pada tiap mereka yang pergi

Saya bukanlah mereka yang menganggap remeh apa itu kehilangan. Karena bagi saya, ketika saya kehilangan … berarti Tuhan sedang menegur saya. Sedang ingin berdialog lebih lama dengan saya, mencoba menyampaikan sesuatu kepada saya. 

Namun, hal tersebut bukan membuat saya lebih pandai menjaga hal-hal yang saya miliki. Atau lebih hati-hati. Saya mengakui, saya ini punya nilai di 9,8 untuk tingkat kesleboran. Benda benda kecil yang orang sering kehilangan (misal kunci, flash disk, masker buat naek motor, gantungan kunci, jam tangan), saya bisa kehilangan dua kali. Bahkan pernah saya kehilangan jam tangan sampai dua kali dalam setahun. 

Kacamata saya tahun ini sudah ganti 2x. Yah itu … gara gara slebor. Saya lupa naruh. Dan mengklaim benda itu hilang. Herannya, walau sering mengalami kehilangan, saya tetep kesel kalok benda kesayangan   saya hilang (kalau sayang dijagain sih ya, bukan dibiarin ilang. Tapi kalau diambil orang padahal udah kita jagain setengah mati ya nasib namanya). 

Nah. Tahun ini, saya kehilangan beberapa hal. What do you think if  i make a list? 

No?

Well.. a short list, maybe …..

  • Waktu luang 

Gak usah dibahas lah yah. Sejak jadi corporate worker, saya sering kebablasan sok sibuknya. Berangkat pagi, pulang malem, terus malem langsung obob. Begitu aja tiap hari. Tiba di weekend, saya berjibaku ngerjain pekerjaan rumahtangga dan bersosialisasi dengan mall  temen di mall, atau coffee shop, atau di manalah kami bisa bertemu. Saya jadi sering kehilangan waktu luang untuk leyeh leyeh, untuk ngelupasin kultikula di pinggir kuku tangan saya, stalking – stalking lucu, atau sekedar scrol newsfeed fesbuk. Bukannya gak ada sama sekali sih … hanya saja berkurang lumayan banyak dari 4 tahun lalu.

  • kacamata

sebenernya ini masuk kategori lupa naroh dan mari kita anggap hilang. Aslinya saya emang lupa naroh. Kapan dan di manah jangan ditanya dah. Gelaaaaap. Sebenernya sehari hari saya make kacamata buat nyetir aja sih, sama meeting yang mengharuskan saya melihat tulisan secara jauh. Atau training. Atau yah … kalau kudu liat yang bening – bening (3 terakir jarang banget terjadi. So basically, jarang saya pake itu kacamata kecuali saya mengendarai kendaraan). Pokonya intinya saya ganti kacamata tahun ini. Dan ini kacamata kedua yang hilang selama setahun terakhir. 

  • Sepatu, tas, baju, 

okeh. Kalau ini mah gara – gara packing renov rumah yang dilakukan membabi buta dan membuat saya merasa barang barang itu hilang. Gak masuk kategori yah. Okay. Next!

  • Selera humor

selera humor saya bisa dibilang berubah. Dulu saya sering banget ketawa. Sekarang saya seperti sulit menemukan hal hal konyol untuk ditertawakan. Beruntung mas suamik juara banget ngebanyolnya dan membuat saya tertawa. Hingga dipastikan setiap ada dia di sebelah saya, saya pasti tertawa. Bahkan untuk reaksi dia terhadap pemberitaan ayu tingting dan raffi ahmad (yang ngomong – ngomong; akun hatersnya bejibun yak di ig. Bukannya aku perhatian sih. Aku cuman follow beberapa dari mereka. Hahahahahaha)

  • Waktu menonton tv

mungkin bukan waktunya yang ga ada yah, tapi lebih kepada ‘males-usaha-masang-antena-karena-berhenti-langganan-tv-kabel’. Lagian, masih ada yah yang nonton tv lokal? Kok temen – temen sekitaran saya jarang yang ngebahas pertelevisian. Maksudnya … beberapa tahun lalu kan ekosistem saya rame ngebahas indonesian idol lah, atau dulu saya bela belain beli antene hujan hujanan demi untuk apa itu judul acara yang dipandu Choky Sitohang yang jodoh jodohan itu, atau … ngebahas sinteron tersanjung (so last year  decade! Hahahhahha). Pada intinya, saya ngerasa tenang tenang aja walau gak nonton tivi. Bukan jenis kehilangan yang berarti yah. 

  • Kemampuan menulis

bahkan di twitter, saya hanya mampu menuliskan beberapa twit dalam sehari. Padahal … dulu ada aja yang bisa saya tulis dan ceritakan dalam 160 karakter. Ini sudah berlangsung empat tahun lamanya. Saya gak tahu penyebabnya. Tapi, dalam hal ini … saya tahu Dia sedang mengajak saya berdialog untuk topik pembahasan ‘bagaimana cara menggunakan social media dengan tidak kebablasan’

  • Drama

entah pengaruh jarang nonton tv atau jarang membaca novel, saya merasa bahwa semakin sedikit drama hidup yang bisa saya bagi. Baik di blog ini, maupun dengan kawan kawan terdekat. Hidup saya as simple as you can see on my instagram lah. Masih pacaran sama mas suami, masih seru seruan jadi staf di salah satu kantor di ujung Jakarta, masih berusaha menekuni hobi membaca saya, begitu begitu saja. Mungkin, ini jenis kehilangan yang saya syukuri.

****

Mungkin masih ada hal lain yang menjadi ‘sesuatu yang hilang’, tapi postingan ini gak akan pernah kepublish kalau saya harus mengingat semuanya. 

Well, segini aja dulu yah untuk kali ini. See you when i see you, my dramaLand.

****

Ps: actually, saya niat awal nulis gak nulis ini loh. Niat awal nulis saya mau curhat soal kehilangan seorang kawan. Bukan seorang sih sebenarnya. Dan bukan literally kehilangan juga. Mereka masih di tempatnya, mereka masih ada di situ, di tempat kami pernah begitu dekat. Hanya saja … rasanya semua berbeda. Gak ada lagi bercanda cela celaan kami, gak ada lagi curhat curhat lucu kami. But, things changed. And … yasudahlaaaahhhhh, yang saya rindukan pada kenyataannya pertemanan kami dulu. Iyah, yang waktu itu. Ini saatnya teriak : NEXT!

Miss those good times. 

Gara – gara foto itu sihhhhh… 

PS: Postingan ini dipersembahkan oleh foto lama bersemi kembali. Ke bali. Er.. kembali maksudnya. 

coffee conversation

Kinan menyeruput tehnya perlahan. Sangat perlahan, seolah olah teh yang ada dalam cangkir itu adalah air suci yang harus diminum dengan perlahan. Seteguk teh manis hangat itu mengaliri kerongkongannya dan perlahan perasaan hangat dari teh itu mengaliri hatinya. Seolah seperti itu.

Padahal Kinan tahu, perasaan hangat tersebut bukan berasal dari Peach Tea hangat yang baru diseduh Mbok Nah sore ini. Perasaan hangat di hatinya secara jelas Kinan tahu penyebabnya. Penyebabnya adalah pertemuannya dengan Genta siang tadi.

Iya, Genta yang pernah mengisi hari-harinya lima tahun lalu.  Tadi siang Kinan bertemu dengan Genta itu. Genta yang pernah dua tahun menjadi sandaran hatinya, Genta yang pernah membantunya menyelesaikan tugas akhirnya waktu kuliah dulu, Genta yang menjadi teman berbaginya yang setia, Genta yang mengenalkannya pada dunia Advertising, Genta yang mengajarkan bagaimana bersikap profesional, Genta yang mendampinginya memasuki dunia pekerja, Genta yang dikhianatinya lima tahun lalu. Dan yah, Genta yang memilih pergi pada akhirnya.

Pertemuan itu bukan pertemuan yang tidak disengaja. Pertemuan Siang tadi merupakan pertemuan yang murni direncanakan. Direncanakan oleh mereka berdua, casual lunch yang malah berujung coffee time di Gedung Perkantoran tempat Genta bekerja.

Benak Kinan melayang ke percakapan yang terjadi siang tadi dengan Genta.

***

 

“Jadi, Sekarang kamu udah berhenti total dari dunia Advertising?” Genta.

“Kalau total sih belum yah Ta, masih satu divisi sama anak – anak Marketing, masih sering banget nongkrong sama anak – anak Marcom” Kinan

But guess you’re the boss now, Ki”  Genta.

Not yet, Ta. I’m just a slave” Kinan.

” Hahahahaha. But we are corporate slave. Don’t you agree?” Genta.

Tawa renyah dan sapaan hangat di mata Genta belum berubah. Kinan paham betul itu. Lalu percakapan seolah mengalir, membahas apa saja yang Kinan lakukan empat tahun terakhir. Bagaimana akhirnya Genta  membangun Advertising Agency miliknya yang dirintisnya dari jaman mereka sama sama kuliah dulu dan harus melihat bisnisnya itu hancur setahun lalu ketika satu persatu sahabatnya yang sama – sama membangun bisnis tersebut memilih menyebrang ke berbagai lini bisnis lainnya.

Pembicaraan siang tadi khas pembicaraan reuni yang terjadi saat Kinan berkumpul bersama kawan – kawan kuliahnya. Apalagi yang mereka bicarakan selain pekerjaan (elo inget Andrea? Angkatan 2005, sekarang dia kan udah jadi Manager loh di Unilever. Atau sejenis pertanyaan kasual; ‘Marcom tempat lo siapa sekarang yang megang?), bisnis, Aset, dan kalau yang ngumpul banyakan perempuannya … maka topik bahasan bertambah; keluarga.

Dan saat membahas topik terakhir biasanya Kinan beringsut menghindar. Kinan paling malas jika topik yang sedang seru – serunya tentang Advertising tiba – tiba harus berubah haluan ke topik keluarga. Alasannya sudah jelas. Karena Kinan memang belum berkeluarga. Dia lelah menghadapi hunusan pandangan mata teman – teman kuliahnya; yang seolah – olah meminta penjelasan kenapa dirinya masih belum berkeluarga. Seakan Kinan tahu kenapa dia belum berkeluarga.

Tapi bersama Genta, pembicaraan tidak berbelok ke pembicaraan tentang keluarga. Entah karena Genta seorang laki – laki atau mungkin karena Genta juga menghindari topik tersebut.

***

” Kamu masih seperti yang dulu Ki” Genta.

Dan pernyataan itu menggantung begitu saja siang tadi.  Menutupi perasaan gugupnya, Kinan perlahan mengambil cangkir di depannya siang tadi. Sejuta pertanyaan berkecamuk di pikirannya.

Apa maksud Genta? Sudah jelas Kinan berubah sejak lima tahun yang lalu. Kinan lima tahun lalu tidak mungkin akan tampil dengan sepatu dengan heels setinggi tujuh senti. Kinan yang lima tahun lalu tidak mungkin menggunakan blazer dan rok seperti siang tadi. Kinan yang dulu bahkan tidak tahu bahwa eyeshadow bisa digunakan sebagai ganti pensil alis. Kinan yang lima tahun yang lalu hanya mengandalkan lip gloss body shop favoritnya.Kinan yang dulu pasti sudah menghabiskan sore bersamamu, bukan menikmati peach Tea seperti saat ini seorang diri.

Namun Kinan yang dulu pasti akan dengan mudahnya terbang melayang hanya dengan kerlingan mata yang teduh milik Genta. Bukan berati kerlingan mata itu sudah tidak teduh lagi, hanya saja …

Untungnya ojeg on-line pesanan Kinan sudah tiba dan hal tersebut seperti memaksa mereka berdua untuk menyudahi reuni kecil mereka tanpa memberi kesempatan Kinan untuk memberikan tanggapan atas pernyataan Genta.

Saved by the ojeg.

***

to be continued. maybe.

***

masih ingat cerita Kinan – Genta – Bima yang pernah saya coba tulis sekitar enam tahun lalu? Saya sedang mencoba meneruskannya. Well, proyek kecil – kecilan saja, untuk melarikan diri sejenak dari rutinitas. Kalau mampu dan sempat yah dilanjutkan, kalau tidak yah disempat – sempatkan saja. 

P.S : ada yang pengen baca cerita sebelumnya? Here’s the link! 

 

Listening to Memulai Kembali by Monita Tahalea

Matahari sudah di penghujung petang,
Ku lepas hari dan sebuah kisah
Tentang angan pilu yang dahulu melingkupiku
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama

Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilu pun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu

🎶🎶🎶🎶🎶

Listening to Memulai Kembali by Monita Tahalea

Preview it on Path

Apa rasanya

Hei, selamat sore temans. Apa kabar? Setelah lagi lagi berhenti menulis, ternyata ada jutaan kata menggebu yang siap dituangkan. Sebel juga sih kadang. Kalau lagi seneng dan pengen nulis (dan punya ide keren yang kayanya bagus buat ditulis) ehh waktunya gak ada. Entah lagi dikejar deadline, entah lagi ga terkoneksi internet jadi gak bisa langsung buka WP, entah memang gak tahu cara mulainya.

Giliran lagi ongkang ongkang kaki dan selimutan unyu di rumah, dan pegang pegang hp dan buka buka WP, ngeblank aja gitu buat nulis. Ide itu seperti lelah berlari dan memilih menyembunyikan diri. Ngambek mungkin. Macam perempuan lagi kena syndrom bulanan, hahahaha.

Oke, kali ini saya memaksa diri saya untuk duduk. Duduk sendirian, menatap kerumunan orang yang lewat di depan saya. Saya dan segelas latte. Sounds familiar, rasanya seperti pojok favorit dari dulu. Oke, di sabtu sore ini saya akan membahas mengenai … *jeda* haduh .. tuh kan. Idenya hilang entah ke mana.

Saya coba free writing aja yah,

Hari ini saya pergi ke kantor. Iya, sementara pekerja di luar sana merancang liburan dan bla bla nya, saya harus memaksa pantat saya untuk pindah duduk ke kursi saya di kantor; menatap PC saya yang sudah bagaikan pacar kedua (karena sering kali kami saling menatap. Hahahaha!).

Info ya, saya ini bukan workaholic. Sama sekali bukan. Kalau ada pilihan apakah saya harus bekerja atau selimutan di rumah, maka saya akan memilih selimutan di rumah ditemani buku favorit saya. Dan remot tipi.

Lalu kenapa saya serajin itu di hari libur saja saya ke kantor? Karena ada begitu list pekerjaan saya yang tidak bisa saya selesaikan di hari kerja. Kok begitu? Entahlah. Mungkin saya termasuk kategori sulit fokus. Sementara list pekerjaan saya menuntut saya harus memiliki kemampuan fokus cukup tinggi. Jadi, saya pergi ke kantor di hari libur bukan karena saya ingin achieve sesuatu atau ingin jadi pekerja terbaik atau ingin ‘curi start’ dari teman teman staf lain. Saya pergi ke kantor di hari libur hanya karena get things done. Well … walau pada kenyataannya saya juga tidak bisa menyelesaikan semuanya hari ini.

*jeda*
Mikir nulis apa lagi

Pikiran saya berlari ke rekan – rekan seruangan saya yang karakternya lucu – lucu bisa dibilang. Kok begitu?

Ya  iyalah. Percaya deh. Sama seperti kampus, kantor juga merupakan laboraturium perilaku yang menyenangkan untuk diperhatikan (dengan catatan: kalau kamu punya waktu untuk melakukan itu). Gak percaya? Cobalah simak cerita cerita kubikel pekerja corporate macam saya.

Dulu saya gak sabar untuk masuk di dunia kerja, karena berpikir akan ada lebih banyak karakter yang saya temui, akan lebih banyak cerita (baca: drama) yang bisa didengar, banyak teman yang bisa saya dengarkan pengalamannya.

Fakta lucunya adalah: iya, bagian begitu banyaknya drama dalam kehidupan kubikel itu memang benar ada nya. Tapi… kamu gak akan punya waktu untuk menyimak itu semua. Kamu gak akan punya waktu untuk menganalisis seluruh perilaku orang orang sekitar kamu. Kamu akan lebih banyak berkata (dalam hati); ‘serius dia bisa kaya begitu? Gak habis pikir gue kenapa dia begitu’

Seriously.

Kamu seperti kehabisan energi, karena rutinitas adalah sesuatu yang perlahan mematikan kemampuanmu menganalisis (kalau bukan nyinyir) tentang perilaku orang lain. Lah bagaimana sempat menganalisis, belum sampai kantor saja atasan sudah menelpon … checklist beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum pukul 09.00, nyampek di kantor liat berkas – berkas yang harus diselesaikan dan mendadak amnesia sama waktu.

Saya baru 3 tahun berada di rutinitas ini. Baru banget. Masih anak bawang. Masih punya perasaan (kadang); habis ini apalagi yah yang bisa dikerjakan.

Saya cinta pekerjaan saya. Saya menyukai adrenalin di tiap deadline yang harus diburu. Saya menyukai tiap detik lelah yang berada di balik berkas berkas yang harus saya selesaikan. Karena dari awal, saya selalu menanamkan pada diri saya sendiri bahwa ada nilai ibadah pada tiap berkas saya. Karena saya percaya bahwa di tiap berkas yang saya selesaikan ada helaan nafas orang lain di luar sana yang akan menjadi lebih ringan jika saya mampu menyelesaikan.

Beberapa tahun lalu, saat saya masih menjadi mahasiswa lucu di Jogja … saya pernah berkata pada kawan dekat saya “aku mau jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Tahukan … jenis orang yang membuat helaan nafas orang lain lebih ringan dengn kehadirannya. Jenis orang yang ‘untung ada si ais’ -oleh orang lain saat dirinya hadir. Orang yang dinantikan kehadirannya”

Inget banget waktu itu … mencapai usia 25 tahun saja belum. Mau bekerja di mana saja saya gak tahu. Lulus kuliah aja belum. Saya cuman kebayang aja jadi orang yang dicari cari gitu. Rasanya menyenangkan. Sepertinya.

Dan sekarang, berada di bawah divisi HR and GA … -walau bukan menjadi main division di perusahaan operasional tempat saya bekerja, hanya back office- saya selalu merasa bangga. Bagian kehadiran yang selalu dinantikan pun terwujud (percayalah, sebagai HR Officer yang merangkap GA, kamu bakalan sering banget dicari orang kantor, apalagi menyangkut urusan-urusan rumahtangga kantor. Hahahahah)

Yah … dibalik begitu banyak kegagalan kami dalam memenuhi permintaan permintaan rekan operasional, saya selalu percaya bahwa suatu hari nanti divisi kami akan mampu memenuhi keinginan mereka semua dalam mendukung peningkatan produktivitas mereka.

What the … kenapa tulisan di blog saya sudah semacam laporan kerja manajemen?

Fix. Saya butuh piknik pikiran. Saya harus kembali menulis lagi. Harus kembali membaca buku lagi. Harus kembali mengerjakan hal hal kecil favorit saya saat menjadi pengangguran (bikin kutipan – kutipan lucu untuk di tempel di kaca hias, baca majalah majalah lama, berlama lama di toko buku, duduk dan membaca buku, duduk di keramaian dan memperhatikan perilaku orang, dan lainnya). 

Well. Sudah dulu ya. Saya harus segera kembali ke dunia nyata. Escape nya cukup sekian (ternyata menulis itu menyenangkan yah. Rasanya seperti melarikan diri dari pikiran-pikiran akan deadline pekerjaan), karena jika melarikan diri terlalu lama … we need another escape way. Dan mencari escape way itu membutuhkan energi dan waktu yang cukup lama.

Jadi, apa rasanya 3 tahun menjadi corporate worker? DEFINITELY COMPLICATED!

Selamat berakhirpekan yah temans :):):)

Masih ada

Iya, ternyata rasa sedih itu masih ada. Belum hilang sempurna. Sejak mendapatkan hari libur setelah kejadian itu, saya jadi hobi nongkrong depan tipi. Nonton pilm pilm yang menarik menurut saya. Berteman dengan remote-remote, saya melewati hari, menanti mas suami kembali untuk berbagi cerita lagi.

Nah diantara film-film itu, ada beberapa film yang ada adegan wanita melahirkan. Dan sudenly, tanpa aba-aba dan tanpa rangsangan lebih lanjut, mengalir aja gitu air mata saya. Ada jutaan seharusnya di kepala saya saat melihat adegan itu.

Ternyata saya memang belum over it. Iya, saya sudah bisa menceritakan kejadian itu tanpa air mata, sudah bisa ngobrol sama mas suamik soal kehilangan itu …

… tapi ternyata kadang saya suka masih ngerasa sedih. Apalagi inget pas perjalanan ke Bandung itu saya banyak ngobrol sama dia, saya ajak ngobrol sepanjang jalan. Secara waktu itukan saya nyetir sendiri.

Suka tiba tiba bangun tidur saya nangis aja gitu inget dia.

Ternyata kehilangan saya kali ini sebesar itu.

Iya, saya tahu semua kalimat kalimat hiburan itu, saya paham bahwa semuanya akan indah pada waktunya. But somehow, saya hanya ingin menangis. Meresapi tiap jengkal kesedihan, mencoba menikmatinya.

Ah. Hanya mereka yang tidak bersyukur yang terus terusan berkubang dengan kesedihan. Iya, itu betul. Tapi tiap mereka yang pernah merasakan kehilangan, pasti punya moment di mana dia hanya ingin bersedih. Dia hanya ingin mengenang. Bukan untuk menyesali dan memutar waktu. Hanya ingin sejenak berkawan dengan sedih. Sejenak saja.

Karena kesedihan bukan untuk dijadikan sahabat, kita punya jutaan alasan untuk bersyukur. Bukankah rahasia kenikmatan itu bukan pada rasa nikmatnya, namun lebih kepada rasa syukur nya kan?

Yuk, kemasi hati untuk kembali ke rutinitas. Simpan sedihnya, mbak ais :):):)

xoxo,

Enjoy and keep writing

Mencintaimu dengan sungguh sungguh

Saya : “ade tuh punya perasaan yang semakin hari semakin tidak terdefinisikan ke mas. Sampai susah dirangkai dengan kata-kata”

Dia : “kalau gitu yah sms aja … ”

***

Know what? Percakapan itu terjadi antara saya dan mas suamik. Saya dan dia punya kebiasaan ngobrol yang agak ajaib – menurut saya sih. Mengikuti jadwal kerja kami yang gak sama, dia dengan shift dan saya yang kerja secara 8 to 5. Kami lebih sering pillow talk. Tahu kan obrolan obrolan menjelang tidur … dan salah satu percakapan saya beberapa yang lalu dengan dia yah itu.

Saya belum pernah kan yah cerita soal mas suamik. Hehehehehe… okeh, cerita yah dari awalnya. Kurang lebih dua tahun yang lalu. Saya masih kerja di kantor lama waktu itu, dan atasan saya meminta saya untuk mencari tempat meeting. Bukan hotel. Bisa buat berkumpul sekitar 40orang.

Nah, kebetulan beberapa hari sebelum dapet perintah itu, saya dan gerombolan saya waktu itu lagi seneng banget menemukan tempat nongkrong di salah satu sudut di daerah paling hips di utaranya Jakarta (baca: kelapa gading).

Singkat cerita, sebelum mengajukan tempat itu ke atasan .. saya survey dulu ke lokasi itu secara detail (actually, kita nongkrong di tempat itu 5hari berturut turut jadinya). Tapi malem itu saya nanya sama waitress nya, bagaimana prosedur kalau saya mau reserve tempat untuk 40 orang. Dipanggilah si bapak supervisor. Dia nyamperin meja saya dan temen temen, mencoba membantu saya membuat rancangan reservasi untuk bos.

Obrol punya obrol, si bapak spv ini medok banget ngomongnya, saya nyeletuk lah, “mas nya orang tegal yah?”

Dia: “bukan mbak, saya dari purwokerto”

Hebohlah teman teman saya yang jumlahnya cuman dua orang itu.

Teman 1 : “ya ampun mas, satu kampung sama temen saya ini *sambil nunjuk saya* mau ga mas sama dia?”

Teman 2: “iya mas, dia lagi nyari pacar”

Idih banget kan temen saya. Akirnya jadi bahan becandaanlah kita berdua. Becanda sekaligus ngerayu biar dapet diskon sih.

Teman 1 : “iya mas, belum nikah kan?”

Dan dia dengan senyum mautnya itu ngejawab “belum, mbak”

***

Sisanya kapan kapan saya ceritain deh bagaimana kencan pertama kita (kencan?), bagaimana dia dengan suara medoknya itu nembang lagu yen ing tawang ana lintang, bagaimana dia ‘nembak’ saya (di pinggir jalan, depan indomaret, saya masih pake seragam kantor lama, gak ada romantis romantianya deh),

Kisah kasih kami gak semulus ceritanya raffi dan Gigi yah. Banyak banget perbedaan dari kami yang kadang memaksa kami untuk saling menjauh, mencoba berpikir ulang tentang kebersamaan kami. Kami dididik dari latar belakang keluarga yang berbeda, bahkan suku yang berbeda. Jenis pekerjaan, kebiasaan sehari hari, obrolan sehari hari, tingkat pendidikan, semuanya tentang saya dan dia itu berbeda.

Dia bukan tipe laki-laki yang betah diajak mengobrol dan menganalisa semua perilaku manusia-manusia di sekitar kami (yang senaaaang banget saya dan teman teman saya lakukan), dia bukan pria kece yang punya bakat fotografi terpendam, dia bukan pria keren dengan teman gaul yang beredar di mana-mana.

Dia pria sederhana yang punya prinsip-prinsip menakjubkan dalam hidup, pria lugu yang entah bagaimana caranya mampu bertahan dengan sifat dan sikap saya yang bisa sangat amat menyebalkan. Pria pendiam yang sabar dengerin saya ngoceh tentang kehidupan saya, tanpa meremehkan, dan dia benar-benar mendengarkan. Bukan sekedar belagak mendegarkan yah. Karena sering dia mampu menceritakan kembali apa yang saya ceritakan (part keisengan saya: suka nyuruh orang nyeritain ulang cerita saya, kalau saya rasa dia gak dengerin cerita saya. Tapi bener deh, pria pria di luar sana bisa belajar untuk mendengarkan dengan lebih baik biar terwujud perdamaian dunia #halah).

Gak, saya gak memuja dia setinggi langit kok. Dia punya kelemahan juga. Dia bukan superhero. Dia bukan Dr. Beno -nya Ika Natassa, bukan juga Nimo – nya Cintapuchino. Dia pria biasa. Yang jutek, gak romantis, hobi melarikan diri ke dalam gua kalau mendapatkan masalah (seperti pria lainnya :?:?:?), pria yang cenderung gak peka sama sensitifitas wanita, dia lempeng selempeng lempengnya alias gak ekspresif,

… tapi dia juga pria humoris yang mampu membuat saya tersenyum dengan lawakannya yang di luar logika, dengan kata-kata polosnya yang tak terduga, pria jenaka yang juga bijaksana dalam menghadapi hidup, pria sederhana yang punya rancangan gambaran masa depan yang sesuai dengan rancangan masa depan saya, pria pemimpi yang paling realistis yang pernah saya kenal, pria berhati lembut namun mampu membuat saya tidak terlalu drama (belum cukup berhasil, sih. Hahahahahaaha),

Dia pria yang mampu membuat saya menikmati hidup, mampu mengatasi ketakutan saya untuk berkomitmen jangka panjang, dia mampu meyakinkan saya bahwa ada pria yang siap mengahadpi semua keajaiban saya, bahwa ada pria yang mau berjuang bersama sama … bukan hanya diperjuangkan.

Namun yang paling utama adalah … dia membuktikan kata-katanya. Dia memegang kata katanya yang dia ucapkan dari awal kita deket. Diantara para pria penebar janji itu, hanya dia yang mampu menghadapi bapak saya, bersabar untuk setiap prosesnya.

Dan ternyata benar apa yang nenek bilang … bahwa … mereka yang mengucapkan ‘aku tuh sayang banget sama kamu, gak pernah aku sesayang ini sama orang lain’ atau mereka yang hobi menebar keseriusan dengan bercerita tentang ‘betapa seriusnya aku sama kamu‘; atau mereka yang melakukan hal-hal romantis lainnya (termasuk ngajak kamu ke rumah yang dia cicil dan bilang ‘ini rumah kita’), akan kalah dengan pria yang berani dateng ke Bapak kamu dan ‘meminta’ kamu dari Bapakmu.

Dulu saya pernah menganggap sepele hal itu. Itu loh .. bagian -serius-meminta-saya-ke-bapak. Aaahhh… semua pria bisa kok melakukannya. Big no no girls, gak semua pria bisa melakukannya. Mereka biasanya hanya bisa mengatakannya. Ada perbedaan besar di situ.

Mereka yang bisa mengatakannya ke kamu, belum tentu berani menghadap ke bapak kamu, mendengarkan jawaban Beliau, mengikuti tiap tahapan dengan sabar dan yakin bahwa tidak ada wanita lain dalam hidupnya yang ia inginkan selain kamu. Dan … pria ini melakukannya untuk saya.

image

My man 💕

… tapi dia pun berproses, bukan pria yang sejak awal berani. Dia pun pernah mundur untuk mempertimbangkan kembali. Melalui malam-malam tukar pikiran kami, diantara gelas kopi plastik favorit kami, nasi goreng pojok jalan kesukaan kami, kami banyak berbagi rasa takut, kagum, semua rencana-rencana kami, impian-impian kami. Sampai akhirnya waktu, kesempatan, keadaan, dan rencana Allah yang membawa hati kami dengan yakin melangkah ke jenjang pernikahan.

***

Well … sekilas yah tentang si mas suamik malam ini. Semoga bisa menjadi semacam awal yang baik bagi saya untuk kembali nulis. Aamiin?

AAMIIN

see u, temans!
😙😙😙😙😙😙