pahami.

***

Nitey nite temans, have a nice weekend!

Tulisan random di malam minggu

Karena terkadang, ada hal – hal yang terlalu kita ambil pakai hati. Istilah anak muda jaman sekarang; baper.

Iya

Saya baper malem ini. Setelah menghabiskan waktu beberapa menit mengobrol dengan seseorang dan lalu ada kalimat yang dia ucapkan, dan saya terluka oleh kalimat itu. Padahal, saya paham kalau dia gak ada maksud sama sekali untuk melukai hati saya

Berhubung sampai jam 23.55 ini saya belum bisa tidur, saya jadi menuliskan ini deh di blog. Si baby A udah tidur dengan beberapa kali ngigo kan. Mas bojo masih di restoran. Jadi daripada saya ngomong sama tembok (halah) atau stalking forum gosip dan akun gosip lainnya, mendingan saya nulis di blog. Udah lama rasanya gak nulis hal random.

Hari ini saya menemukan hal baru (selaen kebaperan tingkat dewa saya atas kalimat si kawan); Baby A meluapkan emosi jengkel dengan luar biasa drama sekali hari ini. Well, saya gak bisa menceritakan lewat tulisan. Dia tadi nangis heboh karena gk mau digendong orang lain. Dan karena saking jengkelnya, dia sampai sempet sempetnya pas digendong saya … dia nowel rambut si penggendong yang bikin dia kesel. Dan pas orangnya nengok ke arah Baby A, baby A buang muka.

Iya sodara sodara, Baby A sudah bisa melengos

Siapa nduk yang ngajarin?

Yang mau saya ceritakan lagi adalah tentang Dilan (yakin kalau dikung baca ini dia langsung meluncur ke kolom komentar, ga akan dia selesain nih bacaan). Saya belum nonton filmnya (dan mungkin gak akan nonton – pasti ibu ibu dengan anak bayi akan paham sudah berapa lama kita gak ke bioskop), tapi saya sudah baca bukunya

Jujur, saya sudah merasakan yang 4 juta penonton rasakan saat baca bukunya. Senyum senyum sendiri. Inget jaman putih abu abu

…walaupun saya gak sekolah di Bandung, walaupun tahun 90 saya masih esde, walaupun pacar saya bukan anak genk motor, walaupun saya gak secantik milea (bold!)..

Saya senyum senyum sendiri, sambil malu malu gitu.

…inget semua malu-malu sederhana yang saya rasakan waktu SMA. Sumringahnya saya disenyumin sama senior dari jendela kelas, gegap gempitanya hati ini didatengin di kost kostan sama mas mas itu, dianterin pulang pas siaran malem minggu, nerima surat dari si dia yang ada di TU gara gara ngirim suratnya lewat sekolah,

Ya ampun. Lucu ya dengan hal itu aja dulu kita bisa seneng. Nek bahasa jermannya : mbungah

Begitulah, cinta pernah sesederhana itu. Sebelum menjadi rumit dan kompleks dengan bertambahnya usia. Rindu gak sih sama hal hal sederhana yang bisa bikin kita bahagia? (Note: gak usah dijawab, dijadiin renungan aja sendiri. Hahahahahahaha)

Tapi, kalau kesemsemnya saya pas baca buku Dilan masih ngalahin kesemsemnya saya pas baca buku balada si roy.

Balada si roy yang saya baca pas SMA, minjem di taman bacaan. Saya lupa lupa ingat sih semua ceritanya. Tapi saya gak akan pernah lupa betapa saya suka (banget) sama tokoh Roy di situ

Entah ada hubungannya apa engga, ternyata si Mas Bojo dulunya tukang berantem macam si roy. TERUS KENAPA YAK?!?

Ah sudahlah. Si Baby A kebangun. Mari kita tinggalkan memori sejenak, kita tinggalkan si ais jaman SMA untuk kembali menjadi Ibu ais, wanita thirty something yang sedang berusaha menahan lapar tengah malam dan menidurkan anaknya kembali.

Satu yang pasti, yang lalu tak mungkin terulang.

Cheers,

I’m sorry

Ceritanya, barusan saya curhat. Curhat sama seorang kawan. Cerita kalau saya begini, saya begitu, lalu dia ngasih tahu sepotong kalimat yang pernah saya tulis di blog ini.

Saya spechless. Spechless karena saya pernah menuliskan hal yang ternyata masih berkorelasi dengan saya yang sekarang (btw, itu tulisan saya sekitar 6 tahun lalu), dan spechless karena saya seperti ditampar sama diri sendiri melalui kawan saya itu. In good way.

Rasanya kayak diulang lagi aja ya itu yang namanya masalah. Padahal packaging masalahnya beda, mungkin sikap yang diambil bisa sama. Kayak soal matematika. Angka nya beda, rumusnya aja sama.

Well, itu juga lah yang membuat saya ingin menulis lagi malam ini. Menuliskan sedikit cerita dari apa yang saya alami hari ini. Sekedar mengingatkan diri saya sendiri dan catatan kecil untuk bidadari saya ketika dia besar nanti.

Semuanya memang berawal dari dia, si genduk ayu satu ini yang bikin saya terus belajar dari hari ke hari. Dulu aku skeptis ketika orang bilang kita belajar dari anak. Ternyata benar; ada hal hal istimewa yang akhirnya kita dapatkan dari memiliki anak.

Itulah kenapa memiliki anak akhirnya menjadi komitmen seumur hidup yang harus kita pertimbangkan dengan baik sebelum memutuskan untuk memiliki.

Oke. Si Baby sudah masuk usia 7 bulan. Itu berarti, dia sudah harus masuk usia untuk menikmati Makanan Pendamping Asi (btw, saya boleh bangga dikit gak sih kalau Baby A lulus ASIX 6 bulan. Yey!). Tadinya mau cerita perjuangan akhirnya lulus ASIX 6 bulan, tapi ternyata tantangan yang menantang udah di depan mata; Baby A mogok makan. Nduk ayu GTM. Alias gerakan tutup mulut

Kira kira begitu deh mukanya kalau ada sendok depan mulutnya dia. Lemes dong saya sebagai emak emak baru nan idealis yang mau apa apa nya terbaik. Karena saya cukup bahagia ketika di bulan pertama Baby A MPASI, dia lahap makan apa pun yang saya suguhkan. Saya cobain deh tuh resep resep MPASi.

Tiba saat masuk usia 7 bulan, bertepatan juga dengan kami yang sedang berlibur mudik pulang kampung, mulai deh Baby berulah ga mau makan. Tadinya saya keukeuh maunya dia makan sambil duduk. Eh uti nya liat dia gak mau makan, mulai digendong. Saya iya in aja. Biar cepet. Pikir saya, nanti akan saya ajarkan lagi makan di High Cair nya.

Digendong udah gak mempan, aliasnya Baby A udah bosen juga. Mulai deh diajak keluar rumah liat kucing, liat pohon, liat apa aja yang bisa diliat di depan rumah. Makin senewen dong saya. Apalagi begitu balik ke Jakarta dan didudukkan ke high cairnya dia benar benae GTM. Bahkan diajak bercanda pun dia hanya senyum tapi tutup mulut.

Saya yang tadinya kekeuh mau bikin MPASI homemade, akirnya menyerahkan bagian permakanan ke bubur bayi instan dan makanan instan lainnya. Yang penting dia mau makan.

I just like sorry to her because i’m not tryin my best.

Akhirnya, saya belajar untuk tidak memaksakan apa yang saya mau, apa yang saya kira terbaik.

Sama halnya ketika saya harus menjemput dia pulang dari kantor dan meletakkan dia di kursi depan sebelah sopir bukan di kursi bagian belakang. Hanya karena saya merasa takut dia terjungkal dan saya gak liat. Padahal, saya tahu dengan menaruh dia di depan resiko dia terluka lebih besar ketika mengalami kecelakaan.

Oh. Dan saya tahu apa yang mereka bilang tentang pilihan pilihan yang saya lakukan dengan MPASI instan dan car seatnya Baby A.

…tapi seperti yang Donna Ball katakan itu, …to do the right thing even when you’re not sure what the right thing is …and to forgive yourself, over an over again, for doing everything wrong.

Kadang, ada hal hal yang harus kamu tuliskan untuk kamu ingat lagi. Pesan moral pada malam ini adalah, just keep swimming … just keep swimming…

Hehehehehehe

Pesan moral sesungguhnya adalah, kadang kita perlu kok menggunakan headset untuk meredam nada nada minor yang orang lontarkan ke kita atas pilihan pilihan dalam hidup kita. Namun gak ada salahnya kita mendengarkan mereka juga, karena ketika mereka berkomentar untuk pilihan kita … artinya mereka peduli sama kita.

We can make it balance.

Iya gak sih?

Make it simple. Ngurus anak itu gak mudah. Apalagi ditambah ngurus anak di jaman apa-apa mudah untuk diakses dan dibuat perbandingan (hei. Baca deh postinganku dibawah postingan ini persis!), gak usah ditambah dengan beban pikiran yang gak penting. Dari jaman orangtua kita dulu memang banyak yang berubah pastinya, namun satu yang gak berubah adalah semua orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya.

Well, sekian curhatan emak emak galau gara gara timbangan badannya naik tidak berbanding lurus dengan timbangan berat badan Baby nya.

Cheers!

Obrolan Ruang Pumping

Halo… selamat pagi dari pesisir Jakarta.

Jadi, setelah maternity leave saya udah habis, saya pun kembali ke rutinitas. Ke rutinitas sebagai pekerja. Working mom istilah kecenya. Yaaaaampun…, waktu saya nulis tesis 6 tahun lalu soal working mom gak sesulit ini rasanya. Gak percaya juga sih akhirnya saya bisa sampai di tahap ini.

Mengikuti peraturan pemerintah (dan rengekan mamak mamak perah di kantor), kantor kami memiliki ruang khusus ibu menyusui. Yang baru dilaunching beberapa hari sebelum saya masuk kantor

Nah di kantor saya sekarang ada total 4 orang ibu menyusui dan sekitar 5 orang calon ibu menyusui. Dan 1 ibu menyusui yang sedang hamil (banyak yah ceu? Gitu deh … kantor saya mah kantor bawa rejeki. Banyak orang nikah, banyak orang hamil, banyak orang lahiran tahun ini). Jadi ruangan khusus ini selain dipakai buat pumping mamak perah, juga dipakai buat calon calon mamak perah yang lagi mabok buat istirahat ngelurusin punggung.

Serunya, kadang obrolan ke mana mana. Dari obrolan soal serikat pekerja, gosip gosip kantor, sampek ngomongin tetangga sebelah. Jangan salah … yang ngejalanin nota dinas untuk pengadaan ruang pumping sudah wanti wanti kalau ruangan pumping harus digunakan sebagaimana mestinya. Sampai ada artikel soal larangan ghibah dipajang di dinding ruangan. No ghibah.

Kalau curhat ngomongin suami termasuk ghibah?

Hahahahahahaha.

Jadi, sesi pumping saya kemaren diisi dengan curhatan soal para suami. Mamak mamak di ruangan yang berisi dua mamak perah dan satu calon mamak bercerita soal suami masing masing. Topik besarnya kelakuan suami saat istri hamil.

Curhat lah itu mulai dari suami yang pulang malam, lagi pengen makan apa tapi suami nurutinnya pas udah gak pengen. Atau pas malam malam pertama keadaan baby, gimana suami siaga ga tidur semaleman cuman buat ngeliat si kecil tidur (dan bernafas). Gimana suami menghandle baby blues, gimana suami jadi tumpahan emosi saat kesal dengan mertua, dan masih banyak cerita lagi.

Dan at that moment itu saya sadar. Kemaren saya sadar, bahwa setiap perjalanan rumah tangga , setiap perjalanan being a mother itu berbeda.

Every motherhood has their own journey. Ada mamak mamak perah macam kami yang masih harus bergumul dengan asip, pompa, dan rindu membuncah di tiap detiknya. Belum lagi kalau tiba tiba galau kalau disuruh lembur. Doh anak gue siapa yang nidurin. Ada juga mamak mamak yang galau karena hal lainnya.

Susah memang untuk tidak saling membandingkan kehidupan kita dengan yang lain saat ini. Di saat kita bisa memandang kehidupan orang laen dengan mudah. Sawang sinawang. Kalau kata mbah nya Aska begitu. Tapi ya begitulah tantangan jadi mamak mamak di era millenial seperti ini. Bukankah banyak kemudahan yang kita dapat saat ini? Banyak info, banyak peralatan canggih untuk memberikan yang terbaik bagi anak anak kita. Ya kan? Tapi ya itu … saking canggihnya, kita jadi bisa mengintip perjalanan ibu lainnya. Setelah ngintip, sibuk denh membandingkan. Kadang sampai sampai lupa bersyukur dengan kehebatan hidup kita sendiri.

Sibuk ngeliatin anaknya mbak instragamers, sibuk deh ngikutin makannya, stimulusnya, ampai lupa liatin anak sendiri punya tahapan perkembangan sendiri.

Hidup ini sudah terlalu sibuk kan kalau harus ngikutin kehidupan orang lain juga?

Sekian.

Ps: tulisan ini saya buat untuk diri sendiri juga yang kadang serung unmood tanpa sebab. Hahahahahay

Menikah : sebuah pergeseran makna

Beberapa minggu belakangan ini, entah bagaimana ceritanya ada begitu banyak prahara rumahtangga yang (ceritanya) menghampiri saya. Dari cerita selingkuh dalam rumahtangga, cerita si anu begini, si itu begono.

Ada cerita yang cukup menarik, semoga saya gak dibilangin nyeritain aib orang yah. Kita ambil pelajaran saja dari cerita ini.

Ceritanya, mari kita sebut dia mawar. Mawar, menikah dengan kumbang setelah menjalani kisah kasih selama sekian tahun. Hingga tiba suatu hari, mawar menemukan kenyataan bahwa kumbang selingkuh dengan teman mawar. How could?

Yeah, betapa how could lagi kalau saya ceritakan alasan dibalik perselingkuhan itu bisa terjadi. Kumbang (kurang lebih) berkata kepada Mawar : “menurut kamu kenapa sampek aku selingkuh? Karena kamu gak bisa aku apa apain. Kamu gak pernah mandi habis pulang kerja”

As simple as that.

Kamu …. gak pernah mandi, mawar.

How could?

Setelah saya survey kecil kecilan ke sekitar saya, sedihnya, mereka bilang “iya, itu bisa saja terjadi”

Kok sedih ya. Terus saya dapet bonus nasehat malahan

Makanya, jadi perempuan itu pandai jaga badan, yang wangi. Biar suami betah”

Sejak kapan menikah itu diukur dengan seberapa sering kita mandi? Saya baru dua tahun menikah. Tahu apalah saya ini soal menjaga keharmonisan rumahtangga? Yang ada, saya banyak dapet nasehat.

Suruh rajin mandi

Suruh mulai fitness

Mulai ngurang ngurangin bawelnya

Mulai belajar masak

Bagaimana dengan cinta sejati? Bagaimana dengan menerima apa adanya? Bagaimana dengan kenyamanan? Bagaimana dengan sekarang atau limapuluh tahun lagi kutetap akan mencintaimu?

Dan pada akhirnya … nasehat pamungkas yang saya terima; mari kita jalani rumahtangga kita masing-masing.

Selasa baik, medio september 2017. Ditengah dokumen dokumen pending setelah melewati cuti 3 bulan.

Ps: tadinya maunya niatnya nulisnya bukan ini. Tapi yang ditulis malah begini. Yasudahlah.

Ini harus kuceritakan

Dan rasa ini harus kuceritakan. Ketika kau datang lagi. Lagi. Di saat hidupku sedang berjalan di relnya, sesuai dengan apa yang telah aku impikan sekian lama

Ketika hidupku sedang menakjubkan, ketika hidupku (pada akhirnya) berjalan sebagaimana mestinya.

Ketika semua baik baik saja, kamu datang. Iya, kamu. Yang pernah menjadi tokoh dalam setiap mimpi masa remajaku. Kamu, yang pernah menjadi alasan semua senyum bodohku. Kamu, yang pernah menjadi alasan semua detak jantung yang berdetak lebih cepat. Menyapaku.

Hello,

Katamu.

Hello, katamu. Dan cukup membuat duniaku jungkirbalik. 

Andai kamu tahu, tiap detail tentangmu masih kuingat dengan baik. Hangat matamu saat tersenyumpun samar sama masih bisa kurasakan. Lalu seperti tumpahan hujan di bulan Desember,  memori rasa tentangmu tumpah. Berjatuhan di sudut hati yang sudah lama tak tersentuh. 

Ah kamu. 

Tapi, setelah melakukan berjuta kesalahan di masa lalu … aku tak ingin melakukannya lagi. Aku tak ingin merusak kebahagian dan kehidupanku saat ini

Debaran jantung yang tak menetap ini rasanya tak sepadan kutukar dengan hidupku yang sedang baik baik saja. Senyuman bodoh ini rasanya tak sepadan ditukar dengan kenyamanan ini

Memang benar, kadang hidup bercerita tentang pencarian comfort zone yang menyenangkan. Beranjak dari satu comfort zone ke comfort zone lainnya. Tapi, ada tempat singgah  yang membahagiakan.

Dan bagiku, keluargaku bukan sekedar tempat singgah yang membahagiakan. Hidupku saat ini adalah perwujudan seluruh doaku yang dikabulkan oleh Nya. Dan aku tidak butuh melakukan kesalahan lagi untuk membuktikannya. 

God has perfect timing. Always. 

And i know for good that i’m done with you

Well … i’m done

Now, i feel it

Hai, selamat malam kawans. 

Gimana kabar? Udah weekend yah? Hiks, udah berkurang jatah cuti 3 bulan saya berarti. It means … sekitar 1,5 bulan lagi saya harus masuk kerja, kembali ke rutinitas dan meninggalkan rutinitas saya sejak 1,5 bulan yang lalu yang berputar pada si bayi ini

Malam ini, sambil ngeliatin dia tidur … sama seperti malam malam sebelumnya sejak kehadiran ia dalam kehidupan saya… saya selalu mikir. Jenis mikir yang …

Paham ga sih? Hahahahahaha.

Dulu, jaman masih gadis kinyis kinyis (halah) … gak kepikiran kalau saya bakal jadi ibu yang ngurusin anak. Bayangan saya dulu kalau saya punya anak saya serahin ajalah ke ibu saya untuk ngerawatnya; mandiin, ganti popok, lelo lelo nya. Sama saya nya pas mau tidur aja, pas lucu lucu nya aja

Sungguh pemikiran yang dangkal dan egois. Maklum. Masih jamannya mikirin diri sendiri waktu itu. Waktu itu saya bukannya benci sama bayi. Enggak. Saya cuman gak tahu harus gimana sama mereka. Karena, mereka masih keciiiiiiil.kalau udah dua tahun kan udah seru, udah bisa diajak maen. Kalau masih bayi kan gendong aja syerem …

Tapi, begitu Baby A lahir, perjumpaan pertama saya sama dia gak bisa diungkapkan dengan kata kata. Dia didorong pake kereta bayi sama suami saya (yang sumringah), sambil bilang

“Ini dedek dijemput ayah. Udah wangi, udah cantiiiik”

Saya, yang waktu itu lagi belajar bangun after operasi. Yang beberapa menit lalu bolak balik ngeluh sakit, bolak balik ngeluh nyeri dan pusing, begitu liat kereta bayi didorong langsung duduk dengan sempurna dan tangan terulur.

Lalu mbak bidannya menyerahkan buntelan itu, sambil bilang “ibu bisa gendongnya?”

Saya ga menjawab. Karena jujur, saya belum pernah menggendong bayi baru lahir. At all. 

Ketakutan itu semua luluh melihat kesayangan saya dan uget uget nya. Saya langsung menyambut tangan bidan yang terulur, menggendong dia dan langsung saya sapa,

‘Assalamualaikum dek, ini ibu’

Karena kata kata itulah yang biasa saya ucapkan ke dia sedari dia masih ada di dalam perut saya. sudahlah … lewatlah semua wejangan bidan yang ngasih tahu harus begini, harus begitu … gak boleh ini, gak boleh itu. Saya hanya memandangi wajah mungilnya dan tubuhnya yang uget uget dalam pelukan saya, 

Saya jatuh cinta pada pandangan pertama sama si kecil ini. Bayi paling lucu dan menggemaskan yang pernah saya liat (YAIYALAHYAAAH, ANAK SENDIRI!!)

HAHAHAHAHAHA.

dan akirnya saya merasakan apa yang ibu-ibu di luar sana rasakan. Seklise apapun yang mereka ungkapan tentang pertemuan pertama dengan si buah hati, begitu kamu mengalaminya …. kamu akan merasa sebagai manusia paling bahagia di dunia.

I know, because now i feel it.

***

Selain itu, ada beberapa hal yang akhirnya saya rasakan. Setelah sekian lama hanya jadi penonton dan tukang komentar bagi new mommies di luar sana, akhirnya saya merasakan hal – hal berikut;

1. Gak berhenti motoin anak

Hahahahaha. Dulu, saya suka sebel kalau ada orang yang tiap lima menit upload foto anaknya. Ternyataaaa ibuk ibuk sekalian, saya ngalaminnya. Saya ngalamin yang namanya pengen motoin anak terus. Dari dia nguap, nangis, ekspresi kelaperan, pokoknya segala ekspresi maunya diabadikan. Ig stories saya, wasap status saya, timeline twitter saya … semua mukanya Baby A. Can’t help it. Rasanya dunia saya berputar di dia sekarang. Gallery hp penuh foto dia. 

Padahal. In my case. Dia baru 1,5 bulan. Hehehehehehe

Jadi buat temen – temen di ig, di twitter saya semoga gak bosen liat foto foto upload an saya yah. Toh kalau bosen discroll aja terus. 😃

2. Galau soal ASIP

sebenernya galau yang pertama soal ASI sik. Asli galaunya. Sampe sampe tiap malem saya nangis. Nangis karena ASI saya ga keluar 4 hari. Ngerasa ga berhasil jadi ibu. Apalagi Baby A sempet masuk inkubator, alias balik lagi ke dirawat di rumah sakit gara gara kuning. Rasa rasa nya bidan si ruangan perina menatap saya dengan tatapan nyinyir ‘huh. Lo pikir jadi ibu gampang?’ Ke saya

Iya. Itu cuman perasaan saya doang. Galau lah saya waktu Baby A masuk rumah sakit buat diterapi blue light. Ngeliat dia yang masih kecil ditutup matanya dan cuman pake pampers dimasukin di inkubator, terus dikasih lampu biru. Terus emaknya suruh pulang. Suruh pumping. Apapun yang terjadi harus pumping, terus nyetor ASIP tiap hari. Bahkan ayahnya pun ga boleh njenguk masuk. Kebayang gak sih saya baru seminggu jadi ibu. Bahkan cara pumping aja masih belajar. Bahkan sekali pumping cuman basahin pantat botol, disuruh nyetor ASIP tiap hari. Karena rumah sakit tempat Baby A dirawat waktu itu pro ASIX. 

Disitulah saya tahu rasanya ketika ada orangtua bilang ‘kalau bisa dipindahin sakitnya anak saya, pindahin aja ke saya

Again, now i feel it.

Oia, headlinenya di point ini kan ASIP yak. Sebagai calon ibu bekerja nantinya saya butuh kan yah yang namanya ASIP. Jadi saya mulai tuh cari tahu soal ASIP. Karena ngerasa udah kecolongan gak memahami soal menyusui dari awal kehamilan, saya jadi kepo banget soal perah memerah ini. Banyak baca di internetlah gimana caranya mendapatkan stok ASIP yang banyak.

Berujung pada kegalauan; baby A kalau siang gak kenal waktu kalau nenen. Hari ini dia minta nenen tiap satu jam sekali. Kemaren dia minta nenen di jam jam tertentu aja. Dan sebagai emak – emak baru yang possesip, saya selalu seneng ada di deket dia. Selalu happy kalau nyusuin dia. Bawaannya tiap dia nangis malah saya kasih ASI. Jadi akirnya fokus saya lebih ke breastfeeding. Langsung. Gak kepikiran merah. Kalau mau tidur dan lagi scroll scroll explore ig baru ngeh soal perahan, sambil bertekad besok akan mulai pumping.

Dan tiba esoknya, saya tenggelam dalam kenikmatan memberikan ASI langsung ke Baby A. 

1,5 bulan lagi padahal saya kerja. Stock ASIP masih sebegitu aja. Galau?

Yeah. Now, i feel it.

3. Begadang

Ini mah gak usah ditanya dan dijelaskan yah. Buat orangtua yang punya newborn baby pasti ngalaminnya. Alhamdulillah yah, Baby A sejak umur sebulan kalau malem boboknya anteng. Biasanya dari habis magrib dia tidur, terus bangun jam 10, yang kedua ntar sekitar jam 12, terus jam setengah 3 an ntar bangun lagi, sampek jam 5 kadang gak tidur.

Alhamdulillah… emaknya yang pelor ini masih bisa ngimbangin. Ngimbangin dengan kadang dia lagi nenen, saya tidur sambil duduk. Keahlian yang saya peroleh sejak mulai kerja dan sering ikut rapat. LOL.
4. Jatuh cinta setiap hari

No need to explain. Setiap orangtua (baru) pasti merasakannya. Ya kan? Dan heran sama jenis bentuk cinta yang ini. Mau dia jerit nangis dan bikin panik kaya apapun, mau dia bikin kita gak tidur semaleman, mau dia bikin payudara kita sakit dan ngilu sampe luka, kita gak pernah bisa untuk marah. 

Apalagi kalau dikasih tatapan mata dia…

Now, i feel it

***

Nduk, tulisan ini ibu buat untuk mengungkapkan rasa cinta ibu yang membuncah ke kamu. Mungkin akan banyak up and down dalam relasi hubungan mother – daughter kita nantinya, jika saat down itu datang ke kita, semoga tulisan ini menjadi pengingat bahwa kamu adalah anugrah terindah dalam hidup ibu. 

I love u, nduk.  Always.

Hei, Aska!

Jadi … begini ceritanya.

Mbak – mbak tukang drama yang punya blog ini telah menjadi emak – emak beranak satu. Officially tanggal 31 mei 2017 kemaren, mbak – mbak yang punya blog ini melahirkan buah cintanya ke dunia. Kebayang gak sih … mbak – mbak yang kalau kata dikung : mbak mbak galau ini jadi ibu. Ibu. Ibu loh ini. Mbak mbak yang 8 tahun yang lalu memulai blog ini, yang ngegalauin kaptennya (remember him? Hahahahaha, iya juga yah … apa kabar tuh orang? Update terakhir sih udah punya anak satu). Yaudahlah yah, balik lagi ke headline postingan ini : MBAK MBAK DRAMA QUEN YANG PUNYA BLOG INI UDAH JADI IBUK!!!

Perkenalkan, namanya Adzkiyya Maheswari Junianto (biar besok kalau kamu googling namamu, blog ibumu ini muncul, nduk. Hehehehehe). 


Mau cerita darimana yah soal si kecil ini? Cerita dari proses melahirkannya saja yah.

Jadi, setelah hari kesekian saya cuti … belum ada tanda tanda si dedek mau keluar dari perut. Padahal saya cuti udah saya bikin mepet sama due date. Seminggu sebelum due date saya baru cuti. Karena belum ada tanda mules atau apapun, 3 hari sebelum due date saya masih balik ngantor lagi. Nyelesein sedikit tanggungjawab yang belum selesai.kebayang kan dengan perut gede dan hidung yang juga besar, saya masuk kantor. Otomatis itu temen temen kantor pada nanyain ngapain saya masuk kantor lagi. 

Saya bilang aja, saya pusing di rumah nungguin mules. Kalau di kantor kan enak, gak kepikiran. Karena tenaganya kepake buat mikirin kerjaan. Setuju? 

Di hari due date dan perkiraan umur kandungan 40 weeks, saya pergi ke dokter saya. Itupun masih nyetir sendiri, ditemenin sama ibu mertua. Nyampek di rumah sakit, setelah nunggu antrian dan ditensi plus ditimbang (totally saya naik 15 kilo aja dong di kehamilan yang menginjak 40 weeks itu), saya ketemu sama dokter kandungan yang mungil dan cantik dan jadi idola mas suamik (hahahahaha, kudu yah ditulis).

Pas di USG, bu dokter bilang kalau kondisi kehamilan saya menderita plasenta previa. Yang mana, plasenta si kecil nutup jalan lahir. Di usia 40 weeks. 

Panik? 

Banget. Lahwong beberapa hari sebelumnya saya periksa ke dokter kalau semua baik baik saja, bahwa perjalanan kehamilan saya menunggu mules. Tapi memang beda dokter  sih. 

Jadi, memang saya menggunakan jasa dua dokter kandungan.

Kenapa is? Simpel sih alesannya. Yang satu dokter dari jaman saya gadis. Tapi beliau bekerja di rumah sakit umum, which is saya harus bayar kalau konsul ke dia.

Yang satu dokter baru dari rumah sakit kantor. Baru praktek di rumah sakit kantor di usia kehamilan saya sekitar 5 bulan. 

Yang gratis vs yang bayar.

Tahu dong, sebagai kaum kelas penggemar gratisan dari jaman dulu saya milih jasa dokter yang mana. Sudah jelas yang dokter dari rumah sakit kantor. Dokternya asik, masih muda dan membuat nyaman kalau konsul ke dia. Apa aja bisa saya tanyain. Tapi sayang, rumah sakitnya untuk pelayanan agak membuat saya kudu sesabar mungkin.

Tapi saya masih tetep ke dokter dari jaman saya gadis itu. Alesannya: karena pelayanan rumah sakitnya enak, cepet, ga banyak ngantri juga.

Nah, sebelum konsul 40 weeks itu, saya konsul ke dokter yang rumah sakit umum. Dia bilang semua baik – baik saja. Saya tinggal nunggu mules. Makanya saya kaget banget waktu tau ternyata kepala janin saya belum masuk jalan lahir, malah plasentanya yang masuk di jalan lahir. Diputuskan untuk SC hari itu juga, dikarenakan ketuban saya sudah keruh. 

Panik dong. Udahlah berangkat ke rumah sakit berdua mertua, masih nyetir sendiri. Mana ada persiapan mau operasi. Nego sama bu dokter yang cantik. Akhirnya saya diijinin pulang setelah cek kondisi jantung si kecil masih bagus. 

Pulanglah saya dengan kalut dan menahan tangis. Nyampek rumah, saya telponlah ibu saya sambil lagi lagi menahan tangis. 

Akhirnya setelah episode drama dan air mata serta diskusi dengan mas suamik, kami sepakat kalau si kecil akan lahir melalui operasi SC. Masih sesungukan tuh saya. Alesannya yang pertama; mungkin sama kaya alasan ibu ibu hamil lainnya yang pengen banget melahirkan dengan normal. Apalagi saya sempet banyak baca soal gentle birth. Dan memang diniatkan untuk melahirkan normal. Makanya saya banyak jalan, banyak jongkok, banyak nungging di bulan bulan terakhir kehamilan. 

Alasan berikutnya simpel sih. Saya takut dioperasi. Saya takut ngebayangin ada pisau bedah ngoyak ngoyak badan saya. Apalagi yang diceritain temen temen yang pernah SC agak cukup seram juga. 

Dan jujur, saya merasa ‘kalah’ kalau SC. Karena gak bisa dipungkiri, masih banyak orang yang menganggap ketika melahirkan dengan SC itu bla bla bla, begini begitu. 

Di malam sebelum saya operasi, saya menemukan sebuah video acara talkshow, saya lupa nama acarany apa. Tapi kata – katanya saya inget banget “tujuan dari kehamilan kan bukan melahirkan normal, melainkan melahirkan bayi yang sehat. Dan juga ibu yang sehat”

Akhirnya, saya menenangkan diri saya dengan mantra mantra positip. Yasudahlah, terserah orang mau bilang apa tentang proses melahirkan saya yang ‘tidak hebat’ ini. Toh nyatanya memang  kondisinya tidak memungkinkan saya untuk melahirkan normal. Segala jenis mules dan kontraksi yang digadang gadang orang ketika hamil besar sama sekali gak saya rasakan. Disitulah saya semakin cinta sama bayi saya; dia tahu ibunya memiliki toleransi rendah terhadap rasa sakit. Disuntik anestesi aja saya meringis dan mau turun rasanya dari meja operasi. Hahahahahaha

***

Di malam menjelang operasi, mas suamik megangin tangan saya dan ikut berbaring di sebelah saya. Malam itu udah gak pake nangis lagi saya nya. Udah lebih ke arah pasrah. Pasrah dan gak sabar mau ketemu si  kecil yang sering nendang-nendang itu. Saya heart to heart sama mas suamik menceritakan semua kegelisahan saya. 

Operasi dijadwalkan pukul 08.00 pagi, dan saya baru tidur pukul 02.30 dinihari. Pukul 06.30 saya dibangunkan untuk ditensi. Kemudian datang dokter anestesi saya. Si dokter mencium aroma panik saya. Beliau ketawa dan bilang, “tenang aja bu, SC tuh enak kok. Besok besok pasti ketagihan deh”

Cukup menenangkan.

Tapi kan itu yang ngomong dokter. Sama kaya pedagang makanan, semua yang dia jual dia bilang enak. 

Pukul 08.10 saya digiring ke kamar operasi. Mau masuk kamar operasi, suami saya lari – lari. Saya cium tangannya, dia disuruh susternya nyium saya. Dan yang dia cium perut saya dong. Bukan jidat saya atau bibir saya. 

Dasar laki laki.

Harapan saya sih sebenernya setelah melihat foto mbak NR yang habis SC dan ada suaminya mendampingi, saya kira mas suamik boleh ngedampingin saya di kamar operasi. Ternyata gak boleh. Hiks.

Udahtuh, saya masuk kamar operasi. Perlu diceritain gak detailnya? Detail bagaimana saya berbaring telanjang di hadapan banyak orang? Detail bagaimana saya mati-matian milih dokter cewe biar ‘daleman’ saya gak dilihat pria lain dan ternyata di ruangan operasi isinya banyak pria. Detail bagaimana saya gak berhenti dzikir, menyebut nama Allah dikarenakan saya ketakutan setengah mati. Detail bagaimana saya merasa sendiri dan terasing di ruangan operasi yang dingin itu. Detail bagaimana saya mendengar ketuban saya dipecah dan tidak lama saya mendengar suara tangisannya, 

Si bidadari kecil saya.

Adzkiyya maheswari junianto.

Si bidadari surga yang cerdas dari keluarga junianto.

Tangisannya keras. Saya terharu. Di detik saya mendengar tangisannya saya menitikkan air mata. Entah kenapa. 

Lalu tersusunlah dengan manis, bagaimana si kecil akan menjadi teman baik saya. Kami akan shopping bareng, nongkrong bareng, dia akan menjadikan saya sahabat terbaiknya. Dia akan melewati hal – hal menakjubkan sebagai seorang wanita,  yang sudah saya lewati. 

Sisi drama saya ternyata masih kental. Bahkan di meja operasi.

Tangisannya keras sekali. Saya sempet nanya sama dokter yang lagi obok obok perut saya

Saya : dok, itu suara anak saya yah?

Dokter : iya. Kenapa mbak,

Saya : kenceng banget yah dok

Dokter : iya, dia nangis karena untuk pertama kalinya dipisah dari ibunya. 

Saya terharu. Ada yang menangis sekeras itu karena berpisah dengan saya. Kan. Drama.

Gak lama saya denger tangisannya, ada suster datang membawa bungkusan  kain hijau yang ternyata si bayi; “bu, selamat yah anaknya perempuan *dibuka kaen pembungkusnya, dikasih liat alat kelaminnya* semuanya lengkap yah buk, tangan, kaki dan jari jarinya. Telinga juga.”

Lalu si kecil ditaruh di dada saya. Dan saya melihat sendiri gimana dia merayap berusaha mencari *maaf* puting susu saya dan menghisapnya

Walaupun moment itu hanya beberapa menit (karena ruang operasi kan dingin banget yah, jadi si bayik gak boleh lama lama di dalem ruang operasi), saya langsung jatuh cinta se cinta cinta nya sama bayi saya itu.

Dan, perlu diketahui bersama. Ternyata itu baru awal. Setiap harinya sejak hari si kecil dilahirkan, rasa cinta itu bertambah.

Lagi dan lagi, lagi dan lagi.

Saya merasa tidak pernah mencintai orang dengan cara seperti ini.

Tapi. Tahu apalah saya.

Saya emak emak baru. Baru tahu rasanya punya anak.

Haru. Biru. Syahdu.

So. Hai, aska. Selamat datang di dunia. Mungkin ibu mu ini akan banyak bercerita tentang kamu, tentang rasanya memiliki kamu. Mungkin juga tidak. Tapi yang pasti … kamu itu anugrah terindah ibu. Sehat terus, nduk. Kita sama sama belajar yah. Semoga doa doa yang orang – orang panjatkan di hari kelahiranmu dikabulkan.

Aamiin

***
Ps : nduk, saat kamu baca tulisan ini…. mungkin kamu sudah besar yah. Maaf yah nak untuk segala drama ibumu ini. Kamu tahu ibu sayang selalu sama kamu.

working or stay at home?

Ini bukan sebuah pilihan yang bisa diajukan kepada saya saat ini. Kenapa? Yah simpelnya sih karena saya belum jadi ‘mom‘ baru ‘mom-to-be’ gitu deh. 

Dulu, jaman masih kuliah … saya punya impian menjadi stay at home mom yang bisa beraktualisasi diri dengan menulis (hahahahaha), dan ngajarin anak sendiri lewat homeschooling. Dan setelah beberapa tahun kemudian, saya menyadari bahwa hal itu sangat …. ehm … sangat apa yah namanya. Kok menjadi sangat jauh dari kenyataan yah.

hahahahahaha. 

Berbicara soal kenyataan, saya pernah melakukan pembicaraan ini bersama seorang kawan di kantor,

her : mbak udah beliin buku buat si dedek yang di perut? *muka heran*

Me : *tersipu malu* habis … bukunya lucu lucu. Aku baru beli 2 kok.

her: iya, tapi jangan yang kisah putri putrian yah, nanti jadi tukang ngayal kaya emaknya. 

Me : *merenung, merasa bersalah. Karena udah dua minggu baca serial Kiera Cass yang the selection*

Her : kadang kan kenyataan tidak sesuai sama harapan

me: tapi bukan berarti gak indah kan?

Her: hah?

Me : iya, ketika kenyataan tidak sesuai dengan khayalan ataupun harapan, bukan berarti kenyataan itu gak indah kan?

So, saya benar benar meresapi kata-kata itu. Karena nyatanya … hal-hal yang ada di dalam hidup saya saat ini sebagian besar adalah hal-hal yang gak pernah saya bayangkan. Tinggal di Jakarta, menghabiskan separuh hari lebih di kantor, tinggal di pesisir jakarta dengan rumah tanpa halaman, punya kartu kredit lebih dari satu, yah hal-hal lainnya lah.

namun apakah semuanya gak indah? Let’s say … gak selamanya juga saya mengatakan hidup saya indah, penuh bunga dan bla bla nya. Adalah beberapa moment dalam hari-hari saya, saya merutuki keadaan (apalagi kalau udah dikejar-kejar deadline dan hal lainnya yang menyebalkan). Tapi saya percaya, perasaan tidak puas itulah yang membuat kita tetap bergerak, yang membuat kita tetap berusaha. Berusaha untuk mengubah semuanya menjadi lebih baik. Ya kan? Ibarat mobil, hal-hal menyebalkan itu seperti pedal gas yang diinjak; membuat kita melaju. 

Ya gak sih? 

Well… at least for me begitu sih. 

Jadi ketika ada pertanyaan stay at home atau working mom? Saya mah gak punya kapasitas buat menjawabnya baik dari segi akademis dengan segala teori, maupun dari segi pengalaman. Maklum, anak kemaren sore. Masih piyik dalam hal begini. Saya gak bisa memutuskan mana yang lebih baik. Silahkan dicari jawaban dari sumber lainnya  (hahahahahaha)

namun satu yang saya percaya … apapun yang menjadi pilihan para mommy di luar sana, adalah pilihan yang membahagiakan buat dirinya sendiri dan juga keluarga. Kenapa penting buat dirinya sendiri? Karena saya percaya, dalam sebuah rumah (tangga), perasaan ibu adalah segalanya. Ketika seorang ibu/istri stress, maka sekeluarga akan stress. 

Dilanjut lain waktu ya, kawans. Makmil ini udah ngantuk. 

nak,

Jadi begini nak, ibumu malam ini sedang duduk manis … meluruskan kaki bengkak setelah seharian jadi pejuang korporat. Ah, kamu pasti bertanya …. apa itu pejuang korporat. Nanti yah nak, ibu jelaskan saat kamu sudah cukup memahaminya. Let’s say …. 20 atau 30 tahun lagi, hahahahaha

Ibumu terinspirasi dari seorang kawan di media sosial. Dulu, dia adalah idola ibu. Kenapa? Karena dengan gaya nyinyirnya yang menyebalkan dia mampu membuat dunia sosial media ibu menjadi lebih berwarna. Namun belakangan ini gaya nyinyirnya sudah berkurang. Akhirnya ibu mempertanyakan hal itu. Kenapa kamu berubah? Dan dia menjawab bahwa dia takut nanti gaya nyinyirnya dibaca oleh anaknya.

Lalu ibu terdiam. Ya ampun, nak. Ibu panik. Bagaimana jika kamu nanti menemukan blog ini? 

Sebelum pikiran – pikiran ibu merajalela tidak tentu arah, ada baiknya ibu meminta kamu untuk membaca postingan ini terlebih dahulu. So, ingat pesan ibu. Baca postingan ini terlebih dahulu sebelum kamu membaca semua postingan ibu sebelum sebelum ini. 

Nak, usiamu di perut ibu menginjak 32 minggu… itu artinya sekitar beberapa minggu lagi kalau semua berjalan lancar dan atas ijin Allah, kamu akan lahir ke dunia ini. Dunia yang penuh warna dan keajaiban. Ah pasti akan tambah berwana dengan adanya kamu nanti. 

Ibu minta maaf yah nak, selama kamu di perut ibu … ibu banyak melakukan hal – hal yang seharusnya tidak ibu lakukan. 

Ibu masih suka makan mie instan yang enak itu, kadang masih suka nyicip nyicip kopinya ayah, terus ibu juga jarang minum vitamin yang dokter kasih, ibu juga bandel masih suka lembur sabtu – minggu, kadang juga masih suka diajakin ikut rapat dan ngerjain kerjaan sampe malam (dan kok yah herannya kamu kaya seneng – seneng aja yah nak diajak rapat gitu), 

ibu bahkan males browsing browsing untuk makanan yang baik untuk ibu hamil (bayangkan, mencarinya saja malas, apalagi menerapkannya!). Dan jangan lupakan acara garuk – menggaruk di tiap malam menjelang tidur yang seharusnya tidak ibu lakukan, tapi masih saja ibu lakukan sampai sampai kulit kaki ibu luka – luka.

dan ….  Maafkan atas semua sampah yang ibu makan, nak. 

terus yah nak … maafkan ibu, kadang ibu masih suka menggerutu dan kesel sama orang, apalagi sama tante-tane dan oom-oom di kantor kalau tiba – tiba mereka ngeselin (ah, nak … separuh hari ibu dihabiskan di kantor, maafkan ibu yah atas keterbatasan interaksi sosial ibu ini. Entah kenapa, sejak ada kamu di perut ibu, yang ingin ibu lakukan adalah pulang ke rumah dan mengajak kamu mengobrol…). Bahkan kadang ibu masih suka ngomel ke ayah soal hal kecil yang luput dari ayah.

ibu juga minta maap kalau tiap akan tidur malam, yang ibu lakukan adalah membaca buku novel – novel kesukaan ibu, bukan buku – buku parenting yang sudah ibu beli itu. Bahkan niat membacakanmu dongeng kadang menguap begitu saja saat melihat cover novel kesukaan ibu.

namun nak, ibu tak pernah lelah mengajakmu mengobrol, mengajakmu bercerita dari dulu. Mengajakmu mendengarkan lantunan ayat suci, atau mengajakmu belajar tentang indahnya karakter manusia.

nak, ibu selalu berdoa agar engkau menjadi anak yang pintar membawa diri, anak yang menyenangkan, anak yang mencintai agama dengan bijaksana, anak yang mandiri dan memiliki pendirian kuat.

dan jikalau dalam perjalanannya nanti engkau merasa apa yang ibu lakukan atau katakan kepadamu sudah terlalu membuatmu lelah, sudah terlalu membuatmu jenuh, sudah membuatmu menjauh dari ibu, ingat satu hal nak: ingatkan ibu. Ingatkan ibu bahwa kamu adalah titipan. Bahwa kamu adalah milik Sang Maha Pemilik. Yang ibu inginkan hanyalah yang terbaik untukmu, tanpa mengurangi sedikitpun kebahagianmu.

pada akhirnya nanti kamu akan mengalami semua drama dalam tulisan – tulisan di blog ini. Ataupun tidak. Ibu memilih kamu tidak mengalaminya. Itulah alasan ibu (mungkin) akan sedikit menjauhkanmu dari segala hal berbau putri – putri an. Atau cinta – cinta an yang cengeng. 

Atau ….

entahlah nak. Ibu bingung apa yang harus ibu lakukan nanti. Yang pasti … i knew i love you before i met you. I do.

Love you,

ibu

ps: besok besok ibu lanjutin lagi yah nak. Mata ibu sudah ngantuk sekali. 

kenapa kamu

Iyah. Aku juga bingung. Kenapa kamu, diantara pria – pria ngapak  sak jakarta raya, aku memilihmu menjadi teman hidupku? Eh apa kamu yang memilih aku? Ah. Sudahlah, alam semesta memilih aku dan kamu menjadi kita. 

Kenapa kamu? Iya, kenapa kamu si pria dengan senyum memabukkan itu yang berhasil mencuri jeda dalam kekosongan hatiku setelah berulang kali hancur? Kenapa kamu?

Dan juga, kenapa aku masih terus gemas terhadap cuping hidungmu? Walau banyak cuping hidung menarik lainnya, tapi cuping hidungmulah yang paling menawan untuk kugigit. Bagaimana bisa aku menahan diri selama ini untuk tidak menggigitnya? Aku pun heran.

Lalu kenapa kamu ? Pria penembang yang semakin rajin menembang di perutku, seperti mengajak si kecil dalam perutku untuk bernyanyi. 

Oh. Kamu dan musik dangdutmu, yang selalu mengajakku percaya bahwa dangdut itu menyenangkan. Kenapa kamu?

Setelah kupikir – pikir … iya juga, kenapa kamu … pria sederhana yang lembut hatinya namun tidak romantis ini yang mampu membuatku menelan sebagian besar omelanku? (Maaf sayang, hanya sebagian. Sebagian lagi masih kukeluarkan. Can’t handle it anymore.  ). Tapi setidaknya kita sudah membuat kemajuan dengan tidak adanya handuk basah di atas kasur (untukmu) dan tidak adanya ceramah rengekan tentang day off (untukku, tapi btw, sabtu depan beneran kamu gak bisa nemenin aku kondangan?)

Hmmmm… kenapa kamu si muka datar yang mampu membuatku nyaman dengan pilihan pekerjaanku, mendengarkan semua cita-cita dan impianku yang masih jelas menjadi angan – angan, masih menyambut dengan pelukan walau harus menerima kenyataan kalau aku harus lembur di tiap weekend, masih harua pulang lebih malam darimu?

Iya, kenapa kamu?

Ah. Aku pun tak paham.

yang aku pahami, semakin hari aku semakin jatuh cinta dalam kenyamananmu, semakin yakin bahwa memang kamu lah jawaban untuk doa-doaku selama ini. 

Cepet sembuh, Bapake 😙

***

Monolog malam ini dipersembahkan oleh makmil yang lagi galau dengerin teman hidupnya batuk batuk ga berhenti. Galau dan gak bisa tidur tepatnya.

Pak e, dimik ya obatnya. 

curhatnya makmil

Selamat Malam dramaLand,

Gak nyangka yah udah memasuki Tahun 2017, sudah ganti tahun (anggaran) lagi. Hahahahaha, maklum yah di Kantor saya juga kebagian ngurusin anggaran (walaupun gak se complicated orang keuangan, tapi tetep aja pergantian tahun berarti besar bagi catetan kami di sistem), jadi sedikit banyak pergantian tahun itu ngaruhnya besar juga di kehidupan Saya.

Demi untuk menghidupi blog yang (lagi – lagi) mati suri, malam ini saya niatkan untuk mencurahkan isi di hati. Lemesin jari – jari yang sehari – hari hanya bergaul dengan office dan oracle (*curhat detected).

Kegelisahan saya malam ini sesungguhnya dimulai dari diskusi yang saya dan kawan – kawan lakukan pagi tadi di kantor.

Oh iya, sebelumnya saya mau cerita kalau saya (Alhamdulillah) diberikan kepercayaan lagi oleh Allah  untuk hamil (lagi). Mungkin banyak yang belum tahu kalau saya pernah hamil dan keguguran (selengkapnya bisa dibaca di sini)

nah, di kehamilan ini jujur saya ngerasa campur aduk. Antara gak percaya, seneng (banget) sama bingung. Dan kalau boleh jujur … lebih banyak gak percayanya sih. Ntah yang lain merasakan atau tidak, tapi deep inside of my heart saya seperti merasa bahwa saya akan kehilangan dia lagi. seperti waktu itu.

Sama seperti saat akan menikah dengan Mas Suamik satu setengah tahun yang lalu, saat saya sudah dilamar olehnya, saya masih gak percaya. Saya masih suka bengong ngeliatin cincin yang dia kasih waktu itu. Saya masih gak percaya, diantara kegagalan – kegagalan saya dengan pria – pria sebelumnya saya akhirnya bisa menikah dengan pria idaman saya, pujaan hati saya yang sudah bersama – sama dua tahun lebih.

Inipun seperti itu. Setelah pernah gagal dan menunggu satu tahun, saya akhirnya mendapatkannya.

Makanya saya memilih diam.

Saya tidak memposting test pack saya, USG pertama si kecil, perut saya yang mulai membuncit, atau hal – hal yang menunjukkan kehamilan saya di social media.

Well, kan jaman sekarang rasanya kudu banget yah yang namanya posting (di socmed)  hal yang terkini dalam kehidupan sehari – hari.

Nah, ketakutan dan kegelisahan saya sangat terasa, apalagi kalau malam tiba dan suka tiba – tiba perut saya nyeri, kram, kenceng atau apapun itulah (dan setelah saya baca – baca dan konsul ke dokter, ternyata hal seperti itu wajar adanya), saya malah beberapa kali mimpi kehilangan si Dedek. Setelah beberapa kali USG si Dedek di perut Alhamdulillah baik – baik saja, malah terakhir dia terlihat happy saat diusg. Sampai – sampai saya gemas sendiri dan pengen terus menatap dia di layar monitor USG.

Tapi di luar itu semua, di hari – hari saya … saya merasa baik – baik saja.

Bersyukurnya, ternyata saya adalah tipe hamil yang gak neko – neko. Gak mual dan mabok yang parah banget, berat badan saya di trisemester pertama malah naik (sementara makmil – makmil di Kantor rata – rata curhat mereka 3 bulan pertama biasanya berat badannya turun), dan saya juga ga punya keinginan – keinginan khusus. Malah mas suamik yang kebingungan

‘dek gak mau mangga? Dek mau makan apa? Mau mik apa?‘ – itu adalah pertanyaan wajib mas suamik tiap malem.

yang biasanya saya jawab dengan lirikan mata dari atas kasur dan dari balik buku yang saya baca. Karena saya gak mau apa – apa. Saya hanya mau bergelung di balik selimut, dengan dia di dekat saya, memeluk saya.Udah. Itu aja.

Perubahan emosi? Nah ini. Selaen ketakutan yang saya ceritakan sebelumnya,  Saya jadi lebih gampang mewek. Jadi gampang ketawa. dan jadi gampang sebel sama orang (Astaghfirullah) Mood swing saya merajalela. Apalagi dengan keadaan kantor yang kadang full pressure, saya jadi gampang ngambek dan cemberut di kantor. Terus habis nyampek rumah, saya mewek di bahu (siapa lagi?) mas suamik.

Perubahan fisik? Ah jangan ditanya. Rasanya tiap kali nimbang saya yakin saya gak akan nambah lagi berat badannya. Tapi apa yang terjadi? Ternyata, tetep aja tuh berikutnya saya nimbang saya nambah berat badannya.

Jadi, sewaktu kemaren ketemu dengan sepupu saya dan dia bertanya apakah saya takut akan proses melahirkan, dan bagaimana rasanya menjadi hamil?

Maka pertanyaan itu menjadi pertanyaan yang terus menerus bergaung di pikiran saya. Karena jujur, saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu.

Saya hanya bingung. Sebegitu bingungnya bahkan ketika dokter berulang kali bertanya apakah saya mengalami masalah dengan kehamilan saya? Apakah ada hal – hal yang ingin saya ceritakan kepadanya. Dan jawaban saya hanya gelengan.

I’m good. I’m okey. Selain perut yang membuncit dan badan serta muka yang membengkak, saya tidak merasakan hal yang berbeda. Saya masih tetap si mbak ais, yang slebor itu, yang clumsy itu, yang hobi ngetwit kalau lagi bengong, yang hobi ngomel di kantor, masih si mbak ais istrinya Pak Arif yang gak bisa masak, dan kadang terlalu lelah untuk turun dari tempat tidur untuk mengambil remot TV, mbak ais yang hobi tidur, hobi nyuci baju (tapi males nyetrika), masih mbak ais yang doyan nimbun buku di bawah bantal.

Sekian curhatan emak – emak hamil yang sedang bingung akan keadaannya.

Sampai jumpa di postingan berikutnya yah.

Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca 🙂

See u when i see u…

seperti saat ini

Aku merindukanmu seperti saat ini,

saat aku bergelung dalam selimuat hangat dan hujan menangis turun mengiba di luar, seolah memahami permintaanku untuk kehadiranmu di sisiku

Aku mencintaimu seperti saat ini,

saat aku menyantap semangkuk mie rebus hangat dengan hujan turun di luar; kombinasi yang nyaman, memabukkan, tanpa rencana

apakah aku merencanakan hujan? Tidak, sayang. Aku hanya mampu meminta.

Seperti saat ini.

aku tidak merencanakan kehadiranmu. Aku tidak pernah merencanakan pria sederhana dengan tawa hangat yang selalu berbagi rencana masa depan, yang selalu membuatku merasa hebat. Pria dengan hati lapang yang membuatku terbiasa dengan kehadirannya, pemilik tatapan mata teduh yang tidak pernah berhenti membuatku tertawa dan meyakinkanku bahwa rencana rencana kami bisa kami wujudkan bersama. Pria yang meyakinkanku bahwa menikmati hidup bukanlah sesuatu yang sulit.

aku tidak merencanakan kehadiranmu.

tapi kamu datang, begitu saja.

Mengetuk keangkuhan diri, Meyakinkan kerapuhan hatiku, meruntuhkan kesombongan, merekatkan kepercayaanku lagi. 
Love you, calon Ayah 

****

Ps: lagi mellow, jauh dari suami, terus nemu foto ini di timehop. Ah.