nostalgia internet

Selamat Hari Senin, Temans!

Pagi tadi, saya ikut kelas bahasa inggris yang difasilitasi kantor. jadi, saya dapet jatah untuk belajar bahasa inggris dua kali seminggu masing – masing selama dua jam.  awalnya agak males ya boook, tapi kok sayang banget kesempatan emas buat belajar disia-siakan. we know lah, kesempatan buat belajar kan gak dateng ke semua orang. apalagi kesempatan itu gratis yess. hahahahaha..

Nah, pagi tadi di kelas kita belajar ‘express feeling’. disuruhlah itu kitamenceritakan 15 ‘feelings’ yang kita rasakan selama paling gak sebulan terakhir. tadinya saya mau curhat onair kan yah. tapi harus jaim dong kalau sama temen – temen kantor, saya harus dikenal sebagai mbak ais yang cuek dan cool (aeeh matek).

jadi saya cuman menceritakan feeling yang so so aja, salah satunya adalah enthusiastic. why? because we have one day off in da middle of this week. ya ampoon…. sejak kerja, i’m very craving for day off. jadi dapet satu tambahan libur tanpa mengurangi cuti itu amazing banget rasanya buat saya. hahahahaha.

bukannya saya membenci pekerjaan saya, hanya saja … saya seneng aja dapat waktu buat tidur lebih lama. hehehehehehe…

eh topik yang mau dibahas bukan itu sih. topik yang mau dibahas itu sebenernya gara – gara tiba – tiba saya keingetan sama logo ini:

friendsterhahahahahaaa ….

ayoh generasi internet 2000-an. ada yang masih inget sama logo ini gak? sama testimonial? sama bullbo alias bulletin board? sama kolom last seen, sama kolom who’s vied me. ahahahaha.

aduh, saya kok jadi terharu yah. ketahuilah temans, jaman friendster itu adalah jaman yang tidak cukup mengenakan untuk stalking, secara dulu social network belum ada kaya sekarang yess. jadi kalau mau nyari tahu tentang seseorang yah cari tahu aja lewat testi. ada masanya loh kita teriak – teriak; “eh … isi testi gue dong”

ya gak sih?

isi testi menjadi seru karena disitu akan ada testimonial temen – temen tentang kita. kind of “ais itu … bla bla bla and bla..”

sayang banget saya gak sempet nyimpen screen shot dari halaman friendster saya, karena sejak 31 mei 2011 friendster udah berubah jadi social entertainment site, yang saya gak tahu deh sekarang kabarnya gimana.

buat yang belum tahu, friendster itu ada sebelum adanya Facebook, twitter, myspace, yah masih agak deketan generasinya sama mIRC (remember that? someday yah… saya nulis tentang miRC).

penampilan friendster nih semacam kaya gini:

friendster page on 2006

yang seru dari friendster bagi saya adalah, kolom testimonial. why? karena, kalau lagi BT dan lagi gloomy gak jelas, saya biasanya baca kolom testimonial buat naikin mood dan self esteem. seneng rasanya baca komentar orang lain tentang diri kita sendiri (ya ampun, mbak ais narsisnya jaman dulu. heheheheehe). tapi, kalau kita mau kenal sama seseorang jaman dulu nih ya… saya juga ‘cari tahu’ gebetan saya yah lewat friendster. bagaimana teman- temannya memandang dia, bagaimana teman – temannya menilai dia. kalau sekarang apa yah perbandingannya?

nah selain itu .. di friendster ada juga fasilitas bulletin board. itu semacam kaya notes  yang bisa kita tulis dan bisa dibaca sama semua orang. cmiiw yah .. dan kita juga bisa baca bullbo (singkatan bulletin board pada masanya) yang dipost sama temen – temen friendster kita. biasanya di sini saya nulis gak penting banget .. biasanya jawab 20 pertanyaan gak penting yang pernah dipost sebelumnya sama temen saya. semacam situs springme kali yah kalau jaman sekarangg. kadang pertanyyan – pertanyyannya pun gak jelas, kaya “lagi dengerin musik apa?” atau “tadi sebelum nulis bullbo ini habis buka situs apaan?” atau “online dari mana?” alay kan saya jaman dulu ikut-ikutan nulis begituan?

selain itu, friendster dulu punya blog loh. dan di sanalah blog seorang mbak ais dimulai. dan amat sangat alay sekali. kalau untuk ini ada sih screen shotnya di blog salah seorang temans. tapi gak mau saya kasih link ah. ntar jadi ajang si dikung sama oom han buat ngebully saya :,(

secara tata bahasa, gaya nulis, pemilihan huruf, pemilihan kata, yang kalau saya baca lagi sekarang bikin saya pengen nanya “itu siapa yang nulis?”

ya padahal ada nama saya-nya di situ.

kalau saya gak salah inget, jejak kehadiran friendster masih saya tempel di salah satu buku harian saya. yaitu berupa print – printan testi – testi terbaik dari teman – teman friendster saya. saya pajang disitu buat jadi mood booster saya kalau lagi gloomy gak jelas. hihihihi.

dan, sama seperti situs pertemanan lainnya, friendster juga punya fasilitas buat nyimpen foto.

seru deh jadinya nostalgia dengan friendster ini, walaupun sejak mei 2011 itu… semua foto, testi, bulbo dan data – data yang ada di friendster udah dihapus. jadi, hilang sudah jejak kealay-an saya.

ALhamdulillah, besok suami dan anak – anak saya gak perlu tahu kalau saya pernah alay dan ajaib.

***

so, gimana dengan teman – teman … punya akun friendster gak dulu?

***

and by the way, thank for Gadel for the screen shoot of friendster on 2006 🙂

Advertisements

mempelajari kehilangan

Assalamu’alaikum….

*edisi Lebaran, salamnya jadi lebih agamis*

hehehehe. hai, hai haloo semuanyah. Temans, gimana kabarnya? Gimana lebarannya? Gimana liburannya?

kalau saya ni… Tahun ini, merupakan lebaran pertama saya setelah bekerja. Alhamdulillah, Alhamdulillah dan Alhamdulillah, rasa syukur yang gak bisa saya ungkapkan dengan baik, karena saya ngerasa bersyukur banget atas semua rejeki dan karunia yang menghampiri saya tahun ini. Berkah yang luar biasa 🙂

Namun, namanya juga hidup, ada beberapa hal yang terjadi dalam dua bulan terakhir yang menjadi bahan renungan buat saya. Pernah saya bilang, bahwa yang namanya hidup itu mengajarkan banyak hal. Sayangnya sering kita lewatkan karena kita terlalu sibuk mengeluh.

Satu pelajaran dalam hidup yang saya dapat di bulan Ramadhan ini adalah soal keikhlasan. keikhlasan yang pertama adalah soal jodoh (*uhuk). jadi begini, dari awal tahun seperti yang pernah saya bagi di sini, saya sudah patah hati. patah hati dengan seseorang yang pernah begitu dekat dengan saya namun lebih memilih untuk bersama dengan orang lain yang mungkin lebih bisa memahami dia. setelah lepas dengan dia, jujur saya mengakui banyak perubahan dalam hidup saya. Perubahan itu gak perlu saya ceritakanlah yah, mungkin ada beberapa orang yang sudah menyadari, atau mungkin ada yang bisa nebak juga. Hahahahaha…

***

Pelajaran keikhlasan yang berikutnya yang Dia coba sampaikan kepada saya adalah saat gadget kesayangan saya yang baru berumur beberapa bulan dan saya beli menggunakan gaji pertama saya, HILANG. okeh, coba dibold: HILANG. hilang di rumah sendiri. Lucu? Lebih lucu lagi kalau saya ceritakan kejadiannya. Tapi gak usahlah ya, bukan itu point yang mau saya ceritakan.

Point yang mau saya ceritakan adalah: dalam beberapa bulan terakhir saya LAGI-LAGI mengalami banyak kehilangan. selain kehilangan calon *uhuk*, kehilangan gadget, saya juga kehilangan beberapa sahabat-sahabat baik yang pernah mewarnai dunia saya beberapa tahun terakhir. Iya, gerombolan power rangersnya bubar *nangis di pojokan*

Saya terpuruk. Memaki. Jutaan kali. Nyinyir. Ribuan kali. Membahasnya berulang kali dengan siapapun saya bisa membahasnya. mendadak jadi ahli analisa perilaku. Kenapa bisa begini kenapa bisa begitu. Kenapa bisa hilang kontak, kenapa bisa menjauh, kenapa bisa hilang gadgetntnya, kenapa bisa buruk hubungannya, apakah gengsi akhirnya mengalahkan kecewa, apakah rindu akhirnya tergerus gengsi. Hal-hal seperti itu telah coba saya bahas. dengan orang lain, maupun dengan diri sendiri (let’s call that with ‘kontemplasi’) HAHAHAHAHA. dan berakhir dengan menjadi Ustadzah; “Ya memang udah jalanNya begitu….”

awalnya saya marah. marah. sangat marah. seperti yang saya bilang, saya memaki, saya nyinyir, saya mengumpat, sampai akhirnya saya menangis karena tidak mampu mengungkapkan kekesalan di hati.

Coba kamu bayangkan temans, apa yang kamu miliki terrengut darimu dan hilang dalam kehidupanmu? Hal-hal yang sudah pernah kamu perjuangkan untuk mendapatkannya.

Setelah puas dengan amarah saya, saya tersadarkan saat memasuki bulan Ramadhan kemarin, bahwa benar adanya tidak ada yang abadi di dunia ini. Toh, pada akhirnya kita akan kehilangan semua yang kita miliki kan? Bukan masalah ditinggalkan atau meninggalkan, tapi masalah bagaimana ia pergi, bagaimana ia hilang. Dan itulah yang harus membuat kita belajar. Kita harus belajar mengenai kehilangan. Karen pada dasarnya, manusia adalah makhluk pembelajar.

Apalah arti hidup ini tanpa pembelajaran mengenai kehilangan? Kita tidak akan menemukan jika kita tidak kehilangan. Dan yang perlu kita lakukan dalam proses tersebut adalah belajar juga mengenai keikhlasan,

mengikhlaskan /meng·ikh·las·kan/ v memberikan atau menyerahkan dng tulus hati; merelakan: kami telah ~ kepergiannya; dia ~ tanahnya untuk tempat pembangunan rumah sakit;

***

From the bright side, saya selalu mendapatkan kata-kata bijak ini, “Insya Allah diganti dengan yang lebih baik”, jadi jika belum mendapatkan gantinya, artinya Allah belum merestui.

Dan memang terbukti. Setelah kehilangan teman dekat di awal tahun, saya sempat dekat dengan seseorang yang memang lebih baik dari si itu yang lama. Walaupun Si itu yang baru juga sudah hilang lagi (hahahahaha. duerr), tapi saya yakin, Allah menyimpan yang terbaik pada akhirnya.

Gusti Allah mboten sare, ‘nduk.

begitu nasihatnya kan?

***

So, saya dan segenap kru dramaLand mengucapkan, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Taqaballahu minna wa minkum. Selamat idul Fitri 🙂 Semoga ada berkah tersisa di penghujung tahun ini, semoga ada pelajaran yang bisa kita ambil.

forgive others

#repost: adaptable

Hidup ini merupakan sebuah proses adaptasi yang tidak berkesudahan. Hal ini saya sadari saat melihat anak dari sepupu saya yang berumur enam tahun (anaknya, bukan sepupu saya yang umurnya enam tahun), sedang bermain pasir di depan rumah tetangganya. Padahal di rumahnya sedang ada hajatan besar, si Bude dari anak itu menikah. Semua orang sibuk, keadaaan hiruk pikuk dan mungkin anak ini tersingkirkan. Bisa karena itu ia bermain pasir di luar, atau bisa juga karena kehadiran sodaranya, anak dari Budenya yang lain yang baru berumur dua bulan. ia tersingkirkan. hanya itu yang saya pahami,

Padahal beberapa tahun yang lalu ia adalah pusat dunia di sekitarnya. Bude- budenya, Uti dan Opa nya, semua ‘menanggap’ ia. Ia adalah matahari, dan Bude-Bude, Opa-Uti dan yang lain adalah planet-planet yang mengitarinya.

Setelah menemukan ia bermain pasir di rumah tetangga dengan baju pesta itu, saya menyadarinya bahwa saya juga pernah ada di posisi itu. Pernah menjadi pusat dunia dari orangtua saya saat saya lulus S1 tiga tahun lalu, namun beberapa saat kemudian lenyap karena hamilnya Kakak Ipar, calon cucu pertama di dalam keluarga. Dan kehadiran saya makin lenyap setelah si kecil Zi lahir. Zi adalah pusat dunia dari orangtua saya.

Saya beberapa kali berulah menarik perhatian orangtua saya saat itu, tapi tetap saja dunia mereka berputar di  Zi.

Dan sekarang mungkin saya sedang menjadi pusat dunia mereka. saya mau wisuda. saya lulus. anak mereka yang pertama kali meraih gelar master (masterchef kaliii). Saya tahu beberapa saat pusat dunia keluarga ini adalah Kakak saya, yang dipindahtugaskan ke Pekanbaru dengan gaji yang cukup besar. Ouch…. dan saya pengangguran. dan single ting ting yang belum punya ‘calon’ buat digandeng.

jadi pusat dunia mereka juga pastinya,  but in different way.

kenyataan itu membuat saya galau berkepanjangan dan resah serta gelisah tak berkesudahan (yeah sampai saat ini). Ya ampuuun… gue udah lulus. Ya ampuuun… gue bukan mahasiswa lagi. Ya ampuuun kalau ada yang nanya-nanya soal kuliah terus gue gak bisa jawab gemana dong? Kalau gue ketahuan begonya gemana dong? Kalau gue ngomong bahasa inggris belepotan gemana dong? bedanya Plato ama Socrates apaan? bedanya fenomenologisnya Russel sama Heidegger apaan? err…. Ibnu Sina itu dokter bukan? err… bedanya Maslow sama Roger apaan? tahap perkembangan dari teori psikoanalisa itu apa aja?  PERFECT itu kepanjangan dari apa? Reliabilitas sama Validitas apa bedanya dalam mengukur Performance karyawan?  eh ya ampuun… gue make alat tes aja kagak bisa!!!!

Rasanya pengen banget membalikkan waktu ke usia awal dua puluhan, di saat tuntutan dari lingkungan sekitar masih belum begitu banyak.

Lalu tiba-tiba saya sadar; (persis saat melihat si anak kecil bermain pasir itu) hei… hidup ini proses. dan di dalam sebuah proses itu ada perubahan, dan dalam perubahan itu kita harus beradaptasi bukankah?

Jika hidup ini adalah proses yang berubah terus menerus, maka kita harus bisa beradaptasi terhadap semua perubahan itu. Kita harus adaptable terhadap ini semua.

saat balita, kita harus beradaptasi dari bayi ke balita. lalu setelah itu kita harus beradaptasi ke masa anak-anak awal, anak-anak tengah, anak-anak akhir lalu masuk ke remaja awal, remaja tengah, dan seterusnya. itu jika dilihat hanya dalam kacamata tahap perkembangan. belum dengan peran kita yang tadinya jadi anak bungsu eh tiba-tiba adek lahir. tadinya jadi anak es de, eh jadi anak es em pe. tadinya anak sekolahan jadi mahasiswa. dan masih banyak lagi…

itu semua adalah suatu kemutlakan yang harus dihadapi.

Kita berpindah dari satu proses ke proses yang lain, dari satu peran ke peran yang lain, dari satu masalah ke masalah yang lain. Kita manusia dirancang sempurna untuk semua proses ini.

Lalu saya berkata pada diri saya sendiri: semua orang punya berbagai cara untuk beradaptasi. Si anak kecil yang bermain pasir mungkin caranya adalah menyingkir dari keramaian dan menemukan permainannya sendiri yang mengasyikkan dan nyaman bagi dirinya.

tugas saya saat ini adalah mencari cara untuk beradaptasi dengan proses perubahan yang sedang terjadi dalam hidup saya seraya meyakinkan diri sendiri bahwa saya juga merupakan makhluk Tuhan yang memiliki proses adaptasi yang begitu hebat untuk bisa ada di titik ini sekarang.  dan, tidak lupa satu hal penting: bahwa tiap proses adaptasi ada proses belajar di dalamnya. karena pada dasarnya manusia adalah makhluk pembelajar.

Seperti kata seorang sahabat, Tuhan tidak pernah bermain dadu dengan alam semesta, termasuk dengan makhluk ciptaanNya.

***

PS: postingan ini saya repost dari postingan saya sendiri setahun yang lalu, saat menanti diwisuda. dan sekarang, pas baca ini, saya langsung terharu. Ternyata saya bisa yah nulis reflektif kek gitu… gak nulis menye’-menye’ manja dan cinta-cintaan melulu :mrgreen:

proses adapatsi yang dilakukan saya dua bulan belakangan ini adalah:

me on new uniform. what do u think?
me on new uniform. what do u think?

12! – part 1

hai … selamat malam kawan-kawan. dan selamat tahun baru (telat 9 hari. hihihihihi). Apa kabar kawans? Semoga baik-baik saja yah.

Malam ini saya punya special niat aliase niat yang spesial yang sudah saya niatkan dari 10 hari yang lalu. Tapi yah itulah…selalu ada aja alasan buat menunda-nunda. Udah 2013, tapi kelakuan masih 2003 (kenapa 2003? Gak apa-apa sih, asal pasang tahun aja. Hehehehe…).

Baeklah….pada postingan kali ini saya langsung aja yak…kagak usah banyak basa-basi, saya niat nulis 12 hal yang terjadi selama tahun 2012. semacam review kehidupan gitu deh. ada hal-hal yang menyenangkan, ada juga hal-hal kecil. Persamaan keduabelas hal di bawah ini adalah: sama – sama terjadi di tahun 2012 di kehidupan seorang ais ariani. Ready? Just enjoy my show :mrgreen:

1. Lulus

Hal terhebat di 2012. Saya akhirnya bisa menyelesaikan kuliah saya. setelah bertahun-tahun  jadi mahasiswa, dengan enggan saya melepakan titel mahasiswa saya. Kok dengan enggan Is? Gimana ya…jadi mahasiswa itu banyak enaknya dibandingin gak enaknya. Banyak senengnya walopun sering ngeluh (hahahahaha). Dari dulu, saya selalu dibilangin sama sepupu-sepupu saya “puas-puasin Is jadi mahasiswa, nanti kalau udah gak jadi mahasiswa pasti kangen deh” dan memang seperti itulah nyatanya:  menjadi mahasiswa adalah tahapan yang harusnya dimasukkan ke dalam tahapan perkembangan, paling nggak dalam siklus kehidupan sosial anak manusia. Hahahahaha.

Walaupun enggan lulus, tapi tidak mengurangi rasa syukur yang teramat sangat saya atas karunia itu.

saya - demput a.k.a ranger hitam - mbak dits
saya – demput a.k.a ranger hitam – mbak dits

 

2. berakhirnya hubungan saya dengan Captain

inget dong sama Captain-nya saya ini? Yang dulu awal-awal postingan sempet jadi headline di dramaLand inilah. semua postingan saya pasti di awal-awal ada dianya.

yup. Sempet on – off beberapa kali, hubungan yang berjalan 3tahun itu ternyata benar-benar harus diakhiri. Awalnya saya sempat tidak ingin membahas ini di sini, tapi saya kan mau promosi juga kalok saya single (*cring). Hahahahaha. Gak ding, kali aja ada yang penasaran kenapa nama Captain gak pernah disebut lagi…

Sebenarnya sempat ada omongan di tahun 2012 itu untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, setelah saya lulus sempetlah kita ngobrol kalok pengen ada acara lamaran, tapi … gimana yah nyeritainnya yah… tapi yah intinya mungkin saja belum jodoh.

 

3. patah hati

gak cuman sama si Captain, tahun 2012 kemaren saya juga patah hati dengan seseorang. Kalok kata evergreen song, layu sebelum berkembanglah. Saya sama si uhuk-uhuk ini memang sudah kepengennya punya hubungan yang serius juga. Tapi apa mau dikata yah…sekali lagi, mungkin belum jodoh *ambil tissue* hiks. masih sentimentil. Maklum … yang ini masih anget banget 😥

4.  Pergi ke Pare

kepergian saya ke kota kecil di Jawa Timur ini membawa beberapa perubahan dalam hidup saya. Salah satunya adalah ini: ‘kamu tidak akan pernah kekurangan dengan berbagi’. Jadi, saat saya pergi ke Pare ada begitu banyak orang yang memiliki niat sama kek saya: belajar bahasa inggris. Dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang masih minim sekali. Tapi tidak pernah menyurutkan niat mereka untuk belajar dan mengajar. Mereka semua di sana tidak pelit ilmu. Misalnya mereka mendapatkan 10 kata, maka akan mereka berikan 10 kata itu ke orang laen. Dan itu membuat mereka belajar juga kan?

Itu menyadarkan saya bahwa dengan memberi, kita gak kekurangan, kita malah mendapat lebih. itu juga yang membuat saya ingin sekali menjadi pengajar. tapi sekali lagi, mungkin belum rejeki saya jadi dosen atau guru 🙂

empat sekawan dari camp fajar

 

5. being a jobseeker

sejak bulan April hingga bulan november, saya pada akhirnya mengalami fase ini: berburu pekerjaan. Saya gak pernah tahu kalau mencari pekerjaan ternyata sesulit itu; pauli belasan kali, tes grafis sampek hafal, wawancara-wawancara dan wawancara, mengirim belasan aplikasi,  menanti dan menunggu. Ada masanya jantung saya berdetak lebih kencang saat ada bunyi hape. Ada masanya saya membeli kompas tiap hari Sabtu. Ada masanya saya gigit jari saat dipandang rendah oleh sesama pencari pekerjaan begitu tahu saya lulusan dari daerah (percayalah, saya pernah mengalaminya). Ada masanya saya nyaris menangis di transJakarta saat harus menerima kenyataan pahit saya gagal untuk kesekian kalinya dalam test.

Saya benar-benar termasuk ke dalam mereka yang berusaha mencari pekerjaan. Hingga sempat terlintas di kepala saya bahwa mungkin saya gak akan pernah mendapat pekerjaan. Sampai ada masanya saya ngambek dan kabur ke Jogja untuk menghindari orangtua saya saat saya di titik putus asa dalam menanti sebuah pekerjaan.

terimakasih kepada orang-orang hebat yang sering saya temui setelah saya gagal: mereka selalu menyemangati saya dan berkata “sabar…belum rejekinya” klise. tapi memang benar loh itu.

 

6. Bandung

Saya selalu heran sama orang yang mencintai Bandung meski dia bukan orang Bandung. Maksud saya gini…adakan orang-orang yang bukan lahir di Bandung, gak pernah sekolah di Bandung tapi cinta mati sama Bandung. Sama seperti kecintaan saya sama Jogja. Dua kota itu memang beda banget, tapi dua kota itu saya pikir punya penggemar-penggemar fanatik yang gak bisa mendeskripsikan alasan kecintaannya. Koreksi saya yah kalok salah…

 

Dan di tahun 2012 jugalah saya akhirnya menginjakkan kaki di kota Bandung. Komentar saya? apa yah…hm..hmm…saya tetep cinta jogja deh *ora nyambung blas*

 

7. kepindahan sang sahabat

ekosistem saya agak-agak hancur berantakan di 2012. beberapa sahabat saya meninggalkan Jogja (actually cuman dua orang sih…hehehehe). Si beruang kutub dan my partner in crime.

kepindahan mereka berdua bikin hari-hari saya di Jogja agak-agak kesepian gitu deh. tahulah…biasanyakan tiap ada yang heboh saya tinggal lari ke rumah beruang kutub yang cuman kepleset nyampek, kalok lagi mau begajulan gak jelas, saya memacu blacky ke Lowanu ngejemput partner in crime saya dan begajulan lah kami hingga larut malam. Malah kadang bisa ampek  seminggu. Walaupun pada akhirnya saya menyusul kepindahan mereka, semuanya gak pernah sama lagi,

Tahu sendirilaah..gak ada lagi sekarang nongki-nongki cantik hingga larut malam di kedai kopi termurah. ucapkan selamat tinggal kepada atap rumah. ucapkan selamat tinggal juga kepada berkeliling-kota-dengan-duit-20ribu.

karena jika kami melakukannya di Jakarta, percayalah kami akan pulang jalan kaki darimanapun kami berada menuju rumah. Jakarta mahal. Setidaknya lebih mahal daripada Jogja.

***

Pftt…hari semakin malam. actually pengen banget ngelanjutin postingan ini sampek point keduabelas. Tapi…tapiii…saya … saya ini gak bisa begadang lagi sekarang. Jam belum menunjukan pukul 11 tapi mata saya berat banget rasanya. Yasudah, bagaimana kalau saya lanjutin lagi besok? boleh kan?

boleh yaaa…

***

see u next post 🙂

 

saya merasa tua

Saya merasa tua saat menonton sepakbola dan bertanya di mana Totti, Batistuta, Michael Owen, Inzaghi bersaudara, Bartez, di mana mereka semua?

Saya merasa tua saat bertanya ke teman satu camp di Pare mengenai “SPMB kemaren kamu ngambil apa?” dan mereka hanya mengernyitkan dahi dan bertanya, “SPMB?”

Saya merasa tua saat saya memasukkan as long as you love me-nya Backstreet Boys di playlist karokean, dan saat tiba waktu saya menyanyikan lagu itu itu, kawan saya yang masih kuliah di tingkat dua ngelirik saya dan nanya: “ini lagunya kek gemana sih?”

Saya merasa tua saat saya lagi duduk – duduk sore manis di depan kos-an saya waktu SMA, dan ada motor kawasaki ninja gedha warna merah dan begitu si pengemudi membuka helm-nya, yang naik ternyata si Bintang, anak kecil yang waktu saya SMA masih sering maen bola sambil disuapin sama pembantunya depan kos-an saya.

Saya merasa tua saat saya nganterin Sasa dan Yaya ke SMP Negri 1 Purwokerto padahal seinget saya baru beberapa saat yang lalu saya nganterin Sasa ke TK di daerah Porka sana.

Saya merasa tua saat saya melihat Hedy Yunus di talkshow dan ‘ow em ji.. dia keliatan tua banget yah?’

Saya merasa tua saat sadar angka pertama di umur saya akan segera berubah.

Saya merasa tua saat mas – mas di mirota kampus manggil saya ‘Bu’ saat saya nanya soal letak suatu barang.

Saya merasa tua saat semakin banyak menerima undangan nikah dari teman – teman cowok saya waktu SMA. Ow em ji… mereka yang cowok aja udah berani nikah!!

Saya merasa tua saat teman – teman saya yang wanita sudah mulai ngomongin anak mereka. yang kedua.

Saya merasa tua saat jumlah mantan saya lebih banyak daripada jumlah session nya Grey Anatomy.

Saya merasa tua saat ngomongin soal serial Friends (serial yang ada Jeniffer Anistonnya, bukan yang korea itu…)

Saya merasa tua saat menyanyikan lagu inikah cinta-nya M.E di ruang karoke.

Saya merasa tua saat anak angkatan 2008 bilang; “aah.. gue mah anak angkatan tua. Serius….”  menurut lo..kalo elo angkatan tua, gue angkatan apa? Bangkotan?

Saya merasa tua saat lihat tumpukan majalah saya waktu SMP, ajigile model nya gayanya kocak bener dah.

Saya merasa tua saat saya psikotes di sebelah anak kelahiran 1990 *gigit jempol*

Saya merasa tua saat ternyata …. saat ternyata… saya jijik ngeliat foto – foto narsis saya dengan gaya-gaya kek gini ini:

foto ini diambil kurang lebih lima tahun yang lalu, masih unyu kan gaya saya?

You grow up the day you have your first real laugh – at yourself (Ethel Barrymore)

***

semoga tulisan welcome back saya ini bisa membuat saya kembali menulis. amin.

see u next post 🙂

adaptable, bukan adaptor

Hidup ini merupakan sebuah proses adaptasi yang tidak berkesudahan. Hal ini saya sadari saat melihat anak dari sepupu saya yang berumur enam tahun (anaknya, bukan sepupu saya yang umurnya enam tahun), sedang bermain pasir di depan rumah tetangganya. Padahal di rumahnya sedang ada hajatan besar, si Bude dari anak itu menikah. Semua orang sibuk, keadaaan hiruk pikuk dan mungkin anak ini tersingkirkan. Bisa karena itu ia bermain pasir di luar, atau bisa juga karena kehadiran sodaranya, anak dari Budenya yang lain yang baru berumur dua bulan. ia tersingkirkan. hanya itu yang saya pahami,

Padahal beberapa tahun yang lalu ia adalah pusat dunia di sekitarnya. Bude- budenya, Uti dan Opa nya, semua ‘menanggap’ ia. Ia adalah matahari, dan Bude-Bude, Opa-Uti dan yang lain adalah planet-planet yang mengitarinya.

Setelah menemukan ia bermain pasir di rumah tetangga dengan baju pesta itu, saya menyadarinya bahwa saya juga pernah ada di posisi itu. Pernah menjadi pusat dunia dari orangtua saya saat saya lulus S1 tiga tahun lalu, namun beberapa saat kemudian lenyap karena hamilnya Kakak Ipar, calon cucu pertama di dalam keluarga. Dan kehadiran saya makin lenyap setelah si kecil Zi lahir. Zi adalah pusat dunia dari orangtua saya.

Saya beberapa kali berulah menarik perhatian orangtua saya saat itu, tapi tetap saja dunia mereka berputar di  Zi.

Dan sekarang mungkin saya sedang menjadi pusat dunia mereka. saya mau wisuda. saya lulus. anak mereka yang pertama kali meraih gelar master (masterchef kaliii). Saya tahu beberapa saat pusat dunia keluarga ini adalah Kakak saya, yang dipindahtugaskan ke Pekanbaru dengan gaji yang cukup besar. Ouch…. dan saya pengangguran. dan single ting ting yang belum punya ‘calon’ buat digandeng.

jadi pusat dunia mereka juga pastinya, someday. but in different way.

kenyataan itu membuat saya galau berkepanjangan dan resah serta gelisah tak berkesudahan (yeah sampai saat ini). Ya ampuuun… gue udah lulus. Ya ampuuun… gue bukan mahasiswa lagi. Ya ampuuun kalau ada yang nanya-nanya soal kuliah terus gue gak bisa jawab gemana dong? Kalau gue ketahuan begonya gemana dong? Kalau gue ngomong bahasa inggris belepotan gemana dong? bedanya Plato ama Socrates apaan? bedanya fenomenologisnya Russel sama Heidegger apaan? err…. Ibnu Sina itu dokter bukan? err… bedanya Maslow sama Roger apaan? tahap perkembangan dari teori psikoanalisa itu apa aja?  PERFECT itu kepanjangan dari apa? Reliabilitas sama Validitas apa bedanya dalam mengukur Performance karyawan?  eh ya ampuun… gue make alat tes aja kagak bisa!!!!

Rasanya pengen banget membalikkan waktu ke usia awal dua puluhan, di saat tuntutan dari lingkungan sekitar masih belum begitu banyak.

Lalu tiba-tiba saya sadar; (persis saat melihat si anak kecil bermain pasir itu) hei… hidup ini proses. dan di dalam sebuah proses itu ada perubahan, dan dalam perubahan itu kita harus beradaptasi bukankah?

Jika hidup ini adalah proses yang berubah terus menerus, maka kita harus bisa beradaptasi terhadap semua perubahan itu. Kita harus adaptable terhadap ini semua.

saat balita, kita harus beradaptasi dari bayi ke balita. lalu setelah itu kita harus beradaptasi ke masa anak-anak awal, anak-anak tengah, anak-anak akhir lalu masuk ke remaja awal, remaja tengah, dan seterusnya. itu jika dilihat hanya dalam kacamata tahap perkembangan. belum dengan peran kita yang tadinya jadi anak bungsu eh tiba-tiba adek lahir. tadinya jadi anak es de, eh jadi anak es em pe. tadinya anak sekolahan jadi mahasiswa. dan masih banyak lagi…

itu semua adalah suatu kemutlakan yang harus dihadapi.

Kita berpindah dari satu proses ke proses yang lain, dari satu peran ke peran yang lain, dari satu masalah ke masalah yang lain. Kita manusia dirancang sempurna untuk semua proses ini.

Lalu saya berkata pada diri saya sendiri: semua orang punya berbagai cara untuk beradaptasi. Si anak kecil yang bermain pasir mungkin caranya adalah menyingkir dari keramaian dan menemukan permainannya sendiri yang mengasyikkan dan nyaman bagi dirinya. tugas saya saat ini adalah mencari cara untuk beradaptasi dengan proses perubahan yang sedang terjadi dalam hidup saya seraya meyakinkan diri sendiri bahwa saya juga merupakan makhluk Tuhan yang memiliki proses adaptasi yang begitu hebat untuk bisa ada di titik ini sekarang.  dan, tidak lupa satu hal penting: bahwa tiap proses adaptasi ada proses belajar di dalamnya. karena pada dasarnya manusia adalah makhluk pembelajar.

Seperti kata seorang sahabat, Tuhan tidak pernah bermain dadu dengan alam semesta, termasuk dengan makhluk ciptaanNya.

terpaku

yah, saya sedang terpaku pada satu hal.

baik hati dan pikiran saya. baik afeksi maupun kognisi  saya. entah ini bagus atau tidak. karena saya memang orang yang susah fokus. jadi saat saya terfokus dan terpaku apakah ini pertanda bagus? pertanda baik?

pfft… sudah tiga kali ngeklik add new post di blog, dan selalu ditutup lagi, padahal sudah sampai di tengah tulisan, gak tahu mau melanjutkan bagaimana.

sedang terpaku pada satu hal. satu hal kompleks yang baik secara ilmiah maupun common sense jelas terkait dengan banyak hal. apa itu?

waktu.

saya sedang terpaku dengan waktu, dan itu jelas pertanda buruk. karena, waktu memang bukan kekasihmu yang menerima kamu apa adanya. waktu hanyalah waktu yang berjalan tanpa memperdulikan apa maumu, tanpa memperdulikan keluhanmu, patah hatimu, kebimbanganmu, ataupun kemalasanmu.

waktu hanya waktu.

lebih baik dosen penguji yang bertanya dan masih mau memberikan jawaban untukmu, waktu terkadang tidak memberikan jawaban.

waktu hanya waktu.

ia bukan sahabatmu yang selalu ada untukmu.

waktu hanya waktu.

bukan Jikustik yang bisa bilang; ‘akhirilah ini dengan indah’

waktu hanya waktu.

bukan Mamah yang selalu marah tiap kali melakukan kesalahan, tapi selalu menerima maafmu.

waktu hanya waktu.

bukan satpam kampus yang tersenyum saat kamu melewati pos-nya.

waktu hanya waktu.

bukan mcflurry yang memberikan efek tenang.

waktu hanya waktu.

yah hanya waktu.

***

 

see u next post, maybe. hopefully.

😦

***

dan aku terpaku pada waktu,

membiarkan desing yang mendera  di sekitarku.

membiarkan kini menjadi lalu.