3 weeks

Assalamu’alaikum Temans,

Selamat Siang semuaaaaa… hei, kamu.. iyah kamuuu yang lagi ngeluangin waktu untuk baca tulisan ini, terimakasih yah sudah mau merelakan waktu berharganya untuk sekedar nengok ke blog yang sedang mati suri ini. hahahahaha. Kamu apa kabar? Sehat? Mari berbagi cerita sama saya yah.

Saya mau cerita nih sebenernya. Jadi, beberapa hari yang lalu pas di jalan pulang kantor saya seperti biasa dengerin radio. Topik di radio itu adalah tentang persiapan pernikahan. Dueng… saya inget, saya masih berhutang cerita sama blog kesayangan saya ini tentang …… *jeng jeng* *drum roll* pernikahan saya. my wedding. my own wedding. can i repeat once more? FINALLY, I GOT MARRIED COUPLE WEEKS A GO!

Can u imagine that? Ms. Drama Queen yang hobi menebar drama dan kegalauan di setiap socmednya ini, finally… (iyah, akhirnya) melangkah ke –apa-yang-orang-orang-bilang-denganjenjang hidup yang lebih serius‘. bukan hidup mereka yang belum menikah gak serius atau belum serius, tapi saya kan cuman ngikutin apa kata orang.

tapi jujur deh … saya kemarin tuh kaya mimpi. apalagi pas ketemu temen blogger macem si putri usagi dan dikung *males nge link*, mereka kan dateng ke hari bahagia saya. mereka yang tahu banget kisah drama percintaan saya dari blog saya, dari twitter saya, belum lagi kalau pas ketemu kita langsung curhat – curhatan. Apalagi dikung yang malahan berhadapan langsung dengan drama hidup saya yang dari nangis bombay soal sahabat, ribut sama istri orang lah. Sampek dia (si dikung) pernah bilang “emang mbak ais mah orangnya suka nyari masalah”

Pas mereka menghampiri saya dan salaman sama saya di hari bahagia saya, rasanya kaya saya mau jingkrak – jingkrak dan meluk mereka deh. pengen banget teriak “finally, i did it!”

Ada Irni juga, anak gaul se Pontianak (lagi – lagi aku males ngelink) yang mosting di halaman fesbuk saya dan baru saya cek pagi ini. Dia bilang;Temen ngeblog dari awal awal baru ‘bisa nulis’ sampe sekarang. Temen blogger yang berteman dari dianya masih kuliah s2 sampe pengangguran dan hingga dapat kerja jadi bisa kopdaran di pontianak!!Pengen banget ketemuan lagi. Ngobrol2 lagi. Kalau bisa sambil bawa krucil2 yang buat gak tenang emaknya ngobrol. Hihihi. Bahagia selalu aisss. Keep blogging!!

Saya sadar, ada banyak cerita di blog ini yang mereka tahu, yang mereka baca, dan somehow mereka adalah bagian dari perjalanan hidup saya. Kadang penasaran juga sih sama temen – temen ngeblog yang lain. Kaya Kang Guskar, Kak Jul (eh yang ini enggak ding, masih sering bbman, hahahaha), oom enha, pakde, bu piet (abis mensyenan di twitter kemaren, aku tunggu jeung novelnya! hahahahaha), mbak ina, si bhi berceloteh, orange vanila (saya lupa namanya. hiks), si oom zahru, nda -lupa nama blognya-, oouch…jangan lupakan tante hera dong yang ngeblog cuman sebentar tapi bertemennya bisa ampek sekarang, nandini yang terakhir ketemu di jogja -dan masih sering tahu kabar via path ataupun ig-, sya si gula jawa, ari tunsa, terus si asop, mbak nik yang sekarang punya baby umur 14bulan (itupun taunya via fesbuk), terus siapa lagi sih temen ngeblogku dulu?

Mereka semua apa kabar ya?

Jadi sebenernya aku mau nulis soal proses akhirnya aku menikah, atau nulis soal temen – temen ngeblog sih ini? typically me. Nulis kagak ada guideline nya.

Lah, kamu maunya saya nulis soal temen ngeblog dulu apa tentang my wedding dulu nih?

Hayo… hayo … hayo …

Someday, someone will walk into your life and make you realize why it never worked out with anyone else
Someday, someone will walk into your life and make you realize why it never worked out with anyone else

Jadi, aku harus cerita darimana dulu ini?

Advertisements

dalam tiap ragu

seperti akan menyerah pada tiap kesalahan, aku pun menyerah di terakhir kali orang itu meninggalkanku. meninggalkanku dalam pertanyaan besar yang sampai sekarang belum kutemukan jawabannya. masih kucari, atau mungkin aku sudah tidak peduli pada jejak langkahnya yang terhapus perlahan oleh hangat kehadirannya. kehadiran ia, yang mampu membuat hatiiku ciut pada ikrar tidak akan bodoh lagi. tidak akan jatuh cinta lagi.

ah bodoh memang ikrar itu. harusnya sudah kuterima saja takdir bahwa aku ini sang wanita yang pada akhirnya akan menambatkan hati pada seseorang. dan, mungkin seseorang itu … dia.

aku terpaku pada senyumnya. bukan yang terindah, bukan yang terbaik, tapi … paling mampu membuat keangkuhanku tunduk. dan mungkin yang paling berani. paling berani untuk meruntuhkan tiap ego dan logika yang kubangun sejak terakhir hatiku hancur.

dan, kali ini saat langkahnya terhenti dalam keraguan yang sama seperti pendahulunya, aku hanya berkata;

‘aku bisa apa?’

aku. bisa. apa. saat. kamu. ragu. melangkah. untuk. membimbingku.

aku hanya bisa berdoa, semoga Allah mengabulkan permintaanku saat ini untuk bersama dia. entah sudah berapa dia yang kusebut dalam doa. mohon dengan sangat, semoga ini yang terakhir.

dan, yang mampu kuberikan sekarang adalah waktu. waktu baginya untuk berpikir mengenai segala macam keraguan dalam dirinya.

waktu dan keraguan adalah musuh besarku dulu. entah saat ini.

dayaku saat ini hanya meminta kepadaNya.

seberapa keras aku bernyanyi i wont give up nya Jason Mraz, aku bisa apa?

dan sebelum ini semua terlanjur, mari kita beri koma pada kalimat kita.

(jeda)

***

dalam tiap ragu, selalu ada harapan.

namun kali ini, harapanku adalah … don’t give up on us. because .. there’s something about you that just wont let me give up like yesterday.

 

i won't give up

***

note:

1. udah lama gak curhat di sini yess? anggep aja angin segar buat yang kepo sama urusan percintaan saya (eerr… emang ada?)

2. terinspirasi lagunya jason mraz yang i wont give up

3. gambarnya ngambil dari sini.

 

begini beritanya

heihooo… alohaa…

apa kabar teman-teman di sana? Memasuki tahun kelima saya punya blog ini, makin lama makin ga bersemangat banget yah saya nulis. semangat saya ngeblog bagaikan ditelan apa ntah. siang ini saya bertekad untuk nulis satu updetan. dari pagi tadi saat mengetahui bos rapat di luar kota dan bos satunya sedang ijin menghadiri acara keluarga di luar kota.
Jadiiiii… saya memanfaatkan waktu istirahat ini dengan semaksimal mungkin!! tapi begitu ngebuka new post kok saya malah lupa ya mau ngeblog apaan. hiks, tapi saya coba yah. sebagai bentuk aktualisasi saya setelah sekian lama….

Yakin deh sejak jadi pekerja, saya semakin kehilangan identitas diri saya sebagai seeorang yang mencintai menulis. sebagai seseorang yang mencintai membaca. maksudnya, coba deh liat … kelakuan saya belakangan ini kalau ga di kantor yah di rumah. ngapain? ya mbikin konsep surat keluar, ngonsep nota dinas, njawab semua pertanyaan bos yang kadang mbikin kening berkerut (hukum phytagoras apa mbak? itu si hanut nomor telponnya berapa mbak? tarif khusus untuk panjang kapal 90 meter lumpsum 2jam berapa mbak? mbak itu les bahasa inggris di klapa gading berapa yah mbak? ), ngurusin pritilan2 kecil yang harus diurus. dan rasa-rasanya energi saya terkuras di sini semua. pernah loh saya seminggu mimpi laporan pertanggunjawaban keuangan dan tiap ada bunyi telpon di kantor saya ga mau ngangkat, takut ditagih sama orang keuangan. hahahahaha.

kalok di rumah kerjaan saya cuman tiga: tidur, mandi dan makan. oh satu lagi; nyuci baju. hehehehehe.

so, hari ini saya mencoba menyeimbangkan diri saya dengan menulis. ada banyak hal di kepala saya yang sedang menari-nari.

pertama

soal pembunuhan anak remaja oleh dua remaja lainnya. tahu kan? yang lagi heboh beberapa hari yang lalu. Belum tahu beritanya? Coba cek di sini. Waktu berita itu muncul di twitter, saya langsung ngomong ke bos saya. soalnya saya sama oom bos yang satu itu sering ngobrol ngalor ngidul ke mana-mana. Oom bos langsung diem dan curhat soal kekhawatiran terhadap anaknya yang baru kelas 3 SMA tapi sudah pacaran deket banget sama temen satu sekolahnya. Bahkan orangtua sang pacar pernah bertandang ke rumah oom bos. dia curhat kalau dia khawatir terjadi apa-apa sama anaknya.

Saya diam dan saya jadi ikut merasakan kekhawatiran itu. Entahlah, beberapa bulan belakangan ini saya lebih ngerasa masuk ke dalam ‘team orangtua’ daripada ‘team anak muda’. saat teman sekantor saya memiliki masalah dengan orangtua-nya, saya justru empati dan bisa memahami orangtua dia dengan lebih seksama dibandingkan perasaan yang teman saya ceritakan. Makanya saat saya sedang berbeda pendapat (seperti saat ini!) dengan orangtua saya, saya lebih banyak diam dan mencoba mencari jalan terbaik agar dua kemauan dan keinginan ‘team orangtua‘ dan ‘team anak’ yang terjadi antara saya dan orangtua saat ini bisa terakomodir dengan baik (dem. bahasa saya udah cukup bahas birokrat belum? kebanyakan nulis nota dinas inih) :mrgreen:

kedua

ada kabar duka. kabar duka yang sudah lama sebenarnya. tapi saya baru tahu beberapa hari yang lalu. Ini berkaitan dengan kawan yang saya kenal lewat blogger. Saya mengenalnya dengan nama Faa. mungkin ada beberapa kawan yang mengenalnya. saya mengenalnya di blog ini. Beberapa kali komen di blognya dia, dan beberapa kali juga dia maen ke sini. kami punya karakter blog yang berbeda. coba deh tengok blog dia yang artistik dan nyeni. saya suka maen-maen ke blognya dia karena ada gambar-gambar lucu hasil karyanya.

Hingga beberapa hari yang lalu saya melihat seorang kawan memposting di wall fesbuk milik Faa dan muncul di news feed fesbuk saya. akhirnya saya buka wall fesbuknya Faa, karena saya penasaran udah lama gak denger kabarnya. Begitu saya buka betapa kagetnya saya, ternyata Faa telah meninggal dunia september Tahun lalu. dan tanpa sadar saya meneteskan air mata waktu melihat halaman fesbuknya dipenuhi oleh ungkapan belasungkawa dan beberapa kalimat indah serta foto2 waktu teman-temannya masih berpetualang. Dia masih muda, masih sangat menikmati hidupnya yang penuh petualangan dan menakjubkan di mata saya (dia naik motor pitungnya dari Jogja ke Cilacap! isn’t that amazing?). dan dia meninggal di usianya yang masih sangat muda.

kematian, bagi saya adalah seperti peringatan. Bukankah begitu?

ketiga

setelah dua hal tadi, ada berita gembira yang mbikin saya ingin melompat-lompat kalau menulisnya (hiperbol deh nulisnya). Ini juga masih dari kawan yang saya kenal di blog. Walopun dua-duanya udah ga aktif ngeblog lagi (ya sebelas dua belas lah sama saya,), tapi tetep aja saya nyebut mereka ‘temen nulis’.

yang pertama si maucokelat, teman nulis saya yang terakhir membuat saya sangat terpesona pada kalimatnya yang ini :

hidup ini bukan hanya bercerita tentang jari manis, kapan dilingkarkan cincin atau kapan sanggup melingkarkan cincin.

dan itu potongan kalimat sering banget saya kutip di mana-mana. karena saya sangat amat suka sekali sama potongan kalimat sederhana yang dia buat. awalnya saya kenal sama si mau cokelat ini juga gak sengaja. maen ke si anu ada dia, maen ke situ ada dia. ya udah saya ngeklik aja blognya dia. buka profile-nya. mendadak ngefans. hahahahaha. dibela-belain ngirimin dia imel buat nanya YM nya, terus udah bolak-balik ceting akirnya dapet nomor hpnya, ketemuan deh beberapa tahun setelah kenal di blog itu.

dulu sempet sebel setengah mati sama kesinisan dia yang anti kemapanan (HIH!) bawaannya kalok saya ngobrol sama dia, saya ngerasa disepelein. sampek akhirnya saya ngungkappin kesel saya ke dia, dan kita jadi ngobrol biasa lagi. dia itu tempat curhat favorit saya (salah satu favorit) kenapa? karena dia juga yang bilang ‘Jangan berekspektasi macam-macam sama temen lu, lu gak punya hak’. tahukan.. tipe temen curhat yang akan bilang baju yang dipake jelek kalok itu emang jelek tapi gak akan bilang baju kamu bagus kalok itu bagus. hahahahaha… nah, INTINYA APA?? INTINYA DIA SANGGUP UNTUK MELINGKARKAN CINCIN. dia finally nikah! dengan si Nona, yang pernah dia ceritakan di sini. Congrats Oom, bahagia selalu πŸ™‚

daaaan… satu lagi adalah perempuan blogger juga (dulunya), temen nulis juga asal Makassar. ketemu di blog juga, nge add di fesbuk, ketemu di twitter, tuker-tukeran pin, dan begitu dia ada kesempatan ke Jakarta, kita ketemuan deh. nah terakhir ketemuan di Jakarta itu sebenernya saya naksir adeknya *HLOH. hahahahha, bukan itu fokusnya. balik ke fokusnya yah, waktu ketemuan di Jakarta itu, saya sama dia sebelas dua belaslah galaunya. di pojokan Starbucks Sarinah kita curhat soal pria (what else?), edisi patah hati kita yang berulang kali. makanya gak nyangka banget dia beberapa bulan yang lalu kenalan dengan pria dan kemudian dilamar. APPPAA ?? DIA NGEDULUIN SAYA? KITA KAN KEMAREN GALAUNYA BARENG? hahahaha. becanda ding. dia memang sudah sangat siap untuk menjadi seorang istri, mungkin saya belum dikasih jalan karena menurutNya saya masih harus banyak belajar dulu. Bukan begitu bukan?

anyway, selamat untuk Hera Sahrul untuk pernikahannya, semoga bahagia selalu. i’m sooo happy for both of you.

lovely hera and her husband

oke deh. sekian updetan dari saya. udah cukup panjang juga ternyata. hahahahaha. kudu balik ngerjain yang laen. semoga kawans di sana juga punya berita gembira lainnya yahh.

***

*postingan ini didukung oleh blognya si maucokelat, berita dari internet, dan juga foto yang terakhir saya culik dari twiiternya Tante hera yang lagi sumringah banget πŸ˜€

monolog: bukankah

bukankah ini yang nantinya akan kita butuhkan?

genggaman tangan yang tidak harum memang tapi selalu ada, senyuman teduh yang menyambut kita pulang, bahu kuat yang mampu menampung semua masalah namun cukup nyaman untuk bersandar, kata-kata yang tidak selalu indah namun selalu menenangkan, kata-kata yang tidak mengandung perintah namun mampu membuat patuh.

aku selalu takut. aku takut. takut untuk kembali menaruh harapan. sudah kah aku ceritakan bahwa hati ini adalah hati yang payah. hati yang selalu, selalu, selalu menaruh harapan pada tempat yang salah. dulu. kali ini aku sangat berhati-hati menaruh harapan. aku sudah memohon maaf pada hatiku sendiri, karena membiarkannya terluka berulang kali. aku berkata padanya bahwa itu semua adalah pelajaran yang harusnya bisa diambil hikmahnya. hei, bukankah semua terjadi karena suatu alasan? hanya saja terkadang kita terlalu sibuk mencari alasan itu, sampai tidak bisa melihat saat alasan itu datang dengan sendirinya. mengetuk pintu kenyataan, memohon diberikan kesempatan untuk menjelaskan kenapa begini kenapa begitu.

terkadang, kita terlalu sibuk menganalisa, mencoba menerka kenapa begini kenapa begitu, apa yang salah dan siapa yang salah. aku menghabiskan waktuku melakukan itu. setelah mereka pergi satu persatu, meninggalkanku dalam sebuah pertanyaan besar; kenapa. tahukah kamu, KENAPA merupakan pertanyaan paling sering diajukan saat sesuatu berhubungan dengan hati entah itu jatuh hati ataupun patah hati. bukan begitu?

you can spend minutes, hour, days, weeks even months analyzing a situation trying to put the pieces together. Justifying what could’ve, should’ve, would’ve happened. Or you can leave the pieces on the floor and…. move on!

seperti dia yang pernah berkata;

Hidup bukan hanya bercerita tentang jari manis, kapan dilingkarkan cincin atau kapan sanggup melingkarkan cincin, hidup juga menceritakan sembilan belas jari lainnya, suka dukanya, sumringah nelangsanya, ragamnya, ramainya, sepinya, tanpa terkecuali.*

entah ke mana langkah kaki ini akan mengantarkanku, tapi aku selalu berharap langkah kaki ini mengarahkanku kepadamu, calon suamiku.

***

monolog kali ini dibantu dengan sepenuh hati oleh malam minggu syahdu (aeeeh), blog *maucokelat (nulis lagi nape), dieka dikung yang gak pernah bosen nanyain kapan aku updet postingan, dan kamu yang masih setia bukain dramaLand walau jarang banget updet.

***

just moving on

Bagaimana Jika

Bagaimana jika kamu mengajakku berpacaran serius, hingga merencanakan pernikahan? Maka, ini akan menjadi jawabanku…

Jawaban aku sangat bergantung pada seberapa keras usahamu untuk menunjukkan kepadaku bahwa institusi menikah bukanlah sebuah institusi menakutkan seperti yang dibicarakan orang-orang. Menikah bukan sebuah perangkap yang melepaskan banyak kesenanganmu. Menikah bukan sekedar alat untuk melegalkan perzinahan. Menikah bukan hanya sekedar status untuk kita pamerkan.

Bagaimana jika kamu mengajakku berpacaran serius, hingga merencanakan pernikahan? Maka, ini akan menjadi jawabanku…

Maka, jawabanku bergantung seberapa keras usahamu meyakinkanku bahwa aku dan kita bisa untuk menghabiskan sisa hidup hanya berdua. Butuhkah penjelasan lebih untuk permintaan aku ini? Tak terhitung banyaknya kisah perselingkuhan yang sama-sama kita lihat di depan mata. Aku tidak butuh janji bahwa kamu tidak akan melakukan itu, aku hanya butuh diyakinkan bahwa kita bisa mengatasi semuanya berdua. Semuanya. Hanya berdua.

Bagaimana jika kamu mengajakku berpacaran serius, hingga merencanakan pernikahan? Maka, ini akan menjadi jawabanku…

Maka lagi-lagi… Jawabanku akan sangat bergantung pada seberapa keras usahamu untuk bisa merubahku menjadi wanita yang tegar, tidak cengeng, dan tidak manja. Kenapa? Karena aku ingin…saat kita menikah, anak-anak kita memiliki ibu yang kuat, tegar dan berani disamping memiliki sisi lembut layaknya seorang wanita.

Bagaimana jika kamu mengajakku berpacaran serius, hingga merencanakan pernikahan? Maka, ini akan menjadi jawabanku…

Aku akan bertanya padamu sebelumnya, apakah kau mencintaiku? Bukan cinta menggebu-gebu seperti yang dulu pernah kita rasakan saat SMA, namun cinta sederhana yang berawal dari obrolan-obrolan ringan yang sering kita lakukan yang aku harap akan terus membesar seiring berjalannya waktu, setelah kita melewati banyak hal bersama.

Bagaimana jika kamu mengajakku berpacaran serius, hingga merencanakan pernikahan?

Yakinkan aku, itu bukan hanya sekedar dongeng indah yang lagi-lagi kaummu bisikkan ke telingaku hanya agar aku behenti menuntut dan berhenti mencerewetimu.

Bagaimana jika kamu mengajakku berpacaran serius, hingga merencanakan pernikahan?

Intinya, aku butuh lebih dari sekedar sebuah pertanyaan pengandaian. Aku butuh lebih dari sekedar kalimat, “ayo kita menikah”. Aku butuh usahamu untuk meyakinkanku. dan, aku butuh sesuatu yang nyata. senyata jumlah tagihan yang mulai harus aku bayar tiap bulannya.

Apakah aku meminta terlalu banyak? Am I asking too much?

***

fiksi atau curhat? Let u decide :*

Lalu biarkan,

biarkan saja rasa ini menghilang. seperti embun pagi yang kemudian hilang dalam teriknya mentari. Dan bila esok pagi embun kembali menghampiri, biarkan saja. sekali lagi: biarkan saja.

Apapun yang terjadi di kolong langit ini, sudah ada yang mengatur. Percayakan saja.

Karena seperti yang selalu aku percayai: bahwa cinta itu bukan untuk mereka yang lemah. Cinta itu untuk mereka yang berani.

dan, aku di sini. masih berani. berani untuk mencinta lagi.

dear past

***

gambar dari sini

well…

another broken heart story. sebenernya saya mau ngelanjutin postingan terakhir kemaren itu. udah ada di draft. dari semalem diketik, tapi ada kejadian siang tadi yang menghancurkan semua rasa saya. bahkan rasa ingin melanjutkan postingan di draft itu.

saya sempet cerita di postingan kemaren yah kalok saya patah hati tahun lalu? dua kali?

di akhir januari ini, ternyata saya harus patah hati lagi. iyah lagi.

rasanya semakin lelah saja mengikuti proses ini. proses jatuh – bangun – jatuh lagi – bangun lagi – lagi2 jatuh – lagi2 bangun. tahukah? saya tahu banget pada akhirnya saya akan bangkit dan mentertawakan part hidup saya yang ini. galau lagi galau lagi. galau melulu. punya kisah romantis kok begini-begini melulu. kalok gak ditinggal nikah, diselingkuhin, gak diseriusin, atau dikhianati komitmennya.

pernah denger gak apa yang tidak membuatmu mati akan membuatmu lebih kuat. tapi … seperti yang kita ketahui bersama…segala macam teori tidak akan berlaku jika kita membicarakan perasaan anak cucu Adam. bukan begitu?

termasuk teori apa-yang-tidak-membuatmu-mati-akan-membuatmu-menjadi-lebih-kuat tidak berlaku untuk patah hati. serius.

nyatanya saya garuk-garuk tembok juga kali ini. nyatanya saya mewek juga walau udah patah hati tiga kali dalam setahun terakhir. nyatanya saya masih ngetwit galau. masih dengerin lagu-lagu galau. masih…yah masih gitu deh.

hei kamu, iyah kamu yang sudah meyakini aku bahwa aku wanita yang hebat. terimakasih untuk persinggahanmu dalam hidupku. kamu pria yang baik. maaf aku sudah melewatkan kesempatan yang pernah ada antara kau dan aku untuk menjadi kita. seperti yang kamu yakinkan kepadaku dan aku percaya itu, aku adalah gadis yang hebat dari caraku memperlakukanmu, dan aku akan jadi pasangan yang hebat.

kadang yang dibutuhkan untuk healing a broken heart itu sesuatu yang klise. seperti Januari-nya Glen. Seperti magnum Almond. atau curhatan panjang kali lebar dengan seorang sahabat. atau nostalgia dengan membaca tulisan-tulisan lalu. atau rencana berakhir pekan dengan sahabat-sahabat. atau dengan menuliskan ini semua di sini.

yang terluka hanya hati. bukan akal sehat maupun logika. masih ada satu laporan perjalanan yang harus dibuat. jadi, ke arah mana kita melangkah sudah paham, kan?

goodbye