Begini,

Ada hal hal yang kemudian harusnya kita lupakan. Nada nada sumbang yang berbicara di belakang kita, gosip tidak penting soal selebriti yang bahkan tidak kita ketahui korelasinya dengan kita.

Tuhan sempurna menciptakan memori kita yang terbatas ini. Dengan segala kelebihannya, memori kita miliki mekanisme tersendiri untuk memilih mana yang harus kita ingat dan mana yang dilupakan.

Dilupakan atau terlupakan itu hanyalah masalah teknis. Tidak peduli mana yang terjadi, ujungnya adalah perginya beberapa keping hal dari memori kita

Pernah terbayangkan gak jika memori kita tidak memiliki mekanisme ini? Mungkin teori Freud tidak akan lahir ya. Mungkin. Mungkin kepala kita akan sering hang, sama seperti handphone yang kepenuhan memori.

Ya kan.

Satu lagi alasan untuk terus bersyukur, kali ini karena Tuhan menciptakan mekanisme lupa dalam hidup kita.

Kebayang gak sih kalau kita masih ingat sakit hati pertama kita?

Ouch.

Cheers.

Maret 2019

Dear Dramaland,

Hari ini tanggal 20 Maret 2019. 10 tahun sudah umurmu tahun ini. Dulu waktu memulai blog ini umurku masih gadis belia 20tahunan. Malam ini saat aku menulis ini aku sedang memandang anak keduaku tertidur lelap setelah puas dia menyusu padaku.

Bisa kau bayangkan itu hai Dramaland ? Aku, si ais yang memulai blog ini dengan penuh drama (gak penting) di umur 20an telah menjadi mamak mamak (masa kini) dengan dua anak.

Biar kujelaskan padamu, waktu berumur belasan tahun dan masih duduk di bangku SMA….aku pernah berkhayal dan membayangkan menjadi dewasa. Membayangkan menikah di usia 25 tahun, memiliki anak di usia 26 tahun, kemudian anak kedua di usia 28 tahun. Lalu menapaki karir dan menjadi Manager di usia 30 tahun. Lalu… khayalanku berhenti di situ. Pengetahuanku mengenai tahap tahap kehidupan terbatas waktu itu sehingga menganggap di usia 30 aku akan menjadi pribadi yang matang, dewasa dan akan menguasai dunia.

Aku gak paham jika ingin menikah di umur 25 tahun, aku harus bertemu dengan Pangeranku sebelum usia 25 tahun. Jika aku ingin menjadi Bos di usia 30 tahun, aku harus menjadi supervisor dulu sebelumnya. Atau apapun itu yang disyaratkan untuk menduduki jabatan itu di bidang entahlah apa.

Ternyata …. menjadi dewasa itu rumit dan konyol. Aku hanya bisa tersenyum jika membaca ulang tulisan tulisan di blog ini. Darimana semua waktu dan kata yang bisa aku luangkan untuk menuliskan semua postingan yang ada di sini?

10 tahun lalu aku tidak pernah membayangkan akan begini jadinya … akan menjadi ibu ibu pekerja yang merisaukan soal ASI Perah, berat badan, tumbuh kembang balita, pola karir, komunikasi dalam pernikahan dan jutaan permasalahan kecil lainnya yang kadang mewarnai hari hariku.

Typically

Ah sudahlah. Kemampuanku menuangkan isi kepala ke dalam tulisan sepertinya harus sering dilatih. No excuse. Aku punya waktu untuk membuat caption foto di instagram, untuk membuat threat di twitter, berselancar di forum gosip, nonton Boril jadi juri di youtube, taaapiii gak punya waktu untuk menulis di blog?

Itulah kenapa banyak hal tertunda dalam semua rencanaku.

Ternyata aku pandai membuat alasan.

Cheers,

Tiga tahun dan sedikit cerita

Pagi tadi, mas bojo nyiapin sarapan nasi uduk si teteh dari gang sebelah yang hari kemaren saya pengenin. Sudah beberapa hari saya setiap berangkat ke kantor dan ngelewatin si Teteh jualan, pengen banget mampir terus membeli sebungkus nasi uduknya. Tapi ramenya pembeli bikin saya mikir berulang kali. Bisa bisa telat ngantor kalau saya mampir dulu.

Keinginan terpendam saya itu saya sampaikan ke mas bojo; kenapa ya kok kangen nasi uduk si teteh.

Surprise, pagi tadi di meja makan sudah tersedia dengan manis sebungkus nasi uduk dan bonus kue lupis kesukaan saya (juga!). Saya tanya, dalam rangka apa mas bojo beliin nasi uduk, soalnya jaman saya hamil si genduk saya sering banget beli nasi uduk itu dan mas bojo seringnya protes (rame banget mau makan doang!). Lah kok ini ujug ujug dia bawain itu nasi uduk.

Singkat cerita, sampai di kantor, saya buka komputer… terus jalan ke pantry ambil minum dan sendok. Balik ke meja saya lihat layar komputer dan mendapati hari ini adalah anniversarry pernikahan saya dan mas bojo.

Ya Tuhan. Kok saya bisa lupa.

Langsung wasap mas bojo (lagi. Setelah sebelumnya laporan kalau sudah sampai kantor, lagi buka nasi uduknya), sambil menulis rangkaian kata mesra meminta maaf atas kelalaian saya melupakan wedding anniversarry kami.

Dan mas bojo bales wasap saya kurang lebih gini; itu makanya ada lopis sama nasi uduk hadiah anniversarry. Ya walaupun gak ngucapin nanti juga ade tahu.

I just like… hmmmmm oke. *garuk garuk keyboard, gregetan*

That’s soooooo him. Gak romantis, datar, flat, straight to the point, but (somehow) … that’s why i love him.

Entah kenapa, dia mampu meredakan saya yang meledak-ledak ini.

Gak jarang sih kita suka ribut akan hal-hal kecil gak penting gara-gara sifat saya yang meledak ledak ini.

Wait

Sebenarnya, selama 3 tahun perjalanan berkeluarga ini (Alhamdulillah) … kami sangat jarang ribut saling tuding berantem rame gitu. Bukan gak pernah ya…. hal-hal kecil macam handuk basah gak dijemur di luar, motor dia yang dia parkir ngalangin jalan keluar mobil pas saya mau ngantor, kebiasaan dia tidur seenak jidat di sabtu-minggu, jahilnya dia melesetin lagu di depan genduk, ketidakteraturan dia untuk makan, dan hal-hal kecil lainnya pastilah bikin kita berdua masih ribut (ehem. Sebenernya saya yang cerewet dan dia tetap pada sifat aslinya : datar).

***

Entah karena memang sudah umur atau memang muka saya keliatan tua … gak jarang ada beberapa kawan yang percaya sama saya buat curhat permasalahan hidup ke saya. Mungkin karena mereka tahu saya belajar psikologi jadi saya bisa diharapkan memberikan masukan yang wise (Walaupun somehow ujung ujungnya saya gantian yang curhat. Hahahahaha!). Pertanyaan yang kadang muncul adalah:

– bagaimana saya tahu kalau mas bojo adalah jodoh saya?

Jawabannya : saya gak tahu. Setelah melewati episode panjang bertemu dengan kodok kodok sebelumnya, saya juga pesimis bahwa hubungan kami akan berhasil. Maksud saya, setelah gagal sekian kali ada perasaan gak percaya yang muncul ketika dia menyatakan niat untuk serius. Lalu apa yang membuat saya yakin? Actually i don’t know. But one thing for sure …. setelah apa yang terjadi diantara kami, setelah semua drama saya lakoni dalam hubungan ini, he stayed. And just like that …. booom … semua jalan dan niat kami untuk serius dimudahkan dan tak menemui kendala berarti.

– apa perbedaan setelah dan sebelum menikah?

Jawabannya: banyak, kakaaaaa. Kalau mau dibikin list baru besok shubuh saya kelar nulis postingan ini. Hahahahahaahaha.

Dulu sebelum nikah tuh ya saya kurus gitu deh, masih hobi makek eyelinner, lipstik dan contact lens. Masih berusaha terlihat good looking di depan dia.

Sekarang? Udah mandi sama pake body lotion aja yang penting. Maskara saya ampek kering kerontang dianggurin. Fokus ke rajin keramas dan tetap wangi menyambutnya pulang (aeeehh).

Dulu saya tuh hobi drama ngirim gambar gambar di pinterest yang menyentuh hati, sama sering ngasih surprise kue atau kado tiap tanggal 12.

Sekarang? Anniversarry aja lupa. Hahahahaha

Dulu kalau tidur sendiri, kak.

Sekarang bertiga, bonus pelukan dari belakang tiap malem. Dan entah ya, kadang kalau dia pulang kampung atau lembur dan gak bisa pulang … saya sering merasa gak bisa tidur dan kasur terasa luaaaas sekali. Aeeeehhhh…

***

Perjalanan 3 tahun ini masih piyik banget, masih muda. Masih belum ada apa-apanya dengan perjalanan kami ke depan. Hanya saja saya mau menuliskan hal ini sekarang, biar nantinya saat saya membuka tulisan ini di tahun-tahun mendatang, saya bisa diingatkan lagi tentang perasaan ini, tentang pemikiran ini, tentang betapa beruntungnya saya dengan doa doa yang saya ucapkan dulu perlahan mulai terwujud.

***

Dear Pii…

Happy anniversarry once again. Maaf kealpaan ade mengingat hari ini. Kalimat maafnya sudah terrangkai sempurna dan siap ade sajikan ke mas, nanti. Terimakasih tak terhingga sudah mengajarkan untuk selalu pandai bersyukur, untuk selalu sabar dalam tiap langkah hidup ini, untuk selalu bahagia dengan hal hal sederhana yang kita wujudkan

Sama sama belajar ya untuk menjadi lebih baik, untuk sama-sama lebih melihat kepada apa apa yang kita miliki dan bersyukur karenanya daripada terus menerus meratapi kekurangan.

Tolong, jangam lelah untuk membimbing istrimu ini. Masih panjang perjalanan kita, masih terbata cara kita menghadapi dunia, dan masih banyak yang belum kita pahami.

***

Nitey nite temans, have a nice weekend!

Tulisan random di malam minggu

Karena terkadang, ada hal – hal yang terlalu kita ambil pakai hati. Istilah anak muda jaman sekarang; baper.

Iya

Saya baper malem ini. Setelah menghabiskan waktu beberapa menit mengobrol dengan seseorang dan lalu ada kalimat yang dia ucapkan, dan saya terluka oleh kalimat itu. Padahal, saya paham kalau dia gak ada maksud sama sekali untuk melukai hati saya

Berhubung sampai jam 23.55 ini saya belum bisa tidur, saya jadi menuliskan ini deh di blog. Si baby A udah tidur dengan beberapa kali ngigo kan. Mas bojo masih di restoran. Jadi daripada saya ngomong sama tembok (halah) atau stalking forum gosip dan akun gosip lainnya, mendingan saya nulis di blog. Udah lama rasanya gak nulis hal random.

Hari ini saya menemukan hal baru (selaen kebaperan tingkat dewa saya atas kalimat si kawan); Baby A meluapkan emosi jengkel dengan luar biasa drama sekali hari ini. Well, saya gak bisa menceritakan lewat tulisan. Dia tadi nangis heboh karena gk mau digendong orang lain. Dan karena saking jengkelnya, dia sampai sempet sempetnya pas digendong saya … dia nowel rambut si penggendong yang bikin dia kesel. Dan pas orangnya nengok ke arah Baby A, baby A buang muka.

Iya sodara sodara, Baby A sudah bisa melengos

Siapa nduk yang ngajarin?

Yang mau saya ceritakan lagi adalah tentang Dilan (yakin kalau dikung baca ini dia langsung meluncur ke kolom komentar, ga akan dia selesain nih bacaan). Saya belum nonton filmnya (dan mungkin gak akan nonton – pasti ibu ibu dengan anak bayi akan paham sudah berapa lama kita gak ke bioskop), tapi saya sudah baca bukunya

Jujur, saya sudah merasakan yang 4 juta penonton rasakan saat baca bukunya. Senyum senyum sendiri. Inget jaman putih abu abu

…walaupun saya gak sekolah di Bandung, walaupun tahun 90 saya masih esde, walaupun pacar saya bukan anak genk motor, walaupun saya gak secantik milea (bold!)..

Saya senyum senyum sendiri, sambil malu malu gitu.

…inget semua malu-malu sederhana yang saya rasakan waktu SMA. Sumringahnya saya disenyumin sama senior dari jendela kelas, gegap gempitanya hati ini didatengin di kost kostan sama mas mas itu, dianterin pulang pas siaran malem minggu, nerima surat dari si dia yang ada di TU gara gara ngirim suratnya lewat sekolah,

Ya ampun. Lucu ya dengan hal itu aja dulu kita bisa seneng. Nek bahasa jermannya : mbungah

Begitulah, cinta pernah sesederhana itu. Sebelum menjadi rumit dan kompleks dengan bertambahnya usia. Rindu gak sih sama hal hal sederhana yang bisa bikin kita bahagia? (Note: gak usah dijawab, dijadiin renungan aja sendiri. Hahahahahahaha)

Tapi, kalau kesemsemnya saya pas baca buku Dilan masih ngalahin kesemsemnya saya pas baca buku balada si roy.

Balada si roy yang saya baca pas SMA, minjem di taman bacaan. Saya lupa lupa ingat sih semua ceritanya. Tapi saya gak akan pernah lupa betapa saya suka (banget) sama tokoh Roy di situ

Entah ada hubungannya apa engga, ternyata si Mas Bojo dulunya tukang berantem macam si roy. TERUS KENAPA YAK?!?

Ah sudahlah. Si Baby A kebangun. Mari kita tinggalkan memori sejenak, kita tinggalkan si ais jaman SMA untuk kembali menjadi Ibu ais, wanita thirty something yang sedang berusaha menahan lapar tengah malam dan menidurkan anaknya kembali.

Satu yang pasti, yang lalu tak mungkin terulang.

Cheers,

I’m sorry

Ceritanya, barusan saya curhat. Curhat sama seorang kawan. Cerita kalau saya begini, saya begitu, lalu dia ngasih tahu sepotong kalimat yang pernah saya tulis di blog ini.

Saya spechless. Spechless karena saya pernah menuliskan hal yang ternyata masih berkorelasi dengan saya yang sekarang (btw, itu tulisan saya sekitar 6 tahun lalu), dan spechless karena saya seperti ditampar sama diri sendiri melalui kawan saya itu. In good way.

Rasanya kayak diulang lagi aja ya itu yang namanya masalah. Padahal packaging masalahnya beda, mungkin sikap yang diambil bisa sama. Kayak soal matematika. Angka nya beda, rumusnya aja sama.

Well, itu juga lah yang membuat saya ingin menulis lagi malam ini. Menuliskan sedikit cerita dari apa yang saya alami hari ini. Sekedar mengingatkan diri saya sendiri dan catatan kecil untuk bidadari saya ketika dia besar nanti.

Semuanya memang berawal dari dia, si genduk ayu satu ini yang bikin saya terus belajar dari hari ke hari. Dulu aku skeptis ketika orang bilang kita belajar dari anak. Ternyata benar; ada hal hal istimewa yang akhirnya kita dapatkan dari memiliki anak.

Itulah kenapa memiliki anak akhirnya menjadi komitmen seumur hidup yang harus kita pertimbangkan dengan baik sebelum memutuskan untuk memiliki.

Oke. Si Baby sudah masuk usia 7 bulan. Itu berarti, dia sudah harus masuk usia untuk menikmati Makanan Pendamping Asi (btw, saya boleh bangga dikit gak sih kalau Baby A lulus ASIX 6 bulan. Yey!). Tadinya mau cerita perjuangan akhirnya lulus ASIX 6 bulan, tapi ternyata tantangan yang menantang udah di depan mata; Baby A mogok makan. Nduk ayu GTM. Alias gerakan tutup mulut

Kira kira begitu deh mukanya kalau ada sendok depan mulutnya dia. Lemes dong saya sebagai emak emak baru nan idealis yang mau apa apa nya terbaik. Karena saya cukup bahagia ketika di bulan pertama Baby A MPASI, dia lahap makan apa pun yang saya suguhkan. Saya cobain deh tuh resep resep MPASi.

Tiba saat masuk usia 7 bulan, bertepatan juga dengan kami yang sedang berlibur mudik pulang kampung, mulai deh Baby berulah ga mau makan. Tadinya saya keukeuh maunya dia makan sambil duduk. Eh uti nya liat dia gak mau makan, mulai digendong. Saya iya in aja. Biar cepet. Pikir saya, nanti akan saya ajarkan lagi makan di High Cair nya.

Digendong udah gak mempan, aliasnya Baby A udah bosen juga. Mulai deh diajak keluar rumah liat kucing, liat pohon, liat apa aja yang bisa diliat di depan rumah. Makin senewen dong saya. Apalagi begitu balik ke Jakarta dan didudukkan ke high cairnya dia benar benae GTM. Bahkan diajak bercanda pun dia hanya senyum tapi tutup mulut.

Saya yang tadinya kekeuh mau bikin MPASI homemade, akirnya menyerahkan bagian permakanan ke bubur bayi instan dan makanan instan lainnya. Yang penting dia mau makan.

I just like sorry to her because i’m not tryin my best.

Akhirnya, saya belajar untuk tidak memaksakan apa yang saya mau, apa yang saya kira terbaik.

Sama halnya ketika saya harus menjemput dia pulang dari kantor dan meletakkan dia di kursi depan sebelah sopir bukan di kursi bagian belakang. Hanya karena saya merasa takut dia terjungkal dan saya gak liat. Padahal, saya tahu dengan menaruh dia di depan resiko dia terluka lebih besar ketika mengalami kecelakaan.

Oh. Dan saya tahu apa yang mereka bilang tentang pilihan pilihan yang saya lakukan dengan MPASI instan dan car seatnya Baby A.

…tapi seperti yang Donna Ball katakan itu, …to do the right thing even when you’re not sure what the right thing is …and to forgive yourself, over an over again, for doing everything wrong.

Kadang, ada hal hal yang harus kamu tuliskan untuk kamu ingat lagi. Pesan moral pada malam ini adalah, just keep swimming … just keep swimming…

Hehehehehehe

Pesan moral sesungguhnya adalah, kadang kita perlu kok menggunakan headset untuk meredam nada nada minor yang orang lontarkan ke kita atas pilihan pilihan dalam hidup kita. Namun gak ada salahnya kita mendengarkan mereka juga, karena ketika mereka berkomentar untuk pilihan kita … artinya mereka peduli sama kita.

We can make it balance.

Iya gak sih?

Make it simple. Ngurus anak itu gak mudah. Apalagi ditambah ngurus anak di jaman apa-apa mudah untuk diakses dan dibuat perbandingan (hei. Baca deh postinganku dibawah postingan ini persis!), gak usah ditambah dengan beban pikiran yang gak penting. Dari jaman orangtua kita dulu memang banyak yang berubah pastinya, namun satu yang gak berubah adalah semua orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya.

Well, sekian curhatan emak emak galau gara gara timbangan badannya naik tidak berbanding lurus dengan timbangan berat badan Baby nya.

Cheers!

Obrolan Ruang Pumping

Halo… selamat pagi dari pesisir Jakarta.

Jadi, setelah maternity leave saya udah habis, saya pun kembali ke rutinitas. Ke rutinitas sebagai pekerja. Working mom istilah kecenya. Yaaaaampun…, waktu saya nulis tesis 6 tahun lalu soal working mom gak sesulit ini rasanya. Gak percaya juga sih akhirnya saya bisa sampai di tahap ini.

Mengikuti peraturan pemerintah (dan rengekan mamak mamak perah di kantor), kantor kami memiliki ruang khusus ibu menyusui. Yang baru dilaunching beberapa hari sebelum saya masuk kantor

Nah di kantor saya sekarang ada total 4 orang ibu menyusui dan sekitar 5 orang calon ibu menyusui. Dan 1 ibu menyusui yang sedang hamil (banyak yah ceu? Gitu deh … kantor saya mah kantor bawa rejeki. Banyak orang nikah, banyak orang hamil, banyak orang lahiran tahun ini). Jadi ruangan khusus ini selain dipakai buat pumping mamak perah, juga dipakai buat calon calon mamak perah yang lagi mabok buat istirahat ngelurusin punggung.

Serunya, kadang obrolan ke mana mana. Dari obrolan soal serikat pekerja, gosip gosip kantor, sampek ngomongin tetangga sebelah. Jangan salah … yang ngejalanin nota dinas untuk pengadaan ruang pumping sudah wanti wanti kalau ruangan pumping harus digunakan sebagaimana mestinya. Sampai ada artikel soal larangan ghibah dipajang di dinding ruangan. No ghibah.

Kalau curhat ngomongin suami termasuk ghibah?

Hahahahahahaha.

Jadi, sesi pumping saya kemaren diisi dengan curhatan soal para suami. Mamak mamak di ruangan yang berisi dua mamak perah dan satu calon mamak bercerita soal suami masing masing. Topik besarnya kelakuan suami saat istri hamil.

Curhat lah itu mulai dari suami yang pulang malam, lagi pengen makan apa tapi suami nurutinnya pas udah gak pengen. Atau pas malam malam pertama keadaan baby, gimana suami siaga ga tidur semaleman cuman buat ngeliat si kecil tidur (dan bernafas). Gimana suami menghandle baby blues, gimana suami jadi tumpahan emosi saat kesal dengan mertua, dan masih banyak cerita lagi.

Dan at that moment itu saya sadar. Kemaren saya sadar, bahwa setiap perjalanan rumah tangga , setiap perjalanan being a mother itu berbeda.

Every motherhood has their own journey. Ada mamak mamak perah macam kami yang masih harus bergumul dengan asip, pompa, dan rindu membuncah di tiap detiknya. Belum lagi kalau tiba tiba galau kalau disuruh lembur. Doh anak gue siapa yang nidurin. Ada juga mamak mamak yang galau karena hal lainnya.

Susah memang untuk tidak saling membandingkan kehidupan kita dengan yang lain saat ini. Di saat kita bisa memandang kehidupan orang laen dengan mudah. Sawang sinawang. Kalau kata mbah nya Aska begitu. Tapi ya begitulah tantangan jadi mamak mamak di era millenial seperti ini. Bukankah banyak kemudahan yang kita dapat saat ini? Banyak info, banyak peralatan canggih untuk memberikan yang terbaik bagi anak anak kita. Ya kan? Tapi ya itu … saking canggihnya, kita jadi bisa mengintip perjalanan ibu lainnya. Setelah ngintip, sibuk denh membandingkan. Kadang sampai sampai lupa bersyukur dengan kehebatan hidup kita sendiri.

Sibuk ngeliatin anaknya mbak instragamers, sibuk deh ngikutin makannya, stimulusnya, ampai lupa liatin anak sendiri punya tahapan perkembangan sendiri.

Hidup ini sudah terlalu sibuk kan kalau harus ngikutin kehidupan orang lain juga?

Sekian.

Ps: tulisan ini saya buat untuk diri sendiri juga yang kadang serung unmood tanpa sebab. Hahahahahay

Menikah : sebuah pergeseran makna

Beberapa minggu belakangan ini, entah bagaimana ceritanya ada begitu banyak prahara rumahtangga yang (ceritanya) menghampiri saya. Dari cerita selingkuh dalam rumahtangga, cerita si anu begini, si itu begono.

Ada cerita yang cukup menarik, semoga saya gak dibilangin nyeritain aib orang yah. Kita ambil pelajaran saja dari cerita ini.

Ceritanya, mari kita sebut dia mawar. Mawar, menikah dengan kumbang setelah menjalani kisah kasih selama sekian tahun. Hingga tiba suatu hari, mawar menemukan kenyataan bahwa kumbang selingkuh dengan teman mawar. How could?

Yeah, betapa how could lagi kalau saya ceritakan alasan dibalik perselingkuhan itu bisa terjadi. Kumbang (kurang lebih) berkata kepada Mawar : “menurut kamu kenapa sampek aku selingkuh? Karena kamu gak bisa aku apa apain. Kamu gak pernah mandi habis pulang kerja”

As simple as that.

Kamu …. gak pernah mandi, mawar.

How could?

Setelah saya survey kecil kecilan ke sekitar saya, sedihnya, mereka bilang “iya, itu bisa saja terjadi”

Kok sedih ya. Terus saya dapet bonus nasehat malahan

Makanya, jadi perempuan itu pandai jaga badan, yang wangi. Biar suami betah”

Sejak kapan menikah itu diukur dengan seberapa sering kita mandi? Saya baru dua tahun menikah. Tahu apalah saya ini soal menjaga keharmonisan rumahtangga? Yang ada, saya banyak dapet nasehat.

Suruh rajin mandi

Suruh mulai fitness

Mulai ngurang ngurangin bawelnya

Mulai belajar masak

Bagaimana dengan cinta sejati? Bagaimana dengan menerima apa adanya? Bagaimana dengan kenyamanan? Bagaimana dengan sekarang atau limapuluh tahun lagi kutetap akan mencintaimu?

Dan pada akhirnya … nasehat pamungkas yang saya terima; mari kita jalani rumahtangga kita masing-masing.

Selasa baik, medio september 2017. Ditengah dokumen dokumen pending setelah melewati cuti 3 bulan.

Ps: tadinya maunya niatnya nulisnya bukan ini. Tapi yang ditulis malah begini. Yasudahlah.