SAHABAT

Kalian punya sahabat? Pasti punya lah yah, walopun mungkin sahabat yang menyimpan rasa *ahseek. hahahahhaha…

kenapa Is ngomongin sahabat? Mau cerita soal sahabat yang lagi ngedate sama manta? #eh. enggak, bukan mau cerita soal itu. itu mah ada di sinetron sama novel deh keknya.

Saya mau cerita soal sahabat saya yang saya kenal sejak tahun 1999 (kalok gak salah tahun). sejak dia masih culun dan saya masih culun banget. Sejak dia masih kurus dan saya masih pake kawat gigi. Sejak dia masih suka dijutekin kakak kelas dan saya masih jadi favorit adek-adek kelas (ini pitnah keknya inih). Sejak dia naksir kakak kelas yang namanya Ibnu dan saya masih naksir seksi Rohis OSIS yang namanya Ridho.

Sejak dia masih aktif di majalah sekolah dan saya aktif di ekskul teater. Sejak dia masih begaul sama anak-anak gaul masa kini dan saya masih asik begaul sama gerombolan pendekar wanita di merpati putih. Sejak dia dapet julukan dewi tiga huruf dan saya dapet angket tercuek sekelas.

SMP tempat saya dan Wawa bertemu
SMP tempat saya dan Wawa bertemu

Namanya Wawa (bukan nama sebenarnya). Seperti yang saya bilang; saya mengenalnya sudah lulmayan lama, dalam balutan putih-biru di sebuah sekolah swasta di bilangan rawamangun. Lulus dari sekolah itu, ternyata kami dipertemukan lagi di kelas di sebuah sekolah (kali ini negeri) di daerah Rawasari. Tapi sayangnya hanya tiga bulan saya bertahan di sekolah itu, karena saya harus pindah di bulan keempat.

Waktu berlalu, kami berpisah benua (tsaaaah…), kagak ding… tepatnya berpisah kota. saya di Purwokerto, dia di Jakarta. Tapi kami masih sering kontak, masih sering kirim-kiriman email, nggosipin si pacar saya (waktu itu) yang sekelas sama dia, nggosipin sahabat-sahabat kami di kelas satu sembilan. si anu sama si itu ribut, si anu ternyata psycho yang suka ngaku-ngaku deket sama Pembalap, si itu pacaran sama si ini. ah hebohnya gosip SMA saya pasti diwarnai kehadiran dia.

Lulus SMA, ternyata kami sama-sama melanjutkan kuliah di kota Gudeg tercinta. Ingeeeet banget pertemuan kami pertama kali di kota Gudeg itu hari Sabtu, saya njemput dia di Kopma UGM. dia lagi ngantri ambil jaket almamater. Saya sama si Blacky waktu itu. Dia minta dianterin pulang. dan saya terjebak. ternyata sejak hari sabtu itu saya officially jadi tukang ojegnya dia di Jogja. Kemanapun dia mau pergi di saat bis kota di Jogja udah gak beroperasi, saya yang nganterin dia.

Ketahuilah kawan, Jogja itu supir bisnya udah tajir-tajir, jadi mereka beroperasi hanya sampek jam 5 sore.

wawa and ais ariani

Bersama dia lah moment-moment pertama saya mengenal Jogja. Bagaimana kami nyasar mencari fakultas teknik dan malah nyasar ke kampus sebelah, bagaimana kami nyasar pulang dari kampus ke kostnya dia (nyasarnya di depan rumah orang bok!), bagaimana kami bela-belain malem-malem ke kostan cowok-cowok di daerah Babarsari hanya untuk ngecengin mas-mas ganteng asal Wonosobo bernama Tanto (ke mana itu orang?), bagaimana kami berusaha jadi anak kost yang baik dan benar dengan selalu mencari dan mencari makanan termurah, bagaimana kami berusaha untuk teteap menjadi anak gaul dengan menonton film di Bioskop Mataram, bagaimana dia saya jutekin dan saya turunin di pinggir jalan pas minta tolong anterin beli ini itu, bagaimana kami ribut gara-gara saya ngebatalin janjian seenak udelnya, bagaimana dia galau habis dijenguk sama pacarnya (sekarang suaminya) yang pulang ke Jakarta, bagaimana kami berusaha menyiati duit saku kami yang dibawah UMR (makan nasi satu porsi buat berdua).

Ah kalau diterusin bisa bikin buku ini mah.

Lucunya, saya sama dia itu biar sebelnya setengah mati, biar BT nya setengah mampus satu sama lain, tapi kami selalu dipertemukan lagi, lagi, dan lagi. Sejuta keluhan saya soal dia yang drama, dia yang dulu gak bisa ngebersihin rumah, dan dia pasti punya jutaan keluhan soal saya yang jutek, galak, nyebelin dan bla bla dan blaaa.

Kami pernah dua tahun tinggal serumah. Pengalaman yang menyenangkan dan juga menyebalkan memang. Tapi banyak pelajaran yang bisa kami ambil saat itu. Dan seriously, pernah ada titik di mana saya iri mampus sama dia yang waktu itu sudah menikah, dan sudah kuliah S2, sedangkan saya waktu itu baru putus sama si Barista Tampan dan kuliah S1 juga belon kelar. She’s everything I’m not lah, termasuk badan dia yang bohay dan saya yang kurus kerempeng ini :mrgreen:

Kami bukan sahabat yang tiap saat dan tiap detik update kabar, bukan sahabat yang selalu dituju untuk dicurahkan permasalahan. Dia sudah berkeluarga dan memiliki si Caca yang menggemaskan, saya sudah putus sambung dengan beberapa pria dan masih belum berkeluarga juga (ya teruuusssss…?!?!?). Tapi di tiap pertemuan kami, kami seperti mampu untuk bertambah dekat, mengulang cerita untuk kemudian saling “idup lo drama banget deh”

dan, bulan April ini merupakan bulan yang sangat istimewa buat dia. Why? Karena ada tiga perayaan yang ia dan keluarga kecilnya rayakan,

pertama: hari ini dia ulang tahun,

kedua: selain ulang tahun, dia juga merayakan ulang tahun pernikahannya yang ke… (keberapa yah bok? akikah lupa cyin..)

ketiga: di akhir bulan ini juga dia akan diwisuda untuk Program Magister Profesinya.

That’s why I always envy her :mrgreen:

Hey you, u’re so blessed! jangan lupa untuk selalu bersyukur yah Wa, walau kehidupanmu –seperti yang kamu bilang- kekurangan MSG, at least u always have shoulder to cry on (paling gak, punya Caca yang bisa dipeyuk2). Walaupun kadar dramamu jauh di atas aku, kamu sudah menemukan pria yang tepat untuk memerankan pemeran pria utamanya (he still be my favourite, since he ask u to marry him! hahahahhaa).

I Love u, dan aku tunggu jam konsultasi gratisnya buat aku :mrgreen:

 

Advertisements

purwokerto : dulu dan sekarang

sudah beberapa hari terakhir (err.. owkey.. lebih dari seminggu terakhir) saya ada di Purwokerto. ada beberapa kisah yang pernah saya tulis di panggung ini, penasaran pengen tahu? silahkan cek di sini.

*itu gak wajib kok, cuman sekadar prolog ajah 🙂

dan semenjak kedatangan saya ke Purwokerto, ada buanyak hal yang berubah. mari kita bahas beberapa perubahan tersebut yah.

1. purwokerto dulu: jalan gatot soebroto (depan SMA saya) dulu itu jalannya satu arah. dari arah barat ke timur.

purwokerto sekarang: jalan itu menjadi dua arah. kenapa? jangan tanya saya. saya juga gak tahu.

2.  purwokerto dulu: jalanan depan GOR Satria Purwokerto sampai jalan Soeparno (depan biologi Unsoed) itu merupakan jalanan yang sepi, gelap di malam hari dan pemandangannya hanya sawah. suka dijadiin tempat mojok sama pasangan – pasangan yang gak mampu bayar hotel *Hlah?!?

purwokerto sekarang : jalanan depan GOR itu jadi area wisata kuliner, banyak banget tempat makan di sana. mulai dari Bebek Pak Slamet, Iga Bakar Mas giri, Ayam Penyet Suroboyo, Siomay Kuah, Blasta Casual Resto, ada banyak lagi deh….

3. Purwokerto dulu : kampusnya dikit. jelas, yang paling tersohor itu ada UNSOED, terus ada Unwiku dan setelah saya lulus SMA, baru itu heboh yang namanya UMP.

Purwokerto sekarang: ada beberapa kampus baru di kota ini. sebut aja BSI, LP3I (itu kampus kan yah?), Amikom. ditambah UNSOED yang mbukak beberapa program studi baru sepuluh tahun terakhir, dapat dipastikan jumlah mahasiswa di Purwokerto beragam sekali.

4. Purwokerto dulu: gak ada tempat nongkrong yang happening. dulu, kalau bubaran panitia – panitian acara sekolah, paling di Ayam Goreng Alfath, disusul kehadiran ABG (Ayam Baru Gedhe). mall? gak ada. kerjaannya kalau makan burger bukan di Mcd atau KFC. tapi di Aroma, di jalan Jendral Soedirman, tempat favorit saya.

Purwokerto sekarang: beeeuuughhh! ada kedai kopi, ada chocoklik yang jadi favorit temen – temen saya kalau nongkrong, ada… ada beberapa lah tempat nongkrong sekarang. belum lagi jumlah tempat karoke yang menjamur di kota ini. AGP (Anak Gaul Purwokerto) gak bakal haus hiburan kalau di sini.

reunion: high schools time at chocoklik

 

5. Purwokerto dulu: sepi. kalau jam delapan malam itu lewat depan perumahan saya di Dr. Soeparno, sepi banget.

Purwokerto sekarang: rame banget! rasanya jumlah kendaraan di Purwokerto nambah berapa kali lipat deh.

6. Purwokerto dulu : saya punya kenangan sendiri dengan suatu tempat di deket Unsoed, namanya ‘es jorok’. dulu si *ehem* mantan pernah ngajak saya ke sana. itu – menurut dia – tempat first date kami. tempatnya kecil, sumpek. tapi karena dulu makannya masih cengar – cengir sumringah mupeng, ya horeh horeh dan menyejukkan bangeeet. di dindingnya dulu aada coretan – coretan ABG yang mampir ke situ.

Purwokerto sekarang: tempat es joroknya udah pindah. iya masih rame, tapi sudah jauh lebih baik daripada tempat yang dulu. tapi isinya lebih dikit, dan tentu saja harganya juga sudah jauh berbeda!

penampilan es jorok, atau es campur tepatnya :mrgreen:

7. Purwokerto dulu: terminalnya kecil. dan rada – rada kumuh gitu. letaknya di deket Rajawali, satu – satunya bioskop di kota ini.

Purwokerto sekarang: terminalnya besar. sudah lebih bersih. dan letaknya di.. di… hadeh lupa nama daerahya. dan terminal lama sekarang dijadiin taman kota, namanya Andhang  Pangrenan yang asyiik banget buat duduk – duduk dan chitchat sama temen.

Andhang Pangrenan, should be: PURWOKERTO,

8. Purwokerto dulu: kalok lewat rumah berpagar ijo di jalan Piere Tendean, pasti mampir terus teriak – teriak: ‘Nduuuut!!!’

Purwokerto sekarang: pagernya udah jadi warna merah, udah gak pernah teriak – teriak lagi. kalok nengok sih masih. hahahahahahahaha…

***

ya itulah beberapa perubahan Purwokerto yang paling berasa bagi saya, disamping jalan – jalan yang bertambah lebar (beda yah boo sama jalan – jalan di Jakarta yang rasanya tambah sempit!). kalok hal yang sama sih ada beberapa, diantaranya: kost – kostan saya waktu SMA yang masih begitu – begitu aja bangunannya, jalan depan kostan yang masih kek begitu, tukang burger di Aroma yang masih banyak peminat dan masih banyak bawang bombaynya, warganya masih ngomong ngapak, radio tempat saya pernah siaran masih di Gandasuli, err… apalagi ya?!?

***

kawan – kawan sendiri pernah ke Purwokerto? Apa yang paling diingat dari kota ini?

unun’s wedding: a li’bit reunion

Unun's wedding: arisan di pelaminan 🙂

Inget banget… waktu itu hari minggu, 26 Februari 2012. Tiga hari menjelang pendadaran saya, Saya niat  pergi ke Purwokerto. Untuk menghadiri ngunduh mantu-nya si Unun, si kawan yang penakut akan gelap itu. Saya pernah menceritakan soal si Unun ini beberapa kali di dramaLand ini, tapi kalau sudah lupa atau males nyari atau sudah lupa, saya bakal ngereview dikit soal si Unun ini.

Unun ini kawan saya waktu SMA. Dia ini masuk dalam gerombolan C3, gerombolan yang sering dateng ke rumah teman-teman wanita demi untuk nyari gratisan. Sisa gerombolan lainnya adalah Sendy, Budi dan Ferri. Saya mengenal mereka dari SMA, dan setahu saya mereka ini masih berkawan hingga saat ini. Walaupun mereka kuliah di jurusan berbeda, kehidupan sosial yang berbeda, namun yang saya tahu mereka tetap berkomunikasi dan tetap saling mendukung satu sama lain.

bahkan di saat Unun ini menikah, budi dan sendy sengaja meluangkan waktu untuk pulang dari Ibu Kota menghadiri pernikahan sahabat mereka. Jujur, saya iri. Saya iri dengan Unun yang memiliki sahabat-sahabat SMA yang mash akrab hingga saat ini.

diantara mereka berempat, saya punya cerita tersendiri sama si Unun ini. saya mengenal Unun terlebih dahulu dibandingkan dengan tiga kawan C3 lainnya. si Unun ini sama-sama satu organisasi, kami sama-sama menjadi pengurus selama satu tahun bersama. ikut KBBL bareng, memenuhi SKU bareng, dilantik bersama, menjadi pengurus bersama, entah sudah berapa kali kemah kami bersama-sama (gak satu tenda kok, kami bersama puluhan teman-teman pramuka. hehehehehehehe..).

si Unun ini anaknya agak-agak manja sebenernya waktu SMA, ya kek yang di postingan dulu itu pernah saya bilang: dia itu pernah gak berani ke kamar mandi sekolah kami hanya karena kamar mandi di sekolah kami dulu gelap dan sedikit spooky. tapi adalah masa-nya saya mikir kalau gak ada wanita yang naksir sama dia. memangnya ada wanita mau naksir pria yang berpose seperti ini:

foto itu diambil saat saya berulangtahun yang ke-17, dan saya juga gak paham apa maksud si Unun bergaya kek gitu. Tapi bener deh.. buat para wanita: mau gak naksir sama pria model begitu?

Tapi ya itu tadi, saya nelen ludah waktu ternyata dia nikah duluan dengan pacarnya yang ia pacari dari sejak kuliah. err… mungkin imej si Unun ini saat kuliah udah berubah kali yak? udah gak doyan Marshanda lagi, udah gak takut pipis sendirian lagi ke WC, udah gak doyan foto dengan gaya aneh, udah gak suka bergaya sherina lagi, yang jelas dia dapet pacar lah pas kuliah. dan pacar saat kuliah inilah yang ia nikahi bulan Februari kemarin.

***

Jadi, hari minggu – iyah, tiga hari menjelang saya pendadaran-  saya menyambangi rumah Budi. karena menurut info yang beredar, ada rombongan yang mau berangkat bareng ke tempat nikahannya Si Unun ini. Biasalah… saya ini gak suka dateng ke tempat nikahan sendirian. Bisa loh saya membatalkan dateng ke nikahan kalau gak ada temennya.

KOk gitu Is?

hlaah.. nanti kalau berburu makanan ama siapa dong? Terus kalau ada dua jenis makanan yang mirip, kita kan bisa minta orang yang barengan kita ngambil satu porsi, biar bisa nyicip. Kalau ngantri buat ngambil makanan panjang, tapi pengen nyicip, kita kan tinggal nyicip piring temen. Kalau ngantri salaman, biar ada temen ngobrol. Intinya itu laaah. gak enak dateng ke nikahan sendirian.

makanya waktu ada woro-woro buat barengan dateng ke nikahan si Unun, saya ngikut. tapi sebenernya beberapa hari sebelumnya saya sms si Unun kalau saya gak bisa dateng. itu bukan mau sok surprise, tapi karena jadwal ujian saya belum keluar. Jadwal ujian pendadaran saya baru keluar hari Jumat, dan resmi saya ujian hari Rabu, makanya saya berani buat berangkat ke Purwokerto.

singkat cerita, Minggu pagi itu saya rapih jali lah buat dateng ke nikahan si Unun. pake batik cokelat, jilbab cokelat, sepatu cokelat. Rapih deh. nyampek di rumah Budi, yang ada cuman dua orang kawan saya. si Sendy yang punya ide belon nongol, si Budi yang punya rumah malah gak ada di rumah.

Tapi gak berapa lama si Sendy dateng, cengar-cengir minta maaf. dan kami semua ketawa ngeliat dia. dandanan dia masih persis sama kek waktu kami mau maen jaman SMA : motor supra merah, jaket Dewan Ambalan berwarna biru dongker. Tidak ada yang berubah dari Sendy.

setelah itu, Sendy masuk ke rumah Budi walau tahu Budi gak ada di rumah, saya sih maklum. buat anak-anak C3, rumah Budi itu udah kek rumah kedua mereka. Dan saya rasa keluarga Budi juga udah kenal banget dengan Sendy, Unun dan Ferri. Gak berapa lama, Budi malah muncul dengan motor dan seorang anak kecil. keliatan kucel, belum mandi (Budinya, bukan anak kecilnya. Anak kecilnya lucu dan menggemaskan sebenarnya).

Ternyata Budi punya niat ngajak jalan2 ponakannya di minggu pagi yang cerah. kami bengong… hlaah?? ini udah jam sebelas, letak rumah si Unun ini di luar kota, dia masih niat ngajak jalan ponakannya??

Setelah cek sana cek sini, kami sepakat nunggu satu anggota lagi buat dateng. Siapa lagi kalau bukan ferri?

Si Budi akhirnya dilepaskan untuk bermain dengan anaknya ponakannya maksudnya. Dia bilang mau berangkat sendiri. Tapi kami amsih tetep di situ, menunggu Ferri yang katanya sudah deket. Daaaaaaaan sodara-sodara, begitu Ferri dateng bersama istri, kami malah sepakat pergi duluan karena Ferri masih harus membungkus kado.

JADI NGAPAIN NUNGGU DONG DARITADI?

berhubung saya ini nebeng, jadi saya manut-manut ajalah.

singkat cerita, nyampek di TKP, acara sambut-sambutan ternyata belum selesai. dan kami sukses ngakak ngeliat Unun di pelaminan. Bukan kami sih, tepatnya saya.

Saya terharu. ngeliat si Unun ada di pelaminan bersama istri terkasihnya. Terharu karena saya akhirnya bisa ngeliat dia nikah. Karena di buku kenangan kami jaman SMA, si Unun nulis gini:

‘item…nanti kalau kamu jadi kaya, gembel, atau tambah putih, kalau nikahan dateng yah ke tempatku’

jadi bayangan saya dia duluan yang ngeliat saya di pelaminan, eh ternyata saya duluan yang ngeliat dia (ini maksud kalimat ini apa yah Is??).

dengan naeknya si Unun ke pelaminan, maka sisa C3 yang belum menikah adalah dua pria Abdi Negara ini:

saya - budi - sendy - (kepalanya) Ferri dan istri

jadi, ada yang berminat dengan salah satu di antara mereka? Kalau gak salah denger sih mereka sekarang Jomblo, PNS, kost di daerah cempaka putih, baik hati serta tidak sombong, budiman (namanya ajah Budi!!), cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, rajin menabung dan pandai, dan bla bla blaa..

(lama-lama kek Dasa Dharma pramuka yak??)

profil lebih jelas dua manusia sisa yang masih jomblo ini akan saya muat di edisi depan ya. So, buat kamu-kamu yang penasaran, jangan lewatkan!!

*pertanyaan berikutnya: emang ada yang penasaran? huahahahahhahahaha…

***

see u next post!

:mrgreen:

***

P.S: salah satu diantara tokoh-tokoh C3 yang saya ceritakan dari kemaren itu memang ada mantan saya, dan saya juga bertemu dengan mantan saya di nikahan tersebut. Pertanyaannya adalah: siapakah mantan saya???

Ayoook.. yang bisa jawab nanti dapat satu jam ekskelusif chatting sama saya di YM (hadiahnya ra’ mutu tenan. hahahahahha..)

Girl Talk

sebenarnya saya lupa kalau hari ini hari kamis. er… pura-pura lupa tepatnya. ah sudahlah, yang penting judulnya malam ini saya ingin mengadirkan sebuah buku bacaan saya waktu SMP.

beberapa hari (atau minggu?) yang lalu saya maen ke kost-an si kawan sekaligus partner in crime saya *aduh gak bisa di link* :mrgreen:  nah pas lagi mau nebeng ke kamar mandi, saya nemu di lorong kost-annya, setumpuk buku bekas. dan yang terletak paling atas di antara tumpukan buku itu adalah buku inih:

Girl Talk : Kemelut Pesta by L.E Blair

hayuk yang ABG 90’an ngacung cung cung! yang baca majalah kaWanku juga ngacung! pasti kenal sama buku ini *nuduh

eh tapi bener loh, kalau ada yang langganan kaWanku jaman SD atau SMP, pasti kenal sama buku ini, (asal SD atau SMP nya pas tahun 90an yak) karena buku ini pernah dijadiin bonus majalah itu.

setelah dilakukan observasi, keknya kawan-kawan yang mampir ke sini rata-rata umurnya sama kek saya jadi PD – PD ajahlah yah bilang ini buku bacaan kita waktu SMP. huahhahahaha.. PD sekaligus penuduhan.

Baeklah, mari saya sarikan buku ini dari wikipedia, kalau kata kang Wiki, buku ini merupakan serial dari Amerika sono karangan L.E Blair (sayang Kang Wiki tidak menyediakan page khusus tentang pengarang ini, jadinya gak bisa saya pajang linknya, dan terlalu males ngegugling juga saya).

Girl Talk ini serial yah sodara-sodara, yang menceritakan tentang empat orang ABG. abegeh beneran loh, baru kelas tujuh. mereka tinggal di kota YANG TERNYATA kota fiksi, Acorn Falls, Minnesota. ada empat karakter di dalamnya, yaitu:

Sabrina, di serial buku ini digambarinlah si Sabrina ini abegeh yang tertarik banget sama majalah, punya banyak temen, ceplas ceplos dan terobsesi jadi aktris. Sabrina ini fisiknya kecil, mungil dan punya rambut merah keriwil-keriwil gitu. Sabrina anak keempat dari lima bersaudara yang semua saudaranya pria.

Katie, tipe abegeh sempurna yang selalu tampil rapih, punya otak cemerlang, dan paling logis. penampilannya selalu matching, kalau misalnya dia pake baju pink, maka sepatu dan bandonya juga pink. Katie ini tinggal bersama Ibu dan kakak perempuannya yang sempurna abis, namanya Emily. Tapi di tengah-tengah nanti, Ibunya Katie ini nikah sama orang Perancis tajir yang mbikin Katie punya sodara tiri.

Allison, biasa dipanggil Al. Tingginya 170 (etdaah!!). sempet ikut audisi model remaja dan diterima. dia dapet tawaran ke New York, tapi ditolak karena buat dia itu gak cocok. Al ini suku Indian aseli, sama seperti Katie, Al juga tekun kalau soal pelajaran. Hobi Al baca buku, dan Al tinggal di rumah bersama adiknya, ibu, bapak dan kakek-neneknya.

Randy, lengkapnya si Rowena Zack, tapi dia paling sebel kalau dipanggil Rowena. Abegeh tomboy yang penampilannya eksentrik. Randy ini pindahan dari New York. dan digambarkan di situ kalau Randy ini sebenernya ngerasa gak betah waktu awal-awal pindah ke Acorn Falls. dia ke mana-mana naek skateboard andalannya, Randy juga sangat menyukai musik. ia tinggal bersama Ibunya, setelah orangtuanya bercerai.

***

buku ini sebenarnya sampek 45 seri, tapi ditranslate ke Bahasa Indonesia hanya sampek 27 😥  daaaaaan…. dengan niatnya minggu lalu saya beli aja dong itu ke-27 bukunya lewat internet

27 (minus lima nomor, actually) Girl Talk by L.E Blair

awalnya ragu juga belinya, tapi saya sukak sama cerita abegeh ini, makanya diniatin beli. dan saya puas banget begitu bingkisannya nyampek tangan saya. emang buku bekas sih (gak mungkinlah yah ada yang baru kecuali dicetak ulang) secara ini buku TERNYATA pertama kali terbit itu tahun 1992.

tapi saya mengenal buku ini baru lima tahun kemudian, itu juga baca yang terakhir-terakhir. itu juga minjem. hihihihihi…

makanya pas baca ulang lagi (baru nyampek serial ke5), ada banyak perasaan bergejolak *tsah ceritane sih keinget jaman SMP. dan setelah dibaca lagi sekarang emang sih banyak hal yang akhirnya mbikin saya mikir: ‘kok bisa gini? kok si ini jadi begini? kenapa si itu nya begindang?’

banyak kritik akhirnya yang saya lontarkan. mungkin, dulu waktu pertama kali baca saya belon banyak baca buku (dan lagi, jaman dulu buku bacaan buat Abegeh kan gak banyak kek sekarang). beda ama sekarang.

buku ini, gak tahu kenapa pas banget ngegambarin gejolak muda abegeh SMP, tanpa selalu menghadirkan kisah percintaan. ya adalah yah kisah cewek cowok naksir-naksiran gitu tapi dikemas dengan cara ‘SMP’ banget. yang lucu dan polos banget gitu deh. gak ada kisah kasih asmara anak SMP yang membara. benar-benar ditulis dengan cara SMP bangets.

dan bisa loh baca serial ini berulang kali. saya curiga deh selera bacaan saya berhenti di umur remaja. secara saya tergila-gila dengan bacaan remaja. tapi…. ada tapinya loh, saya sukanya bacaan remaja jaman saya masih remaja.

kek Dear Diary- nya Randall, The Baby Sitter club, serial-serial nya Enid Blyton yang Malory Towers yang mbikin pengen sekolah di asrama, terus ada lagi yang judulnya Sweet valley High. dan jangan lupakan Lupus dan Olga-nya Hilman! semua bacaan remaja saya deh. (pssst: ngaku deh, saya mengkoleksi beberapa bacaan remaja, semacam guilty pleasure gitu kalau baca bacaan2 abegeh.. huahahahahaha)

sekarang ini saya lagi nungguin aja Girl Talk di cetak ulang. secara yah bo, Buku-bukunya Enid Blyton aja pada mulai dicetak ulang dengan sampul-sampul yang lebih colorfull. kali aja, girl talk juga begitu. walaupun bukan terbitan gramedia dulunya. tapi ngarep kan boleh. hehehehehehe.

***

nah.. kalau kawan-kawan sendiri inget gak sih bacaan pas remaja dulu apaan? yah kalau yang baca ini masih remaja, kira-kira paling suka sama buku apah?

Hah? dramaLand-nya ais ariani? itu mah bukan buku *tersipu malu*, belon jadi buku maksudnyah

:mrgreen:

***

baiklah, cukup sekian kamis manis-nya. otak saya lagi buntu buat nulis yang aneh dan benar dan lebih manis lagi. mau ngerapihin kertas-kertas dulu yak!

ada yang bantuin beresin kamar saya?

see u next post!

🙂

happy birthday Unun!!

Assalamu’alaikum, Nuwun,

Lumaraping serat punika minangka pisowan kula kekalih, ngaturi uninga bilih keparenging Gusti Ingkang Maha Asih aparing lestantun, kulo badhe gadhah khajatan palakrami (ngunduh mantu) benjing ing:

Dinten             : Ahad kliwon,

Sura kaping     : 26 Februari 2012

Wanci tabuh    :11.00 – paripurna

Panggenan      : Tumiyang RT 01 RW 03 kec. Kebasen Banyumas

Dhaup suci:

Rebo manis, 22 Februari 2012 Ing Mlipak RT 02 RW 01 Kec. Wonosobo, Wonosobo.

Nun inggih saking punika, mugi wontena berkah saking Gusti Ingkang Murbeng Gesang lan dhanganing penggalih,  panjenengan kula aturi rawuh paring pangestu dhumateng kula kekalih sumrambah ing samudyanipun.

Sedaya kekirangan ugi kalepatan kula kekalih, mawantu wantu mugi wontena lubering samudra pangaksami

Rahayu, rahayu, rahayu

Wassalamu’alaikum wr.wb

Atur pangabekti kula,

Wawan

 

ngerti gak sama kata-kata di atas? saya enggak. hahahahaha.

kata-kata itu ada di sms yang  saya terima dari Wawan atau yang sering saya panggil unun. Masih inget gak sih gerombolan C3 yang beberapa kali saya ceritakan di dramaLand ini? nah salah satu dari mereka yaitu Unun, akan melangsungkan pernikahan di hari Rabu besok.

sebenarnya kabar dia menikah memang sudah santer terdengar waktu saya ketemuan sama Budi dan Sendy bulan Agustus kemarin.

nah, beberapa minggu yang lalu si unun ini sms saya, dia bilang kalau dia mau nikah tanggal 22 Februari ini. saya ngeledekin dia habis2an, saya bilang kalau saya gak ngeliat di pelaminan dengan mata kepala sendiri, saya gak percaya dia nikah.

hahahahaha… jahat ya.

saya kenal Unun ini di kelas satu SMA, kami sama-sama ikut Kemah Bakti Bina Laksana-nya Ambalan kami. sama-sama mau jadi penegak Bantara. tapi sebenarnya jauh sebelumnya saya pernah ngeliat dia maen basket sore-sore di lapangan basket SMA kami.

kesan pertamangeliat dia: keren *gubrak* kalau anaknya baca dia bakalan ngakak sejadi-jadinya. serius. saya sempet mikir nih anak keren juga (ingat: SEMPAT MIKIR).

tapi semua itu hancur berantakan, imej cool dia luluh lantak saat kami sama-sama  jadi pengurus di Dewan Ambalan Gugus Depan SMA kami. seperti organisasi lain yang membuat sesama pengurus bertemu secara intens dan saling mengenal sifat masing-masing, begitu juga dengan saya dan si Unun ini.

saya akhirnya tahu kalau dia takut gelap gara-gata waktu itu saya dan dia serta ada satu teman kami harus di Sanggar (sekret-nya Pramuka kami) hingga larut malam. kami bertiga : dua wanita dan satu pria duduk-duduk di depan Sanggar, menanti kepulangan kawan-kawan kami yang sedang bertugas mengantar adek-adek kelas satu yang kehabisan angkot selepas pulang latihan pramuka. tiba – tiba si Unun ini bilang;

‘aduh aku pengen pipis lagi’

awalnya saya dan teman saya gak nanggepin. maksud kami, yah pipis tinggal pipis gitu kan?!? ternyata eh ternyata si Unun ini takut akan gelap sodara-sodara. dan dia MINTA DITEMENIN ke kamar mandi sama kami.

baiklah, sebagai wanita saya juga takut kalau disuruh kamar mandi sendirian. secara sekolah saya kan bangunan jaman dulu, bangunan Belanda yang punya beberapa kisah misteri. Tapi si Unun kan priaaaa. satu-satunya pria di antara kami.

itu merupakan kenangan yang gak pernah saya lupakan soal si Unun.

dulu kami ini hitungannya pejabatlah di Dewan Ambalan, saya Pradana dan si Unun ini Pemangku Adat. (bingung? lihat di sini). tapi di antara pejabat teras laen di Dewan Ambalan, saya dan dia-lah pejabat yang paling tidak bisa dipercaya. dia dengan selenge’an, cengar-cengirnya bisa jadi Pemangku Adat menggantikan mas-mas yang penuh wibawa senior kami. dan saya? saya yah dengan si anak baru yang gak tahu apa-apa soal pramuka bisa jadi Pradana, heran juga kan orang-orang.

disamping itu, kelakuan dari si Unun memang gak ada beresnya. berulang kali dia melanggar dan gak hadir saat ada latihan, atau acara-acara ambalan lainnya. saya juga heran gemana dia bisa jadi Pemangku Adat. tapi karena waktu itu pemilihan pejabat berdasarkan suara terbanyak, bisa ditebak: Unun punya syarat mutlak untuk jadi pemenang, dia punya banyak teman.

oh iyah! ada lagi keajaiban si Unun ini. dia dulu seneeeng banget sama Marshanda dan Sherina. dan suka tiba-tiba masuk ke Sanggar dengan bernyanyi lagu-lagu mereka, lengkap dengan gaya dua penyanyi (yang waktu itu masih) cilik. poko’nya enggak banget deh si unun ini sebagai sosok pria di mata saya. makanya agak malu juga ngaku pernah melekatkan imej ‘cool’ dulu.

yang lainnya adalah: sama seperti tiga temennya si Budi, Sendy dan Ferri, si Unun juga hobi cari makan gratisan. yang gratis-gratis juara lah mereka.

makanya, pas denger dia mau nikah, saya ketawa gak percaya sebenarnya (jujur aja, dulu waktu denger si Sendy, Budi dan Unun punya pacar aja saya ngakak sejadi-jadinya. ngakak gak percaya)

ya ampun… maksud saya: mereka bertiga itu kan suka heboh sendiri, suka nyari gratisan, gak mau rugi, kerjaannya maen game sama baca komik doang,dan sederet kelakuan mereka yang menurut saya gak mungkin mereka bisa punya pacar.

itulah jeleknya saya, padahal selain itu mereka adalah pria-pria cerdas yang punya ambisi. lihat saja mereka sekarang. saya-nya aja yang terlalu meng-underestimatekan mereka,

eh iyah. alasan saya menulis soal si Unun ini adalah karena dia ulang tahun hari ini. selamat ulang tahun Unun, si Pak Lurah Gaul. semoga lancar yah persiapan buat pernikahannya, nanti kami datang ke Desa Tumiyang, dan kami nantikan juga kiprahmu menjadi Bupati

:mrgreen:

happy birhday Lurah Gaul!!!

***

see u next post!

🙂

***

P.S : oh iya, ini postingan juga dalam rangka #kamisManis yak, hihihihi.

oh iya lagi, saya belum bisa BW2 nih. maap yak. ASAP kalau udah agak selo sata segera ke rumah kawan-kawan deh 🙂

 

sepuluh tahun yang lalu…

sore tadi, ada yang menarik di timeline twitter saya, tiba-tiba radio favorit saya nanya soal film Ada Apa Dengan Cinta a.k.a AADC. terus tiba-tiba saya inget deh, memang beberapa hari yang lalu sempet baca juga kalau AADC bakal di puter ulang di Blitz mana gitu… gak digagas juga, hlah wong acaranya di Ibu Kota, dan saya masih aman damai sentosa di Jogjakarta berhati nyaman ini.

naaah… inget AADC, pasti bakalan inget jaman SMA. kalau tahun ini adalah 10 tahun AADC, dapat dipastikan juga sudah sepuluh tahun yang lalu juga saya jadi anak SMA (ketahuan dah tuanya). jadi saya nonton AADC itu dan sempet kena demam sepatu gosh – kaos kaki panjang – tas plastik gede – puisi – punya geng yang isinya cewek2 – perpustakaan cinta. sempetlah kalau ke studio musik itu latihan bandnya adalah lagu Ku Bahagia-nya Melly Goeslaw.

naaaah… pas saya baca twitnya @pandji

tiba-tiba saya dapet ide buat #kamisManis saya. kenapa gak nulis soal AADC? itu film kan memang film yang menurut saya fenomenal, dan bener kata Pandji: itu adalah film penanda generasi. terus saya nanya sama si kawan saya; eh AADC tuh menurut kamu film bisa disebut penanda generasi kagak?

dan dia pun menjawab: bisa.

dan memang bener, film itu benar-benar menggambarkan generasi saya waktu SMA: belon ada FB, belon ada twitter, belon ada laptop di pergaulan kami. kalau HP udah ada, tetapi belon mewabah kek sekarang. dan fungsi hp masih buat sms dan telpon doang, dan itu juga dieman-eman banget, mahal bo pulsanya

dan itulah masa SMA generasi kami: geng, buku curhat, mading, ngedate ke toko buku, apalagi?

baiklah, mari saya ceritakan situasi saat menonton AADC sepuluh tahun yang lalu

***

waktu itu tahun 2002, saya masih duduk di bangku SMA. janjian nonton AADC sama temen-temen sekelas. waktu itu janjiannya adalah: salah satu temen saya yang diem-diem saya gebet ngejemput saya dan si sahabat di kostan saya. as usual (ternyata tabiat ini udah ada dari SMA) saya telat. jadi si temen yang diem-diem saya gebet udah dateng di kost, saya masih melanglangbuana di luar, lupa waktu itu saya kemana, apa ke salon dulu apa kemana dulu gak tahu. hahahahaha.

nah, barengan lah kita bertiga ke bioskop satu-satunya di kota satria: Rajawali. Bukan 21 loh. cuman bioskop. nyampek di parkiran, saya liat parkiran rame banget. untungnya nih, saya udah titip tiket sama temen-temen yang laen yang mau nonton. tapi sangking ramenya, kami dapet yang pertunjukan yang terakhir. saya bosen nunggu, terus saya bilang sama temen saya: saya mau nyari cemilan dulu ke Moro, pasar swalayan yang ada di deket situ. saya dan sahabat saya berboncengan ke Moro. baru pilih-pilih cemilan, saya di sms (nah! ternyata waktu itu saya udah punya HP!): filmnya udah mau mulai. saya tunganglanggang ngebut balik ke bioskop. passs banget film AADC nya mulai.

dan mari saya kopikan dari buku harian saya waktu itu:

.. eh iya! elo tahu gak Ry kemaren malem alias malem minggu, gw nonton AADC, barengan sama anak-anak II-9. yang cowok semua gitu, cewe’nya cuman gw sama Fajar. Terus… filmnya yang mendukung gw banget bwat nangis. Settingnya Kelapa Gading gitu, ceritanya tentang persahabatan dan perpisahan. Gw yang kangen sama rumah, gw yang takut perpisahan gw sama E***n (nama gebetan), gw yang lagi butuh temen, gw yang lagi miss banget ama suasana Jakarta. Nangis deh gw. Tapi ditahan gitu. Abis sebelah gw F***d (nama gebetan lain, ini yang ngejemput di rumah).

udah segitu aja, sisanya terlalu menggelikan buat ditulis ulang di sini. hahahahaha… hlah itu bisa nulis dua nama gebetan dalam satu paragraf udah cukup memalukan, padahal yang satunya itu ujung-ujungnya sekarang jadi temen banget, apa gak geli saya pernah nulis nama dia dalam kapasitas romantis kek gitu… (apalagi baca lanjutannya, betapa saya merindukan perhatian dari si F***d ini *euuuuu…)

dan di beberapa halaman buku harian berikutnya saya menemukan tulisan saya sendiri yang ini

Kulari ke hutan kemudian menyanyiku

Kulari ke pantai kemudian teriakku

Sepi… sepi dan sendiri aku benci

Ingin bingar aku mau dipasar

Bosan aku dengan penat

Enyah saja engkau pekat

Seperti berjelaga jika kusendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai

Biar mengaduh sampai gaduh

Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang ditembok keraton putih

Kenapa tak goyangkan saja loncengnya biar terdera

Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai

 

puisi itu puisi yang menang lomba puisi di sekolahnya Cinta, yang bikin si Rangga (aselinya yang bikin siapa yak? kagak tahu juga saya dan lagi kumat malesnya ngegugling). dan saya jatuh hati sama puisi itu (sama seperti jutaan penonton lain, mungkin), makanya saya tulis itu di buku harian saya.

kenangan dari AADC lainnya adalah: duit gaji pertama saya pas jadi penyiar muda di radio dulu, saya pake buat beli kaset (iye.. masih koleksi kaset saya dulu) O.S.T nya AADC ini.

ini film Indonesia yang juara banget deh memorinya buat saya, entah udah berapa kali saya nonton film ini, mendengarkan soundtracknya, berulang-ulang kali, hingga hafal beberapa potong dialognya. tapi dialog yang paling melekat adalah:

Nah, sekarang kalo lo ngerasa aneh di tempat-tempat ramai kayak gini, tu salah siapa? Sekarang gue tanya, salah gue? Terus, kalau lo sekarang nggak punya temen sama sekali kayak sekarang itu salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue? salah gue?

sebenernya dialognya panjang yah si Cinta ini pas ngomong ini. kalau gak salah, dia kesel banget sama si Rangga karena dibilang ga prinsipil, cuman gara-gara dia mau nonton band bareng-bareng dan harus ngorbanin waktu dia dan Rangga di Kwitang. dan ini ampek sekarang selalu jadi semacam tagline saya dan temen-temen kalau lagi curhat atau ngobrol, terus kalau ada yang ngomong; ‘menurut lo, ini salah siapa coba?’

ada hukum tidak tertulis di antara kami buat nyaut: ‘salah gue? salah temen-temen gue??’

dan untuk urusan soundtrack jangan ditanya lah ya.. walaupun kata galau belon mewabah seperti sekarang, tapi denting-nya Melly dan Tentang Seseorang-nya Anda adalah lagu wajib galau buat saya. mendadak galau lah kalau denger lagu itu.

dan begitulah kenangan saya dengan AADC, yang kalau dilanjutin bisa satu kabupaten ini mah.

bagaimana kamu? kenangan apa yang kamu punya dengan AADC?

mendadak pengen manjangin rambut? mendadak pengen jadi pacarnya Nicholas Saputra? mendadak jadi puitis? atau… ??

***

see u next post!

 

harlem beat

ini kamis perdana sodara-sodara. kamis perdana di bulan februari maksude. eh ini cuman perasaan saya aja, atau gemana yah… sebelum memutuskan menggunakan nama kamisManis buat postingan bertema saya, saya punya rasa sendiri sama hari kamis.

saya selalu merasa yang namanya kamis itu romantis. hari mana lagi coba yang bisa se rima dengan kata romantis selain hari kamis?

hahahhaha. ah sudahlah yah, gak usah diperdebatkan lah yah masalah manis-manisan ini. yang jelas saya masih manis-manis aja kok *hloh?!?

bulan Februari itu… identik sama bulan cinta yak? iya gak sih? ah buat saya mah tiap bulan bulan untuk jatuh cinta, menikmati rasa. tapi bulan februari memang spesial, karena ada dua orang yang ulang tahun di bulan ini. dua orang yang special. dulu.

:mrgreen:

baiklah… baiklah.. daripada obrolan ini kemana-mana dan sampai lewat nih hari kamis, bisa gagal kan kamis manis-nya.

***

Harlem Beat. ini judul komik. komik yang saya baca jaman SMA kalau gak salah. komik soal basket gitu. saya jarang beli komik. kenapa? Karena saya orangnya kikir; gak mau rugi. beli komik harganya lumayan. tapi habisnya cepet. kecuali untuk komik yang sukak banget, saya jarang banget beli komik.

paling detektif conan sama hai miiko.

nah…. khusus harlem beat ini saya bacanya gak minjem. gak minjem dari temen maksudnya, minjemnya dari taman bacaan. satu komik gopek (dulu loh… sekarang mah satu komik 1200 kalau gak salah).

terus kenapa komik itu saya tulis di sini? karena ada masanya saya tergila-gila banget sama komik ini.  apalagi sama tokoh Sawamura. beeeuuuhh sampek berkhayal saya kalau dia itu tokoh nyata yang bisa saya temuin di sekolah.

nah, gara-gara komik ini juga jaman SMA saya ngebet jadi anak basket. dengan tujuan bisa se keren Mizuki. dan sekalian kali aja ada yang bisa digebet, yang se ‘cool’ Sawamura. hahahahaha…

(yang pada kenyataannya adalah: saya sempet masuk jadi tim inti basket sebelum akhirnya dicoret dari tim. kemudian si senior cool yang bernama d*m*s ternyata temennya kakak saya yang gak mungkin banget digebet, gigit jari deh mewujudkan kehidupan komik di kehidupan nyata saya)

komik harlem beat ini edisinya sampek 29 kalau gak salah, dan ada satu part di seri 29 yang membekas banget buat saya, hingga saya menulisnya di buku harian saya

Suatu saat nanti… akan tiba waktunya, saat masa muda itu berlalu menjadi kenangan.

Namun… perasaan dan impian di masa muda itu tak kan hilang,

walaupun tertimbun di dalam kesibukan sehari-hari yang padat,

ia akan terus bersinar di suatu tempat yang istimewa di hati kita.

Jadi, janganlah kamu melupakannya. di dalam dirimu ada batu yang akan selalu bercahaya, dan kalau kamu merentangkan tangan, ia pasti akan selalu memberimu kekuatan.

di saat hari esok tidak terlihat, ia akan menjadi obor yang menunjukkan jalan.

 

***

cukup sekian kamis manis minggu ini. masih kurang manis? buka FB saya deh, pandangi foto saya di situ. hihihihihihi…

see u next post 🙂