Being mom… (catatan untuk mereka, suatu hari nanti)

Hai, dramaland … apa kabar kamu? Semoga baik-baik saja. Yes, pandemi masih ada di Indonesia dan mungkin juga di seluruh dunia ya. dan, saya masih jadi satu dari sekian banyak orangtua yang struggling dalam mengajarkan anak di sekolah onlen. padahal, baru beberapa bulan loh saya nih jadi orangtua anak TK. Anak say ayang pertama baru bulan juli lalu jadi anak TK. yang nomor dua masih umur 2,5 tahun dan belum sekolah. rencananya mamaknya mau nyekolahin PAUD. tapi berdasarkan masukan dari netijen di sekitarku (hahahaha), aku nunda dulu deh. si gemes nomor dua kayanya belum bisa, karena pernah ikut free class dari salah satu learning club si nomor dua pelukan terus sama mamaknya. padahal onlen loh kelasnya. beda banget karakter nomor satu dan dua. yang nomor satu dengan sigap duduk manis dan pakai baju rapih dan antusias di kelas perdana.

ya mungkin faktor usia juga ya bund, makanya bisa beda gitu perilakunya.

so, mau membahas apa kita di siang hari ini, sambil nunggu report saya direview atasan saya. ngobrolin dunia kerja? ah gak usah ya, kantor saya lagi menarik perhatian karena mau Merger dan beberapa bulan terakhir kami sudah banyak kampanye, lagia juga saya belum punya kapasitas untuk membicarakan itu.

kita bahas curahan hati saya ya a few years later dari mbak-mbak dramaqueen menjadi ibu-ibu beranak perempuan dua yang hobi nonton netflix dan maen games projet makeover di HP. kalau ditanya, bagaimana rasanya menjadi mamak-mamak saya bakal jawab luar biasa. not good all the time. but something good always happens everyday. Kaya misal semalem, saya harus lembur di jadwal WFO kan … saya pulang sampai di rumah dua bidadari sudah di kamar dan siap tidur. terus setelah rangkaian panjang naruh barang -semprot2, mandi, milih baju, sholat, minum air, makan bakso – saya masuk ke kamar menyusul mereka. terus yang nomor dua meluk saya dan bilang: nin tuh kangen sama ibuk, tauk… sambil elus-elus pipi. Ya ampun pemirsa, itu yang namanya capek setelah seharian ngantor rasanya luluh denger si 2,5 tahun ngomong gitu dengan ekspresi sok meloow.

tadi pagi juga, si nomor satu dan nomor dua rebutan mau mandi sama siapa terus rebutan meluk caper sama mamaknya. terus saling teriak : ini ibu nin, ini ibu Aka. bold ya Kak, sambil teriak-teriak soalnya.

Mamak ngomel? alwaaaays everyday. dari teriakin suruh mandi, teriakin kalau mereka berantem, ngomel-ngomel karena mereka makan diemut, apalagi? daftarnya banyak, bund. tapi ada banyak hal yang dipelajarin: jadi ibu itu gak bisa egois. ketika saya mau ngegame project make over, tapi screen time anak-anak udah habis ya saya matiin HP. sepengen apapun saya ngegame. Terus ketika pagi-pagi mau jogging tipis-tipis habis shubuhan, apalah daya tangan kanan dan kiri dikekep dan dijadiin guling sama mereka. Mikir habis PPKM mau travelling ke mana ya, rute rumah kantor sudah mulai membosankan… mikir budget yang harus dihabiskan kalau rombongan lenong (dua anak dan satu ART) ikut.

Gak ada pilihan yang terbaik. Ketika kita memilih untuk menjadi Ibu, kita harus dihadapkan pada plus minus nya. dan ketika kita memilih untuk tidak memiliki anak juga ada plus minusnya. Yang mana yang sesuai saja sama kondisi dan hati kita. Bener gak? Capek loh dalam hidup kalau semua pilihan Kita itu harus memikirkan hal lain. Nih saya jembrengkan pilihan – pilihan yang harus saya hadapi dari saya berumur 17 Tahun :

Kuliah di mana? Negri atau Swasta

Selesai kuliah mau kerja apa kuliah lagi?

Kerja di mana? di Perusahaan kecil atau langsung di perusahaan besar?

Nikah sama yang mana?

Mau nikah : resepsi besar-besaran atau bagaimana?

Setelah nikah : keluar rumah atau stay di rumah orangtua?

Mau punya anak berapa?

Setelah punya Anak : ASI apa sufor

and the list goes on and on … belum lagi problematika as a new mom: popok apa diaper, pakai ART atau tidak, dan cabang-cabang dari pilihan itu banyak sekali. kalau udah milih gak pakai ART : masukin daycare atau nitip ke orangtua. Semua harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Waktu anak saya masih satu, saya kekeuh gak pakai ART, dan saya harus berpikir bagaimana nih saya gak pakai ART : orangtua Kami gak tinggal di kota yang sama. terus anak gimana? Dan, pilihan saya : saya titipkan ke tante saya. Tiap pagi sebelum kerja saya drop si nomor satu di rumah tante saya, lalu pulang saya jemput juga. Setelah hamil yang kedua, saya memutar otak dan diskusi dengan semua yang terlibat dalam pengasuhan : mas suamik dan mertua: aku kudu piye? dan, keputusan menggunakan ART akhirnya merupakan keputusan yang paling baik buat saya. mungkin, gak ideal untuk sebagian orang. Saya sih tutup kuping kalau ada hal-hal relevan yang gak ngaruh buat saya. kecuali misal mertua/ibu saya gak mau cucunya dipegang ART, baru saya mikir. Paling saya tanya balik; piye, Bu .. mau njagain putune?

Sama kaya ketika memutuskan yang nomor satu sekolah atau tidak tahun ini. Sebagai lulusan psikologi (dan filsafat) yang idealis saya ingin menjadi guru pertama bagi si mbak. Namun apalah daya ya bund, saya ternyata gak sekonsisten dan setegar itu untuk mengajarkan anak saya. Akhirnya si mbak masuk sekolah deh. dan percayalah, menndampingi si mbak sekolah onlen merupakan pengalaman yang ajaib. Pengalaman ajaib setelah menikah, hamil, kemudian melahirkan: gak bisa dilukiskan dengan kata-kata. celetukan si mbak yang ngeselin tapi ngegemesin di satu waktu bisa bikin senyum-senyum namun di waktu lain bisa bikin mengelus dada dan istighfar. kaya randomly, si mbak ini teriak-teriak manggil gurunya ketika sesi online. gurunya dengan sigap bertanya, “kenapa Mbak?” terus dia menjawab : Bu Guru, tadi tamunya yang datengin Bu Guru namanya siapa -hanya karena bu Guru di awal kelas sempat ijin menerima tamu. belum lagi kalau disuruh ngerjain buku paket dia jawab: kemaren kan sudah, Bu.

Hoalaaaahh.. dalam hati Saya mbatin, ‘nek aku njawab ngunu ke mbokku, wis diseseni aku, nduuuukkk’

Ibu saya ketika saya cerita mengenai pompa ASI, Beliau terkagum-kagum dan bilang; teknologi sekarang sudah berbeda. kalau kita gak bisa memberikan yang terbaik buat anak-anak, sayang sekaali. – menanggapi saya yang kekeuh ngasih ASIP ke anak – anak saya.

Apppaaa inti dari tulisan ini jadinya, Bu Ais? the point is … menjadi apapun, pilihan apapun yang kita jalani dipastikan yang terbaik untuk kita. So, mau minum Sufor, mau pakai diapers, mau mendidik dengan gaya homeschooling, mau gak punya anak, mau tidak menikah, mau diet habis-habisan, mau ngelanjutin kuliah S3, silahkaaan …

itu yang ingin saya tekankan juga untuk dua bidadari saya;

Hidup akan menghadirkan pilihan-pilihan yang banyak sekali untuk Kalian. Pilihlah dengan bijaksana. Ibu akan berusaha memberikan pengetahuan mengenai norma agama, etika dan sebagainya yang kalian butuhkan agar kalian bisa memutuskan pilihan-pilihan terbaik ketika waktunya sudah tiba untuk kalian dan kalian mampu menanggung risikonya. Walaupun, saat ini mohon maaf Ibu belum mampu untuk membiarkan Kalian mengambil keputusan sendiri.

*sambil mberebes mili membayangkan mereka, yang suka ngotot milih pakai celana daripada rok-rok lucu yang saya belikan dan ngotot bilang itu b, padahal jelas-jelas itu d. well, pilihan lebih dari sekedar mau makan abon atau telor ya Nak.

Cheers,

ais

ps: sebuah pengingat buat Ibu Ais jika suatu hari nanti bertengkar dengan versi dewasa bidadari-bidadarinya yang berbeda prinsip, ingat pandangan ini! ingat ketika dulu ambil kelas Filsafat Barat dan kamu dianggap punya standart ganda untuk argumen kamu. remember: untuk berdiri tegak, motor juga butuh standart ganda. you know, balance. dengarkan mereka, berpikir dengan cara mereka berpikir.