terjebak nostalgia

suara merdu itu mengalun dari sudut kamar. dengarkanlah apa yang Raisa lantunkan, ia sepertinya sedang menemani lamunanku

namun aku takkan pernah bisa..ku..
takkan pernah kumerasa, rasakan cinta yang kau beri. kuterjebak di ruang nostalgia.
semua yang kurasa kini tak berubah sejak dia pergi.

aku terjebak di satu masa dalam hidupku. saat aku masih bersamanya. bersama dia, yang sedang tersenyum dengan mata sipitnya yang lucu itu, pfiuhhh… dia sedang memandangku dari dompetku. Ya, aku masih menyimpan foto kami berdua, di dalam dompet. tidak ada yang pernah tahu. dan jangan sampai ada yang tahu.

kenapa?

jangan tanya kenapa. Karena aku benci bentuk pertanyaan itu. karena dengan satu kata pertanyaan itu mampu membuatku mengingat kembali jutaan penyesalan yang merayap dalam hatiku, penyesalan yang selalu hadir bila mengingat dia.

siapa dia? hanya cinta pertama. cinta pertama dalam balutan seragam abu-abu. cinta monyet yang sayangnya tumbuh tanpa seijinku. namun itulah pelajaran yang selalu kupahami, jangan pernah menyebut kata hanya untuk sebuah cinta.

***

 
Teras Rumah, Maret 2006

” Tapi kamu pernah bilang sama aku, kalau kamu gak pernah percaya sama kata-kata cinta itu tidak harus memiliki! kamu sendiri yang bilang kalau yang namanya cinta itu harus diperjuangkan. bullshit kata-kata kamu!!”  Nafasku tersengal mengucapkan kalimat itu. Aku gak pernah percaya kamu mengucap kata putus. Lagi.

” karena memang nyatanya seperti itu…” Kamu. Dengan suara lemah.

” Berarti kamu udah gak cinta sama aku?” Aku. Masih dengan emosi.

” Bukan begitu, aku masih cinta sama kamu. Tapi rasa ini sakit tiap kali inget kejadian dulu itu, rasanya…” Kamu. Dengan kalimat menggantung.

Akhirnya air mata itu turun. di pipiku. basah, sama seperti tanah di depan kita yang basah oleh rintik hujan yang sedaritadi menemani kita. Pelan, tanganmu meraih tanganku.

” Jangan nangis. Kamu mbikin aku sedih…” Kamu. sambil terus menggenggam tanganku.

” Aku ternyata lemah. aku ternyata egois. Aku lebih memilih untuk tidak merasakan sakit daripada harus terus bersama kamu. Maaf ndut, aku gak bisa. Aku…”

Belum selesai kalimatmu itu, aku menyerah. Aku meninggalkanmu di teras. Aku masuk ke dalam rumah, berlari menuju kamarku di lantai dua. Aku membanting pintu, memeluk si Oon, boneka bebek hadiah darimu. Aku menangis dan terus menangis.

Tidak pernah terbayang sebelumnya kalau malam ini akan tiba. Tiga tahun lebih kebersamaan kita, dan kamu memilih hari ulang tahunku untuk bilang putus Fi?

***

tenaaaang… tenaaang… ini bukan kisah nyata. ini cuman fiksi. seperti yang diketahui bersama. sejak resmi jadi mahasiswa pengangguran, saya gak bisa lagi mengkambinghitamkan kuliah atau tesis atau apapun untuk alasan saya males ngupdate blog. nah, untuk menumbuhkan rasa keinginan saya menulis, saya berusaha membuat fiksi. niatnya sih ngikutin yang dilakukan si Pethakilan di sini.

dia punya ide mbikin fiksi yang serial, tapi tidak bersambung dan tidak berurutan. kenapa? karena otak dia diagonal, dan saya ngikut aja. Hahahahaha.. Just for fun, kalau niat yah dilanjutin, kalau gak niat yah kudu memaksa diri buat dilanjutin. Karena percaya atau tidak, saya punya jutaan ide cerita, tapi tidak pernah berani membuatnya. mungkin, ini step kesekian saya untuk memulainya, lagi. Gak usah maksa buat suka, beneran. Karena kata Kant, selera tidak bisa diperdebatkan:mrgreen:

***

 

Postingan Serial Fiksi yang belum bernama ini disponsori oleh: Pethakilan yang memberikan ide, Raisa dan lagu terjebak nostalgianya, dan nostalgia saya atas hujan dan dia yang pernah memberikan saya ayam goreng enak di bulan November (yang diinget cuman ayam, harap maklum, pas nulis ini saya lagi laper berat).

32 Comments

Filed under [drama] tambahan

32 responses to “terjebak nostalgia

  1. walau dibilang ini fiksi, tapi kok seperti nyata ya? jangan2 ini cerita nyata?*sambil narik dompet dan lihat didalamnya ternyata ada …

  2. kirain pengalaman pribadi mbak,
    uhukk….salam dah buat si Oon
    bebek…:D

  3. hahhaa.. ternyata fiksi…tadi kirain kisah nyata
    mana janjinya kemarin mbak? yang di p.s itu..
    #plaak

  4. hmm.. sebelum membaca penjelasan Ais, saya nyaris terjebak pada nostalgia cinta lama hihihii:mrgreen:

  5. lanjutkan neng, fiksimu kereeeen😉

  6. ikut baca fiksinya ya Ais🙂

  7. aahh lagi banyak blogger yg nulis fiksi neh.. lagi musim kah?😀

  8. teroskan honey, apik gitu😀

  9. eyha4hera

    diagonal itu apahh ?

    * sambil ngunyah sirih *

  10. ishhh.. bete… emailku yang biasa g dipke komen.. ga muncul deh tuh wajah gan..eeerrr ya sudahlah

  11. Cieeeee…fiksi euy…
    Lanjutkan Ais!!!!

    *eyke mah nyerah deh kalo fiksi fiksian mah*

  12. 'Ne

    Aiiiisss kangen.. hehe..

    sama nih kita ngeblognya lagi timbul tenggelam hihi..
    kalo nulis fiksi serial tapi bukan bersambung sih udah sering.. nama tokohnya sama2..
    sekarang aku juga lagi punya tokoh baru hihi.. main2 donk kerumah baruku😉

    *eh lanjutin ajalah sesukanya itu fiksi ya:mrgreen:

  13. jeng..jeng.. bisa komen ma email ini lagi donk.. #maupamerajasih

  14. Apik…apik… tak dukung, Rianiii. Nek wis akeh kolaborasi ama Pethakilan trus dibikin buku yoo. Trus kirimi aku siji:mrgreen:

    Aku suka theme nya, Say. Cerah ceria seperti senyummu, amboooiiiii…..

  15. hahaha, udah serius ngikutin, kirain based on true story, eh malah miksi🙂
    aku juga pernah nyoba bikin serial fiksi di blog, tapi baru nyampe 2 serial udah mampet. pengen dilanjutin tapi gak ada ide haha..

  16. bhiberceloteh

    kenapa kebayang mukanya si artis muda-ga-terlalu-berbakat-maap-maap-kalo-ada-yang-marah-abis-emang-bener-sih Nikita Willy yah??
    pasti karna cerita ini kaya teaser sinetron baru gitu, dan kalo udah urusan sinetron, ga tau kenapa tampang dia yg muncul…..

  17. saya udh serius bacanya mbak..trnyata fiktif,…mbak brbakat bwt cerpen mbak..:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s