bercerita tentang flores

Awal tahun ini, keluarga kami mendapatkan satu berita yang menyenangkan. menyenangkan? yah menyenangkan harusnya. karena Bapak saya pindah tugas ke Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur; tanah kelahirannya.

He just coming home.

Lalu mulailah rencana-rencana dibuat. termasuk saya, sibuk membuat jadwal. maklum, setahun jadi buruh saya belum pernah mengambil cuti. berbeda dengan saat kuliah kan yah… kita punya libur-libur tertentu yang bisa kita manfaatkan (contoh: saat mengerjakan tugas akhir. hahahahaha… everyday is a holidat with a deadline!).

Dan bulan April ini dipilihlah sebagai bulan perubahan bagi keluarga kami; semua koper dikeluarkan (termasuk koper-koper vintage punya mamak saya yang kece-kece itu…..), rumah diobrak-abrik dan dipilih barang apa yang akan dibawa dan barang mana yang akan ditinggal.

Abah – Mamak – Agil berangkat dari akhir bulan Maret. Keluarga kakak saya berangkat terpisah, dan saya serta sepupu saya merencanakan perjalanan dengan rute: jakarta – kupang – ende – labuan bajo – bali – jakarta.

Alasan untuk mampir – mampir bukan semata karena pengen liburan (ACTUALLY ITU YANG UTAMA) tapi juga karena belum ada pesawat langsung dari Jakarta – Ende. Ende itu di mana sih Is letaknya? Di pulau flores.

Jelasnya sih bisa Bukaklah atlas. Bukaklah peta Indonesia tuh. Dan kalau pernah nyimak pelajaran sejarah jaman esde, pernahlah disebut kalok Bung Karno; salah satu proklamator negara ini pernah dibuang ke Kota Ende.

Jum’at 4 april 2014

Nah tanggal 4 April dini hari sekitar pukul 02.30 saya naik pesawat menuju Kupang dari Bandara SoeTa. Naiknya batik air, harga tiketnya sekitar 1jutaan. okeh Fain, ngaku deh karena kemaren saya kebanyakan diskusi sama travelmate saya yang kebetulan sepupu saya, saya dapet tiket seharga 1.106.00/orang untuk Jakarta – Kupang.

Sampai di Kupang pukul 06.30 waktu setempat. Kupang ini Ibukota Provinsi ya. Nah saya di kupang hanya stay beberapa jam aja karena udah dapet tiket pesawat Kupang – Ende naik transnusa jam 12.10 dengan harga tiket sekitar 500ribuan/orang.

Bandara Ende

Bandara Ende

Sampai di Kota Ende sekitar jam 13.00 waktu setempat, saya langsung dijemput untuk kemudian mejeng di pantai dan nunggu perahu kecil yang ngebawa saya dan sepupu saya nyusul keluarga besar yang sudah berkumpul di Pulo Ende yang jaraknya kurang lebih 2jam perjalanan menggunakan perahu motor.

Selama perjalanan itu, saya dan sepupu saya terkagum-kagum sama pemandangan sekitar. terakhir saya ke situ sekitar tahun 2005 dan keadaan sekitar belum banyak berubah;

Sesampainya di Pulo Ende,  saya dan sepupu saya disambut sama keluarga besar kami. kami menyempatkan diri keliling – keliling ke rumah sodara – sodara sebelum akhirnya menetap di salah satu rumah penduduk yang konon katanya masih sodara jauh kami. Malam itu dihabiskan dengan kumpul keluarga dan bercerita mengenai perjalanan kami, mengenai keluarga, mengenai kesibukan saya di Ibu Kota.

Di kampung bapak saya di Pulo Ende ini tepatnya di desa Kemo fyi aja nih, belum ada listrik selama 24 jam. Jadi listrik baru ada jam 6malam sampai jam 6 pagi. untuk air tawar pun masih langka. mangkanya, kalok disuguhin teh manis saya seringnya cengengesan sendiri. soalnya tehnya ada asin asinnya gitu.

 

Sabtu, 5 April 2014

saya, oom saya dan tante saya.

saya, oom saya dan tante saya.

Besokan paginya, setelah beres sarapan, saya keliling Pulo. nah itu tuh poto di atas saya lagi pose di jalan masuk ke Dusunnya tempat bapak saya lahir. Saya lagi cari aer buat mandi yang gak terlalu asin (hahahaha, becanda ding, aselinya saya lagi  nyariin emak saya yang pagi – pagi udah ngilang entah ke mana). Tapi Alhamdulillah yah waktu terakhir ke tempat ini tahun 2005 belum ada sinyal, sekarang sinyal telkomsel (hanya operator ini yang berjaya di sini) udah mulai kenceng bahkan bisa dipakek buat internetan loh.

Lepas jam 10, rombongan keluarga saya siap – siap untuk kembali ke kota Ende. naik perahu lagi tuh kan yah. Bedanya perahu kali ini udah diblok buat rombongan keluarga besar saya. kurang lebih kaya beginilah suasana di perahu motor yang dimaksud;

perahu Al Amin dari Pulo ende menuju Ende

Nah begitulah kurang lebih suasananya. Sampai di Kota Ende, kami beristirahat sejenak di penginapan. saya sekamar sama keluarga kakak saya, kami hari itu memfokuskan diri beristirahat, karena esokan paginya kami punya agenda seru untuk jalan – jalan. Dan juga karena dari sore hari saya kena demam. Kayanya saya masuk angin karena begadang di malam sebelumnya pas perjalanan Jakarta – Kupang dan kena angin laut melebihi batas tubuh saya mampu menerimanya (ahseeek).

Minggu, 6 April 2014

Alhamdulillah, paginya badan saya udah bisa diajak kompromi. Demam saya udah turun, dan juga kondisi udah lumayan fit. Akhirnya piknik yang sudah direncanakan semalem bisa terwujud deh. Saya, sepupu saya, keluarga kakak saya dan beberapa Anggota keluarga lainnya memutuskan untuk piknik ke Danau Kelimutu.

Familiar gak sih sama danau itu? Ituloh danau yang ada di duit 5000-an jaman kita esde, danau yang bisa berubah-rubah warnanya. Saya ke Danau yang letaknya di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu  ini pagi jam 7an. dan itu salah banget. karena kalau mau dapet view bagus, mendingan dateng nyampek sana sebelum matahari terbit, karena sunrise nya bagus dan kabut belum turun.

Danau ini berada di ketinggian 1631 meter di atas permukaan laut, dan terdapat 3 danau di satu kawasan dengan satu danau yang agak terpisah, dan harus ditempuh dengan tangga yang banyak bangeeeet. ada istilahya tangganya dinamai 1000 anak tangga.

Serukah perjalanan ke sini? Seru! Karena kita tracking kan tuh diantara hutan gitu. Dan udaranya seger banget🙂

ais ariani at kawasan danau kelimutu

Danau nya mana Is? silahkan cek akun fesbuk atau akun instagram saya ya di @aisariani, kalok saya uplod banyak foto nanti kasian yang  buka blog saya; lemot banget. hahahahaha. dan untuk yang mau nyimak legenda soal danau kelimutu ini, silahkan buka ini untuk lebih jelasnya, karena sama seperti tangkuban perahu dan batu malinkundang, danau kelimutu pun memiliki legendanya sendiri yang menjelaskan bagaimana terbentuknya tiga danau tersebut (sekali lagi: menurut legenda).

Senin, 7 April 2014

Hari ini kami free dari kegiatan bersenang – senang, karena hari ini adalah inti dari perjalanan kami sekeluarga. Kami ada acara keluarga besar. jadi gak ada yang bisa dikunjungi,

so langsung ke hari berikutnya yah….

Selasa, 8 April 2014.

Hari ini kami punya agenda; berkunjung ke rumah pembuangan Bung Karno waktu dibuang di Ende, cari dan beli oleh-oleh, sama makan bareng sekeluarga inti. Maklum aja, dari kita nyampek di Ende kami sekeluarga inti susah sekali kumpul. Saya, agil, kakak, mbakyu ipar, si kecil Zee, emak saya. Kalau Bapak saya sih lagi sibuk sama tugas barunya yah.

Hari itu dimulai dengan makan bareng di restoran padang (orang padang jauh sekali yah merantaunya itu, walaupun yang jual TERNYATA orang jawa! Hahahahaha).  Kemudian lanjut ke art shop sehati di deket bandara, saya belanja – belanja deh tuh beli syall, beli tas etnik gitu. Saya ngabisin duit di art shop ini sampek 500.000,- yang sebagian besar saya beliin tas-tas lucu buat saya sendiri (hahahahaha).

Dari situ kami ke Fanny art shop, (masih) nyari oleh – oleh. Hahahahaha. Nyari oleh-olehnya seru loh. beli kain – kain tenun ikat gitu … bagus – bagus. saya sih gak beli untuk kain-kain yang lucu itu. cukup ngeliat aja… secara larange.

ini salah satu contoh kain dari kampung Bapak saya

ini salah satu contoh kain dari kampung Bapak saya

nah … setelah puas belanja – belanji yah, kami ke rumah pembuangan BUng Karno di Jalan Perwira. Tahun 2005 kami pernah ke situ dan pas kemaren itu ke sana lagi, tempatnya sudah berubah. Jadi bagus loh. Bagus banget🙂

rumah pembuangan Bung Karno di Ende

Rabu, 9 April 2014

Well… hari ini adalah hari terakhir kami di Kota Ende. Karena sesuai dengan rencana kami akan melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo dengan pesawat jam 13.10

Paginy, saya sempet tuh maen ke Taman Renungan Bung Karno di pusat kota, di deket nol kilometernya KOta Ende. Tamannya bagus loh … walaupun masih belum selesai pembangunannya, tetapi udah keliatan gitu bentuknya ke depan bakal bagus.ada pohon – pohon rindangnya yang bikin teduh, secara udara di Flores gituyah panasnya membahana sekali.

patung Bung Karno di Taman Renungan Bung Karno

patung Bung Karno di Taman Renungan Bung Karno

Konon katanya, di taman inilah Bung Karno merenungkan mengenai pancasila. patung ini dibikin menghadap ke laut dan membelakangi suasana kota-nya.

***

Fufufufufufu…. selesai juga part 1 dari tulisan trip yang suah saya rencanakan untuk menulis dari 2minggu lalu.

untuk part lebih serunya, ditunggu yah…. saya akan update lagi deh. karena kalau dibikin dalam satu postingan nanti pada bosen yang baca #alasan:mrgreen:

hahahahaha….

***

so pertanyaannya: kalian sudah pernah ke Ende belum?

11 Comments

Filed under [drama] lepas, [drama] sekitar

11 responses to “bercerita tentang flores

  1. pengen ke sana. tapi mahal😦

  2. pengen jalan2 ke tempat2 indah di bagian indonesia lain, dari dulu hidupku cuman di pulau jawa😀

  3. Wooo…senangnya bisa menginjak tanah flores. Semoga punya rizki buat kesana..😀

  4. jaelani

    hebat…kalau anda tanggal 4 april 2014 berangkat, mungkin sy lebih dulu yaitu tgl 1 april 2014 ke ende. dan tanggal 4 aprilnya baru kembali ke jakarta. selamatnya

  5. Serunyaaaa. Udah lama banget ga jalan2, ngurusin baby😀

  6. Salam Kenal,
    Banyak cerita tentang Ende dan Pulau Ende. Dari kisah pendudukan Belanda hingga kisah seorang gadis Rendo Raterua yang menjadi saksi perjuangan kaum wanita Pulau Ende untuk tetap bertahan hidup.

    Semoga perjalanannya ke Pulau Flores berkesan dan mendapat tempat di hati wetta. Sebagai pengantar akhir ijinkan saya menambah sebait kecil perjalanan wetta, untuk diceritakan pada sahabat2 disana…

    “Senja di Kelimando…
    Membawa kenangan Pulau Ende.Kapan lagi aku kan kembali.
    Esok…bulan depan…tahun depan…aku tak tahu.
    Yang kukenang hanya satu.
    Aku ingin kembali ke Kelimando, berada ditengah lautannya, bergurau dengan pelikan-pelikan kecilnya,
    sambil tidur di atas perahu bersama senjanya…..”

    http://ooyi.wordpress.com/2006/11/18/ooyi-jejak-alam/

    Hormat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s