Non scholae, sed vitae discimus

beberapa bulan yang lalu saya mendapat panggilan untuk tes menjadi guru di salah satu sekolah Yayasan Islam di daerah Purwokerto. Tapi karena satu dan lain hal saya tidak bisa memenuhi panggilan itu. Saya memang sudah sejak lama tertarik menjadi guru, seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya di tulisan ini, oleh karena itu saat memutuskan untuk menuliskan tugas akhir pun, saya menuliskan mengenai pendidikan.

kenapa pendidikan? dan kenapa guru?

itu merupakan sebuah penjabaran yang cukup panjang hingga akhirnya saya memutuskan menulis tugas akhir mengenai guru beberapa tahun yang lalu. saya percaya, bahwa akar permasalahan yang ada di Indonesia baik itu terkait dengan carut marut sistem, korupsi di mana-mana, kemudian kekerasan yang marak terjadi, belum lagi permasalahan-permasalahan kriminal yang seringkali menghiasi media itu berasalmula dari pendidikan.

saya pernah mendengar guru sejarah saya berkata saat saya SMP, pada saat Jepang dibom pada tahun 1945, yang pemerintah Jepang tanyakan pertama kali adalah berapa  jumlah guru yang tersisa, bukan jumlah pangkalan militer yang masih berfungsi, tetapi jumlah guru yang tersisa. dan lihatlah majunya Jepang saat ini. Dan ingatkah cerita saat negara tetangga kita; Malaysia ‘meminjam’ guru-guru kita untuk mengajar masyarakat Malaysia? dan Malaysia berdasarkan Education Development Index (EDI) dalam Education For All Global Monitoring Report 2011 yang dikeluarkan oleh UNESCO menempati posisi 65, sedangkan Indonesia menempati posisi 69.

hingga saat ini sayapun meyakini bahwa untuk memperbaiki kekacauan yang terjadi di negara ini adalah mengutamakan pendidikan. saya selalu dan selalu dan selalu menunggu pemimpin yang bisa lebih concern membicarakan pendidikan dengan sangat baik. tapi yang saya pahami hingga sejauh ini perhatian pemerintah terhadap pendidikan memang sudah cukup baik. ini mungkin loh jikalau melihat alokasi anggaran untuk pendidikan dalam APBN yang meningkat.

Sudah cukup baik, tapi belum CUKUP untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita. Pernah mendengar mengenai sekolah yang ditutup? Pernah mendengar mengenai sekolah yang kekurangan murid (pernah Is! di film Laskar Pelangi!)? Pernah mendengar kasus tawuran? Pernah mendengar kasus bullying?

Baru-baru ini sepupu saya, Alya bercerita kepada ibunya bahwa ia tidak mendapatkan teman di sekolah barunya, dan teman-temannya membicarakan kejelekannya di depan ia. dan tidak jarang ia malas berangkat ke sekolah. bukan hanya karena teman-temannya itu, tetapi juga karena begitu banyak tugas yang dibebankan kepadanya. Inilah yang dari dulu selalu menjadi perhatian saya; kenapa anak menjadi malas sekolah? Kenapa belajar di sekolah menjadi sesuatu yang membosankan? Hayo ngacung yang mengalami masa-masa males sekolah dan sering mbolos? *cung!!

Padahal jika kita melihat, bukankah rasa ingin tahu itu merupakan salah satu  naluri dasar manusia juga? Keponakan saya si Zi itu rasa ingin tahunya besar sekali walaupun umurnya baru dua setengah tahun. Kalau dia tidak mengerti akan suatu hal, ia akan bertanya kepada Papa-Mamanya, ia menjadi sangat kritis. Pertanyaan “Papa lagi apa?” akan berlanjut hingga “Sholat itu apa?” (Walaupun curiga juga dia mungkin gak paham sama apa yang dia tanyakan! Hahahaha..)

Pernahkah kawan-kawan melihat ada anak balita yang baru belajar merangkak ia akan merangkak menuju objek baru yang menarik perhatiannya dan memasukkannya ke dalam mulut? Anak itu lagi berusaha mengenali, berusaha mencaritahu mengenai sesuatu. Dan anak akan terus begitu, bukankah? Selalu berusaha mencari tahu apa yang tidak ia ketahui.

Bagaimana dengan kita? Dengan orang dewasa? Kapan terakhir kali memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap sesuatu? Bukan penasaran sama gebetan yah :mrgreen: Saking pengen tahunya sampek kita duduk membuka buku dan membaca. Atau membuka laptop untuk mencaritahu. Kapan? Saya sudah lupa.

Kenapa rasa ingin tahu kita bisa mati? Yang saya dapati sampai saya menginjak bangku SMA, pendidikan di Indonesia menganut apa yang menurut Freire (dalam William O’neil, 2001) sebut dengan pendidikan gaya bank. Istilah tersebut digunakan untuk sistem pendidikan yang menjadikan guru sebagai subjek, yang memiliki pengetahuan yang diisikan kepada murid. Murid adalah wadah atau suatu tempat deposit belaka. Dalam proses belajar itu, murid semata–mata merupakan objek. Murid–murid banyak mencatat, menghapal, tanpa mengerti dengan baik maksud dari bahan–bahan yang diberikan oleh guru.

Yang terjadi bukanlah proses komunikasi, tetapi guru menyampaikan pernyataan–pernyataan dan mengisi tabungan yang diterima, dihafal dan diulang dengan baik dan patuh oleh para murid. Inilah konsep pendidikan gaya bank, dimana ruang gerak yang disediakan bagi kegiatan para murid hanya terbatas pada menerima, mencatat, dan menyimpan.

Bukankah pendidikan seperti itu yang kebanyakan diterima oleh kita sebagai warga negara Indonesia? Dan dalam pandangan saya, pendidikan seperti itulah yang mematikan rasa ingin tahu kita. Kenapa? Karena terkadang kita mempelajari apa yang TIDAK KITA BUTUHKAN, serta APA YANG TIDAK KITA INGINKAN.

Saya mengagumi model pendidikan yang diusung oleh Paulo Freire seorang filsuf pendidikan, yaitu model pendidikan yang membebaskan yang merupakan kebalikan dari model pendidikan gaya bank. Guru, dalam pandangan Freire tidak hanya menjadi tenaga pengajar yang memberi instruksi kepada anak didik, tetapi mereka harus menjalani peran sebagai orang yang mengajar dirinya melalui dialog dengan para murid, yang pada gilirannya di samping diajar mereka juga mengajar.

Itu adalah hal pertama yang harus ditanamkan di hati guru-guru, bahwa mendidik itu bukan hanya sekedar transfer ilmu pengetahuan.

Kemudian, hal yang berperan lagi adalah: kurikulum. Sistem kurikulum di Indonesia memang sedang berkembang mencari pola yang bagus. Dan satu hal yang harusnya menjadi pegangan para penyusun kurikulum adalah: kurikulum itu bukanlah subjek utama dalam pendidikan. Subjek utama pendidikan itu adalah peserta didikkan? Jadi yang harus menjadi perhatian utama adalah bagaimana kurikulum menyesuaikan dengan peserta didik. Bukannya: peserta didik yang menyesuaikan kurikulum.

Kedengeran sulit? Oleh karena itu, pemerintah butuh dukungan semua lapisan masyarakat untuk menyadari bahwa pendidikan merupakan pilar utama dalam membentuk karakter masyarakat itu sendiri. Pendidikan itu penting, tapi perlu diingat bahwa pemerintah dan guru serta sekolah bukanlah pihak yang bersebrangan dalam dunia pendidikan, kita harus berada di tim yang sama untuk memajukan pendidikan di Indonesia, mungkin salah satu caranya dengan ikutan lomba blog  seperti ini. hahahahhahaha… setidaknya dengan ini kita paham dan mengerti seberapa penting pendidikan di dalam membentuk karakter bangsa.

Non scholae, sed vitae discimus.

[*Kita belajar bukan untuk sekolah melainkan untuk hidup]

***

daftar pustaka :

O’neil, William F. 2001.  Ideologi-Ideologi Pendidikan. Yogyakarta; Pustaka Pelajar.

 

Advertisements

cerita yang belum sempat diceritakan

hai!

Selamat pagi, siang, sore, atau malam :mrgreen:

Hehehehehehe. Bagaimana kabar kawan-kawan semua? kabar saya luar biasa. luar biasa capek *gelosoran di lantai*

bagaimana tidak? dalam kurung waktu empat hari terakhir saya melintas ke tiga benua (hadeh mulai lebay deh….) padahal yang dimaksud cuman tiga propinsi; dari Jogja – Jakarta – Pekanbaru – Jakarta lagi. itu semua ditempuh dengan status saya sebagai pengangguran gembira!

well, seperti yang disinggung di postingan sebelumnya: saya ini officially pengangguran. benar-benar pengangguran, karena ktm udah gak punya (diganti dengan kartu alumni), status kemahasiswaan saya juga udah gak diakui sama Universitas (diganti dengan ijazah), jadi benar – benar deh saya ini pengangguran.

and please welcome da new me: wanita dua puluhan.  single.  jobless.

tapi kedatangan saya di panggung sandiwara ini belum akan menceritakan derita sarjana pengangguran macam saya ini (did I said ‘derita’?!? padahal yang saya rasakan justru bersenang-senang!!! hahahahahaha…), karena saya mau menceritakan hari kelulusan saya beberapa minggu yang lalu (seperti yang dijanjikan di postingan sebelumnya)

***

Rabu, 25 April 2012

hari dimulai dengan celotehan Zi, ponakan saya yang tidur bareng saya malem itu. jam menunjukkan pukul 04.45. saya loncat. karena saya punya janji dengan Mbak Aan (perias yang saya kontak berkat rekomendasi Nandini) pukul lima kurang. dan benar saja… ternyata gak berapa lama Mbak Aan ternyata sudah menelpon dan memberitahu bahwa ia sudah ada di depan. gedebukanlah saya mandi, sambil meminta Mbak Aan menempatkan diri dimanapun ia bisa menempatkan diri (heleh.. bosomu cah!). kelar mandi, saya diminta Mbak Aan untuk tiduran. ya ampuuun… perias ini memang juara! sudahlah ia yang mendatangi saya sehingga saya tidak perlu mengantri di salon, ia juga merias saya yang dalam posisi tidur.

dan …. ia merias saya dengan cekatan sekali. rasanya sebentar dan tidak terlalu banyak ‘dempul’ yang ia tempel di wajah saya. begitu ngaca saya spechless. muka bantal saya gak keliatan lagi! berganti wanita cantik bergaya india (itu yang dibilang Mbak Aan, katanya habis didandanin muka saya kek gadis india. Gak apa-apalah, masih mending daripada dikira gadis dari Mars!).

Kelar dandan dan masang toga, masih jam setengah enam. di luar masih gelap. mau jalan ke kampus juga niat banget… yang ada nanti disuruh bantuin petugas buat ngusung2 papan.  ya udah saya maenan dulu sama si Zi (yang ngeliat takjub ke no’anya yang full makeup).

Akhirnya setelah puas maen, puas foto-foto, puas teriak-teriak ke Adek saya yang tampan mempesona, saya berangkat dianterin adek saya itu. Sesampainya di GSP, saya meluncur mencari tulisan Fakultas Psikologi, karena sesuai dengan arahan protokoler kemaren, calon wisudawan harus tandatangan dulu biar nanti dapet ijazah dan namanya dipanggil di atas panggung.  Saya merasa dejavu, karena inget tiga tahun yang lalu pernah mengalaminya, separuh gak nyangka juga akhirnya mengalaminya lagi, dengan nilai yang jauh lebih baik, toga yang berbeda, dan teman-teman yang juga berbeda. Euforianya mulai kerasa begitu ketemu temen – temen yang lain. kami dari fakultas psikologi terdiri dari dua kelompok yaitu temen – temen dari Magister Profesi (ini yang begitu diwisuda menjadi psikolog) dan kami yang dari Magister Psikologi (dulu namanya Magister Psikologi Sains, namun sejak beberapa bulan yang lalu dirubah menjadi Magister Psikologi).

Heboh foto – foto dan hahaha hihihi bareng temen-temen yang diwisuda bareng, tidak lupa mematri kenangan bersama si Ranger Hitam, sparing partner nomor satu saya :

me and ranger hitam

 

Yup…. dia lah partner saya di kampus. dari awal kuliah, saya bareng dia terus dan akhirnya bisa wisuda bareng, saya seneng bangeeeet. karena cuman dia-lah yang berhasil saya barengi kelulusannya diantara gerombolan power rangers yang laen.

dan setelah dilihat-lihat, momen kebersamaan kami banyak sekali selama dua tahun ini… hiks… aduh jadi terharu kan harus pisah sama penggemar berat Agnes Monica dan Budi Do Re Mi ini. Maka melalui tulisan ini saya menyampaikan terimakasih yang mendalam buat Ranger Hitam: Demput Raharja (bukan nama sebenarnya), yang tiada pernah lelah ngingetin saya soal tugas-tugas, yang selalu bersedia jadi kawan sekelompok tiap ada tugas, yang selalu bersedia saya contek tugas-tugasnya (iiih.. mendadak sentimentil deh ah!).

look that silly face!

udah ahhh lanjut ke acara wisudaan aja. sekitar pukull setengah delapan, setelah kami puas foto-foto (bosan tepatnya, bukan puas!) akhirnya kami disuruh baris mengikuti nomor presensi yang tersedia saat kami tandatangan, dan mulai memasuki  GSP. daaaan…. berkat teman-teman saya yang super duper, saya berhasil membawa masuk rombongan sirkus saya yang jumlahnya lima orang untuk masuk menjadi pendamping (padahal aselinya masing – masing wisudawan hanya boleh membawa dua orang pendamping. hahahahahaha…).

seremonial acara berlangsung lumayan lama (ya iyalah ya… secara memanggil 1209 nama!! ).

terdiri dari pemanggilan lulusan doktor (iya, yang lulus S3 dipanggil satu – satu dan FYI aja, periode ini psikologi belum meluluskan doktor), kemudian pemanggilan wakil fakultas, kemudian menyanyikan hymne Gadjah Mada (terharu berat nyanyi lagu ini!), terus ada penyerahan ijazah (diserahkan oleh dekan masing – masing fakultas), kemudian pembacaan janji alumni (ow em ji, namanya aja saya lupa!), sambutan dari wakil wisudawan (yang diwakili oleh kawan saya dari fakultas psikologi yang IPK 4! FYI, yang memberikan sambutan ini  merupakan kakak tingkat saya di jurusan dan sering menulis untuk koran, gak heran bahasa yang digunakan puitis sekaliii) dan sambutan dari rektor.

setelah kelar acara di GSP, masing – masing fakultas ada yang memiliki acara di kampus masing – masing. kalau di Fakultas Psikologi, acara pelepasan dipusatkan di gedung G100, aula paling owkeynya kampus saya. Dan bapak saya menjadi wakil orangtua lulusan; dipilih buat memberikan sambutan. acara di fakultas berlangsung singkat, karena hanya menjadi ajang pelepasan bagi 47 wisudawan dan pengucapan sumpah profesi bagi kawan – kawan Magister Profesi.

selesai dua acara tersebut, saya dan keluarga (yup, rombongan sirkus!) beranjak ke studio foto di daerah jalan solo, untuk foto studio. sayang disayang… saat tulisan ini diturunkan, saya belum sempet ngeliat itu fotonya gemanah hasilnya; karena saya keburu minggat ke Jakarta, karena duit jajan saya habis :mrgreen:

menutup rangkaian acara hari Rabu itu, saya dan kawan – kawan serta rombongan sirkus mengadakan acara makan malam bersama di rumah makan di daerah Jalan Palagan.

well, begitulah rangkaian acara wisuda saya. daaaan…. untuk menutup tulisan ini, saya akan memberikan sedikit tips untuk menghadapi hari wisuda. percayalah…. wisuda itu memang gak seribet ngurusin nikah, tapi cukup bikin kepala berkerut – kerut.

Tips menghadapi wisuda

  1. Persiapkan kendaraan dan supir. ini penting. apalagi buat kamu yang cewek. gak mungkin kamu nyetir mobil pake kaen dan bolak balik nganterin keluarga kamu. apalagi biasanya kalau wisuda itu yang diwisuda harus datang lebih awal.
  2. Undangan. Biasanya, buat masuk ke tempat upacara wisuda, kudu ada undangan. jangan sampai ortu kamu yang udah dandan gak bisa masuk gara-gara anaknya teledor gak ngambilin undangan buat ortu.
  3. Ga usah sibuk mikirin PW atau pendamping wisuda. karena PW yang dikenal umum adalah kekasih atau suami atau calon, bagi yang masih single kek saya dan gak jelas siapa calonnya, mendingan gak usah asal comot cowok deh, kasihan besok – besok kalau liat foto wisuda dan mengernyitkan dahi dengan cowok yang ada di sebelah kamu! Dan didampingi oleh kedua orangtua adalah anugerah besar! Believe me, melihat kedua orangtua tersenyum sumringah atas pencapaian anaknya merupakan hal yang sangat amat berharga.
  4. Booking studio. buat foto wisuda. ini penting loh. kamu gak tiap tahun diwisuda. dan gak tiap hari pake toga. pilih studio foto yang sesuai karakter kamu. mau yang seriusan dengan real set, atau foto – foto gokil dengan fotografer ceria, pilih aja. dan jangan lupa tanya soal harga, beberapa studio foto menyediakan paket khusus untuk wisuda. survey dan booking dari jauh hari.
  5. buat cewek, jangan lupa booking salon. atau mau merias sendiri? Gak masalah (jangan lupa pake wtarproof mascara, takut nangis cyiiin…..!).  That’s your day!
  6. Ngomongin soal ‘your day’, don’t let anyone makes you upset on that day. percaya deh, bakal banyak banget yang harus diurusin dan dipikirin di hari itu, ngurus jemput sodara yang ini, sodara yang itu tidur di mana, nanti parkir mobil di mana, dan pasti bakal ada beberapa rencana yang gagal, tapi jangan biarkan semua itu menghancurkan hari kamu, bergembiralah dan bersenang – senanglah.
  7. Nyatakan perasaan kamu ke gebetan kamu. eh jangan ketawa. ini serius. karena, kan udah ga mungkin ketemu – ketemu lagi tuh…  dinyatakan aja perasaanmu. paling apes ditolak, toh habis itu gak ketemu lagi. atau mau lebih apes kek saya? yang belum menyatakan tapi udah ditolak?? *dueer…

hahahahahaha… cukup sekian tulisan come back-nya saya. next time saya lanjut deh. beneran!

see u next post! :mrgreen:

***

ps: ada yang mau nerima saya sebagai karyawan? atau ada yang mau saya titipin CV? atau ada yang bersedia jadi mertua saya? *HLAH?!?!

adaptable, bukan adaptor

Hidup ini merupakan sebuah proses adaptasi yang tidak berkesudahan. Hal ini saya sadari saat melihat anak dari sepupu saya yang berumur enam tahun (anaknya, bukan sepupu saya yang umurnya enam tahun), sedang bermain pasir di depan rumah tetangganya. Padahal di rumahnya sedang ada hajatan besar, si Bude dari anak itu menikah. Semua orang sibuk, keadaaan hiruk pikuk dan mungkin anak ini tersingkirkan. Bisa karena itu ia bermain pasir di luar, atau bisa juga karena kehadiran sodaranya, anak dari Budenya yang lain yang baru berumur dua bulan. ia tersingkirkan. hanya itu yang saya pahami,

Padahal beberapa tahun yang lalu ia adalah pusat dunia di sekitarnya. Bude- budenya, Uti dan Opa nya, semua ‘menanggap’ ia. Ia adalah matahari, dan Bude-Bude, Opa-Uti dan yang lain adalah planet-planet yang mengitarinya.

Setelah menemukan ia bermain pasir di rumah tetangga dengan baju pesta itu, saya menyadarinya bahwa saya juga pernah ada di posisi itu. Pernah menjadi pusat dunia dari orangtua saya saat saya lulus S1 tiga tahun lalu, namun beberapa saat kemudian lenyap karena hamilnya Kakak Ipar, calon cucu pertama di dalam keluarga. Dan kehadiran saya makin lenyap setelah si kecil Zi lahir. Zi adalah pusat dunia dari orangtua saya.

Saya beberapa kali berulah menarik perhatian orangtua saya saat itu, tapi tetap saja dunia mereka berputar di  Zi.

Dan sekarang mungkin saya sedang menjadi pusat dunia mereka. saya mau wisuda. saya lulus. anak mereka yang pertama kali meraih gelar master (masterchef kaliii). Saya tahu beberapa saat pusat dunia keluarga ini adalah Kakak saya, yang dipindahtugaskan ke Pekanbaru dengan gaji yang cukup besar. Ouch…. dan saya pengangguran. dan single ting ting yang belum punya ‘calon’ buat digandeng.

jadi pusat dunia mereka juga pastinya, someday. but in different way.

kenyataan itu membuat saya galau berkepanjangan dan resah serta gelisah tak berkesudahan (yeah sampai saat ini). Ya ampuuun… gue udah lulus. Ya ampuuun… gue bukan mahasiswa lagi. Ya ampuuun kalau ada yang nanya-nanya soal kuliah terus gue gak bisa jawab gemana dong? Kalau gue ketahuan begonya gemana dong? Kalau gue ngomong bahasa inggris belepotan gemana dong? bedanya Plato ama Socrates apaan? bedanya fenomenologisnya Russel sama Heidegger apaan? err…. Ibnu Sina itu dokter bukan? err… bedanya Maslow sama Roger apaan? tahap perkembangan dari teori psikoanalisa itu apa aja?  PERFECT itu kepanjangan dari apa? Reliabilitas sama Validitas apa bedanya dalam mengukur Performance karyawan?  eh ya ampuun… gue make alat tes aja kagak bisa!!!!

Rasanya pengen banget membalikkan waktu ke usia awal dua puluhan, di saat tuntutan dari lingkungan sekitar masih belum begitu banyak.

Lalu tiba-tiba saya sadar; (persis saat melihat si anak kecil bermain pasir itu) hei… hidup ini proses. dan di dalam sebuah proses itu ada perubahan, dan dalam perubahan itu kita harus beradaptasi bukankah?

Jika hidup ini adalah proses yang berubah terus menerus, maka kita harus bisa beradaptasi terhadap semua perubahan itu. Kita harus adaptable terhadap ini semua.

saat balita, kita harus beradaptasi dari bayi ke balita. lalu setelah itu kita harus beradaptasi ke masa anak-anak awal, anak-anak tengah, anak-anak akhir lalu masuk ke remaja awal, remaja tengah, dan seterusnya. itu jika dilihat hanya dalam kacamata tahap perkembangan. belum dengan peran kita yang tadinya jadi anak bungsu eh tiba-tiba adek lahir. tadinya jadi anak es de, eh jadi anak es em pe. tadinya anak sekolahan jadi mahasiswa. dan masih banyak lagi…

itu semua adalah suatu kemutlakan yang harus dihadapi.

Kita berpindah dari satu proses ke proses yang lain, dari satu peran ke peran yang lain, dari satu masalah ke masalah yang lain. Kita manusia dirancang sempurna untuk semua proses ini.

Lalu saya berkata pada diri saya sendiri: semua orang punya berbagai cara untuk beradaptasi. Si anak kecil yang bermain pasir mungkin caranya adalah menyingkir dari keramaian dan menemukan permainannya sendiri yang mengasyikkan dan nyaman bagi dirinya. tugas saya saat ini adalah mencari cara untuk beradaptasi dengan proses perubahan yang sedang terjadi dalam hidup saya seraya meyakinkan diri sendiri bahwa saya juga merupakan makhluk Tuhan yang memiliki proses adaptasi yang begitu hebat untuk bisa ada di titik ini sekarang.  dan, tidak lupa satu hal penting: bahwa tiap proses adaptasi ada proses belajar di dalamnya. karena pada dasarnya manusia adalah makhluk pembelajar.

Seperti kata seorang sahabat, Tuhan tidak pernah bermain dadu dengan alam semesta, termasuk dengan makhluk ciptaanNya.

29 Februariku yang istimewah

iyah, iyah.. saya tahu dan paham, ini bukan tanggal 29 Februari lagi. bahkan udah lewat dua hari. tapi bolehlah saya menulis sedikit banyak soal istimewanya 29 Februari kemarin. eheemmm.. eheemmm.. *mbersihin tenggorokan*

jadi begini, tanggal 29 Februari kemarin merupakan tanggal yang penting banget buat karir kemahasiswaan saya yang udah berlangsung lama ini *tsaah. yang sekian lama saya jadikan kambing hitam atas kemalasan saya nulis (berarti besok harus cari kambing hitam lain nih!) telah berakhir dipertahankan di meja ruang ujian Tugas Akhir saya.

haduh..haduh.. jadi bingung mau cerita dari manah :mrgreen:

***

Pagi itu, di hari terakhir bulan Februari itu, saya terbangun pukul tujuh pagi. dengan suara Mamah dan adek saya yang sibuk mengobrol soal sarapan dan pompa air. Iyah, sehari sebelumnya Mamah saya sengaja datang ke Jogja untuk memberikan dukungan untuk saya yang mau ‘bertempur’ di ruang ujian.

Saat bangun itu di kepala saya terlintas; ‘today!! today is the day!’ hari yang sudah saya tunggu-tunggu dari tiga tahun lalu. hari di mana saya menaruh harapan besar. hari di mana demi hari itu, saya jungkir balik. saya panik. bengong. Power point yang sudah saya siapkan dari beberapa hari yang lalu saya buka, saya pelototin. saya elus-elus itu tesis yang udah beberapa hari saya jadikan teman tidur yang setia.

ditawarin makan ogah, disuruh mandi diem, disuruh naekin aer bengong.

sempurna sudah gugup saya pagi itu saat Mamah saya menyampaikan doa yang dikirim oleh sodara-sodara saya via SMS, ke nomor Mamah saya. banyak sekali yang tahu kalau saya mau Ujian Tesis. belum lagi si Ranger Hitam yang pagi-pagi sms menanyakan; ‘sudah siapkah Anda?’

rasanya pengen ngumpet di ketek Mamah :mrgreen:

Lepas Dzuhur, saya pamit sama Mamah dan Adek saya. saya mencium tangan Mamah lebih lama dari biasa, memohon restu. Anakmu ini mau mempertahankan apa yang sudah ditulisnya selama beberapa bulan terakhir.

sepanjang perjalanan dari Kayen ke Kampus, mulut saya gak berhenti komat-kamit. mengucap doa apa saja yang bisa terucap.

sesampainya di kampus, saya meluncur menuju gedung A. masuk ke ruangan yang dimaksud, dan bertemu dengan Mbak Us, pegawai kampus yang banyak sekali membantu saya dalam urusan Administrasi per Tesis-an ini.

setelah dikasih wejangan-wejangan soal laptop, AC dan sebagainya, saya mempersiapkan diri, menyiapkan power point, mengeluarkan berkas-berkas yang dibutukan, lagi asik komat-kamit mengingat materi, pintu dibuka. Si Ranger Hitam, partner setia saya di kampus nongol. Nanya-nanya soal kesiapan saya. Kami mengobrol soal baju yang saya pakai hari itu (baju baru bok! diskon 50% di Malioboro Mall), soal slide presentasi, soal jadwal Ujian dia. dan lagi asik menjelaskan soal slide presentasi, tiba-tiba pintu terbuka, dan satu dosen yang akan menguji saya masuk.

jadi, Ujian Tesis saya itu ada tiga dosen di dalam ruangan. dua dosen penguji, satu dosen pembimbing.

singkat cerita, saya diharuskan mempresentasikan tugas akhir saya. dan mulailah saya presentasi dengan TIGA KALI INTERUPSI dari dosen-dosen tercinta. buyar. gugupnya semakin menjadi. Apalagi setelah selesai presentasi, diajukan beberapa pertanyaan yang membuat saya melongo beberapa detik dan tersenyum pasrah gak paham.

ada titik di ruangan itu saya menahan air mata yang mau jatuh turun. saya panik, tidak bisa menjawab apa yang Dosen tanyakan ke saya. Dan Bapak Dosen berulang kali menepis jawaban yang saya utarakan. Panik se panik-paniknya, sampai saya merusak pulpen yang saya pegang.

suasana di luar ruangan, tiga orang ini adalah kawan-kawan yang setia menunggu saya Ujian, plus satu kawan yang mengambil gambar.

setelah kurang lebih dua jam saya di dalam ruangan, saya dipersilahkan ke luar ruangan. Tiga dosen tersebut mengadakan diskusi kecil sebelum saya dinyatakan lulus atau tidak. sudah menjadi rahasia umum, biasanya semua yang sudah sampai tahap Ujian Tesis ini dinyatakan lulus. tapi, saat saya ke luar ruangan itu seribu pertanyaan di kepala saya dan jutaan what if berkelana.

pas keluar, saya melihat kawan-kawan terbaik saya di kampus tersenyum melihat saya ke luar ruangan. damai banget rasanya melihat dukungan mereka *kecup satu-satu*

dan di luar ruangan saya mengobrol dengan empat kawan saya itu. mereka menanyakan bagaimana dan bagaimana di dalam ruangan yang saya jawab dengan senyum kecut. Jujur, kehadiran mereka sangat mengurangi gugup dan kekhawatiran saya. karena kami akhirnya mengobrol hal-hal yang jauh dari kondisi saya di ruang Ujian.

yang saya tahu sih kalau disuruh ke luar dari ruang Ujian pas Ujian Tesis gini sih gak lebih lama dari 10 menit. saya nunggu nyaris dua puluh menit ajah dong. 20 menit. ya ampuuun… ampek pengen pipis aja saya tahan.

saat disuruh masuk lagi, saya duduk dan H2C gitu deh. Harap Harap Cemas banget. dan untuk lima menit pertama Ibu Dosen pembimbing gak ngomong apa-apa soal saya lulus atau tidak. Beliau hanya ngomong soal ini soal itu, soal revisi, soal begini soal begitu. Sampek pengen banget saya datengin mejanya itu buat nanya; ‘hoi…gueh lulus kagak??’

dan setelah beberapa saat, saya tahu isu itu benar sodara-sodara; saya Lulus. Saya Lulus. Saya Lulus.

walaupun panik dan gak bisa lancar menjawab beberapa pertanyaan, saya tetep lulus. walau Naskah Publikasi saya bahasa inggrisnya ajaib, saya Lulus. walau teknik analisis data saya dianggap kurang tepat, saya lulus. walau hasil penelitian saya kurang sesuai dengan minat utama saya, saya lulus. walau revisi saya sepertinya nyaris merubah segalanya, saya lulus.

intinya: saya lulus!!!!!

***

terimakasih sebanyak-banyaknya buat kawan-kawan dramaLand yang sudah mendoakan saya, sudah sering memberikan semangat, semoga saya bisa memberikan kontribusi terbaik saya, ilmu yang saya serap ini bisa saya amalkan! Amiin…

*tsaah

see u next post! 🙂

***

P.S: semua foto diambil dengan seenak hati dari handphone kawan-kawan saya yang ada di foto itu. I love u all guys :*

januari: sebelum berakhir

saya lagi selo tenan. benar-benar: uripku selo. menunggu revisi dosen sampek hari Jumat besok, cucian udah saya cuci (tumben gak ke Laundry, niat nyuci baju sendiri…), rumah udah kelar diberesin, urusan dapur mah saya libur. Libur, soalnya mau masak juga males bener, wong di rumah cuman sendiri. adek saya yang tampan lagi liburan semester ke tempat Kakak kami di Cirebon.

Jadilah siang menjelang sore ini saya buka Laptop, sambil nunggu cucian kering. mencoba untuk (lagi-lagi) membenahi blog ini. Dan, saat ngelirik ke sebelah kanan, di situ ada widget arsip dramaLand, dan lagi-lagi cuman gigit jari : cuman nulis delapan kali dalam sebulan. padahal sebelumnya bisa ampek 15 kali di bulan Desember.

ya udahlah ya, mungkin emang lagi malesnya aja kumat. Males posting, males BW, males buka FB, males buka laptop, males bangun, males mandi, males dandan (*hloh… kok bablas?!?!).

beberapa hari yang lalu pas BW ke tempatnya mas Arman, iyah… mas Arman yang itu sempet mbaca postingannya yang terakhir soal … soal … *buka link-nya lagi* yah soal itu deh… soal bagaimana Mas Arman cerita soal bulan Januarinya, yang diawali dengan beberapa konplennya via twitter. terus, pas baca itu, saya jadi kepikiran ajah pengen bikin postingan kek gitu. bukan… bukan bagian soal twitter itu, tapi postingan soal bulan Januari. Ada beberapa hal yang belum saya ceritakan di bulan Januari ini. Jadi, semacam postingan rapelan gitu deh.

udah siap belon? Postingannya keknya bakalan panjang loh. siap – siap duduk yang manis di situ, and enjoy my show! :mrgreen:

1) Kopdar

iyah, tanggal 22 Januari kemaren, saya kopdar-an gitu deh. di masjid kampus saya. sama siapa aja emangnya Is? ini dia yang mbikin saya malu. jujur… saya gak begitu kenal dengan mereka – mereka yang mau diajak kopdar-an. Gak kek dulu2..kopdar sama siapa gitu udah hahahaha hihihi duluan di komen. Hlah yang ini gak gitu. Tapi PD aja sih, pikir saya sekalian ke sunMor juga, udah lama gak jalan-jalan di Pasar Minggu Pagi-nya kampus. meeting pointnya di buat yang gampang: masjid Kampus UGM. why?

karena… eh karena.. saya punya obsesi buat foto di tangga-tangga kampus (dan kesampean dong ah!! hahahahah..)

finally : tangga Maskam!!!

gilla…. charlie’s angel banget kan pose kita? *heleh.. opo meneh. eh iya, belon dikenalin kopdar sama siapa aja. yang ada di foto itu adalah Mbak Phie yang ditengah, belon pernah kenal sebelumnya, tapi mukanya familiar banget. keknya saya juga jarang ke blognya (apa malah gak pernah sebelum kopdar itu –> trend baru: kopdar dulu kenal blog kemudian. hahahahahha….)

ternyata eh ternyata.. Mbak Phie ini setelah dirunut – runut merupakan temen KKN temen serumah saya, dan dasar anak satu kampus tapi beda jurusan yak, setelah ngobrol2 ternyata temennya si anu temennya si itu (et…. berasa Jogja sempit deh).

nah kalau yang pojok satu lagi itu si Puch, atau Puji (dua nama itulah yang saya ucapkan tiap mau manggil Puji, karena bingung juga manggilnya apaan. dan sama kek Mbak Phie, saya juga baru kenal Puji yah di kopdar ini.) Puji ini satu kampus juga sama saya, dan ternyata adek kelasnya Nandini, si blogger tetangga saya itu. Kebayang tua-nya saya lah kalau si Puji ini aja adek kelasnya Nandini yang notabenenya masih dua tahun di bawah saya.

eh ngomongin Puji, dia loh yang paling rajin di antara kami yang kopdar buat nyusun laporan kopdar, dan …. besok kalau mau nyari kost yang bareng sama Puji ah..soalnya Puji baek, suka ngebeliin temen sekostnya makanan *hloh?!?!?

selaen mereka berdua, sebenarnya alasan kami yang satu kampus tapi beda jurusan ini bertemu adalah kedatangan si Amela (yang datang bersama Oom Genit-nya yang langsung diusir, hahahahahaha) yang jauh-jauh datang dari BauBau khusus untuk bertemu kami bertiga (PD dahsyat, padahal aselinya si mel ini ke Jogja pengen ketemuan sama calon mertua di KotaGede –> siap-siap kabur karena menyebar berita tidak benar).

dan ya ampuun.. coba  tolong yah.. si Amela ini ternyata masih imut-imut dan menggemaskan deh. saya ampek gak percaya kalau dia itu Amela yang di pagi2buta. secara saya pikir umur dia di atas saya, sudah menikah, sudah dewasa dan bla bla bla… (ampun Mel… tapi emang bener begitu).

daaaaaaaan….tiada lengkap yang namanya kopdar tanpa foto-foto.

mbak Phie - Puji - orang keren - Amela

untuk foto lebih lanjut silahkan cek FB ketiganya, karena saya nyolong foto dari mereka (as usual, saya kan gak pernah bawa kamera tiap kali kopdar. hahahahaha). terimakasih pertemuan minggu paginya yah Mel, Mbak Phie dan Puji, walaupun saya banyak ngomong, semoga gak kapok kopdar bersama saya *tring: nyengir tiga jari*

2) UNO

saya dan kawan-kawan kecanduan UNO. lagi. untuk kesekian kalinya. Bahkan.. bahkan nih… tanggal 23 kemaren saya maen UNO bareng kawan-kawan sebanyak 12 babak.  12 babak dengan berhenti buat makan, beli galon, menyambut Nandini yang maen ke kontrakan, cela-celaan buat yang kalah, belanja ke Superindo. Dari 12 babak, saya cuman kalah 3kali. sialnya saya aja kalah pas babak pamungkas, yang mana sebelumnya saya koar-koar: habis ini yang kalah hukumannya dicoret pake eye-shadow 3jari yak. senjata makan tuan: yang kalah di babak pamungkas adalah saya. saya-lah yang kena hukuman yang saya sebutkan sendiri. dan beginilah tampang saya di penghujung babak:

gagal keren habis dicoreng-coreng mukanya: setelah kalah 3x

3)  makan dam makan

sepanjang januari ini, saya as usual tidak diberi duit lebih sama mamah saya untuk keinginan hedon saya. tapi, beruntunglah saya punya kawan-kawan yang super duper baik, yang mau nraktir saya:

yang nraktir yang mana is? itu..yang pake jilbab di pojok kiri

belum lagi, gerombolan wisudawan seangkatan yang wisuda tanggal 25 kemaren, mereka juga bikin acara makan-makan sehari sebelumnya. jadi lumayanlah, walau tanggal tua saya masih bisa makan enak :mrgreen:

empat orang yang di'wisuda' : tiga di sebelah kiri dan satu di kanan

selaen makan-makan, bulan ini saya mau bersorak untuk kedatangan Nandini dua kali ke kontrakan saya, yang sudah mengisi kulkas, menyajikan makanan dan menyemarakkan dapur saya yang biasanya cuman dipake buat masak aer sama mbikin mie doang *kecup Nandini*

4) kampus

selamat datang di episode suram. ini bagian tersuram mungkin yah di bulan Januari. saya lagi-lagi melewatkan kesempatan wisuda Januari ini. yah gpp juga sih, secara emang gak target (targetnya Oktober tahun lalu soalnya. huahahahahahaha). sedih, pasti. kecewa, gak usah ditanya. tapi itu semua balik lagi ke saya: karena semua ini akibat dari saya dan kebiasaan prokrastinasi 😦

5) dokter gigi

bulan ini saya menghabiskan dana nyaris satu juta buat bolak-balik ke dokter gigi. untuk nyabut satu geraham kanan dan satu geraham kiri serta scalling barisan gigi bawah. harusnya balik lagi itu jumat seminggu yang lalu. tapi gak saya lakukan. why? karena saya merasa sudah tidak sakit lagi. walaupun untuk ngunyah masih pake gigi depan kadang-kadang. hehehehehe…

ngambil dari twit sesar yang nemenin saya ke dokter gigi waktu itu

6) dunia maya

bulan Januari ini… dramaland mengalami penurunan produktivitas dibandingkan satu bulan sebelumnya. bahkan dibandingkan satu tahun sebelumnya yaitu Januari 2011, yang mana saya berhasil menelurkan postingan sebanyak 21.  Namun banyak hal yang saya pelajari di dunia maya sebulan belakangan.

pertama: begitu banyak orang membentuk imej di dunia maya yang tidak sesuai dengan diri dia sendiri. apa sih susahnya membangun imej di dunia maya? semua orang bisa melakukannya. akibatnya: orang-orang ini jadi terjebak di dalam imej yang dia bangun. bukan gak mungkin akan ada satu titik dia bilang sama diri dia sendiri begini; ‘waduh… saya itu sebenernya kek gemana yah orangnya?!?’

kedua: betapa dahsyatnya kekuatan dunia maya. orang bisa menggerakkan massa, bisa terjadi ‘perang’, bahkan kalau baca blognya Mbak Anna yang ini, sampek ada yang harus keluar dari pekerjaannya. dahsyat gak tuh bo??

dan somehow, saya kok kebayang masa kanak-kanak saya ya. gak usahlah jaman kanak-kanak. jaman SMP aja dah, jaman internet masih barang mahal (7500/jam di warnet …). saya pernah ada di masa itu dan pengen tahu aja sama ABG jaman sekarang yang begitu menginjakkan kaki di dunia ini langsung mengenal adanya internet. mereka kebayang gak yah dengan dunia sebelum adanya internet? bayangan mereka seperti apa ya?

heleh… saya ngomong apaan sih… yang terakhir ini boleh diabaikan kok. Really

***

hmm…hmm.. apalagi yang terjadi di bulan Januari? cowok gemana Is? Masalah hati? heleh.. masih gitu – gitu ajahlah. kagak ada yang kudu diceritain. kagak ada yang seru buat dibagi. masih single, belum ada rencana lamaran, belum tahu minggu depan jalan sama yang mana *eh.. hlooh?!? yang jelas lagi menikmati masa menanti pangeran yang berani minta saya ke Bapak (CIE AIS COLONGAAAAN!!!)…

huahahahhahaa…

tapi, yang tidak bisa dilupakan di bulan ini adalah pelajaran buat diri sendiri: penyesalan datang belakangan. bermalas-malasan ngerjain Tesis, bayar SPP kemudian. *dueerrr*

***

begitulah review bulan Januari yang saya buat. tidak lupa saya juga mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya untuk keluarga Korban Tragedi Tugu Tani, dan juga untuk berbagai permasalahan KPK yang kok diikutin beritanya makin jadi benang kusut.

akhir kata, untuk menutup postingan panjang ini, saya mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya buat kawan-kawan yang niat baca ampek bawah. hahahahaha. karena, percayalah, saya nulis ini dari jam setengah tiga ampek ini kelar pas maghrib. dipotong sholat, ngambil cucian, mandi, beli makan, sama nonton gosip. hihihihi. buat kamu yang udah baca ampek kelar…. kata terimakasih saja mungkin tidak cukup

:mrgreen:

see u next post!

gembira berkumpul #kamismanis yang sudah tidak kamis

 

baiklah, baiklah… saya mengaku salah. harusnya postingan ini dibuat hari kamis kemaren, tapi hari kamis kemaren tidak saya lakukan. alesannya gak usah disebut lah ya, ntar dikira tukang ngeles (padahal mungkin emang iya). tapi emang saya punya alasan kenapa gak mosting kemaren. Alasannya: saya keasyikan ngobrol sama my partner in crime yang udah empat hari jadi jamur di kasur saya. huehehehehhehehehe…

nah daripada saya ngeles ngasih alasan, lebih baik saya memenuhi janji saya sama blog ini. Janji apa Is? Janji Joni kah? Bukan adek-adek, kalau janji Joni itu judul film. Jadi buat yang baru pertama kali ke blog saya, saya akan cerita dulu nih… demi untuk meningkatkan produktivitas saya menulis, saya punya niat di tahun 2012 ini menerapkan postingan bertema. baru satu tema yang saya buat. yaitu:kamis manis. kenapa kamis manis? karena yang mbuat ais manis :mrgreen:

hehehhehe.. bukan. bukan itu. kamis manis, karena setiap kamis saya akan menceritakan hal-hal manis dari masa sekolah saya, masa kuliah, atau masa saya masih kecil. mungkin akan ada beberapa hal tidak manis. tapi biar seru dan berrima dengan hari kamis, makanya dinamain kamis manis :mrgreen:

mari kita mulai kamis perdana yang sudah tidak kamis ini.

***

 

hloh, ada apa dengan video ini Is? Video ini adalah video yang saya cari dari beberapa hari yang lalu. Tasya dengan gembira berkumpul merupakan sebuah lagu kenangan buat saya. kok bisa? iyah, itu lagu merupakan lagu yang digunakan temen-temen dan saya waktu KKN. Apa itu KKN?

KKN itu kuliah kerja nyata. jadi di kampus saya, mahasiswa S1-nya diwajibkan mengambil KKN yang bisanya berbobot 8 sks (kalau gak salah ya..). KKN itu biasanya dilakukan di desa-desa atau daerah terpencil, di mana kami para mahasiswa diharapkan bisa berkontribusi langsung di dalam masyarakat.

waktu tahun 2007, saya KKN di sebuh desa di Donokerto, Turi, Sleman. wah.. kalau diceritain di satu postingan, gak akan cukup deh yang namanya KKN. karena terlalu banyak pelajaran dan kenangan yang tersimpan di dalamnya. termasuk lagu gembira berkumpul ini.Ada apa dengan lagu ini?

Jadi, waktu tahun 2007 saya dan beberapa kawan KKN memiliki program memberikan pelatihan kentongan untuk anak-anak SD dan juga pelatihan tari. Jadi ada beberapa anak – anak SD di kelas lima dan enam dari SD negeri – SD negeri di desa itu yang kami pilih untuk kami latih selama dua bulan. dan hasil latihan itu kami perlombakan antar SD se- Donokerto.

nah, jam latihan itu biasanya antara pukul dua hingga lima sore. itu adalah salah satu masa yang gak mungkin saya lupakan seumur hidup saya, mungkin. bagaimana berinteraksi dengan anak-anak SD yang begitu mengharapkan dan memandang hebat ke kami, para mahasiswa – mahasiswa yang kadang sering mengeluh ini.

iyah. kami sering mengeluh soal KKN. bagaimana kami jauh dari kost yang nyaman, bagaimana kami harus ikut rapat ini rapat itu, bagaimana kami harus menahan emosi tiap kali salah satu teman seenaknya mengambil keputusan. kami yang tukang ngeluh ini diharapkan kedatangannya oleh anak – anak SD yang kami latih. total ada lima SD yang kami latih. kami ada sekitar sepuluh orang.

ada yang melatih tari, ada yang melatih kentongan, ada yang melatih memegang bendera, ada yang melatih memukul ember (ceritanya itu snare drum, berhubung dana terbatas, jadi kami menggunakan ember. hehehehehe..).

nah, sebelum berpisah untuk latihan dengan masih-masing kelompok kecil, biasanya adek-adek kami kumpulkan di lapangan sekolah dan kami melakukan pemanasan. dengan lagu  gembira berkumpul itu.

tepuk tangan (prok prok..)

sekali lagi (prok prok..)

nah jadi, tiap saya denger lagu itu, di kepala saya langsung terbayang dua bulan itu: dua bulan dimana saya setiap hari dateng ke SD – SD di Donokerto itu. bagaimana mereka berlari menyambut kami sewaktu kami dateng, dan berrebut mengelilingi kami.

***

itu adalah kenangan yang indah dan manis banget. apalagi sewaktu itu saya dan salah seorang kawan diberi tanggung  jawab untuk ‘memegang’ salah satu SD (jadi untuk kelancaran pentas, kami membagi kelompok dan memberikan SD itu ‘kakak asuh’ yang menjadi penanggungjawab skill adek-adek dalam target mengikuti lomba). nah, saya dan salah seorang teman (yang ujung2nya keserempet cinta lokasi) menjadi kakak asuh di salah satu SD tersebut, dan SD kami menjadi satu-satunya SD yang mendapatkan dua piala untuk dua kategori lomba: Lomba kentongan dan lomba tari.

saya terharu. haru saat adek – adek ini jejingkrakan dan teriak – teriak: ‘ mbak.. kami juara mbak!! mbak.. kami dapet dua piala!!’

tuh lihat.. menulis ini saja hati saya hangat jadinya. apa kabar yah mereka?

***

KKN unit 54 di desa Donokerto 2007

 

see u next post!

 

PS : foto adek-adek SD donokerto itu banyak ketinggalan di PC saya di rumah orangtua di Jakarta, jadi gak bisa saya kasih unjuk deh adek-adek didik saya dulu 😦 next time yah. hehehehehe…