Sesak

Aku terkapar oleh rasa yang menggebu ini. Seperti dikelilingi oleh harap pada jutaan imaji, aku pun berusaha menuntaskan tiap kewajibanku.

Hanya saja, tuntutan tanggungjawab ini semakin menjadi di tiap harinya. Aku seperti dikejar dalam labirin panjang yang tak jua kutemukan jalan keluarnya.

Sampai sampai mulutpun lelah untuk mengeluh. Karena keluhanku bagaikan repitisi yang membuat orang lelah. Lalu apa gunanya aku jika hanya membuat orang lain jengah?

Mimpiku sederhana, kawan. Aku hanya ingin bahagia. Dan … aku hanya ingin kehadiranku akn membuat orang lain bernafas lebih mudah.

Namun nyatanya mewujudkannya jauh dari kata sederhana.

Dewasa tidak melulu soal umur. Tidak melulu bicara mengenai berhenti galau. Tidak melulu berbicara mengenai politik, perdamaian dunia, atau apapun yang mereka siarkan dalam berita. Dewasa juga tidak melulu soal berhenti menyakiti dan berhenti menyalak.

Terkadang, dewasa mengenai tanggungjawab. Terhadap hidup.

Bukan berhenti di memaknai hidup.

Aku sesak, oleh tiap rutinitas yang memburu ini. Jeda sesaat pun ternyata tidak mengurangi sesak. Mungkin yang harus diubah adalah cara memandangku terhadap ini semua. Aku hanya anak kemarin sore yang belajar mengenai rutinitas. Tau apa aku mengenai ini semua?

Terkadang rindu

Aku tidak pandai beranalogi, hanya saja aku suka beranalogi

Seperti dia yang pernah kupanggil Pagi. Bukan karena ia adalah manusia pagi yang selalu menyapa mentari.

Aku bahkan tidak pernah mendapatkan sapa darinya sebelum pukul tujuh pagi.
Hanya saja, dia itu seperti layaknua pagi… seperti semangat yang mengharuskan kita memulai sesuatu. Seperti rutinitas yang mewajibkan kita untuk bergerak. Seperti awal yang memaksa kita untuk memulai.

Seperti … awal yang baru.

Karena memang pada waktu aku bertemu dengannys … kondisinya seperti itu. Aku baru mengakhiri episode patah hati yang melibatkan kehilangan sahabat dan kehilangan lainnya, lalu dia datang begitu saja entah darimana. Seperti memaksa aku untuk mengakhiri episode patah hatiku, mengharuskan aku jatuh cinta pada tiap sapanya yang hangat, senyumnya yang ramah, rayuannya yang manis, keinginannya berbagi impian yang menjanjikan.

Dia … si pagi yang ternyata tidak hanya menyebarkan pagi untukku, tapi untuk yang lain juga. Dan aku pun harus merelakan pagiku menjadi pagi bagi wanita lain.

Lalu aku bertemu dengan dia yang lain. Aku menganalogikannya seperti sore.
Sore, bukan senja. Karena senja itu hangat dan memabukkan. Dan lagi, aku pernah bertemu dengan senjaku terlebih dahulu. Senjaku dulu terlalu manis, memabukkan, sehingga membuatku perlahan mati dalam harapan semu.

Tapi sore itu biasa. Hanya waktu biasa tanpa paksaan, tanpa kewajiban dan tanpa keharusan.

Sore itu hanya pertanda di mana kita akan mengakhiri rutinitas, tanpa yakin akan mengakhirinya. Sore itu biasa. Malah kadang kita melupakannya. Kadang karena terjebak pada rutinitas, kita melupakan sore dan kembali sadar saat gelap menjemput.

Tapi tahukah kamu. Sore adalah waktu yang melenakan, jika kita mengijinkan diri sendiri menikmatinya. Sore adalah waktu reflektif, seperti semesta yang memberi jeda kita untuk memperbaiki kealpaan kita sebelum hari berakhir. Sore bukan akhir seperti malam, bukan awal seperti pagi, bukan kobaran klimaks semangat seperti siang.

Sore hanyalah sore.

Dan aku pernah bertemu dengan soreku. Baru saja aku mengucapkan pisah padanya. Karena dia tidak seharusnya menjadi soreku.

Tapi bagaimana lagi, aku pernah mengijinkannya membawaku pada kenyamanannya yang melenakan. Aku pernah terbuai pada manisnya yang bukan paksaan. Aku jatuh pada rutinitasnya yang tidak mengikat. Aku terpesona pada tiap sesap biasanya.

Bersamanya lelahku tak kurasakan, bersamanya rutinitas menjadi menyenangkan, bersamanya waktu seperti punya dimensinya sendiri,

Caranya membalas senyumku, kecup hangat di tiap perjumpaan kita, sentuhannya yang menenangkan.

Lalu perlahan … seperti gelap yang menjemput dan waktu yang tidak absolut, aku harus merelakannya pergi

Seperti aku merelakan pagiku. Kini aku pun harus merelakan soreku, agar aku bisa bertemu dengan hariku.

Karena tiap perpisahan pasti akan membawa perjumpaan kan?

Lagipula, bukannya aku kehilangannya. Aku masih bisa bertemu sore di tiap hariku, walaupun … dia bukan lagi soreku.

Ah … pada tiap sapa yang semakin mendingin, aku hanya menitipkan salam. Untuk tiap senyum hangat dan canda tawa yang pernah singgah di antara kita. Bukan ingin itu kembali, karena … terkadang aku rindu.

Karena pernah, walau sesaat … aku merasakan tatapan matamu memandangku … penuh cinta.

image

Lama gak nulis fiksi, tapi sudah lupa bagaimana menulis fiksi dengan menggunakan tokoh. Ah rindunya …

Tentang Gedung Yunani

Dear All, hai…

Apa Kabar? Lama gak bersua ya, udah mau akhir bulan ketiga aja nih. Gak nyangka waktu begitu cepat berlalu. No wonder si Mbak ais suka lupa hari (nah. loh) … hehehehehe. Belakangan ini, sejak menyadari betapa menyenangkannya membaca tulisan sendiri di masa lalu … Saya semacam punya keinginan kuat untuk bisa kembali menulis.

Akhirnya di sini lah saya, di pojokan sebuah Coffee shop (yang selalu jadi favorit saya menghabiskan my me time) di dekat rumah, memangku laptop, membuka wordpress, berusaha mencari ide untuk menulis.

banyak sekali kawan yang ingin saya ceritakan. tentang bos saya sekarang yang ternyata subscribe blog saya (entah sudah diunsubscribe atau belum, anyway.. hola Bos!), tentang seorang teman pekerjaan saya dan bagaimana proses adaptasi saya, tentang bagaimana relasi saya dengan inner circle saya, tentang saya yang belum melaporkan SPT saya, tentang rencana getaway saya ke Jogja (lagi, untuk kesekian kalinya), tentang keinginan saya untuk menghabiskan lebaran di kampung halaman Bapak saya, tentang banyak hal.

terutama tentang tahun ketiga saya di belantara ibukota ini, bagaimana rasanya menjadi bagian dari rutinitas ini, tentang bagaimana akhirnya saya terbentuk perlahan menjadi budak kapitalis, tentang rencana besar saya 15 tahun mendatang, tentang rasa sesak yang masih menghampiri setiap kali … ah sudahlah, yang saya tulis harusnya tidak melulu soal rasa kan yah?

beberapa hari yang lalu saat reread blog saya sendiri ini, saya menemukan beberapa tulisan yang membuat saya tercengang. literally. takjub aja kok saya bisa menulis tentang hal – hal seperti itu ya. tentang pendidikan, tentang makna bekerja.

Lucu ya… bagaimana berbulan – bulan saya membaca dan memahami tentang Makna Bekerja untuk penelitian saya untuk pada akhirnya saya hanya menjadi semacam penghuni rak buku. Ke mana semua teori dan pengetahuan saya waktu itu? Jujur, dalam hati yang paling kecil saya rindu. Rindu menjadi mahasiswa dengan kewajiban membaca jurnal. Rindu menghirup aroma perpustakaan. Rindu mengalami kesulitan saat harus memahami abstrak sebuah jurnal.

ah kawan, terkadang rasa itu hanya sebuah ilusi.

baiklah, mengisi minggu malam ini… saya akan mencoba untuk bercerita mengenai Gedung Yunani, salah satu bangunan di Kampus saya. walaupun si dikung dan oom han yang nyebelin itu sering bilang saya gak filosofis, gak bisa dipungkiri bahwa saya memiliki ijazah dari Filsafat UGM. admit that hei boys, saya ini alumni Filsafat UGM (hahahahahaha!).

Jadi, salah satu gedung kampus saya itu adalah Gedung Yunani. Gedung berlantai dua di sisi timur kampus. Kalau teman – teman pernah melewati kampus UGM dan berada di Lembah UGM, pasti bisa langsung melihat penampakan gedung itu. Dinamakan gedung Yunani karena ada lima pilar besar di depannya.

Ceritanya, beberapa minggu yang lalu saya sedang membuka akun Facebook saya. tahukan .. hanya untuk tahu ada berita terbaru apa dari kawan – kawan onlen saya (termasuk beberapa blogger yang dulu pernah akrab banget, biasanya saya tahu kabar terbaru dari mereka ya lewat Facebook, sejak saya berhentu BW beberapa tahun terakhir), saya menemukan beberapa foto dari dosen S1 saya. kaget bukan kepalang .. ternyata Gedung Yunani akan dirubuhkan dan akan diganti dengan Gedung Baru.

saya diam. bolak – balik melihat foto – foto yang ada. mencoba meresap tiap foto yang ada. ikut merasakan tiap narasi yang Bapak Dosen hadirkan. Saya seperti ikut merasakan sepersekian rasa yang Bapak Dosen ceritakan terhadap bangunan berlantai dua itu. Bangunan itu terdiri dari ruang dosen dan ruang perpustakaan di bawahnya, serta ada semacam ruang komputer (pada jaman itu). Bagaimanapun saya menghabiskan waktu enam tahun di Gedung itu -tidak seperti Bapak Dosen yang mungkin lebih banyak menghabiskan waktunya.

Saya melihat foto – foto itu dan perlahan tapi pasti saya kembali ke masa – masa itu. Masa di mana masih menjadi mahasiswa rantau. Bagaimana saat pertama kali melewati gedung tersebut saya dihinggapi rasa bangga bahwa saya akan menjadi mahasiswa. untuk kemudian saya merasa lelah harus melihat gedung itu terus, lalu berganti kepada rasa takut karena ‘kok gue gak bisa lulus – lulus sih dari sini??’ untuk kemudian berganti dengan perasaan haru dan rela memutar jauh hanya untuk melihat tulisan ‘Fakultas Filsafat’ di gedungnya tiap kali kembali ke Jogja saat tidak menjadi warga Jogja lagi.

Kenangan – kenangan itu kembali. Tiap sudutnya seakan bercerita.

gedung Yunani

dulu .. di sudut ini ada bangku – bangku kayunya. kalau mau menunggu jadwal bimbingan Skripsi, saya biasanya nunggu di sini. pernah juga menunggu jadwal untuk ujian lisan mata Kuliah Kapita Selekta Filsafat Barat dan Metode – Metode Filsafat -dua mata kuliah yang ujiannya lisan. sudut ini paham sekali tiap debaran gugupnya mahasiswa.

Gedung Yunani 1

Kalau sudut yang ini beda lagi, biasanya di sini kami mengintip – ngintip apakah dosen pembimbing kami ada di ruangan atau tidak. Kalau gak ada, kami buru – buru menaruh draft tulisan kami. Syukur – syukur gak ketahuan dosen lainnya, jadi aman. Hahahahaha.. nanti tinggal sms Dosen dan bilang kalau draft nya sudah kami taruh di meja ibu. mohon bantuannya. begitu.

Gedung Yunani 2

Sudut yang ini punya cerita yang berbeda. biasanya kawan – kawan seangkatan akan duduk – duduk manis. istilah Jogjanya tengtengcrit. alias tengu’ tengu’ cerito (apa bahasa Indonesia-nya, Dab?). Biasanya sambil godain anak – anak jurusan lain yang lewat. Karena di depan sudut ini adalah jalan menuju Gedung Perkuliahan.

Sudut ini juga dulu tempat saya ngobrol sama gebetan (gebetan – gebetan) saya (hahahahaha!).

gedung YUnani 3

ah… saya emang orangnya gampang terjebak di masa lalu. seperti sekarang ini. hahahaha.

tapi gak kok, bukan berarti saya gak siap menghadapi berkas payroll besok senin, atau kenyataan adanya berkas anak PKL yang sudah teronggok sebulan lebih di meja saya. Saya siap. hanya saja … ya begitulah.

saya nulis ini bukan berarti saya menolah dirubuhkannya Gedung itu ya. enggak. sama sekali bukan itu. Saya hanya mencoba meresapi tiap sudutnya untuk terakhir kalinya. Tempat di mana saya pernah memperjuangkan sesuatu, tempat yang pernah jadi saksi tawa saya bersama kawan – kawan, nervous nya saya saat mau ujian, sampai air mata saya saat dinyatakan tidak lulus di salah satu mata kuliah.

bukan ingin kembali. hanya meresap rasa yang pernah ada, untuk kembali mengingat semangat itu. seperti yang Wells pernah bilang: ‘We all have our time machines, don’t we. Those that take us back are memories…And those that carry us forward, are dreams

after all, we must keep moving forward, right?

Just keep swiming … just keep swiming :)

keep swiming

selamat menghadapi Senin, Kawan!

PS: closingnya gak asyik. soalnya udah malem. Coffee shopnya udah mau tutup. hahahaha. ciao!

 

disalip lagi, Is?

Disalip lagi, is?

 

Hai, kawans. Apa kabar? Semoga selalu diberi hati yang penuh syukur ya :)

Judul di atas adalah sebuah caption untuk foto yang dikirim sama salah satu kawan saya beberapa hari yang lalu.

Fotonya agak gak etis juga ya dipajang di sini. Saya trauma majang majang foto, ntar malah dimaki maki sama pihak yang gak suka kalau saya majang majang foto seenak udelnya.

Tapi ya udalah ya, kisah buram akir taun saya waktu dimaki orang gara gara foto foto saya di salah satu akun socmed cukup my partner in crime dan dikung aja yang paham. Sama mereka aja saya uda puas abis diledekin. Konon kalau satu perblogan dramaland tau #drama hahahahaha ๐Ÿ˜†

Oke. Balik ke caption foto disalip lagi, Isย  – yang dikirim sama sahabat saya itu. Fotonya sih simpel. Foto … you know jenis foto yang diambil sesaat setelah ijab kabul, setelah sang mempelai pria mengucapkan ijab dan menjabat tangan ayahanda mempelai wanita. Sesaat setelah mereka menandatangani buku nikah, lalu pasti ada adegan foto pamer buku nikah kan… nah foto seperti itu yang dikirim sahabat saya di suatu pagi yang cerah beberapa hari yang lalu.

Sebenernya kalau itu fotonya kiwil yang nikah lagi atau siapapun itu saya ga akan ampek terbersit bikin postingan hari ini.

Itu … yang jadi tokoh di foto ‘pose sejuta umat penganten baru’ adalah …. jreng jreng jreeeeng … *drumroll*

Jrengggg …. jreeeeeng ….

Captain.

Yess. That captain married with somebody i don’t know who.

Kalau kawan kawan yang enam atau lima taunan yang lalu baca blog ini (and now you can read at my arsip. Cmon…. quick, before i erase that all. Hahahahaha), pasti kenal sama tokoh captain. Bahkan ada beberapa orang yang saat ngetik real name nya captain di search engine akan nyasar ke blog ini.

Iya. Cinta masa muda jaman kuliah hura hura dan jaman baru baru ngeblog dan alasan saya punya blog ini, dan juga pria yang pernah jadi alasan saya menyandang gelar miss drama, menikah.

Menikah. Dengan wanita lain. Repeat once more: menikah. Bukan sama saya. Tapi sama wanita lain.

Ga ada yang salah sih … i mean … kisah saya sama dia sudah berakhir bertahun tahun lalu. Dan.. -Alhamdulillah di antara kisah masa lalu,- sama dia bisa dibilang saya bisa menyematkan kata kata “berpisah dengan baik”

I mean … cuman sama dia setelah putus kita masih bisa komunikasi dengan baik. Bisa ngobrol, nggosip, kadang diselipin curhatan, sama diskusi diskusi a la anak filsafat gagal (secara ya bok dulu kita kuliah di jurusan yang sama). Tanpa ada goda goda tergoda. Ada satu titik di mana kita ngerasa, memang lebih baik kita temenan. Karena less expectation kali yak. Tapi … tetep ya boooook … pas liat foto itu rasanya di hati tuh kaya ditusuk tusuk jarum pentul. Bukan jenis sakit yang “hiks dia nikah sama wanita lain, harusnya sama gueeee” tapi jenis sakit yang “kampret. Gue disalip. Lagi.”

Fyi aja, beberapa bulan yang lalu juga salah satu mantan kisah masa lalu saya baru naik pelaminan juga. Kebanyakan kisah masa lalu sih lo Is! Oke. Karena ini blog adalah saksi bisu sisi diri saya yang gak saya bagi sama yang laen, saya mau jujur nyeritain perasaan saya waktu liat itu.

Saya galau. Galau … kenapa pria pria itu tidak memiliki keyakinan untuk menikah dengan saya, tapi bisa menikah dengan wanita wanita yang mereka temui setelah saya. Serius loh ini, semua mantan saya setelah putus, bertemu wanita lain terus nikah. Feels like charlie on good luck chuck kalau ada yang pernah nonton pilemnya Jessica Alba yang jadi pelatih pinguin. Minus sex scene ya.

good luck chuck

Apa. Ada. Yang. Salah. Sama. Saya. Ya.

Actually, beberapa kawan bilang kalau saya punya pola. terlepas yah dari penyebab berakhirnya kisah – kisah drama percintaan saya di masa lalu (saya belajar, semakin sedikit yang tahu kisah sebenernya yang terjadi semakin baik, karena terkadang … apa yang ada di pikiran orang – orang gak akan pernah bisa kita kontrol, ya kan? jadi … biarkan saja mereka di luar sana punya cerita versi mereka mengenai kehidupan kita. hahahahaha)

Jadi .. begini pola hubungan percintaan saya (menurut para sahabat): ‘punya pacar – punya back up – akirnya putus – jadian sama back up plan saya – nuntut diseriusin (every woman have this stage, right?) – nuntut kepastian – pria nya ragu – nyari back up lagi – saat pria mulai yakin, saya ketakutan – bikin masalah – putus.’ Terlepas dari bener atau ga yang sahabat sahabat saya bilang, saya jadi introspeksi diri. Something wrong.

Mungkin yang salah bukan pria pria itu. Mungkin saya yang salah mengenai ide ‘menikah’ yang saya miliki. atau mungkin, seperti yang beberapa sahabat saya katakan: “makanya Is, harus fokus. kalau gak fokus ya susah…”

Apapun itu, saya sedang ada di dalam tahap krisis kepercayaan diri. bahwa mungkin … at the end, saya lah yang mengacaukan semuanya. Saya pernah curhat pada seorang sahabat “when you always having bad relationship, if you have a good one, you can’t stop thingking when bad thing will happen

segala macam teori dan pikiran positif sudah saya coba untuk saya sugestikan ke pikiran saya untuk mwnghLu pikiran – pikiran jelek itu. tapi tetap aja … ah. saya galau kan. saya sudahi saja postingan ini. daripada makin gak jelas.

Rasanya sudah lama tidak mencurahkan rasa terdalam seperti ini. *kemudian lanjut ngelamun*

 

 

a self -blog- reflection

a self reflectionheihoooo… selamat bulan desembeeer! eh udah mau habis yah bulan desembernya.

ini gara – gara maen ke rumahnya Bu Piet nih, jadi nemu postingannya yang terakhir, jadi ngelink ke blognya oom enha, oom yang masih eksis nulis di dunia perblog-an *hiks* sebagai ย salah satu teman ngeblognya oom enha dari tahun yang sama, ngerasa gagal deh mengikuti jejaknya yang masih rajin nulis :'(

tapi gak apa apa dong kalau misalnya saya nekat ngikut GA nya oom enha. sekalian memacu adrenalin juga, udah lama kan gak ikutan GA. hihihihihi. kangen loh ikutan GA tuh. dan di waktu yang tinggal kurang lebih satu jam ini, dan di saat masih nungguin oom – oom bos yang masih meeting (iya, di malam minggu!!!), mbak ais ini mencoba tengok – tengok di tulisan sendiri di tahun ini. sedih yah, ternyata tulisan saya dikit banget di tahun ini.

rasanya sih pengen ngikutin semua postingan, soalnya nulisnya udah berdarah – darah semuanya *tetep lebay, si miss drama ini*, hahahahaha. tapi berhubung hanya boleh masukin satu postingan diantara postingan tahun ini, jreeeng …. maka postingan yang saya ikutkan dalam self reflection ini adalaaaah *drum roll* jreeeeng …

postingan ini, dengan judul yang tak kami pahami tentang kalian.

kenapa saya pilih postingan ini dibanding jutaan postingan laennya? karena, saya bisa merasakan diri saya di jaman dulu, jaman saya baru mulai nulis dan sering nulis hal – hal gak penting -tapi seru- ย untuk ditulis. tulisan itu dibuat di kantor kalau gak salah, nulisnya sambil dengerin lagu All of me – nya John Legend, pas oom bos lagi pergi, dan saya masih di kantor lama di deket dermaga 200 itu. dan postingan itu dibuat kayanya beberapa jam gitu deh, soalnya seinget saya kepotong beberapa kerjaan (namanya juga ngeblog di kantor, yak…)

entah kenapa, saat membaca tulisan itu saya jadi senyum – senyum sendiri. bukan tulisan dengan traffic terbaik, bukan tulisan dengan typo tersedikit, tapi itu tulisan yang menulisnya tanpa saya konsep. that’s just happened. kalau gak salah inget sih tulisan itu habis ada episode drama sama salah satu mantan (kapan sih Is, bisa bebas dari mantan? ) pengen nulis galau tapi kok malu sama umur. tapi ada hasrat (galau) terpendam yang pengen banget disampaikan.

tapi tetep yah boook, si ais ini tukang typo banget dan males re-read tulisan sendiri jadi typo bertebaran di mana – mana. dan entah yah, kerasa atau gak saya itu nulis kaya diburu – buru, narasinya kurang. itu menurut saya sih.

kalau ada kesempatan, saya pengen banget ngangkat topik yang disuguhkan di postingan itu lagi. lagi?

iya. karena ada beberapa tambahan yang pengen saya masukin di situ. biasa, seiring berkembangnya lingkungan, berkembang juga pola pikir. ya kan? dan bekembang juga pendapat. hahahahay!

satu yang pasti, yang terlintas saat saya membaca lagi postingan saya yang itu: harapan itu kadang mematikan. tapi harapan itu adalah energi kita untuk bergerak. tapi, harapan juga harus tahu diri. Bahagia itu saat kita mampu menyeimbangkan berharap dan menerima kenyataan hidup.

Punya badan gemuk jangan maksa dibilang kurus juga sama pria kita. Hadapi kenyataan, tubuh kita semakin tua semakin tidak mampu menahan daya gravitasi dan itu membuat perut kita semakin turun dan membuncit.

closing statement yang aneh. tapi biarin lah.

so, postingan ini diikut sertakan dalam lomba tengok-tengok blog sendiri berhadiah, yang diselenggarakan oleh blog The Ordinary Trainer.

kalau kamu, postingan mana yang paling berkesan? di dramaLand loh tapi … bukan di blog kamu (hahahahaha).

***

 

 

 

 

 

 

 

stop judging

hai temans! selamat hari minggu

*bersihin sarang laba – laba di tembok keraton putih*

hehehehehee. udah lama banget yah saya si ais ariani, pemilik dramaLand ini gak berdrama ria di dramaland kesayangan. gak boleh nyalahin keadaan yang bertambah sibuk dengan urusan kerjaan sih, nyatanya banyak orang – orang di luar sana yang tetap bekerja dan tetap produktif nulis, ya kan. jadi, yang bisa disalahkan dalam penurunan produktivitas menulis adalah: saya sendiri; karena gak bisa membagi waktu.

baeklah, kita mulai hari minggu pagi ini dengan sedikit produktif dalam dunia perblog-an. mumpung saya lagi ditinggal sendirian di kamar hotel nih, gara – gara semua keluarga saya yang weekend ini lagi berkumpul di satu kota memutuskan nengok ke rumah salah satu kerabat. dan saya memutuskan untuk stay di hotel karena -ngeluhnya- sakit.

apa yang akan kita obrolkan pagi ini? ditemani cangkir teh hangat ini? hmm…. sadar atau gak yah, kehidupan saya dua tahun belakangan ini berubah. berubah banget.

dulu waktu masih jadi mahasiswa, pekerjaan saya: galau – ngeblog – galau – ke perpust – galau – ngeblog – galau – revisi tesis.

sekarang: ngurus SPPD – nomorin surat – terima invoice – ngelobi sales hotel – mikir makan siang apa – terima complain karyawan lain soal hal-hal umum – cek imel – dan jutaan pekerjaan rutin yang biasa dikerjain staf sdm & umum macam saya.

fyi, setelah satu tahun lebih saya bekerja di salah satu divisi di salah satu perusahaan besar di pinggiran Jakarta, saya sekarang pindah ke divisi (finally!) SDM & Adm. Kantor di anak perusahaan si perusahaan besar.

banyak perubahan terjadi lagi setelah itu.

jam kantor yang gila – gilaan. kerjaan yang kayanya ga ada habisnya (tapi, bukankah begitu ya yang namanya pekerjaan?). teman – teman sekantor yang cukup seru dan gila. pada akhirnya temen kantor saya gak berkutat seputaran si mbak sekretaris aja sih senengnya, sekarang saya punya teman sekantor wanita yang lumayan banyak. teman sekantor yang laen? yah kurang lebih berkutat masih itu – itu aja, cuman udah lebih variatif aja sekarang, gak cuman isinya oom – oom bos dan oom – oom pandu. sekarang udah banyak papa – papa muda yang kerjaannya lembur dan kemudian ngeluh ga punya waktu buat anak mereka. hehehehe

but, life is choice, right?

hidup ini adalah pilihan. dari saat kita membuka mata di pagi hari, kita punya pilihan; untuk terus hidup di mimpi – mimpi kita (baca: terus tidur), atau memberi kesempatan diri kita menghidupi mimpi (baca: mengejar mimpi *kemudian soundtracknya Jrock*). saat kita keluar rumah pun kita disuguhi pilihan. beragam. mau naik apa nih ke kantor? bisa naek angkutan umum, naik ojek, nebeng tetangga, atau ikut komunitas nebengers (eh).

pas udah memutuskan pilihan, kita pun akan dipaksa untuk menuju pilihan lainnya. kalau naik angkutan umum, naik yang jalur mana yah yang cepet. nebeng juga gitu, nebeng sama yang mana ya. atau minta jemput siapa ya, pacar atau selingkuhan (halah).

hidup ini penuh dengan pilihan!

eits, kata siapa hidup HANYA seputaran pilihan? hidup juga berbicara soal bertahan pada pilihan, berjuang untuk pilihan. ya kan?

pemikiran itulah yang kerap menghampiri saya, staf baru dan pejuang baru di ibu kota ini. kadang saat perjalanan pulang dari kantor saya banyak berpikir; ‘aku ini ngapain sih sebenernya kerja sampai jam segini, jauh dari keluarga, ketemu pacar aja gak sempet, nulis dan baca aja udah jarang banget, ibadah juga seenaknya, hubungan sama Sang Pencipta hanya sekedar syarat, hubungan dengan sahabat juga boro – boro mempertimbangkan kualitas dan kuantitas, untuk sekedar say helo aja kadang gak punya tenaga, cita-cita untuk kembali ke bangku kuliah menguap sudah dengan pemikiran gile aja mau kuliah lagi, kapan waktunya!,’

bener kata coach Rene di harian kompas di kolom Ultimae u – nya; the problem is not the lack of time, but the lack of focus

karena memang betul begitu. kadang saya mau dateng ke kantor jam berapapun saya punya ritual buang waktu macam ini: nyampek kantor – ngobrol di pantry sama OB atau sama temen kantor yang dah dateng duluan, biasanya edisi curhat soal kerjaan juga – nyalain komputer – mbukak Youtube, bikin playlist hari ini – cek list to do – mulai kerja – dissamperin bos, dicek atau disuruh ngerjain apa gitu – kerja lagi – disamperin OB, dilaporin makanan di kulkas habis, atau makan siang hari ini mau pesen apa – mulai kerja – makan siang dateng – kerja lagi – terima telpon – akhirnya ngurusin pesan dari penelpon – ke gedung sebelah ngobrol – eh kebablasan dikasih kerjaan sama bos di sebelah – tiba – tiba sudah jam lima – cek to do list, baru separuh selesai – akhirnya lembur, karena punya tanggungjawab menyediakan makan malam.

banyak hal – hal yang harusnya sudah bisa saya delegasikan ke orang lain, tapi entah mengapa saya masih taking control di situ. Kenapa? Entah.

ah, lagi – lagi judul sama isi gak nyambung :sigh:

pada intinya begini: dulu, jaman masih jadi mahasiswa yang berjuang menyelesaikan tugas akhir, saya merasa menjadi mahasiswa adalah peran yang sangat berat dengan segala tuntutan revisi dan pemuasan pertanyaan sebagai seorang peneliti. saat itu saya memandang seorang pekerja hanyalah sekumpulan orang – orang yang kebanyakan bermimpi tentang mewujudkan ide lalu kemudian terjebak di dunia nyaman mereka dan berteriak tersiksa oleh rutinitas; manusia – manusia cengeng yang tidak berani.

tapi sekarang setelah melewati proses itu, setelah menjadi bagian dari; -manusia manusia cengeng tidak berani, saya paham. sangat paham, ada begitu banyak yang memang harus dipertimbangkan dalam melangkah saat kamu sudah menjadi seorang pekerja. apalagi pekerja di suatu sistem besar. kamu punya apa yang mereka sebut tanggungjawab.

manusia – manusia cengeng tidak berani ini lah yang sebagian besar menjadi roda – roda perusahaan dalam berputar, yang membuat sebagian besar perekenomian Indonesia berputar, persis seperti yang Hugo Cabaret katakan saat dia berada di jam besar di stasiun (dalam film Hugo yang tayang di 2012)

Everything has a purpose, clocks tell you the time, trains takes you to places. I’d imagine the whole world was one big machine. Machines never come with any extra parts, you know. They always come with the exact amount they need. So I figured if the entire world was one big machine… I couldn’t be an extra part. I had to be here for some reason. And that means you have to be here for some reason, too.

we’re not an extra part. we had to be here for some reason.

termasuk kami, si manusia – manusia cengeng yang tidak berani. di pundak kami ada banyak tanggungjawab, beban, peran yang harus kami pikul.

dan satu hal yang pasti berubah dari ais, si mahasiswa pejuang kelulusan yang telah menjadi pejuang ibu kota adalah; ‘stop judging’

karena kita benar – benar tidak pernah tahu alasan sebenarnya seseorang dalam melakukan sesuatu. ya kan? kita gak pernah tahu alasan si ani datang telat ke kantor, kenapa si kijang biru di depan nyalip kita dengan seenaknya, atau kenapa si joko mau jadi selingkuhan si melati, kita gak akan pernah tahu.

Ya gak sih?

susah memang mengurangi kebiasaan bergunjing (halah), tapi mulai lah untuk lebih memahami bahwa ada alasan kenapa orang melakukan sesuatu.

Be kind, for everyone you meet is fighting a hard battle

everyone you meet is fighting a hard battle, be kind

oke, baiklah kalau begitu .. mari kita menikmati sisa hari minggu ini dengan bersenang – senang :)

mari kita berbicara soal sepakbola

yuk mari.

heihoooo … selamat hari senin!

Apa kabar temans?

Siapa yang masih terkantuk – kantuk hari inihh??? Siapa yang masih merasakan euforia gol-nya Gotze pagi tadiiii? siapa yang masih kesel karena ternyata gol-nya Higuain terganjar offside padahal udah selebrasi???

Siapa yang masih sok tahu soal bolaaa??

untuk pertanyaan terakhir itu,ย  jawabannya adalah: Mbak ais.

Hahahahahaha.

Dua pertandingan terakhir Piala Dunia 2014 saya nonton dong. Gak tanggung – tanggung, saya nobar sama temen saya di salah satu cafe – cafean di daerah Kelapa Gading. nanti kapan – kapan sata review lah itu cafe. sekalian promo. kali aja ada yang mau ke sana, saya bisa titip es teh tarik favorit saya. hehehehehe…

Jadi, hari minggu dinihari saya dijemput sama temen saya sekitar jam setengah satuan. iya, kita dengan pede dan takut ga dapet tempat dateng jam sgitu. kocaknya temen saya ini baru jadi supir keluarga ke Cikarang. jadi, dia seharian ga sempet nabung tidur. walhasil dia nunggu dari jam satu itu ke mulainya Brazil – Belanda bolak – balik terkantuk – kantuk.

Saking garing ga ada bahan obrolan karena nyawa masing – masing (saya baru bangun tidur 15 menit sebelum dijemput), kita kebanyakan makan sama minum aja. lumayanlah sambil bercanda sama Waitress – waitressnya yang udah kenal sama kita berdua :D

begitu pertandingan mulai, ada masalah teknis. proyektor yang disediain di lantai atas (kita dapet meja di lante atas dari cafe itu) gak berfungsi baik. mas – mas supervisor mulai panik, saya pun ikutan panik. kenapa? Karena kami kan sehati #nahLoh

hahahahahaha.

Akhirnya pada menit kesekianlah itu proyektor uda bisa konek sama tipi. sementara belum konek, bagaikan penonton VIP, kami nonton pertandingan dari lantai dua.

terus gimana Is pertandingannya? Haduh .. sedih lah nontonnya. Walau ga sesedih pas lawan Jerman ya, pas liat si Abah – Abah megangin dummy nya Piala dunia sambil bengong … rasanya ikutan sedih.

Nah pas lawan Belanda ini … kalah juga sih ya. gak seru lah pertandingannya.

nih suasana perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2014, sepi kan yah?

nih suasana perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2014, sepi kan yah?

 

kita skip ke pertandingan dini hari tadi ya.

saya dateng ke cafe yang sama jam dua lewat sekian, ternyata telat. saya pikir mulainya jam 3 kan yah sama kek kemarennya itu. Jebul saya salah jam. beginilah penonton bola musiman gayanya sejuta. uda sibuk ribut dulu sama spv Cafe nya gara-gara saya reserve cuman buat berdua diprotes sama dia. begitu dateng, kita telat sodara – sodara. Dan ternyata kita dapet tmpat persis depan layar proyektor. meja kecil di pojokan dengan kursi cuman satu, dan terpaksa saya geret – geret kursi dari meja sebelah. rame gilak!

Gak serame diย  La Piazza sih ya,

Mulai deh itu sorak sorai pendukung masing – masing tim. Saya sama temen saya yang nonton bareng ini sama – sama megang Argentina. Yah paling gondok pas Higuain ngegol-in. uda bersorak sampek lompat – lompat dari kursi lah kami tuh, ternyata baru disorot si hakim garis ngangkat bendera.

ganti bersoraklah itu pendukung Jerman.

Seru. Pertandingan finalnya seru pake banget. Argentina yang katanya CUMAN punya Messi (dan Jerman punya tim, katanya) mampu membuat Jerman bermain hingga babak tambahan dimainkan.

Apalagi melihat statistik pas kelar babak pertama, Argentina cuman megang bola 30 sekian persen. Sisanya bola dikuasai Jerman. sampek mikir, ini maen setengah lapangan apa gimana. kan kasian, Neuer jarang disorot *halah*

pas abis babak kedua udah ga sempet lagi merhatiin statistik, tapi permainan Brazil yang katanya cuman ngandelin Messi patut diacungi jempol kok.

Firasat jelek pas Klose diganti. aduh pemaen satu ini dulu baru – baru keluar adek saya masih esde dan ngefans banget. bahkan dulu imel pertama dia klose_29@yahoo.com sekarang adek saya uda semester akhir kuliah. kebayang umurnya. Totti aja udah pensiun (Totti maning si ais… ais… ). Diganti sama Gotze yang ganteng.

gerombolan mas – mas belakang saya seneng banget begitu si pemaen bundes liga ini masuk. saya mah gak paham sepak terjang dia. secara pemaen cadangan yah bok. dan baru ngegolin sekali juga pas piala dunia.

dan emang hokinya si Gotze, tendangan kaki kirinya yang cakep itu berhasil ngebobol gawangnya Romero. mengingat yah .. shootnya Jerman udah berulang kali berhasil dihalau sama Romero.

sekali lagi, sorak sorai gemuruh pendukung Jerman terdengar. mereka nunjuk – nunjuk seragam yang mereka pakai, seakan – akan bilang; “INI GUE MENAAAANG INIH!!!”. dan hebohnya itu loh …

sebenernya ulah penonton bola di Nobar itu lucu ya. kaya sodara mereka aja yang maen, kek kakak sama Abang mereka aja yang maen, kaya negara mereka aja yang maen hebohnya sampek segitunya.

salah satu pendukung Argentina yang gayanya udah kek pacarnya aja yang kalah

salah satu pendukung Argentina yang gayanya udah kek pacarnya aja yang kalah

Tapi emang iya sih ya. saya ini bukan penggila bola, tapi penonton musiman yang seneng sama euforia-nya. jauh sebelum upacara pembukaan bulan kemaren, saya udah ancang – ancang mau nobar

cuman berhubung jadwal ga sefleksibel dulu dan udah punya rutinitas, dijadwalin nonton dua pertandingan terakhir aja, yang laen biar pas selo aja nontonnya, di rumah.

dan nobar itu emang juara banget deh rame dan serunya.

yang heboh maen di lapangan ada, yang heboh sorak sorai di depan layar ya ada. yang kasian yang Waitressnya karena kudu bolak balik ngambil dan nganter pesenan. sama dedek – dedek yang tanggung umur yang diajak sama oom atau tante atau bapak emaknya buat nonton; dengan upah eskrim. dan berakir di pojokan kursi nyaris ketiduran.

ya begitulah sepakbola, asyiknya kalau diomongin gak ada habisnya. besok ketemu sama temen yang doyan bola yah yang dibahas golnya si Gotze, bahkan offside nya Higuain sampek empat tahun ke depan juga masih dibahas itu. ya ga? Hahahahahaha.

dan beginilah tulisan dari si pengamat sepakbola amatir yang nonton bola musiman.

so, jagoan kamu Jerman bukan? Apa mendadak Jerman?

sampai ketemu di Euro 2016 yah.

***

:)

ini saya an temen saya yang nonton sambil ngeceng tadi pagi hihihihihi..

ini saya dan temen saya yang nonton sambil ngeceng tadi pagi
hihihihihi..