kenapa kamu

Iyah. Aku juga bingung. Kenapa kamu, diantara pria – pria ngapak  sak jakarta raya, aku memilihmu menjadi teman hidupku? Eh apa kamu yang memilih aku? Ah. Sudahlah, alam semesta memilih aku dan kamu menjadi kita. 

Kenapa kamu? Iya, kenapa kamu si pria dengan senyum memabukkan itu yang berhasil mencuri jeda dalam kekosongan hatiku setelah berulang kali hancur? Kenapa kamu?

Dan juga, kenapa aku masih terus gemas terhadap cuping hidungmu? Walau banyak cuping hidung menarik lainnya, tapi cuping hidungmulah yang paling menawan untuk kugigit. Bagaimana bisa aku menahan diri selama ini untuk tidak menggigitnya? Aku pun heran.

Lalu kenapa kamu ? Pria penembang yang semakin rajin menembang di perutku, seperti mengajak si kecil dalam perutku untuk bernyanyi. 

Oh. Kamu dan musik dangdutmu, yang selalu mengajakku percaya bahwa dangdut itu menyenangkan. Kenapa kamu?

Setelah kupikir – pikir … iya juga, kenapa kamu … pria sederhana yang lembut hatinya namun tidak romantis ini yang mampu membuatku menelan sebagian besar omelanku? (Maaf sayang, hanya sebagian. Sebagian lagi masih kukeluarkan. Can’t handle it anymore.  ). Tapi setidaknya kita sudah membuat kemajuan dengan tidak adanya handuk basah di atas kasur (untukmu) dan tidak adanya ceramah rengekan tentang day off (untukku, tapi btw, sabtu depan beneran kamu gak bisa nemenin aku kondangan?)

Hmmmm… kenapa kamu si muka datar yang mampu membuatku nyaman dengan pilihan pekerjaanku, mendengarkan semua cita-cita dan impianku yang masih jelas menjadi angan – angan, masih menyambut dengan pelukan walau harus menerima kenyataan kalau aku harus lembur di tiap weekend, masih harua pulang lebih malam darimu?

Iya, kenapa kamu?

Ah. Aku pun tak paham.

yang aku pahami, semakin hari aku semakin jatuh cinta dalam kenyamananmu, semakin yakin bahwa memang kamu lah jawaban untuk doa-doaku selama ini. 

Cepet sembuh, Bapake 😙

***

Monolog malam ini dipersembahkan oleh makmil yang lagi galau dengerin teman hidupnya batuk batuk ga berhenti. Galau dan gak bisa tidur tepatnya.

Pak e, dimik ya obatnya. 

Advertisements

curhatnya makmil

Selamat Malam dramaLand,

Gak nyangka yah udah memasuki Tahun 2017, sudah ganti tahun (anggaran) lagi. Hahahahaha, maklum yah di Kantor saya juga kebagian ngurusin anggaran (walaupun gak se complicated orang keuangan, tapi tetep aja pergantian tahun berarti besar bagi catetan kami di sistem), jadi sedikit banyak pergantian tahun itu ngaruhnya besar juga di kehidupan Saya.

Demi untuk menghidupi blog yang (lagi – lagi) mati suri, malam ini saya niatkan untuk mencurahkan isi di hati. Lemesin jari – jari yang sehari – hari hanya bergaul dengan office dan oracle (*curhat detected).

Kegelisahan saya malam ini sesungguhnya dimulai dari diskusi yang saya dan kawan – kawan lakukan pagi tadi di kantor.

Oh iya, sebelumnya saya mau cerita kalau saya (Alhamdulillah) diberikan kepercayaan lagi oleh AllahΒ  untuk hamil (lagi). Mungkin banyak yang belum tahu kalau saya pernah hamil dan keguguran (selengkapnya bisa dibaca di sini)

nah, di kehamilan ini jujur saya ngerasa campur aduk. Antara gak percaya, seneng (banget) sama bingung. Dan kalau boleh jujur … lebih banyak gak percayanya sih. Ntah yang lain merasakan atau tidak, tapi deep inside of my heart saya seperti merasa bahwa saya akan kehilangan dia lagi. seperti waktu itu.

Sama seperti saat akan menikah dengan Mas Suamik satu setengah tahun yang lalu, saat saya sudah dilamar olehnya, saya masih gak percaya. Saya masih suka bengong ngeliatin cincin yang dia kasih waktu itu. Saya masih gak percaya, diantara kegagalan – kegagalan saya dengan pria – pria sebelumnya saya akhirnya bisa menikah dengan pria idaman saya, pujaan hati saya yang sudah bersama – sama dua tahun lebih.

Inipun seperti itu. Setelah pernah gagal dan menunggu satu tahun, saya akhirnya mendapatkannya.

Makanya saya memilih diam.

Saya tidak memposting test pack saya, USG pertama si kecil, perut saya yang mulai membuncit, atau hal – hal yang menunjukkan kehamilan saya di social media.

Well, kan jaman sekarang rasanya kudu banget yah yang namanya posting (di socmed)Β  hal yang terkini dalam kehidupan sehari – hari.

Nah, ketakutan dan kegelisahan saya sangat terasa, apalagi kalau malam tiba dan suka tiba – tiba perut saya nyeri, kram, kenceng atau apapun itulah (dan setelah saya baca – baca dan konsul ke dokter, ternyata hal seperti itu wajar adanya), saya malah beberapa kali mimpi kehilangan si Dedek. Setelah beberapa kali USG si Dedek di perut Alhamdulillah baik – baik saja, malah terakhir dia terlihat happy saat diusg. Sampai – sampai saya gemas sendiri dan pengen terus menatap dia di layar monitor USG.

Tapi di luar itu semua, di hari – hari saya … saya merasa baik – baik saja.

Bersyukurnya, ternyata saya adalah tipe hamil yang gak neko – neko. Gak mual dan mabok yang parah banget, berat badan saya di trisemester pertama malah naik (sementara makmil – makmil di Kantor rata – rata curhat mereka 3 bulan pertama biasanya berat badannya turun), dan saya juga ga punya keinginan – keinginan khusus. Malah mas suamik yang kebingungan

‘dek gak mau mangga? Dek mau makan apa? Mau mik apa?‘ – itu adalah pertanyaan wajib mas suamik tiap malem.

yang biasanya saya jawab dengan lirikan mata dari atas kasur dan dari balik buku yang saya baca. Karena saya gak mau apa – apa. Saya hanya mau bergelung di balik selimut, dengan dia di dekat saya, memeluk saya.Udah. Itu aja.

Perubahan emosi? Nah ini. Selaen ketakutan yang saya ceritakan sebelumnya,Β  Saya jadi lebih gampang mewek. Jadi gampang ketawa. dan jadi gampang sebel sama orang (Astaghfirullah) Mood swing saya merajalela. Apalagi dengan keadaan kantor yang kadang full pressure, saya jadi gampang ngambek dan cemberut di kantor. Terus habis nyampek rumah, saya mewek di bahu (siapa lagi?) mas suamik.

Perubahan fisik? Ah jangan ditanya. Rasanya tiap kali nimbang saya yakin saya gak akan nambah lagi berat badannya. Tapi apa yang terjadi? Ternyata, tetep aja tuh berikutnya saya nimbang saya nambah berat badannya.

Jadi, sewaktu kemaren ketemu dengan sepupu saya dan dia bertanya apakah saya takut akan proses melahirkan, dan bagaimana rasanya menjadi hamil?

Maka pertanyaan itu menjadi pertanyaan yang terus menerus bergaung di pikiran saya. Karena jujur, saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu.

Saya hanya bingung. Sebegitu bingungnya bahkan ketika dokter berulang kali bertanya apakah saya mengalami masalah dengan kehamilan saya? Apakah ada hal – hal yang ingin saya ceritakan kepadanya. Dan jawaban saya hanya gelengan.

I’m good. I’m okey. Selain perut yang membuncit dan badan serta muka yang membengkak, saya tidak merasakan hal yang berbeda. Saya masih tetap si mbak ais, yang slebor itu, yang clumsy itu, yang hobi ngetwit kalau lagi bengong, yang hobi ngomel di kantor, masih si mbak ais istrinya Pak Arif yang gak bisa masak, dan kadang terlalu lelah untuk turun dari tempat tidur untuk mengambil remot TV, mbak ais yang hobi tidur, hobi nyuci baju (tapi males nyetrika), masih mbak ais yang doyan nimbun buku di bawah bantal.

Sekian curhatan emak – emak hamil yang sedang bingung akan keadaannya.

Sampai jumpa di postingan berikutnya yah.

Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca πŸ™‚

See u when i see u…