Terkadang cinta

Terkadang … cinta tak melulu berbicara tentang bisa atau tidak memiliki, tak selalu berbicara tentang dengan siapa kita bersama sama.

Terkadang … cinta itu bukan tentang dengan siapa kita berbagi selimut, bukan hanya tentang siapa yang memperjuangkan kita dan siapa yang merelakan kita pergi. Bukan juga tentang dikhianati atau mengkhianati.

Terkadang, cinta juga tentang kata kata yang tidak mampu diucapkan.

Tentang keresahan yang tak sempat dibagi,

Tentang kelelahan dalam penantian tanpa kepastian.

Tentang percaya walau berulang kali dikhianati, tentang kembali memaafkan walau berulangkali dikecewakan, tentang menyampaikan amarah dalam senyum, tentang menerima kembali setelah pergi.

Namun … terkadang, cinta itu tentang melihatnya bahagia. Itu saja.

image

If you're not the one ...

****

Ps: postingan lewat hp part 2. Semoga layar kecil gak bikin saya makin banyak typo. Hahahaha.

Fish

image

I know there are plenty of fish in the sea, but you’re my Nemo.

Hei. Selamat siang. Ini ais. Lagi cobain update blog dari hp. Norak sih. Aplikasi ini udah ada sejak bertahun tahun lalu.

Tapi saya jarang makenya. Hahahaha.

But now … in da middle of this ‘i don’t know what they talking about’ meeting, saya gak tahu harus ngapain. Mau jadi notulis, udah ada mbak sekretaris yang jago bikin notulen. Mau nyimak .. gak paham.

Ya udahlah. Saya ngeblog aja.

Cuman mau ngingetin. Blog saya ulangtahun. Yang keenam.

Udah. Gitu aja.

Sesak

Aku terkapar oleh rasa yang menggebu ini. Seperti dikelilingi oleh harap pada jutaan imaji, aku pun berusaha menuntaskan tiap kewajibanku.

Hanya saja, tuntutan tanggungjawab ini semakin menjadi di tiap harinya. Aku seperti dikejar dalam labirin panjang yang tak jua kutemukan jalan keluarnya.

Sampai sampai mulutpun lelah untuk mengeluh. Karena keluhanku bagaikan repitisi yang membuat orang lelah. Lalu apa gunanya aku jika hanya membuat orang lain jengah?

Mimpiku sederhana, kawan. Aku hanya ingin bahagia. Dan … aku hanya ingin kehadiranku akn membuat orang lain bernafas lebih mudah.

Namun nyatanya mewujudkannya jauh dari kata sederhana.

Dewasa tidak melulu soal umur. Tidak melulu bicara mengenai berhenti galau. Tidak melulu berbicara mengenai politik, perdamaian dunia, atau apapun yang mereka siarkan dalam berita. Dewasa juga tidak melulu soal berhenti menyakiti dan berhenti menyalak.

Terkadang, dewasa mengenai tanggungjawab. Terhadap hidup.

Bukan berhenti di memaknai hidup.

Aku sesak, oleh tiap rutinitas yang memburu ini. Jeda sesaat pun ternyata tidak mengurangi sesak. Mungkin yang harus diubah adalah cara memandangku terhadap ini semua. Aku hanya anak kemarin sore yang belajar mengenai rutinitas. Tau apa aku mengenai ini semua?

Terkadang rindu

Aku tidak pandai beranalogi, hanya saja aku suka beranalogi

Seperti dia yang pernah kupanggil Pagi. Bukan karena ia adalah manusia pagi yang selalu menyapa mentari.

Aku bahkan tidak pernah mendapatkan sapa darinya sebelum pukul tujuh pagi.
Hanya saja, dia itu seperti layaknua pagi… seperti semangat yang mengharuskan kita memulai sesuatu. Seperti rutinitas yang mewajibkan kita untuk bergerak. Seperti awal yang memaksa kita untuk memulai.

Seperti … awal yang baru.

Karena memang pada waktu aku bertemu dengannys … kondisinya seperti itu. Aku baru mengakhiri episode patah hati yang melibatkan kehilangan sahabat dan kehilangan lainnya, lalu dia datang begitu saja entah darimana. Seperti memaksa aku untuk mengakhiri episode patah hatiku, mengharuskan aku jatuh cinta pada tiap sapanya yang hangat, senyumnya yang ramah, rayuannya yang manis, keinginannya berbagi impian yang menjanjikan.

Dia … si pagi yang ternyata tidak hanya menyebarkan pagi untukku, tapi untuk yang lain juga. Dan aku pun harus merelakan pagiku menjadi pagi bagi wanita lain.

Lalu aku bertemu dengan dia yang lain. Aku menganalogikannya seperti sore.
Sore, bukan senja. Karena senja itu hangat dan memabukkan. Dan lagi, aku pernah bertemu dengan senjaku terlebih dahulu. Senjaku dulu terlalu manis, memabukkan, sehingga membuatku perlahan mati dalam harapan semu.

Tapi sore itu biasa. Hanya waktu biasa tanpa paksaan, tanpa kewajiban dan tanpa keharusan.

Sore itu hanya pertanda di mana kita akan mengakhiri rutinitas, tanpa yakin akan mengakhirinya. Sore itu biasa. Malah kadang kita melupakannya. Kadang karena terjebak pada rutinitas, kita melupakan sore dan kembali sadar saat gelap menjemput.

Tapi tahukah kamu. Sore adalah waktu yang melenakan, jika kita mengijinkan diri sendiri menikmatinya. Sore adalah waktu reflektif, seperti semesta yang memberi jeda kita untuk memperbaiki kealpaan kita sebelum hari berakhir. Sore bukan akhir seperti malam, bukan awal seperti pagi, bukan kobaran klimaks semangat seperti siang.

Sore hanyalah sore.

Dan aku pernah bertemu dengan soreku. Baru saja aku mengucapkan pisah padanya. Karena dia tidak seharusnya menjadi soreku.

Tapi bagaimana lagi, aku pernah mengijinkannya membawaku pada kenyamanannya yang melenakan. Aku pernah terbuai pada manisnya yang bukan paksaan. Aku jatuh pada rutinitasnya yang tidak mengikat. Aku terpesona pada tiap sesap biasanya.

Bersamanya lelahku tak kurasakan, bersamanya rutinitas menjadi menyenangkan, bersamanya waktu seperti punya dimensinya sendiri,

Caranya membalas senyumku, kecup hangat di tiap perjumpaan kita, sentuhannya yang menenangkan.

Lalu perlahan … seperti gelap yang menjemput dan waktu yang tidak absolut, aku harus merelakannya pergi

Seperti aku merelakan pagiku. Kini aku pun harus merelakan soreku, agar aku bisa bertemu dengan hariku.

Karena tiap perpisahan pasti akan membawa perjumpaan kan?

Lagipula, bukannya aku kehilangannya. Aku masih bisa bertemu sore di tiap hariku, walaupun … dia bukan lagi soreku.

Ah … pada tiap sapa yang semakin mendingin, aku hanya menitipkan salam. Untuk tiap senyum hangat dan canda tawa yang pernah singgah di antara kita. Bukan ingin itu kembali, karena … terkadang aku rindu.

Karena pernah, walau sesaat … aku merasakan tatapan matamu memandangku … penuh cinta.

image

Lama gak nulis fiksi, tapi sudah lupa bagaimana menulis fiksi dengan menggunakan tokoh. Ah rindunya …

Tentang Gedung Yunani

Dear All, hai…

Apa Kabar? Lama gak bersua ya, udah mau akhir bulan ketiga aja nih. Gak nyangka waktu begitu cepat berlalu. No wonder si Mbak ais suka lupa hari (nah. loh) … hehehehehe. Belakangan ini, sejak menyadari betapa menyenangkannya membaca tulisan sendiri di masa lalu … Saya semacam punya keinginan kuat untuk bisa kembali menulis.

Akhirnya di sini lah saya, di pojokan sebuah Coffee shop (yang selalu jadi favorit saya menghabiskan my me time) di dekat rumah, memangku laptop, membuka wordpress, berusaha mencari ide untuk menulis.

banyak sekali kawan yang ingin saya ceritakan. tentang bos saya sekarang yang ternyata subscribe blog saya (entah sudah diunsubscribe atau belum, anyway.. hola Bos!), tentang seorang teman pekerjaan saya dan bagaimana proses adaptasi saya, tentang bagaimana relasi saya dengan inner circle saya, tentang saya yang belum melaporkan SPT saya, tentang rencana getaway saya ke Jogja (lagi, untuk kesekian kalinya), tentang keinginan saya untuk menghabiskan lebaran di kampung halaman Bapak saya, tentang banyak hal.

terutama tentang tahun ketiga saya di belantara ibukota ini, bagaimana rasanya menjadi bagian dari rutinitas ini, tentang bagaimana akhirnya saya terbentuk perlahan menjadi budak kapitalis, tentang rencana besar saya 15 tahun mendatang, tentang rasa sesak yang masih menghampiri setiap kali … ah sudahlah, yang saya tulis harusnya tidak melulu soal rasa kan yah?

beberapa hari yang lalu saat reread blog saya sendiri ini, saya menemukan beberapa tulisan yang membuat saya tercengang. literally. takjub aja kok saya bisa menulis tentang hal – hal seperti itu ya. tentang pendidikan, tentang makna bekerja.

Lucu ya… bagaimana berbulan – bulan saya membaca dan memahami tentang Makna Bekerja untuk penelitian saya untuk pada akhirnya saya hanya menjadi semacam penghuni rak buku. Ke mana semua teori dan pengetahuan saya waktu itu? Jujur, dalam hati yang paling kecil saya rindu. Rindu menjadi mahasiswa dengan kewajiban membaca jurnal. Rindu menghirup aroma perpustakaan. Rindu mengalami kesulitan saat harus memahami abstrak sebuah jurnal.

ah kawan, terkadang rasa itu hanya sebuah ilusi.

baiklah, mengisi minggu malam ini… saya akan mencoba untuk bercerita mengenai Gedung Yunani, salah satu bangunan di Kampus saya. walaupun si dikung dan oom han yang nyebelin itu sering bilang saya gak filosofis, gak bisa dipungkiri bahwa saya memiliki ijazah dari Filsafat UGM. admit that hei boys, saya ini alumni Filsafat UGM (hahahahahaha!).

Jadi, salah satu gedung kampus saya itu adalah Gedung Yunani. Gedung berlantai dua di sisi timur kampus. Kalau teman – teman pernah melewati kampus UGM dan berada di Lembah UGM, pasti bisa langsung melihat penampakan gedung itu. Dinamakan gedung Yunani karena ada lima pilar besar di depannya.

Ceritanya, beberapa minggu yang lalu saya sedang membuka akun Facebook saya. tahukan .. hanya untuk tahu ada berita terbaru apa dari kawan – kawan onlen saya (termasuk beberapa blogger yang dulu pernah akrab banget, biasanya saya tahu kabar terbaru dari mereka ya lewat Facebook, sejak saya berhentu BW beberapa tahun terakhir), saya menemukan beberapa foto dari dosen S1 saya. kaget bukan kepalang .. ternyata Gedung Yunani akan dirubuhkan dan akan diganti dengan Gedung Baru.

saya diam. bolak – balik melihat foto – foto yang ada. mencoba meresap tiap foto yang ada. ikut merasakan tiap narasi yang Bapak Dosen hadirkan. Saya seperti ikut merasakan sepersekian rasa yang Bapak Dosen ceritakan terhadap bangunan berlantai dua itu. Bangunan itu terdiri dari ruang dosen dan ruang perpustakaan di bawahnya, serta ada semacam ruang komputer (pada jaman itu). Bagaimanapun saya menghabiskan waktu enam tahun di Gedung itu -tidak seperti Bapak Dosen yang mungkin lebih banyak menghabiskan waktunya.

Saya melihat foto – foto itu dan perlahan tapi pasti saya kembali ke masa – masa itu. Masa di mana masih menjadi mahasiswa rantau. Bagaimana saat pertama kali melewati gedung tersebut saya dihinggapi rasa bangga bahwa saya akan menjadi mahasiswa. untuk kemudian saya merasa lelah harus melihat gedung itu terus, lalu berganti kepada rasa takut karena ‘kok gue gak bisa lulus – lulus sih dari sini??’ untuk kemudian berganti dengan perasaan haru dan rela memutar jauh hanya untuk melihat tulisan ‘Fakultas Filsafat’ di gedungnya tiap kali kembali ke Jogja saat tidak menjadi warga Jogja lagi.

Kenangan – kenangan itu kembali. Tiap sudutnya seakan bercerita.

gedung Yunani

dulu .. di sudut ini ada bangku – bangku kayunya. kalau mau menunggu jadwal bimbingan Skripsi, saya biasanya nunggu di sini. pernah juga menunggu jadwal untuk ujian lisan mata Kuliah Kapita Selekta Filsafat Barat dan Metode – Metode Filsafat -dua mata kuliah yang ujiannya lisan. sudut ini paham sekali tiap debaran gugupnya mahasiswa.

Gedung Yunani 1

Kalau sudut yang ini beda lagi, biasanya di sini kami mengintip – ngintip apakah dosen pembimbing kami ada di ruangan atau tidak. Kalau gak ada, kami buru – buru menaruh draft tulisan kami. Syukur – syukur gak ketahuan dosen lainnya, jadi aman. Hahahahaha.. nanti tinggal sms Dosen dan bilang kalau draft nya sudah kami taruh di meja ibu. mohon bantuannya. begitu.

Gedung Yunani 2

Sudut yang ini punya cerita yang berbeda. biasanya kawan – kawan seangkatan akan duduk – duduk manis. istilah Jogjanya tengtengcrit. alias tengu’ tengu’ cerito (apa bahasa Indonesia-nya, Dab?). Biasanya sambil godain anak – anak jurusan lain yang lewat. Karena di depan sudut ini adalah jalan menuju Gedung Perkuliahan.

Sudut ini juga dulu tempat saya ngobrol sama gebetan (gebetan – gebetan) saya (hahahahaha!).

gedung YUnani 3

ah… saya emang orangnya gampang terjebak di masa lalu. seperti sekarang ini. hahahaha.

tapi gak kok, bukan berarti saya gak siap menghadapi berkas payroll besok senin, atau kenyataan adanya berkas anak PKL yang sudah teronggok sebulan lebih di meja saya. Saya siap. hanya saja … ya begitulah.

saya nulis ini bukan berarti saya menolah dirubuhkannya Gedung itu ya. enggak. sama sekali bukan itu. Saya hanya mencoba meresapi tiap sudutnya untuk terakhir kalinya. Tempat di mana saya pernah memperjuangkan sesuatu, tempat yang pernah jadi saksi tawa saya bersama kawan – kawan, nervous nya saya saat mau ujian, sampai air mata saya saat dinyatakan tidak lulus di salah satu mata kuliah.

bukan ingin kembali. hanya meresap rasa yang pernah ada, untuk kembali mengingat semangat itu. seperti yang Wells pernah bilang: ‘We all have our time machines, don’t we. Those that take us back are memories…And those that carry us forward, are dreams

after all, we must keep moving forward, right?

Just keep swiming … just keep swiming :)

keep swiming

selamat menghadapi Senin, Kawan!

PS: closingnya gak asyik. soalnya udah malem. Coffee shopnya udah mau tutup. hahahaha. ciao!

 

disalip lagi, Is?

Disalip lagi, is?

 

Hai, kawans. Apa kabar? Semoga selalu diberi hati yang penuh syukur ya :)

Judul di atas adalah sebuah caption untuk foto yang dikirim sama salah satu kawan saya beberapa hari yang lalu.

Fotonya agak gak etis juga ya dipajang di sini. Saya trauma majang majang foto, ntar malah dimaki maki sama pihak yang gak suka kalau saya majang majang foto seenak udelnya.

Tapi ya udalah ya, kisah buram akir taun saya waktu dimaki orang gara gara foto foto saya di salah satu akun socmed cukup my partner in crime dan dikung aja yang paham. Sama mereka aja saya uda puas abis diledekin. Konon kalau satu perblogan dramaland tau #drama hahahahaha πŸ˜†

Oke. Balik ke caption foto disalip lagi, IsΒ  – yang dikirim sama sahabat saya itu. Fotonya sih simpel. Foto … you know jenis foto yang diambil sesaat setelah ijab kabul, setelah sang mempelai pria mengucapkan ijab dan menjabat tangan ayahanda mempelai wanita. Sesaat setelah mereka menandatangani buku nikah, lalu pasti ada adegan foto pamer buku nikah kan… nah foto seperti itu yang dikirim sahabat saya di suatu pagi yang cerah beberapa hari yang lalu.

Sebenernya kalau itu fotonya kiwil yang nikah lagi atau siapapun itu saya ga akan ampek terbersit bikin postingan hari ini.

Itu … yang jadi tokoh di foto ‘pose sejuta umat penganten baru’ adalah …. jreng jreng jreeeeng … *drumroll*

Jrengggg …. jreeeeeng ….

Captain.

Yess. That captain married with somebody i don’t know who.

Kalau kawan kawan yang enam atau lima taunan yang lalu baca blog ini (and now you can read at my arsip. Cmon…. quick, before i erase that all. Hahahahaha), pasti kenal sama tokoh captain. Bahkan ada beberapa orang yang saat ngetik real name nya captain di search engine akan nyasar ke blog ini.

Iya. Cinta masa muda jaman kuliah hura hura dan jaman baru baru ngeblog dan alasan saya punya blog ini, dan juga pria yang pernah jadi alasan saya menyandang gelar miss drama, menikah.

Menikah. Dengan wanita lain. Repeat once more: menikah. Bukan sama saya. Tapi sama wanita lain.

Ga ada yang salah sih … i mean … kisah saya sama dia sudah berakhir bertahun tahun lalu. Dan.. -Alhamdulillah di antara kisah masa lalu,- sama dia bisa dibilang saya bisa menyematkan kata kata “berpisah dengan baik”

I mean … cuman sama dia setelah putus kita masih bisa komunikasi dengan baik. Bisa ngobrol, nggosip, kadang diselipin curhatan, sama diskusi diskusi a la anak filsafat gagal (secara ya bok dulu kita kuliah di jurusan yang sama). Tanpa ada goda goda tergoda. Ada satu titik di mana kita ngerasa, memang lebih baik kita temenan. Karena less expectation kali yak. Tapi … tetep ya boooook … pas liat foto itu rasanya di hati tuh kaya ditusuk tusuk jarum pentul. Bukan jenis sakit yang “hiks dia nikah sama wanita lain, harusnya sama gueeee” tapi jenis sakit yang “kampret. Gue disalip. Lagi.”

Fyi aja, beberapa bulan yang lalu juga salah satu mantan kisah masa lalu saya baru naik pelaminan juga. Kebanyakan kisah masa lalu sih lo Is! Oke. Karena ini blog adalah saksi bisu sisi diri saya yang gak saya bagi sama yang laen, saya mau jujur nyeritain perasaan saya waktu liat itu.

Saya galau. Galau … kenapa pria pria itu tidak memiliki keyakinan untuk menikah dengan saya, tapi bisa menikah dengan wanita wanita yang mereka temui setelah saya. Serius loh ini, semua mantan saya setelah putus, bertemu wanita lain terus nikah. Feels like charlie on good luck chuck kalau ada yang pernah nonton pilemnya Jessica Alba yang jadi pelatih pinguin. Minus sex scene ya.

good luck chuck

Apa. Ada. Yang. Salah. Sama. Saya. Ya.

Actually, beberapa kawan bilang kalau saya punya pola. terlepas yah dari penyebab berakhirnya kisah – kisah drama percintaan saya di masa lalu (saya belajar, semakin sedikit yang tahu kisah sebenernya yang terjadi semakin baik, karena terkadang … apa yang ada di pikiran orang – orang gak akan pernah bisa kita kontrol, ya kan? jadi … biarkan saja mereka di luar sana punya cerita versi mereka mengenai kehidupan kita. hahahahaha)

Jadi .. begini pola hubungan percintaan saya (menurut para sahabat): ‘punya pacar – punya back up – akirnya putus – jadian sama back up plan saya – nuntut diseriusin (every woman have this stage, right?) – nuntut kepastian – pria nya ragu – nyari back up lagi – saat pria mulai yakin, saya ketakutan – bikin masalah – putus.’ Terlepas dari bener atau ga yang sahabat sahabat saya bilang, saya jadi introspeksi diri. Something wrong.

Mungkin yang salah bukan pria pria itu. Mungkin saya yang salah mengenai ide ‘menikah’ yang saya miliki. atau mungkin, seperti yang beberapa sahabat saya katakan: “makanya Is, harus fokus. kalau gak fokus ya susah…”

Apapun itu, saya sedang ada di dalam tahap krisis kepercayaan diri. bahwa mungkin … at the end, saya lah yang mengacaukan semuanya. Saya pernah curhat pada seorang sahabat “when you always having bad relationship, if you have a good one, you can’t stop thingking when bad thing will happen

segala macam teori dan pikiran positif sudah saya coba untuk saya sugestikan ke pikiran saya untuk mwnghLu pikiran – pikiran jelek itu. tapi tetap aja … ah. saya galau kan. saya sudahi saja postingan ini. daripada makin gak jelas.

Rasanya sudah lama tidak mencurahkan rasa terdalam seperti ini. *kemudian lanjut ngelamun*

 

 

a self -blog- reflection

a self reflectionheihoooo… selamat bulan desembeeer! eh udah mau habis yah bulan desembernya.

ini gara – gara maen ke rumahnya Bu Piet nih, jadi nemu postingannya yang terakhir, jadi ngelink ke blognya oom enha, oom yang masih eksis nulis di dunia perblog-an *hiks* sebagai Β salah satu teman ngeblognya oom enha dari tahun yang sama, ngerasa gagal deh mengikuti jejaknya yang masih rajin nulis :'(

tapi gak apa apa dong kalau misalnya saya nekat ngikut GA nya oom enha. sekalian memacu adrenalin juga, udah lama kan gak ikutan GA. hihihihihi. kangen loh ikutan GA tuh. dan di waktu yang tinggal kurang lebih satu jam ini, dan di saat masih nungguin oom – oom bos yang masih meeting (iya, di malam minggu!!!), mbak ais ini mencoba tengok – tengok di tulisan sendiri di tahun ini. sedih yah, ternyata tulisan saya dikit banget di tahun ini.

rasanya sih pengen ngikutin semua postingan, soalnya nulisnya udah berdarah – darah semuanya *tetep lebay, si miss drama ini*, hahahahaha. tapi berhubung hanya boleh masukin satu postingan diantara postingan tahun ini, jreeeng …. maka postingan yang saya ikutkan dalam self reflection ini adalaaaah *drum roll* jreeeeng …

postingan ini, dengan judul yang tak kami pahami tentang kalian.

kenapa saya pilih postingan ini dibanding jutaan postingan laennya? karena, saya bisa merasakan diri saya di jaman dulu, jaman saya baru mulai nulis dan sering nulis hal – hal gak penting -tapi seru- Β untuk ditulis. tulisan itu dibuat di kantor kalau gak salah, nulisnya sambil dengerin lagu All of me – nya John Legend, pas oom bos lagi pergi, dan saya masih di kantor lama di deket dermaga 200 itu. dan postingan itu dibuat kayanya beberapa jam gitu deh, soalnya seinget saya kepotong beberapa kerjaan (namanya juga ngeblog di kantor, yak…)

entah kenapa, saat membaca tulisan itu saya jadi senyum – senyum sendiri. bukan tulisan dengan traffic terbaik, bukan tulisan dengan typo tersedikit, tapi itu tulisan yang menulisnya tanpa saya konsep. that’s just happened. kalau gak salah inget sih tulisan itu habis ada episode drama sama salah satu mantan (kapan sih Is, bisa bebas dari mantan? ) pengen nulis galau tapi kok malu sama umur. tapi ada hasrat (galau) terpendam yang pengen banget disampaikan.

tapi tetep yah boook, si ais ini tukang typo banget dan males re-read tulisan sendiri jadi typo bertebaran di mana – mana. dan entah yah, kerasa atau gak saya itu nulis kaya diburu – buru, narasinya kurang. itu menurut saya sih.

kalau ada kesempatan, saya pengen banget ngangkat topik yang disuguhkan di postingan itu lagi. lagi?

iya. karena ada beberapa tambahan yang pengen saya masukin di situ. biasa, seiring berkembangnya lingkungan, berkembang juga pola pikir. ya kan? dan bekembang juga pendapat. hahahahay!

satu yang pasti, yang terlintas saat saya membaca lagi postingan saya yang itu: harapan itu kadang mematikan. tapi harapan itu adalah energi kita untuk bergerak. tapi, harapan juga harus tahu diri. Bahagia itu saat kita mampu menyeimbangkan berharap dan menerima kenyataan hidup.

Punya badan gemuk jangan maksa dibilang kurus juga sama pria kita. Hadapi kenyataan, tubuh kita semakin tua semakin tidak mampu menahan daya gravitasi dan itu membuat perut kita semakin turun dan membuncit.

closing statement yang aneh. tapi biarin lah.

so, postingan ini diikut sertakan dalam lomba tengok-tengok blog sendiri berhadiah, yang diselenggarakan oleh blog The Ordinary Trainer.

kalau kamu, postingan mana yang paling berkesan? di dramaLand loh tapi … bukan di blog kamu (hahahahaha).

***