a self -blog- reflection

a self reflectionheihoooo… selamat bulan desembeeer! eh udah mau habis yah bulan desembernya.

ini gara – gara maen ke rumahnya Bu Piet nih, jadi nemu postingannya yang terakhir, jadi ngelink ke blognya oom enha, oom yang masih eksis nulis di dunia perblog-an *hiks* sebagai  salah satu teman ngeblognya oom enha dari tahun yang sama, ngerasa gagal deh mengikuti jejaknya yang masih rajin nulis 😥

tapi gak apa apa dong kalau misalnya saya nekat ngikut GA nya oom enha. sekalian memacu adrenalin juga, udah lama kan gak ikutan GA. hihihihihi. kangen loh ikutan GA tuh. dan di waktu yang tinggal kurang lebih satu jam ini, dan di saat masih nungguin oom – oom bos yang masih meeting (iya, di malam minggu!!!), mbak ais ini mencoba tengok – tengok di tulisan sendiri di tahun ini. sedih yah, ternyata tulisan saya dikit banget di tahun ini.

rasanya sih pengen ngikutin semua postingan, soalnya nulisnya udah berdarah – darah semuanya *tetep lebay, si miss drama ini*, hahahahaha. tapi berhubung hanya boleh masukin satu postingan diantara postingan tahun ini, jreeeng …. maka postingan yang saya ikutkan dalam self reflection ini adalaaaah *drum roll* jreeeeng …

postingan ini, dengan judul yang tak kami pahami tentang kalian.

kenapa saya pilih postingan ini dibanding jutaan postingan laennya? karena, saya bisa merasakan diri saya di jaman dulu, jaman saya baru mulai nulis dan sering nulis hal – hal gak penting -tapi seru-  untuk ditulis. tulisan itu dibuat di kantor kalau gak salah, nulisnya sambil dengerin lagu All of me – nya John Legend, pas oom bos lagi pergi, dan saya masih di kantor lama di deket dermaga 200 itu. dan postingan itu dibuat kayanya beberapa jam gitu deh, soalnya seinget saya kepotong beberapa kerjaan (namanya juga ngeblog di kantor, yak…)

entah kenapa, saat membaca tulisan itu saya jadi senyum – senyum sendiri. bukan tulisan dengan traffic terbaik, bukan tulisan dengan typo tersedikit, tapi itu tulisan yang menulisnya tanpa saya konsep. that’s just happened. kalau gak salah inget sih tulisan itu habis ada episode drama sama salah satu mantan (kapan sih Is, bisa bebas dari mantan? ) pengen nulis galau tapi kok malu sama umur. tapi ada hasrat (galau) terpendam yang pengen banget disampaikan.

tapi tetep yah boook, si ais ini tukang typo banget dan males re-read tulisan sendiri jadi typo bertebaran di mana – mana. dan entah yah, kerasa atau gak saya itu nulis kaya diburu – buru, narasinya kurang. itu menurut saya sih.

kalau ada kesempatan, saya pengen banget ngangkat topik yang disuguhkan di postingan itu lagi. lagi?

iya. karena ada beberapa tambahan yang pengen saya masukin di situ. biasa, seiring berkembangnya lingkungan, berkembang juga pola pikir. ya kan? dan bekembang juga pendapat. hahahahay!

satu yang pasti, yang terlintas saat saya membaca lagi postingan saya yang itu: harapan itu kadang mematikan. tapi harapan itu adalah energi kita untuk bergerak. tapi, harapan juga harus tahu diri. Bahagia itu saat kita mampu menyeimbangkan berharap dan menerima kenyataan hidup.

Punya badan gemuk jangan maksa dibilang kurus juga sama pria kita. Hadapi kenyataan, tubuh kita semakin tua semakin tidak mampu menahan daya gravitasi dan itu membuat perut kita semakin turun dan membuncit.

closing statement yang aneh. tapi biarin lah.

so, postingan ini diikut sertakan dalam lomba tengok-tengok blog sendiri berhadiah, yang diselenggarakan oleh blog The Ordinary Trainer.

kalau kamu, postingan mana yang paling berkesan? di dramaLand loh tapi … bukan di blog kamu (hahahahaha).

***

 

 

 

 

 

 

 

stop judging

hai temans! selamat hari minggu

*bersihin sarang laba – laba di tembok keraton putih*

hehehehehee. udah lama banget yah saya si ais ariani, pemilik dramaLand ini gak berdrama ria di dramaland kesayangan. gak boleh nyalahin keadaan yang bertambah sibuk dengan urusan kerjaan sih, nyatanya banyak orang – orang di luar sana yang tetap bekerja dan tetap produktif nulis, ya kan. jadi, yang bisa disalahkan dalam penurunan produktivitas menulis adalah: saya sendiri; karena gak bisa membagi waktu.

baeklah, kita mulai hari minggu pagi ini dengan sedikit produktif dalam dunia perblog-an. mumpung saya lagi ditinggal sendirian di kamar hotel nih, gara – gara semua keluarga saya yang weekend ini lagi berkumpul di satu kota memutuskan nengok ke rumah salah satu kerabat. dan saya memutuskan untuk stay di hotel karena -ngeluhnya- sakit.

apa yang akan kita obrolkan pagi ini? ditemani cangkir teh hangat ini? hmm…. sadar atau gak yah, kehidupan saya dua tahun belakangan ini berubah. berubah banget.

dulu waktu masih jadi mahasiswa, pekerjaan saya: galau – ngeblog – galau – ke perpust – galau – ngeblog – galau – revisi tesis.

sekarang: ngurus SPPD – nomorin surat – terima invoice – ngelobi sales hotel – mikir makan siang apa – terima complain karyawan lain soal hal-hal umum – cek imel – dan jutaan pekerjaan rutin yang biasa dikerjain staf sdm & umum macam saya.

fyi, setelah satu tahun lebih saya bekerja di salah satu divisi di salah satu perusahaan besar di pinggiran Jakarta, saya sekarang pindah ke divisi (finally!) SDM & Adm. Kantor di anak perusahaan si perusahaan besar.

banyak perubahan terjadi lagi setelah itu.

jam kantor yang gila – gilaan. kerjaan yang kayanya ga ada habisnya (tapi, bukankah begitu ya yang namanya pekerjaan?). teman – teman sekantor yang cukup seru dan gila. pada akhirnya temen kantor saya gak berkutat seputaran si mbak sekretaris aja sih senengnya, sekarang saya punya teman sekantor wanita yang lumayan banyak. teman sekantor yang laen? yah kurang lebih berkutat masih itu – itu aja, cuman udah lebih variatif aja sekarang, gak cuman isinya oom – oom bos dan oom – oom pandu. sekarang udah banyak papa – papa muda yang kerjaannya lembur dan kemudian ngeluh ga punya waktu buat anak mereka. hehehehe

but, life is choice, right?

hidup ini adalah pilihan. dari saat kita membuka mata di pagi hari, kita punya pilihan; untuk terus hidup di mimpi – mimpi kita (baca: terus tidur), atau memberi kesempatan diri kita menghidupi mimpi (baca: mengejar mimpi *kemudian soundtracknya Jrock*). saat kita keluar rumah pun kita disuguhi pilihan. beragam. mau naik apa nih ke kantor? bisa naek angkutan umum, naik ojek, nebeng tetangga, atau ikut komunitas nebengers (eh).

pas udah memutuskan pilihan, kita pun akan dipaksa untuk menuju pilihan lainnya. kalau naik angkutan umum, naik yang jalur mana yah yang cepet. nebeng juga gitu, nebeng sama yang mana ya. atau minta jemput siapa ya, pacar atau selingkuhan (halah).

hidup ini penuh dengan pilihan!

eits, kata siapa hidup HANYA seputaran pilihan? hidup juga berbicara soal bertahan pada pilihan, berjuang untuk pilihan. ya kan?

pemikiran itulah yang kerap menghampiri saya, staf baru dan pejuang baru di ibu kota ini. kadang saat perjalanan pulang dari kantor saya banyak berpikir; ‘aku ini ngapain sih sebenernya kerja sampai jam segini, jauh dari keluarga, ketemu pacar aja gak sempet, nulis dan baca aja udah jarang banget, ibadah juga seenaknya, hubungan sama Sang Pencipta hanya sekedar syarat, hubungan dengan sahabat juga boro – boro mempertimbangkan kualitas dan kuantitas, untuk sekedar say helo aja kadang gak punya tenaga, cita-cita untuk kembali ke bangku kuliah menguap sudah dengan pemikiran gile aja mau kuliah lagi, kapan waktunya!,’

bener kata coach Rene di harian kompas di kolom Ultimae u – nya; the problem is not the lack of time, but the lack of focus

karena memang betul begitu. kadang saya mau dateng ke kantor jam berapapun saya punya ritual buang waktu macam ini: nyampek kantor – ngobrol di pantry sama OB atau sama temen kantor yang dah dateng duluan, biasanya edisi curhat soal kerjaan juga – nyalain komputer – mbukak Youtube, bikin playlist hari ini – cek list to do – mulai kerja – dissamperin bos, dicek atau disuruh ngerjain apa gitu – kerja lagi – disamperin OB, dilaporin makanan di kulkas habis, atau makan siang hari ini mau pesen apa – mulai kerja – makan siang dateng – kerja lagi – terima telpon – akhirnya ngurusin pesan dari penelpon – ke gedung sebelah ngobrol – eh kebablasan dikasih kerjaan sama bos di sebelah – tiba – tiba sudah jam lima – cek to do list, baru separuh selesai – akhirnya lembur, karena punya tanggungjawab menyediakan makan malam.

banyak hal – hal yang harusnya sudah bisa saya delegasikan ke orang lain, tapi entah mengapa saya masih taking control di situ. Kenapa? Entah.

ah, lagi – lagi judul sama isi gak nyambung :sigh:

pada intinya begini: dulu, jaman masih jadi mahasiswa yang berjuang menyelesaikan tugas akhir, saya merasa menjadi mahasiswa adalah peran yang sangat berat dengan segala tuntutan revisi dan pemuasan pertanyaan sebagai seorang peneliti. saat itu saya memandang seorang pekerja hanyalah sekumpulan orang – orang yang kebanyakan bermimpi tentang mewujudkan ide lalu kemudian terjebak di dunia nyaman mereka dan berteriak tersiksa oleh rutinitas; manusia – manusia cengeng yang tidak berani.

tapi sekarang setelah melewati proses itu, setelah menjadi bagian dari; -manusia manusia cengeng tidak berani, saya paham. sangat paham, ada begitu banyak yang memang harus dipertimbangkan dalam melangkah saat kamu sudah menjadi seorang pekerja. apalagi pekerja di suatu sistem besar. kamu punya apa yang mereka sebut tanggungjawab.

manusia – manusia cengeng tidak berani ini lah yang sebagian besar menjadi roda – roda perusahaan dalam berputar, yang membuat sebagian besar perekenomian Indonesia berputar, persis seperti yang Hugo Cabaret katakan saat dia berada di jam besar di stasiun (dalam film Hugo yang tayang di 2012)

Everything has a purpose, clocks tell you the time, trains takes you to places. I’d imagine the whole world was one big machine. Machines never come with any extra parts, you know. They always come with the exact amount they need. So I figured if the entire world was one big machine… I couldn’t be an extra part. I had to be here for some reason. And that means you have to be here for some reason, too.

we’re not an extra part. we had to be here for some reason.

termasuk kami, si manusia – manusia cengeng yang tidak berani. di pundak kami ada banyak tanggungjawab, beban, peran yang harus kami pikul.

dan satu hal yang pasti berubah dari ais, si mahasiswa pejuang kelulusan yang telah menjadi pejuang ibu kota adalah; ‘stop judging’

karena kita benar – benar tidak pernah tahu alasan sebenarnya seseorang dalam melakukan sesuatu. ya kan? kita gak pernah tahu alasan si ani datang telat ke kantor, kenapa si kijang biru di depan nyalip kita dengan seenaknya, atau kenapa si joko mau jadi selingkuhan si melati, kita gak akan pernah tahu.

Ya gak sih?

susah memang mengurangi kebiasaan bergunjing (halah), tapi mulai lah untuk lebih memahami bahwa ada alasan kenapa orang melakukan sesuatu.

Be kind, for everyone you meet is fighting a hard battle

everyone you meet is fighting a hard battle, be kind

oke, baiklah kalau begitu .. mari kita menikmati sisa hari minggu ini dengan bersenang – senang 🙂