nostalgia internet

Selamat Hari Senin, Temans!

Pagi tadi, saya ikut kelas bahasa inggris yang difasilitasi kantor. jadi, saya dapet jatah untuk belajar bahasa inggris dua kali seminggu masing – masing selama dua jam.  awalnya agak males ya boook, tapi kok sayang banget kesempatan emas buat belajar disia-siakan. we know lah, kesempatan buat belajar kan gak dateng ke semua orang. apalagi kesempatan itu gratis yess. hahahahaha..

Nah, pagi tadi di kelas kita belajar ‘express feeling’. disuruhlah itu kitamenceritakan 15 ‘feelings’ yang kita rasakan selama paling gak sebulan terakhir. tadinya saya mau curhat onair kan yah. tapi harus jaim dong kalau sama temen – temen kantor, saya harus dikenal sebagai mbak ais yang cuek dan cool (aeeh matek).

jadi saya cuman menceritakan feeling yang so so aja, salah satunya adalah enthusiastic. why? because we have one day off in da middle of this week. ya ampoon…. sejak kerja, i’m very craving for day off. jadi dapet satu tambahan libur tanpa mengurangi cuti itu amazing banget rasanya buat saya. hahahahaha.

bukannya saya membenci pekerjaan saya, hanya saja … saya seneng aja dapat waktu buat tidur lebih lama. hehehehehehe…

eh topik yang mau dibahas bukan itu sih. topik yang mau dibahas itu sebenernya gara – gara tiba – tiba saya keingetan sama logo ini:

friendsterhahahahahaaa ….

ayoh generasi internet 2000-an. ada yang masih inget sama logo ini gak? sama testimonial? sama bullbo alias bulletin board? sama kolom last seen, sama kolom who’s vied me. ahahahaha.

aduh, saya kok jadi terharu yah. ketahuilah temans, jaman friendster itu adalah jaman yang tidak cukup mengenakan untuk stalking, secara dulu social network belum ada kaya sekarang yess. jadi kalau mau nyari tahu tentang seseorang yah cari tahu aja lewat testi. ada masanya loh kita teriak – teriak; “eh … isi testi gue dong”

ya gak sih?

isi testi menjadi seru karena disitu akan ada testimonial temen – temen tentang kita. kind of “ais itu … bla bla bla and bla..”

sayang banget saya gak sempet nyimpen screen shot dari halaman friendster saya, karena sejak 31 mei 2011 friendster udah berubah jadi social entertainment site, yang saya gak tahu deh sekarang kabarnya gimana.

buat yang belum tahu, friendster itu ada sebelum adanya Facebook, twitter, myspace, yah masih agak deketan generasinya sama mIRC (remember that? someday yah… saya nulis tentang miRC).

penampilan friendster nih semacam kaya gini:

friendster page on 2006

yang seru dari friendster bagi saya adalah, kolom testimonial. why? karena, kalau lagi BT dan lagi gloomy gak jelas, saya biasanya baca kolom testimonial buat naikin mood dan self esteem. seneng rasanya baca komentar orang lain tentang diri kita sendiri (ya ampun, mbak ais narsisnya jaman dulu. heheheheehe). tapi, kalau kita mau kenal sama seseorang jaman dulu nih ya… saya juga ‘cari tahu’ gebetan saya yah lewat friendster. bagaimana teman- temannya memandang dia, bagaimana teman – temannya menilai dia. kalau sekarang apa yah perbandingannya?

nah selain itu .. di friendster ada juga fasilitas bulletin board. itu semacam kaya notes  yang bisa kita tulis dan bisa dibaca sama semua orang. cmiiw yah .. dan kita juga bisa baca bullbo (singkatan bulletin board pada masanya) yang dipost sama temen – temen friendster kita. biasanya di sini saya nulis gak penting banget .. biasanya jawab 20 pertanyaan gak penting yang pernah dipost sebelumnya sama temen saya. semacam situs springme kali yah kalau jaman sekarangg. kadang pertanyyan – pertanyyannya pun gak jelas, kaya “lagi dengerin musik apa?” atau “tadi sebelum nulis bullbo ini habis buka situs apaan?” atau “online dari mana?” alay kan saya jaman dulu ikut-ikutan nulis begituan?

selain itu, friendster dulu punya blog loh. dan di sanalah blog seorang mbak ais dimulai. dan amat sangat alay sekali. kalau untuk ini ada sih screen shotnya di blog salah seorang temans. tapi gak mau saya kasih link ah. ntar jadi ajang si dikung sama oom han buat ngebully saya :,(

secara tata bahasa, gaya nulis, pemilihan huruf, pemilihan kata, yang kalau saya baca lagi sekarang bikin saya pengen nanya “itu siapa yang nulis?”

ya padahal ada nama saya-nya di situ.

kalau saya gak salah inget, jejak kehadiran friendster masih saya tempel di salah satu buku harian saya. yaitu berupa print – printan testi – testi terbaik dari teman – teman friendster saya. saya pajang disitu buat jadi mood booster saya kalau lagi gloomy gak jelas. hihihihi.

dan, sama seperti situs pertemanan lainnya, friendster juga punya fasilitas buat nyimpen foto.

seru deh jadinya nostalgia dengan friendster ini, walaupun sejak mei 2011 itu… semua foto, testi, bulbo dan data – data yang ada di friendster udah dihapus. jadi, hilang sudah jejak kealay-an saya.

ALhamdulillah, besok suami dan anak – anak saya gak perlu tahu kalau saya pernah alay dan ajaib.

***

so, gimana dengan teman – teman … punya akun friendster gak dulu?

***

and by the way, thank for Gadel for the screen shoot of friendster on 2006 🙂

Advertisements

reblog : i don’t know how she does it

heiho… welcome June 🙂 selamat bulan Juni. Half year is already gone, isn’t it? Gak nyangka banget yah.. udah beredar ajaloh tanggalan hari libur dan cuti bersama tahun 2015 di group wasap saya. malem ini saya pengen reblog salah satu tulisan saya tahun 2011, jaman saya lagi mau nyusun tesis (it’s been 3 years! wew!)… tapi saya edit dikit yah, gak semuanya saya masukin yah. soalnya ada banyak kepentingan politik di dalam situ *tsah.

postingan ini nulis tentang resensi buku yang saya baca judul bukunya i don’t know how she does it by Allison Pearson. so, here is it…

bercerita tentang Kate Reddy, seorang manajer investasi yang memiliki keluarga dengan dua orang anak. secara garis besar, buku ini menceritakan work-family conflict yang dialami oleh seorang Ibu yang bekerja. Kate memiliki dua peran yang harus dijalaninya, peran di kantor sebagai satu dari sedikit wanita yang bekerja di kantornya dan juga perannya di rumahtangga.

Kate memiliki seorang suami dan dua orang anak; Emily yang berusia lima tahun dan Ben yang masih berumur satu tahun. Kate mencintai pekerjaannya, namun dia juga berusaha yang terbaik bagi keluarga yang [sudah pasti] dicintainya.

Dalam buku ini digambarkan bagaimana Kate berusaha menyeimbangkan kedua perannya. menjadi Ibu yang bekerja akan jauh lebih sulit dibandingkan menjadi Ayah yang bekerja, dan satu part yang paling menggambarkan bagian ini adalah saat Kate bercerita bagaimana seorang pria akan terlihat keren, terlihat sangat mencintai keluarga saat memajang foto anak, istri dan keluarga-lah secara garis besar. Tapi menurut Kate, semakin tinggi jabatan seorang wanita bekerja, maka semakin sedikit foto yang dipajang.

Sama halnya seperti saat rapat mahapenting terjadi di suatu divisi dan seorang Pria meminta ijin untuk tidak ikut meeting, dengan alasan; “mengambil raport anak” maka akan mendapat respon;‘aaah soooo sweeet’. tapi jika wanita yang melakukannya, maka biasanya yang ia dapatkan adalah celaan betapa ia tidak bisa mengatur waktu.

The women in the offices of EMF [Kate’s firm] don’t tend to display pictures of their kids. The higher they go up the ladder, the fewer the photographs. If a man has pictures of kids on his desk, it enhances his humanity; if a woman has them it decreases hers. Why? Because he’s not supposed to be home with the children; she is.

well, buku ini memuat jungkir baliknya seorang Kate berusaha menjadi ibu dan karyawan serta istri yang baik. bagaimana ia mengakali ‘kue supermarket’ menjadi seperti  kue homemade, bagaimana ia selalu berusaha ‘menyogok’ anaknya dengan berbagai mainan yang ia beli setelah bertugas ke luar negri, bagaimana ia berusaha menolak berhubungan seks dengan suaminya, bagaimana Kate mengupah pengasuh anak-anaknya dengan upah yang cukup tinggi agar memperlakukan anak-anaknya dengan baik, bagaimana akhirnya suaminya pergi dari rumah mereka saat Kate sedang bertugas di luar negri.

Saya belum mengalami posisi seperti Kate; seorang Ibu yang bekerja. Makanya saya terkejut menyadari betapa beratnya menjadi Ibu yang bekerja. No offense buat Ayah yang bekerja, suwer. Coba kalau kawan-kawan lagi nganggur dan mencari jurnal penelitian mengenai ‘working mother’ maka kawan-kawan akan menemukan sejumlah penelitian.

Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan  oleh Cinamon dan Rich (2002), yang mengatakan bahwa sumber konflik pada ibu yang bekerja biasanya adalah karena adanya peran ganda, yaitu peran sebagai ibu rumah tangga (istri dan ibu dari anak-anaknya) dan juga peran sebagai pekerja. Setiap peran tentu saja menuntut konsekuensi dan tanggung jawab yang berbeda, yang terkadang saling bertentangan.

Mereka juga berkata wanita yang bekerja ternyata lebih sering mengalami konflik dan permasalahan keluarga dibanding pekerjaannya karena bagi kebanyakan wanita keluarga merupakan domain yang paling penting dalam kehidupannya. Permasalahan ini tidak sedikit mempengaruhi pekerjaan dan dapat menciptakan gangguan bagi mereka, sehingga menyebabkan penurunan kinerja.

Lagi, ngapain sih seorang wanita bekerja? Well, itu akan bergeser sedikit mengarah ke Tesis yang saya angkat. Terdapat beberapa dorongan kenapa wanita bekerja. Bisa karena faktor ekonomi, faktor relasional yang berkaitan dengan kebutuhan sosialisasi mereka, faktor aktualisasi diri juga menjadi salah satu faktor pendorong seorang wanita bekerja.

Faktor yang mendorong seorang wanita bekerja pada akhirnya berhubungan erat dengan bagaimana wanita memaknai pekerjaan mereka.

Pemaknaan wanita bekerja berbeda dengan pemaknaan bekerja pada pria, karena wanita pekerja memiliki konflik dan dorongan yang mungkin berbeda dengan pria dalam bekerja. Maka makna kerja bagi wanita pekerja dipengaruhi oleh alasan yang mendorong mereka untuk bekerja yang nantinya akan membawa kepada penetapan peran kerja, hasil yang diharapkan dari bekerja, serta batasan aktivitas pada wanita dalam bekerja.

Jadi, makna kerja bagi tiap Ibu yang bekerja akan kembali lagi pada tujuan dan nilai-nilai yang dianut oleh Ibu tersebut.

Hehhehehehehehe. saya mengacungkan jempol saya empat-empatnya untuk semua Ibu yang bekerja. Mereka hebat. Walaupun kalau boleh memilih pilihan saya di masa depan, saya ingin bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga full time. Andai saja, saya bisa 😀

pas baca tulisan ini sekarang, saya masih proses mencari… apa makna bekerja bagi saya? You know what…. saya gak paham. Saya gak paham apa makna saya bekerja saat ini (isn’t it ironic?) Hahahahaha… mungkin harus jadi bahan renungan tengah tahun ini yess.

semoga temans sehat dan bahagia menyambut bulan yang katanya romantis ini ya 🙂

keep the good works!

 

aku lupa

aku lupa bagaimana caranya menulis tanpa beban

aku lupa bagaimana rasanya mengeluarkan rasa dalam sebait kata

aku lupa bagaimana rasanya melihat jari menari di atas keyboard.

aku lupa bagaimana mengawali membuat sebuah paragraf.

aku kehilangan diriku yang itu,

seorang ais ariani yang pernah menantang dirinya sendiri dalam kampanye post a day dari wordpress. di mana dia sekarang? seorang ais yang bahkan bisa menulis hanya karena hujan, hanya karena keran patah,hanya karena foto keluarga, hanya karena mobil forza kakak saya, hanya karena permainan truth or dare, hanya karena pin ATM, hanya karena salah seorang sahabat menikah.

dan banyak hanya karena hanya karena yang lainnya.

dear ais ariani, where are u?

Where

reading challenge

heihoo.. aloha selamat Pagiiih!Gimana Kabar kawans semua? sehatkah? Wuiiiih.. gak nyangka yah udah 2014 aja. udah mau umur empat tahun aja ini blo. dan makin dicuekin aja rasanya. Hahahahahaha.

Kabar saya sehat Alhamdulillah, masih jadi buruh di salah satu kantor di pojok Jakarta, masih jadi anak galau di twitter (hahahaha!), masih berusaha menerima dengan lapang dada beberapa hal yang tidak sesuai rencana, masih punya mimpi untuk punya penginapan di daerah dingin, masih punya mimpi punya usaha sapi perah, masih tinggal di rumah orangtua, masih gak bisa bedain mana rasa merica mana rasa lada, masih hobi nongkrong, masih ngefans sama Michael Moscovitz-nya Meg Cabot, masih suka ngelamun ndengerin wonderwall baik versi siapapun, masih berharap punya rumah yang gentengnya bisa dipake nongkrong2 sama temen-temen, masih belum bisa berkomunikasi sama si mantan yang itu dengan baik dan benar.

Terus apa yang berubah? Beberapa hal berubah. Sekarang berat badan saya nyaris menyentuh 60 kg (hiks), sekarang saya jerawatan macam anak ABG yang baru puber, sekarang saya jarang ngelamun, sekarang saya uda ga kuat sepedahan, sekarang gadget saya berkurang jumlahnya (hp saya satu loh sekarang!), sekarang saya jarang banget ketemu sama sahabat2 saya, kami lebih sering bertukar kabar lewat social media malah. Sekarang saya lagi seneng banget sama suaranya Tulus (dengerin yang judulnya sepatu deh! aseeek!). Sekarang saya jarang banget karoke (hiks). Sekarang saya jarang baca buku.

Nah, terkait point yang terakhir itu… saya nemuin cara yang lumayan bikin semangat buat baca buku. jadi begini kondisinya, saya ini sebenernya seneng banget baca buku. tapi kok makin ke sini saya rasanya seperti gak punya waktu. padahaaal yaaa… padahaaal nihh… waktu saya masih banyak banget kok. setelah saya mencoba menganalisis kenapa saya sering lalai menyelesaikan buku yang saya mulai, maka saya menemukan beberapa point kenapa saya jarang baca buku dan lebih sering ketiduran duluan pas baca buku. point – point tersebut adalah:

  1. Banyak waktu tapi gak bisa memanfaatkan dengan baik. sebagai buruh, saya ini 8 jam (seringnya lebih) ada di kantor.  sebenernya di kantor ini saya bisa banget manffatin waktu buat baca-baca. tapi kok kadang saya lebih memlilih untuk ngobrl dan ngutak-atik arsip aja tuh. rasanya nyentuh buku malesnya ituuuu! soalnya menurut saya membaca itu merupakan kegiatan egois yang bisa dilakukan di tempat-tempat tertentu saja. itu menurut saya loh. well… anggap saja sebagai pembelaan, hahahaha.
  2. SMARTPHONE dengan jaringan internet yang dahsyat yang bikin saya hobi ngegame, ngetwit, foto-foto selfie terus ngedit dengan berbagai macam filter, komen2in social media orang, dan kegiatan itu semua totally jadi pengganti kegiatan membaca buku saya.
  3. ngantukan. ini nih.. ini yang parah. entah dimulai sejak kapan, saya ini jadi orang ngantukan melulu. kata emak sih karena saya kurang gerak atau ada masalah syaraf (emak aku keren yah analisanya? hehehehe..). tapi kalok menuruut saya sih bisa jadi saya ini kurang gerak alias kurang olahraga. jadi baru pegang buku nih, baca dua kalimat aja langsung berbayang. ada bayang semu ngajak tidur gitu loh. hahahahahaha.

alhasil, banyak buku yang saya baca cuman beberapa halaman aja terus saya tarok gitu aja di mana aja. ini di kantor aja ternyata saya narok buku banyak banget dan ternyata belum selesai semua. pegimane coba. sedangkan tiap bulan saya pasti nambah beli buku. ya maklumlaah jaman mahasiswa saya mau beli buku mikir berkali-kali dulu, nah begitu ada kesempatan dan duit, beuuuuh… hajar. tiap ke mol saya mampir ke Gramed ada gak ada waktu hajar beli buku. ini semacam balas dendam saya. malah pernah loh saya beli buku dua untuk judul yang sama. buat baju, makanan, pernak-pernik lucu gitu saya masih bisa nahan, tapi kalau untuk buku saya gak bisa tahan.

nah… demi untuk mengatasi itu, saya mau menantang diri saya sendiri untuk setidaknya menyelesaikan buku-buku yang saya beli itu. kalau tahun 2013 kemarin saya ‘menantang’ diri saya membaca 20 buku (dan tidak terselesaikan) maka tahun 2014 ini saya menantang diri saya sendiri untuk membaca (tetep) 20 buku. gak termasuk komik yah. soalnya kalok komik itu sekedipan selesai (lebay). hahahahaha

nah, hasil bacaan itu saya masuk ke akun goodreads saya, saya mewajibkan diri saya untuk mereview semua buku yang saya baca. kalau mau tahu review-an buku saya, buka aja akun goodreads saya yah 🙂

so, bagaimana dengan teman-temaan… remcana baca berapa buku tahun ini?

baca itu seru

monolog: bukankah

bukankah ini yang nantinya akan kita butuhkan?

genggaman tangan yang tidak harum memang tapi selalu ada, senyuman teduh yang menyambut kita pulang, bahu kuat yang mampu menampung semua masalah namun cukup nyaman untuk bersandar, kata-kata yang tidak selalu indah namun selalu menenangkan, kata-kata yang tidak mengandung perintah namun mampu membuat patuh.

aku selalu takut. aku takut. takut untuk kembali menaruh harapan. sudah kah aku ceritakan bahwa hati ini adalah hati yang payah. hati yang selalu, selalu, selalu menaruh harapan pada tempat yang salah. dulu. kali ini aku sangat berhati-hati menaruh harapan. aku sudah memohon maaf pada hatiku sendiri, karena membiarkannya terluka berulang kali. aku berkata padanya bahwa itu semua adalah pelajaran yang harusnya bisa diambil hikmahnya. hei, bukankah semua terjadi karena suatu alasan? hanya saja terkadang kita terlalu sibuk mencari alasan itu, sampai tidak bisa melihat saat alasan itu datang dengan sendirinya. mengetuk pintu kenyataan, memohon diberikan kesempatan untuk menjelaskan kenapa begini kenapa begitu.

terkadang, kita terlalu sibuk menganalisa, mencoba menerka kenapa begini kenapa begitu, apa yang salah dan siapa yang salah. aku menghabiskan waktuku melakukan itu. setelah mereka pergi satu persatu, meninggalkanku dalam sebuah pertanyaan besar; kenapa. tahukah kamu, KENAPA merupakan pertanyaan paling sering diajukan saat sesuatu berhubungan dengan hati entah itu jatuh hati ataupun patah hati. bukan begitu?

you can spend minutes, hour, days, weeks even months analyzing a situation trying to put the pieces together. Justifying what could’ve, should’ve, would’ve happened. Or you can leave the pieces on the floor and…. move on!

seperti dia yang pernah berkata;

Hidup bukan hanya bercerita tentang jari manis, kapan dilingkarkan cincin atau kapan sanggup melingkarkan cincin, hidup juga menceritakan sembilan belas jari lainnya, suka dukanya, sumringah nelangsanya, ragamnya, ramainya, sepinya, tanpa terkecuali.*

entah ke mana langkah kaki ini akan mengantarkanku, tapi aku selalu berharap langkah kaki ini mengarahkanku kepadamu, calon suamiku.

***

monolog kali ini dibantu dengan sepenuh hati oleh malam minggu syahdu (aeeeh), blog *maucokelat (nulis lagi nape), dieka dikung yang gak pernah bosen nanyain kapan aku updet postingan, dan kamu yang masih setia bukain dramaLand walau jarang banget updet.

***

just moving on

late post : happy birthday to me

MERDEKA!

walau udah telat 5 hari ini postingan, tapi saya tetap semangat loh nulisnya *nulis sambil lompat-lompat* hehehehe. gimana kabarnya temans? sehat? Saya Alhamdulillah sehat, walopun lagi sariawan gak sembuh-sembuh. Sembuh di lidah, muncul di bawah lidah. sembuh di bawah lidah, muncul lagi di ujung bibir. Heran. antara kurang gizi sama banayk pikiran sih keknya.

Kalau jerawat jangan ditanya. Persis kek ABG yang baru ulang tahun ke17, jumlah jerawat di wajah saya juarak banget deh. ampek bingung, padahal saya jarang banget kan makek kosmetik macem2. dari jaman kuliah dulu yah pembersih wajah saya itu-itu aja, paling cuman nambah bedak. sama sedikit eyeshadow, sama eyelinner. itu juga cuman dikit. kalau kambuh centilnya pake mascara.

ini ngomongin apaan sih? kok tiba-tiba lanjut ke kosmetik? Hehehehe.

saya pengen ngomongin soal …. soaaal… soal ULANG TAHUN SAYA. yey..

5hari yang lalu, tepat saat Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-68, saya berulangtahun yang ke-17 *duer. HAHAHAHAHA.

age is not only nummber for me. really. seberapa keras usaha saya buat menganggap age is only number, dalam lubuk hati saya yang paling dalam saya masih gak terima dengan kenyataan dan harapan yang gak sejalan. Saya berharap memiliki beberapa cita-cita dan target yang sudah tercapai saat usia saya menginjak usia saya saat ini.

Tapi, bukankah begitulah hidup? Tak melulu bicara soal kekecewaan terhadap sesamanya, hidup juga berbicara soal bagaimana menyeimbangkan antara harapan dan kenyataan. Dan, di sini saya, memiliki harapan-harapan baru di umur saya yang sudah berkurang jatahnya di dunia ini,

terimakasih buat kawans yang sudah mengingat ulang tahun saya walaupun tidak tertera di Fesbuk, terimakasih buat kamu yang bahkan tidak menyempatkan diri untuk memberikan ucapan selamat. it’s ok… yang penting saya mohon doanya, agar saya selalu berada di jalan yang diridhoi oleh Nya, dan juga selalu dimudahkan untuk bersyukur.

Dan, semoga selalu bahagia! THAT’S!

happy birthday ariani!

dan terimakasih sangat untuk semua sahabat terbaik saya, yang menyempatkan diri untuk berkumpul Sabtu kemarin. sekali lagi: i’m so lucky havin’ you all in my life. terimakasih sudah jadi barisan supporter utama saya. terimakasih untuk semua drama, nostalgia, canda tawa, kata-kata jujurnya, testimoni atas kebodohan-kebodohan saya, terimakasih untuk tidak menjudge saya seperti yang beberapa orang lakukan, terimakasih untuk dukungan tiada hentinya.

semoga tahun depan kita masih bisa bersama :kiss:

***

mempelajari kehilangan

Assalamu’alaikum….

*edisi Lebaran, salamnya jadi lebih agamis*

hehehehe. hai, hai haloo semuanyah. Temans, gimana kabarnya? Gimana lebarannya? Gimana liburannya?

kalau saya ni… Tahun ini, merupakan lebaran pertama saya setelah bekerja. Alhamdulillah, Alhamdulillah dan Alhamdulillah, rasa syukur yang gak bisa saya ungkapkan dengan baik, karena saya ngerasa bersyukur banget atas semua rejeki dan karunia yang menghampiri saya tahun ini. Berkah yang luar biasa 🙂

Namun, namanya juga hidup, ada beberapa hal yang terjadi dalam dua bulan terakhir yang menjadi bahan renungan buat saya. Pernah saya bilang, bahwa yang namanya hidup itu mengajarkan banyak hal. Sayangnya sering kita lewatkan karena kita terlalu sibuk mengeluh.

Satu pelajaran dalam hidup yang saya dapat di bulan Ramadhan ini adalah soal keikhlasan. keikhlasan yang pertama adalah soal jodoh (*uhuk). jadi begini, dari awal tahun seperti yang pernah saya bagi di sini, saya sudah patah hati. patah hati dengan seseorang yang pernah begitu dekat dengan saya namun lebih memilih untuk bersama dengan orang lain yang mungkin lebih bisa memahami dia. setelah lepas dengan dia, jujur saya mengakui banyak perubahan dalam hidup saya. Perubahan itu gak perlu saya ceritakanlah yah, mungkin ada beberapa orang yang sudah menyadari, atau mungkin ada yang bisa nebak juga. Hahahahaha…

***

Pelajaran keikhlasan yang berikutnya yang Dia coba sampaikan kepada saya adalah saat gadget kesayangan saya yang baru berumur beberapa bulan dan saya beli menggunakan gaji pertama saya, HILANG. okeh, coba dibold: HILANG. hilang di rumah sendiri. Lucu? Lebih lucu lagi kalau saya ceritakan kejadiannya. Tapi gak usahlah ya, bukan itu point yang mau saya ceritakan.

Point yang mau saya ceritakan adalah: dalam beberapa bulan terakhir saya LAGI-LAGI mengalami banyak kehilangan. selain kehilangan calon *uhuk*, kehilangan gadget, saya juga kehilangan beberapa sahabat-sahabat baik yang pernah mewarnai dunia saya beberapa tahun terakhir. Iya, gerombolan power rangersnya bubar *nangis di pojokan*

Saya terpuruk. Memaki. Jutaan kali. Nyinyir. Ribuan kali. Membahasnya berulang kali dengan siapapun saya bisa membahasnya. mendadak jadi ahli analisa perilaku. Kenapa bisa begini kenapa bisa begitu. Kenapa bisa hilang kontak, kenapa bisa menjauh, kenapa bisa hilang gadgetntnya, kenapa bisa buruk hubungannya, apakah gengsi akhirnya mengalahkan kecewa, apakah rindu akhirnya tergerus gengsi. Hal-hal seperti itu telah coba saya bahas. dengan orang lain, maupun dengan diri sendiri (let’s call that with ‘kontemplasi’) HAHAHAHAHA. dan berakhir dengan menjadi Ustadzah; “Ya memang udah jalanNya begitu….”

awalnya saya marah. marah. sangat marah. seperti yang saya bilang, saya memaki, saya nyinyir, saya mengumpat, sampai akhirnya saya menangis karena tidak mampu mengungkapkan kekesalan di hati.

Coba kamu bayangkan temans, apa yang kamu miliki terrengut darimu dan hilang dalam kehidupanmu? Hal-hal yang sudah pernah kamu perjuangkan untuk mendapatkannya.

Setelah puas dengan amarah saya, saya tersadarkan saat memasuki bulan Ramadhan kemarin, bahwa benar adanya tidak ada yang abadi di dunia ini. Toh, pada akhirnya kita akan kehilangan semua yang kita miliki kan? Bukan masalah ditinggalkan atau meninggalkan, tapi masalah bagaimana ia pergi, bagaimana ia hilang. Dan itulah yang harus membuat kita belajar. Kita harus belajar mengenai kehilangan. Karen pada dasarnya, manusia adalah makhluk pembelajar.

Apalah arti hidup ini tanpa pembelajaran mengenai kehilangan? Kita tidak akan menemukan jika kita tidak kehilangan. Dan yang perlu kita lakukan dalam proses tersebut adalah belajar juga mengenai keikhlasan,

mengikhlaskan /meng·ikh·las·kan/ v memberikan atau menyerahkan dng tulus hati; merelakan: kami telah ~ kepergiannya; dia ~ tanahnya untuk tempat pembangunan rumah sakit;

***

From the bright side, saya selalu mendapatkan kata-kata bijak ini, “Insya Allah diganti dengan yang lebih baik”, jadi jika belum mendapatkan gantinya, artinya Allah belum merestui.

Dan memang terbukti. Setelah kehilangan teman dekat di awal tahun, saya sempat dekat dengan seseorang yang memang lebih baik dari si itu yang lama. Walaupun Si itu yang baru juga sudah hilang lagi (hahahahaha. duerr), tapi saya yakin, Allah menyimpan yang terbaik pada akhirnya.

Gusti Allah mboten sare, ‘nduk.

begitu nasihatnya kan?

***

So, saya dan segenap kru dramaLand mengucapkan, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Taqaballahu minna wa minkum. Selamat idul Fitri 🙂 Semoga ada berkah tersisa di penghujung tahun ini, semoga ada pelajaran yang bisa kita ambil.

forgive others