Teman

Lima belas tahun yang lau, saya sempurna menuliskan kalimat perpisahan di year book wanita ini. Dia teman sekelas, selalu duduk di barisan paling depan, dan saya selalu tiga baris di belakangnya. Baju ketat, dan selalu membawa organizer kesayangan. Teman mainnya kece – kece. Saya, si cupu berkawat gigi ini beda teman gaul lah. Dia dan ekskul majalah sekolahnya, saya yang setia dengan teater dan silat saya.

Satu bulan berlalu begitu saja sejak perpisahan sekolah itu, sampai akhirnya saya dan dia bertemu di lapangan upacara salah satu SMA Negeri di Jakarta Pusat. Senang bukan kepalang, diantara wajah wajah asing ternyata masih ada yang dikenal. Perasaan minoritas dari sekolah swasta membuat kami yang dulunya gak deket jadi akrab. Akrab pake banget. Satu bangku, satu genk, satu temen nongkrong, sekali cabut … ya cabut bareng.

Namun masa muda hura – hura kami ternyata harus berakhir, karena orangtua saya memutuskan mengirim saya untuk melanjutkan sekolah di daerah. Kembalilah kami sempurna mengucap pisah.

Lucunya, tiga tahun kemudian kami seperti dipaksa takdir untuk bertemu lagi. Di halaman koperasi mahasiswa kampus kami bertemu lagi. Saya dengan motor astrea grand, menjemput dia si anak jakarta yang kuliah di Jogja. Gedung kuliah kami berhadapan, dia dari jurusan populer, saya si jurusan minoritas. She’s always on right track. Sempurna menyelesaikan kuliah 4 tahun, having great relationship with mr. Right yang akhirnya membawa dia memasuki kehidupan pernikahan enam tahun lalu. Atau tujuh. Ah saya lupa.

Setelah lulus kemudian menikah, dia kembali menjadi mahasiswa lagi. Kembali ke Jogja lagi, dan menyatakan rela menjadi teman serumah saya. Dan kita semakin berbeda tentunya. Dia dan kehidupan kuliah S2 nya, saya si mahasiswa begajulan yang (katanya) berkutat dengan skripsi.

Jam10 malam dia pasti sudah masuk kamar, menelpon suami, dan tidur cantik. Sedangkan saya jam 10 malam baru mau keluar, cari makan. Sambil cari masalah. Hahahahaha.

Jangan ditanya konflik yang kita hadapi. Banyak. Dari kebiasaan harian, sampek kenyataan dia masih mengandalkan motor butut dan kerelaan hati saya untuk antar jemput dia. Ah. Kenangan yang banyak sebenarnya.

Gak, dia bukan best friend yang selalu ada di hati, selalu hadir dalam tiap chapter hidup saya. Bukan. Malah kadang … kita menghilang dari kehidupan masing – masing. Perbedaan tahap kehidupan kita yang kadang membuat kita sulit menemukan kesempatan bertemu.

Tapi, dia adalah salah satu teman terbaik yang tidak pernah membicarakan kejelekan saya di belakang saya. Kalau sekadar membicarakan saya mungkin sering … seperti saya yang jutek banget jaman kita serumah dulu, kisah cinta saya yang official maupun unofficial, pasti pernah dia bicarakan dengan yang lain (karena saya pun sering begitu! Hahahahaha), tapi seiring berjalannya waktu .. saya semakin sadar bahwa menemukan teman seperti dia akan lebih sulit jadinya.

Teman yang tidak pernah percaya opini publik tentang saya, teman yang akan meluruskan prasangkanya tentang saya, teman yang selalu kembali dan mencoba mengurai benang yang kusut setelah sekian lama tidak berjumpa.

Saya pernah mengalami kehilangan teman berulang kali, dan berulang kali berprasangka akan kehilangan dia. Namun tiap kami kembali … waktu dan cerita yang hilang seperti kembali terrangkai lagi. Saya tidak berekspektasi bahwa kami akan jadi best friend forever, tapi saya berharap bahwa saya tidak perlu lagi merasakan sakitnya kehilangan teman. lagi.

But hei … we don’t lose friend, we just learn who the real ones are. Ya kan?

Lagian … yang hilang tak kan kembali, Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik. Ya kan?

image

Me and her

***

Ps: yang nulis lagi galau pertemanan. Lagi. Iya, lagi.

Ah.

Ah
Kepada tiap mereka yang selalu merasa dipojokan karena keadaan. Jangan pernah menyerah. Tuhan selalu punya rencana terbaik bagi kaum Nya.

Ah.
Bahkan, Bang Chris Martin yang hebat pun pernah merasakannya. Ia sempurna menyanyikannya dalam bait when  you try your best but you don’t succeed

Ah.
Baca saja rangkaian cerita yang dibuat oleh Tere Liye dalam rembulan tenggelam di wajahmu. Bagaimana si wajah menyenangkan membuat Rae tergugu dengan kalimat ‘… begitulah kehidupan. Ada yang kita tahu. Ada pula yang tidak kita tahu. Yakinlah, dengan ketidaktahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri’

Ah.
Sudahlah. Kita tidak lahir di dunia untuk menyenangkan hati semua orang. We can’t please everybody. Di saat usaha terbaikmu malahan masih membuat mereka merasa kurang.

Ah.
Hidup ini merupakan kumpulan rutinitas yang terkadang membuat kita lupa untuk bahagia. Bagaimana kamu bisa lupa untuk bahagia? Mungkin karena kamu terlalu sibuk berprasangka, terlalu sibuk berhitung lelah. Kenapa tak kau rebahkan saja lelahmu. Bersandar pada rasa syukur.

Ah.
Sudahlah.

Dear Ka,

Hei kamu, sudah lama kita tidak mengobrol, sudah lama tidak saling menatap jauh ke dalam  mencoba mencari makna satu sama lain. Ah tidak apalah, toh dulu dari awal aku dan kamu memulai ini semua, kita sama sama mengetahuinya bahwa aku dan kamu tidak akan menjadi kita. There always be you and me, not us.

Bagaimana kehidupanmu?

Bukan, bukan soal pekerjaanmu yang makin menyibukkan hari harimu yang aku tanyakan, bukan juga soal rekan kerjamu yang semakin mengganggumu, atau soal rencanamu ke rinjani akhir tahun ini. Tapi soal hidupmu. Pencarian jati dirimu, yang pernahkamu ceritakan padaku dulu.

Di bilangan umur yang tidak lagi muda dan kehidupan karirmu yang tidak meningkat, pernah kamu mencurahkan kegelisahanmu akan hidup. Ah tapi waktu itu kita tidak pernah membahasnya mendetail, karena selalu ada hal yang lebih penting yang kita bahas. Bukan begitu?

Ka, hidup aku belakangan ini berjalan luar biasa. Masih ingat pria yang sering kuceritakan padamu dulu? Iya, pria yang dulu selalu kamu sebut sebagai lelaki tak percaya diri, lelaki lemah yang tidak berani untuk melamarku. Berita baiknya, dia berani melamarku, Ka.

Tanpa aku paksa, tanpa aku ancam. Itu terjadi begitu saja.

Dan, persis seperti yang orang orang pernah katakan di saat kegelisahanku tak kunjung berani untuk menikah, hal itu aku rasakan saat bersamanya.

Tahukan … jenis jenis ketakutan yang selalu aku ceritakan kepadamu. Takut aku tidak pernah punya kebebasan saat menikah, takut suamiku tidak bisa menerima aku yang tidak pandai memasak, takut kehidupan pernikahanku berjalan membosankan, dan ketakutanku yang utama adalah takut suamiku memiliki kelakuan sepertimu, Ka … termasuk dalam pria pria yang tidak cukup hanya dengan satu wanita.

Hal terakhir cukup menghantuiku. Seperti yang sering dulu aku ceritakan kepadamu soal ketakutanku yang itu, aku selalu menyebut semua pria sama saja. Ah … ketakutanku beralasan, kamu tahu itu. Walau hanya sejenak waktu yang kita lewati bersama, tapi aku rasa kamu cukup memahami kenapa aku takut mempercayai pria lagi. Pengalaman tidak bisa dihilangkan, bukan begitu?

Dan mengenalmu, bersamamu, malah semakin menjadikan ketakutanku sebagai alasan aku ragu melangkah, selalu mengacaukan hubungan hubunganku dengan lawan jenis. Lembaga pernikahan semakin kabur saja saat aku dan kamu memasuki labirin perasaan kita. Aku sebut labirin, karena aku pernah kesulitan untuk keluar dari perasaan bodoh itu, hahahahaha…

Ah sudahlah, yang terjadi di antara kita waktu itu sudah kucoba lupakan. Kujadikan saja potongan potongan kejadian saat kita bersama menjadi satu bagian dalam hidup yang mungkin akan kurindukan, tapi tidak akan ingin kuulangi lagi. Bagaimana mungkin kuulangi lagi, menjadi hanya persinggahanmu dalam kebosanan hidupmu?

Baiklah, Ka. Kembali ke pria itu. Saat akhirnya pria itu melamarku, aku seperti menemukan jalan yang hilang. Aku seperti menemukan kompasku untuk berjalan menghidupkan kembali cita cita dan impianku yang tertimbun rutinitas.

Dan … ketakutan ketakutan itu hilang begitu saja saat dia menggenggam tanganku dan berkata; “kebahagian itu adalah pilihan. Dan aku memilihmu untuk bahagia”

Dia jauh dari sempurna. Kami tidak sempurna, kami hanya dua anak manusia yang berusaha melangkah bersama, saling menghargai keinginan dan kebiasaan masing masing. Bukankah adalah sebuah kebahagian ketika kita memiliki orang yang mampu membuat hidup lebih indah, membuat kita bisa lebih menikmati hidup?

Puzzle kehidupanku belum sempurna terrangkai, Ka. Aku belum memahami maksud Tuhan mempertemukan kita dulu. Tapi yang aku tahu pasti, terimakasih karena pernah lewat dalam kehidupanku.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di depan nanti, apakah priaku ini akan berubah menjadi seperti jutaan pria di luar sana, kita lihat saja nanti.

Toh hidup adalah proses yang tidak akan pernah berhenti. Di tiap helaan nafas kita, akan selalu ada harapan.

***

Done. Satu tulisan lagi. Jauh dari harapan sih,  tapi setidaknya saya mencoba membuat postingan. Hahahaha. Selamat hari sabtu, temans.

Terkadang cinta

Terkadang … cinta tak melulu berbicara tentang bisa atau tidak memiliki, tak selalu berbicara tentang dengan siapa kita bersama sama.

Terkadang … cinta itu bukan tentang dengan siapa kita berbagi selimut, bukan hanya tentang siapa yang memperjuangkan kita dan siapa yang merelakan kita pergi. Bukan juga tentang dikhianati atau mengkhianati.

Terkadang, cinta juga tentang kata kata yang tidak mampu diucapkan.

Tentang keresahan yang tak sempat dibagi,

Tentang kelelahan dalam penantian tanpa kepastian.

Tentang percaya walau berulang kali dikhianati, tentang kembali memaafkan walau berulangkali dikecewakan, tentang menyampaikan amarah dalam senyum, tentang menerima kembali setelah pergi.

Namun … terkadang, cinta itu tentang melihatnya bahagia. Itu saja.

image

If you're not the one ...

****

Ps: postingan lewat hp part 2. Semoga layar kecil gak bikin saya makin banyak typo. Hahahaha.

Fish

image

I know there are plenty of fish in the sea, but you’re my Nemo.

Hei. Selamat siang. Ini ais. Lagi cobain update blog dari hp. Norak sih. Aplikasi ini udah ada sejak bertahun tahun lalu.

Tapi saya jarang makenya. Hahahaha.

But now … in da middle of this ‘i don’t know what they talking about’ meeting, saya gak tahu harus ngapain. Mau jadi notulis, udah ada mbak sekretaris yang jago bikin notulen. Mau nyimak .. gak paham.

Ya udahlah. Saya ngeblog aja.

Cuman mau ngingetin. Blog saya ulangtahun. Yang keenam.

Udah. Gitu aja.

Sesak

Aku terkapar oleh rasa yang menggebu ini. Seperti dikelilingi oleh harap pada jutaan imaji, aku pun berusaha menuntaskan tiap kewajibanku.

Hanya saja, tuntutan tanggungjawab ini semakin menjadi di tiap harinya. Aku seperti dikejar dalam labirin panjang yang tak jua kutemukan jalan keluarnya.

Sampai sampai mulutpun lelah untuk mengeluh. Karena keluhanku bagaikan repitisi yang membuat orang lelah. Lalu apa gunanya aku jika hanya membuat orang lain jengah?

Mimpiku sederhana, kawan. Aku hanya ingin bahagia. Dan … aku hanya ingin kehadiranku akn membuat orang lain bernafas lebih mudah.

Namun nyatanya mewujudkannya jauh dari kata sederhana.

Dewasa tidak melulu soal umur. Tidak melulu bicara mengenai berhenti galau. Tidak melulu berbicara mengenai politik, perdamaian dunia, atau apapun yang mereka siarkan dalam berita. Dewasa juga tidak melulu soal berhenti menyakiti dan berhenti menyalak.

Terkadang, dewasa mengenai tanggungjawab. Terhadap hidup.

Bukan berhenti di memaknai hidup.

Aku sesak, oleh tiap rutinitas yang memburu ini. Jeda sesaat pun ternyata tidak mengurangi sesak. Mungkin yang harus diubah adalah cara memandangku terhadap ini semua. Aku hanya anak kemarin sore yang belajar mengenai rutinitas. Tau apa aku mengenai ini semua?

Terkadang rindu

Aku tidak pandai beranalogi, hanya saja aku suka beranalogi

Seperti dia yang pernah kupanggil Pagi. Bukan karena ia adalah manusia pagi yang selalu menyapa mentari.

Aku bahkan tidak pernah mendapatkan sapa darinya sebelum pukul tujuh pagi.
Hanya saja, dia itu seperti layaknua pagi… seperti semangat yang mengharuskan kita memulai sesuatu. Seperti rutinitas yang mewajibkan kita untuk bergerak. Seperti awal yang memaksa kita untuk memulai.

Seperti … awal yang baru.

Karena memang pada waktu aku bertemu dengannys … kondisinya seperti itu. Aku baru mengakhiri episode patah hati yang melibatkan kehilangan sahabat dan kehilangan lainnya, lalu dia datang begitu saja entah darimana. Seperti memaksa aku untuk mengakhiri episode patah hatiku, mengharuskan aku jatuh cinta pada tiap sapanya yang hangat, senyumnya yang ramah, rayuannya yang manis, keinginannya berbagi impian yang menjanjikan.

Dia … si pagi yang ternyata tidak hanya menyebarkan pagi untukku, tapi untuk yang lain juga. Dan aku pun harus merelakan pagiku menjadi pagi bagi wanita lain.

Lalu aku bertemu dengan dia yang lain. Aku menganalogikannya seperti sore.
Sore, bukan senja. Karena senja itu hangat dan memabukkan. Dan lagi, aku pernah bertemu dengan senjaku terlebih dahulu. Senjaku dulu terlalu manis, memabukkan, sehingga membuatku perlahan mati dalam harapan semu.

Tapi sore itu biasa. Hanya waktu biasa tanpa paksaan, tanpa kewajiban dan tanpa keharusan.

Sore itu hanya pertanda di mana kita akan mengakhiri rutinitas, tanpa yakin akan mengakhirinya. Sore itu biasa. Malah kadang kita melupakannya. Kadang karena terjebak pada rutinitas, kita melupakan sore dan kembali sadar saat gelap menjemput.

Tapi tahukah kamu. Sore adalah waktu yang melenakan, jika kita mengijinkan diri sendiri menikmatinya. Sore adalah waktu reflektif, seperti semesta yang memberi jeda kita untuk memperbaiki kealpaan kita sebelum hari berakhir. Sore bukan akhir seperti malam, bukan awal seperti pagi, bukan kobaran klimaks semangat seperti siang.

Sore hanyalah sore.

Dan aku pernah bertemu dengan soreku. Baru saja aku mengucapkan pisah padanya. Karena dia tidak seharusnya menjadi soreku.

Tapi bagaimana lagi, aku pernah mengijinkannya membawaku pada kenyamanannya yang melenakan. Aku pernah terbuai pada manisnya yang bukan paksaan. Aku jatuh pada rutinitasnya yang tidak mengikat. Aku terpesona pada tiap sesap biasanya.

Bersamanya lelahku tak kurasakan, bersamanya rutinitas menjadi menyenangkan, bersamanya waktu seperti punya dimensinya sendiri,

Caranya membalas senyumku, kecup hangat di tiap perjumpaan kita, sentuhannya yang menenangkan.

Lalu perlahan … seperti gelap yang menjemput dan waktu yang tidak absolut, aku harus merelakannya pergi

Seperti aku merelakan pagiku. Kini aku pun harus merelakan soreku, agar aku bisa bertemu dengan hariku.

Karena tiap perpisahan pasti akan membawa perjumpaan kan?

Lagipula, bukannya aku kehilangannya. Aku masih bisa bertemu sore di tiap hariku, walaupun … dia bukan lagi soreku.

Ah … pada tiap sapa yang semakin mendingin, aku hanya menitipkan salam. Untuk tiap senyum hangat dan canda tawa yang pernah singgah di antara kita. Bukan ingin itu kembali, karena … terkadang aku rindu.

Karena pernah, walau sesaat … aku merasakan tatapan matamu memandangku … penuh cinta.

image

Lama gak nulis fiksi, tapi sudah lupa bagaimana menulis fiksi dengan menggunakan tokoh. Ah rindunya …