Obrolan Ruang Pumping

Halo… selamat pagi dari pesisir Jakarta.

Jadi, setelah maternity leave saya udah habis, saya pun kembali ke rutinitas. Ke rutinitas sebagai pekerja. Working mom istilah kecenya. Yaaaaampun…, waktu saya nulis tesis 6 tahun lalu soal working mom gak sesulit ini rasanya. Gak percaya juga sih akhirnya saya bisa sampai di tahap ini.

Mengikuti peraturan pemerintah (dan rengekan mamak mamak perah di kantor), kantor kami memiliki ruang khusus ibu menyusui. Yang baru dilaunching beberapa hari sebelum saya masuk kantor

Nah di kantor saya sekarang ada total 4 orang ibu menyusui dan sekitar 5 orang calon ibu menyusui. Dan 1 ibu menyusui yang sedang hamil (banyak yah ceu? Gitu deh … kantor saya mah kantor bawa rejeki. Banyak orang nikah, banyak orang hamil, banyak orang lahiran tahun ini). Jadi ruangan khusus ini selain dipakai buat pumping mamak perah, juga dipakai buat calon calon mamak perah yang lagi mabok buat istirahat ngelurusin punggung.

Serunya, kadang obrolan ke mana mana. Dari obrolan soal serikat pekerja, gosip gosip kantor, sampek ngomongin tetangga sebelah. Jangan salah … yang ngejalanin nota dinas untuk pengadaan ruang pumping sudah wanti wanti kalau ruangan pumping harus digunakan sebagaimana mestinya. Sampai ada artikel soal larangan ghibah dipajang di dinding ruangan. No ghibah.

Kalau curhat ngomongin suami termasuk ghibah?

Hahahahahahaha.

Jadi, sesi pumping saya kemaren diisi dengan curhatan soal para suami. Mamak mamak di ruangan yang berisi dua mamak perah dan satu calon mamak bercerita soal suami masing masing. Topik besarnya kelakuan suami saat istri hamil.

Curhat lah itu mulai dari suami yang pulang malam, lagi pengen makan apa tapi suami nurutinnya pas udah gak pengen. Atau pas malam malam pertama keadaan baby, gimana suami siaga ga tidur semaleman cuman buat ngeliat si kecil tidur (dan bernafas). Gimana suami menghandle baby blues, gimana suami jadi tumpahan emosi saat kesal dengan mertua, dan masih banyak cerita lagi.

Dan at that moment itu saya sadar. Kemaren saya sadar, bahwa setiap perjalanan rumah tangga , setiap perjalanan being a mother itu berbeda.

Every motherhood has their own journey. Ada mamak mamak perah macam kami yang masih harus bergumul dengan asip, pompa, dan rindu membuncah di tiap detiknya. Belum lagi kalau tiba tiba galau kalau disuruh lembur. Doh anak gue siapa yang nidurin. Ada juga mamak mamak yang galau karena hal lainnya.

Susah memang untuk tidak saling membandingkan kehidupan kita dengan yang lain saat ini. Di saat kita bisa memandang kehidupan orang laen dengan mudah. Sawang sinawang. Kalau kata mbah nya Aska begitu. Tapi ya begitulah tantangan jadi mamak mamak di era millenial seperti ini. Bukankah banyak kemudahan yang kita dapat saat ini? Banyak info, banyak peralatan canggih untuk memberikan yang terbaik bagi anak anak kita. Ya kan? Tapi ya itu … saking canggihnya, kita jadi bisa mengintip perjalanan ibu lainnya. Setelah ngintip, sibuk denh membandingkan. Kadang sampai sampai lupa bersyukur dengan kehebatan hidup kita sendiri.

Sibuk ngeliatin anaknya mbak instragamers, sibuk deh ngikutin makannya, stimulusnya, ampai lupa liatin anak sendiri punya tahapan perkembangan sendiri.

Hidup ini sudah terlalu sibuk kan kalau harus ngikutin kehidupan orang lain juga?

Sekian.

Ps: tulisan ini saya buat untuk diri sendiri juga yang kadang serung unmood tanpa sebab. Hahahahahay

Menikah : sebuah pergeseran makna

Beberapa minggu belakangan ini, entah bagaimana ceritanya ada begitu banyak prahara rumahtangga yang (ceritanya) menghampiri saya. Dari cerita selingkuh dalam rumahtangga, cerita si anu begini, si itu begono.

Ada cerita yang cukup menarik, semoga saya gak dibilangin nyeritain aib orang yah. Kita ambil pelajaran saja dari cerita ini.

Ceritanya, mari kita sebut dia mawar. Mawar, menikah dengan kumbang setelah menjalani kisah kasih selama sekian tahun. Hingga tiba suatu hari, mawar menemukan kenyataan bahwa kumbang selingkuh dengan teman mawar. How could?

Yeah, betapa how could lagi kalau saya ceritakan alasan dibalik perselingkuhan itu bisa terjadi. Kumbang (kurang lebih) berkata kepada Mawar : “menurut kamu kenapa sampek aku selingkuh? Karena kamu gak bisa aku apa apain. Kamu gak pernah mandi habis pulang kerja”

As simple as that.

Kamu …. gak pernah mandi, mawar.

How could?

Setelah saya survey kecil kecilan ke sekitar saya, sedihnya, mereka bilang “iya, itu bisa saja terjadi”

Kok sedih ya. Terus saya dapet bonus nasehat malahan

Makanya, jadi perempuan itu pandai jaga badan, yang wangi. Biar suami betah”

Sejak kapan menikah itu diukur dengan seberapa sering kita mandi? Saya baru dua tahun menikah. Tahu apalah saya ini soal menjaga keharmonisan rumahtangga? Yang ada, saya banyak dapet nasehat.

Suruh rajin mandi

Suruh mulai fitness

Mulai ngurang ngurangin bawelnya

Mulai belajar masak

Bagaimana dengan cinta sejati? Bagaimana dengan menerima apa adanya? Bagaimana dengan kenyamanan? Bagaimana dengan sekarang atau limapuluh tahun lagi kutetap akan mencintaimu?

Dan pada akhirnya … nasehat pamungkas yang saya terima; mari kita jalani rumahtangga kita masing-masing.

Selasa baik, medio september 2017. Ditengah dokumen dokumen pending setelah melewati cuti 3 bulan.

Ps: tadinya maunya niatnya nulisnya bukan ini. Tapi yang ditulis malah begini. Yasudahlah.