Tentang Gedung Yunani

Dear All, hai…

Apa Kabar? Lama gak bersua ya, udah mau akhir bulan ketiga aja nih. Gak nyangka waktu begitu cepat berlalu. No wonder si Mbak ais suka lupa hari (nah. loh) … hehehehehe. Belakangan ini, sejak menyadari betapa menyenangkannya membaca tulisan sendiri di masa lalu … Saya semacam punya keinginan kuat untuk bisa kembali menulis.

Akhirnya di sini lah saya, di pojokan sebuah Coffee shop (yang selalu jadi favorit saya menghabiskan my me time) di dekat rumah, memangku laptop, membuka wordpress, berusaha mencari ide untuk menulis.

banyak sekali kawan yang ingin saya ceritakan. tentang bos saya sekarang yang ternyata subscribe blog saya (entah sudah diunsubscribe atau belum, anyway.. hola Bos!), tentang seorang teman pekerjaan saya dan bagaimana proses adaptasi saya, tentang bagaimana relasi saya dengan inner circle saya, tentang saya yang belum melaporkan SPT saya, tentang rencana getaway saya ke Jogja (lagi, untuk kesekian kalinya), tentang keinginan saya untuk menghabiskan lebaran di kampung halaman Bapak saya, tentang banyak hal.

terutama tentang tahun ketiga saya di belantara ibukota ini, bagaimana rasanya menjadi bagian dari rutinitas ini, tentang bagaimana akhirnya saya terbentuk perlahan menjadi budak kapitalis, tentang rencana besar saya 15 tahun mendatang, tentang rasa sesak yang masih menghampiri setiap kali … ah sudahlah, yang saya tulis harusnya tidak melulu soal rasa kan yah?

beberapa hari yang lalu saat reread blog saya sendiri ini, saya menemukan beberapa tulisan yang membuat saya tercengang. literally. takjub aja kok saya bisa menulis tentang hal – hal seperti itu ya. tentang pendidikan, tentang makna bekerja.

Lucu ya… bagaimana berbulan – bulan saya membaca dan memahami tentang Makna Bekerja untuk penelitian saya untuk pada akhirnya saya hanya menjadi semacam penghuni rak buku. Ke mana semua teori dan pengetahuan saya waktu itu? Jujur, dalam hati yang paling kecil saya rindu. Rindu menjadi mahasiswa dengan kewajiban membaca jurnal. Rindu menghirup aroma perpustakaan. Rindu mengalami kesulitan saat harus memahami abstrak sebuah jurnal.

ah kawan, terkadang rasa itu hanya sebuah ilusi.

baiklah, mengisi minggu malam ini… saya akan mencoba untuk bercerita mengenai Gedung Yunani, salah satu bangunan di Kampus saya. walaupun si dikung dan oom han yang nyebelin itu sering bilang saya gak filosofis, gak bisa dipungkiri bahwa saya memiliki ijazah dari Filsafat UGM. admit that hei boys, saya ini alumni Filsafat UGM (hahahahahaha!).

Jadi, salah satu gedung kampus saya itu adalah Gedung Yunani. Gedung berlantai dua di sisi timur kampus. Kalau teman – teman pernah melewati kampus UGM dan berada di Lembah UGM, pasti bisa langsung melihat penampakan gedung itu. Dinamakan gedung Yunani karena ada lima pilar besar di depannya.

Ceritanya, beberapa minggu yang lalu saya sedang membuka akun Facebook saya. tahukan .. hanya untuk tahu ada berita terbaru apa dari kawan – kawan onlen saya (termasuk beberapa blogger yang dulu pernah akrab banget, biasanya saya tahu kabar terbaru dari mereka ya lewat Facebook, sejak saya berhentu BW beberapa tahun terakhir), saya menemukan beberapa foto dari dosen S1 saya. kaget bukan kepalang .. ternyata Gedung Yunani akan dirubuhkan dan akan diganti dengan Gedung Baru.

saya diam. bolak – balik melihat foto – foto yang ada. mencoba meresap tiap foto yang ada. ikut merasakan tiap narasi yang Bapak Dosen hadirkan. Saya seperti ikut merasakan sepersekian rasa yang Bapak Dosen ceritakan terhadap bangunan berlantai dua itu. Bangunan itu terdiri dari ruang dosen dan ruang perpustakaan di bawahnya, serta ada semacam ruang komputer (pada jaman itu). Bagaimanapun saya menghabiskan waktu enam tahun di Gedung itu -tidak seperti Bapak Dosen yang mungkin lebih banyak menghabiskan waktunya.

Saya melihat foto – foto itu dan perlahan tapi pasti saya kembali ke masa – masa itu. Masa di mana masih menjadi mahasiswa rantau. Bagaimana saat pertama kali melewati gedung tersebut saya dihinggapi rasa bangga bahwa saya akan menjadi mahasiswa. untuk kemudian saya merasa lelah harus melihat gedung itu terus, lalu berganti kepada rasa takut karena ‘kok gue gak bisa lulus – lulus sih dari sini??’ untuk kemudian berganti dengan perasaan haru dan rela memutar jauh hanya untuk melihat tulisan ‘Fakultas Filsafat’ di gedungnya tiap kali kembali ke Jogja saat tidak menjadi warga Jogja lagi.

Kenangan – kenangan itu kembali. Tiap sudutnya seakan bercerita.

gedung Yunani

dulu .. di sudut ini ada bangku – bangku kayunya. kalau mau menunggu jadwal bimbingan Skripsi, saya biasanya nunggu di sini. pernah juga menunggu jadwal untuk ujian lisan mata Kuliah Kapita Selekta Filsafat Barat dan Metode – Metode Filsafat -dua mata kuliah yang ujiannya lisan. sudut ini paham sekali tiap debaran gugupnya mahasiswa.

Gedung Yunani 1

Kalau sudut yang ini beda lagi, biasanya di sini kami mengintip – ngintip apakah dosen pembimbing kami ada di ruangan atau tidak. Kalau gak ada, kami buru – buru menaruh draft tulisan kami. Syukur – syukur gak ketahuan dosen lainnya, jadi aman. Hahahahaha.. nanti tinggal sms Dosen dan bilang kalau draft nya sudah kami taruh di meja ibu. mohon bantuannya. begitu.

Gedung Yunani 2

Sudut yang ini punya cerita yang berbeda. biasanya kawan – kawan seangkatan akan duduk – duduk manis. istilah Jogjanya tengtengcrit. alias tengu’ tengu’ cerito (apa bahasa Indonesia-nya, Dab?). Biasanya sambil godain anak – anak jurusan lain yang lewat. Karena di depan sudut ini adalah jalan menuju Gedung Perkuliahan.

Sudut ini juga dulu tempat saya ngobrol sama gebetan (gebetan – gebetan) saya (hahahahaha!).

gedung YUnani 3

ah… saya emang orangnya gampang terjebak di masa lalu. seperti sekarang ini. hahahaha.

tapi gak kok, bukan berarti saya gak siap menghadapi berkas payroll besok senin, atau kenyataan adanya berkas anak PKL yang sudah teronggok sebulan lebih di meja saya. Saya siap. hanya saja … ya begitulah.

saya nulis ini bukan berarti saya menolah dirubuhkannya Gedung itu ya. enggak. sama sekali bukan itu. Saya hanya mencoba meresapi tiap sudutnya untuk terakhir kalinya. Tempat di mana saya pernah memperjuangkan sesuatu, tempat yang pernah jadi saksi tawa saya bersama kawan – kawan, nervous nya saya saat mau ujian, sampai air mata saya saat dinyatakan tidak lulus di salah satu mata kuliah.

bukan ingin kembali. hanya meresap rasa yang pernah ada, untuk kembali mengingat semangat itu. seperti yang Wells pernah bilang: ‘We all have our time machines, don’t we. Those that take us back are memories…And those that carry us forward, are dreams

after all, we must keep moving forward, right?

Just keep swiming … just keep swiming πŸ™‚

keep swiming

selamat menghadapi Senin, Kawan!

PS: closingnya gak asyik. soalnya udah malem. Coffee shopnya udah mau tutup. hahahaha. ciao!

 

Advertisements

disalip lagi, Is?

Disalip lagi, is?

 

Hai, kawans. Apa kabar? Semoga selalu diberi hati yang penuh syukur ya πŸ™‚

Judul di atas adalah sebuah caption untuk foto yang dikirim sama salah satu kawan saya beberapa hari yang lalu.

Fotonya agak gak etis juga ya dipajang di sini. Saya trauma majang majang foto, ntar malah dimaki maki sama pihak yang gak suka kalau saya majang majang foto seenak udelnya.

Tapi ya udalah ya, kisah buram akir taun saya waktu dimaki orang gara gara foto foto saya di salah satu akun socmed cukup my partner in crime dan dikung aja yang paham. Sama mereka aja saya uda puas abis diledekin. Konon kalau satu perblogan dramaland tau #drama hahahahaha πŸ˜†

Oke. Balik ke caption foto disalip lagi, IsΒ  – yang dikirim sama sahabat saya itu. Fotonya sih simpel. Foto … you know jenis foto yang diambil sesaat setelah ijab kabul, setelah sang mempelai pria mengucapkan ijab dan menjabat tangan ayahanda mempelai wanita. Sesaat setelah mereka menandatangani buku nikah, lalu pasti ada adegan foto pamer buku nikah kan… nah foto seperti itu yang dikirim sahabat saya di suatu pagi yang cerah beberapa hari yang lalu.

Sebenernya kalau itu fotonya kiwil yang nikah lagi atau siapapun itu saya ga akan ampek terbersit bikin postingan hari ini.

Itu … yang jadi tokoh di foto ‘pose sejuta umat penganten baru’ adalah …. jreng jreng jreeeeng … *drumroll*

Jrengggg …. jreeeeeng ….

Captain.

Yess. That captain married with somebody i don’t know who.

Kalau kawan kawan yang enam atau lima taunan yang lalu baca blog ini (and now you can read at my arsip. Cmon…. quick, before i erase that all. Hahahahaha), pasti kenal sama tokoh captain. Bahkan ada beberapa orang yang saat ngetik real name nya captain di search engine akan nyasar ke blog ini.

Iya. Cinta masa muda jaman kuliah hura hura dan jaman baru baru ngeblog dan alasan saya punya blog ini, dan juga pria yang pernah jadi alasan saya menyandang gelar miss drama, menikah.

Menikah. Dengan wanita lain. Repeat once more: menikah. Bukan sama saya. Tapi sama wanita lain.

Ga ada yang salah sih … i mean … kisah saya sama dia sudah berakhir bertahun tahun lalu. Dan.. -Alhamdulillah di antara kisah masa lalu,- sama dia bisa dibilang saya bisa menyematkan kata kata “berpisah dengan baik”

I mean … cuman sama dia setelah putus kita masih bisa komunikasi dengan baik. Bisa ngobrol, nggosip, kadang diselipin curhatan, sama diskusi diskusi a la anak filsafat gagal (secara ya bok dulu kita kuliah di jurusan yang sama). Tanpa ada goda goda tergoda. Ada satu titik di mana kita ngerasa, memang lebih baik kita temenan. Karena less expectation kali yak. Tapi … tetep ya boooook … pas liat foto itu rasanya di hati tuh kaya ditusuk tusuk jarum pentul. Bukan jenis sakit yang “hiks dia nikah sama wanita lain, harusnya sama gueeee” tapi jenis sakit yang “kampret. Gue disalip. Lagi.”

Fyi aja, beberapa bulan yang lalu juga salah satu mantan kisah masa lalu saya baru naik pelaminan juga. Kebanyakan kisah masa lalu sih lo Is! Oke. Karena ini blog adalah saksi bisu sisi diri saya yang gak saya bagi sama yang laen, saya mau jujur nyeritain perasaan saya waktu liat itu.

Saya galau. Galau … kenapa pria pria itu tidak memiliki keyakinan untuk menikah dengan saya, tapi bisa menikah dengan wanita wanita yang mereka temui setelah saya. Serius loh ini, semua mantan saya setelah putus, bertemu wanita lain terus nikah. Feels like charlie on good luck chuck kalau ada yang pernah nonton pilemnya Jessica Alba yang jadi pelatih pinguin. Minus sex scene ya.

good luck chuck

Apa. Ada. Yang. Salah. Sama. Saya. Ya.

Actually, beberapa kawan bilang kalau saya punya pola. terlepas yah dari penyebab berakhirnya kisah – kisah drama percintaan saya di masa lalu (saya belajar, semakin sedikit yang tahu kisah sebenernya yang terjadi semakin baik, karena terkadang … apa yang ada di pikiran orang – orang gak akan pernah bisa kita kontrol, ya kan? jadi … biarkan saja mereka di luar sana punya cerita versi mereka mengenai kehidupan kita. hahahahaha)

Jadi .. begini pola hubungan percintaan saya (menurut para sahabat): ‘punya pacar – punya back up – akirnya putus – jadian sama back up plan saya – nuntut diseriusin (every woman have this stage, right?) – nuntut kepastian – pria nya ragu – nyari back up lagi – saat pria mulai yakin, saya ketakutan – bikin masalah – putus.’ Terlepas dari bener atau ga yang sahabat sahabat saya bilang, saya jadi introspeksi diri. Something wrong.

Mungkin yang salah bukan pria pria itu. Mungkin saya yang salah mengenai ide ‘menikah’ yang saya miliki. atau mungkin, seperti yang beberapa sahabat saya katakan: “makanya Is, harus fokus. kalau gak fokus ya susah…”

Apapun itu, saya sedang ada di dalam tahap krisis kepercayaan diri. bahwa mungkin … at the end, saya lah yang mengacaukan semuanya. Saya pernah curhat pada seorang sahabat “when you always having bad relationship, if you have a good one, you can’t stop thingking when bad thing will happen

segala macam teori dan pikiran positif sudah saya coba untuk saya sugestikan ke pikiran saya untuk mwnghLu pikiran – pikiran jelek itu. tapi tetap aja … ah. saya galau kan. saya sudahi saja postingan ini. daripada makin gak jelas.

Rasanya sudah lama tidak mencurahkan rasa terdalam seperti ini. *kemudian lanjut ngelamun*