monolog: bukankah

bukankah ini yang nantinya akan kita butuhkan?

genggaman tangan yang tidak harum memang tapi selalu ada, senyuman teduh yang menyambut kita pulang, bahu kuat yang mampu menampung semua masalah namun cukup nyaman untuk bersandar, kata-kata yang tidak selalu indah namun selalu menenangkan, kata-kata yang tidak mengandung perintah namun mampu membuat patuh.

aku selalu takut. aku takut. takut untuk kembali menaruh harapan. sudah kah aku ceritakan bahwa hati ini adalah hati yang payah. hati yang selalu, selalu, selalu menaruh harapan pada tempat yang salah. dulu. kali ini aku sangat berhati-hati menaruh harapan. aku sudah memohon maaf pada hatiku sendiri, karena membiarkannya terluka berulang kali. aku berkata padanya bahwa itu semua adalah pelajaran yang harusnya bisa diambil hikmahnya. hei, bukankah semua terjadi karena suatu alasan? hanya saja terkadang kita terlalu sibuk mencari alasan itu, sampai tidak bisa melihat saat alasan itu datang dengan sendirinya. mengetuk pintu kenyataan, memohon diberikan kesempatan untuk menjelaskan kenapa begini kenapa begitu.

terkadang, kita terlalu sibuk menganalisa, mencoba menerka kenapa begini kenapa begitu, apa yang salah dan siapa yang salah. aku menghabiskan waktuku melakukan itu. setelah mereka pergi satu persatu, meninggalkanku dalam sebuah pertanyaan besar; kenapa. tahukah kamu, KENAPA merupakan pertanyaan paling sering diajukan saat sesuatu berhubungan dengan hati entah itu jatuh hati ataupun patah hati. bukan begitu?

you can spend minutes, hour, days, weeks even months analyzing a situation trying to put the pieces together. Justifying what could’ve, should’ve, would’ve happened. Or you can leave the pieces on the floor and…. move on!

seperti dia yang pernah berkata;

Hidup bukan hanya bercerita tentang jari manis, kapan dilingkarkan cincin atau kapan sanggup melingkarkan cincin, hidup juga menceritakan sembilan belas jari lainnya, suka dukanya, sumringah nelangsanya, ragamnya, ramainya, sepinya, tanpa terkecuali.*

entah ke mana langkah kaki ini akan mengantarkanku, tapi aku selalu berharap langkah kaki ini mengarahkanku kepadamu, calon suamiku.

***

monolog kali ini dibantu dengan sepenuh hati oleh malam minggu syahdu (aeeeh), blog *maucokelat (nulis lagi nape), dieka dikung yang gak pernah bosen nanyain kapan aku updet postingan, dan kamu yang masih setia bukain dramaLand walau jarang banget updet.

***

just moving on

2 Comments

Filed under [drama] cinta melulu, [drama] lepas

2 responses to “monolog: bukankah

  1. just go with the flow… kalo emang udah waktunya pasti ketemu🙂

  2. aaaakkk nama akuh disebut :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s