dan (tak) mungkin part.2

Aku membanting handphoneku. Kesal. Yah. aku kesal. kesal berjuta – juta kesal. Kesal yang tidak pernah aku rasakan. Andai saja rasa kesal ini bisa kuubah jadi duit, sudah kaya aku. Sudah tidak perlu lagi aku bekerja kepada si kepala besar itu.

Sambil menahan kesal aku berjalan menuju meja belajarku di pojok kamar. di atas meja itu terdapat laptop dan beberapa pigura foto berisi fotoku dan foto Mas Deni, pria yang sudah mengisi hari-hariku beberapa bulan terakhir ini.

Ah… mas Deni, pria yang baik banget sebenarnya. Menyenangkan. Dan kami sudah memiliki rencana untuk menikah di akhir tahun ini. Tapi yah itu…. dari awal pertemuan, aku sudah sadar sepenuhnya bahwa aku tidak akan pernah memiliki hatinya. Karena hati Mas Deni masih milik Diandra, wanita yang pernah mendampinginya dari SMA.

Darimana aku tahu kalau hati Mas Deni tidak bisa kumiliki? Aku beritahu kawan, wanita itu memiliki intuisi yang tak terkalahkan oleh peramal manapun.

Aku tahu Mas Deni masih menyimpan foto Diandra di dompetnya, walaupun semua foto wanita itu seudah dihapus di Facebook dan laptopnya. Aku tahu Mas Deni masih mengingat dentingan pianonya walaupun ia tidak mengakui itu. Aku tahu matanya masih menerawang jauh bila mendengar beberapa lagu yang pernah mereka mainkan bersama saat masih SMA. Aku tahu Mas Deni masih membuka profile facebook, akun twitter bahkan mem-bookmark blog Diandra. Aku tahu ia masih beberapa kali salah menyebut namaku.

Aku tahu semua itu. Tapi kenapa aku masih mau bersama dan melangkah bersama Mas Deni?

Entah. Mungkin ini cinta. Atau bisa jadi ini bodoh.

***
Klik… klik… klik…

Aku membuka Facebook. Situs itu selalu menjadi prioritas yang kubuka untuk pertama kali setiap aku membuka laptop. Dan bukan untuk membuka siapa yang memposting apa di wall Facebookku, atau membuka profile Mas Deni. Aku membuka profile Diandra.

Diandra. Mantan pacar tunanganku.

dan aku hanya melihat semua foto – fotonya. terkadang aku melihat timeline-nya sampai saat pertama kali ia membuat facebook. di mana ia masih saling berkirim komentar dengan Mas Deni.

Aku cemburu, aku cemburu pada tiap kesempatan yang ia miliki bersama Mas Deni. Bagaimana ia menyemangati Mas Deni saat Mas Deni pertama kali merantau di pulau sebrang. Bagaimana mas Deni menulis di wall Diandra mengenai rindunya yang begitu besar. Bagaimana mereka berharap segera datang hari libur nasional hanya untuk saling bertemu.

Aku sebenarnya sakit jiwa gak sih membuntututi mantan pacar tunanganku sampai sejauh ini?

***

Hihiihihihi..versi ini dibuat saat saya dan si partner berjumpa di sebuah sudut coffee shop. maklumin ajah kalau sedikit ngaco. karena sambil ngetik, sambil hahaha hihihihi bercerita, sambil update status sana-sini.
ini versi si wanita satu lagi. kejutan apalagi yang akan disampaikan oleh kisah ini? tunggu kelanjutannya sodara – sodara (jika berkenan:mrgreen:
aiiiiiih….

4 Comments

Filed under [drama] tambahan

4 responses to “dan (tak) mungkin part.2

  1. part 3 si mas Deni yg bercerita ya Is😉

  2. berkenan dong Is …. tp jangan lama2 ngapdetnya yak😀

    satu hal, mo dihapus semua pun dari fb ato lappie, tapi di kepala yg sudah jadi kenangan itu, gimana ngapusnya?😀 Kan teringat terus tuh .

  3. Eh tunggu… berjumpa sama partner? dan siapakah partner itu? hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s