Apa rasanya

Hei, selamat sore temans. Apa kabar? Setelah lagi lagi berhenti menulis, ternyata ada jutaan kata menggebu yang siap dituangkan. Sebel juga sih kadang. Kalau lagi seneng dan pengen nulis (dan punya ide keren yang kayanya bagus buat ditulis) ehh waktunya gak ada. Entah lagi dikejar deadline, entah lagi ga terkoneksi internet jadi gak bisa langsung buka WP, entah memang gak tahu cara mulainya.

Giliran lagi ongkang ongkang kaki dan selimutan unyu di rumah, dan pegang pegang hp dan buka buka WP, ngeblank aja gitu buat nulis. Ide itu seperti lelah berlari dan memilih menyembunyikan diri. Ngambek mungkin. Macam perempuan lagi kena syndrom bulanan, hahahaha.

Oke, kali ini saya memaksa diri saya untuk duduk. Duduk sendirian, menatap kerumunan orang yang lewat di depan saya. Saya dan segelas latte. Sounds familiar, rasanya seperti pojok favorit dari dulu. Oke, di sabtu sore ini saya akan membahas mengenai … *jeda* haduh .. tuh kan. Idenya hilang entah ke mana.

Saya coba free writing aja yah,

Hari ini saya pergi ke kantor. Iya, sementara pekerja di luar sana merancang liburan dan bla bla nya, saya harus memaksa pantat saya untuk pindah duduk ke kursi saya di kantor; menatap PC saya yang sudah bagaikan pacar kedua (karena sering kali kami saling menatap. Hahahaha!).

Info ya, saya ini bukan workaholic. Sama sekali bukan. Kalau ada pilihan apakah saya harus bekerja atau selimutan di rumah, maka saya akan memilih selimutan di rumah ditemani buku favorit saya. Dan remot tipi.

Lalu kenapa saya serajin itu di hari libur saja saya ke kantor? Karena ada begitu list pekerjaan saya yang tidak bisa saya selesaikan di hari kerja. Kok begitu? Entahlah. Mungkin saya termasuk kategori sulit fokus. Sementara list pekerjaan saya menuntut saya harus memiliki kemampuan fokus cukup tinggi. Jadi, saya pergi ke kantor di hari libur bukan karena saya ingin achieve sesuatu atau ingin jadi pekerja terbaik atau ingin ‘curi start’ dari teman teman staf lain. Saya pergi ke kantor di hari libur hanya karena get things done. Well … walau pada kenyataannya saya juga tidak bisa menyelesaikan semuanya hari ini.

*jeda*
Mikir nulis apa lagi

Pikiran saya berlari ke rekan – rekan seruangan saya yang karakternya lucu – lucu bisa dibilang. Kok begitu?

Ya  iyalah. Percaya deh. Sama seperti kampus, kantor juga merupakan laboraturium perilaku yang menyenangkan untuk diperhatikan (dengan catatan: kalau kamu punya waktu untuk melakukan itu). Gak percaya? Cobalah simak cerita cerita kubikel pekerja corporate macam saya.

Dulu saya gak sabar untuk masuk di dunia kerja, karena berpikir akan ada lebih banyak karakter yang saya temui, akan lebih banyak cerita (baca: drama) yang bisa didengar, banyak teman yang bisa saya dengarkan pengalamannya.

Fakta lucunya adalah: iya, bagian begitu banyaknya drama dalam kehidupan kubikel itu memang benar ada nya. Tapi… kamu gak akan punya waktu untuk menyimak itu semua. Kamu gak akan punya waktu untuk menganalisis seluruh perilaku orang orang sekitar kamu. Kamu akan lebih banyak berkata (dalam hati); ‘serius dia bisa kaya begitu? Gak habis pikir gue kenapa dia begitu’

Seriously.

Kamu seperti kehabisan energi, karena rutinitas adalah sesuatu yang perlahan mematikan kemampuanmu menganalisis (kalau bukan nyinyir) tentang perilaku orang lain. Lah bagaimana sempat menganalisis, belum sampai kantor saja atasan sudah menelpon … checklist beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum pukul 09.00, nyampek di kantor liat berkas – berkas yang harus diselesaikan dan mendadak amnesia sama waktu.

Saya baru 3 tahun berada di rutinitas ini. Baru banget. Masih anak bawang. Masih punya perasaan (kadang); habis ini apalagi yah yang bisa dikerjakan.

Saya cinta pekerjaan saya. Saya menyukai adrenalin di tiap deadline yang harus diburu. Saya menyukai tiap detik lelah yang berada di balik berkas berkas yang harus saya selesaikan. Karena dari awal, saya selalu menanamkan pada diri saya sendiri bahwa ada nilai ibadah pada tiap berkas saya. Karena saya percaya bahwa di tiap berkas yang saya selesaikan ada helaan nafas orang lain di luar sana yang akan menjadi lebih ringan jika saya mampu menyelesaikan.

Beberapa tahun lalu, saat saya masih menjadi mahasiswa lucu di Jogja … saya pernah berkata pada kawan dekat saya “aku mau jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Tahukan … jenis orang yang membuat helaan nafas orang lain lebih ringan dengn kehadirannya. Jenis orang yang ‘untung ada si ais’ -oleh orang lain saat dirinya hadir. Orang yang dinantikan kehadirannya”

Inget banget waktu itu … mencapai usia 25 tahun saja belum. Mau bekerja di mana saja saya gak tahu. Lulus kuliah aja belum. Saya cuman kebayang aja jadi orang yang dicari cari gitu. Rasanya menyenangkan. Sepertinya.

Dan sekarang, berada di bawah divisi HR and GA … -walau bukan menjadi main division di perusahaan operasional tempat saya bekerja, hanya back office- saya selalu merasa bangga. Bagian kehadiran yang selalu dinantikan pun terwujud (percayalah, sebagai HR Officer yang merangkap GA, kamu bakalan sering banget dicari orang kantor, apalagi menyangkut urusan-urusan rumahtangga kantor. Hahahahah)

Yah … dibalik begitu banyak kegagalan kami dalam memenuhi permintaan permintaan rekan operasional, saya selalu percaya bahwa suatu hari nanti divisi kami akan mampu memenuhi keinginan mereka semua dalam mendukung peningkatan produktivitas mereka.

What the … kenapa tulisan di blog saya sudah semacam laporan kerja manajemen?

Fix. Saya butuh piknik pikiran. Saya harus kembali menulis lagi. Harus kembali membaca buku lagi. Harus kembali mengerjakan hal hal kecil favorit saya saat menjadi pengangguran (bikin kutipan – kutipan lucu untuk di tempel di kaca hias, baca majalah majalah lama, berlama lama di toko buku, duduk dan membaca buku, duduk di keramaian dan memperhatikan perilaku orang, dan lainnya). 

Well. Sudah dulu ya. Saya harus segera kembali ke dunia nyata. Escape nya cukup sekian (ternyata menulis itu menyenangkan yah. Rasanya seperti melarikan diri dari pikiran-pikiran akan deadline pekerjaan), karena jika melarikan diri terlalu lama … we need another escape way. Dan mencari escape way itu membutuhkan energi dan waktu yang cukup lama.

Jadi, apa rasanya 3 tahun menjadi corporate worker? DEFINITELY COMPLICATED!

Selamat berakhirpekan yah temans :):):)

7 Comments

Filed under [drama] lepas

7 responses to “Apa rasanya

  1. Hai Mbak Ais… Haaaiii… Gila, kayaknya aku kenal Mbak Ais lama bgt ya? Awal2 kenal kyknya masih mahasiswi S2 UGM, masih nyebut2 si Kapten, yang sampai skrg aku gatau yang mana itu kapten (membuka luka lama? Maaf, sengaja..). Sampai sekarang jadi mbak mbak kantoran.. Udah berjalan 3 tahun pula..
    Time fly ya Mbak..

    • Hahahahaha, cari aja di fesbuk ku, keknya masih ada loh fotonya. Tapi ga mungkin ketebak juga sih, secara fotonya rame rame sama temen laen.

      Lebay banget sih … kenal belum ada sepuluh tahun aja… baru juga kenal 7 tahunan. Wait … whot… udah 7 tahuuuun??? Tapi lumayan lama lah ya. Sampek di tiap akun socmedku ada kamu. Dari yang dulu aku kira mas mas blogger usil sampai ketemuan dan jadi temen curhat … ternyata bocah sok antimainstream yang kadang galau. Dari jaman blog nya yg dulu itu lupa di mana, sampek sekarang punya blog di WP. Dari jaman galau sama si … ahsudahlah. Orang kalau mau nikah kalau digodain suka sensi *bukan curhat*

      Sekian.

    • dikung iniiiihh beneran fans setia mba aisss yaakkk..😀

  2. Kalo udah lama nggak nulis kadang kagok tapi free writing emang bisa memancing tulisan sih

  3. kupikirnya senasib sama aku dek blogmu gak disentuh hahaha gak taunya posting juga dia agak2 rajin sikit awak agak malas posting banyak paspampres hahhaha

  4. ha..ha..ha aku udah 10 tahun jadi budak corporate ,,
    wiss pegel, sama kaya kamu,pada dasarnya aku lebih cinta ada di rumah leyeh2 ga jelas,, apa daya cicilan dan tagihan lainnya menunggu,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s