#Friendship

Your friends will let you down. They will hurt you, tell a secret of yours, or go after a boy you like (well, no… the last one is unacceptable. At least for me)…. 

No friend is perfect (what do u think? We’re just human beings)

 But, a good friendship is worth working for. Repeat: WORTH WORKING FOR.

 It will require an investment of your time and patience. It will be messy, difficult, fun, and everything in between. Fight for your friendships. Work through hard stuff, so that you can continue to grow together.

 Pray for understanding. Friendship will cost you something, but you will be abundantly blessed by a strong and healthy friendship. So, don’t give up on people too quickly. Put in the time and energy to make your friendships great. And if don’t, just pass and go away. Life is too short to be anything but happy. Sometimes, you must accept that some people will never fit on your life. Just like that. 

4 Comments

Filed under [drama] lepas

dan …

mencintaimu itu menyenangkan, seperti bergelung di dalam selimut hangat di kala hujan. 

mencintaimu itu membahagiakan, seperti pulang ke rumah  setelah hari yang padat dan menemuimu dengan senyuman dan pelukan. oh, dan bonus Indomie Rebus buatanmu yang istimewa.

bersamamu itu adalah keputusan terbaik yang pernah aku buat seumur hidupku. walau harus menghadapi lawakanmu yang kadang gak lucu, logika berpikirmu yang kadang menakjubkan, 

kebiasaanmu meminta kopi yang ajaib, musikmu yang kadang membuatku mengerutkan dahi, dan semua kebiasaanmu lainnya yang baru – baru ini kuketahui, 

ah.. ternyata begini rasanya ….

rumit tapi menyenangkan. 

8 Comments

Filed under [drama] lepas

Throwback! 


Made with Timehop. http://dl.timehop.com/msif/O0kl7uZBRv

****
We take photos as a return ticket to a moment otherwise gone. 

***

Cerita menyusul. Mau naik mesin waktu dulu🙂

13 Comments

Filed under [drama] lepas

li’thing about my job

Hai… selamat hari minggu  temans,

postingan kali ini berawal dari komen si penggemar garis keras saya, si dikung. Males ngelink, kagak usah ngelink lah yah… hehehehehe. Dia komen di postingan saya yang ini: 

Di cuman bilang “go blog go” ….

Terus saya jadi kepikiran untuk bikin postingan tentang pekerjaan saya. Tapi lagi bingung. Mau nulis soal isi seminar kemarin atau hal lain yah. Kayanya hal lain ajah yah. isi seminarnya begitulah … saya bukan yang paham paham banget soal developmant program. 

Jadi, sejak dua tahun yang lalu saya pindah kantor kan yah. Setelah setahun pertama saya di bagian Operasional, mulai dua tahun lalu saya ditempatkan di divisi HR. Nah, divisi HR kantor saya kebetulan satu atap dan satu Manager sama GA. Buat yang gak paham sama GA, GA itu kepanjangan dari General Affair. You better googling at it yah Guys. Tapi secara singkat GA itu bisa disamakan dengan bagian Rumah Tangga dan Umum. Bagian kantor yang ngurusin pritilan macam katering makan siang, tiket dan hotel perjalanan dinas, ATK, mobil kantor endesbre endesbre laennya. 

Sudah paham? Yah kalau belum bayangkan saja di Kantor kawan kawan ada bagian yang paling sering dimintain tolong untuk macam – macam hal kecil laen untuk menunjang operasional. Baek itu urusan minta kertas, nanyain kenapa mesin kopi rusak, nanyain ada mobil dinas kantor apa enggak, nanyain hari ini rapat si itu berlangsung di hotel mana, some kind of that lah kurang lebih. 

Lalu buat kawan yang belum bekerja, bayangkan saja bagian TU di sekolah atau kampus, yah kurang lebih itulah. Tapi dengan tugas lebih kompleks yah Dek, bukan cuman ngurus Dokumen aja. 

Nah, yang mau saya ceritakan sebenarnya bukan soal apa – apa sih. Saya cuman mau sharing sedikit soal GA, karena saya sempet (sampai sekarang juga masih ding), ngerjain pekerjaan pekerjaan GA. Walaupun harusnya saya lebih fokus ke HR yah, but we’ll talk about that later … saya mau sharing aja sedikit yang saya pelajari selama dua tahun terakhir ini. dan spesifiknya adalah saya mau membahas soal pemilihan hotel. 

Bagian GA pasti sering dong diminta untuk arrange meeting baik internal maupun eksternal. Ada sedikit tips dalam memilih hotel untuk meeting. as usual, let’s make a list! 

  • Kenalan dengan Saleas Marketing Hotel

Ini gunanya bukan cuman buat urusan kantor yah buk ibuk, ini juga berguna untuk menambah jaringan! Karena gak selalu mereka yang membutuhkan kita. Tapi somehow mereka juga kita butuhkan. Karena, pertemanan sales itu kece banget, jadi kadang kamu bisa dapet informasi informasi menarik dari mereka. Bisa juga dapet special rate kalau mau nginep di hotel. Well, kita bisa juga menggunakan situs – situs wisata gitu sih. Tapikan bukannya lebih asik kalau kita booking lewat orang hotel dan minta permintaan permintaan (yang kita tahu) sulit mereka tolak. MIsalnya minta pemandangan yang bagus, minta jendela yang bisa dibuka, atau minta smooking room, atau minta lantai yang tinggi. Itu juga bisa sih di situs wisata, tapi beberapa kali saya masukin special request di form mereka, seringnya gak dipenuhin. So, memesan melalui marketing hotel masih menjadi favorit saya. Dan harga walau beda lima puluh ribu yah … tetap aja saya puas. Dan kalau mau complain juga lebih gampang, sis!

  • Cek harga corporate yang mereka berikan

Jelas penting yah, kamu bisa buka informasi harga satu kamar yang sama dan hotel yang sama di situs – situs macem traveloka dan kawan kawan, untuk dijadikan bahan referensi. Minta juga corporate rate untuk hotel di sekitaran hotel yang kamu tuju. Tapi perbandingannya apple to apple yah Jeung, jangan sembarangan ngebandingin harga. Lihat bintang berapa dan fasilitasnya seperti apa

  • Cek Kebutuhan

Konsumen kita itu adalah kawan – kawan kita di kantor, sesama pekerja yang sedang berusaha (diharapkan) maksimal untuk memenuhi target perusahaan. So, kita kudu dan wajib juga menyiapkan tempat yang maksimal sesuai dengan keinginan mereka. Cek peserta rapatnya ragamnya seperti apa (staf semua kah, eksternal atau internal, level manajerialnya berapa orang), hal – hal kecil seperti itu mesti diperhatikan. Di luar jumlah dan tujuan rapat yah, itu kudu hukumnya. Apakah mereka ahli hisap semua (perokok maksudnya), itu kaan menentukan apakah ruang meeting nya dekat dengan smooking area atau tidak. Perhatikan detail.

Buat daftar berapa orang peserta yang akan hadir, bentuk ruangan yang ingin digunakan seperti apa. Apakah clasroom ataukah U-Shape atau Round Table . Cek juga jarak antara mushola – ruang meeting dan restoran serta parkiran, dan resepsionis serta bussines centre nya.  Kadang jauhnya antar ruang bisa buat energi kita terkuras untuk koordinasi dengan kawan lainnya, apalagi saat sinyal hp jelek di hotel itu. 

  • Kenali Marketing Kamu dengan baik

Sekarang sih saya sudah gak begitu mengenal marketing – marketing hotel yah, tapi ada masanya saya mengenal mereka. Tujuannya sih sepele, untuk mempermudah urusan kami. Bukannya kita senang juga ketika kita dikenal secara baik oleh orang lain? Tapi yah jangan terlalu baik juga, nanti nyaman, nanti susah lupanya #ehloh

  • Buat perencanaan

Koordinasi dengan pimpinan rapat atau divisi yang akan rapat. Acara berlangsung seperti apa. Itu akan menentukan kapan coffee break akan keluar, berapa kali keluar pada hari itu. Makan siap jam berapa. Kemudian apakah kita perlu meimnjam infocus (itu nama merk sih, nama alat sebenarnya apa yah?) dengan pihak hotel atau pihak hotel memberikan itu sebagai fasilitas rapat. Cek juga kesiapan ruang untuk air minum, spidol, flip chart, mic buat pimpinan rapat. 
well, sebenarnya masih banyak tips lainnya, tapi untuk sementara ini dulu yah. Semoga bermanfaat bagi kroco  kawan – Kawan yang bekerja di bagian GA. Hahahahahaha …

See you when i see you, dramaLand !

4 Comments

Filed under [drama] lepas

pada tiap mereka yang pergi

Saya bukanlah mereka yang menganggap remeh apa itu kehilangan. Karena bagi saya, ketika saya kehilangan … berarti Tuhan sedang menegur saya. Sedang ingin berdialog lebih lama dengan saya, mencoba menyampaikan sesuatu kepada saya. 

Namun, hal tersebut bukan membuat saya lebih pandai menjaga hal-hal yang saya miliki. Atau lebih hati-hati. Saya mengakui, saya ini punya nilai di 9,8 untuk tingkat kesleboran. Benda benda kecil yang orang sering kehilangan (misal kunci, flash disk, masker buat naek motor, gantungan kunci, jam tangan), saya bisa kehilangan dua kali. Bahkan pernah saya kehilangan jam tangan sampai dua kali dalam setahun. 

Kacamata saya tahun ini sudah ganti 2x. Yah itu … gara gara slebor. Saya lupa naruh. Dan mengklaim benda itu hilang. Herannya, walau sering mengalami kehilangan, saya tetep kesel kalok benda kesayangan   saya hilang (kalau sayang dijagain sih ya, bukan dibiarin ilang. Tapi kalau diambil orang padahal udah kita jagain setengah mati ya nasib namanya). 

Nah. Tahun ini, saya kehilangan beberapa hal. What do you think if  i make a list? 

No?

Well.. a short list, maybe …..

  • Waktu luang 

Gak usah dibahas lah yah. Sejak jadi corporate worker, saya sering kebablasan sok sibuknya. Berangkat pagi, pulang malem, terus malem langsung obob. Begitu aja tiap hari. Tiba di weekend, saya berjibaku ngerjain pekerjaan rumahtangga dan bersosialisasi dengan mall  temen di mall, atau coffee shop, atau di manalah kami bisa bertemu. Saya jadi sering kehilangan waktu luang untuk leyeh leyeh, untuk ngelupasin kultikula di pinggir kuku tangan saya, stalking – stalking lucu, atau sekedar scrol newsfeed fesbuk. Bukannya gak ada sama sekali sih … hanya saja berkurang lumayan banyak dari 4 tahun lalu.

  • kacamata

sebenernya ini masuk kategori lupa naroh dan mari kita anggap hilang. Aslinya saya emang lupa naroh. Kapan dan di manah jangan ditanya dah. Gelaaaaap. Sebenernya sehari hari saya make kacamata buat nyetir aja sih, sama meeting yang mengharuskan saya melihat tulisan secara jauh. Atau training. Atau yah … kalau kudu liat yang bening – bening (3 terakir jarang banget terjadi. So basically, jarang saya pake itu kacamata kecuali saya mengendarai kendaraan). Pokonya intinya saya ganti kacamata tahun ini. Dan ini kacamata kedua yang hilang selama setahun terakhir. 

  • Sepatu, tas, baju, 

okeh. Kalau ini mah gara – gara packing renov rumah yang dilakukan membabi buta dan membuat saya merasa barang barang itu hilang. Gak masuk kategori yah. Okay. Next!

  • Selera humor

selera humor saya bisa dibilang berubah. Dulu saya sering banget ketawa. Sekarang saya seperti sulit menemukan hal hal konyol untuk ditertawakan. Beruntung mas suamik juara banget ngebanyolnya dan membuat saya tertawa. Hingga dipastikan setiap ada dia di sebelah saya, saya pasti tertawa. Bahkan untuk reaksi dia terhadap pemberitaan ayu tingting dan raffi ahmad (yang ngomong – ngomong; akun hatersnya bejibun yak di ig. Bukannya aku perhatian sih. Aku cuman follow beberapa dari mereka. Hahahahahaha)

  • Waktu menonton tv

mungkin bukan waktunya yang ga ada yah, tapi lebih kepada ‘males-usaha-masang-antena-karena-berhenti-langganan-tv-kabel’. Lagian, masih ada yah yang nonton tv lokal? Kok temen – temen sekitaran saya jarang yang ngebahas pertelevisian. Maksudnya … beberapa tahun lalu kan ekosistem saya rame ngebahas indonesian idol lah, atau dulu saya bela belain beli antene hujan hujanan demi untuk apa itu judul acara yang dipandu Choky Sitohang yang jodoh jodohan itu, atau … ngebahas sinteron tersanjung (so last year  decade! Hahahhahha). Pada intinya, saya ngerasa tenang tenang aja walau gak nonton tivi. Bukan jenis kehilangan yang berarti yah. 

  • Kemampuan menulis

bahkan di twitter, saya hanya mampu menuliskan beberapa twit dalam sehari. Padahal … dulu ada aja yang bisa saya tulis dan ceritakan dalam 160 karakter. Ini sudah berlangsung empat tahun lamanya. Saya gak tahu penyebabnya. Tapi, dalam hal ini … saya tahu Dia sedang mengajak saya berdialog untuk topik pembahasan ‘bagaimana cara menggunakan social media dengan tidak kebablasan’

  • Drama

entah pengaruh jarang nonton tv atau jarang membaca novel, saya merasa bahwa semakin sedikit drama hidup yang bisa saya bagi. Baik di blog ini, maupun dengan kawan kawan terdekat. Hidup saya as simple as you can see on my instagram lah. Masih pacaran sama mas suami, masih seru seruan jadi staf di salah satu kantor di ujung Jakarta, masih berusaha menekuni hobi membaca saya, begitu begitu saja. Mungkin, ini jenis kehilangan yang saya syukuri.

****

Mungkin masih ada hal lain yang menjadi ‘sesuatu yang hilang’, tapi postingan ini gak akan pernah kepublish kalau saya harus mengingat semuanya. 

Well, segini aja dulu yah untuk kali ini. See you when i see you, my dramaLand.

****

Ps: actually, saya niat awal nulis gak nulis ini loh. Niat awal nulis saya mau curhat soal kehilangan seorang kawan. Bukan seorang sih sebenarnya. Dan bukan literally kehilangan juga. Mereka masih di tempatnya, mereka masih ada di situ, di tempat kami pernah begitu dekat. Hanya saja … rasanya semua berbeda. Gak ada lagi bercanda cela celaan kami, gak ada lagi curhat curhat lucu kami. But, things changed. And … yasudahlaaaahhhhh, yang saya rindukan pada kenyataannya pertemanan kami dulu. Iyah, yang waktu itu. Ini saatnya teriak : NEXT!

Miss those good times. 

Gara – gara foto itu sihhhhh… 

PS: Postingan ini dipersembahkan oleh foto lama bersemi kembali. Ke bali. Er.. kembali maksudnya. 

6 Comments

Filed under [drama] lepas

coffee conversation

Kinan menyeruput tehnya perlahan. Sangat perlahan, seolah olah teh yang ada dalam cangkir itu adalah air suci yang harus diminum dengan perlahan. Seteguk teh manis hangat itu mengaliri kerongkongannya dan perlahan perasaan hangat dari teh itu mengaliri hatinya. Seolah seperti itu.

Padahal Kinan tahu, perasaan hangat tersebut bukan berasal dari Peach Tea hangat yang baru diseduh Mbok Nah sore ini. Perasaan hangat di hatinya secara jelas Kinan tahu penyebabnya. Penyebabnya adalah pertemuannya dengan Genta siang tadi.

Iya, Genta yang pernah mengisi hari-harinya lima tahun lalu.  Tadi siang Kinan bertemu dengan Genta itu. Genta yang pernah dua tahun menjadi sandaran hatinya, Genta yang pernah membantunya menyelesaikan tugas akhirnya waktu kuliah dulu, Genta yang menjadi teman berbaginya yang setia, Genta yang mengenalkannya pada dunia Advertising, Genta yang mengajarkan bagaimana bersikap profesional, Genta yang mendampinginya memasuki dunia pekerja, Genta yang dikhianatinya lima tahun lalu. Dan yah, Genta yang memilih pergi pada akhirnya.

Pertemuan itu bukan pertemuan yang tidak disengaja. Pertemuan Siang tadi merupakan pertemuan yang murni direncanakan. Direncanakan oleh mereka berdua, casual lunch yang malah berujung coffee time di Gedung Perkantoran tempat Genta bekerja.

Benak Kinan melayang ke percakapan yang terjadi siang tadi dengan Genta.

***

 

“Jadi, Sekarang kamu udah berhenti total dari dunia Advertising?” Genta.

“Kalau total sih belum yah Ta, masih satu divisi sama anak – anak Marketing, masih sering banget nongkrong sama anak – anak Marcom” Kinan

But guess you’re the boss now, Ki”  Genta.

Not yet, Ta. I’m just a slave” Kinan.

” Hahahahaha. But we are corporate slave. Don’t you agree?” Genta.

Tawa renyah dan sapaan hangat di mata Genta belum berubah. Kinan paham betul itu. Lalu percakapan seolah mengalir, membahas apa saja yang Kinan lakukan empat tahun terakhir. Bagaimana akhirnya Genta  membangun Advertising Agency miliknya yang dirintisnya dari jaman mereka sama sama kuliah dulu dan harus melihat bisnisnya itu hancur setahun lalu ketika satu persatu sahabatnya yang sama – sama membangun bisnis tersebut memilih menyebrang ke berbagai lini bisnis lainnya.

Pembicaraan siang tadi khas pembicaraan reuni yang terjadi saat Kinan berkumpul bersama kawan – kawan kuliahnya. Apalagi yang mereka bicarakan selain pekerjaan (elo inget Andrea? Angkatan 2005, sekarang dia kan udah jadi Manager loh di Unilever. Atau sejenis pertanyaan kasual; ‘Marcom tempat lo siapa sekarang yang megang?), bisnis, Aset, dan kalau yang ngumpul banyakan perempuannya … maka topik bahasan bertambah; keluarga.

Dan saat membahas topik terakhir biasanya Kinan beringsut menghindar. Kinan paling malas jika topik yang sedang seru – serunya tentang Advertising tiba – tiba harus berubah haluan ke topik keluarga. Alasannya sudah jelas. Karena Kinan memang belum berkeluarga. Dia lelah menghadapi hunusan pandangan mata teman – teman kuliahnya; yang seolah – olah meminta penjelasan kenapa dirinya masih belum berkeluarga. Seakan Kinan tahu kenapa dia belum berkeluarga.

Tapi bersama Genta, pembicaraan tidak berbelok ke pembicaraan tentang keluarga. Entah karena Genta seorang laki – laki atau mungkin karena Genta juga menghindari topik tersebut.

***

” Kamu masih seperti yang dulu Ki” Genta.

Dan pernyataan itu menggantung begitu saja siang tadi.  Menutupi perasaan gugupnya, Kinan perlahan mengambil cangkir di depannya siang tadi. Sejuta pertanyaan berkecamuk di pikirannya.

Apa maksud Genta? Sudah jelas Kinan berubah sejak lima tahun yang lalu. Kinan lima tahun lalu tidak mungkin akan tampil dengan sepatu dengan heels setinggi tujuh senti. Kinan yang lima tahun lalu tidak mungkin menggunakan blazer dan rok seperti siang tadi. Kinan yang dulu bahkan tidak tahu bahwa eyeshadow bisa digunakan sebagai ganti pensil alis. Kinan yang lima tahun yang lalu hanya mengandalkan lip gloss body shop favoritnya.Kinan yang dulu pasti sudah menghabiskan sore bersamamu, bukan menikmati peach Tea seperti saat ini seorang diri.

Namun Kinan yang dulu pasti akan dengan mudahnya terbang melayang hanya dengan kerlingan mata yang teduh milik Genta. Bukan berati kerlingan mata itu sudah tidak teduh lagi, hanya saja …

Untungnya ojeg on-line pesanan Kinan sudah tiba dan hal tersebut seperti memaksa mereka berdua untuk menyudahi reuni kecil mereka tanpa memberi kesempatan Kinan untuk memberikan tanggapan atas pernyataan Genta.

Saved by the ojeg.

***

to be continued. maybe.

***

masih ingat cerita Kinan – Genta – Bima yang pernah saya coba tulis sekitar enam tahun lalu? Saya sedang mencoba meneruskannya. Well, proyek kecil – kecilan saja, untuk melarikan diri sejenak dari rutinitas. Kalau mampu dan sempat yah dilanjutkan, kalau tidak yah disempat – sempatkan saja. 

P.S : ada yang pengen baca cerita sebelumnya? Here’s the link! 

 

9 Comments

Filed under Kinanti Prameswari Putri, [drama] tambahan

Listening to Memulai Kembali by Monita Tahalea

Matahari sudah di penghujung petang,
Ku lepas hari dan sebuah kisah
Tentang angan pilu yang dahulu melingkupiku
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama

Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilu pun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu

🎶🎶🎶🎶🎶

Listening to Memulai Kembali by Monita Tahalea

Preview it on Path

1 Comment

Filed under [drama] lepas