2020, sejauh ini

Hola. Haloha. Hai Gaes,

2020 tinggal menghitung minggu yah ternyata. Ada sekitar 6 minggu lagi sebelum kita akhirnya berganti ke tahun 2021. Tahun dimana dulunya saya berharap saya akan memiliki Doraemon, lengkap dengan pintu ke mana saja, mesin waktu dan kantong ajaib.

Sekian lama saya tidak menengok ke blog ini, karena selain saya (sok) sibuk… saya juga merasa bahwa dunia maya bagi saya sudah tidak seasyik dulu. Bahwa dunia maya sudah tidak bisa lagi menjadi tempat ideal bagi saya untuk bercerita, untuk berbagi keluh kesah, untuk menumpahkan rasa (aiiihhh). Terlalu banyak intrik dan aturan dan entah apa namanya yang harus dijaga ketika kita berinteraksi di dunia maya.

Well, niat awal saya untuk menulis sore ini sebenarnya ingin bercerita tentang tahun 2020 ini. Terbersit rasa ingin menuliskan hal – hal besar dalam hidup Saya yang terjadi di tahun 2020 ini. Buat apa? Mbuh nggo ngopo, pengen wae.

  1. Adik saya meninggal dunia

Untuk teman – teman yang mungkin membaca blog saya dari awal mungkin masih ingat dengan Adik kandung saya, dia teman sekontrakan saya ketika memulai blog ini. Saya beberapa kali menceritakan tentang dia. Tahun 2012, dia didiagnosis menderita Encephalitis. Berulang kali ke dokter, beberapa kali melalui MRI dan pengobatan medis maupun non medis, akhirnya dia pergi untuk selama-lamanya pada tanggal 1 Februari 2020. Pukulan yang cukup besar untuk keluarga kami. He’s the most handsome, the smarter dan selalu mampu membuat kami sekeluarga geleng – geleng kepala dengan keputusan-keputusan berani yang diambil dalam hidupnya. Tapi kami tahu bahwa memang ini yang terbaik yang Allah berikan ke keluarga Kami. Dia sudah berjuang dengan sabar, dia bahkan menyelesaikan kuliahnya di Teknik Geodesi UGM setelah dua tahun cuti melawan penyakitnya. Bro, i’m so proud of you.

2. Merasakan work from home untuk pertama kalinya

Bulan Maret 2020, Indonesia mengumumkan kasus Covid-19 untuk pertama kalinya (iya bukan ya?) Hahahahahaha. Sepertinya begitu ya. Saya termasuk dari sekian banyak orang yang mengaku tidak bisa bekerja di rumah. Jujur, sebelumnya saya paling males kalau disuruh bawa kerjaan ke rumah. Karena, menurut saya rumah itu tempat istirahat. Rumah itu tempat buat santai. Beberapa kali berusaha bawa kerjaan ke rumah, dan beberapa kali pula gagal. Lalu ketika pemerintah mewajibkan perkantoran untuk mengatur jadwal WFH, akhirnya saya harus bisa bekerja di rumah.

Pengalaman yang benar – benar tidak terlupakan. Dari saya yang hampir nangis karena dimintai data dan tidak bisa memenuhi karena anak – anak gak mau berhenti main sama ibuknya (doh), sampek saya akhirnya punya space kerja sendiri di rumah lengkap dengan meja kerja ala kadarnya, semua melalui fase trial and error. Awalnya saya males beli meja kerja. Tapi setelah saya diskusi dan ngobrol sama Mas Bojo endesbre endesbre, saya memutuskan bahwa saya harus bisa fokus untuk kerja di rumah. Dan, begitulah salah satu ikhtiar saya untuk bisa lebih fokus menjalani WFH adalah : membeli meja kerja. Murah kok bund mejanya, saya milih yang biasa aja (maklum, masih nebeng rumah. Jadi belum berani beli furniture mahal-mahal ) Begini penampilan meja kerja saya di rumah:

3. Mutasi dari Kantor lama

Highlight berikutnya di tahun 2020 dalam hari-hari saya adalah, saya dimutasi. Sebenernya istilahnya apa ya. Iya, bener dimutasi. Setelah 6 tahun berada di jabatan sama, kantor yang sama dan peran yang sama, akhirnya saya dimutasi. Proses mutasi ini menyimpan banyak cerita. Dari permasalahan teknis pekerjaan, kenyamanan situasi bekerja, sampai politik kantor yang rasanya gak pernah etis diumbar ke publik. Iya gak sih? Buat jadi bahan hahahahihihi minum kopi bolehlah. Jadi, kapan kita ngopi bareng? 😀

Satu hal yang saya pelajari dengan sungguh-sungguh tahun ini adalah perubahan itu memang menyakitkan. Change is painful. Tadinya saya punya adik, ketika adik saya harus pergi, saya menjadi orang yang less care terhadap segala sesuatu yang menyakitkan hati saya. Jadi less drama gitu (rasanya). Jadi kaya lebih cuek. Mungkin ini hanya perasaan saya ya.

Tadinya saya tiap hari harus ke kantor, sekarang seminggu hanya 3 – 4 x, tergantung dari jadwal yang diberikan. Efeknya? Saya harus mampu mengatur waktu saya seefesien mungkin dan gak terlena dengan peran saya sebagai ibu (aduh Bund, namanya kalau udah sama anak ya…rasanya gimana gituuuuuu). Walaupun lebih sering failed sih ya. Hehehehehehe.

Well, bukankah memang hidup itu seperti itu? Hidup menuntut kita untuk sigap terhadap perubahan kan? Karena setiap kita terbangun di pagi hari, itu adalah hari yang berbeda dari sebelumnya kan?

Cheers,

Ps : untuk diriku di masa depan, ketika kamu membaca ini lagi. jangan ketawa ya. Postingan ini dibuat pertama kali setelah sekian tahun kamu gak nulis di blog.