Masih ada

Iya, ternyata rasa sedih itu masih ada. Belum hilang sempurna. Sejak mendapatkan hari libur setelah kejadian itu, saya jadi hobi nongkrong depan tipi. Nonton pilm pilm yang menarik menurut saya. Berteman dengan remote-remote, saya melewati hari, menanti mas suami kembali untuk berbagi cerita lagi.

Nah diantara film-film itu, ada beberapa film yang ada adegan wanita melahirkan. Dan sudenly, tanpa aba-aba dan tanpa rangsangan lebih lanjut, mengalir aja gitu air mata saya. Ada jutaan seharusnya di kepala saya saat melihat adegan itu.

Ternyata saya memang belum over it. Iya, saya sudah bisa menceritakan kejadian itu tanpa air mata, sudah bisa ngobrol sama mas suamik soal kehilangan itu …

… tapi ternyata kadang saya suka masih ngerasa sedih. Apalagi inget pas perjalanan ke Bandung itu saya banyak ngobrol sama dia, saya ajak ngobrol sepanjang jalan. Secara waktu itukan saya nyetir sendiri.

Suka tiba tiba bangun tidur saya nangis aja gitu inget dia.

Ternyata kehilangan saya kali ini sebesar itu.

Iya, saya tahu semua kalimat kalimat hiburan itu, saya paham bahwa semuanya akan indah pada waktunya. But somehow, saya hanya ingin menangis. Meresapi tiap jengkal kesedihan, mencoba menikmatinya.

Ah. Hanya mereka yang tidak bersyukur yang terus terusan berkubang dengan kesedihan. Iya, itu betul. Tapi tiap mereka yang pernah merasakan kehilangan, pasti punya moment di mana dia hanya ingin bersedih. Dia hanya ingin mengenang. Bukan untuk menyesali dan memutar waktu. Hanya ingin sejenak berkawan dengan sedih. Sejenak saja.

Karena kesedihan bukan untuk dijadikan sahabat, kita punya jutaan alasan untuk bersyukur. Bukankah rahasia kenikmatan itu bukan pada rasa nikmatnya, namun lebih kepada rasa syukur nya kan?

Yuk, kemasi hati untuk kembali ke rutinitas. Simpan sedihnya, mbak ais :):):)

xoxo,

Enjoy and keep writing