seandainya aku @unggulcenter #RantaiCerita #Seandainya

Tulisan ini adalah tulisan kelimabelas  dari #Rantaicerita #Seandainya. Sebenarnya ini buntut dari keisengan saya menjawab mensyennya kakJul waktu itu di twitter. Iseng dan gak nyangka ternyata bisa dapet giliran juga, kirain bakalan kagak dapet.:mrgreen:

#RantaiCerita adalah hastag dari kumpulan cerita yang akan ditulis oleh 20 orang blogger yang tidak saling mengenal secara pribadi. Adapun para blogger yang turut merangkai cerita adalah @IndahJuli, saya, @agusmoen @bejanawaktu, @aniRingo, @juleahardy, @unggulcenter,  @ajengkol, @wkf2010, @mataharitimoer, @harrismaul, @CiscaDV, @echaimutenan, @elafiq, @ari_dexter, @Rigo_ZHI, @thianongnong, @phenyukerooo, @nanda_thekids, dan @aisariani.

Saya dapat amanah dari KakJul yang cantik mempesona itu untuk menjadi Kang @unggulcenter

Baiklah, mari kita sebut ini apah? Ini sulit. Mungkin. Apa namanya kalau bukan sulit jikalau saya mendapat tugas menulis seandainya aku menjadi Kang Unggul. Hiks, namanya pun baru saya tahu kemarin setelah dimensyen di twitter. Dan setelah saya baca-baca blog-nya … makjang… makin minder saya. Jelaslah kami ni beda.

Perbedaan pertama : Kang Unggul  ini benar-benar unggul nampaknya, sering kali hadir di kancah perkopdaran nasional. Adalah cerita Kang Unggul ke Sidorajo dan ASEAN Blogger Conference di Bali akhir tahun kemaren. Malu juga saya, gak kenal sama Kang Unggul ini. Hlah saya? Kopdar paling akbar yang pernah didatengin cuman kopdar batik awal tahun lalu, itu juga cuman berduabelas rasanya.

Perbedaan kedua: jelaslah, saya ini wanita dan Kang Unggul pria.

Perbedaan ketiga: saya ini cantik, Kang Unggul ini tampan. Heleh…

Perbedaan keempat: tagline blog kami pun beda jauuuuh kali. Unggul Center dengan ‘Where Intellectual Happens’ dan dramaLand dengan ‘where drama can be .. everything’ beda banget kan? Kan? Kan??

Ah sudahlah, manusia itu memang diciptakan berbeda. Maka dari itu, saya memutuskan untuk membuat karya fiksi tentang Kang Unggul. Kulo nyuwun ngapuro nggih kalau cerita fiksi ini menyinggung Kang Unggul atau tidak sesuai kenyataan, namanya juga fiksi. Hahahahaha…

***

 

Jogja, 13 Agustus 2008

Akhirnya, Jogja. Akhirnya kota ini berhasil juga saya datangi.  Kota yang terkenal dengan kota pelajar, kota gudeg, kota budaya dan apalagi? Hmmm… Lihatlah beberapa tukang becak mencoba untuk menarik perhatianku. Menawari saya  untuk  menaiki becaknya. Mulai dari Dagadu, Bakpia sampai pusat kerajinan batik. Tapi saya  tidak akan tergoda. Tujuan saya sudah jelas, saya datang ke kota ini karena memenuhi undangan kawan blogger.

Si kawan ini mengundang saya karena saya  menang kuis yang diadakan di blognya. Hadiah yang saya  terima adalah tiket pulang pergi dari tempat asal ke Jogja serta akomodasi  selama di Jogja, yang jelas saya  hanya perlu membawa diri dan pakaian dan kamera tentu saja. Tapi, mana si kawan ini? Kok belum keliatan yah?

Tiba-tiba handphone saya  berbunyi;

Kang! Di mana Kang?

Oh ternyata si kawan yang menelpon.

“di pintu masuk, di deket tulisan stasiun, yang ada miniatur lokomotifnya”

“waaah… aku salah Kang. Kang Unggul tunggu di situ dulu ya”

Sepuluh menit kemudian ada motor Grand berhenti tepat di depanku. Persis seperti odong-odong. Si pengendara membuka kaca helmnya,

Kang Unggul?”

Wah.. ternyata si kawan menjemput saya menggunakan motor! Motor yang mirip dengan odong-odong.

Kang Unggul di depan yah

Si kawan menawarkan saya membawa motornya. Tentu saja saya mau. Semangat. Bukankah menyenangkan berjalan-jalan di kota orang, mengendarai motor? Si kawan memandu saya dari belakang. Katanya saya harus memacu kendaraan lebih cepat. Tujuan pertama kami adalah candi boko.  Dari stasiun, kami mengarah terus ke barat. Jalanan kota Jogja lumayan ramai, tapi tidak seramai  jalanan Kota Depok pastinya.

Setelah menempuh perjalanan  selama setengah jam lebih, yah lumayanlah.. tidak sejauh Bogor – Depok.  Dan jalanannya juga tidak begitu ramai. Kalau hanya segitu sih kecil buat saya, apalagi dengan motor yang mirip odong-odong ini. Sesampainya di parkiran, saya bingung. Mana candinya? Katanya ada candi? Kok yang nampak hanya warung makan?

Saya bertanya pada si kawan. Ternyata kami harus menempuh perjalanan dulu, melalui tangga. TANGGA?!?! Baiklah, #eluselusperut

Si kawan yang badannya tipis ini ternyata hebat dalam menempuh perjalanan menaiki tangga. Tidak nampak kalau dia ini lelah. Saya? Ah.. jangan ditanya. Ngos-ngosan dan pengen balik pulang rasanya, duduk di warung makan tadi, dan memesan segelas es teh. Namun perjalanan menaiki tangga ini ternyata terbayar saat saya sampai di atas. Tidak salah memang si kawan ini mengajak ke sini. Ternyata ini adalah tempat yang sering dijadikan background oleh fotografer-fotografer. Karena memang ciamik sekali pemandangan dari atas sini. Sayang sekali, si awan sedang tidak bersahabat, jadinya tidak bisa mengambil foto sunset yang katanya si kawan, sunset di candi boko ini bagus sekali.

 

Memang, saya lihat banyak sekali orang-orang yang membawa kamera bagus, sampai-sampai saya malu mau mengeluarkan kamera poket saya.

Kenapa tempat ini tidak pernah terdengar yah? Saya saja kalau tidak diajak si kawan ini mungkin mintanya ke candi Borobudur. Cobalah lihat bangunannya, klasik. Dan setelah ngobrol dengan si kawan, ternyata bangunan candi boko ini memiliki nama lengkap  Istana Ratu Boko. Jadi tempat ini konon katanya dibangun untuk tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. Ada pemandian, ada tempat pembakaran mayat segala! Istana Ratu Boko ini dibangun pada abad ke-8 dan termasuk termegah di jamannya, dan yang ngebangun masih kerabat dari yang mendirikan Candi Borobudur.

Ada banyak yang kawan ini ceritakan sebenarnya, tapi separuhnya saya tidak mendengarkan, mencoba meresapi pemandangan sekitar. Benar-benar damai. Terlihat pemandangan kota Jogja dan ada gunung merapi yang terlihat.

Sayang sekali situs ini kurang terkenal yah. Mungkin, pemerintah bisa memberikan perhatian khusus lagi terhadap candi ini, setidaknya dibangun elevator dari tempat parkir sampai lokasi candi, biar orang-orang seperti saya tidak ngos-ngosan #eluselusperutlagi

***

 

HoshHaaaah… gemanah..gemanah..kepanjangan gak? Kurang fiksi gaaak? Siapa lagi yang mau saya bikiniiin?? *Hlooh?!?!?

Baiklah, karena kewajiban saya adalah meneruskan cerita ini, maka cerita berikutnya harus dibuat oleh @aniRingo yang akan menjadi @indahjuli

***

ijin foto  Kang Unggul saya ambil dari Facebooknya, karena saya gak bisa mbukak blognya lewat laptop kesayangan saya ini😦

gambar candi bokonya yang gak jelas itu dari koleksi pribadi, waktu saya dan agil ke Candi Boko sekitar tiga tahun yang lalu.

***

see u next post! jangan ke mana-mana, dan kalaupun ke mana-mana balik lagi ke sini, karena dalam waktu dekat saya akan meluncurkan tulisan sambungan dari surat untuk diri saya di umur 16 tahun yang pernah saya tulis di sini.

9 Comments

Filed under [drama] tambahan

9 responses to “seandainya aku @unggulcenter #RantaiCerita #Seandainya

  1. Emang itu fiksi ya Is? Baru tau saya

    *ditimpuk sendal kabuuuuuuurrrr*

    komen geje udah capek mbaca tulisan yg ikutan ga : pribadi mandiri
    melu o Is

    — ais ariani:
    diusahakan yah Mbak, aku lagi baca-baca tentang giveawaynya mbak Nik nih,
    semoga bisa ikutan yaaa
    jangan teler dulu dongs🙂 —

  2. ya itu bukan fiksi hahahaha.. terutama bagian elus-elus perut wakakakaka..

    — ais ariani:
    hihihihihi… semoga kalau besok beneran ke Candi Boko gak pake elus2 perut beneran yah Kang:mrgreen:

  3. Mba’ yaa kereeen blognya (´⌣`ʃƪ) (ʃƪ´⌣`)

    — ais ariani:
    hoh? hah hoh? hah?
    *linglung* —

  4. wah..aku baru tau nih..itu beneran fiksiii??😀

    — ais ariani:
    beneeer Fit. ngarang tenan iki, tapi tokohnya memang ada, tokohnya terinspirasi dari Kang Unggul ituh🙂 —

  5. Eh, ini fiksi beneran ya? *ikut-ikutan yg di atas*:mrgreen:
    Btw, Kang Unggul memang hobinya jalan-jalan kok.

    Salam persahablogan,😉

    — ais ariani:
    ahahahha..Iyah Kang, ini fiksi kan kan kan..
    hehehehhe.. hasil mbaca blognya Kang Unggul dengan singkat:mrgreen:

  6. Pingback: Seandainya | Wong Kam Fung

  7. Saya pikirin benaran ceritanya Sob ? he….x9

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

    — ais ariani:
    gak kok, ini cerita fiksi tapi tokohnya terinspirasi dari tokoh nyata🙂 —

  8. fiksinya bener-bener nyata (hloh?!)😀
    baru tau mbak, klo di atas Boko itu sunsetnya keren..
    aku ke sana pas siang2 sih, jadinya yang teringat cuma panasnya doang

    — ais ariani:
    hihihihihi…ayuhk puch kita kopdarnya di Candi Bokok ajah, pas sunset. cantik… —

  9. aaahhh seru yak bisa saling tuker2an menjadi gt.. qku kurang update neh klo urusan kegiatan blogger ~_~

    — ais ariani:
    aku inih aja dimensyen Nie, awalnya bergembira horeh aja, ternyata lumayan susah. hahahhaha.. —

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s