Begini,

Ada hal hal yang kemudian harusnya kita lupakan. Nada nada sumbang yang berbicara di belakang kita, gosip tidak penting soal selebriti yang bahkan tidak kita ketahui korelasinya dengan kita.

Tuhan sempurna menciptakan memori kita yang terbatas ini. Dengan segala kelebihannya, memori kita miliki mekanisme tersendiri untuk memilih mana yang harus kita ingat dan mana yang dilupakan.

Dilupakan atau terlupakan itu hanyalah masalah teknis. Tidak peduli mana yang terjadi, ujungnya adalah perginya beberapa keping hal dari memori kita

Pernah terbayangkan gak jika memori kita tidak memiliki mekanisme ini? Mungkin teori Freud tidak akan lahir ya. Mungkin. Mungkin kepala kita akan sering hang, sama seperti handphone yang kepenuhan memori.

Ya kan.

Satu lagi alasan untuk terus bersyukur, kali ini karena Tuhan menciptakan mekanisme lupa dalam hidup kita.

Kebayang gak sih kalau kita masih ingat sakit hati pertama kita?

Ouch.

Cheers.

Advertisements

Maret 2019

Dear Dramaland,

Hari ini tanggal 20 Maret 2019. 10 tahun sudah umurmu tahun ini. Dulu waktu memulai blog ini umurku masih gadis belia 20tahunan. Malam ini saat aku menulis ini aku sedang memandang anak keduaku tertidur lelap setelah puas dia menyusu padaku.

Bisa kau bayangkan itu hai Dramaland ? Aku, si ais yang memulai blog ini dengan penuh drama (gak penting) di umur 20an telah menjadi mamak mamak (masa kini) dengan dua anak.

Biar kujelaskan padamu, waktu berumur belasan tahun dan masih duduk di bangku SMA….aku pernah berkhayal dan membayangkan menjadi dewasa. Membayangkan menikah di usia 25 tahun, memiliki anak di usia 26 tahun, kemudian anak kedua di usia 28 tahun. Lalu menapaki karir dan menjadi Manager di usia 30 tahun. Lalu… khayalanku berhenti di situ. Pengetahuanku mengenai tahap tahap kehidupan terbatas waktu itu sehingga menganggap di usia 30 aku akan menjadi pribadi yang matang, dewasa dan akan menguasai dunia.

Aku gak paham jika ingin menikah di umur 25 tahun, aku harus bertemu dengan Pangeranku sebelum usia 25 tahun. Jika aku ingin menjadi Bos di usia 30 tahun, aku harus menjadi supervisor dulu sebelumnya. Atau apapun itu yang disyaratkan untuk menduduki jabatan itu di bidang entahlah apa.

Ternyata …. menjadi dewasa itu rumit dan konyol. Aku hanya bisa tersenyum jika membaca ulang tulisan tulisan di blog ini. Darimana semua waktu dan kata yang bisa aku luangkan untuk menuliskan semua postingan yang ada di sini?

10 tahun lalu aku tidak pernah membayangkan akan begini jadinya … akan menjadi ibu ibu pekerja yang merisaukan soal ASI Perah, berat badan, tumbuh kembang balita, pola karir, komunikasi dalam pernikahan dan jutaan permasalahan kecil lainnya yang kadang mewarnai hari hariku.

Typically

Ah sudahlah. Kemampuanku menuangkan isi kepala ke dalam tulisan sepertinya harus sering dilatih. No excuse. Aku punya waktu untuk membuat caption foto di instagram, untuk membuat threat di twitter, berselancar di forum gosip, nonton Boril jadi juri di youtube, taaapiii gak punya waktu untuk menulis di blog?

Itulah kenapa banyak hal tertunda dalam semua rencanaku.

Ternyata aku pandai membuat alasan.

Cheers,