Belajar tentang kehilangan. Lagi.

Hai, selamat malam minggu temans.

Bagaimana kabar kalian? Kayanya saya harus menskip beberapa hal dalam bercerita di blog ini deh. Karena ada salah satu peristiwa besar dalam kehidupan saya yang ingin sekali saya bagi dengan blog saya tercinta ini sekarang juga.

Tepat 8 hari yang lalu, pada hari jumat tanggal 23 oktober 2015, saya dan mas suamik pergi ke dokter kandungan. Yeah … typically pasangan muda yang baru nikah dan mendapati sang wanita telat datang bulan.

Keluar dari ruangan dokter kami sumringah. Mbungah. Ternyata Allah mempercayai kami secepat itu. Ada calon janin di rahim saya. 5 minggu usianya. Kami hanya saling memandang, saling melempar senyum, saling menggenggam tangan, saling berkata “gak percaya yah … “

Malam itu kami tutup dengan makan bakso favorit kami di depan kompleks. Dengan mengetahui officially saya hamil muda, mas suamik memberikan wejangan – wejangan khas calon bapak, lengkap dengan ceramah ngurangin marah-marah gak berguna, kurangi kegiatan-kegiatan gak bermanfaat (baca: kongko after hour yang selalu menghiasi minggu-minggu saya), kurangin pikiran-pikiran negatifnya, perbanyak istighfar, banyakin baca buku-buku parenting. Dan lain sebagainya deh.

Orangtua kami tidak banyak berpesan. Pesan mereka cuman jangan kecapean, jaga badan.

Pesan sepele. Dan klise. Dan terlupakan begitu saja oleh saya, si calon ibu baru ini.

***

Senin pagi tanggal 26 oktober kemarin sebelum mas suamik berangkat kerja, saya memastikan dia tahu bahwa hari itu saya akan pergi ke Bandung, mengikuti pelatihan yang diadakan oleh kantor holding saya. Bandelnya saya, saya memutuskan untuk pergi menyetir sendiri. Padahal kantor pusat sudah menyiapkan bis yang sangat nyaman untuk keberangkatan dari Jakarta menuju Bandung. Saya tetep nekat menggunakan Kang Lupus, mobil kesayangan saya. Entahlah, rasanya nyaman saja berpergian dengan dia yang selalu siap sedia.

Senin pagi, sekitar pukul 08.30 saya membelah jalan tol cikampek menuju Bandung. Perjalanan lancar, tidak begitu macet, dan saya sangat menikmati perjalanan itu. Entahlah … saya sangat suka menyetir. Ada perasaan nyaman dalam hening mendengarkan deru mobil di sekitar. Perasaan nyaman yang memaksa kita untuk berpikir reflektif saat kita menyetir.

Sekitar pukul 11.30 saya tiba di salah satu hotel di kota Bandung. Thanks to Waze, saya yang gak paham Bandung ini akirnya bisa sampai dengan selamat di tempat tujuan 😆😆 tanpa nyasar. Ulangi: tanpa nyasar.

Hari berjalan sangat menyenangkan, karena materi pelatihan merupakan materi baru bagi saya. Bukan tentang HR ataupun operasional. Sesuatu yang benar benar baru, dan saya senang banget jadi perwakilan dari kantor saya untuk pelatihan itu.

Menjelang magrib, saya panik. Sesuatu terjadi dengan organ reproduksi saya. Saya menghubungi panitia, dan minta ijin untuk ke dokter kandungan. Saya gak berhenti nangis menelpon suamik saya di jakarta. Bahkan saya menuliskan catatan ini

image

Namun… Senin sore itu saya tenang, karena si calon janin masih ada di tempatnya. Dokter kandungan yang melakukan USG pada perut saya, mengatakan kantung kehamilam saya masih pada tempatnya. Dan semua pendarahan yang terjadi merupakan pertanda bagi tubuh saya untuk mengurangi aktivitas fisik. Dokter juga sedikit menyalahkan saya. Ya. Bagian saya memutuskan untuk menyetir sendiri itu.

Well, akhirnya sore itu saya pulang ke hotel dengan hati lebih ringan. Setelah selesai mandi, meminta ijin pada panitia untuk istirahat malam itu dan bukannya mengikuti kelas malam. Saya menelpon atasan saya dan melaporkan kejadian itu. Lebih kepada ijin sih, dan dia juga mengatakan bahwa saya harus lebih banyak beristirahat.

Selasa pagi dengan suasana hati lebih baik, saya pun memutuskan untuk melanjutkan mengikuti kelas pelatihan.
Lagi lagi, menjelang sore saya mengalami pendarahan hebat, yang membuat saya melarikan diri secepat kilat ke kamar.

Dan … singkat cerita … malam itu saya harus merelakan calon janin kami hilang. Saya dinyatakan keguguran. Saya tidak bisa berhenti menangis. Menangis dan menyesal. Menyesal karena tidak cukup hati hati menjaganya, menangis karena hanya diberikan waktu 5 hari untuk merasakannya, saya bahkan baru menemukan lagu indah untuknya. Menangis mengingat senyum calon bapak yang ditujukan mas suamik ke perut saya. Menangis mengingat cara mas suamik mengelus perut saya, menangis mengingat muka cemberut mas suamik saat harus merokok di teras sendirian tanpa saya yang mengoceh di sebelahnya. Menangis karena saya menganggap diri saya sok tahu mengenai kondisi badan saya. Menangis mengingat reaksi orangtua kami.

Yang paling menyedihkan dari peristiwa itu adalah reaksi suami saya, yang nampak lebih shock dan lebih tidak menguasai keadaan saat saya harus dibawa ke rumah sakit, dan menjalani perawatan di sana. Apalagi, saat saya harus diletakkan di ruang perawatan seruangan dengan ibu yang baru saja melahirkan, lengkap dengan tangisan bayi.

Maksud saya, harusnya ada semacam pengaturan kamar secara psikologis bagi ibu ibu yang baru melahirkan dan calon ibu yang baru saja mengalami keguguran. Mereka gak boleh satu kamar. Harusnya.

Sedih loh, saat memdengar tangisan bayi dan melihat ekspresi  mas suamik.

Well, banyak kalimat-kalimat hiburan dan penyemangat yang sodara, teman, dan yang lain sampaikan kepada kami. Mereka adalah supporter yang hebat …  mereka membuat kami sadar bahwa ini hal lumrah yang biasa terjadi pada beberapa pasangan muda, harus dijadikan pelajaran, harus dicari penyebabnya.

Namun yang paling hebat dari semua itu adalah perubahan sikap mas suamik. Pada awalnya ya dia menarik diri, menutup diri dan menjauhkan dirinya dari saya, well… yang seperti para ahli katakan “menutup diri dan menyembunyikan diri  di gua”

Yeah … di saat genting seperti itu pun, dia melakukannya. Alhamdulillah, hal itu gak berlangsung lama… di malam kedua kami kehilangan, mas suamik menemani saya tidur, dengan tangan yang tak lepas dari genggaman. Dan kita pun melakukan pembicaraan heart to heart tentang kehilangan itu.

Tidak mudah melakukannya memang. Tanpa perasaan menyesal dan tanpa tumpahan air mata itu. Dengan terbata kami mulai menyusun beragam kalimat bijak untuk saling menguatkan. Yes, we did.

Kami menceritakan ulang semua perkataan teman-teman kami. Kami mencoba merangkainya menjadi semacam kalimat suporting buat kami sendiri.

Yang kami yakini sama, bahwa mungkin Allah menilai kami belum cukup siap untuk menjadi orangtua, bahwa ternyata masih banyak yang harus kami pelajari, bahwa saya sebagai istri masih harus banyak belajar, begitu juga dengan dia sebagai suami.

Kesekian kalinya saya mengalami kehilangan. Tapi kesekian pulanya saya meyakini bahwa dalam setiap kehilangan akan ada hal baru muncul kan yah.

There’s always bright side from everything.  Yang pasti dalam kehilangan ini, entah bagaimana hati ini bekerja … saya semakin mencintai mas suamik, dengan rasa yang tidak bisa didefinisikan. Bahkan saya sore tadi berjam jam memandangi dia yang tertidur pulas. I know i’m too cliche. Tapi … yah begitulaaah 😶😶😶

… seperti yang salah seorang kawan katakan juga “yah, kalau begitu dikasih kesempatan buat bikin lagi lah, bisa eksplor lebih banyak gaya lagi”

Duerrr…

Hahahahaha.

Well, kita sama sekali gak tahu apa yang akan terjadi ke depan nanti, tapi suatu hari nanti saya mau saya menemukan tulisan ini dan saya bisa merasakan perasaan kehilangan dengan ikhlas. Ikhlas bahwa Allah selalu memiliki rencana terbaik bagi hambaNya, karena janji Allah itu pasti.
Dan percaya bahwa saya mencintai kehidupan saya sekarang dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Selamat malam minggu 😙😙😙

13 Comments

Filed under [drama] lepas

13 responses to “Belajar tentang kehilangan. Lagi.

  1. okta8

    Hae mbais, menahan diri sangat utk ga ngontak atau mengucapkan salam kedukaan, krn ak ngga tau proses grieving nya mba ais dan suami..syukur akhirnya ngeblog ini jd tau kabarnya mbais,,,mendoakan secepatnya dik irim lagi malaikat dr surga ke rahim ibu keren dan kece ini..amin..hugs mbaaiiiss….

  2. ah..pelukkkk mba ais….
    tetap semangat yah mba… aku awal hamil dulu juga pernah pendarahan,sampe dua kali..
    semoga Allah segera memberikan gantinya ya mba ais sayang.. *huggg n kisssss*

  3. Aisss sedih banget bacanya. Yang tabah ya isss. Pasti akan cepat dapat penggantinya ๐Ÿ˜Š

  4. Aduuh, kejadian lagi deh ke si Ais… Aku belum cerita si ya, ponakanku juga pendarahan gara2 nyetir, padahal “cuma” wates-purworejo. Mereka sudah nunggu kehamilan selama 3 tahun. Si suami awalnya panik dan segera bawa bumil ke dokter. Tp setelah semua baik2 saja dan si istri hanya diminta bedrest, barulah si istri kena marah suami. Marah krn sayang๐Ÿ™‚
    Puji Tuhan si janin masih bertahan dan sehat hingga ke bulan ke-5 ini. Semoga hingga kelahiran dan tumbuh jadi anak yg sehat.

    Ais sabar & ikhlas yaa… InsyAllah diganti dengan yang lebih-lebih-lebih dari kehilangan yg Ais alami. Aamiin.

    **utk yg besok, belajar dari kehilangan ini. Lebih jaga kesehatan & gk boleh capek2๐Ÿ™‚

    • :'(:'( Alhamdulillah ya ponakannya mbak tik sehat. Iya pastinya, suami kaya gitu karena ga mau kan istrinya kenapa kenapa.
      Aamiin , Aamiin.. Allah tahu yang terbaik ya mbak tik.
      Terimakasih buat doanya yes :):):)

  5. yang sabar ya neng,,,
    ALLAH akan kasih ganti,, biasanya rentang 3 bulan jadi lagi๐Ÿ™‚
    SEMANGAT!!!!!

    • Sama kaya kamu juga: semangat. Allah tahu yang terbaik buat kita. Walau sekarang kita gak ngerti alasannya, someday we’ll know …
      Kuat yaaah kamuuuu jugaaa

  6. Pingback: Masih ada | dramaLand

  7. Sedih bacanya๐Ÿ˜ฆ I know how it feels. Take time to heal yourself. Peluks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s