guilty pleasure

A guilty pleasure is something one enjoys and considers pleasurable despite feeling guilt for enjoying it.

haloha. haloha. haloha. tumben yah saya updet lagi. iya. saya juga bingung, ini kenapa tiba-tiba pengen nulis lagi, lagi dan lagi. Semoga gak kambuhan doang yah, semoga masih bisa tetep terus nulis secara konstan kek dulu lagi.

Amiin.

Topik bahasan hari ini adalah Guilty Pleasure. Sebuah topikan bahasan yang pernah saya obrolin di suatu waktu dengan my partner in crime yang TERNYATA punya Guilty pleasure yang… yang … sumpah mbikin ketawa ngakak. Karena pas dia ngomong gitu, dia bilang “ini guilty pleasure gue…”

Dan… setelah itu, obrolan soal guilty pleasure mengalir diantara kami. Obrolan itu mbikin saya mikirin soal guilty pleasure saya. Guilty pleasure saya? Selaen nonton infotainment yah geng… secara kebanyakan wanita itu guilty pleasure nya. Hahahahaha.

Fain, saya jelasin soal guilty pleasure (saya)…. salah satu guilty pleasure saya itu adalah ngobrol sama my partner in crime, dan menganalisa perilaku SELURUH orang yang kita kenal, sambil mencari semua kesalahan perilaku dari itu semua, sambil seolah-olah menjadi manusia paling benar satu jagad dunia. untuk kemudian bilang “dem. sepertinya kita berada di belahan dunia lain ya? kenapa semua orang perilakunya aneh yah?”

selain itu, Guilty pleasure saya saat ini adalah makan es krim cokelat sebelum tidur. tahukan … dengan segala macam jerawat dan sakit gigi, harusnya itu sudah saya kurangin. tapi gimana yah… addict gitu loh.

selain itu lagi, Gulity Pleasure berikutnya adalah membaca teenlit. Membaca teenlit karangan Meg Cabot. Maksudnya, heloow…. teenlit? TEENLIT?

masih banyak deretan Guilty Pleasure saya, tapi yang namanya guilty pleasure kita kan gak semua orang harus tahu kan yah?

Semakin nyaman kita dengan seseorang, maka akan mengalirlah itu semua guilty pleasure kita. bener gak sih teori ini?

So, what about you? What’s your guilty pleasure?

empat satu dalam happy coda

Temans, apa kabarnyo hari ini? Semoga selalu bahagia yah di sana. hari ini, saya mau cerita nih. cerita soal playlist saya dari awal minggu kemarin. kalau ada yang follow saya di akun twitter, pasti bakalan bosen deh sama lagu ini, karena saya sering banget ngetwit soal lagu ini.

Judulnya Empat Satu, buah karya Frau, solois indie asal Yogya (bener bukan?) yang beberapa tahun lalu sempat ngeluarin mini album dengan judul Starlit Carousel yang punya lagu andalan Mesin Penenun Hujan.

Ingat mesin penenun hujan? Lagu yang sempet saya jadiin lagu buat bahan tulisan ini, dan lagu ini masih suka menghadirkan nuansa magis kalau saya dengerin.

nah, lagu andalan Frau dalam album baru happy coda ini sebenarnya adalah Tarian Sari, yang dirilis beberapa minggu yang lalu. Tarian sari ini nyatanya gak bisa didengerin oleh semua kuping. ini serius loh. tiap saya setel lagu tarian sari ini, pasti ada aja yang protes; “ini lagu apa sih? Kok serem gini?”

***

Mari sedikit membicarakan mengenai Happy Coda. Happy Coda ini memuat beberapa nomor lagu yang sangat Frau sekali. Tapi, memang benar menurut RockMagz, kalau mau mendengarkan Happy Coda, ada baiknya mendengarkan Starlit Carousel. Mesin Penenun Hujan dari Starlit Carousel adalah bentuk sederhana dari nomor-nomor lagu yang ada di happy coda. Lanjutkan dengan Sepasang kekasih pertama yang bercinta di luar angkasa.

” Pernahkah kamu merasa sebegitunya bahagia, hingga badanmu merespon kebahagiaan itu dengan gejala-gejala menggelikan? Atau mungkin tubuhmu tak sesensitif itu, dan kau hanya merasakan kehangatan khusus menyelimuti ruang pikirmu? Lantas satu hal yang ingin kau lakukan adalah membagikannya pada orang-orang terdekatmu, namun kemudian kau enggan sebab takut mereka tak akan memahamimu sepenuhnya? Aku sering mengalaminya. Bukan sekadar karena takut tak dipahami, tapi juga sebab aku memang terlampau sering menemui kebahagiaan-kebahagiaan sederhana semacam itu. Happy Coda adalah tentang kebahagiaan-kebahagiaan sederhana itu.”  Ungkap Frau mengenai album terbarunya ini.

Nomor lagu yang ada di Happy Coda adalah sebagai berikut:

1. Something More
2. Water
3. Empat Satu
4. Tarian Sari
5. Mr. Wolf
6. Arah
7. Suspens
8. Whispers

Musiknya asik. Asik banget. Dan, saya lagi jatuh sejatuh-jatuhnya di nomornya Frau yang Empat Satu. Coba dengerin deh. Kalau belum mau dengerin, ini liriknya kek begini:

Perhatikan Tuan … sebelum semua kartu ditukarkan,

Kesempatan hanya sekali dan sekali itu tak mudah.

tebaklah oh tebak manakah ratumu mana yang kau kejar.

**Ambil dan buang, terdengar mudah tapi susah. Cari yang aman atau kau pilih untuk menantang.

Lawan-lawanmu telah mulai menabung kartu yang diimpikan, bagaimana denganmu Tuan.. apakah hanya mendapat sisa?

tebaklah oh tebak mungkinkah kartuku yang kau inginkan?

**Ambil dan buang, terdengar mudah tapi susah. Cari yang aman atau kau pilih untuk menantang.

Lagu ini, menurut interpretasi saya sih lagu mengenai permainan kartu Empat Satu itu loh. tapi… awal mendengar lagu ini, saya tertegun lama dan bahkan mengulangnya hingga lebih dari lima kali. Kenapa?

Karena saya terjebak dengan kata-kata : ‘Lawan-lawanmu telah mulai menabung kartu yang diimpikan, bagaimana denganmu Tuan.. apakah hanya mendapat sisa?’

itu tuh rasanya seperti tamparan yang mbikin saya terdiam. bukankah itu filosofis sekali kata-katanya?

itu bagian yang membuat saya merasakan; teman-teman saya sudah mulai merancang masa depan untuk menggapai tujuan hidup mereka dan saya masih hanya bimbang, diam,malahan bingung menentukan tujuan hidup dan bisa jadi mendapatkan sisa. bisa jadi. Sisa apa? Sisa dari yang tersisa *halah mbulet.

itu makanya saya sangat amat terbius dengan permainan dek Lani ini, mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya yang satu almamater sama saya (dan btw, orangnya manis loh). udah gitu musiknya tuh asik banget. Lebih asik daripada sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa.

penasaran? Yuk, dunlud satu album Happy coda ini di sini, for free! Enjoy!

late post : happy birthday to me

MERDEKA!

walau udah telat 5 hari ini postingan, tapi saya tetap semangat loh nulisnya *nulis sambil lompat-lompat* hehehehe. gimana kabarnya temans? sehat? Saya Alhamdulillah sehat, walopun lagi sariawan gak sembuh-sembuh. Sembuh di lidah, muncul di bawah lidah. sembuh di bawah lidah, muncul lagi di ujung bibir. Heran. antara kurang gizi sama banayk pikiran sih keknya.

Kalau jerawat jangan ditanya. Persis kek ABG yang baru ulang tahun ke17, jumlah jerawat di wajah saya juarak banget deh. ampek bingung, padahal saya jarang banget kan makek kosmetik macem2. dari jaman kuliah dulu yah pembersih wajah saya itu-itu aja, paling cuman nambah bedak. sama sedikit eyeshadow, sama eyelinner. itu juga cuman dikit. kalau kambuh centilnya pake mascara.

ini ngomongin apaan sih? kok tiba-tiba lanjut ke kosmetik? Hehehehe.

saya pengen ngomongin soal …. soaaal… soal ULANG TAHUN SAYA. yey..

5hari yang lalu, tepat saat Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-68, saya berulangtahun yang ke-17 *duer. HAHAHAHAHA.

age is not only nummber for me. really. seberapa keras usaha saya buat menganggap age is only number, dalam lubuk hati saya yang paling dalam saya masih gak terima dengan kenyataan dan harapan yang gak sejalan. Saya berharap memiliki beberapa cita-cita dan target yang sudah tercapai saat usia saya menginjak usia saya saat ini.

Tapi, bukankah begitulah hidup? Tak melulu bicara soal kekecewaan terhadap sesamanya, hidup juga berbicara soal bagaimana menyeimbangkan antara harapan dan kenyataan. Dan, di sini saya, memiliki harapan-harapan baru di umur saya yang sudah berkurang jatahnya di dunia ini,

terimakasih buat kawans yang sudah mengingat ulang tahun saya walaupun tidak tertera di Fesbuk, terimakasih buat kamu yang bahkan tidak menyempatkan diri untuk memberikan ucapan selamat. it’s ok… yang penting saya mohon doanya, agar saya selalu berada di jalan yang diridhoi oleh Nya, dan juga selalu dimudahkan untuk bersyukur.

Dan, semoga selalu bahagia! THAT’S!

happy birthday ariani!

dan terimakasih sangat untuk semua sahabat terbaik saya, yang menyempatkan diri untuk berkumpul Sabtu kemarin. sekali lagi: i’m so lucky havin’ you all in my life. terimakasih sudah jadi barisan supporter utama saya. terimakasih untuk semua drama, nostalgia, canda tawa, kata-kata jujurnya, testimoni atas kebodohan-kebodohan saya, terimakasih untuk tidak menjudge saya seperti yang beberapa orang lakukan, terimakasih untuk dukungan tiada hentinya.

semoga tahun depan kita masih bisa bersama :kiss:

***

mempelajari kehilangan

Assalamu’alaikum….

*edisi Lebaran, salamnya jadi lebih agamis*

hehehehe. hai, hai haloo semuanyah. Temans, gimana kabarnya? Gimana lebarannya? Gimana liburannya?

kalau saya ni… Tahun ini, merupakan lebaran pertama saya setelah bekerja. Alhamdulillah, Alhamdulillah dan Alhamdulillah, rasa syukur yang gak bisa saya ungkapkan dengan baik, karena saya ngerasa bersyukur banget atas semua rejeki dan karunia yang menghampiri saya tahun ini. Berkah yang luar biasa 🙂

Namun, namanya juga hidup, ada beberapa hal yang terjadi dalam dua bulan terakhir yang menjadi bahan renungan buat saya. Pernah saya bilang, bahwa yang namanya hidup itu mengajarkan banyak hal. Sayangnya sering kita lewatkan karena kita terlalu sibuk mengeluh.

Satu pelajaran dalam hidup yang saya dapat di bulan Ramadhan ini adalah soal keikhlasan. keikhlasan yang pertama adalah soal jodoh (*uhuk). jadi begini, dari awal tahun seperti yang pernah saya bagi di sini, saya sudah patah hati. patah hati dengan seseorang yang pernah begitu dekat dengan saya namun lebih memilih untuk bersama dengan orang lain yang mungkin lebih bisa memahami dia. setelah lepas dengan dia, jujur saya mengakui banyak perubahan dalam hidup saya. Perubahan itu gak perlu saya ceritakanlah yah, mungkin ada beberapa orang yang sudah menyadari, atau mungkin ada yang bisa nebak juga. Hahahahaha…

***

Pelajaran keikhlasan yang berikutnya yang Dia coba sampaikan kepada saya adalah saat gadget kesayangan saya yang baru berumur beberapa bulan dan saya beli menggunakan gaji pertama saya, HILANG. okeh, coba dibold: HILANG. hilang di rumah sendiri. Lucu? Lebih lucu lagi kalau saya ceritakan kejadiannya. Tapi gak usahlah ya, bukan itu point yang mau saya ceritakan.

Point yang mau saya ceritakan adalah: dalam beberapa bulan terakhir saya LAGI-LAGI mengalami banyak kehilangan. selain kehilangan calon *uhuk*, kehilangan gadget, saya juga kehilangan beberapa sahabat-sahabat baik yang pernah mewarnai dunia saya beberapa tahun terakhir. Iya, gerombolan power rangersnya bubar *nangis di pojokan*

Saya terpuruk. Memaki. Jutaan kali. Nyinyir. Ribuan kali. Membahasnya berulang kali dengan siapapun saya bisa membahasnya. mendadak jadi ahli analisa perilaku. Kenapa bisa begini kenapa bisa begitu. Kenapa bisa hilang kontak, kenapa bisa menjauh, kenapa bisa hilang gadgetntnya, kenapa bisa buruk hubungannya, apakah gengsi akhirnya mengalahkan kecewa, apakah rindu akhirnya tergerus gengsi. Hal-hal seperti itu telah coba saya bahas. dengan orang lain, maupun dengan diri sendiri (let’s call that with ‘kontemplasi’) HAHAHAHAHA. dan berakhir dengan menjadi Ustadzah; “Ya memang udah jalanNya begitu….”

awalnya saya marah. marah. sangat marah. seperti yang saya bilang, saya memaki, saya nyinyir, saya mengumpat, sampai akhirnya saya menangis karena tidak mampu mengungkapkan kekesalan di hati.

Coba kamu bayangkan temans, apa yang kamu miliki terrengut darimu dan hilang dalam kehidupanmu? Hal-hal yang sudah pernah kamu perjuangkan untuk mendapatkannya.

Setelah puas dengan amarah saya, saya tersadarkan saat memasuki bulan Ramadhan kemarin, bahwa benar adanya tidak ada yang abadi di dunia ini. Toh, pada akhirnya kita akan kehilangan semua yang kita miliki kan? Bukan masalah ditinggalkan atau meninggalkan, tapi masalah bagaimana ia pergi, bagaimana ia hilang. Dan itulah yang harus membuat kita belajar. Kita harus belajar mengenai kehilangan. Karen pada dasarnya, manusia adalah makhluk pembelajar.

Apalah arti hidup ini tanpa pembelajaran mengenai kehilangan? Kita tidak akan menemukan jika kita tidak kehilangan. Dan yang perlu kita lakukan dalam proses tersebut adalah belajar juga mengenai keikhlasan,

mengikhlaskan /meng·ikh·las·kan/ v memberikan atau menyerahkan dng tulus hati; merelakan: kami telah ~ kepergiannya; dia ~ tanahnya untuk tempat pembangunan rumah sakit;

***

From the bright side, saya selalu mendapatkan kata-kata bijak ini, “Insya Allah diganti dengan yang lebih baik”, jadi jika belum mendapatkan gantinya, artinya Allah belum merestui.

Dan memang terbukti. Setelah kehilangan teman dekat di awal tahun, saya sempat dekat dengan seseorang yang memang lebih baik dari si itu yang lama. Walaupun Si itu yang baru juga sudah hilang lagi (hahahahaha. duerr), tapi saya yakin, Allah menyimpan yang terbaik pada akhirnya.

Gusti Allah mboten sare, ‘nduk.

begitu nasihatnya kan?

***

So, saya dan segenap kru dramaLand mengucapkan, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Taqaballahu minna wa minkum. Selamat idul Fitri 🙂 Semoga ada berkah tersisa di penghujung tahun ini, semoga ada pelajaran yang bisa kita ambil.

forgive others