terpaku

yah, saya sedang terpaku pada satu hal.

baik hati dan pikiran saya. baik afeksi maupun kognisi  saya. entah ini bagus atau tidak. karena saya memang orang yang susah fokus. jadi saat saya terfokus dan terpaku apakah ini pertanda bagus? pertanda baik?

pfft… sudah tiga kali ngeklik add new post di blog, dan selalu ditutup lagi, padahal sudah sampai di tengah tulisan, gak tahu mau melanjutkan bagaimana.

sedang terpaku pada satu hal. satu hal kompleks yang baik secara ilmiah maupun common sense jelas terkait dengan banyak hal. apa itu?

waktu.

saya sedang terpaku dengan waktu, dan itu jelas pertanda buruk. karena, waktu memang bukan kekasihmu yang menerima kamu apa adanya. waktu hanyalah waktu yang berjalan tanpa memperdulikan apa maumu, tanpa memperdulikan keluhanmu, patah hatimu, kebimbanganmu, ataupun kemalasanmu.

waktu hanya waktu.

lebih baik dosen penguji yang bertanya dan masih mau memberikan jawaban untukmu, waktu terkadang tidak memberikan jawaban.

waktu hanya waktu.

ia bukan sahabatmu yang selalu ada untukmu.

waktu hanya waktu.

bukan Jikustik yang bisa bilang; ‘akhirilah ini dengan indah’

waktu hanya waktu.

bukan Mamah yang selalu marah tiap kali melakukan kesalahan, tapi selalu menerima maafmu.

waktu hanya waktu.

bukan satpam kampus yang tersenyum saat kamu melewati pos-nya.

waktu hanya waktu.

bukan mcflurry yang memberikan efek tenang.

waktu hanya waktu.

yah hanya waktu.

***

 

see u next post, maybe. hopefully.

😦

***

dan aku terpaku pada waktu,

membiarkan desing yang mendera  di sekitarku.

membiarkan kini menjadi lalu.

missing him

gara-gara terobsesi menyajikan cerita yang cihuy buat kamis manis, hari ini saya ngubrak-abrik email saya. dan membaca arsip email dari tahun 2002 (jueddeeer..). ketawa ngakak, nyaris menangis dan berujar dalam hati: kok bisa?!?

email terbanyak saya itu cuman ke dua orang. dua orang yang rajin kirim-kiriman email. dua sahabat saya. yang satu tinggal di Jakarta, dan satu lagi tinggal di Lampung. keduanya merupakan sahabat yang jauh di mata dan dekat di hati. saat membaca email – email itu semua, rasanya saya seperti membaca kilas kehidupan saya. karena ternyata, saya orang yang pandai bercerita secara detail lewat email (cie… memuji diri sendiri euy!)

huehehehehehehe. tapi ini beneran loh. di luar tulisan saya yang butuh lay out-ers dan editor, saya ngerasa tulisan saya lumayanlah buat merangkai cerita masa SMA saya dan awal – awal saya kuliah.

pernah baca bukunya Meg Cabot yang judulnya Guy Next Door?

yang sepanjang buku hanya berisi email-email aja? Nah… email saya yang model begitu tuh.. yang sambung menyambung menjadi satu membentuk cerita. dan yang saya lakukan sedari siang tadi adalah: membaca semua email itu dari tahun 2002.

seperti membentuk puzzle. tentu saja tidak semua email yang saya baca. hanya email dari satu orang yang saya baca. email yang membuat hati saya menghangat, senyum saya meluncur tanpa sadar dan air mata nyaris menetes. saya merindukannya ternyata. merindukan canda-tawa kami dalam email. merindukan pertukaran cerita antar pulau itu.

setelah bertahun-tahun kemudian, baru saya sadar. bahwa saya ternyata tidak pernah menemukan sahabat seperti dia lagi. yang selalu menjadi curahan hati saya yang paling dalam, yang mengetahui tiap jengkal rahasia hati saya.

saat membaca potongan email dari dia, saya seperti terbawa ke dunia kami yang dulu: dunia abu-abu yang penuh tanda tanya. aaah… dia rasanya sudah cukup sering saya ceritakan di sini. mungkin, kamis manis-nya saya akan bercerita tentang email-email kami yang cukup konyol ( dan rasanya gak ada manis-manisnya deh..). Jadi gak PD deh bikin judul kamis manis. hmmm…

hmm….

kalau diganti jadi apa yak judulnya…

ah masalah judul bisa dipikirkan nanti. mari sekarang berkonsentrasi mengatasi rasa takut menghadapi dokter gigi yang akan dikunjungi 12jam lagi (cihiy! semoga kunjungan terakhir. Amiiin…)

see u next post!

Dear Me: A Letter To my 16 year old self

Tadi… pas buka WP, saya nemu postingan dengan judul yang menarik, mirip dengan judul yang saya buat  –> Dear Me: A Letter to my 16 Year Old Self 

di situ Traci bercerita kalau dia menemukan sebuah majalah yang didalamnya memuat sebuah publikasi buku yang berjudul : Dear Me: A Letter to my Sixteen Year Old Self’, edited by Joseph Galliano. Buku itu berisi 75 tulisan orang-orang terkenal (ada J.K Rowling, Hugh Jackman, Stephen King, dan masih banyak lagi..). mereka menulis surat untuk diri mereka sendiri di umur mereka yang jauh lebih muda. Dan si Traci yang postingannya saya baca, juga melakukan hal yang sama.

dan kalau kamu buka web buku tersebut, kamu bakal menemukan surat-surat dari pembaca untuk diri mereka sendiri di waktu muda.

di sini, saya juga akan melakukan hal yang sama. seru banget deh keknya, dan sepertinya akan jadi surat yang panjang. Hahahaha…

hey my 16 year old, this for u 🙂

Dear Aren,

yeah… aku tahu saat ini kamu lagi senang-senangnya menulis nama ‘Aren’ di penjuru kelas. hentikanlah Vandalisme seperti itu. Tidak baik bagi adek kelas kamu melihat seluruh penjuru kelas diisi dengan tulisan ‘Aren was here’ tanpa tahu siapa Aren itu. Makhluk apa Aren itu. Aren yang mereka tahu adalah gula jawa. Kamu akan menemukan suatu hari nanti bahwa ‘Aren was here’ sudah tidak keren sama sekali.

Cobalah fokus untuk belajar, dan berhentilah bermain setiap pulang sekolah, karena di akhir caturwulan kedua, wali kelas mu akan senang menyindirmu: si siswa aktif di organisasi tetapi peringkat dua terbawah. Well, ditambah: Mamahmu akan selalu mengingatkanmu bahwa kamu bukannya bodoh, hanya saja malas dan terlalu senang bermain – main.

Yeah.. nilai akuntansimu memang bagus, sangat bagus malahan untuk seseorang yang memiliki nilai matematika begitu rendah. Pertahankan itu. Karena, gedung kuliah Fakultas Ekonomi di kampus idamanmu lebih keren dibandingkan gedung kuliah fakultas lain yang kamu idamkan. Ttapi ingatlah bahwa nilai akuntansi saja tidak akan cukup untuk menembus Fakultas idaman di Universitas terkenal itu. Jangan terlalu sering bolos les (!!!).

Berhentilah untuk berusaha membuat Jurusan Bahasa diadakan, karena: itu tidak akan terjadi saat kamu menginjak kelas 3. Seberapa seringnya kamu bernyanyi di kelas mengenai mars Jurusan Bahasa itu.

Kamu bertemu dengan seorang sahabat yang hebat bernama Fajar. Dia memberikan begitu banyak pelajaran begitu banyak buat kamu (yeah..walaupun kamu harus mengerjakan ulangan Akuntansinya, tapi dia tetap sahabat yang baik kok!). Dan kamu akan bersahabat dengan dia bertahun-tahun kemudian, walaupun kamu akan mengalami begitu banyak masalah dengan dia. Yeaah.. bagian dia putus dari pacarnya yang akan menjadi sahabatmu kelak, itu akan membuat Fajar menjauh dari kamu, dan berusahalah lebih untuk memahaminya, karena sahabat seperti Fajar akan sulit kamu temukan, bahkan sepuluh tahun kemudian, kamu akan menemukan teman lain, tapi tidak ada yang seperti dia.

Oh iya, kamu akan terjun ke dunia yang kamu cintai: dunia radio. Kamu menjadi penyiar muda bersama beberapa kawan satu sekolah, dan nikmati saja itu. Kamu akan menaksir teman penyiar muda-mu, penyiar seniormu, atau bahkan kakak dari rekan penyiar mudamu (yess, mas satu itu memang tampan dan mempesona, tapi dia akan mmematahkan hatimu, tapi nikmati saja perasaan diinginkan oleh pria berseragam).

Gak usah repot memikirkan dengan sepenuh hati siapa yang akan jadi pacar kamu, karena: si wahyu teman penyiar muda-mu itu sepertinya homo, Vian senior mu itu akan hilang kontak dalam waktu setahun, dan Mas berseragam itu akan menikah dengan anak atasannya di kesatuan. Mereka akan mewarnai hari-harimu tentu saja, dan itu sangat menyenangkan. Tapi tidak usah dipikirkan sampai pusing, nikmati saja.

suatu hari, kamu akan bertemu dengan Gitaris tampan yang akan memberikan begitu banyak pelajaran juga dalam hidupmu, tapi ingat: Jangan lepaskan kesempatanmu di dunia penyiar karena dia, teruslah datang tiap malam minggu, dan senin sore ke radio. Bukankah kamu sangat menikmati dunia siaranmu? Toh kamu masih bisa pacaran di hari lain. Kamu masih bisa berjalan – jalan di minggu pagi (nikmati-lah minggu pagi di GOR!), kamu bahkan bisa menghabiskan waktu seharian di hari minggu bersama dia… walau hanya untuk baca komik bareng, nonton VCD, atau makan es duren di Purbalingga.

Tetaplah bekerjasama dengan tim majalah sekolah dan juga majalah dinding, kuatkan dan kumpulkan niat untuk membuat buku tahunan (dan oh yaaa… coba kamu ‘galak’ saat kawan-kawan mu meminjam buku tahunan SMP mu. karena sekarang aku mencarinya tidak ketemu!!).

Soal pria? ah jangan pusing… pria akan datang dan pergi dalam kehidupanmu. Bahkan pria yang sedang kamu taksir mati-matian sekarang akan menjadi kawan mengobrol yang menyenangkan, walaupun ia tidak menjadi kekasihmu. Ia hanya akan menjadi ‘kakak’ yang baik untukmu (dan semakin banyak ‘kakak’ dalam hidupmu ke depan nanti, percayalah…)

Kamu akan dicoret dari tim Basket memang, dan itu aku paham.. sangat menyedihkan. Tapi ingatlah kata-kata temanmu: ‘Ah.. mending kamu gak masuk, tim nya parah banget. dia (dia yang menggantikan tempatmu di tim inti) kemampuannya payah banget‘.

Yeah… kamu akan membenci banyak orang, termasuk dia yang merebut tempatmu di tim inti basket, dan beberapa temanmu di Pramuka, dan soal surat kaleng yang mengkritik kepemimpinanmu? jangan ambil pusing, pengirim surat itu bisa saja salah satu teman dekatmu, sesama ‘pejabat’ di Dewan Ambalan. Dia hanya tidak puas sama kinerjamu, don’t take that too personal. Dan soal kakak kelas yang sebel sama kamu? Gak usah diambil pusing… mereka juga akan berhenti sebel sama orang.

And just for your information, kamu tidak akan pernah berhenti dibenci orang. Because you’re just human beings. You also make mistakes like the others. You just have to try learn from your mistake. And sometimes people just hate you for no reason. They hate you for a simple reason: envy.

oh iya satu lagi: berhentilah untuk makan gula pasir! Jagalah kesehatan gigi kamu walaupun behel di gigimu sudah dilepas! Karena gigimu akan rusak kalau kamu tidak menjagany. oh iya satuuuu lagi: kamu mungkin akan membenci  orangtua mu karena tiap larangan yang mereka keluarkan membuatmu kesal, tapi sadarilah: itu semua BENAR BENAR untukmu, bukan untuk mereka. Mereka melakukan larangan- larangan itu, karena mereka sudah pernah ada di posisi mu: menjadi remaja 16 tahun. Dan, ketahuilah bahwa orangtua-mu sudah banyak melakukan begitu banyak kompromi kepadamu.

wow, aku menulis surat yang lumayan panjang buat kamu ternyata. Akan ada part dua sepertinya (hahahahaha..). Keep writing. tetap menulis di buku harianmu, karena aku membaca buku itu tiap hari. You’re my inspiration, Aren!

and always remember: that every person comes in your life for a reason, even they come up with dislikeness. Some people come into your life and quickly go, some stay for a while and leave a footprints in our heart, and we are never ever be the same.

Love u,

ais ariani (yes, there no more ‘aren’ here..)

eh ya ampuun.. ternyata seru juga loh nulis kek gini.  Pantesan di situs buku itu ada beberapa pembaca yang menulis di situ. kira-kira sapa yah yang mau ngado buku ini ke saya? :mrgreen:

If you could send a letter to yourself aged 16, what would you write in it?

***

P.S : ada yang nanya Aren itu apa? atau ada yang bisa memberikan jawabn?

#12HariMenulis #9

ya ampuun.. ternyata setelah nulis surat buat Mbak Jum kemaren seru banget loh episode dalam dunia maya saya hari ini. seru bangetlah poko’nya. saya berhasil ngobrol (via YM) dengan beberapa kawan seharian.

tapi saya dikatain cemen, karena gak berani buka komen di postingan itu. bukannya kenapa-kenapa… tapi saya emang gak membuka kesempatan buat tanya jawab di postingan itu. Karena ntar kalau ada yang nanya Mbak Jum itu siapa, saya yang repot jawabnya. kalau ada yang ngerasa si Mbak Jum, saya juga yang repot. Repot kenapa? Repot keceplosan ngomongin orang. Hahahahahaha.

intinya: si Mbak Jum ini adalah salah satu kawan yang akhirnya saya masukkan ke dalam kotak ‘musuh’. eh? ada Is kotak itu?

Jadi begini sodara-sodara, setelah seharian ini saya berbagi cerita dengan begitu banyak orang, saya disadarkan oleh seorang kawan: bahwa saya ini TERNYATA punya banyak musuh. err… ini bukan musuh dalam artian musuh seperti Israel Palestina yang perang terbuka.

Ini musuh terselubung. Musuh yang ngaku temen ternyata di belakang saya si musuh ini membuat hidup saya kacau (as sample sekarang: Mbak Jum iki loh!)

definisi musuh saya copas langsung dari Kamus Bahasa Indonesia Online (ga peduli juga sih valid apa gak. hahahahaha…):

mu.suh
[n] (1) lawan (berkelahi, bertengkar, berperang, berjudi, bertanding, dsb); seteru: (2) bandingan, imbangan, tandingan: barang ini tidak ada — nya; (3) sesuatu yg mengancam (kesehatan, keselamatan); yg merusakkan:

ini bukan seperti Depe dan Jupe. Atau Tom and Jerry.
jangan bayangkan kami cakar-cakaran atau jambak-jambakan ya, women usually do that, tapi saya tidak (atau kami?). Bukan karena apa-apa, tapi karena si musuh ini tidak secara frontal menyerang saya. ini lebih seperti Angelina Jollie dan Jennifer Aniston.Atau Paris Hilton dan Kim Kardashian. atau Anne Hathaway dan Jesica Biel. Atau jamannya Britney Spears dan Christina Aguilerra (jadul amet contohnya…) atau Backtreet boys dan Boyzone (mangkin jadul).
tapi pada ngerti kan maksud saya? bukan musuh yang penting-penting banget. Tapi ganggu. dan di sepertinya di jidat saya sekarang ada tulisan: ‘musuhi saya! dijamin seru!’
ih seru juga kali yak bikin kaos dengan tulisan:
‘cmon.. mess with me and your life will be more colorfull!’
itu semua bikin saya mikir: saya ini apanya yang salah yak? apa perilaku saya nyebelin banget yak? ampe orang-orang ini ngerasa perlu bermusuhan sama saya? Atau saya emang sial aja ada di tempat yang salah dan situasi yang salah, jadi kena apes. lalu jawaban seorang kawan lah yang memberikan pencerahan:
‘elo terlalu sempurna membangun imej’
yang langsung saya bales dengan ‘kampretos’
memang imej apa sih yang saya bangun? Saya kurang apa adanya po? Keknya sih begitu. Saya masih menyimpan banyak hal dalam keseharian saya. Hal-hal kecil macam:
  1. Jujur, saya paling males ngomongin persoalan agama, politik dalam keseharian saya. Bosen gilak bahas begituan!
  2. Saya itu suka keceplosan kalau disimpenin rahasia,
  3. Saya kadang ngomongin orang (bahkan kadang temen sendiri) ke orang laen
  4. Suka menyumpah dengan kata-kata gak sopan
  5. Suka pura-pura gak peduli sama mantan, tapi masih berdebar-debar lihat nama dia muncul di YM
  6. suka males kalau diajak maen sama temen2 lama.
  7. Mulut saya manis. Kalau udah mood basa basi beeeeuh.. sejam ngoceh.

dan bla.. dan bla dan blaaa…masih banyak hal kecil yang tidak diketahui orang, kecuali orang-orang terdekat saya.

Tapi, setelah saya pikir-pikir dengan baik sekarang: lagian emang ada yah orang itu apa ada nya dengan sesungguhnya apa ada nya?

Kek yang kawan saya bilang: imej itu perlu dibangun, bahkan imej apa adanya. Naaah… nah.. naah… sebelah mane apa ada nya kalau begitu?!? *sentil si kawan yang ngatain saya bahwa imej-saya-terlalu-sempurna-dibangun-hingga-dimusuhin-orang *

dear Mbak Jum, lebih baik Mbak Jum ngomong mbak sama saya, satu kata atau satu kalimat atau satu apapun.. lebih seru loh kalau berantem frontal gitu. karena emang saya lagi pengen ngomel sama SAMPEYAN (usually I don’t use this SAMPEYAN word, but I have an issue with this word with Mbak Jum!)

see u next post!

(3 days left!)

:mrgreen:

*P.S: setelah dibaca-baca kok postingan ini gak jelas banget yak?

yang bilang hari ini tanggal cantik angkat tangan!

ayok angkat tangan. saya sih bingung dan belon menentukan sikap ini tanggal bagus atau enggak. yang jelas, di tanggal ini saya pernah punya janji denagn seseorang *woops*

tanggal ini sebenarnya terlupakan oleh saya, sampai tadi pagi waktu lagi mau b’erkicau’ saya nemu ‘kicauan’ salah seorang kawan saya. dan sumpah sekarang saya lagi males banget nyarinya, kurang lebih begini kata-katanya:

tidak perlu berlebihan, tanggal dan tahun itu hasil budaya manusia loh

saya ngakak. inget kuliah jaman S1 dulu; pas dosen bilang soal konsep waktu menurut Henri Bergson, seorang filsug Perancis yang terkenal denga teori mengenai kesadaran.

Bergson membagi waktu menjadi dua, yaitu temp (dalam bahasa Perancis) sebelum menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia ada baiknya saya menceritakan dulu definisi dari temps ini. temps menurut Bergson merupakan waktu yang digunakan dalam kehidupan rutinitas kita sehari-hari. misalnya satu jam, dua jam, atau tanggal satu tanggal dua. dan ini merupakan waktu yang objektif.

yang kedua menurut Bergson adalah duree (atau duration) ; yaitu merupakan waktu yang tidak berhubungan dengan ruang, waktu yang bersifat tidak objektif. waktu yang ini berkaitan dengan kesadaran dan perasaan.

bingung?

baiklah mari kita memberikan contoh. karena biasanya pemberian contoh akan memudahkan pemahaman. pernahkah kamu mengalami hal seperti ini: kamu berbincang – bincang dengan kekasihmu, dari pukul 09.00 hingga pukul 12.00 dan menurut kamu perbincangan itu rasanya cepaaat banget berlalu.. berbeda dengan jikalau kamu duduk di kelas Aljabar setengah jam. rasanya seperti serius lo lama banget nih kelas, kapan Bapaknya kelar ngomongnya? Kapan bel berbunyi? . Atau saat menunggu si ‘dia’ menelpon dari pagi hingga siang rasanya seperti tiga juta tahun kamu menunggu. nah itu lah yang disebut dengan duree, berhubungan dengan pengalaman eksistensial, berkaitan dengan ‘kesadaran’dan tidak ada alat ukur objektif didalamnya,

sedangkan tempt merupakan waktu yang setengah jam itu, dua jam itu dan ukurannya lebih objektif, di belahan dunia manapun kamu bilang setengah jam yah 30 menit. waktu ini bisa diukur  (karena bersifat objektif tadi)

terus saya mencoba merefleksikan mengenai pernyataan si kawan yang bilang tanggal itu merupakan budaya manusia. kalau penasaran baca ini deh mengenai kalender. dimana disebutkan disitu bahwa awal mulanya adalah si Julius Caesar yang mengganti penanggalan tradisional bangsa Romawi. Ia dibantu Sosiegenes seorang ahli astronomi dari Iskandariyah yang menyarankan penanggalan mengikuti revolusi  matahari.dan itu dimulai pada tahun 45SM.

nah, sedangkan kalender  yang kita pakai secara internasional sekarang dinamakan kalender Masehi yang digunakan oleh umat kristiani yang mengikuti kelahiran Yesus. akan tetapi, untuk perhitungan tahun dan bulan mengikuti kalender yang dibuat oleh Julius Caesar dan Sosiegenes.

kadang kepikiran juga sih: wow… si Julius Caesar itu ebat dan keren ya bisa menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM.

Percayalah, saya juga bingung dengan segala konsep yang baru saya temukan di google ini. karena mungkin konsep tanggal dan kalender ini pernah dibahas di kelas IPA, tapi saya lupa. sama seperti saya melupakan Ibu Kota Kalimantan Barat atau Sulawesi Utara.

jadi, kesimpulannya apa Is?

yah sama seperti postingan melompat yang sering saya tulis, melompat kemana-mana, dan gak jelas ujungnya. but in the end of this post, saya mau bermain dengan angka 11. walaupun itu produk manusia, tapi saya kan mainstream banget… pengen juga ikutan efouria lucky eleven ini.

Apa partisipasi saya kali ini? Saya pengen menyebutkan 11 hal mengenai diri saya yang kepikiran saat saya menulis postingan ini (woi, this is my blog, jadi narsis dikit gak apa-apa kan? kalau udah bosen baca di close aja boleh kok window nya. huehhehehehe…):

  1. masih mengendarai astrea grand hijau dari tahun 2000 dulu
  2. gak suka naek becak. kasian sama tukang becaknya
  3. sering merasa inferior terhadap siapapun
  4. gak suka berada di kamar mandi
  5. pernah punya mimpi buat kerja di hotel atau Bank (mereka entah bagaimana terkihat sangat bersinar kan?)
  6. waktu kecil suka bikin denah rumah masa depan
  7. pernah punya teman khayalan dua orang sampai SMP
  8. pernah diputusin gara-gara bukan dokter (hahahahahahaha.. )
  9. punya jilbab hanya dalam beberapa warna dan itu polos semua
  10. sering sok tahu (kontradiktif sama pernyataan inferior itu yak?!?)
  11. suka sama sensai berkendara di kala hujan

cihiy!

so, yang bilang hari ini tanggal cantik siapa? ketahuilah cantiknya itu cuman cantik ditempel di undangan sama souvenir!

*sinis*

****

PS: thanks buat wikipedia atas informasi mengenai Bergson dan Heidegger. dan juga google yang bisa menjawab pertanyaan saya 🙂

november sekian tahun yang lalu

eh udah bulan november aja, eh udah bulan ke-11 ajah, eh udah musim hujan, eh masih jadi mahasiswa, eh masih lajang aja, eh masih berkutat di masalah cinta-cintaan (kek gak punya kehidupan aja Is. Hahahahahaha…)

Buat saya, bulan november menyimpan banyak cerita. dari bertahun-tahun lalu. sebut saja november 2000, sebelas tahun yang lalu. Masih segar dalam ingatan waktu menginjakkan kaki di Purwokerto, dan menjadi warga di kota satria itu.

Iya… November tahun 2000 merupakan titik dimana saya menjadi anak kost. awalnya waktu itu tinggal di kost-kostan yang dikelola olah oom saya, namun di tahun kedua, oom saya pindah rumah dan jadilah saya penghuni kost-kostan sama kek yang laen: makan sendiri, nyuci sendiri, tidur sendiri, ngomel sendiri, hehehehehe…

kalau ada yang tanya alasan saya pindah dari Jakarta ke Purwokerto, maka akan saya jawab begini:

“biar gak ikut tawuran, gak kena narkoba, dan gak hamil di luar nikah”

dan biasanya habis saya jawab gitu, yang bertanya akan bilang; ‘serius!?!’

mereka mengira saya bercanda. Padahal saya serius menjawab pertanyaan itu. Alasan saya pindah ke Purwokerto padahal orangtua gak tinggal di sana dan lagi usia saya waktu itu belon menginjak 16tahun adalah memang benar adanya begitu: biar saya gak terlibat kanakalan remaja Ibukota.

Perlu diketahui, saya sempat bersekolah selama 3bulan di SMA Negri di Ibukota (cara nulisnya Ibu Kota apa Ibukota sih?!!? jadi bingung dan males nyari yang bener. hehehehehhe…)

kita ganti aja jadi Jakarta. Jadi, selama tiga bulan saya sempat sekolah di SMA di daerah Jakarta Pusat. di daerah Rawasari tepatnya (ah cuman ada satu SMA Negri saya rasa disitu). nah pas SMA disitulah saya melihat realita kenakalan remaja. sebutlah saya norak. tapi saya baru tahu kalau ada anak sekolah bisa ngerokok di lorong sekolah. baru tahu ada anak sekolah bisa madol. tuh kan bener saya norak.

karena dari TK, SD sampai SMP saya bersekolah di sekolah swasta yang memiliki aturan cukup ketat, dari seragam hingga jam pelajaran. mungkin juga karena saya sekolahnya gak di sekolah unggulan yak pas SMA. hehehehe

tapi jujur, saya menikmati itu. menikmati ngobrol dan makan di kelas pas jam pelajaran, menikmati cabut pas upacara 17an, menikmati bergerombol dan santai-santai di kantin menjelang jam masuk, menikmati cabut ke UKS, ya some kind of that lah. walau cuman 3bulan, tapi saya lumayan menikmati dan sempet pulak dapet cinta lokasi di kelas.

november 2000, kepindahan saya ke Purwokerto mengikuti jejak kakak saya yang sudah lebih dulu pindah. Dan sampai saat ini saya tidak menemukan alasan yang lebih masuk akal dibandingkan jawaban saya itu atas kepindahan saya. Karena memang saya seperti hilang ingatan saat mau pindah dari Jakarta ke Purwokerto

dan, percayalah Purwokerto jauh lebih sepi sebelas tahun yang lalu dibandingkan sekarang. Bagaimana Anak Baru Gede yang pengennya jalan-jalan ke mall dan kongkow-kongkow bareng ama temen-temennya mau pindah ke kota kecil yang gak punya bioskop?

eh tapi bioskop bukan masalah buat saya, karena saya juga jarang nonton di bioskop. lebih nyaman nyewa VCD buat ditonton di rumah. bisa di skip, bisa di fwd kalau bosen.

di bulan-bulan pertama kepindahan saya, saya memang ngomel dan misuh-misuh menyatakan ketidaksetujuan saya, serta bersikap bermusuhan dengan siapa saja.BT berat. kemana-mana mesti dibonceng Kakak saya, atau gak naek becak. Belum lagi ada mata pelajaran muatan lokal yang isinya nari sama karawitan, belum lagi kawan-kawan sekelas yang terlihat menahan tawa setiap kali saya ngomong dengan logat Jakarta (mereka gak tahu kalau saya menjepit pipi saya dengan gigi; menahan tawa mendengar logat ngapak mereka! hahahahhaha…)

ah tapi benar kata orang tak kenal maka tak sayang. waktu jugalah yang mengenalkan saya pada Purwokerto dan cuaca ajaibnya, ramah penduduknya dan logat ngapak-ngapak yang lucu itu.dan waktu juga yang membuat saya jatuh cinta pada Purwokerto. kalau ibarat orang, Purwokerto adalah cinta pertama saya. karena bersama Purwokertolah saya membentuk diri saya, mencari jatidiri saya (dan mungkin sampai sekarang belum ketemu, hihihihihi…), dan di Purwokerto lah saya banyak belajar.

Bahkan, dulu saat pertama kali kuliah, ditanya asli mana, saya selalu menjawab; ‘Purwokerto’. cihuy kan? sampai akhirnya saya sadar; saya gak segitu ngapaknya buat dibilang orang Purwokerto 😦

dibalik sepi dan ajaib cuacanya, buat saya Purwokerto adalah kota yang akan selalu memiliki tempat di hati saya.

karena hanya di Purwokerto saya bisa ngomong ngapak tanpa diketawain. Hahahahahaha..

hidup ngapak!

so, itu cerita saya di bulan november sebelas tahun lalu, gimana dengan ceritamu? *iklan mode : on*

p.e.l.u.p.a

untuk kesekian kalinya, saya diberikan semacam cobaan pada daya ingat saya yang gak seberapa ini. jadi begini, sebulan yang lalu saat mau mendaftarkan rencana studi alias KRS, kami diharuskan mendaftarkan mata kuliah yang mau diambil via internet alias online. nah, masing-masing mahasiswa mendapatkan user dan password untuk memasukkan matakuliah yang ingin dimabil via SIT (lupakepanjangannya apa) kdi situs kampus kami. dan dengan gagah berani saya mengganti password dan username pemberian itu.

daaaan.. saat hari H harus daftar online, saya melupakan password 😦

panik. dan repotnya, pas lupa itu pas saya di luar kota. akhirnya baru beberapa minggu setelah tanggal yang ditentukan, saya melaporkan diri ke pengelola kalau saya belum daftar online. panik? pastiiiii.

dan Alhamdulillah, mbak-mbak di pengelola jurusan saya dengan lapang hati mau membantu saya. saya masih bisa nyusul memasukkan KRS. dan saya diharuskan untuk KRS online saat ada jadwal peubahan KRS. nah, cilakanya… saya lupa (lagi) kalau  harus input KRS  di tanggal yang sudah ditentukan itu.baru inget tadi pagi.

Astaghfirullah.

Ntah Hapa Hapa yang ada di otak saya ini. hal sepenting itu bisa lupa. makanya Mamah saya yang jadi kawan seperjalanan saya dalam perjalanan seminggu belakangan ini merupakan duet maut soal barang lupa, barang ketinggalan. Bahkan kacamata saya ajah entah ada dimana sekarang.

dua minggu yang lalu, saat saya butuh uang tunai buat membayar tiket perjalanan Jogja-Jakarta, saya malah melupakan pin ATM saya yang berujung pada di blokirnya kartu ATM saya. Horeh kan saya?

Mungkin, mungkin karena beberapa hari belakangan ini saya lagi banyak pikiran *kalem* atau…. mungkin ini saatnya saya memanfaatkan fitur organizer di handphone buluk saya.

atau mungkin ini gejala penuan dini?

😦

apapun itulah… saya harus fokus untuk mengingat sekarang. termasuk mengingat kunci sepeda yang ditaro dimana. udah dua bulan gak inget narok dimana.

markicar. mari kita mencari.

selamat hari minggu!

seragam

Hai Kawan! apa kabar?

Bagaimana kondisi (dompet) di hari Senen ini? hihihihihi. Btw, hari ini ais ariani mau nanya nih… sampai umur segini berapa kali sih kamu mengenakan seragam? Dan ada gak sih seragam kebanggan kamu? Atau seragam favorit deh… Seragam yang kamu seneng banget make’nya, ampek-ampek walau udah wajib mengenakan seragam itu kamu teteup ajah masih pengen pake seragam itu.

sampai seumur segini saya udah lumayan sering pake seragam. dari seragam sekolah (TK, SD, SMP, SMA), seragam silat, seragam Marching,ampek seragam kondangan. tiap seragam punya cerita.

termasuk seragam yang ini

ais ariani cilik: hitam.eksotis! hahahaha

seragam apa itu ais? itu seragam saya jaman TK. kek sailormoon yah? eh gak yah? ahahahahah..tapi emang seragam itu merupakan seragam favorit saya, lucu soalnya. dan beda sama seragam anak TK sepantaran saya.

dulu saya TK nya di TK komplek, yang mana emang komplek perumahan karyawan pelabuhan. jadi seragamnya agak-agak berbau pelaut.

bagaimana dengan kawan-kawan sekalian? masih ingatkah dengan seragam favorit kawan-kawan? dan kapan terakhir kali mengenakan seragam?

kabar terbaru si C3

hai kawan, selamat hari Minggu, sudah memasuki hari ke-21 nih, bagaimana kabar kawan-kawan? Semoga selalu sehat yah….

Btw, sebelum saya bercerita lebih jauh, masih ingat dengan pria-pria mempesona (huek) ini?

masih ingat gak sih? Kalau belum, review dikit yah tulisan saya bulan April ini, saat saya bercerita tentang keempat kawan SMA saya yang nyaris di DO dari kampus mereka. Owkey…owkey kalau males nge klik saya ulas di sini dikit.

Saya kenal sama mereka saat kami berlima duduk di bangku SMA. nama mereka adalah Budi, Ferri, Sendy dan Unun. Ada satu alasan yang tidak saya sebutkan pas saya cerita mengenai mereka beberapa bulan yang lalu. Salah satu alasan kenapa saya bisa berkawan dengan mereka. Alasan tersebut adalah: saya pernah memiliki sejarah percintaan dengan salah satu diantara mereka. Eheeeem… yang mana Is? Hahahahahaha…. gak penting juga sih yah yang mana… yang jelas sekarang kami sudah menjalani hidup kami masing-masing dan kadang masih bisa bernostalgia atas apa yang terjadi saat kami masih duduk di bangku abu-abu.

Budi, pria mungil yang lahirnya beda empat hari sama saya ini punya bakat terpendam sebagai tempat curhat-an buat saya. Diantara mereka berempat, sama budi lah saya paling sering curhat. Kalau Sendy laen lagi, dia mengakui dirinya sebagai pria paling peka di dunia. Punya bakat makan yang luar biasa (hahahahaha), tapi dia merupakan kawan yang paling menjaga perasaan dibandingkan tiga kawan lainnya (bagian dari pengakuan paling pekanya itu kali yak)

Laen lagi sama Ferri, Bapak beranak satu ini memiliki kemampuan luar biasa untuk berlagak jadi homo. Tanyakan saja pada Budi, kekasih prianya (hahahahaha). Tapi dia yang paling cepat berkeluarga diantara kami. dia juga yang baik hati membagi pengalaman suksesnya dengan yang lain.

Nah, si Unun yang punya kebiasaan ngomong berapi-api. Pak lurah satu ini hobi karoke, doyan menggoda wanita tapi hatinya setia untuk satu wanita.

So, ada kabar terbaru apa dari pria-pria yang mengaku sebagai pria-pria tampan ini?

Budi, masih menjomblo dan tambah gemuk setelah empat bulan menjadi abdi negara. Berbeda dengan Sendy yang tampak kurus. Mereka berdua saya temui beberapa hari yang lalu. Berawal dari sms-an, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu. Mencoba menjalin tali silahturahmi,

Tertawalah saya saat saya menemui mereka. Seperti flashback saat SMA: dua orang itu berjalan menghampiri saya. yang satu dengan badan besar sedangkan yang lain dengan badan kecil yang membawa backpack cukup besar. Langkah mereka pun masih sama. Sendy dengan gaya percaya dirinya dan Budi dengan gaya menyeret langkahnya.

Kami bertemu, bercanda, makan bersama, membicarakan planning dan kabar masing-masing, membicarakan dua kawan kami lainnya, bernostalgia tentang masa SMA kami.

Lucunya, saat kami sedang mengukur luas mall, tiba-tiba Ferri mengirim sms ke Sendy, menanyakan kabar, mengucapkan selamat ulang tahun buat saya, dan bla…bla..bla… sampai akhirnya saya mengungkit soal tulisan saya mengenai mereka di blog ini.

Dan yang mengharukan, saat saya membuka kolom komentar tulisan saya yang bulan April lalu tentang mereka, saya menemukan tulisan lama saya itu dikomentari oleh salah dua diantara mereka. Bahkan Unun mengirim sms ke saya, dan mengatakan bahwa ia akan menikah akhir tahun ini. Wow…. another kabar gembira dari mereka.

So, kalau ada yang nanya kabar terbaru kawan-kawan C3 saya, maka inilah kabar terbaru mereka: Sendy dan Budi masih berjuang memantapkan diri menjadi abdi negara. Ferri sibuk menjadi imam bagi keluarga kecilnya, dan Unun akan segera menikah dalam waktu dekat.

Bagaimana dengan kawan-kawan semua? Apa kabar terbaru dari kawan-kawan? Apakah ada yang akan melangsungkan lamaran setelah lebaran ini?

kalau udah kek begini, siapa yang traktir hayo?

belajar tentang kehilangan

Some people come into our lives and quickly go. Some stay for awhile and leave footprints on our hearts. And we are never, ever the same.

Sewaktu SMP, saya memiliki dua orang sahabat yang sangat dekat. Kami memiliki buku curhat, dan di salah satu halamannya saya menuliskan kata-kata di atas. Entah saya menemukan tulisan itu dimana, saya lupa. Tapi kata-kata itu menancap dalam di hati saya.

Sampai sekarang, saat ini. Saat saya menuliskan postingan ini. Beberapa minggu belakangan ini saya sedang belajar memahami kehilangan. Mulai dari kehilangan kunci sepedah, kehilangan waktu, kehilangan kesempatan, kehilangan semangat, kehilangan kekasih, hingga kehilangan beberapa kawan terdekat.

But, this is life. C’est la vie. Terlalu sedikit waktu yang ada kalau hanya digunakan untuk meratapi kehilangan. Toh kita sudah sepakat bahwa saat kita kehilangan sesuatu maka kita akan mendapatkan sesuatu. Bukan begitu? Ini hanya masalah menemukan another comfort zone.

Enjoy your time, ais ariani. Face it 🙂

melawan

apa yang terberat di bulan puasa?

Waktu SD, kawan-kawan SD saya satu sekolahan yang puasa bisa dihitung pake jari. Dulu saya SD nya di SD Katolik, rata-rata muridnya emang non muslim. Jadi jaman itu bagi saya puasa adalah menahan lapar dan haus. Sementara tetangga yang seumuran saya libur, sekolah saya gak pernah libur pas bulan ramadhan. Kantin juga gak tutup. Kehidupan sekolah seperti biasa. Masih maen karet, maen benteng, istirahat juga masih pada maen ke kantin. Yang istimewa hanyalah: duit jajan saya aman, karena saya gak ngeluarin duit buat jajan.

Satu peristiwa tidak terlupakan bagi saya pas puasa jaman SD adalah: saya pernah batal puasa, gara-gara ndorong mobil jemputan saya yang mogok. Waktu itu kelas 3SD kalau gak salah. Saya menelpon mamah saya di kantor pas mau batal puasa itu. Minta ijin batal. Mamah ngomel, tapi saya tetep buka kulkas buat minum. Haus banget.

Pas maghrib tiba, saat seisi rumah duduk dan membatalkan puasa pake kacang ijo buatan mamah, saya mupeng berat. Mau pura-pura ikutan buka kok aneh. Padahal dari batal puasa ampek maghrib itu saya gak ngapa-ngapain; saya cuman tidur.

Nyesel banget waktu itu. Sampai hati saya bersumpah kagak bakalan ada batal puasa-batal puasa berikutnya. Tapi namanya juga anak kecil (tapi harusnya ini bukan pemakluman sih. hihihihihi…).. besok-besok emang gak ada batal-batal di muka umum, tapi di belakang (apa namanya? di belakang umum? atau tidak di muka umum?) saya sering banget belagak ketelen aer wudhu pas ambil aer wudhu. Terus pas masuk kamar mandi gosok gigi sehari ampe lima kali, pas ada tukang yang ngerjain perbaikan rumah kan ada minuman yang disajikan, saya minum aja loh jatah tukang itu. Terus yang paling tidak terlupakan adalah makan buah belimbing di bawah pohon belimbing bareng sama tetangga saya pas orang-orang pada sholat Jum’at.

Dan setelah semua kecurangan dan kejahatan itu saya lakukan, saya pun belagak senang dan girang pas bedug maghrib datang. Saya pun ceria minum teh hangat yang disajikan. Itulah kenangan bulan ramadhan waktu saya kecil yang paling saya inget. Minus ngejar-ngejar ustadz untuk minta tandatangan buat buku ramadhan kek punya tetangga-tetangga saya yang bersekolah di sekolah umum atau sekolah negri, karena di sekolah saya pelajaran agama islampun gak ada. Hehehehehehe.

Alhamdulillah, udah setua ini udah bisa menahan lapar dan haus, masih belajar menahan hawa nafsu lainnya, termasuk nafsu marah-marah, nafsu buat ngomongin orang, nafsu yang laen deh. Tapi bulan puasa tahun ini yang agak berat saya jalani adalah melawan rasa malas. Bangun tidur dan mengangkat badan ke kamar mandi rasanya berat banget buat saya.

Kalau kamu, bagaimana pengalaman puasa waktu kecilmu? Dan, tahun ini puasa gimanah?

bau badan

kamu pernah punya seorang kawan yang *maap bau badannya gak enak? Gak usah kawan deh… misalnya kamu lagi naek bis, bis AC yah yang gak ada pertukaran udara di dalamnya, nah kamu nyium bau asem, bau sepet, bau yang membuat kamu gak doyan makan, bau yang membuat kamu ingin menutup hidung secepatnya.

Atau kawan sekelas kamu di kampus, atau kawan satu ruangan di kantor, ada gak yang punya bau badan? Dan, seberapa besar keinginan kamu dan kemauan kamu mbuat mbilangin ke dia yang bersangkutan soal bau badan itu?

Saya sih lebih memilih diam. Saya memilih tidak bilang apa-apa. Dan syukurlah orang-orang yang berinteraksi intens sama saya gak ada yang bau badannya sepet.

Tapi, sering terlintas dalam pikiran saya: kira-kira siapa yah yang bakalan bilang ke dia yang punya bau badan gak enak soal bau badannya yang gak enak itu? *eh dong gak sih?

Maksud saya, mamahnya dia, adek nya dia, atau pasangannya dia gak ngebilangin ke dia yah kalau badannya bau? Bukan bau badan yang sesekali gituloh. Tapi ini the real bau badan. Kan bisa yah pake cologne, deodoran, atau bedak BB Har*m S*ri gitu (jadi inget seseorang yang gak make deodoran tapi kebiasaannya pake bedak itu. ihiir…).

Apa saya ajah sih yang bawel soal beginian? Serius deh. Saya suka agak terganggu sama bau badan yang asem, sepet dan bikin selera makan ilang. Makanya kadang saya kalau udah seharian kagak mandi, biasanya iseng nyium-nyiumin ketek saya. Make sure ajah gak bau. Indikasi saya harus mandi biasanya adalah: saya gak doyan nyium-nyiumin ketek saya (gak usah dibayangin yah bo, takut nanti gak doyan makan lagi. Hahahahahaha…). Tapi pertanyaan berikutnya adalah: darimana saya tahu ketek saya bau kalau hidung saya sudah sangat familiar dengan bau badan saya yang gak enak.

Kemaren saya lagi mikir: kalau badan saya bau nya gak enak, kira-kira kawan-kawan saya bakal ngasih tahu saya gak yah? Karena saya yakin.. yang bersangkutan gak ngerasa terganggu dengan bau badannya: udah biasa boo. Udah familiar itu tadi.

Sama kek sifat buruk saya : manja, lebay, emosian. Saya gak bakal tahu kalau saya itu manja, kalau gak dibilangin sama gebetan saya pas kelas dua SMA *ehem.  Saya gak bakal tahu kalau saya itu dangkal dalam menghadapi cobaan hidup kalau gak captain yang bilangin *ehem lagi. Saya gak tahu kalau saya itu galak dan jutek kalau gak dibilangin sama kawan-kawan dekat saya. Terakhir kemaren salah seorang kawan bilang saya naif. Saya belum bisa memutuskan itu sifat buruk atau baik.

Ah … ukuran baik dan buruk ajah saya belon bisa menentukan. Tapi saya bisa menentukan loh badan yang bau atau gak!

😀

Terus korelasinya apa Is bau badan sama sifat buruk? Entahlah, tapi sempet kepikiran begini: sangat sedikit orang yang bakal bilang ke saya soal sifat buruk saya. Sama sedikitnya dengan orang yang bakal bilang ke saya kalau badan saya bau *nyiumketek*

Hanya mereka yang peduli yang berani bilang itu. Yah gak sih?

Dan lagi, kita sudah terlalu terbiasa dengan sifat buruk dan bau badan yang kita punya. Kita merasa owkey-owkey aja. Kita merasa diri kita baik-baik saja, bau badan kita sip lah. Karena it’s in me. *kek slogan iklan. Hidung kita sudah terlalu familiar dengan bau badan kita dan diri kita sudah terlalu terbiasa dengan sifat buruk kita.

Beberapa tahun lalu ada yang pernah bilang ke saya gini:

“Sahabat sejati itu bakaln ngebilangin ke kita kalau bulu idung kita keluar.”

So, kita butuh cermin, buat lihat bulu idung kita. Kita butuh nyium ketek kita dan make sure sama orang-orang sekitar kita bertanya: badan gue bau gak sih?

Kita butuh introspeksi diri soal sifat buruk kita, dan kita juga butuh orang lain sebagai ‘cermin’.

pelupa

hai. Bagaimana hari puasa kamu di hari kelima ini? Apakah sudah ada yang bolong? (Alhamdulillah belum). Apakah sudah ada yang bablas sahur? (Alhamdulillah, udah. Satu kali).

Baiklah, hari ini saya gak mau cerita galau-menggalau lagi. Takut pada ikutan galau. Hehehehe. Saya akan bercerita soal kebiasaan buruk saya. Ini semacam kebiasaan yang harusnya dirubah. Saya itu pelupa. Bener-bener pelupa. Yang paling parah adalah saya suka lupa nama orang. Suka lupa kalau pernah kenalan sama orang baru.

Jadi, kadang saya gak bisa matching-in memori tentang wajah dan memori tentang nama orang. Suka lupa manggilnya apa, suka lupa mukanya kek apa.

Dan yang agak memalukan waktu itu adalah saya pernah kenalan sama orang yang sama sebanyak tiga kali. dalam waktu setahun. Itu terjadi karena si kawan itu orangnya sama kek saya. Mari kita sebut dia Lila. Pertama kali kenalan, dikenalin sama temen. Waktu itu kenalannya di perpustakaan. Kami sempet ngobrol, ngebahas bla dan bla, yang ternyata si Lila ini adalah kawan SMA-nya si captain *ehem (siapa Is?), dan kawan kuliahnya bekas hummate saya. What a small world.

Itu kenalan pertama. Kenalan yang kedua: TKP-nya masih sama: di perpustakaan. Saya lagi ngerjain tugas atau apa gitu, tiba-tiba si Lila (yang saya lupa namanya) nebeng ngecas HP di meja saya. HP nya ditinggal, dan dia semacam minta tolong buat njagain. Setelah saya liat-liat saya kok kek kenal sama dia. Terus saya make sure ajah, saya ajak kenalan, dan bener ajah loh dia Lila. Kita ketawa-ketawa menyadari kebiasaan buruk kita yang sama. Dan yess, dia sempet lupa pernah kenalan dimana sama saya. Mengobrollah kami soal tugas akhirnya dia.

Kenalan yang ketiga: terjadi beberapa minggu lalu. Waktu itu saya lagi menunggu dosen pembimbing saya. Tiba-tiba ada mbak-mbak yang duduk di sebelah saya dan nanya soal dosen lainnya. Kami mengobrol. Dia nanya soal dosen yang dicari; apa saya lihat si Bapak A? Saya jawab tidak. kemungkinan masih di ruangan. Terus pas dia cek ternyata Pak A sedang menerima tamu. Ya sudah, akhirnya dia duduk di sebelah saya, kami mengobrol. Awalnya dia nanya saya ngapain, nanya saya semester berapa sampe akhirnya ngobrol soal tugas akhir, soal KKN, soal bla bla bla. Terus dia mengulurkan tangan; “Lila”

Gubraak. Saya nyengir. Saya nanya SMA dia dimana, pas jawabannya klop, saya bilang sambil nyengir; “eh kita udah kenalan tiga kali bukan sih?”

Dia nya nyengir, sambil inget-inget sampai akhirnya dia inget kalau kita emang pernah kenalan dua kali sebelumnya di perpustakaan. Ngakaklah dia waktu nyadar kita udah kenalan sampek tiga kali: “sekali lagi dapet payung nih”

beruntunglah saya lawan saya waktu itu sama-sama pelupa kek saya. Yang memalukan adalah kalau saya ketemu sama temennya temen yang jaman kapan pernah dikenalin, begitu ketemu lagi saya lupa.

Makanya saya suka minta maaf yah kalau hari ini saya komen di tempat kawan hari ini manggil Bu, besok manggil Mbak. Kemaren manggill mas, besok manggil Pak. Itu kebiasaan yang buruk banget buat saya, kesannya nyepele’ke gitu loh.

Parahnya, si Captain itu hobi ngenal-ngenalin saya sama siapa gitu. Dan karena orang-orang itu jarang saya temui, saya suka lupa pas besokkan ketemu lagi. Huhuhuhuhu. *ehem lagi.

Pelupa berikutnya adalah saya suka lupa punya makanan apa di kulkas. Jadi sadar-sadar makanannya udah kadarluarsa. Makanya kalau BPOM ngerazia kulkas saya, keknya bakal banyak tuh yang kena.

Berhubung lagi ngomongin kebiasaan buruk, bakal saya ungkap beberapa kebiasaan buruk saya : saya suka ngemil gula pasir. Entah kenapa, makan gula tuh enak rasanya.  Kebiasaan ini saya mulai dari SMA. Dan sekarang udah berangsur-angsur saya kurangin. Takut kena diabetes. Dan alhamdullillah, sekarang gulanya cuman ada di susu, teh dan segala macam masakan yang saya tambahin gula.

Kebiasaan buruk berikutnya adalah saya sering merasa inferior kalau ketemu kawan-kawan kampus saya. Entah kenapa saya suka ngerasa kepala saya kosong kalau ketemu mereka dan ngobrolin soal perkuliahan. Kek mereka nyebut tokoh siapa, yang saya gak tahu, nyebut istilah apa saya gak paham. 😥

Next: saya paling gak tahan sama kata traktir dan gratisan. Jadi kalau kawan-kawan saya pengen nyuruh saya macem-macem dan ngerjain saya, biasanya mereka ngasih reward ke saya pake traktiran.

dua orang kawan saya yang sering 'ngerjain' saya soal traktiran

Hmmm.. apalagi yah? *mikir* ah nanti kalau udah inget saya tulis lagi yah disini. hehehehehe. bagaimana dengan kawan-kawan? Apa kebiasaan diri sendiri yang menurut kawan-kawan buruk?

Selamat Hari Jumat, kawan-kawan semua.

🙂

*postingan kali ini disponsori oleh foto yang saya pinjem dari Mbak Anggit.

i don’t know how she does it

itu adalah judul buku karya Allison Pearson. bukan buku hebat sebenarnya. hanya saja karena ini buku pinjeman dari si kawan yang bilang buku ini ada hubungannya sama permasalahan yang saya angkat di tesis saya. saya jadi tertarik. membaca cerita fiksi entah kenapa selalu menarik bagi saya.

bercerita tentang Kate Reddy, seorang manajer investasi yang memiliki keluarga dengan dua orang anak. secara garis besar, buku ini menceritakan work-family conflict yang dialami oleh seorang Ibu yang bekerja. Kate memiliki dua peran yang harus dijalaninya, peran di kantor sebagai satu dari sedikit wanita yang bekerja di kantornya dan juga perannya di rumahtangga.

Kate memiliki seorang suami dan dua orang anak; Emily yang berusia lima tahun dan Ben yang masih berumur satu tahun. Kate mencintai pekerjaannya, namun dia juga berusaha yang terbaik bagi keluarga yang [sudah pasti] dicintainya.

Dalam buku ini digambarkan bagaimana Kate berusaha menyeimbangkan kedua perannya. menjadi Ibu yang bekerja akan jauh lebih sulit dibandingkan menjadi Ayah yang bekerja, dan satu part yang paling menggambarkan bagian ini adalah saat Kate bercerita bagaimana seorang pria akan terlihat keren, terlihat sangat mencintai keluarga saat memajang foto anak, istri dan keluarga-lah secara garis besar. Tapi menurut Kate, semakin tinggi jabatan seorang wanita bekerja, maka semakin sedikit foto yang dipajang.

Sama halnya seperti saat rapat mahapenting terjadi di suatu divisi dan seorang Pria meminta ijin untuk tidak ikut meeting, dengan alasan; “mengambil raport anak” maka akan mendapat respon; ‘aaah soooo sweeet’. tapi jika wanita yang melakukannya, maka biasanya yang ia dapatkan adalah celaan betapa ia tidak bisa mengatur waktu.

The women in the offices of EMF [Kate’s firm] don’t tend to display pictures of their kids. The higher they go up the ladder, the fewer the photographs. If a man has pictures of kids on his desk, it enhances his humanity; if a woman has them it decreases hers. Why? Because he’s not supposed to be home with the children; she is.

well, buku ini memuat jungkir baliknya seorang Kate berusaha menjadi ibu dan karyawan serta istri yang baik. bagaimana ia mengakali ‘kue supermarket’ menjadi seperti  kue homemade, bagaimana ia selalu berusaha ‘menyogok’ anaknya dengan berbagai mainan yang ia beli setelah bertugas ke luar negri, bagaimana ia berusaha menolak berhubungan seks dengan suaminya, bagaimana Kate mengupah pengasuh anak-anaknya dengan upah yang cukup tinggi agar memperlakukan anak-anaknya dengan baik, bagaimana akhirnya suaminya pergi dari rumah mereka saat Kate sedang bertugas di luar negri.

Saya belum mengalami posisi seperti Kate; seorang Ibu yang bekerja. Makanya saya terkejut menyadari betapa beratnya menjadi Ibu yang bekerja. No offense buat Ayah yang bekerja, suwer. Coba kalau kawan-kawan lagi nganggur dan mencari jurnal penelitian mengenai ‘working mother’ maka kawan-kawan akan menemukan sejumlah penelitian.

Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan  oleh Cinamon dan Rich (2002), yang mengatakan bahwa sumber konflik pada ibu yang bekerja biasanya adalah karena adanya peran ganda, yaitu peran sebagai ibu rumah tangga (istri dan ibu dari anak-anaknya) dan juga peran sebagai pekerja. Setiap peran tentu saja menuntut konsekuensi dan tanggung jawab yang berbeda, yang terkadang saling bertentangan.

Mereka juga berkata wanita yang bekerja ternyata lebih sering mengalami konflik dan permasalahan keluarga dibanding pekerjaannya karena bagi kebanyakan wanita keluarga merupakan domain yang paling penting dalam kehidupannya. Permasalahan ini tidak sedikit mempengaruhi pekerjaan dan dapat menciptakan gangguan bagi mereka, sehingga menyebabkan penurunan kinerja.

Lagi, ngapain sih seorang wanita bekerja? Well, itu akan bergeser sedikit mengarah ke Tesis yang saya angkat. Terdapat beberapa dorongan kenapa wanita bekerja. Bisa karena faktor ekonomi, faktor relasional yang berkaitan dengan kebutuhan sosialisasi mereka, faktor aktualisasi diri juga menjadi salah satu faktor pendorong seorang wanita bekerja.

Faktor yang mendorong seorang wanita bekerja pada akhirnya berhubungan erat dengan bagaimana wanita memaknai pekerjaan mereka.

Pemaknaan wanita bekerja berbeda dengan pemaknaan bekerja pada pria, karena wanita pekerja memiliki konflik dan dorongan yang mungkin berbeda dengan pria dalam bekerja. Maka makna kerja bagi wanita pekerja dipengaruhi oleh alasan yang mendorong mereka untuk bekerja yang nantinya akan membawa kepada penetapan peran kerja, hasil yang diharapkan dari bekerja, serta batasan aktivitas pada wanita dalam bekerja.

Jadi, makna kerja bagi tiap Ibu yang bekerja akan kembali lagi pada tujuan dan nilai-nilai yang dianut oleh Ibu tersebut.

Hehhehehehehehe. saya mengacungkan jempol saya empat-empatnya untuk semua Ibu yang bekerja. Mereka hebat. Walaupun kalau boleh memilih pilihan saya di masa depan, saya ingin bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga full time. Andai saja, saya bisa 😀

Back to book again, bagian yang paling lucu dan menyenangkan bagi saya adalah kebiasaan Kate untuk mengakhiri tiap emailnya dengan tulisan ‘xxx’

why?

Karena mengingatkan kebiasaan saya dengan seseorang dulu. Jadi saya punya kebiasaan untuk mengakhiri tiap sms, surat, ataupun apapun dengan orang tersebut dengan tulisan ‘xxx’ . tulisan itu saya ambil waktu itu saat membaca komik Conan jaman saya SMP kalau gak salah. Makanya pas saya baca email-nya Kate di buku itu, saya senyum-senyum sendiri deh; inget si dia yang dulu juga sering nulis; Love u my princess wonderwall, XXX

dan soal kenapa XXX itu, ada alasannya kenapa hanya X yang dipilih dan kenapa cuman 3kali. aaah penjelasannya nanti ajah ah, kapan-kapan yah.

hahahahhahaha.. memori…

Eh tapi kamu udah tahu kan XXX itu artinya apa?

XOXO,*

ais ariani

*kalau ini tahu artinya apa? hahahaha…

postingan kali ini disponsori oleh : i don’t know how she does it by Allison pearson [fyi; bakal dibikin film yang akan dirilis September besok], beberapa jurnal penelitian dari folder jurnal saya di laptop ini [kalau ada yang membutuhkan bisa kontak saya loh…], dan link ini, gambar dari sini. dan some part of him 😉