Bercerita tentang pulang..

image

Heihooo….

Kawans, apa kabarnya di sana? Semoga selalu baik, selalu dalam lindungan Allah SWT yaπŸ™‚. Sebelum berpanjang panjang kata, ada baiknya mbak Ais Ariani mengucapkan Selamat Idul Fitri,

Semoga Allah menerima amalan dari kami dan darimu, juga diterima-Nya puasaku dan puasamu sekalian, serta semoga Allah menyempurnakannya. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali fitrah/suci & orang-orang yang menang. Aamiin.

Postingan ini entah terposting entah tidak, kita lihat saja nanti ya. Hahahahahaha. Soalnya saya nulis ini sambil senderan di kasur penginapan saya di Jogja, setelah menempuh perjalanan dari kampung halaman bapak sesorean tadi. Jadi setengah niat, setengahnya enggak.

Sebenernya saya mau curhat. Curhat soal perasaan saya tentang lebaran tahun ini yang saya lewatkan dengan mudik. Mudik beneran.

Kalau tahun lalu saya mudiknya ke kampung halaman orang (hahahahaha), tahun ini saya mudik ke kampung halaman bapak saya. Jaraknya enggak jauh sih. Lah iya saya bilang ga jauh. Lahwong tahun lalu saya mudik di perjalanan 28 jam. Sekarang total total perjalanan saya dari rumah ke kampung halaman bapak menghabiskan waktu kurang lebih 12 jam.

But… actually … jarak itu terkadang hanya kumpulan huruf yang terrangkai dalam kata jika kita mengaitkannya dengan konteks perasaan (aeh…). Tapi ini beneran. Kalau dikaitkan dengan perasaan, jarak tuh kaya huruf k dalam kata knife di bahasa inggris. Ada, tapi ga disebut pas pengucapan. Antara nyata dan enggak gitu deh. Yakan.

Tapi kalau jarak dikaitkan dengan ongkos yang kita butuhkan untuk memperpendek jarak, baru dah jarak itu bagaikan badut dufan di dufan. Tak terpisahkan. Nyata.

Udahlah, mbak ais ini ngebahas apa sih sebenernya.

Kembali ke soal perjalanan kali ini. Ini pertama kali saya mudik sejauh jarak Jakarta – Ende. Iya. Jaraknya emang sejauh itu. Saya harus minimal satu kali transit kalau mau sungkem sama orangtua saya. Gak sejauh jakarta – new york. Tapi buat anak yang lahir, besar, sekolah, cari duit dan cari jodoh di pulau jawa, jarak jakarta – ende itu jauh.

Sejauh itu sampai saya menghabiskan dua buku bacaan di perjalanan. Sejauh itu, sampek sampek saya ketiduran dan nyaris ketinggalan pesawat saat transit di kupang(itu kejadian sedih banget deh … saya diteriakin di gate sama petugas gate nya, koper2 saya diturunin dari pesawat kirain saya gak jadi naik, pesawatnya -yang ATR pakek baling – baling itu- uda mau muter baling – balingnya. Pokoknya sedih dan malu banget saya. Saya dalam setahun ke depan gak mau deh ke kupang lagi)

Sejauh itu, sampek duit THR saya separuh lebihnya teralokasikan ke tiket. Sejauh itu, sampai nomor saya yang satu itu gak dapet sinyal. Sejauh itu, sampek pas uda nyampek bawaannya males buat balik (tsah, gaya banget. Padahal kalau suruh tinggal di sana saya garuk garuk tanah juga. Gak ada gramedia atau toko buku besar semacam itu…),

Pokonya jauh deh. Kalau masih di tanah jawa, mungkin jauhnya masih bisa dipikirin sama saya.

Makanya, kadang saya mikir juga … ibu saya ini ibu yang luar biasa sekali. Meninggalkan tanah kelahirannya, tempat ia hidup, meninggalkan anak – anaknya untuk ikut suami yang berbakti pada tanah kelahirannya.

Terus… saya sebenernya mau nulis kalau saya lagi galau. Suddenly saya dihinggapi perasaan luar biasa rindu, luar biasa ingin kembali ke ende, di tengah tengah mereka. Padahal … sebagai anak yang sering kelayapan tinggal sendiri dan jauh dari keluarga, saya gak begitu dekat sama keluarga. Ya karena saya terbiasa dengan ketidakadaan mereka di sekeliling saya. Sehingga saya lebih sering mengandalkan teman teman saya yang ada di sebelah saya.

Tapi menghabiskan waktu lebih dari 3 hari bersama keluarga saya; saya seperti menemukan kepingan hilang yang tidak saya sadari. Kebiasaan ibu saya yang always bangun pagi, kebiasaan bapak saya yang kalau makan maunya ditemenin, kebiasaan kakak saya yang punya sejuta cara buat bikin saya kesel (masih loh! Termasuk nakut nakutin saya pake ayam ayamnya bapak saya di kebun belakang. Please deh, padahal dia udah punya anak!), huru hara kita saat kita mau pergi (padahal perginya cuman ke pantai depan rumah, tapi hebohnya kaya mau nyebrang pulau), kegemaran kita akan ikan dan jagung,

Tuhkan… saya mau nangis.

Sendirian di kamar ini sekarang …  padahal rasanya baru kemarin saya sama mereka bakar – bakar jagung di kebun belakang, saya nonton hebohnya keluarga kecil kakak saya masang tenda di kebun belakang, baru kemarin saya ribut sama kakak saya rebutan spot sofa di ruang belakang yang enak dipake tidur siang,

Mungkin memang begitu. Kadang kita lupa apa yang hilang saat kita menemukannya, dan sialnya kita sadar kita menemukannya saat itu sudah berlalu.

Jadi, inti tulisan ini apa sebenernya?

7 Comments

Filed under [drama] lepas

7 responses to “Bercerita tentang pulang..

  1. selamat idul fitri ya…

    ya kalo kangen kan bisa mudik lagiπŸ˜€

  2. selamat hari raya idul fitri mbak Ais! mohon maaf lahir batin ya~
    memang, gak ada tempat paling nyaman selain di rumah, bareng keluarga ya… :’))

  3. Aaahhh aisss. Tahu gak betapa cemburunya aku yang gak pernah mudik melihat orang mudik. Kayaknya momen kumpul keluarga jadi berasaaaa gitu dihati. Kalau skrg ya gitu gitu doang seh. Lah setiap hari juga ketemu. Gak pernah pisah. Sekolah dan kuliahoun disini. Rasanya pengen balik kuliah dan merantau! Tapi udah telat skrg udah punya anak. Hahahahaha

  4. wooohh..jadi skg ortu mba ais tinggal di ende…
    ngumpul ama keluarga emang bikin kita males buat balik ya mba..πŸ˜€

  5. Perasaan aku dah baca ini deh, tapi kok gada komennya yah.. wahhh gak afdol ini kalo udah baca gak komen, kalo bisa sekalian bikin tulisan sendiri di komen orang :))

  6. btw.. orang yang komen di atas aku tuh, jangan2 dulunya mau dikasih nama Idul, tapi karena cewek, jadinya dikasih nama Fitri… ok gak penting…😐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s