Posted in [drama] lepas

Finishing touches : Deanna Kizis

Saya sedang dalam masa: dikejar-deadline-tapi-bukan-mengerjakan-tugas-malah-bersantai-santai-dan-melakukan-kesenangan. Karena saya menghipnotis diri saya sendiri seperti; layak-mendapat-reward-sebelum-memulai-bekerja. Haaah… calon ahli psikologi macam apa saya ini; tidak mampu memahami makna reward sesungguhnya (hahahahhaa…)

Anyhow, di tengah prokrastinasi yang sedang saya lakukan, saya berhasil menyelesaikan satu buah chicklit lagi. Fast reading, as usual. Kali ini dari seorang penulis yang baru saya tahu. Namanya adalah Deanna Kizis. Dari profile yang saya baca di halaman akhir novel, dia adalah seorang editor majalah Elle wilayah pantai barat dan seorang kontributor untuk majalah lain nya.

Judul karya Kizis yang saya baca ini adalah Finishing Touches.

finnishing touches by Deanna Kizis versi Indonesia

Buku ini bercerita tentang persahabatan, cinta dan kehilangan. Ada banyak kehilangan yang dialami oleh Jesse, tokoh utama dalam novel ini.

Jesse bersahabat dengan Bryn dan Cecile dari jaman kuliah. Mereka bersahabat dengan sangat akrab, walaupun Cecile dan Bryn tampak begitu bersinar, Jesse tidak keberatan untuk menjadi bayang-bayang dua sahabatnya. Karena Jesse sangat menyayangi dua sahabat nya tersebut.

Dua tokoh lainnya selain tokoh pendukung yang hadir di buku tersebut adalah zach dan David. Mereka adalah dua orang sahabat yang merupakan pasangan dari Cecile dan Bryn.

Cerita dibuka dengan kecelakaan yang dialami Cecile beberapa hari sebelum pernikahan nya dengan Zach. Kecelakaan tersebut cukup parah, namun tidak mengurungkan Zach untuk menikahi wanita yang sudah dipacarinya selama bertahun-tahun. Akhirnya mereka menikah di rumah sakit, dengan kondisi Cecile masih terluka parah di tempat tidur rumah sakit. Takdir berbicara lain, dua hari setelah pernikahan yang manis di rumah sakit tersebut, Cecile meninggal dalam tidur.

Jesse, Bryn serta Zach sangat merasa kehilangan Cecile. Namun mereka masih terus berhubungan, masih melakukan pertemuan-pertemuan makan malam, masih saling berkomunikasi. Hingga akhirnya Zach dan Jesse mulai berkencan.

Bryn marah menghadapi kenyataan tersebut. Ia menjauhi Jess.
Dan di situlah konflik mulai bermunculan. Orang-orang di sekitar Zach dan Jesse yang tidak terima kalau mereka berdua mulai berkencan. Dan terdapat beberapa konflik yang bikin kening berkerut; “serius lo??”

Cerita nya agak sedikit membingungkan sih, dengan alur maju mundur; ada tiga bagian dalam novel yang awalnya terbit tahun 2006 ini. Tapi overall, dengan ketebalan yang cuman 18cm jauh lebih mudah dibaca ketimbang Taiko nya eiji Yoshikawa yang masih teronggok manis di atas meja saya, menanti untuk saya baca 😀

Hehehehehhe.

Buku ini tepat seperti marshmallow: ringan, namun manis.

Kemarahan akan menelanmu hidup-hidup. Percayalah. Satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah dengan memaafkan.

Begitu lah yang diungkapkan Zach di akhir cerita. Mengingatkan saya pada sebuah buku (maaf, mohon maaf sebesar-besarnya, saya lupa judul bukunya. Apalagi pengarangnya) yang di sampul akhirnya terdapat semacam pengantar (atau review?) dari Bapak Komarudin Hidayat yang berkata mengenai pensil dan penghapus.

Inget gak sih jaman SD dulu kita punya pensil yang ujungnya ada penghapus (dan kemana itu pensil-pensilseperti itu sekarang?). Pensil seperti itu memiliki makna tiap kita menorehkan sesuatu di kertas, maka akan ada penghapus di sisi sebaliknya jika kita melakukan kesalahan dalam tulisan kita.

penghapus di ujung pensil, untuk menghapus KESALAHAN; sama seperti MEMAAFKAN 🙂

Berbeda dengan seseorang yang pernah menerangkan kepada saya bahwa hatinya adalah seperti tembok besar yang jika ada orang melakukan kesalahan terhadapnya, maka seperti menancapkan paku pada tembok tersebut. Walaupun paku itu dicabut, ditambal dengan semen, namun bekas nya akan tetap tampak.

Dan saya mungkin lebih memilih perumpamaan pensil dan penghapus tersebut untuk sebuah kesalahan. Bagi kawan-kawan yang mana?

*oh iya, gambarnya minjem dari sini