i miss u, bro

Tahun 2020 lalu merupakan tahun yang menyesakkan buat kami sekeluarga. Kami kehilangan anak dan adik kami: Agil. Kehilangan yang sebenarnya tidak mendadak, karena adik saya ini sudah sakit sejak tahun 2012. Sakit yang saya juga tidak terlalu paham, sakit apa. Sempat didiagnosis menderita Encephalitis, dan dirawat di rumah sakit selama 40 hari, kemudian sempat sembuh dan melanjutkan kuliah lalu lulus di tahun 2014.

Sekitar tahun 2017, dia Kembali melemah dan jatuh sakit. Berulang kali ke Rumah Sakit PON di daerah Cawang, dan membawa pulang obat yang banyak, lalu meninggal di Bulan Februari 2020.

Mari Kembali saya ceritakan hari dimana saya kehilangan adik saya satu-satunya. Pagi itu hari Sabtu, 1 Februari 2020 saya entah kenapa bangun di pagi hari dan ingin sekali membereskan meja buffet di ruang tengah, tempat kami menata foto-foto wisuda kami. Laci-laci meja tersebut saya buka, saya tata Kembali. Dan di tengah pekerjaan tersebut, saya mendapati foto Agil sewaktu kecil, lalu memamerkan foto tersebut kepada rewang saya di rumah, sambal membanding-bandingkan wajahnya dengan anak bungsu saya.

Setelah selesai merapihkan buffet, saya berencana pergi ke pasar kompleks untuk membeli keranjang-keranjang kontener, melanjutkan ritual bebersih saya. Hari itu hujan, saya pamit kepada suami dan membawa mobil saya. Baru sekitar 1 km saya mengendarai mobil kecil saya, ibu saya menelpon.

Dengan riang saya menjawab. Beliau menanyakan saya lagi ngapain, lagi di mana. Suaranya seperti habis menangis. Sampai detik ini, saya masih ingat kata-kata Beliau siang itu,

“is, adik kamu sudah gak ada”

Saya histeris, histeris dan berteriak tidak percaya. Saya memohon untuk menunggu saya datang sebelum Agil dikuburkan. Lalu sisa hari itu seperti melayang saya menjalaninya. Pemesanan tiket, sodara dan tetangga yang silih ganti berdatangan membuat saya melupakan sejenak kenyataan pahit: adik saya telah tiada.

Malam itu saya meninggalkan Jakarta menggunakan pesawat dua kali untuk sampai di Kota Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, tempat adik saya menghabiskan masa hidupnya selama sekitar 4 tahun terakhir. Sekitar pukul 09.00 waktu setempat, saya menangis memeluk bapak dan ibu saya.

Tekad saya untuk tidak menangis saat bertemu dengan Bapak dan Ibu hancur berantakan saat melihat adik saya terbaring kaku. Ditambah teriakan histeris Bapak dan Ibu. Saya menangis sejadi-jadinya melihat sahabat saya terbaring kaku dan dikelilingi orang-orang. Rasa tidak percaya bahwa dia telah tiada hancur berantakan saat mencium wajahnya yang telah dingin.

He’s my little brother, my best friend. I’m loosing him.

i miss you, Gil.

Dia yang mengenalkan saya pada Efek Rumah Kaca, Mocca, dan Lagu Hai orang Asing. Dia yang membuat saya bangga akan kemauannya yang keras untuk masuk UGM (dan lulus dengan title Sarjana), dia yang merupakan temen serumah saya selama 4 tahun terakhir saya di Jogja, dia yang ikut menyeleksi pria yang Bersama saya, dia yang pernah menjadi teman berantem soal gallon, tinta printer dan pemakaian kamar mandi.

Saya tidak pernah merasakan kehilangan yang sesakit ini sebelumnya. Saya tidak menangis berhari-hari atau berbulan-bulan. Hanya saja, saya menangis saat mendengarkan lagu-lagu Sheila on 7, saya menangis saat melihat foto-foto dia yang tidak sengaja hadir di memory google photo, saya menangis saat melihat kaos-kaos dia yang saya pakai, saya memangis saat anak saya menanyakan perihal papa Agimnya,

Saya bahkan tidak mampu menahan air mata saat menuliskan ini. Bagaimana Ibu saya berulang kali menceritakan saat-saat terakhirnya. Bagaimana Bapak dan Ibu saya melihat tatapan matanya yang seolah-olah pamit saat mengucap Allahu Akbar. Bahkan saat orangtua saya mengirimkan foto kuburan nya, saya berusaha kuat menahan tangis.

Apakah rasa ini akan menghilang? Apakah rasa kehilangan ini akan pergi?

Because, I miss u so much, bro …

Al Fatihah.