late post : happy birthday to me

MERDEKA!

walau udah telat 5 hari ini postingan, tapi saya tetap semangat loh nulisnya *nulis sambil lompat-lompat* hehehehe. gimana kabarnya temans? sehat? Saya Alhamdulillah sehat, walopun lagi sariawan gak sembuh-sembuh. Sembuh di lidah, muncul di bawah lidah. sembuh di bawah lidah, muncul lagi di ujung bibir. Heran. antara kurang gizi sama banayk pikiran sih keknya.

Kalau jerawat jangan ditanya. Persis kek ABG yang baru ulang tahun ke17, jumlah jerawat di wajah saya juarak banget deh. ampek bingung, padahal saya jarang banget kan makek kosmetik macem2. dari jaman kuliah dulu yah pembersih wajah saya itu-itu aja, paling cuman nambah bedak. sama sedikit eyeshadow, sama eyelinner. itu juga cuman dikit. kalau kambuh centilnya pake mascara.

ini ngomongin apaan sih? kok tiba-tiba lanjut ke kosmetik? Hehehehe.

saya pengen ngomongin soal …. soaaal… soal ULANG TAHUN SAYA. yey..

5hari yang lalu, tepat saat Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-68, saya berulangtahun yang ke-17 *duer. HAHAHAHAHA.

age is not only nummber for me. really. seberapa keras usaha saya buat menganggap age is only number, dalam lubuk hati saya yang paling dalam saya masih gak terima dengan kenyataan dan harapan yang gak sejalan. Saya berharap memiliki beberapa cita-cita dan target yang sudah tercapai saat usia saya menginjak usia saya saat ini.

Tapi, bukankah begitulah hidup? Tak melulu bicara soal kekecewaan terhadap sesamanya, hidup juga berbicara soal bagaimana menyeimbangkan antara harapan dan kenyataan. Dan, di sini saya, memiliki harapan-harapan baru di umur saya yang sudah berkurang jatahnya di dunia ini,

terimakasih buat kawans yang sudah mengingat ulang tahun saya walaupun tidak tertera di Fesbuk, terimakasih buat kamu yang bahkan tidak menyempatkan diri untuk memberikan ucapan selamat. it’s ok… yang penting saya mohon doanya, agar saya selalu berada di jalan yang diridhoi oleh Nya, dan juga selalu dimudahkan untuk bersyukur.

Dan, semoga selalu bahagia! THAT’S!

happy birthday ariani!

dan terimakasih sangat untuk semua sahabat terbaik saya, yang menyempatkan diri untuk berkumpul Sabtu kemarin. sekali lagi: i’m so lucky havin’ you all in my life. terimakasih sudah jadi barisan supporter utama saya. terimakasih untuk semua drama, nostalgia, canda tawa, kata-kata jujurnya, testimoni atas kebodohan-kebodohan saya, terimakasih untuk tidak menjudge saya seperti yang beberapa orang lakukan, terimakasih untuk dukungan tiada hentinya.

semoga tahun depan kita masih bisa bersama :kiss:

***

kabar terbaru si C3

hai kawan, selamat hari Minggu, sudah memasuki hari ke-21 nih, bagaimana kabar kawan-kawan? Semoga selalu sehat yah….

Btw, sebelum saya bercerita lebih jauh, masih ingat dengan pria-pria mempesona (huek) ini?

masih ingat gak sih? Kalau belum, review dikit yah tulisan saya bulan April ini, saat saya bercerita tentang keempat kawan SMA saya yang nyaris di DO dari kampus mereka. Owkey…owkey kalau males nge klik saya ulas di sini dikit.

Saya kenal sama mereka saat kami berlima duduk di bangku SMA. nama mereka adalah Budi, Ferri, Sendy dan Unun. Ada satu alasan yang tidak saya sebutkan pas saya cerita mengenai mereka beberapa bulan yang lalu. Salah satu alasan kenapa saya bisa berkawan dengan mereka. Alasan tersebut adalah: saya pernah memiliki sejarah percintaan dengan salah satu diantara mereka. Eheeeem… yang mana Is? Hahahahahaha…. gak penting juga sih yah yang mana… yang jelas sekarang kami sudah menjalani hidup kami masing-masing dan kadang masih bisa bernostalgia atas apa yang terjadi saat kami masih duduk di bangku abu-abu.

Budi, pria mungil yang lahirnya beda empat hari sama saya ini punya bakat terpendam sebagai tempat curhat-an buat saya. Diantara mereka berempat, sama budi lah saya paling sering curhat. Kalau Sendy laen lagi, dia mengakui dirinya sebagai pria paling peka di dunia. Punya bakat makan yang luar biasa (hahahahaha), tapi dia merupakan kawan yang paling menjaga perasaan dibandingkan tiga kawan lainnya (bagian dari pengakuan paling pekanya itu kali yak)

Laen lagi sama Ferri, Bapak beranak satu ini memiliki kemampuan luar biasa untuk berlagak jadi homo. Tanyakan saja pada Budi, kekasih prianya (hahahahaha). Tapi dia yang paling cepat berkeluarga diantara kami. dia juga yang baik hati membagi pengalaman suksesnya dengan yang lain.

Nah, si Unun yang punya kebiasaan ngomong berapi-api. Pak lurah satu ini hobi karoke, doyan menggoda wanita tapi hatinya setia untuk satu wanita.

So, ada kabar terbaru apa dari pria-pria yang mengaku sebagai pria-pria tampan ini?

Budi, masih menjomblo dan tambah gemuk setelah empat bulan menjadi abdi negara. Berbeda dengan Sendy yang tampak kurus. Mereka berdua saya temui beberapa hari yang lalu. Berawal dari sms-an, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu. Mencoba menjalin tali silahturahmi,

Tertawalah saya saat saya menemui mereka. Seperti flashback saat SMA: dua orang itu berjalan menghampiri saya. yang satu dengan badan besar sedangkan yang lain dengan badan kecil yang membawa backpack cukup besar. Langkah mereka pun masih sama. Sendy dengan gaya percaya dirinya dan Budi dengan gaya menyeret langkahnya.

Kami bertemu, bercanda, makan bersama, membicarakan planning dan kabar masing-masing, membicarakan dua kawan kami lainnya, bernostalgia tentang masa SMA kami.

Lucunya, saat kami sedang mengukur luas mall, tiba-tiba Ferri mengirim sms ke Sendy, menanyakan kabar, mengucapkan selamat ulang tahun buat saya, dan bla…bla..bla… sampai akhirnya saya mengungkit soal tulisan saya mengenai mereka di blog ini.

Dan yang mengharukan, saat saya membuka kolom komentar tulisan saya yang bulan April lalu tentang mereka, saya menemukan tulisan lama saya itu dikomentari oleh salah dua diantara mereka. Bahkan Unun mengirim sms ke saya, dan mengatakan bahwa ia akan menikah akhir tahun ini. Wow…. another kabar gembira dari mereka.

So, kalau ada yang nanya kabar terbaru kawan-kawan C3 saya, maka inilah kabar terbaru mereka: Sendy dan Budi masih berjuang memantapkan diri menjadi abdi negara. Ferri sibuk menjadi imam bagi keluarga kecilnya, dan Unun akan segera menikah dalam waktu dekat.

Bagaimana dengan kawan-kawan semua? Apa kabar terbaru dari kawan-kawan? Apakah ada yang akan melangsungkan lamaran setelah lebaran ini?

kalau udah kek begini, siapa yang traktir hayo?

ulang Janji

SMA adalah masa jaya-jayanya sebagai seorang pemuda (cieee…). Masanya mencari jati diri (yang ternyata ampek setua ini belon ketemu), masanya jatuh cinta pertama kalinya, masanya belajar mengenai komunitas dengan segala konflik di dalamnya, masanya belajar bertanggungjawab pada pilihan-pilihan.

Heleh ngemeng apa coba si ais.

Pengantar ceritanya aneh banget deh. Padahal hari ini saya mau cerita soal hari Pramuka. Yup, tepat hari ini, tanggal 14 Agustus diperingati sebagai hari Pramuka. Saya tidak akan pernah melupakan itu, sama seperti saya tidak melupakan tanggal 17 Agustus sebagai hari kelahiran saya hari kemerdekaan RI maksudnya 😉

Terus hubungannya masa SMA sama tanggal 14 Agustus sebagai hari pramuka apaan Is? Karena, pertama kali tahu hari pramuka itu jatuh pada tanggal 14 Agustus, pas saya SMA. Harap maklum, di Ibu Kota keknya sepahaman saya ekskul Pramuka tidak membahana seperti di daerah. Di Purwokertolah saya belajar mengenal Pramuka. Awalnya sempet gondok waktu tahu ekskul Pramuka wajib buat siswa kelas satu. Gondoknya karena: what? Pramuka? Terakhir kali ‘pramuka’an itu waktu SD, masih Siaga, masih belajarnya Dwi Dharma, masih belajar simpul-simpulan yang gampang-gampang itu. Eh ini kok pas SMA suruh ngapalinnya Dasa Dharma, terus tali temalinya emang udah gak ada yang ada belajar masang dragbar (ini nulisnya pegimane sih?), terus rasanya semua orang sekitar saya pada bisa sandi Morse, sandi rumput dan atau Semaphore!

Owemji… Pramuka adalah horor bagi saya. Gak seperti kebanyakan anak-anak kelas satu laennya yang males berangkat latihan pramuka, saya tidak malas, saya hanya takut. Takut karena saya gak hafal Dasa Dharma, takut karena saya gak bisa bahasa jawa, takut karena saya gak bisa semaphore, pokoknya ketakutan-ketakutan atas ketidakmampuan saya sebagai seorang Pramuka.

Tappppi… bagian yang paling konyol dari keaktifan saya di Pramuka pas SMA adalah: si anak baru yang tidak bisa apa-apa, yang ngapalin Dasa Dharma pas Kemah Bakti Bina Laksana (ini bener bukan kepanjangan dari KBBL?), yang ujian SKU (Syarak Kecakapan Umum, isn’t it?) untuk Penegak Bantara-nya bisa dirapel dalam waktu singkat, yang  ngeloncatin dragbar ini terpilih sebagai Pradana. Kamu gak tahu Pradana? Coba cek di sini buat mengetahui struktur kepengurusan Dewan Ambalan.

Konyol menurut saya adalah karena itu  pertama kalinya sifat sok ngatur dan sok tahu saya diakui dalam struktur (Hahahahahahaha….).

Sepanjang karir saya sebagai Pradana *tsaah saya mengalami banyak peristiwa yang membuat saya belajar bahwa: tidak selamanya kawan yang mendukung secara politik  atas kepemimpinan kamu mendukung setiap keputusan kamu. Dan mereka bisa jadi merupakan kritikus handal dalam setiap langkah kepemimpinan kamu. Politik itu hebat loh, bisa menjadikan kamu musuh publik sekaligus dicintai oleh publik. Jadi, buat adek-adek yang pengen belajar politik praktis, masuklah organisasi. Gak usah Pramuka kalau kamu bersin-bersin pas pake baju cokelat itu. Kamu bisa ikut Pencinta Alam, PMR, atau Paskibra atau OSIS.

FYI aja nih… Pramuka menurut saya mencakup semua ekskul. Kamu bisa jadi anak pencinta alam di Pramuka (saya nyicip rapling juga di Pramuka), kamu bisa jadi anak PMR di Pramuka (hei,kan udah dibilang: belajar bikin dragbar), terus kamu bisa belajar baris bebaris juga di pramuka, dan yang pasti: kamu bisa belajar mengenai Organisasi di Pramuka.

dan, kamu bisa belajar mengenai cinta di Pramuka. Huahahahhahaha…..

***

Salah satu prosesi yang tidak dilupakan saat memperingati hari Pramuka pas SMA adalah: Ulang Janji. Ulang janji biasanya dilakukan di malam 14 Agustus, biasanya tanggal 13 malem. Ulang janji pertama saya itu tanggal 13 Agustus 2001, saat itu saya sudah dilantik menjadi Penegak Bantara, tapi belum menjadi Dewan Ambalan. Kami berbaris memutari semacam api unggun lalu ada sepuluh petugas yang membawa obor dan mengucap Dasa Dharma Pramuka:

  1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
  3. Patriot yang sopan dan ksatria
  4. Patuh dan suka bermusyawarah
  5. Rela menolong dan tabah
  6. Rajin, trampil dan gembira
  7. Hemat cermat dan bersahaja
  8. Disiplin, berani dan setia
  9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
  10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan

Dan entah kenapa, setelah itu saat berkumandang lagu Syukur saya merinding. Haru. Saya mencintai masa-masa keaktifan saya di Dewan Ambalan Pandawa Srikandi tempat saya bernaung dulu. Itu adalah masa-masa penuh kenangan, penuh pengalaman, penuh pembelajaran dari masa SMA saya.

Walaupun sangat sedikit kawan-kawan saya sekarang yang percaya kalau saya ini Pradana Dewan Ambalan (jangankan mereka, hlahwong saya ajah juga kadang gak percaya…).

Selamat Hari Pramuka wahai Pramuka Indonesia

🙂

Salam Pramuka!!

 

***

Postingan kali ini didukung oleh kenangan tahun-tahun saya di Dewan Ambalan Pandawa dan Srikandi GuDep 02.456-02.457 (yang kalau ditulis di sini bakalan jadi ber part-part), dukungan dari Wikipedia untuk Dasa Dharma Pramuka-nya (it’s been 10 years! udah lupa banyak saya. Hahahhahaha).

PS: Foto yang saya punya cuman ini, maklum jaman saya SMA belon ada teknologi kamera digital, dan saya terlalu malu buat ‘nyuri’ foto di sanggar, dan ini juga hasil tag-tag an di FB. Hehhehehehe…Gak akan ketebak juga saya yang mana. Hlahwong burem ngono kuwi og

belajar tentang kehilangan

Some people come into our lives and quickly go. Some stay for awhile and leave footprints on our hearts. And we are never, ever the same.

Sewaktu SMP, saya memiliki dua orang sahabat yang sangat dekat. Kami memiliki buku curhat, dan di salah satu halamannya saya menuliskan kata-kata di atas. Entah saya menemukan tulisan itu dimana, saya lupa. Tapi kata-kata itu menancap dalam di hati saya.

Sampai sekarang, saat ini. Saat saya menuliskan postingan ini. Beberapa minggu belakangan ini saya sedang belajar memahami kehilangan. Mulai dari kehilangan kunci sepedah, kehilangan waktu, kehilangan kesempatan, kehilangan semangat, kehilangan kekasih, hingga kehilangan beberapa kawan terdekat.

But, this is life. C’est la vie. Terlalu sedikit waktu yang ada kalau hanya digunakan untuk meratapi kehilangan. Toh kita sudah sepakat bahwa saat kita kehilangan sesuatu maka kita akan mendapatkan sesuatu. Bukan begitu? Ini hanya masalah menemukan another comfort zone.

Enjoy your time, ais ariani. Face it 🙂

melawan

apa yang terberat di bulan puasa?

Waktu SD, kawan-kawan SD saya satu sekolahan yang puasa bisa dihitung pake jari. Dulu saya SD nya di SD Katolik, rata-rata muridnya emang non muslim. Jadi jaman itu bagi saya puasa adalah menahan lapar dan haus. Sementara tetangga yang seumuran saya libur, sekolah saya gak pernah libur pas bulan ramadhan. Kantin juga gak tutup. Kehidupan sekolah seperti biasa. Masih maen karet, maen benteng, istirahat juga masih pada maen ke kantin. Yang istimewa hanyalah: duit jajan saya aman, karena saya gak ngeluarin duit buat jajan.

Satu peristiwa tidak terlupakan bagi saya pas puasa jaman SD adalah: saya pernah batal puasa, gara-gara ndorong mobil jemputan saya yang mogok. Waktu itu kelas 3SD kalau gak salah. Saya menelpon mamah saya di kantor pas mau batal puasa itu. Minta ijin batal. Mamah ngomel, tapi saya tetep buka kulkas buat minum. Haus banget.

Pas maghrib tiba, saat seisi rumah duduk dan membatalkan puasa pake kacang ijo buatan mamah, saya mupeng berat. Mau pura-pura ikutan buka kok aneh. Padahal dari batal puasa ampek maghrib itu saya gak ngapa-ngapain; saya cuman tidur.

Nyesel banget waktu itu. Sampai hati saya bersumpah kagak bakalan ada batal puasa-batal puasa berikutnya. Tapi namanya juga anak kecil (tapi harusnya ini bukan pemakluman sih. hihihihihi…).. besok-besok emang gak ada batal-batal di muka umum, tapi di belakang (apa namanya? di belakang umum? atau tidak di muka umum?) saya sering banget belagak ketelen aer wudhu pas ambil aer wudhu. Terus pas masuk kamar mandi gosok gigi sehari ampe lima kali, pas ada tukang yang ngerjain perbaikan rumah kan ada minuman yang disajikan, saya minum aja loh jatah tukang itu. Terus yang paling tidak terlupakan adalah makan buah belimbing di bawah pohon belimbing bareng sama tetangga saya pas orang-orang pada sholat Jum’at.

Dan setelah semua kecurangan dan kejahatan itu saya lakukan, saya pun belagak senang dan girang pas bedug maghrib datang. Saya pun ceria minum teh hangat yang disajikan. Itulah kenangan bulan ramadhan waktu saya kecil yang paling saya inget. Minus ngejar-ngejar ustadz untuk minta tandatangan buat buku ramadhan kek punya tetangga-tetangga saya yang bersekolah di sekolah umum atau sekolah negri, karena di sekolah saya pelajaran agama islampun gak ada. Hehehehehehe.

Alhamdulillah, udah setua ini udah bisa menahan lapar dan haus, masih belajar menahan hawa nafsu lainnya, termasuk nafsu marah-marah, nafsu buat ngomongin orang, nafsu yang laen deh. Tapi bulan puasa tahun ini yang agak berat saya jalani adalah melawan rasa malas. Bangun tidur dan mengangkat badan ke kamar mandi rasanya berat banget buat saya.

Kalau kamu, bagaimana pengalaman puasa waktu kecilmu? Dan, tahun ini puasa gimanah?

hari-hari menuju bulan agustus

bulan agustus selalu menjadi bulan istimewa buat saya. Karena ada tanggal 17 didalamnya. Yah, saya memang nasionalis yang kadang lupa lagu2 kebangsaan, mangkanya saya seneng banget sama tanggal itu. Tapi, disamping itu, tanggal itu sama kaya tanggal ulang tahun saya.

Ada kado ulang tahun istimewa yang saya persembahkan buat diri saya sendiri di hari jadi saya itu. Seminggu sebelum saya ulang tahun, saya akan kuliah matrikulasi buat persiapan S2 saya awal tahun depan. Horeh banget kan hadiah yang saya kasih buat diri saya sendiri? Status baru, di ikuti oleh kewajiban baru : bangun pagi. Makanya, dah dari hari senin kemaren saya berusaha keras bangun pagi. gagal semua. Kecuali tadi pagi. itu juga karena mas esa lagi inget saya, jadi nelpon saya dari subuh.

okeh, jadi saya sudah menyiapkan kado buat diri saya sendiri. Tapi saya bingung pas ada temen saya nanya, “mau kado apa?” waduh. saya udah berhenti membuat list mau kado apa sejak umur saya memasuki kepala dua. itu ada kaitannya sama ke enggan-an saya menghadapi ulang tahun saya. Hiks. saya tahu, waktu terus berjalan. seperti yang pernah saya bilang pas saya patah semangat dulu; klik klok.. waktu bukan kekasihmu yang setia menunggu dirimu yang sedang resah. dia akan terus berlalu tanpa memperdulikanmu. tapi sejak memasuki kepala dua, saya rada2 gimana gitu menghadapi ulang tahun saya. karena angka yang ada makin bikin saya ketampar. ga sebanding dengan prestasi dan karya saya yang saya peroleh. bayangkan.. di umur saya yang nyaris seper empat abad ini, saya masih sembunyi di ketek orang tua saya. terlalu nyaman dengan comfort zone saya. masih sering ngeluh. masih sering protes. kadang saya ngerasa usia saya ga sebanding dengan usia ke jiwa an saya.

emang ada bedanya? itu teori kepunyaan saya sih, bahwa tiap manusia punya umur ragawi, dan umur ke jiwa an. Duh, maap yah… saya baru mulai belajar psikologi, jadi saya belon tau kalau-kalau teori itu sudah ada di teori psikologi. tapi yang saya pahamin, umur orang itu terkadang tidak sejalan dengan ke dewasaan dia. ada anak SMA yang bisa ber sikap sangat dewasa, dan terkadang ada juga jiwa manusia-manusia dewasa yang berhenti di umur 15tahun. Itu mungkin saja kan?
gak ada yang absolut, termasuk pernyataan saya itu. lagi-lagi gak absolut.

dulu waktu masih kuliah (s1, saddap… jadi malu), saya ikut mata kuliah Metode-Metode Filsafat. Nah, di mata kuliah itu, kita dikenalkan Filsuf2, beserta pemikirannya, beserta metode beliau2 itu berfilsafat. Ada seorang tokoh (krik..kriik..kriik.. ini lah ke lemotan saya, saya bener2 lupa siapa namanya…somebody help me?) yang membagi waktu ke dalam dua bagian.
yang pertama adalah waktu yang sesungguhnya, dalam artian begini saya tidur dari jam tujuh sampai jam sepuluh, berarti saya tidur 3 jam.

yang kedua, untuk menjelaskan ini, saya bantu dengan ilustrasi. Pernah gak sih kita ngalamin, waktu yang berjalan sangaat lambat. Misalnya saja saat menunggu angkot, bis, atau menunggu giliran untuk di periksa di doketr. baru 10 menit ajah.. rasanya lamma banget kan? Tapi kalau 10 menit saat kita bersama orang2 terkasih (pacar, suami, istri, anak, sahabat,) pasti akan terasa sangat amat sebentar. 10 menit menunggu = 10 jam. 10 jam bersama orang2 terkasih = 10 menit. pernah merasakan? dan, menurut sang filsuf, waktu jenis kedua itu lah waktu yang sebenarnya. dan, itu berarti waktu yang menurut saya berjalan dengan sangat amat cepat dalam kurun waktu 5tahun terakhir ini, adalah waktu yang sebenar2nya. Jadi, tiap masing2 manusia itu, punya “waktu” – nya.

mudeng gak? apa mumet?

duh… pak djoko..maapkan saya menelantarkan MMF mu, jadi begini nih saat saya lagi sangat ingin berbagi jadi beribet ngejelasinnya.
semoga, kuliah saya yang besok lebih banyak menempel d otak saya ini. amiin..

OIA!!
bulan agustus juga special, soalnya esa-ku itu ulang tahuun!!
horeeeh…. saya dapet kado double
*loh?!?!*