Listening to Memulai Kembali by Monita Tahalea

Matahari sudah di penghujung petang,
Ku lepas hari dan sebuah kisah
Tentang angan pilu yang dahulu melingkupiku
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama

Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilu pun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu

🎢🎢🎢🎢🎢

Listening to Memulai Kembali by Monita Tahalea

Preview it on Path

Selamat Sore dari Utara 😚😚😚😚

#gakMauKalahSamaCandra #TapiBukanArjunaII – with Candra and Afif

View on Path

Apa rasanya

Hei, selamat sore temans. Apa kabar? Setelah lagi lagi berhenti menulis, ternyata ada jutaan kata menggebu yang siap dituangkan. Sebel juga sih kadang. Kalau lagi seneng dan pengen nulis (dan punya ide keren yang kayanya bagus buat ditulis) ehh waktunya gak ada. Entah lagi dikejar deadline, entah lagi ga terkoneksi internet jadi gak bisa langsung buka WP, entah memang gak tahu cara mulainya.

Giliran lagi ongkang ongkang kaki dan selimutan unyu di rumah, dan pegang pegang hp dan buka buka WP, ngeblank aja gitu buat nulis. Ide itu seperti lelah berlari dan memilih menyembunyikan diri. Ngambek mungkin. Macam perempuan lagi kena syndrom bulanan, hahahaha.

Oke, kali ini saya memaksa diri saya untuk duduk. Duduk sendirian, menatap kerumunan orang yang lewat di depan saya. Saya dan segelas latte. Sounds familiar, rasanya seperti pojok favorit dari dulu. Oke, di sabtu sore ini saya akan membahas mengenai … *jeda* haduh .. tuh kan. Idenya hilang entah ke mana.

Saya coba free writing aja yah,

Hari ini saya pergi ke kantor. Iya, sementara pekerja di luar sana merancang liburan dan bla bla nya, saya harus memaksa pantat saya untuk pindah duduk ke kursi saya di kantor; menatap PC saya yang sudah bagaikan pacar kedua (karena sering kali kami saling menatap. Hahahaha!).

Info ya, saya ini bukan workaholic. Sama sekali bukan. Kalau ada pilihan apakah saya harus bekerja atau selimutan di rumah, maka saya akan memilih selimutan di rumah ditemani buku favorit saya. Dan remot tipi.

Lalu kenapa saya serajin itu di hari libur saja saya ke kantor? Karena ada begitu list pekerjaan saya yang tidak bisa saya selesaikan di hari kerja. Kok begitu? Entahlah. Mungkin saya termasuk kategori sulit fokus. Sementara list pekerjaan saya menuntut saya harus memiliki kemampuan fokus cukup tinggi. Jadi, saya pergi ke kantor di hari libur bukan karena saya ingin achieve sesuatu atau ingin jadi pekerja terbaik atau ingin ‘curi start’ dari teman teman staf lain. Saya pergi ke kantor di hari libur hanya karena get things done. Well … walau pada kenyataannya saya juga tidak bisa menyelesaikan semuanya hari ini.

*jeda*
Mikir nulis apa lagi

Pikiran saya berlari ke rekan – rekan seruangan saya yang karakternya lucu – lucu bisa dibilang. Kok begitu?

Ya  iyalah. Percaya deh. Sama seperti kampus, kantor juga merupakan laboraturium perilaku yang menyenangkan untuk diperhatikan (dengan catatan: kalau kamu punya waktu untuk melakukan itu). Gak percaya? Cobalah simak cerita cerita kubikel pekerja corporate macam saya.

Dulu saya gak sabar untuk masuk di dunia kerja, karena berpikir akan ada lebih banyak karakter yang saya temui, akan lebih banyak cerita (baca: drama) yang bisa didengar, banyak teman yang bisa saya dengarkan pengalamannya.

Fakta lucunya adalah: iya, bagian begitu banyaknya drama dalam kehidupan kubikel itu memang benar ada nya. Tapi… kamu gak akan punya waktu untuk menyimak itu semua. Kamu gak akan punya waktu untuk menganalisis seluruh perilaku orang orang sekitar kamu. Kamu akan lebih banyak berkata (dalam hati); ‘serius dia bisa kaya begitu? Gak habis pikir gue kenapa dia begitu’

Seriously.

Kamu seperti kehabisan energi, karena rutinitas adalah sesuatu yang perlahan mematikan kemampuanmu menganalisis (kalau bukan nyinyir) tentang perilaku orang lain. Lah bagaimana sempat menganalisis, belum sampai kantor saja atasan sudah menelpon … checklist beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum pukul 09.00, nyampek di kantor liat berkas – berkas yang harus diselesaikan dan mendadak amnesia sama waktu.

Saya baru 3 tahun berada di rutinitas ini. Baru banget. Masih anak bawang. Masih punya perasaan (kadang); habis ini apalagi yah yang bisa dikerjakan.

Saya cinta pekerjaan saya. Saya menyukai adrenalin di tiap deadline yang harus diburu. Saya menyukai tiap detik lelah yang berada di balik berkas berkas yang harus saya selesaikan. Karena dari awal, saya selalu menanamkan pada diri saya sendiri bahwa ada nilai ibadah pada tiap berkas saya. Karena saya percaya bahwa di tiap berkas yang saya selesaikan ada helaan nafas orang lain di luar sana yang akan menjadi lebih ringan jika saya mampu menyelesaikan.

Beberapa tahun lalu, saat saya masih menjadi mahasiswa lucu di Jogja … saya pernah berkata pada kawan dekat saya “aku mau jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Tahukan … jenis orang yang membuat helaan nafas orang lain lebih ringan dengn kehadirannya. Jenis orang yang ‘untung ada si ais’ -oleh orang lain saat dirinya hadir. Orang yang dinantikan kehadirannya”

Inget banget waktu itu … mencapai usia 25 tahun saja belum. Mau bekerja di mana saja saya gak tahu. Lulus kuliah aja belum. Saya cuman kebayang aja jadi orang yang dicari cari gitu. Rasanya menyenangkan. Sepertinya.

Dan sekarang, berada di bawah divisi HR and GA … -walau bukan menjadi main division di perusahaan operasional tempat saya bekerja, hanya back office- saya selalu merasa bangga. Bagian kehadiran yang selalu dinantikan pun terwujud (percayalah, sebagai HR Officer yang merangkap GA, kamu bakalan sering banget dicari orang kantor, apalagi menyangkut urusan-urusan rumahtangga kantor. Hahahahah)

Yah … dibalik begitu banyak kegagalan kami dalam memenuhi permintaan permintaan rekan operasional, saya selalu percaya bahwa suatu hari nanti divisi kami akan mampu memenuhi keinginan mereka semua dalam mendukung peningkatan produktivitas mereka.

What the … kenapa tulisan di blog saya sudah semacam laporan kerja manajemen?

Fix. Saya butuh piknik pikiran. Saya harus kembali menulis lagi. Harus kembali membaca buku lagi. Harus kembali mengerjakan hal hal kecil favorit saya saat menjadi pengangguran (bikin kutipan – kutipan lucu untuk di tempel di kaca hias, baca majalah majalah lama, berlama lama di toko buku, duduk dan membaca buku, duduk di keramaian dan memperhatikan perilaku orang, dan lainnya). 

Well. Sudah dulu ya. Saya harus segera kembali ke dunia nyata. Escape nya cukup sekian (ternyata menulis itu menyenangkan yah. Rasanya seperti melarikan diri dari pikiran-pikiran akan deadline pekerjaan), karena jika melarikan diri terlalu lama … we need another escape way. Dan mencari escape way itu membutuhkan energi dan waktu yang cukup lama.

Jadi, apa rasanya 3 tahun menjadi corporate worker? DEFINITELY COMPLICATED!

Selamat berakhirpekan yah temans :):):)

Masih ada

Iya, ternyata rasa sedih itu masih ada. Belum hilang sempurna. Sejak mendapatkan hari libur setelah kejadian itu, saya jadi hobi nongkrong depan tipi. Nonton pilm pilm yang menarik menurut saya. Berteman dengan remote-remote, saya melewati hari, menanti mas suami kembali untuk berbagi cerita lagi.

Nah diantara film-film itu, ada beberapa film yang ada adegan wanita melahirkan. Dan sudenly, tanpa aba-aba dan tanpa rangsangan lebih lanjut, mengalir aja gitu air mata saya. Ada jutaan seharusnya di kepala saya saat melihat adegan itu.

Ternyata saya memang belum over it. Iya, saya sudah bisa menceritakan kejadian itu tanpa air mata, sudah bisa ngobrol sama mas suamik soal kehilangan itu …

… tapi ternyata kadang saya suka masih ngerasa sedih. Apalagi inget pas perjalanan ke Bandung itu saya banyak ngobrol sama dia, saya ajak ngobrol sepanjang jalan. Secara waktu itukan saya nyetir sendiri.

Suka tiba tiba bangun tidur saya nangis aja gitu inget dia.

Ternyata kehilangan saya kali ini sebesar itu.

Iya, saya tahu semua kalimat kalimat hiburan itu, saya paham bahwa semuanya akan indah pada waktunya. But somehow, saya hanya ingin menangis. Meresapi tiap jengkal kesedihan, mencoba menikmatinya.

Ah. Hanya mereka yang tidak bersyukur yang terus terusan berkubang dengan kesedihan. Iya, itu betul. Tapi tiap mereka yang pernah merasakan kehilangan, pasti punya moment di mana dia hanya ingin bersedih. Dia hanya ingin mengenang. Bukan untuk menyesali dan memutar waktu. Hanya ingin sejenak berkawan dengan sedih. Sejenak saja.

Karena kesedihan bukan untuk dijadikan sahabat, kita punya jutaan alasan untuk bersyukur. Bukankah rahasia kenikmatan itu bukan pada rasa nikmatnya, namun lebih kepada rasa syukur nya kan?

Yuk, kemasi hati untuk kembali ke rutinitas. Simpan sedihnya, mbak ais :):):)

xoxo,

Enjoy and keep writing

Mencintaimu dengan sungguh sungguh

Saya : “ade tuh punya perasaan yang semakin hari semakin tidak terdefinisikan ke mas. Sampai susah dirangkai dengan kata-kata”

Dia : “kalau gitu yah sms aja … ”

***

Know what? Percakapan itu terjadi antara saya dan mas suamik. Saya dan dia punya kebiasaan ngobrol yang agak ajaib – menurut saya sih. Mengikuti jadwal kerja kami yang gak sama, dia dengan shift dan saya yang kerja secara 8 to 5. Kami lebih sering pillow talk. Tahu kan obrolan obrolan menjelang tidur … dan salah satu percakapan saya beberapa yang lalu dengan dia yah itu.

Saya belum pernah kan yah cerita soal mas suamik. Hehehehehe… okeh, cerita yah dari awalnya. Kurang lebih dua tahun yang lalu. Saya masih kerja di kantor lama waktu itu, dan atasan saya meminta saya untuk mencari tempat meeting. Bukan hotel. Bisa buat berkumpul sekitar 40orang.

Nah, kebetulan beberapa hari sebelum dapet perintah itu, saya dan gerombolan saya waktu itu lagi seneng banget menemukan tempat nongkrong di salah satu sudut di daerah paling hips di utaranya Jakarta (baca: kelapa gading).

Singkat cerita, sebelum mengajukan tempat itu ke atasan .. saya survey dulu ke lokasi itu secara detail (actually, kita nongkrong di tempat itu 5hari berturut turut jadinya). Tapi malem itu saya nanya sama waitress nya, bagaimana prosedur kalau saya mau reserve tempat untuk 40 orang. Dipanggilah si bapak supervisor. Dia nyamperin meja saya dan temen temen, mencoba membantu saya membuat rancangan reservasi untuk bos.

Obrol punya obrol, si bapak spv ini medok banget ngomongnya, saya nyeletuk lah, “mas nya orang tegal yah?”

Dia: “bukan mbak, saya dari purwokerto”

Hebohlah teman teman saya yang jumlahnya cuman dua orang itu.

Teman 1 : “ya ampun mas, satu kampung sama temen saya ini *sambil nunjuk saya* mau ga mas sama dia?”

Teman 2: “iya mas, dia lagi nyari pacar”

Idih banget kan temen saya. Akirnya jadi bahan becandaanlah kita berdua. Becanda sekaligus ngerayu biar dapet diskon sih.

Teman 1 : “iya mas, belum nikah kan?”

Dan dia dengan senyum mautnya itu ngejawab “belum, mbak”

***

Sisanya kapan kapan saya ceritain deh bagaimana kencan pertama kita (kencan?), bagaimana dia dengan suara medoknya itu nembang lagu yen ing tawang ana lintang, bagaimana dia ‘nembak’ saya (di pinggir jalan, depan indomaret, saya masih pake seragam kantor lama, gak ada romantis romantianya deh),

Kisah kasih kami gak semulus ceritanya raffi dan Gigi yah. Banyak banget perbedaan dari kami yang kadang memaksa kami untuk saling menjauh, mencoba berpikir ulang tentang kebersamaan kami. Kami dididik dari latar belakang keluarga yang berbeda, bahkan suku yang berbeda. Jenis pekerjaan, kebiasaan sehari hari, obrolan sehari hari, tingkat pendidikan, semuanya tentang saya dan dia itu berbeda.

Dia bukan tipe laki-laki yang betah diajak mengobrol dan menganalisa semua perilaku manusia-manusia di sekitar kami (yang senaaaang banget saya dan teman teman saya lakukan), dia bukan pria kece yang punya bakat fotografi terpendam, dia bukan pria keren dengan teman gaul yang beredar di mana-mana.

Dia pria sederhana yang punya prinsip-prinsip menakjubkan dalam hidup, pria lugu yang entah bagaimana caranya mampu bertahan dengan sifat dan sikap saya yang bisa sangat amat menyebalkan. Pria pendiam yang sabar dengerin saya ngoceh tentang kehidupan saya, tanpa meremehkan, dan dia benar-benar mendengarkan. Bukan sekedar belagak mendegarkan yah. Karena sering dia mampu menceritakan kembali apa yang saya ceritakan (part keisengan saya: suka nyuruh orang nyeritain ulang cerita saya, kalau saya rasa dia gak dengerin cerita saya. Tapi bener deh, pria pria di luar sana bisa belajar untuk mendengarkan dengan lebih baik biar terwujud perdamaian dunia #halah).

Gak, saya gak memuja dia setinggi langit kok. Dia punya kelemahan juga. Dia bukan superhero. Dia bukan Dr. Beno -nya Ika Natassa, bukan juga Nimo – nya Cintapuchino. Dia pria biasa. Yang jutek, gak romantis, hobi melarikan diri ke dalam gua kalau mendapatkan masalah (seperti pria lainnya :?:?:?), pria yang cenderung gak peka sama sensitifitas wanita, dia lempeng selempeng lempengnya alias gak ekspresif,

… tapi dia juga pria humoris yang mampu membuat saya tersenyum dengan lawakannya yang di luar logika, dengan kata-kata polosnya yang tak terduga, pria jenaka yang juga bijaksana dalam menghadapi hidup, pria sederhana yang punya rancangan gambaran masa depan yang sesuai dengan rancangan masa depan saya, pria pemimpi yang paling realistis yang pernah saya kenal, pria berhati lembut namun mampu membuat saya tidak terlalu drama (belum cukup berhasil, sih. Hahahahahaaha),

Dia pria yang mampu membuat saya menikmati hidup, mampu mengatasi ketakutan saya untuk berkomitmen jangka panjang, dia mampu meyakinkan saya bahwa ada pria yang siap mengahadpi semua keajaiban saya, bahwa ada pria yang mau berjuang bersama sama … bukan hanya diperjuangkan.

Namun yang paling utama adalah … dia membuktikan kata-katanya. Dia memegang kata katanya yang dia ucapkan dari awal kita deket. Diantara para pria penebar janji itu, hanya dia yang mampu menghadapi bapak saya, bersabar untuk setiap prosesnya.

Dan ternyata benar apa yang nenek bilang … bahwa … mereka yang mengucapkan ‘aku tuh sayang banget sama kamu, gak pernah aku sesayang ini sama orang lain’ atau mereka yang hobi menebar keseriusan dengan bercerita tentang ‘betapa seriusnya aku sama kamu‘; atau mereka yang melakukan hal-hal romantis lainnya (termasuk ngajak kamu ke rumah yang dia cicil dan bilang ‘ini rumah kita’), akan kalah dengan pria yang berani dateng ke Bapak kamu dan ‘meminta’ kamu dari Bapakmu.

Dulu saya pernah menganggap sepele hal itu. Itu loh .. bagian -serius-meminta-saya-ke-bapak. Aaahhh… semua pria bisa kok melakukannya. Big no no girls, gak semua pria bisa melakukannya. Mereka biasanya hanya bisa mengatakannya. Ada perbedaan besar di situ.

Mereka yang bisa mengatakannya ke kamu, belum tentu berani menghadap ke bapak kamu, mendengarkan jawaban Beliau, mengikuti tiap tahapan dengan sabar dan yakin bahwa tidak ada wanita lain dalam hidupnya yang ia inginkan selain kamu. Dan … pria ini melakukannya untuk saya.

image

My man 💕

… tapi dia pun berproses, bukan pria yang sejak awal berani. Dia pun pernah mundur untuk mempertimbangkan kembali. Melalui malam-malam tukar pikiran kami, diantara gelas kopi plastik favorit kami, nasi goreng pojok jalan kesukaan kami, kami banyak berbagi rasa takut, kagum, semua rencana-rencana kami, impian-impian kami. Sampai akhirnya waktu, kesempatan, keadaan, dan rencana Allah yang membawa hati kami dengan yakin melangkah ke jenjang pernikahan.

***

Well … sekilas yah tentang si mas suamik malam ini. Semoga bisa menjadi semacam awal yang baik bagi saya untuk kembali nulis. Aamiin?

AAMIIN

see u, temans!
😙😙😙😙😙😙

Belajar tentang kehilangan. Lagi.

Hai, selamat malam minggu temans.

Bagaimana kabar kalian? Kayanya saya harus menskip beberapa hal dalam bercerita di blog ini deh. Karena ada salah satu peristiwa besar dalam kehidupan saya yang ingin sekali saya bagi dengan blog saya tercinta ini sekarang juga.

Tepat 8 hari yang lalu, pada hari jumat tanggal 23 oktober 2015, saya dan mas suamik pergi ke dokter kandungan. Yeah … typically pasangan muda yang baru nikah dan mendapati sang wanita telat datang bulan.

Keluar dari ruangan dokter kami sumringah. Mbungah. Ternyata Allah mempercayai kami secepat itu. Ada calon janin di rahim saya. 5 minggu usianya. Kami hanya saling memandang, saling melempar senyum, saling menggenggam tangan, saling berkata “gak percaya yah … “

Malam itu kami tutup dengan makan bakso favorit kami di depan kompleks. Dengan mengetahui officially saya hamil muda, mas suamik memberikan wejangan – wejangan khas calon bapak, lengkap dengan ceramah ngurangin marah-marah gak berguna, kurangi kegiatan-kegiatan gak bermanfaat (baca: kongko after hour yang selalu menghiasi minggu-minggu saya), kurangin pikiran-pikiran negatifnya, perbanyak istighfar, banyakin baca buku-buku parenting. Dan lain sebagainya deh.

Orangtua kami tidak banyak berpesan. Pesan mereka cuman jangan kecapean, jaga badan.

Pesan sepele. Dan klise. Dan terlupakan begitu saja oleh saya, si calon ibu baru ini.

***

Senin pagi tanggal 26 oktober kemarin sebelum mas suamik berangkat kerja, saya memastikan dia tahu bahwa hari itu saya akan pergi ke Bandung, mengikuti pelatihan yang diadakan oleh kantor holding saya. Bandelnya saya, saya memutuskan untuk pergi menyetir sendiri. Padahal kantor pusat sudah menyiapkan bis yang sangat nyaman untuk keberangkatan dari Jakarta menuju Bandung. Saya tetep nekat menggunakan Kang Lupus, mobil kesayangan saya. Entahlah, rasanya nyaman saja berpergian dengan dia yang selalu siap sedia.

Senin pagi, sekitar pukul 08.30 saya membelah jalan tol cikampek menuju Bandung. Perjalanan lancar, tidak begitu macet, dan saya sangat menikmati perjalanan itu. Entahlah … saya sangat suka menyetir. Ada perasaan nyaman dalam hening mendengarkan deru mobil di sekitar. Perasaan nyaman yang memaksa kita untuk berpikir reflektif saat kita menyetir.

Sekitar pukul 11.30 saya tiba di salah satu hotel di kota Bandung. Thanks to Waze, saya yang gak paham Bandung ini akirnya bisa sampai dengan selamat di tempat tujuan 😆😆 tanpa nyasar. Ulangi: tanpa nyasar.

Hari berjalan sangat menyenangkan, karena materi pelatihan merupakan materi baru bagi saya. Bukan tentang HR ataupun operasional. Sesuatu yang benar benar baru, dan saya senang banget jadi perwakilan dari kantor saya untuk pelatihan itu.

Menjelang magrib, saya panik. Sesuatu terjadi dengan organ reproduksi saya. Saya menghubungi panitia, dan minta ijin untuk ke dokter kandungan. Saya gak berhenti nangis menelpon suamik saya di jakarta. Bahkan saya menuliskan catatan ini

image

Namun… Senin sore itu saya tenang, karena si calon janin masih ada di tempatnya. Dokter kandungan yang melakukan USG pada perut saya, mengatakan kantung kehamilam saya masih pada tempatnya. Dan semua pendarahan yang terjadi merupakan pertanda bagi tubuh saya untuk mengurangi aktivitas fisik. Dokter juga sedikit menyalahkan saya. Ya. Bagian saya memutuskan untuk menyetir sendiri itu.

Well, akhirnya sore itu saya pulang ke hotel dengan hati lebih ringan. Setelah selesai mandi, meminta ijin pada panitia untuk istirahat malam itu dan bukannya mengikuti kelas malam. Saya menelpon atasan saya dan melaporkan kejadian itu. Lebih kepada ijin sih, dan dia juga mengatakan bahwa saya harus lebih banyak beristirahat.

Selasa pagi dengan suasana hati lebih baik, saya pun memutuskan untuk melanjutkan mengikuti kelas pelatihan.
Lagi lagi, menjelang sore saya mengalami pendarahan hebat, yang membuat saya melarikan diri secepat kilat ke kamar.

Dan … singkat cerita … malam itu saya harus merelakan calon janin kami hilang. Saya dinyatakan keguguran. Saya tidak bisa berhenti menangis. Menangis dan menyesal. Menyesal karena tidak cukup hati hati menjaganya, menangis karena hanya diberikan waktu 5 hari untuk merasakannya, saya bahkan baru menemukan lagu indah untuknya. Menangis mengingat senyum calon bapak yang ditujukan mas suamik ke perut saya. Menangis mengingat cara mas suamik mengelus perut saya, menangis mengingat muka cemberut mas suamik saat harus merokok di teras sendirian tanpa saya yang mengoceh di sebelahnya. Menangis karena saya menganggap diri saya sok tahu mengenai kondisi badan saya. Menangis mengingat reaksi orangtua kami.

Yang paling menyedihkan dari peristiwa itu adalah reaksi suami saya, yang nampak lebih shock dan lebih tidak menguasai keadaan saat saya harus dibawa ke rumah sakit, dan menjalani perawatan di sana. Apalagi, saat saya harus diletakkan di ruang perawatan seruangan dengan ibu yang baru saja melahirkan, lengkap dengan tangisan bayi.

Maksud saya, harusnya ada semacam pengaturan kamar secara psikologis bagi ibu ibu yang baru melahirkan dan calon ibu yang baru saja mengalami keguguran. Mereka gak boleh satu kamar. Harusnya.

Sedih loh, saat memdengar tangisan bayi dan melihat ekspresi  mas suamik.

Well, banyak kalimat-kalimat hiburan dan penyemangat yang sodara, teman, dan yang lain sampaikan kepada kami. Mereka adalah supporter yang hebat …  mereka membuat kami sadar bahwa ini hal lumrah yang biasa terjadi pada beberapa pasangan muda, harus dijadikan pelajaran, harus dicari penyebabnya.

Namun yang paling hebat dari semua itu adalah perubahan sikap mas suamik. Pada awalnya ya dia menarik diri, menutup diri dan menjauhkan dirinya dari saya, well… yang seperti para ahli katakan “menutup diri dan menyembunyikan diri  di gua”

Yeah … di saat genting seperti itu pun, dia melakukannya. Alhamdulillah, hal itu gak berlangsung lama… di malam kedua kami kehilangan, mas suamik menemani saya tidur, dengan tangan yang tak lepas dari genggaman. Dan kita pun melakukan pembicaraan heart to heart tentang kehilangan itu.

Tidak mudah melakukannya memang. Tanpa perasaan menyesal dan tanpa tumpahan air mata itu. Dengan terbata kami mulai menyusun beragam kalimat bijak untuk saling menguatkan. Yes, we did.

Kami menceritakan ulang semua perkataan teman-teman kami. Kami mencoba merangkainya menjadi semacam kalimat suporting buat kami sendiri.

Yang kami yakini sama, bahwa mungkin Allah menilai kami belum cukup siap untuk menjadi orangtua, bahwa ternyata masih banyak yang harus kami pelajari, bahwa saya sebagai istri masih harus banyak belajar, begitu juga dengan dia sebagai suami.

Kesekian kalinya saya mengalami kehilangan. Tapi kesekian pulanya saya meyakini bahwa dalam setiap kehilangan akan ada hal baru muncul kan yah.

There’s always bright side from everything.  Yang pasti dalam kehilangan ini, entah bagaimana hati ini bekerja … saya semakin mencintai mas suamik, dengan rasa yang tidak bisa didefinisikan. Bahkan saya sore tadi berjam jam memandangi dia yang tertidur pulas. I know i’m too cliche. Tapi … yah begitulaaah 😶😶😶

… seperti yang salah seorang kawan katakan juga “yah, kalau begitu dikasih kesempatan buat bikin lagi lah, bisa eksplor lebih banyak gaya lagi”

Duerrr…

Hahahahaha.

Well, kita sama sekali gak tahu apa yang akan terjadi ke depan nanti, tapi suatu hari nanti saya mau saya menemukan tulisan ini dan saya bisa merasakan perasaan kehilangan dengan ikhlas. Ikhlas bahwa Allah selalu memiliki rencana terbaik bagi hambaNya, karena janji Allah itu pasti.
Dan percaya bahwa saya mencintai kehidupan saya sekarang dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Selamat malam minggu 😙😙😙

Listening to Don’t Speak by No Doubt

Don’t speak
I know just what you’re saying
So please stop explaining
Don’t tell me cause it hurts (no, no, no)
Don’t speak
I know what you’re thinking
I don’t need your reasons
Don’t tell me cause it hurts

It’s all ending
I gotta stop pretending who we are…
You and me I can see us dying…are we?

Listening to Don’t Speak by No Doubt

Preview it on Path

3 weeks

Assalamu’alaikum Temans,

Selamat Siang semuaaaaa… hei, kamu.. iyah kamuuu yang lagi ngeluangin waktu untuk baca tulisan ini, terimakasih yah sudah mau merelakan waktu berharganya untuk sekedar nengok ke blog yang sedang mati suri ini. hahahahaha. Kamu apa kabar? Sehat? Mari berbagi cerita sama saya yah.

Saya mau cerita nih sebenernya. Jadi, beberapa hari yang lalu pas di jalan pulang kantor saya seperti biasa dengerin radio. Topik di radio itu adalah tentang persiapan pernikahan. Dueng… saya inget, saya masih berhutang cerita sama blog kesayangan saya ini tentang …… *jeng jeng* *drum roll* pernikahan saya. my wedding. my own wedding. can i repeat once more? FINALLY, I GOT MARRIED COUPLE WEEKS A GO!

Can u imagine that? Ms. Drama Queen yang hobi menebar drama dan kegalauan di setiap socmednya ini, finally… (iyah, akhirnya) melangkah ke –apa-yang-orang-orang-bilang-denganjenjang hidup yang lebih serius‘. bukan hidup mereka yang belum menikah gak serius atau belum serius, tapi saya kan cuman ngikutin apa kata orang.

tapi jujur deh … saya kemarin tuh kaya mimpi. apalagi pas ketemu temen blogger macem si putri usagi dan dikung *males nge link*, mereka kan dateng ke hari bahagia saya. mereka yang tahu banget kisah drama percintaan saya dari blog saya, dari twitter saya, belum lagi kalau pas ketemu kita langsung curhat – curhatan. Apalagi dikung yang malahan berhadapan langsung dengan drama hidup saya yang dari nangis bombay soal sahabat, ribut sama istri orang lah. Sampek dia (si dikung) pernah bilang “emang mbak ais mah orangnya suka nyari masalah”

Pas mereka menghampiri saya dan salaman sama saya di hari bahagia saya, rasanya kaya saya mau jingkrak – jingkrak dan meluk mereka deh. pengen banget teriak “finally, i did it!”

Ada Irni juga, anak gaul se Pontianak (lagi – lagi aku males ngelink) yang mosting di halaman fesbuk saya dan baru saya cek pagi ini. Dia bilang;Temen ngeblog dari awal awal baru ‘bisa nulis’ sampe sekarang. Temen blogger yang berteman dari dianya masih kuliah s2 sampe pengangguran dan hingga dapat kerja jadi bisa kopdaran di pontianak!!Pengen banget ketemuan lagi. Ngobrol2 lagi. Kalau bisa sambil bawa krucil2 yang buat gak tenang emaknya ngobrol. Hihihi. Bahagia selalu aisss. Keep blogging!!

Saya sadar, ada banyak cerita di blog ini yang mereka tahu, yang mereka baca, dan somehow mereka adalah bagian dari perjalanan hidup saya. Kadang penasaran juga sih sama temen – temen ngeblog yang lain. Kaya Kang Guskar, Kak Jul (eh yang ini enggak ding, masih sering bbman, hahahaha), oom enha, pakde, bu piet (abis mensyenan di twitter kemaren, aku tunggu jeung novelnya! hahahahaha), mbak ina, si bhi berceloteh, orange vanila (saya lupa namanya. hiks), si oom zahru, nda -lupa nama blognya-, oouch…jangan lupakan tante hera dong yang ngeblog cuman sebentar tapi bertemennya bisa ampek sekarang, nandini yang terakhir ketemu di jogja -dan masih sering tahu kabar via path ataupun ig-, sya si gula jawa, ari tunsa, terus si asop, mbak nik yang sekarang punya baby umur 14bulan (itupun taunya via fesbuk), terus siapa lagi sih temen ngeblogku dulu?

Mereka semua apa kabar ya?

Jadi sebenernya aku mau nulis soal proses akhirnya aku menikah, atau nulis soal temen – temen ngeblog sih ini? typically me. Nulis kagak ada guideline nya.

Lah, kamu maunya saya nulis soal temen ngeblog dulu apa tentang my wedding dulu nih?

Hayo… hayo … hayo …

Someday, someone will walk into your life and make you realize why it never worked out with anyone else

Someday, someone will walk into your life and make you realize why it never worked out with anyone else

Jadi, aku harus cerita darimana dulu ini?

Hello, september

Selamat pagi, september….

Semoga diberi kelancaran untuk semua yang memiliki rencana, diberi kesembuhan yang sedang sakit, dipertemukan yang sedang terpisah jauh, diberi kekuatan yang sedang diberi kesulitan, dan jangan lupa bahagiaπŸ˜‰;);););)

View on Path

Nervous

Well, kegugupan saya semakin menjadi. Seperti ada seseorang yang meletakkan kulit durian di kursi kantor, saya gak bisa duduk diam di kursi kantor.

Bahkan saya gak bisa konsentrasi mengirim email ke salah satu penyelenggara pelatihan.

I’m so damn nervous.

Sore kemarin, saya semacam terkena panic attack. Saya menangis, campur antara perasaan lelah, gugup, excited berlebihan, dan lainnya.

Bahkan saat menulis ini perut saya mules. Mules semules mulesnya mules. Jenis mules kaya kamu mau menghadap dosen pembimbing pas bimbingan tugas akhir, jenis mules pas kamu mau pendadaran, jenis mules kaya kamu mau wawancara kerja pertama. Jenis mules yang bikin kamu pengen bilang sama waktu ‘can you give me a moment? I just wanna take a deep, deep, deep breath’

Iya. Saya gugup banget.

Because it’s just 10days left …

Friends…

Hasil pembicaraan singkat rumah – kantor dengan sela membeli bubur dan sebagainya.
Thank u, amih. For always support me, for never judge me (sepertinya), hahahahahaha… – with Nuynuy

View on Path

“Kamu gak tahu keadaan yang sebenarnya”

Beberapa hari yang lalu, seorang kawan mengirimkan sms ke saya, ada kata – kata tersebut. Dia adalah orang yang dalam beberapa bulan terakhir merupakan duri dalam daging, belek dalam mata, kalau bisa dihilangin saya pengennya ngilangin dia dalam hari – hari saya. Malangnya, hidup gak semudah itu … ya kan?

Mungkin ini berawal dari kesalahpahaman antara saya dan dia. Instead of talk each other, we’re just talk about  another. So here’s the fact, kids: if u have problems with someone, talk to him. Kamu malah akan menambah masalah dengan menceritakan masalahmu ke orang lain, bukan dengan mereka yang bermasalah denganmu.

Gak, saya gak ngerasa paling bener dan nyalahin dia. Saya punya andil besar dalam masalah ini. Saya emang gak ngomong ke orang lain tentang masalah saya dan dia. Tapi saya menceritakannya kepada 300an follower saya. Hebat kan saya. Emang saya hebat.

Sampai akhirnya dia menegur saya dan bilang “kamu ga tahu yang sebenarnya”

Tapi pembelaan diri dari saya adalah: saat kamu ngerasa orang gak tahu keadaan sebenarnya, bukankah tugas kita menceritakan keadaan sebenarnya? Bukannya ngejudge dan malah melarikan diri dari masalah, menutup diri.

You know what? Sambil nulis ini saya terus terusan berkaca. Karena saya pun sering melakukan hal yang dilakukan dia ; menutup diri, menganggap diri jadi korban dan menutup mata dari keadaan sebenarnya. Sok bijak berkata “some words better left unsaid” dan tetap menyimpan prasangka di hati.

Mungkin, karma sedang mengajak saya bercanda. Wait, i mean … i don’t believe on karma. Tapi Tuhan Maha Adil, kan? Mungkin saya sedang dikasih pelajaran, bahwa menyimpan prasangka itu tidak baik.

Saat memandang suatu masalah, yang perlu kita pahami juga adalah bagaimana perasaan orang dan intensi mereka dalam masalah itu. Ya kan? Tapi, karena terlalu egois dan sibuk memikirkan kebahagian diri sendiri … we’re just forget about the other side.

So, kamu … iya kamu yang kemarin sms saya dengan kata kata itu, peluruku nyasar. Targetku bukan kamu. Targetku itu istri kamu, biar dia tahu semua “hal yang sebenarnya”

Hahahahaha… look… saya pun melakukannya ternyata!

Bercerita tentang pulang..

image

Heihooo….

Kawans, apa kabarnya di sana? Semoga selalu baik, selalu dalam lindungan Allah SWT ya:). Sebelum berpanjang panjang kata, ada baiknya mbak Ais Ariani mengucapkan Selamat Idul Fitri,

Semoga Allah menerima amalan dari kami dan darimu, juga diterima-Nya puasaku dan puasamu sekalian, serta semoga Allah menyempurnakannya. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali fitrah/suci & orang-orang yang menang. Aamiin.

Postingan ini entah terposting entah tidak, kita lihat saja nanti ya. Hahahahahaha. Soalnya saya nulis ini sambil senderan di kasur penginapan saya di Jogja, setelah menempuh perjalanan dari kampung halaman bapak sesorean tadi. Jadi setengah niat, setengahnya enggak.

Sebenernya saya mau curhat. Curhat soal perasaan saya tentang lebaran tahun ini yang saya lewatkan dengan mudik. Mudik beneran.

Kalau tahun lalu saya mudiknya ke kampung halaman orang (hahahahaha), tahun ini saya mudik ke kampung halaman bapak saya. Jaraknya enggak jauh sih. Lah iya saya bilang ga jauh. Lahwong tahun lalu saya mudik di perjalanan 28 jam. Sekarang total total perjalanan saya dari rumah ke kampung halaman bapak menghabiskan waktu kurang lebih 12 jam.

But… actually … jarak itu terkadang hanya kumpulan huruf yang terrangkai dalam kata jika kita mengaitkannya dengan konteks perasaan (aeh…). Tapi ini beneran. Kalau dikaitkan dengan perasaan, jarak tuh kaya huruf k dalam kata knife di bahasa inggris. Ada, tapi ga disebut pas pengucapan. Antara nyata dan enggak gitu deh. Yakan.

Tapi kalau jarak dikaitkan dengan ongkos yang kita butuhkan untuk memperpendek jarak, baru dah jarak itu bagaikan badut dufan di dufan. Tak terpisahkan. Nyata.

Udahlah, mbak ais ini ngebahas apa sih sebenernya.

Kembali ke soal perjalanan kali ini. Ini pertama kali saya mudik sejauh jarak Jakarta – Ende. Iya. Jaraknya emang sejauh itu. Saya harus minimal satu kali transit kalau mau sungkem sama orangtua saya. Gak sejauh jakarta – new york. Tapi buat anak yang lahir, besar, sekolah, cari duit dan cari jodoh di pulau jawa, jarak jakarta – ende itu jauh.

Sejauh itu sampai saya menghabiskan dua buku bacaan di perjalanan. Sejauh itu, sampek sampek saya ketiduran dan nyaris ketinggalan pesawat saat transit di kupang(itu kejadian sedih banget deh … saya diteriakin di gate sama petugas gate nya, koper2 saya diturunin dari pesawat kirain saya gak jadi naik, pesawatnya -yang ATR pakek baling – baling itu- uda mau muter baling – balingnya. Pokoknya sedih dan malu banget saya. Saya dalam setahun ke depan gak mau deh ke kupang lagi)

Sejauh itu, sampek duit THR saya separuh lebihnya teralokasikan ke tiket. Sejauh itu, sampai nomor saya yang satu itu gak dapet sinyal. Sejauh itu, sampek pas uda nyampek bawaannya males buat balik (tsah, gaya banget. Padahal kalau suruh tinggal di sana saya garuk garuk tanah juga. Gak ada gramedia atau toko buku besar semacam itu…),

Pokonya jauh deh. Kalau masih di tanah jawa, mungkin jauhnya masih bisa dipikirin sama saya.

Makanya, kadang saya mikir juga … ibu saya ini ibu yang luar biasa sekali. Meninggalkan tanah kelahirannya, tempat ia hidup, meninggalkan anak – anaknya untuk ikut suami yang berbakti pada tanah kelahirannya.

Terus… saya sebenernya mau nulis kalau saya lagi galau. Suddenly saya dihinggapi perasaan luar biasa rindu, luar biasa ingin kembali ke ende, di tengah tengah mereka. Padahal … sebagai anak yang sering kelayapan tinggal sendiri dan jauh dari keluarga, saya gak begitu dekat sama keluarga. Ya karena saya terbiasa dengan ketidakadaan mereka di sekeliling saya. Sehingga saya lebih sering mengandalkan teman teman saya yang ada di sebelah saya.

Tapi menghabiskan waktu lebih dari 3 hari bersama keluarga saya; saya seperti menemukan kepingan hilang yang tidak saya sadari. Kebiasaan ibu saya yang always bangun pagi, kebiasaan bapak saya yang kalau makan maunya ditemenin, kebiasaan kakak saya yang punya sejuta cara buat bikin saya kesel (masih loh! Termasuk nakut nakutin saya pake ayam ayamnya bapak saya di kebun belakang. Please deh, padahal dia udah punya anak!), huru hara kita saat kita mau pergi (padahal perginya cuman ke pantai depan rumah, tapi hebohnya kaya mau nyebrang pulau), kegemaran kita akan ikan dan jagung,

Tuhkan… saya mau nangis.

Sendirian di kamar ini sekarang …  padahal rasanya baru kemarin saya sama mereka bakar – bakar jagung di kebun belakang, saya nonton hebohnya keluarga kecil kakak saya masang tenda di kebun belakang, baru kemarin saya ribut sama kakak saya rebutan spot sofa di ruang belakang yang enak dipake tidur siang,

Mungkin memang begitu. Kadang kita lupa apa yang hilang saat kita menemukannya, dan sialnya kita sadar kita menemukannya saat itu sudah berlalu.

Jadi, inti tulisan ini apa sebenernya?

Teman

Lima belas tahun yang lau, saya sempurna menuliskan kalimat perpisahan di year book wanita ini. Dia teman sekelas, selalu duduk di barisan paling depan, dan saya selalu tiga baris di belakangnya. Baju ketat, dan selalu membawa organizer kesayangan. Teman mainnya kece – kece. Saya, si cupu berkawat gigi ini beda teman gaul lah. Dia dan ekskul majalah sekolahnya, saya yang setia dengan teater dan silat saya.

Satu bulan berlalu begitu saja sejak perpisahan sekolah itu, sampai akhirnya saya dan dia bertemu di lapangan upacara salah satu SMA Negeri di Jakarta Pusat. Senang bukan kepalang, diantara wajah wajah asing ternyata masih ada yang dikenal. Perasaan minoritas dari sekolah swasta membuat kami yang dulunya gak deket jadi akrab. Akrab pake banget. Satu bangku, satu genk, satu temen nongkrong, sekali cabut … ya cabut bareng.

Namun masa muda hura – hura kami ternyata harus berakhir, karena orangtua saya memutuskan mengirim saya untuk melanjutkan sekolah di daerah. Kembalilah kami sempurna mengucap pisah.

Lucunya, tiga tahun kemudian kami seperti dipaksa takdir untuk bertemu lagi. Di halaman koperasi mahasiswa kampus kami bertemu lagi. Saya dengan motor astrea grand, menjemput dia si anak jakarta yang kuliah di Jogja. Gedung kuliah kami berhadapan, dia dari jurusan populer, saya si jurusan minoritas. She’s always on right track. Sempurna menyelesaikan kuliah 4 tahun, having great relationship with mr. Right yang akhirnya membawa dia memasuki kehidupan pernikahan enam tahun lalu. Atau tujuh. Ah saya lupa.

Setelah lulus kemudian menikah, dia kembali menjadi mahasiswa lagi. Kembali ke Jogja lagi, dan menyatakan rela menjadi teman serumah saya. Dan kita semakin berbeda tentunya. Dia dan kehidupan kuliah S2 nya, saya si mahasiswa begajulan yang (katanya) berkutat dengan skripsi.

Jam10 malam dia pasti sudah masuk kamar, menelpon suami, dan tidur cantik. Sedangkan saya jam 10 malam baru mau keluar, cari makan. Sambil cari masalah. Hahahahaha.

Jangan ditanya konflik yang kita hadapi. Banyak. Dari kebiasaan harian, sampek kenyataan dia masih mengandalkan motor butut dan kerelaan hati saya untuk antar jemput dia. Ah. Kenangan yang banyak sebenarnya.

Gak, dia bukan best friend yang selalu ada di hati, selalu hadir dalam tiap chapter hidup saya. Bukan. Malah kadang … kita menghilang dari kehidupan masing – masing. Perbedaan tahap kehidupan kita yang kadang membuat kita sulit menemukan kesempatan bertemu.

Tapi, dia adalah salah satu teman terbaik yang tidak pernah membicarakan kejelekan saya di belakang saya. Kalau sekadar membicarakan saya mungkin sering … seperti saya yang jutek banget jaman kita serumah dulu, kisah cinta saya yang official maupun unofficial, pasti pernah dia bicarakan dengan yang lain (karena saya pun sering begitu! Hahahahaha), tapi seiring berjalannya waktu .. saya semakin sadar bahwa menemukan teman seperti dia akan lebih sulit jadinya.

Teman yang tidak pernah percaya opini publik tentang saya, teman yang akan meluruskan prasangkanya tentang saya, teman yang selalu kembali dan mencoba mengurai benang yang kusut setelah sekian lama tidak berjumpa.

Saya pernah mengalami kehilangan teman berulang kali, dan berulang kali berprasangka akan kehilangan dia. Namun tiap kami kembali … waktu dan cerita yang hilang seperti kembali terrangkai lagi. Saya tidak berekspektasi bahwa kami akan jadi best friend forever, tapi saya berharap bahwa saya tidak perlu lagi merasakan sakitnya kehilangan teman. lagi.

But hei … we don’t lose friend, we just learn who the real ones are. Ya kan?

Lagian … yang hilang tak kan kembali, Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik. Ya kan?

image

Me and her

***

Ps: yang nulis lagi galau pertemanan. Lagi. Iya, lagi.

Ah.

Ah
Kepada tiap mereka yang selalu merasa dipojokan karena keadaan. Jangan pernah menyerah. Tuhan selalu punya rencana terbaik bagi kaum Nya.

Ah.
Bahkan, Bang Chris Martin yang hebat pun pernah merasakannya. Ia sempurna menyanyikannya dalam bait when  you try your best but you don’t succeed

Ah.
Baca saja rangkaian cerita yang dibuat oleh Tere Liye dalam rembulan tenggelam di wajahmu. Bagaimana si wajah menyenangkan membuat Rae tergugu dengan kalimat ‘… begitulah kehidupan. Ada yang kita tahu. Ada pula yang tidak kita tahu. Yakinlah, dengan ketidaktahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri’

Ah.
Sudahlah. Kita tidak lahir di dunia untuk menyenangkan hati semua orang. We can’t please everybody. Di saat usaha terbaikmu malahan masih membuat mereka merasa kurang.

Ah.
Hidup ini merupakan kumpulan rutinitas yang terkadang membuat kita lupa untuk bahagia. Bagaimana kamu bisa lupa untuk bahagia? Mungkin karena kamu terlalu sibuk berprasangka, terlalu sibuk berhitung lelah. Kenapa tak kau rebahkan saja lelahmu. Bersandar pada rasa syukur.

Ah.
Sudahlah.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 556 other followers