Bagaimana Jika

Bagaimana jika kamu mengajakku berpacaran serius, hingga merencanakan pernikahan? Maka, ini akan menjadi jawabanku…

Jawaban aku sangat bergantung pada seberapa keras usahamu untuk menunjukkan kepadaku bahwa institusi menikah bukanlah sebuah institusi menakutkan seperti yang dibicarakan orang-orang. Menikah bukan sebuah perangkap yang melepaskan banyak kesenanganmu. Menikah bukan sekedar alat untuk melegalkan perzinahan. Menikah bukan hanya sekedar status untuk kita pamerkan.

Bagaimana jika kamu mengajakku berpacaran serius, hingga merencanakan pernikahan? Maka, ini akan menjadi jawabanku…

Maka, jawabanku bergantung seberapa keras usahamu meyakinkanku bahwa aku dan kita bisa untuk menghabiskan sisa hidup hanya berdua. Butuhkah penjelasan lebih untuk permintaan aku ini? Tak terhitung banyaknya kisah perselingkuhan yang sama-sama kita lihat di depan mata. Aku tidak butuh janji bahwa kamu tidak akan melakukan itu, aku hanya butuh diyakinkan bahwa kita bisa mengatasi semuanya berdua. Semuanya. Hanya berdua.

Bagaimana jika kamu mengajakku berpacaran serius, hingga merencanakan pernikahan? Maka, ini akan menjadi jawabanku…

Maka lagi-lagi… Jawabanku akan sangat bergantung pada seberapa keras usahamu untuk bisa merubahku menjadi wanita yang tegar, tidak cengeng, dan tidak manja. Kenapa? Karena aku ingin…saat kita menikah, anak-anak kita memiliki ibu yang kuat, tegar dan berani disamping memiliki sisi lembut layaknya seorang wanita.

Bagaimana jika kamu mengajakku berpacaran serius, hingga merencanakan pernikahan? Maka, ini akan menjadi jawabanku…

Aku akan bertanya padamu sebelumnya, apakah kau mencintaiku? Bukan cinta menggebu-gebu seperti yang dulu pernah kita rasakan saat SMA, namun cinta sederhana yang berawal dari obrolan-obrolan ringan yang sering kita lakukan yang aku harap akan terus membesar seiring berjalannya waktu, setelah kita melewati banyak hal bersama.

Bagaimana jika kamu mengajakku berpacaran serius, hingga merencanakan pernikahan?

Yakinkan aku, itu bukan hanya sekedar dongeng indah yang lagi-lagi kaummu bisikkan ke telingaku hanya agar aku behenti menuntut dan berhenti mencerewetimu.

Bagaimana jika kamu mengajakku berpacaran serius, hingga merencanakan pernikahan?

Intinya, aku butuh lebih dari sekedar sebuah pertanyaan pengandaian. Aku butuh lebih dari sekedar kalimat, “ayo kita menikah”. Aku butuh usahamu untuk meyakinkanku. dan, aku butuh sesuatu yang nyata. senyata jumlah tagihan yang mulai harus aku bayar tiap bulannya.

Apakah aku meminta terlalu banyak? Am I asking too much?

***

fiksi atau curhat? Let u decide :*

6 Comments

Filed under [drama] lepas, [drama] sekitar

6 responses to “Bagaimana Jika

  1. kayanya ini curhat deh.. :))

    tapi aku kok ya sampe mo menitikkan air mata yah mba bacanya..
    dan setuju banget ama isi postingannya. sama deh, makin kesini, aku kok ya pengennya bukan cinta yang berapi-api dan menggebu-gebu kaya dulu..pengennya cinta yang bikin tenang..๐Ÿ™‚

  2. Menurut saya untuk menjadi wanita yang tegar terutama harus dilakukan sendiri disamping mendapat dukungan penuh suami.

  3. Jawaban bagus mbak๐Ÿ˜€

  4. hemmm.. wait.. kyknya aku baru liat tuh lirik lagu oasis dipinggir situ.. apakah itu pertanda..:mrgreen:

  5. Ehem..Ehem..
    Bagaimana jika aku menunggu undangan Ais aja deh..
    biar aku bisa ke Yogya
    #menanti di pojokkan

  6. eeehhh,, ada yang melamar neh is?๐Ÿ˜›

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s