teruntuk kamu, pria istimewaku

Ada rasa sedih saat melihatmu bahagia.

Bukan karena aku tidak ingin kamu bahagia, melainkan karena bukan aku yang membahagiakanmu.

Itu menyakitkan… seperti pukulan yang sebenarnya ingin buatku tersadar.

hmmm…

Mungkin ini waktu untuk aku terpuruk,

supaya aku dapat melihat Tuhan memakai kenangan ini untuk buatku dipenuhi kesiapan,

sehingga doa dapat melahirkan semangat dan kemudian buatku bangkit.

Namun ketahuilah… sebelum aku sudah tak lagi mencintaimu,

ini darahku mengalir membawa bayang-bayangmu mengelilingi tubuhku

dan jantungku berdenting demi kau menari-nari di pikiranku.

Ada satu hal yang sampai hari ini masih membuat aku bangga menjadi aku,

yaitu… karena aku mampu terima kamu apa adanya.

Aku meminta ampun kepada Tuhan,

sebab aku pernah berharap kalau suatu saat… ketika angin menghempasku hilang dari daya ingatmu, aku ingin tak pernah lagi menginjak bumi.

Sebab hidup jadi terasa bagaikan dinding yang dingin.

Aku harus menjadi paku, sebab kamu bagai lukisan dan cinta itu palunya.

Memukul aku, memukul aku dan memukul aku sampai aku benar-benar menancap kuat.

Pada akhirnya, semoga…

tidak kamu lagi yang aku lihat sebagai satu-satunya cahaya di dalam pejamku sebelum pulas.

 

* Semoga tidak kamu lagi, karya Zaary Hendrik*

***

Hai kamu, pria yang telah memenuhi hatiku, sampai saat ini kamu masih memenuhi hatiku. Dimulai sejak kapan aku pun tak tahu. Hingga beberapa hari yang lalu kamu memintaku untuk bersamamu. Lagi. Bersamamu, melupakan hal-hal buruk yang pernah terjadi diantara kita, dan menata masa depan bersama, sembari merajut mimpi bersama.

Tahukah kamu aku memili ketakutan yang sangat besar saat ini? ketakutan yang tidak bisa aku definisikan,pada  apapun dan pada siapapun.  Aku takut melangkah bersamamu, mungkin jenis ketakutan yang orang bilang trauma. pfftt… aku ini lulusan Psikologi tapi menghilangkan trauma pada diri sendiri pun aku tak bisa. hei, dokter gigi juga tidak bisa mencabut giginya sendiri kan?

Trauma pada mimpi-mimpi dan rencana. Aku memiliki begitu banyak mimpi yang tiba pada waktu hanya mengisi lembar-lembar buku harian yang saat ini  menjadi bahan buat aku bercerita fiksi, mungkin. Sekarang aku pun takut bermimpi bersamamu, karena aku takut bila tiba waktunya mimpi itu terwujud, aku sudah tak bersamamu lagi. Sakit rasanya  berbagi mimpi bersama namun saat itu terwujud kau sudah tak bersamaku lagi.

Tidak ada siapapun atau apapun yang menjamin jika pada akhirnya kita akan bersama kan? Lalu buat apa kita bermimpi sekarang? aku takut. sungguh ketakutan tak bernama ini telah menjadi gelisah berkepanjangan hingga akhirnya aku tidak bisa membuatmu bertahan di sampingku.

Lalu saat si kawan datang membawa potongan puisi ini, aku tersentak. Aku membayangkan kamu membacakannya untukku. Aku membayangkan kamu yang mengatakan kata-kata itu kepadaku. Aku membayangkan kamu berkata: ‘semoga tidak kamu lagi’  kepadaku.

Ketakutan itu masih ada, makin membesar. Ketakutan kehilanganmu, ketakutan melangkah bersamamu. semua serba salah. kalau ini film Warkop DKI; maka judulnya adalah maju kena mundur kena.

Pfft… kamu, kamu adalah pria istimewa yang mau menerima aku apa adanya; aku yang terlalu cerewet dengan hal-hal kecil yang tidak penting, aku yang selalu bersuara manja denganmu, aku yang sering mengacuhkanmu saat kamu datang, aku yang sering sekali menghabiskan wkatu dengan teman-teman priaku, aku yang kadang tidak bisa membedakan keinginan dan kebutuhan, aku yang tidak mau mengalah saat berdebat, aku yang punya segudang kenangan dengan masa laluku.

Ingatkah saat pertama kali kita menyadari perasaan kita masing-masing, kita berusaha untuk mengingkarinya? Ingatkah cerita diantara Jogja Java Carnival, Siomay, Frau dengan Mesin Penenun Hujannya? Ingatkah saat pertama kali kita bertemu lagi? Ingatkah batang rokok yang pertama kali kamu hisap waktu itu? Ingatkah saat si beruang kutub menyemburkan isi mulutnya padamu saat kita bermain UNO? Ingatkah ini ingatkah itu … aku tidak pernah mau mengumpulkan dan merekam jejak perjalanan kita. di sini, di buku harianku, atau di manapun. di satu sisi aku mengingkari hadirnya ‘kita’ antara kamu dan aku, di sisi lain aku juga ingin perjalanan ‘kita’ akan terus ada antara aku dan kamu hingga aku tak perlu menyimpannya lagi karena akan ada ‘lain waktu’ bagi kita.

Saat ini aku merasa seperti anak kecil yang sedang ditunggu bermain di taman kota.  Aku bermain dengan ketakutanku, dan kamu duduk di pinggir taman melihat itu semua. Tapi… sampai kapan kamu akan menunggu?

***

Puisi prolog di atas saya dapat dari partner in crime  yang memasukkan musikalisasi puisi ini  ke playlist di handphone saya. Puisi ini punyanya @zarryhendrik yang diambil sama si partner dari soundcloudnya (soundcloudnya Zarry, bukan si Partner) .

Advertisements

cinta terlarang

ku tahu cinta ini terlarang
walau rasa ini tak sanggup ku pungkiri
ku harap kau mampu mengerti
apa jadinya dunia
kalau mereka tahu tentang kita

malam minggu, habis ketemu sama Ne. iyah.. Ne si gadis ayu yang punya blog selaksa kata. ini kopdar kedua kami. ini penyakit saya nih; kalok udah lebih dari sekali ketemu (seperti dilaporkan di sini; saya pertama kali ketemu Ne beberapa bulan yang lalu), rasanya jadi gak kopdar. rasanya jadi kek dolan sama temen lama aja.

entah kenapa…setiap habis ketemu sama temen yang kita kenal dari dunia blog, mesti deh bawaannya jadi kangen sama blog sendiri. pengen cepet pulang dan menumpahkan rasa. di kepala berkejaran ide-ide yang dari kemaren sempat menguap entah ke mana.

is ini judulnya cinta terlarang, lagu pengantarnya juga cinta terlarang, kok nulisnya tentang Ne? jangan-jangan…HOI BUKAN HOI!!

ini cuma intermezzo, bukan prolog (salah sendiri, nulis intermezzo di depan). postingan sesungguhnya akan saya tuliskan setelah tanda-tanda bintang berikut ini

***

cinta terlarang. Pernahkah kawan-kawan terjebak cinta terlarang? saya (sepertinya) pernah. gak, bukan sekarang kok. sekarang saya lagi gak menikmati cinta terlarang, maupun cinta terpuji. lagi menikmati cinta sendiri aja *eaaaa ituh mah judul lagu kalik..

gak tahu..tiba-tiba pas lagi bengong di kamar, playlist saya mainin lagunya OST Arisan The Movie: Cinta Terlarang, lagu yang ada di dua filmnya (as we know, Arisan kan sekarang ada dua tuh dan keknya saya pernah ngebahas tuh pilem di postingan saya yang ini).

liriknya kan depannya begini:

cinta bisa datang kapan saja
biasanya dia hadir tiba-tiba
lalu semua berubah
hati ini menjadi resah

kalok di film itu, cinta terlarang yang digambarkan yah cinta antara si Sakti sama si Nino. You know… hubungan sesama jenis gitu. Tapi saya gak mau ngebahas yah bok soal cinta terlarang yang kek begitu, semua orang pasti punya pandangan masing-masing soal itu. Cuman kadang cukup disayangkan saja: bersaing dengan sesama wanita saja sudah cukup kompetitif yah, ditambah saingan pria juga rasanya membuat pasaran semakin sengit (hahahahaha!).

Terus…terus…terus… cinta terlarang macam apa? cinta terlarang yang banyak beredar di depan mata saya. Kadang saya mau menepikan itu semua, segala macam cerita yang hadir di depan muka saya, tapi kemudian ada semacam suara yang bilang: “cinta kan gak pernah salah”

hell yeah. Cinta tak pernah salah, tetapi waktunya yang salah.

Pernah denger soal pasangan suami-istri yang berpisah karena salah satu di antara mereka ‘berpaling’? Selama dua minggu terakhir, cerita itu lagi berdengung di telinga saya berkali-kali. untuk beberapa pasangan yang berbeda. boleh jadi, ini menjadi salah satu ketakutan terbesar saya untuk melangkah ke jenjang berikutnya dengan *uhuk* seseorang. Saya takut, takut setengah mati kalau besok pasangan saya (atau bahkan saya?!?) tidak menjaga komitmen suci pernikahan.

Cerita-cerita yang saya dengar ini bukan hanya dari cerita novel atau film atau fiksi lainnya. ini cerita nyata senyata kenyataan: berat badan saya naek empat kilo.

Si anu kepincut wanita lain yang dikenalnya lewat facebook, si itu meninggalkan istrinya karena istrinya tergila-gila dengan facebook, si ono nikah siri dengan wanita muda dari istri-nya.

Salahkah mereka? Terjebak Cinta terlarangkah mereka? Kalau kata Opa Freud (mungkin, mungkiin) superego mereka dikalahkan oleh ID mereka. apa itu Is? hmm..saya mencoba menjelaskannya dalam bahasa yang lebih sederhana yah.

Jadi, Opa Freud (Sigmund Freud, Bapak Psikoanalisa itu loh) merumuskan kepribadian manusia itu terdiri dari tiga unsur, yaitu: id, ego dan superego.

Id sendiri merupakan komponen dasar manusia, termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk menuntut kepuasan segera dari semua keinginan dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak langsung dipuaskan, hasilnya adalah kecemasan atau ketegangan.

Sedangkan Ego merupakan energi yang mendorong untuk mengikuti prinsip kenyataan. Ego menjalankan fungsi pengendalian agar upaya pemuasan dorongan yang dimunculkan oleh  Id itu realistis atau sesuai dengan kenyataan. Gampangannya, Ego ini merupakan ‘jembatan penghubung’ antara id dan superego.

Superego sendiri merupakan  gambaran kesadaran akan nilai-nilai dan moral masyarakat yang ditanamkan oleh adat istiadat, agama, orangtua, guru. Agama dan norma sosial termasuk di dalamnya.

Nah dalam kasus cinta terlarang, id-nya si pelaku (bahasanya Is!) berpikir: “aku mau sama dia! aku mau sama wanita itu yang bukan istriku!”

tapi di superego ada kenyataan: dia sudah menikah, orang menikah tidak boleh lagi ‘menginginkan’ orang lain dalam hidup. ya kan? bahkan percerain sendiri (di agama yang saya anut) merupakan tindakan halal yang paling dibenci oleh Allah. itu superegonya.

Di sinilah ego berperan untuk menjadi jembatan penghubung antara yang id inginkan  dengan superego yang ada di luarnya.

Nah cinta terlarang bisa terjadi karena interaksi ketiganya: id, ego dan superego.

Cinta terlarang terjadi karena interaksi kompleks ketiganya. apa yang id inginkan merupakan naluri dasar, apa yang ada di superego merupakan nilai yang ditanamkan dan kemudian reaksi apa yang ego keluarkan merupakan suatu proses yang tidak mudah. ada banyak pertimbangan yang ego lakukan.

jadi, cinta terlarang yang terjadi di sekitar kita bisa dengan mudah kita judge sebagai perbuatan yang ‘hiiiih’ banget, tapi merupakan tindakan kompleks dari serangkaian unsur kepribadian (yang kalau dijelaskan bisa jadi beberapa SKS. hahahaha). saya gak bilang cinta terlarang itu jahat atau baik (nyari amaaan! hahaha), karena yah itu tadi: KOMPLEKS. harus dilihat sebabnya, alasannya, bagaimana ia dulu dibesarkan, bagaimana pola asuh, bagaimana… ah sudahlah. terlalu banyak yang saya tuliskan malam ini.

***

Cinta tidak salah. Mungkin waktunya yang salah

see u next post!

PS: AIS SIH NULIS APAAAH INIIIIH?!?!

Summer camp at Pare (Part 4)

happy Mondaaaay!!!

Hai.. hai kawans. how’s your monday? hopefully like mine: colorfull! Actually pengen ikutan kontesnya Pakdhe, udah punya bahan. tapi pas buka ternyata baru ngeh kalok udah habis bok deadline-nya (tata bahasa si ais kacau euy!).

Okeh.. bagaimana kalok saya lanjutin soal summer camp saya di Pare? As my promise kemaren di postingan sebelum ini, saya janji mau ngasih list harganya. tahan nafas dulu yah, karena harganya murah-murah bok!

nih buat gambaran kasaran uang yang saya keluarkan pas saya di Pare (di luar transport saya ke sana yah):

1. Biaya Camp : Rp. 100.000
2. Biaya kursus TOEFL structure dua minggu (OXFORD): Rp. 100.000
3. Biaya kursus speaking satu bulan (Daffodils) : Rp. 175.000
4. Biaya kursus speaking & Pronounciation (Fajar English Course) dua minggu : Rp. 70.000 (@ 35.000)
5. Biaya sewa sepeda satu bulan : Rp. 50.000
6. Biaya makan : Rp. 350.000 (yang ini aseli kasar banget loh, soalnya saya kalau makan saya sesuka hati aja, tapi FYI aja nih biaya makan di sana murah bok! sekali makan sekitar 3500 – 5000. Kecuali kalau mau makan iga bakar di cafe damai, yang juarak banget rasanya, itu harganya 12.000).
7. Biaya lain-lain : 150.000 (ini biaya beli-beli souvenir, atau karokean –> ada tempat karoke yang lumayan loh di sana!, atau sekedar jalan-jalan).

Nah sekitar segitulah biaya NORMAL nya kalau kita mau menghabiskan waktu satu bulan dengan ikut empat kelas selama sebulan. Jadi, besaran biayanya tergantung banget sama kelas yang mau kita ambil. Nah, harga masing – masing kelas itu variatif depends on lembaganya, lihat aja saya ngambil kelas di tiga lembaga, harganya variatif kan?. tapi yah percaya banget deh gak semahal lembaga bahasa Inggris yang ada di kota-kota besar.

teman-teman sekelas di Oxford 🙂

Biaya tambahan yang akan lebih besar adalah biaya tambahan untuk kita pergi-pergi ke tempat wisata. Karena kelas itu biasanya ada senin-jumat, sabtu – minggu libur, nah biasanya anak-anak itu bikin kelompok-kelompok kecil buat pergi travelling. Ini yang saya gak sempet ngikut. err…actually bukan gak sempet, gak ada duit tepatnya. hahahahha… kan tujuannya ke sana belajar, bukan wisata (*cih! padune ndak ado piti mak!!)

kalau biaya travelling ini depends on masing-masing kelompok yah, tapi sekitaran 150.000 – 200.000an kalok gak salah. Biasanya yang paling sering itu ke Bromo (sunrise-nya bagus banget! dan banyak bule yang bisa buat sparing partner), atau ke Pulau Sempu, atau ke Malang, atau bahkan ke Bali. semakin banyak temen sekelompok, semakin murah.

Gambaran Pulau Sempu, Jawa Timur. Nyolong dari temen sekamar yang ikutan pergi ke sana

***

nah kira-kira apa yang belon nih? masih banyak loh sebenarnya, next time kalok niat saya lanjutin deh. atau kalau ada yang mau nanya-nanya lebih lanjut bisa nanya di kolom komentar, atau hubungin saya di efbe kek, di twitter kek, atau yang udah punya nomor saya bisa sms saya, ok? Kalik aja saya bisa nemenin ke sana, mau ketemuan sama cinlok saya *hush!
huahahahahha…

summer camp at Pare (Part3)

happy monday all!
hehehehehehe… ini postingan soal Pare sampek kapan Is? (jawabannya adalah: sampek bosan! hahahahaha) karena tiga minggu saya di sana itu merupakan tiga minggu yang unfergetable lah istilahnya. kalau saya punya kesempatan lagi, saya mau banget buat ngulang tiga minggu menakjubkan itu.

deu…mulai lebay deh ah saya. di part yang pertama saya sudah menceritakan beberapa ‘pengantar’ soal kampung inggris Pare, Kediri. Nah di postingan kedua saya sudah menceritakan ‘rumah’ saya selama saya tinggal di sana. Kira-kira part 3 ini saya cerita soal apa yaaah… hmm…hmm *mikir* soal kisah cinta? hahahahaha, sayangnya gak ada kisah kasih (saya) di sana 😦 gak ada waktu buat galau-galau gak jelas. mari saya ceritakan keseharian saya di sana bagaimana.

ready? Go!

jadi di Pare itu kan setiap lembaga kursus rata-rata membuka pendaftaran setiap tanggal 10 dan 25 di setiap bulan. Kok setiap bulan Is? iya, jadi rata-rata lembaga itu memiliki short program yang berdurasi minimal dua minggu. see? kilat banget kan? Tapi itu minimal loh, maksimalnya ada yang satu program berlangsung selama enam bulan. Programnya macem-macem, seperti yang sudah pernah saya jelaskan sebelumnya. nah… sekali saya bilang nih: don’t expect too much. tempat ini bukan tempat yang bisa membuat kamu mendadak langsung lancar mampus ngenglish. Tapi tempat ini memang kondusif bangeeet buat belajar bahasa inggris. minimal kamu akan nambah rasa percaya diri dan juga ngilangin rasa malu kamu.

Ok Sip.. lanjut nih yah.

Nah, saya datang kalau tidak salah mengikuti periode 10 Juni 2012 kemaren. saya daftar di dua lembaga, satu saya mengambil kelas speaking di Lembaga Daffodils (yang terkenal sama program speakingnya) yang kedua saya ngambil TOEFL di Oxford. Kenapa saya pilih dua lembaga itu? Gak tahu juga sih, itu hasil search di internet juga. hihihihi… Untuk speaking saya ambil satu bulan, dan untuk TOEFL saya ambil dua minggu.

Hari pertama saya tepar mampus. karena saya baru sampai di Pare jam enam pagi, rebutan kamar mandi, jam tujuh sudah ada kelas (kelas TOEFL) sampai jam setengah 10, jam sepuluh saya ngejar kelas speaking di Daffodils, kelar jam dua belas, jam setengah tiga sampai jam empat saya ada kelas lagi di Oxford (kelas TOEFL), terus jam setengah tujuh sudah ada program di Camp tempat saya tinggal.

dan lokasi Daffodils – Oxford – Fajar Camp itu berjauhan. gak jauh-jauh banget sih… tapi lumayan bikin saya mijet-mijet betis di akhir hari, karena di sana rata-rata alat transportasinya adalah sepeda.

hari pertama dan hari kedua merupakan hari saya beradaptasi lah. beradaptasi sama udara Pare yang kalok malem dingin banget tapi kalok siang panase pool, beradaptasi juga sama situasi ‘ke amna-mana kudu naek sepeda’ (tapi fuuuun banget bagian ini! saya gak butuh waktu lama loh!), beradaptasi dengan kondisi saya harus satu kamar dengan tiga orang ajaib tapi menyenangkan yang berasal dari Lombok, Jakarta dan Solo, beradaptasi ngelemesin lidah buat lancar ngomong pake bahasa inggris, beradaptasi buat nutupin umur (dem! paling tua aja loh saya di sana! bahkan tutor di camp saya juga umurnya masih di bawah saya semua. hahahahahahaha), beradaptasi ngumpetin gelar (dengan polos tiap ditanya saya jawab saya masih kuliah di Psikologi, angkatan 2009. dueerrr… hihihihihihi).

di hari kelima, saya mulai menikmati semua rutinitas itu. bangun pagi – program shubuh di camp – berangkat ke oxford – berangkat ke Daffodils – pulang makan, tidur, sholat – berangkat ke oxford – nongki2 sore – pulang ke camp, – program malam di Camp – gosip sambil ngantri mandi.

ah intinya saya bersenang-senang dan belajar deh. di tengah-tengah rutinitas saya itulah menemukan keinginan saya dalam hidup: saya pengen bisa terus belajar. saya pengen terus mengetahui, mengetahui dan mengetahui. berproses, dan terus berproses dari tidak tahu menjadi mengetahui tentang sesuatu, meskipun proses itu lambat (hehehehehe).

nah memasuki minggu ketiga, saya sudah selesai dengan program saya di Oxford yang memakan wkatu paling banyak di keseharian saya. Saya bingung setelah itu ngapain. Harusnya sih saya lanjutin karena yang saya ambil cuman kelas Structure doang, harusnya lanjut ke Listening dan Reading. Tapi saya jenuh. Jenuh banget malahan belajar TOEFL, walopun tutornya (say hai to Miss Ifa! Hai Miss Ifa!!) sangat menyenangkan. tapi memang saya juga ogah-ogahan belajar TOEFL :mrgreen:

akhirnya saya lihat program apa yang bisa saya ambil di Camp saya. as we know, saya tinggal di Camp yang juga merupakan lembaga kursus yang menyediakan beberapa program. nah waktu itu, saya ‘tertarik’ dengan dua orang tutor di Fajar. ini tertariknya jangan diartikan tertarik yang kek gemana loh ya… saya tertarik dengan cara mereka mengajar, karena ada kawan serumah saya yang mengambil program dengan tutornya mereka berdua.

Tutor yang pertama adalah Miss Hanum, dia sekaligus pemilik Fajar English Course, Miss Hanum ini ngajar kelas Speaking. Miss Hanum meiliki metode belajar yang santai banget tapi bisa membuat kita confidence buat ngomong. Beberapa kali saya sempet ‘nyuri’ masuk kelas Speakingnya dia, dan emang seru banget kelasnya!

Tutor yang kedua Mister Sigit. dia ini kata temen saya dateng ke Pare setahun yang lalu dan mulai dari nol belajar bahasa inggrisnya, dan dia intensif belajar Pronounciation. Dan sebelumnya beberapa kali saya pernah ngobrol dengan dia, dan emang pelafalan dia bagus.

Akhirnya saya mengambil dua kelas di Fajar English Course di Minggu ketiga saya. Secara saya belajar di ‘rumah sendiri’ saya lebih santai. Belajarnya di halaman rumah sendiri, jadi sambil nunggu kelas sebelumnya kelar, saya bisa gosip-gosip dulu sama temen secamp, atau makan jagung, atau lari ke kamar mandi kalau kebelet pipis. hihihihihi…

sayangnya, di minggu keempat saya harus segera pulang ke Jogja, karena harus mengejar tanggungjawab saya waktu itu: being a jobseeker. Jadi semua program itu tidak saya tuntaskam semua. di senin keempat saya di sana, saya berpamitan. Miss Hanum melepas kepergian saya sambil memeluk saya serta membuat saya berjanji untuk tidak melupakan Fajar. Saya terharu, karena di kelas terakhir dia yang saya ikuti, dia memberikan kesan dan pesan terhadap saya yang membuat saya sangat terkesan.

satu hal yang saya pelajari dan sampai saat ini membuat saya sulit melupakan keberadaan saya tiga minggu di Pare adalah: kesederhanaan masyarakat Pare, bentuk kesederhanaan yang saya rasa sulit saya temui di kota besar macam Jakarta ini (*pfiuuuhh), serta ketekunan orang-orang yang pergi ke sana (kebayang gak sih ada orang jauh-jauh dateng dari makasar ke situ hanya untuk belajar bahasa inggris, padahal umurnya baru 12 tahun!).
Di sana juga saya belajar bahwa berbagi ilmu tidak akan pernah membuat kamu berkurang ilmunya. Tutor-tutor saya di sana bukanlah mereka yang jagooo banget di bidangnya, ada banyak orang yang lebih jago saya rasa. Tapi mereka memiliki keinginan untuk memberikan apa yang mereka miliki walaupun sedikit. Dan mereka melakukan itu dengan senang, terlihat dari cara mereka mengajar.

ahhh… Andai saja kehidupan saya ini tidak harus bersinkronasi dengan kehidupan orang lain (baca : orangtua) mungkin saya akan memilih untuk kembali ke sana dan tinggal lebih lama di sana (hehehehehehe…). well, someday mungkin itu bisa saya realisasikan. Someday over the rainbow (itu keknya somewhere deh Is. hahahahaha).

ah sudahlah, postingan senin ini ditutup dulu, next time saya lanjutkan mengenai list harga kali yak, yang bakal bikin mupeng.
ok deh, see u next post yah :mrgreen:

*searah jam* : baliho Fajar English Course di depan gang masuk Camp. Saya dan Ayay, temen satu kelas di Pronoun. Kawan-kawan secamp. suasana desa tulungrejo, Pare. Miku, sepeda saya yang selalu menemani saya di sana. Iga bakar favorit saya yang muraaaah banget!

senja sehangat jingga

di senja kala nada,

saat teriknya mentari berubah hangat

seperti menyapa dalam ungkapan jingga

aku datang dalam balutan ilmu

berharap pada pepatah lama,

mereka bilang tuntutlah ilmu hingga ke negri China.

gelisah seorang pujangga berakhir romansa

gelisah seorang penyair berakhir syair

gelisah seorang ilmuwan berkahir teori
lalu…
gelisah seorang pengangguran berakhir apa?

*another puisi gagal. ini udah ngedon lama di draft. dari tahun lalu. daripada kagak dipublish, dan udah tiga jam melotot liatin kolom add new post ini, akhirnya ujungnya diselesain dengan kata penutup itu deh. hahahahahha…

ada yang kangen gak sih sama saya? ini oleh-oleh buat yang kangen *kecup mesra*

summer camp at Pare (part 2)

Seperti janji saya sebelumnya mbuat ngelanjutin cerita di postingan sebelum ini, maka saya bakalan ngelanjutin ni soal cerita saya di Pare, Kediri.

Di postingan sebelumnyakan udah nih soal mental dan program. Next nya adalah: soal tempat tinggal. Nah ini bagian paling serunya. Soalnya, selama di Pare saya nemu rumah yang benar-benar homy dan mbuat saya gak pengen pulang. Rumah ini saya pilih sendiri.

Jadi di Pare itu ada dua tipe tempat tinggal. Yang pertama itu rumah-rumah penduduk biasa yang dikostkan gitu, yang kedua itu semacam camp yang terdiri dari beberapa kamar. Persamaan camp dan kost-kostan: sama-sama di rumah-rumah penduduk gitu, sama-sama memiliki kamar yang harus diisi minimal tiga orang (gak ada deh keknya satu kamar buat satu orang di Pare setahu saya, kalau ada juga harganya selangit). Perbedaannya adalah: kalau di camp, kita diharuskan memakai bahasa inggris dalam kesehariannya da nada tutor yang siap membantu kita. dan juga di Camp pasti ada program-program yang bisa kita ikuti. Kalok di kost-kostan gak ada tuh yang kek begitu.

Setelah survey awal, saya memutuskan untuk tinggal di Fajar Camp yang merupakan bagian dari Fajar English Course. Dan saya bener-bener gak salah pilih! Fajarcamp ini letaknya di ujung kampung, agak di belakang dari jalan utama. Ini menguntungkan banget, karena situasinya gak serame camp-camp yang ada di depan kondusif banget buat belajar. Jangan bayangkan kalau ujung kampung itu jauh ya, gak jauh kok. Saya bisa kok tiap hari bolak-balik berkali-kali sepedahan dari jalan utama ke camp saya ini.

Pertama kali dateng, saya disambut oleh Miss Hanum yang ramah (dia pemilik sekaligus teacher di sini yang juara banget deh baeknya. ciyuss! hahahahahaha). Saya ditempatkan di Fajar Camp satu saat pertama kali dateng, namun karena satu dan laen hal saya dan gerombolan temen sekamar pindah ke Camp dua yang letaknya bersebrangan.

Fajar English Course memiliki beberapa program selain menyediakan camp, yaitu program VOS (Vocabulary and Speaking) yang terkemas dalam 6 (enam) level berurutan yang akan membuat member berani ngomong casciscus dengan vocabulary yang bertambah setiap harinya tanpa sadar. eh kok bisa?

Penasarankan?

Jadi begini, yang saya pahami dari keberadaan saya di sana adalah: kalok kepengen BISA casciscus belajar bahasa inggris; yang pertama harus kita punya itu adalah confidence. Kamu punya segudang vocab dan jago banget grammarnya tapi bisa jadi gelagepan pas ngomong karena gak punya confidence. Sebaliknya, kamu punya vocab yang minim dan grammar pas-pasan tapi bisa keliatan jago banget bahasa inggrisnya kalau kamu punya confidence yang jago banget.

Nah, vocabulary itu akan mengikuti kalok kamu sudah biasa berbahasa inggris (jadi Pede, terbiasa, kemudian mulai deh menghafal vocab yang paling sering kita butuhkan untuk diucapkan!)

Sama seperti camp lainnya, di Fajar English Course juga memiliki camp yang mewajibkan membernya untuk berbahasa inggris dalam keseharian di lingkungan camp. Awalnya saya planga plongo gak Pede. Saya biasa berbahasa inggris sama siapa sih? Paling sama mik, di ruang karoke (hahahahaha!) tapi ini kudu ngomong pake bahasa inggris sama orang asing! Untungnya kebijakan Camp memberikan waktu adaptasi bagi member baru selama dua minggu.

Tiap member wajib menghadiri dua program tiap Senin – Jumat, yaitu Program pagi pukul 05.00 – 06.00 biasanya diisi oleh tutor masing-masing Camp yang berisi Expression atau Vocabulary. Nah sorenya habis maghrib itu pukul 18.00 – 19.00 semua anggota Fajar Camp akan berkumpul di Gazebo depan rumah Miss Hanum untuk ikut Study Club. Study Club ini seru, karena biasanya diisi dengan Debate, Discussion atau Singing! Bisa jadi arena ngegebet juga karena pas Study Club ini semua Camp ikut (dari Camp cowok juga! *uhuk!!). Hebatnya, tiap malem jumat Fajar Camp ngadain Yassinan bareng dan ditutup dengan makan bareng juga yang biasanya dari makan-makan ini akan berujung ngobrol-ngobrol santai antar anggota Camp (cari jodoh..cari jodoh…cari jodoh…! hahahahaha)

Spesialnya dari Fajar English Course ini, suasana belajarnya nyantai banget. Buat kamu-kamu yang biasa belajar bahasa inggris di les-lesan kek L*A atau E* kagak usah berharap ada ruangan kelas gitu ya, kita biasa belajar-belajar santai di teras rumah Miss Hanum, atau di Gazebo depan rumahnya. Desau angin menggantikan dengung AC yang membosankan, tembok putih diganti dengan daun-daun menari, kursi empuk diganti dengan kehangatan lesehan yang membuat member dan pengajar tidak ada jarak.

Suasana belajar dibuat sesantai mungkin, tapi kita wajib ngomong. Harus kudu fardhu ain lah. Biasanya yang pendiem – pendiem gitu tetep harus dipaksa ngomong sampek dia akhirnya bisa ngomong.

Ini subjektip aja ni, saya kan ambil program gak cuman program-program yang ada di Fajar English Course, saya juga ngambil program di lembaga lain (dan ini sangat amat dibolehkan loh di Pare, apalagi di Fajar English Course yang tidak mewajibkan ngambil program di situ kecuali dua program yang udah disebutkan: program shubuh dan habis magrib itu). Tapi menurut saya, di Fajar English Course lah saya bisa belajar dengan santai dan menyenangkan. Saya diajar oleh Miss Hanum sendiri, dan wuiiih..kelas dia itu selalu mengasyikan. Kalau mau berangkat program di lembaga laen saya males-malesan, di Fajar nih, kelas belon mulai saya udah ngejogrok di TKP. Karena Miss Hanum selalu tahu bagaimana caranya mbikin suasana kelas tambah seru. Unforgetable experience banget dah belajar di Fajar English Course. Info lebih lengkap coba deh cek blognya Fajar English Course di sini.

Mau tahu lebih lanjut soal Pare? Tunggu yaaaaahh akikah nafaaas dulu cyiiin :mrgreen:

kawan-kawan yang jadi bagian dari ceritera saya di Fajar English Course 🙂

summer camp at Pare (part 1)

Hei! Selamat hari Jumat kawans! Hihihihi, lama kali yah saya gak update ini blog. Tapi today saya punya sepotong cerita yang mungkin saja berguna buat menghadapi akhir tahun (siapa tahu ada yang lagi nyari program-program singkat buat menghadapi libur akhur tahun untuk ponakan, adek, pacarnya adek, atau diri sendiri! )

Bulan juni lalu, setelah gagal menghadapi my first interview, saya disarankan mamak buat ngambil les bahasa inggris (soalnya interview saya pake bahasa inggris waktu itu dan saya gelagapan njawab pertanyaan interviewer). Saya ini terakhir ikut les bahasa inggris itu pas kuliah semester empat atau gak lima kalok gak salah. Selebihnya saya belajar bahasa inggris lewat DVD, lagu, jurnal – jurnal penelitian dan sok nginglish aja kadang kalok ngoceh ama temen. Jadi bahasa inggris saya belepotan mampus dah. Toefl aja pas-pasan gitu.

makanya Mamak saya nyaranin saya buat pergi ke Pare, di Kediri, Jawa Timur. beliau menyarankan saya ke situ setelah denger soal kampung itu dari kerabatnya. Saya juga pernah denger itu tapi lupa dari siapa. Singkat cerita, setelah survey lewat internet dan menemukan bahwa Pare tempat yang asyik buat belajar, saya setuju sekali buat pergi ke sana.

Berangkatlah saya naik travel dari Jogja. Nah, buat temans yang mau ke sana itu salah satu caranya adalah naek kereta ke arah malang, turun di stasiun Kediri (dari Jogja itu ada kereta Kahuripan jam setengah tujuh pagi dan ada kereta Malabar jam 12 malem). Tapi dari Kediri itu kita harus naek angkot lagi ke Pare. Biar singkat dan gak repot, saya naek travel. Travel-nya cari travel yang ke arah Malang yang lewat kediri terus bilang deh mau ke Pare, ke Desa Tulungrejo atau kalau bilang Kampung Inggris juga paham kok beberapa sopir travel.

Tips saya nih, sebelum kita mau stay di sana, kita survey dulu aja atau at least cari-cari info dulu lah. Dan jangan asal percaya juga sama tour and travel, apalagi kalau musim liburan… suasana Pare bakalan hectic dan kacau deh.

Jadi, Pare itu bukan kampung yang semua penduduknya pake bahasa Inggris. salah banget dan harus dirubah mindsetnya yang kek begitu. Pare itu merupakan sebuah perkampungan yang memiliki banyak sekali tempat les bahasa Inggris (yang aseli murah banget!). Dan sangat amat kondusif buat belajar. Serius.

Okeh, okeh, saya mulai banyak melantur kan sangking bingungnya menceritakan darimana pengalaman saya di Pare.

Saya memang menggunakan jasa tour and travel untuk memesankan tempat di kursusan. Yang perlu dipersiapkan sebelumnya itu adalah mental. Eh jangan ketawa. Ini serius. Don’t expect too much. because the reality is beyond your expectation. Hahahahaha…

Surprise banget deh situasi dan kondisinya. Serius. Saya ampek spechless buat menceritakannya di blog selama saya di sana. Satu yang perlu dipersiapkan lagi: jangan manja yah :mrgreen:

Ok, setelah ‘mental’ diatur, berikutnya yang perlu dipilih adalah: Program. Dulu saya berpikir bahwa yang namanya belajar bahasa inggris itu yah asal belajar aja. Tapi kenyataannya adalah, di Pare itu kita harus punya fokus pengen belajar apa.

Kalau pengen bisa casciscus sama Bule, pilihlah program Speaking dan Confidence (ini juga program yang saya saranin buat kawan-kawan yang buta sekali soal bahasa inggris dan baru pertama kali belajar bahasa inggris). Pengen ngejar beasiswa, pilihlah program TOEFL prep. Kalau pengen nulis dan paham EYD yang benar dalam bahasa inggris, pilihlah program Grammar (saran saya: program grammar ini buat yang beneran mau belajar loh, karena biasanya program ini padet sama kek kelas TOEFL). Nah buat yang pengen sempurna pelafalannya pilihlah kelas Pronounciation (di sini bakal belajar deh bagaimana melafalkan bad, bed, sand, send dan lainnya secara sempurna, beda melafalkan beda arti bok!).

Kalok kamu ngambil apa Is? Awalnya saya ngambil TOEFL karena saya kan lemah di TOEFL dan juga cuman pas-pasan buat syarat lulus kuliah kemaren, kan pengen juga punya TOEFL di atas 500, biar bisa ngelamar beasiswa di luar atau masuk metro tipi gitu. Program yang kedua yang saya ambil itu kelas speaking, karena saya butuh untuk BISA berbicara dalam bahasa inggris.

Nah, mental udah, program udah. Apalagi yang belum? Masih banyak cyiin! nanti saya lanjutkan pada postingan berikutnya. Tetap di dramaLand yak! *kecup penuh sayang*

welcome to Pare!

see u next post!
****

PS: Gambar boleh ngambil dari si kawan ini 🙂