Nervous

Well, kegugupan saya semakin menjadi. Seperti ada seseorang yang meletakkan kulit durian di kursi kantor, saya gak bisa duduk diam di kursi kantor.

Bahkan saya gak bisa konsentrasi mengirim email ke salah satu penyelenggara pelatihan.

I’m so damn nervous.

Sore kemarin, saya semacam terkena panic attack. Saya menangis, campur antara perasaan lelah, gugup, excited berlebihan, dan lainnya.

Bahkan saat menulis ini perut saya mules. Mules semules mulesnya mules. Jenis mules kaya kamu mau menghadap dosen pembimbing pas bimbingan tugas akhir, jenis mules pas kamu mau pendadaran, jenis mules kaya kamu mau wawancara kerja pertama. Jenis mules yang bikin kamu pengen bilang sama waktu ‘can you give me a moment? I just wanna take a deep, deep, deep breath’

Iya. Saya gugup banget.

Because it’s just 10days left …

“Kamu gak tahu keadaan yang sebenarnya”

Beberapa hari yang lalu, seorang kawan mengirimkan sms ke saya, ada kata – kata tersebut. Dia adalah orang yang dalam beberapa bulan terakhir merupakan duri dalam daging, belek dalam mata, kalau bisa dihilangin saya pengennya ngilangin dia dalam hari – hari saya. Malangnya, hidup gak semudah itu … ya kan?

Mungkin ini berawal dari kesalahpahaman antara saya dan dia. Instead of talk each other, we’re just talk about  another. So here’s the fact, kids: if u have problems with someone, talk to him. Kamu malah akan menambah masalah dengan menceritakan masalahmu ke orang lain, bukan dengan mereka yang bermasalah denganmu.

Gak, saya gak ngerasa paling bener dan nyalahin dia. Saya punya andil besar dalam masalah ini. Saya emang gak ngomong ke orang lain tentang masalah saya dan dia. Tapi saya menceritakannya kepada 300an follower saya. Hebat kan saya. Emang saya hebat.

Sampai akhirnya dia menegur saya dan bilang “kamu ga tahu yang sebenarnya”

Tapi pembelaan diri dari saya adalah: saat kamu ngerasa orang gak tahu keadaan sebenarnya, bukankah tugas kita menceritakan keadaan sebenarnya? Bukannya ngejudge dan malah melarikan diri dari masalah, menutup diri.

You know what? Sambil nulis ini saya terus terusan berkaca. Karena saya pun sering melakukan hal yang dilakukan dia ; menutup diri, menganggap diri jadi korban dan menutup mata dari keadaan sebenarnya. Sok bijak berkata “some words better left unsaid” dan tetap menyimpan prasangka di hati.

Mungkin, karma sedang mengajak saya bercanda. Wait, i mean … i don’t believe on karma. Tapi Tuhan Maha Adil, kan? Mungkin saya sedang dikasih pelajaran, bahwa menyimpan prasangka itu tidak baik.

Saat memandang suatu masalah, yang perlu kita pahami juga adalah bagaimana perasaan orang dan intensi mereka dalam masalah itu. Ya kan? Tapi, karena terlalu egois dan sibuk memikirkan kebahagian diri sendiri … we’re just forget about the other side.

So, kamu … iya kamu yang kemarin sms saya dengan kata kata itu, peluruku nyasar. Targetku bukan kamu. Targetku itu istri kamu, biar dia tahu semua “hal yang sebenarnya”

Hahahahaha… look… saya pun melakukannya ternyata!

Bercerita tentang pulang..

image

Heihooo….

Kawans, apa kabarnya di sana? Semoga selalu baik, selalu dalam lindungan Allah SWT ya :). Sebelum berpanjang panjang kata, ada baiknya mbak Ais Ariani mengucapkan Selamat Idul Fitri,

Semoga Allah menerima amalan dari kami dan darimu, juga diterima-Nya puasaku dan puasamu sekalian, serta semoga Allah menyempurnakannya. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali fitrah/suci & orang-orang yang menang. Aamiin.

Postingan ini entah terposting entah tidak, kita lihat saja nanti ya. Hahahahahaha. Soalnya saya nulis ini sambil senderan di kasur penginapan saya di Jogja, setelah menempuh perjalanan dari kampung halaman bapak sesorean tadi. Jadi setengah niat, setengahnya enggak.

Sebenernya saya mau curhat. Curhat soal perasaan saya tentang lebaran tahun ini yang saya lewatkan dengan mudik. Mudik beneran.

Kalau tahun lalu saya mudiknya ke kampung halaman orang (hahahahaha), tahun ini saya mudik ke kampung halaman bapak saya. Jaraknya enggak jauh sih. Lah iya saya bilang ga jauh. Lahwong tahun lalu saya mudik di perjalanan 28 jam. Sekarang total total perjalanan saya dari rumah ke kampung halaman bapak menghabiskan waktu kurang lebih 12 jam.

But… actually … jarak itu terkadang hanya kumpulan huruf yang terrangkai dalam kata jika kita mengaitkannya dengan konteks perasaan (aeh…). Tapi ini beneran. Kalau dikaitkan dengan perasaan, jarak tuh kaya huruf k dalam kata knife di bahasa inggris. Ada, tapi ga disebut pas pengucapan. Antara nyata dan enggak gitu deh. Yakan.

Tapi kalau jarak dikaitkan dengan ongkos yang kita butuhkan untuk memperpendek jarak, baru dah jarak itu bagaikan badut dufan di dufan. Tak terpisahkan. Nyata.

Udahlah, mbak ais ini ngebahas apa sih sebenernya.

Kembali ke soal perjalanan kali ini. Ini pertama kali saya mudik sejauh jarak Jakarta – Ende. Iya. Jaraknya emang sejauh itu. Saya harus minimal satu kali transit kalau mau sungkem sama orangtua saya. Gak sejauh jakarta – new york. Tapi buat anak yang lahir, besar, sekolah, cari duit dan cari jodoh di pulau jawa, jarak jakarta – ende itu jauh.

Sejauh itu sampai saya menghabiskan dua buku bacaan di perjalanan. Sejauh itu, sampek sampek saya ketiduran dan nyaris ketinggalan pesawat saat transit di kupang(itu kejadian sedih banget deh … saya diteriakin di gate sama petugas gate nya, koper2 saya diturunin dari pesawat kirain saya gak jadi naik, pesawatnya -yang ATR pakek baling – baling itu- uda mau muter baling – balingnya. Pokoknya sedih dan malu banget saya. Saya dalam setahun ke depan gak mau deh ke kupang lagi)

Sejauh itu, sampek duit THR saya separuh lebihnya teralokasikan ke tiket. Sejauh itu, sampai nomor saya yang satu itu gak dapet sinyal. Sejauh itu, sampek pas uda nyampek bawaannya males buat balik (tsah, gaya banget. Padahal kalau suruh tinggal di sana saya garuk garuk tanah juga. Gak ada gramedia atau toko buku besar semacam itu…),

Pokonya jauh deh. Kalau masih di tanah jawa, mungkin jauhnya masih bisa dipikirin sama saya.

Makanya, kadang saya mikir juga … ibu saya ini ibu yang luar biasa sekali. Meninggalkan tanah kelahirannya, tempat ia hidup, meninggalkan anak – anaknya untuk ikut suami yang berbakti pada tanah kelahirannya.

Terus… saya sebenernya mau nulis kalau saya lagi galau. Suddenly saya dihinggapi perasaan luar biasa rindu, luar biasa ingin kembali ke ende, di tengah tengah mereka. Padahal … sebagai anak yang sering kelayapan tinggal sendiri dan jauh dari keluarga, saya gak begitu dekat sama keluarga. Ya karena saya terbiasa dengan ketidakadaan mereka di sekeliling saya. Sehingga saya lebih sering mengandalkan teman teman saya yang ada di sebelah saya.

Tapi menghabiskan waktu lebih dari 3 hari bersama keluarga saya; saya seperti menemukan kepingan hilang yang tidak saya sadari. Kebiasaan ibu saya yang always bangun pagi, kebiasaan bapak saya yang kalau makan maunya ditemenin, kebiasaan kakak saya yang punya sejuta cara buat bikin saya kesel (masih loh! Termasuk nakut nakutin saya pake ayam ayamnya bapak saya di kebun belakang. Please deh, padahal dia udah punya anak!), huru hara kita saat kita mau pergi (padahal perginya cuman ke pantai depan rumah, tapi hebohnya kaya mau nyebrang pulau), kegemaran kita akan ikan dan jagung,

Tuhkan… saya mau nangis.

Sendirian di kamar ini sekarang …  padahal rasanya baru kemarin saya sama mereka bakar – bakar jagung di kebun belakang, saya nonton hebohnya keluarga kecil kakak saya masang tenda di kebun belakang, baru kemarin saya ribut sama kakak saya rebutan spot sofa di ruang belakang yang enak dipake tidur siang,

Mungkin memang begitu. Kadang kita lupa apa yang hilang saat kita menemukannya, dan sialnya kita sadar kita menemukannya saat itu sudah berlalu.

Jadi, inti tulisan ini apa sebenernya?

Teman

Lima belas tahun yang lau, saya sempurna menuliskan kalimat perpisahan di year book wanita ini. Dia teman sekelas, selalu duduk di barisan paling depan, dan saya selalu tiga baris di belakangnya. Baju ketat, dan selalu membawa organizer kesayangan. Teman mainnya kece – kece. Saya, si cupu berkawat gigi ini beda teman gaul lah. Dia dan ekskul majalah sekolahnya, saya yang setia dengan teater dan silat saya.

Satu bulan berlalu begitu saja sejak perpisahan sekolah itu, sampai akhirnya saya dan dia bertemu di lapangan upacara salah satu SMA Negeri di Jakarta Pusat. Senang bukan kepalang, diantara wajah wajah asing ternyata masih ada yang dikenal. Perasaan minoritas dari sekolah swasta membuat kami yang dulunya gak deket jadi akrab. Akrab pake banget. Satu bangku, satu genk, satu temen nongkrong, sekali cabut … ya cabut bareng.

Namun masa muda hura – hura kami ternyata harus berakhir, karena orangtua saya memutuskan mengirim saya untuk melanjutkan sekolah di daerah. Kembalilah kami sempurna mengucap pisah.

Lucunya, tiga tahun kemudian kami seperti dipaksa takdir untuk bertemu lagi. Di halaman koperasi mahasiswa kampus kami bertemu lagi. Saya dengan motor astrea grand, menjemput dia si anak jakarta yang kuliah di Jogja. Gedung kuliah kami berhadapan, dia dari jurusan populer, saya si jurusan minoritas. She’s always on right track. Sempurna menyelesaikan kuliah 4 tahun, having great relationship with mr. Right yang akhirnya membawa dia memasuki kehidupan pernikahan enam tahun lalu. Atau tujuh. Ah saya lupa.

Setelah lulus kemudian menikah, dia kembali menjadi mahasiswa lagi. Kembali ke Jogja lagi, dan menyatakan rela menjadi teman serumah saya. Dan kita semakin berbeda tentunya. Dia dan kehidupan kuliah S2 nya, saya si mahasiswa begajulan yang (katanya) berkutat dengan skripsi.

Jam10 malam dia pasti sudah masuk kamar, menelpon suami, dan tidur cantik. Sedangkan saya jam 10 malam baru mau keluar, cari makan. Sambil cari masalah. Hahahahaha.

Jangan ditanya konflik yang kita hadapi. Banyak. Dari kebiasaan harian, sampek kenyataan dia masih mengandalkan motor butut dan kerelaan hati saya untuk antar jemput dia. Ah. Kenangan yang banyak sebenarnya.

Gak, dia bukan best friend yang selalu ada di hati, selalu hadir dalam tiap chapter hidup saya. Bukan. Malah kadang … kita menghilang dari kehidupan masing – masing. Perbedaan tahap kehidupan kita yang kadang membuat kita sulit menemukan kesempatan bertemu.

Tapi, dia adalah salah satu teman terbaik yang tidak pernah membicarakan kejelekan saya di belakang saya. Kalau sekadar membicarakan saya mungkin sering … seperti saya yang jutek banget jaman kita serumah dulu, kisah cinta saya yang official maupun unofficial, pasti pernah dia bicarakan dengan yang lain (karena saya pun sering begitu! Hahahahaha), tapi seiring berjalannya waktu .. saya semakin sadar bahwa menemukan teman seperti dia akan lebih sulit jadinya.

Teman yang tidak pernah percaya opini publik tentang saya, teman yang akan meluruskan prasangkanya tentang saya, teman yang selalu kembali dan mencoba mengurai benang yang kusut setelah sekian lama tidak berjumpa.

Saya pernah mengalami kehilangan teman berulang kali, dan berulang kali berprasangka akan kehilangan dia. Namun tiap kami kembali … waktu dan cerita yang hilang seperti kembali terrangkai lagi. Saya tidak berekspektasi bahwa kami akan jadi best friend forever, tapi saya berharap bahwa saya tidak perlu lagi merasakan sakitnya kehilangan teman. lagi.

But hei … we don’t lose friend, we just learn who the real ones are. Ya kan?

Lagian … yang hilang tak kan kembali, Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik. Ya kan?

image

Me and her

***

Ps: yang nulis lagi galau pertemanan. Lagi. Iya, lagi.

Ah.

Ah
Kepada tiap mereka yang selalu merasa dipojokan karena keadaan. Jangan pernah menyerah. Tuhan selalu punya rencana terbaik bagi kaum Nya.

Ah.
Bahkan, Bang Chris Martin yang hebat pun pernah merasakannya. Ia sempurna menyanyikannya dalam bait when  you try your best but you don’t succeed

Ah.
Baca saja rangkaian cerita yang dibuat oleh Tere Liye dalam rembulan tenggelam di wajahmu. Bagaimana si wajah menyenangkan membuat Rae tergugu dengan kalimat ‘… begitulah kehidupan. Ada yang kita tahu. Ada pula yang tidak kita tahu. Yakinlah, dengan ketidaktahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri’

Ah.
Sudahlah. Kita tidak lahir di dunia untuk menyenangkan hati semua orang. We can’t please everybody. Di saat usaha terbaikmu malahan masih membuat mereka merasa kurang.

Ah.
Hidup ini merupakan kumpulan rutinitas yang terkadang membuat kita lupa untuk bahagia. Bagaimana kamu bisa lupa untuk bahagia? Mungkin karena kamu terlalu sibuk berprasangka, terlalu sibuk berhitung lelah. Kenapa tak kau rebahkan saja lelahmu. Bersandar pada rasa syukur.

Ah.
Sudahlah.

Dear Ka,

Hei kamu, sudah lama kita tidak mengobrol, sudah lama tidak saling menatap jauh ke dalam  mencoba mencari makna satu sama lain. Ah tidak apalah, toh dulu dari awal aku dan kamu memulai ini semua, kita sama sama mengetahuinya bahwa aku dan kamu tidak akan menjadi kita. There always be you and me, not us.

Bagaimana kehidupanmu?

Bukan, bukan soal pekerjaanmu yang makin menyibukkan hari harimu yang aku tanyakan, bukan juga soal rekan kerjamu yang semakin mengganggumu, atau soal rencanamu ke rinjani akhir tahun ini. Tapi soal hidupmu. Pencarian jati dirimu, yang pernahkamu ceritakan padaku dulu.

Di bilangan umur yang tidak lagi muda dan kehidupan karirmu yang tidak meningkat, pernah kamu mencurahkan kegelisahanmu akan hidup. Ah tapi waktu itu kita tidak pernah membahasnya mendetail, karena selalu ada hal yang lebih penting yang kita bahas. Bukan begitu?

Ka, hidup aku belakangan ini berjalan luar biasa. Masih ingat pria yang sering kuceritakan padamu dulu? Iya, pria yang dulu selalu kamu sebut sebagai lelaki tak percaya diri, lelaki lemah yang tidak berani untuk melamarku. Berita baiknya, dia berani melamarku, Ka.

Tanpa aku paksa, tanpa aku ancam. Itu terjadi begitu saja.

Dan, persis seperti yang orang orang pernah katakan di saat kegelisahanku tak kunjung berani untuk menikah, hal itu aku rasakan saat bersamanya.

Tahukan … jenis jenis ketakutan yang selalu aku ceritakan kepadamu. Takut aku tidak pernah punya kebebasan saat menikah, takut suamiku tidak bisa menerima aku yang tidak pandai memasak, takut kehidupan pernikahanku berjalan membosankan, dan ketakutanku yang utama adalah takut suamiku memiliki kelakuan sepertimu, Ka … termasuk dalam pria pria yang tidak cukup hanya dengan satu wanita.

Hal terakhir cukup menghantuiku. Seperti yang sering dulu aku ceritakan kepadamu soal ketakutanku yang itu, aku selalu menyebut semua pria sama saja. Ah … ketakutanku beralasan, kamu tahu itu. Walau hanya sejenak waktu yang kita lewati bersama, tapi aku rasa kamu cukup memahami kenapa aku takut mempercayai pria lagi. Pengalaman tidak bisa dihilangkan, bukan begitu?

Dan mengenalmu, bersamamu, malah semakin menjadikan ketakutanku sebagai alasan aku ragu melangkah, selalu mengacaukan hubungan hubunganku dengan lawan jenis. Lembaga pernikahan semakin kabur saja saat aku dan kamu memasuki labirin perasaan kita. Aku sebut labirin, karena aku pernah kesulitan untuk keluar dari perasaan bodoh itu, hahahahaha…

Ah sudahlah, yang terjadi di antara kita waktu itu sudah kucoba lupakan. Kujadikan saja potongan potongan kejadian saat kita bersama menjadi satu bagian dalam hidup yang mungkin akan kurindukan, tapi tidak akan ingin kuulangi lagi. Bagaimana mungkin kuulangi lagi, menjadi hanya persinggahanmu dalam kebosanan hidupmu?

Baiklah, Ka. Kembali ke pria itu. Saat akhirnya pria itu melamarku, aku seperti menemukan jalan yang hilang. Aku seperti menemukan kompasku untuk berjalan menghidupkan kembali cita cita dan impianku yang tertimbun rutinitas.

Dan … ketakutan ketakutan itu hilang begitu saja saat dia menggenggam tanganku dan berkata; “kebahagian itu adalah pilihan. Dan aku memilihmu untuk bahagia”

Dia jauh dari sempurna. Kami tidak sempurna, kami hanya dua anak manusia yang berusaha melangkah bersama, saling menghargai keinginan dan kebiasaan masing masing. Bukankah adalah sebuah kebahagian ketika kita memiliki orang yang mampu membuat hidup lebih indah, membuat kita bisa lebih menikmati hidup?

Puzzle kehidupanku belum sempurna terrangkai, Ka. Aku belum memahami maksud Tuhan mempertemukan kita dulu. Tapi yang aku tahu pasti, terimakasih karena pernah lewat dalam kehidupanku.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di depan nanti, apakah priaku ini akan berubah menjadi seperti jutaan pria di luar sana, kita lihat saja nanti.

Toh hidup adalah proses yang tidak akan pernah berhenti. Di tiap helaan nafas kita, akan selalu ada harapan.

***

Done. Satu tulisan lagi. Jauh dari harapan sih,  tapi setidaknya saya mencoba membuat postingan. Hahahaha. Selamat hari sabtu, temans.