Ah.

Ah
Kepada tiap mereka yang selalu merasa dipojokan karena keadaan. Jangan pernah menyerah. Tuhan selalu punya rencana terbaik bagi kaum Nya.

Ah.
Bahkan, Bang Chris Martin yang hebat pun pernah merasakannya. Ia sempurna menyanyikannya dalam bait when  you try your best but you don’t succeed

Ah.
Baca saja rangkaian cerita yang dibuat oleh Tere Liye dalam rembulan tenggelam di wajahmu. Bagaimana si wajah menyenangkan membuat Rae tergugu dengan kalimat ‘… begitulah kehidupan. Ada yang kita tahu. Ada pula yang tidak kita tahu. Yakinlah, dengan ketidaktahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri’

Ah.
Sudahlah. Kita tidak lahir di dunia untuk menyenangkan hati semua orang. We can’t please everybody. Di saat usaha terbaikmu malahan masih membuat mereka merasa kurang.

Ah.
Hidup ini merupakan kumpulan rutinitas yang terkadang membuat kita lupa untuk bahagia. Bagaimana kamu bisa lupa untuk bahagia? Mungkin karena kamu terlalu sibuk berprasangka, terlalu sibuk berhitung lelah. Kenapa tak kau rebahkan saja lelahmu. Bersandar pada rasa syukur.

Ah.
Sudahlah.

Dear Ka,

Hei kamu, sudah lama kita tidak mengobrol, sudah lama tidak saling menatap jauh ke dalam  mencoba mencari makna satu sama lain. Ah tidak apalah, toh dulu dari awal aku dan kamu memulai ini semua, kita sama sama mengetahuinya bahwa aku dan kamu tidak akan menjadi kita. There always be you and me, not us.

Bagaimana kehidupanmu?

Bukan, bukan soal pekerjaanmu yang makin menyibukkan hari harimu yang aku tanyakan, bukan juga soal rekan kerjamu yang semakin mengganggumu, atau soal rencanamu ke rinjani akhir tahun ini. Tapi soal hidupmu. Pencarian jati dirimu, yang pernahkamu ceritakan padaku dulu.

Di bilangan umur yang tidak lagi muda dan kehidupan karirmu yang tidak meningkat, pernah kamu mencurahkan kegelisahanmu akan hidup. Ah tapi waktu itu kita tidak pernah membahasnya mendetail, karena selalu ada hal yang lebih penting yang kita bahas. Bukan begitu?

Ka, hidup aku belakangan ini berjalan luar biasa. Masih ingat pria yang sering kuceritakan padamu dulu? Iya, pria yang dulu selalu kamu sebut sebagai lelaki tak percaya diri, lelaki lemah yang tidak berani untuk melamarku. Berita baiknya, dia berani melamarku, Ka.

Tanpa aku paksa, tanpa aku ancam. Itu terjadi begitu saja.

Dan, persis seperti yang orang orang pernah katakan di saat kegelisahanku tak kunjung berani untuk menikah, hal itu aku rasakan saat bersamanya.

Tahukan … jenis jenis ketakutan yang selalu aku ceritakan kepadamu. Takut aku tidak pernah punya kebebasan saat menikah, takut suamiku tidak bisa menerima aku yang tidak pandai memasak, takut kehidupan pernikahanku berjalan membosankan, dan ketakutanku yang utama adalah takut suamiku memiliki kelakuan sepertimu, Ka … termasuk dalam pria pria yang tidak cukup hanya dengan satu wanita.

Hal terakhir cukup menghantuiku. Seperti yang sering dulu aku ceritakan kepadamu soal ketakutanku yang itu, aku selalu menyebut semua pria sama saja. Ah … ketakutanku beralasan, kamu tahu itu. Walau hanya sejenak waktu yang kita lewati bersama, tapi aku rasa kamu cukup memahami kenapa aku takut mempercayai pria lagi. Pengalaman tidak bisa dihilangkan, bukan begitu?

Dan mengenalmu, bersamamu, malah semakin menjadikan ketakutanku sebagai alasan aku ragu melangkah, selalu mengacaukan hubungan hubunganku dengan lawan jenis. Lembaga pernikahan semakin kabur saja saat aku dan kamu memasuki labirin perasaan kita. Aku sebut labirin, karena aku pernah kesulitan untuk keluar dari perasaan bodoh itu, hahahahaha…

Ah sudahlah, yang terjadi di antara kita waktu itu sudah kucoba lupakan. Kujadikan saja potongan potongan kejadian saat kita bersama menjadi satu bagian dalam hidup yang mungkin akan kurindukan, tapi tidak akan ingin kuulangi lagi. Bagaimana mungkin kuulangi lagi, menjadi hanya persinggahanmu dalam kebosanan hidupmu?

Baiklah, Ka. Kembali ke pria itu. Saat akhirnya pria itu melamarku, aku seperti menemukan jalan yang hilang. Aku seperti menemukan kompasku untuk berjalan menghidupkan kembali cita cita dan impianku yang tertimbun rutinitas.

Dan … ketakutan ketakutan itu hilang begitu saja saat dia menggenggam tanganku dan berkata; “kebahagian itu adalah pilihan. Dan aku memilihmu untuk bahagia”

Dia jauh dari sempurna. Kami tidak sempurna, kami hanya dua anak manusia yang berusaha melangkah bersama, saling menghargai keinginan dan kebiasaan masing masing. Bukankah adalah sebuah kebahagian ketika kita memiliki orang yang mampu membuat hidup lebih indah, membuat kita bisa lebih menikmati hidup?

Puzzle kehidupanku belum sempurna terrangkai, Ka. Aku belum memahami maksud Tuhan mempertemukan kita dulu. Tapi yang aku tahu pasti, terimakasih karena pernah lewat dalam kehidupanku.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di depan nanti, apakah priaku ini akan berubah menjadi seperti jutaan pria di luar sana, kita lihat saja nanti.

Toh hidup adalah proses yang tidak akan pernah berhenti. Di tiap helaan nafas kita, akan selalu ada harapan.

***

Done. Satu tulisan lagi. Jauh dari harapan sih,  tapi setidaknya saya mencoba membuat postingan. Hahahaha. Selamat hari sabtu, temans.

Terkadang cinta

Terkadang … cinta tak melulu berbicara tentang bisa atau tidak memiliki, tak selalu berbicara tentang dengan siapa kita bersama sama.

Terkadang … cinta itu bukan tentang dengan siapa kita berbagi selimut, bukan hanya tentang siapa yang memperjuangkan kita dan siapa yang merelakan kita pergi. Bukan juga tentang dikhianati atau mengkhianati.

Terkadang, cinta juga tentang kata kata yang tidak mampu diucapkan.

Tentang keresahan yang tak sempat dibagi,

Tentang kelelahan dalam penantian tanpa kepastian.

Tentang percaya walau berulang kali dikhianati, tentang kembali memaafkan walau berulangkali dikecewakan, tentang menyampaikan amarah dalam senyum, tentang menerima kembali setelah pergi.

Namun … terkadang, cinta itu tentang melihatnya bahagia. Itu saja.

image

If you're not the one ...

****

Ps: postingan lewat hp part 2. Semoga layar kecil gak bikin saya makin banyak typo. Hahahaha.

Fish

image

I know there are plenty of fish in the sea, but you’re my Nemo.

Hei. Selamat siang. Ini ais. Lagi cobain update blog dari hp. Norak sih. Aplikasi ini udah ada sejak bertahun tahun lalu.

Tapi saya jarang makenya. Hahahaha.

But now … in da middle of this ‘i don’t know what they talking about’ meeting, saya gak tahu harus ngapain. Mau jadi notulis, udah ada mbak sekretaris yang jago bikin notulen. Mau nyimak .. gak paham.

Ya udahlah. Saya ngeblog aja.

Cuman mau ngingetin. Blog saya ulangtahun. Yang keenam.

Udah. Gitu aja.

Sesak

Aku terkapar oleh rasa yang menggebu ini. Seperti dikelilingi oleh harap pada jutaan imaji, aku pun berusaha menuntaskan tiap kewajibanku.

Hanya saja, tuntutan tanggungjawab ini semakin menjadi di tiap harinya. Aku seperti dikejar dalam labirin panjang yang tak jua kutemukan jalan keluarnya.

Sampai sampai mulutpun lelah untuk mengeluh. Karena keluhanku bagaikan repitisi yang membuat orang lelah. Lalu apa gunanya aku jika hanya membuat orang lain jengah?

Mimpiku sederhana, kawan. Aku hanya ingin bahagia. Dan … aku hanya ingin kehadiranku akn membuat orang lain bernafas lebih mudah.

Namun nyatanya mewujudkannya jauh dari kata sederhana.

Dewasa tidak melulu soal umur. Tidak melulu bicara mengenai berhenti galau. Tidak melulu berbicara mengenai politik, perdamaian dunia, atau apapun yang mereka siarkan dalam berita. Dewasa juga tidak melulu soal berhenti menyakiti dan berhenti menyalak.

Terkadang, dewasa mengenai tanggungjawab. Terhadap hidup.

Bukan berhenti di memaknai hidup.

Aku sesak, oleh tiap rutinitas yang memburu ini. Jeda sesaat pun ternyata tidak mengurangi sesak. Mungkin yang harus diubah adalah cara memandangku terhadap ini semua. Aku hanya anak kemarin sore yang belajar mengenai rutinitas. Tau apa aku mengenai ini semua?

Terkadang rindu

Aku tidak pandai beranalogi, hanya saja aku suka beranalogi

Seperti dia yang pernah kupanggil Pagi. Bukan karena ia adalah manusia pagi yang selalu menyapa mentari.

Aku bahkan tidak pernah mendapatkan sapa darinya sebelum pukul tujuh pagi.
Hanya saja, dia itu seperti layaknua pagi… seperti semangat yang mengharuskan kita memulai sesuatu. Seperti rutinitas yang mewajibkan kita untuk bergerak. Seperti awal yang memaksa kita untuk memulai.

Seperti … awal yang baru.

Karena memang pada waktu aku bertemu dengannys … kondisinya seperti itu. Aku baru mengakhiri episode patah hati yang melibatkan kehilangan sahabat dan kehilangan lainnya, lalu dia datang begitu saja entah darimana. Seperti memaksa aku untuk mengakhiri episode patah hatiku, mengharuskan aku jatuh cinta pada tiap sapanya yang hangat, senyumnya yang ramah, rayuannya yang manis, keinginannya berbagi impian yang menjanjikan.

Dia … si pagi yang ternyata tidak hanya menyebarkan pagi untukku, tapi untuk yang lain juga. Dan aku pun harus merelakan pagiku menjadi pagi bagi wanita lain.

Lalu aku bertemu dengan dia yang lain. Aku menganalogikannya seperti sore.
Sore, bukan senja. Karena senja itu hangat dan memabukkan. Dan lagi, aku pernah bertemu dengan senjaku terlebih dahulu. Senjaku dulu terlalu manis, memabukkan, sehingga membuatku perlahan mati dalam harapan semu.

Tapi sore itu biasa. Hanya waktu biasa tanpa paksaan, tanpa kewajiban dan tanpa keharusan.

Sore itu hanya pertanda di mana kita akan mengakhiri rutinitas, tanpa yakin akan mengakhirinya. Sore itu biasa. Malah kadang kita melupakannya. Kadang karena terjebak pada rutinitas, kita melupakan sore dan kembali sadar saat gelap menjemput.

Tapi tahukah kamu. Sore adalah waktu yang melenakan, jika kita mengijinkan diri sendiri menikmatinya. Sore adalah waktu reflektif, seperti semesta yang memberi jeda kita untuk memperbaiki kealpaan kita sebelum hari berakhir. Sore bukan akhir seperti malam, bukan awal seperti pagi, bukan kobaran klimaks semangat seperti siang.

Sore hanyalah sore.

Dan aku pernah bertemu dengan soreku. Baru saja aku mengucapkan pisah padanya. Karena dia tidak seharusnya menjadi soreku.

Tapi bagaimana lagi, aku pernah mengijinkannya membawaku pada kenyamanannya yang melenakan. Aku pernah terbuai pada manisnya yang bukan paksaan. Aku jatuh pada rutinitasnya yang tidak mengikat. Aku terpesona pada tiap sesap biasanya.

Bersamanya lelahku tak kurasakan, bersamanya rutinitas menjadi menyenangkan, bersamanya waktu seperti punya dimensinya sendiri,

Caranya membalas senyumku, kecup hangat di tiap perjumpaan kita, sentuhannya yang menenangkan.

Lalu perlahan … seperti gelap yang menjemput dan waktu yang tidak absolut, aku harus merelakannya pergi

Seperti aku merelakan pagiku. Kini aku pun harus merelakan soreku, agar aku bisa bertemu dengan hariku.

Karena tiap perpisahan pasti akan membawa perjumpaan kan?

Lagipula, bukannya aku kehilangannya. Aku masih bisa bertemu sore di tiap hariku, walaupun … dia bukan lagi soreku.

Ah … pada tiap sapa yang semakin mendingin, aku hanya menitipkan salam. Untuk tiap senyum hangat dan canda tawa yang pernah singgah di antara kita. Bukan ingin itu kembali, karena … terkadang aku rindu.

Karena pernah, walau sesaat … aku merasakan tatapan matamu memandangku … penuh cinta.

image

Lama gak nulis fiksi, tapi sudah lupa bagaimana menulis fiksi dengan menggunakan tokoh. Ah rindunya …

Tentang Gedung Yunani

Dear All, hai…

Apa Kabar? Lama gak bersua ya, udah mau akhir bulan ketiga aja nih. Gak nyangka waktu begitu cepat berlalu. No wonder si Mbak ais suka lupa hari (nah. loh) … hehehehehe. Belakangan ini, sejak menyadari betapa menyenangkannya membaca tulisan sendiri di masa lalu … Saya semacam punya keinginan kuat untuk bisa kembali menulis.

Akhirnya di sini lah saya, di pojokan sebuah Coffee shop (yang selalu jadi favorit saya menghabiskan my me time) di dekat rumah, memangku laptop, membuka wordpress, berusaha mencari ide untuk menulis.

banyak sekali kawan yang ingin saya ceritakan. tentang bos saya sekarang yang ternyata subscribe blog saya (entah sudah diunsubscribe atau belum, anyway.. hola Bos!), tentang seorang teman pekerjaan saya dan bagaimana proses adaptasi saya, tentang bagaimana relasi saya dengan inner circle saya, tentang saya yang belum melaporkan SPT saya, tentang rencana getaway saya ke Jogja (lagi, untuk kesekian kalinya), tentang keinginan saya untuk menghabiskan lebaran di kampung halaman Bapak saya, tentang banyak hal.

terutama tentang tahun ketiga saya di belantara ibukota ini, bagaimana rasanya menjadi bagian dari rutinitas ini, tentang bagaimana akhirnya saya terbentuk perlahan menjadi budak kapitalis, tentang rencana besar saya 15 tahun mendatang, tentang rasa sesak yang masih menghampiri setiap kali … ah sudahlah, yang saya tulis harusnya tidak melulu soal rasa kan yah?

beberapa hari yang lalu saat reread blog saya sendiri ini, saya menemukan beberapa tulisan yang membuat saya tercengang. literally. takjub aja kok saya bisa menulis tentang hal – hal seperti itu ya. tentang pendidikan, tentang makna bekerja.

Lucu ya… bagaimana berbulan – bulan saya membaca dan memahami tentang Makna Bekerja untuk penelitian saya untuk pada akhirnya saya hanya menjadi semacam penghuni rak buku. Ke mana semua teori dan pengetahuan saya waktu itu? Jujur, dalam hati yang paling kecil saya rindu. Rindu menjadi mahasiswa dengan kewajiban membaca jurnal. Rindu menghirup aroma perpustakaan. Rindu mengalami kesulitan saat harus memahami abstrak sebuah jurnal.

ah kawan, terkadang rasa itu hanya sebuah ilusi.

baiklah, mengisi minggu malam ini… saya akan mencoba untuk bercerita mengenai Gedung Yunani, salah satu bangunan di Kampus saya. walaupun si dikung dan oom han yang nyebelin itu sering bilang saya gak filosofis, gak bisa dipungkiri bahwa saya memiliki ijazah dari Filsafat UGM. admit that hei boys, saya ini alumni Filsafat UGM (hahahahahaha!).

Jadi, salah satu gedung kampus saya itu adalah Gedung Yunani. Gedung berlantai dua di sisi timur kampus. Kalau teman – teman pernah melewati kampus UGM dan berada di Lembah UGM, pasti bisa langsung melihat penampakan gedung itu. Dinamakan gedung Yunani karena ada lima pilar besar di depannya.

Ceritanya, beberapa minggu yang lalu saya sedang membuka akun Facebook saya. tahukan .. hanya untuk tahu ada berita terbaru apa dari kawan – kawan onlen saya (termasuk beberapa blogger yang dulu pernah akrab banget, biasanya saya tahu kabar terbaru dari mereka ya lewat Facebook, sejak saya berhentu BW beberapa tahun terakhir), saya menemukan beberapa foto dari dosen S1 saya. kaget bukan kepalang .. ternyata Gedung Yunani akan dirubuhkan dan akan diganti dengan Gedung Baru.

saya diam. bolak – balik melihat foto – foto yang ada. mencoba meresap tiap foto yang ada. ikut merasakan tiap narasi yang Bapak Dosen hadirkan. Saya seperti ikut merasakan sepersekian rasa yang Bapak Dosen ceritakan terhadap bangunan berlantai dua itu. Bangunan itu terdiri dari ruang dosen dan ruang perpustakaan di bawahnya, serta ada semacam ruang komputer (pada jaman itu). Bagaimanapun saya menghabiskan waktu enam tahun di Gedung itu -tidak seperti Bapak Dosen yang mungkin lebih banyak menghabiskan waktunya.

Saya melihat foto – foto itu dan perlahan tapi pasti saya kembali ke masa – masa itu. Masa di mana masih menjadi mahasiswa rantau. Bagaimana saat pertama kali melewati gedung tersebut saya dihinggapi rasa bangga bahwa saya akan menjadi mahasiswa. untuk kemudian saya merasa lelah harus melihat gedung itu terus, lalu berganti kepada rasa takut karena ‘kok gue gak bisa lulus – lulus sih dari sini??’ untuk kemudian berganti dengan perasaan haru dan rela memutar jauh hanya untuk melihat tulisan ‘Fakultas Filsafat’ di gedungnya tiap kali kembali ke Jogja saat tidak menjadi warga Jogja lagi.

Kenangan – kenangan itu kembali. Tiap sudutnya seakan bercerita.

gedung Yunani

dulu .. di sudut ini ada bangku – bangku kayunya. kalau mau menunggu jadwal bimbingan Skripsi, saya biasanya nunggu di sini. pernah juga menunggu jadwal untuk ujian lisan mata Kuliah Kapita Selekta Filsafat Barat dan Metode – Metode Filsafat -dua mata kuliah yang ujiannya lisan. sudut ini paham sekali tiap debaran gugupnya mahasiswa.

Gedung Yunani 1

Kalau sudut yang ini beda lagi, biasanya di sini kami mengintip – ngintip apakah dosen pembimbing kami ada di ruangan atau tidak. Kalau gak ada, kami buru – buru menaruh draft tulisan kami. Syukur – syukur gak ketahuan dosen lainnya, jadi aman. Hahahahaha.. nanti tinggal sms Dosen dan bilang kalau draft nya sudah kami taruh di meja ibu. mohon bantuannya. begitu.

Gedung Yunani 2

Sudut yang ini punya cerita yang berbeda. biasanya kawan – kawan seangkatan akan duduk – duduk manis. istilah Jogjanya tengtengcrit. alias tengu’ tengu’ cerito (apa bahasa Indonesia-nya, Dab?). Biasanya sambil godain anak – anak jurusan lain yang lewat. Karena di depan sudut ini adalah jalan menuju Gedung Perkuliahan.

Sudut ini juga dulu tempat saya ngobrol sama gebetan (gebetan – gebetan) saya (hahahahaha!).

gedung YUnani 3

ah… saya emang orangnya gampang terjebak di masa lalu. seperti sekarang ini. hahahaha.

tapi gak kok, bukan berarti saya gak siap menghadapi berkas payroll besok senin, atau kenyataan adanya berkas anak PKL yang sudah teronggok sebulan lebih di meja saya. Saya siap. hanya saja … ya begitulah.

saya nulis ini bukan berarti saya menolah dirubuhkannya Gedung itu ya. enggak. sama sekali bukan itu. Saya hanya mencoba meresapi tiap sudutnya untuk terakhir kalinya. Tempat di mana saya pernah memperjuangkan sesuatu, tempat yang pernah jadi saksi tawa saya bersama kawan – kawan, nervous nya saya saat mau ujian, sampai air mata saya saat dinyatakan tidak lulus di salah satu mata kuliah.

bukan ingin kembali. hanya meresap rasa yang pernah ada, untuk kembali mengingat semangat itu. seperti yang Wells pernah bilang: ‘We all have our time machines, don’t we. Those that take us back are memories…And those that carry us forward, are dreams

after all, we must keep moving forward, right?

Just keep swiming … just keep swiming :)

keep swiming

selamat menghadapi Senin, Kawan!

PS: closingnya gak asyik. soalnya udah malem. Coffee shopnya udah mau tutup. hahahaha. ciao!