dear dramaland, happy birthday to you!

dear dramaLand,

hari ini kamu ulang tahun. maafin aku yah… tidak seperti tahun lalu saat aku mbikin event dramaLand punya gawe untuk memperingati hari ulang tahun kamu, tahun ini aku bahkan melupakan hari ulangtahun kamu.

ya ampun.. entah sudah berapa banyak kata penyesalan yang aku tulis di sini; menyesal nyuekin kamu, menyesal gak update kamis manis, menyesal udah mengkhianati komitmen antara kita.

ah, ternyata usia komitmen itu tidak mempengaruhi bagaimana kita menghargai komitmen itu. people changes, so do i. perubahan paling mendasar dari hubungan kita adalah bagaimana aku memperlakukanmu, bagaimana aku memperlakukan kawan – kawan blogger.

kamu, pernah menjadi duniaku, tempatku berbagi segala hal. ah… bahkan aku mengkhianati buku harianku denganmu. dan sekarang aku mengkhianatimu dengannya. apa aku memang tipe pengkhianat? mungkin. beruntung aku tidak hidup di jaman penjajahan, mungkin kalau hidup di jaman itu aku sudah menyebrang ke pihak Belanda, karena sepertinya aku ini gampang sekali dicuci otaknya.

banyak sekali yang terjadi belakangan ini, dan aku rasa kamu belum mengetahuinya. ah… kalau soal lulus kuliah itu kamu sudah tahu. terimakasih untuk itu, terimakasih karena kamu mau menampung semua cerita suka duka ku kuliah selama tiga tahun, terimakasih juga kamu mau menampung semua cerita soal captain (ahhahahahah….. !).

apa yang bisa aku berikan di hari ulangtahunmu yang ketiga ini? kalau kamu berbentuk manusia, aku sudah bisa melihatmu berlari, bisa melihatmu tertawa seperti Zi, bernyanyi seperti Zi AKu bisa menghadiahkanmu semangkuk siomay kuah yang lagi jadi favoritku saat ini. atau ronde, atau putu ayu.

aku rindu. rindu berbagi sepenuh hati kepadamu. banyak hal yang berubah, bukan hanya diriku tapi dunia sekitarku. tapikan memang begitu. Things change. Friends leave. But life doesn’t stop for anybody. ya kan? ya kan?

setahun terakhir merupakan tahun yang banyak merubah sudut pandang aku akan semua hal. termasuk mengenai keabsolutan. dan komitmen. dan… pertemanan.

itu semua akhirnya membawah aku pada pemahaman seperti ini: sebenarnya yang berubah itu objek/subjeknya, atau cara kita memandangnya? kamu… kamu sebagai objek tidak berubah, karena kamu tidak tumbuh, mungkin kamu berkembang. dengan berbagai fitur yang bertambah dan atau berubah, but overall kamu tidak berubah. kamu itu dramaLand. sudut pandangku yang merubahmu kan? ah tak tahulah… bingung juga jadinya aku.

dan satu hal lagi yang aku pelajari selama setahun terakhir adalah: kebanyakan orang tidak akan melihat kamu berproses, yang mereka lihat adalah hasil. namun apabila kamu melakukan hal yang terbaik dalam proses tersebut, kamu tidak perlu meragukan hasilnya.

ah terlalu panjang untuk sebuah ucapan selamat ulang tahun. sekali lagi selamat ulangtahun, dramaLand. semoga komitmen kita ke depan semakin jaya, semakin mesra dan kembali hangat seperti dulu, karena i really, really, miss our time *cup

 

happy birthday to u, dear my lovely dramaLand. hope u always be my part of life. love u

kopdar yang (ceritanya) tertunda: part 2

Nah.. seperti janji saya kemarin (kemarin dan kemarinnya, hihihihihi..)… saya akan menceritakan sosok yang saya temui juga di hari minggu ceria itu. Namanya Ghariza, saya biasa memanggil dia Gher. dia ini di bawah saya satu tahun. Jadi sewaktu saya kelas dua SMA, dia jadi adek kelas saya. Sebenarnya yang teman seangkatan saya justru mbakyunya Gher. Tapi dengan proses yang simpel dan tiba – tiba aja gitu, saya dan Gher malah jadi akrab banget. Bahkan lebih sering saya curhat sama dia, sama kakaknya aja gak pernah cerita – cerita gitu. hihihihihi…

dari dulu, dari jaman SMA, Gher ini memang sudah terlihat dewasa. baik dari tingkah laku maupun dari pola pikir. kenapa saya berani bilang begitu? karena saya dulu lumayan sering curhat sama dia, dan dia memberikan advice yang bikin saya bilang; ‘iya juga ya’

dan pssst… jangan kasih tahu dia yah, saya pernah beberapa kali menulis nama dia di buku harian saya sebagai salah satu teman yang membangkitkan semangat saya, hihihihihihihi.

Jadi, minggu itu saya memang merencanakan juga bertemu dengan Gher. kangen mendengarkan dan didengarkan si Ibu dokter itu. Maka, saya mengirim message ke dia, mengajak bertemu. ternyata dia ada acara hingga sore. ah saya pikir waktu yang pas adalah setelah saya bertemu dengan Ne,  saya bisa bertemu dengan Gher. iya, tempatnya masih sama, di chocoklik juga (lama – lama minta dibayar nih sama chocoklik karena sering menyebutkan nama itu di sini).

dan mendekati Maghrib, Gher menepati janjinya untuk ‘nyamperin’ saya di chocoklik. dan karena obrolan saya dan Ne tak kunjung usai, jadilah saya mengenalkan Ne dengan Gher. dan memang Purwokerto itu kota kecil,  ternyata eh ternyata… Gher dan Ne ini memiliki beberapa teman yang saling mengenal. Teman sekantor Gher ternyata sahabatnya Ne. Dan ohiya lupa, setelah dirunut – runut juga ada beberapa orang kenalan saya yang dikenal oleh Ne juga. see?? kebayangkan kecilnya kota Purwokerto itu? Tapi itu membuktikan juga soal teori six degrees yang entah dari kapan itu pengen saya tulis di sini.

Nah, gak berapa Ne pulang. dan saya melanjutkan chitchat dengan Gher. seperti yang biasa saya lakukan saat bersama Gher: saya hampir dipastikan selalu bercerita soal kehidupan percintaan saya dan juga hal – hal penting dalam hidup. Entah kenapa, itu seperti menjadi kebiasaan yang sangat menyenangkan saat bersama Gher. Saya bercerita soal captain, soal friendship life saya yang pernah kisut, dan masih banyak lagi. Seperti sebuah jawaban untuk pertanyaan singkat: how’s life?

Ah Gher itu saya rasa cocok banget kuliah di Psikologi. bawaannya mau curhat kalok ketemu dia (bawaan saya doang kali yak?!?!?)

hahahahha… namun disamping itu, Gher juga bercerita soal pekerjaan, calon suami, keluarga dan beberapa hal lainnya.

so, kenapa saya bilang berkualitas hari minggu kemaren? Karena saya bertemu dengan dua wanita hebat yang mampu membuat saya tersenyum di akhir hari. mereka, tanpa melakukan apa – apa, mereka… hanya dengan menjadi teman mengobrol di sore hari dan di temani secangkir cokelat, mampu membawa pikiran saya berkelana liar (Jadi, kamu bengong dan melamun is waktu ngobrol sama mereka?!?! gàk… gak gituuu!!!)

dan itu membuat saya menyadari bahwa manusia pada hakikatnya adalah juga makhluk sosial. manusia butuh untuk didengar, dan butuh untuk mendengar. kita harus melakukan kedua hal tersebut (mendengar dan didengar) itu secara seimbang agar bisa tersenyum  di akhir hari. terkadang manusia hanya belum bisa mendengar dan di dengar dengan porsi yang pas. atau kita memang sudah mulai terbiasa untuk selalu minta didengar tanpa mau mendengar. Padahal telinga saja lebih banyak daripada mulut.

Anyway, akhir kata saya mengucapkan terimakasih kepada dua wanita yang menginspirasi tulisan ini, dan semoga ada waktu lain buat kita chitchat lagi yah. terimakasih Ne, terimakasih Gher.

 

terimakasih 🙂

Kopdar yang (ceritanya) tertunda

Hai kamuu… kamuu.. dan kamuuuu… yang sedang nungguin cewek manis ini posting :mrgreen: (hihihihihi….) Akhirnya saya datang membawa postingan istimewah!

Wait.. kenapa istimewah? karena, karena… minggu lalu saya Kopdar. setelah sekian lama gak kopdar – kopdar, setelah sekian lama tidak aktif di dunia perblog-an, setelah rasanya saya seperti drama queen yang mau pensiun (etdah…ada gitu?!?), akhirnya saya KOPDAR!!!

jeng jeng.. dan siapakah blogger beruntung yang bertemu dengan drama Queen yang mau pensiun ini? *heleh.. bahasanya! Sebelum bertemu dengan blogger tersebut, ada baiknya kita simak cerita berikut ini.

*Backsound: namaku cinta, ketika kita bersamaaaaa (Butiran Debu by Rumor à itu lagu lagi happening banget yah. di kuping saya. ) aku terjatuuuh dan tak bisa bangkiiit lagiiih!! *

Hari : Minggu Ceria.  Tanggal : 20 mei 2012.

Minggu siang itu, saya yang lagi jadi pengangguran di Purwokerto bergerak ceria ke rumah oom saya. Rumah oom saya dan rumah kostan saya itu jaraknya satu gang. saya di Blok G, oom saya di blok D. Tiap hari kerjaan saya bolak – balik aja dari blok G ke blok D ataupun sebaliknya. disamping saya jadi tukang ojeg buat anak – anaknya, saya juga jadi fans berat mereka yang hobinya ganggu kesenangan mereka. jadi kalok mereka lagi asik nonton, saya suruh mereka mandi. mereka lagi asik internetan, saya suruh mereka sholat. mereka masih terkantuk – kantuk baru bangun, saya suruh mereka cepet siap – siap buat berangkat sekolah.

Namun minggu itu berbeda. Karena hari minggu, saya agak siang nyamperin rumah oom saya. Nyampek di sana, mereka udah heboh menyambut saya (gak juga ding), karena saya janji ngajak mereka jalan – jalan. padahal aselinya cuman makan siomay di depan GOR, yang gak jauh dari perumahan kami. berbondong – bondonglah saya ajak mereka ke tukang siomay kuah di depan GOR.

Nah pulang dari situ, saya mendapatkan kabar dari seorang blogger yang bilang kalau dia sudah mau masuk Purwokerto. Saya memang janji sama blogger tersebut untuk menjemput dia dan kami bakalan nongkrong – nongkrong cantik di Chocoklik (iya, tempat itu lagi).

Setelah ketemu dengan dia di depan Andhang Pangrenan, kami meluncur ke chocoklik yang letaknya di sekitar jalan Merdeka (kalok salah maaf ya, sayakan orang Purwokerto bajakan KW5).

Sampai di sana, saya dan dia memilih kursi yang paling depan, di dekat pintu masuk, tujuannya apalagi selain buat saya mejeng! (huahahahahahaha… kagak ding, aselinya karena bangku PW yang kosong cuman tinggal di situ).

Lalu mengalirlah obrolan dari kami, dua wanita manis yang minum minuman manis. Saya tampilkan aja yah foto blogger manis nan cerdas ini,

yup! dia adalah Ne, blogger Banyumas yang  sering memiliki rangkaian kata puitis di blognya. Saya kenal Ne itu dari jaman dulu deh. dari jaman blog saya belon punya nama dramaLand. dan saya memang terkesima oleh rangkaian kata- kata puitisnya. Maksud saya, ahhh gimana yah… saya itu orang yang susah merangkai kata puitis yang elok dibaca, elok dipandang, eloklah pokonya!

Makanya, terkesimalah saya pas mampir di blognya Ne, waktu itu dia belum memajang fotonya. Ih misteriuslah dengan sendang jiwanya itu. baru keluar fotonya pas ada kuis kalok gak salah. Lupa kuis apa. kalok gak salah kuisnya komandan yang itu *nunjuk sambil malu – malu*

Nah… pas saya mulai kenal dan kopdar sama Nandini, ternyata eh ternyata mereka berdua teman akrab. Yah sama kek saya, teman ketemu di blog, bedanya cuman mereka berdua sering telpon – telponan, saya sama nandini lebih sering ketemunya daripada saling mengunjungi di blog. Hihihihihihi.

Minggu itu, saya banyak bercerita dengan Ne. Sampek heran juga saya, betah juga saya ngobrol lama dengan teman wanita tanpa ngegosip (nahloh). baik ngegosipin orang lain maupun ngegosipin diri sendiri alias curhat. Topik obrolan berpusat pada nyamannya kota Purwokerto dan seberapa banyak kota ini berubah, tempat mana – mana saja yang sudah tidak eksis. Jadi, Ne ini ternyata eh ternyata SMA nya gak jauh dari SMA saya (satu SMA sama kaka si mantan euy! Hahahahahaha.. info ga penting sumpah). Dan berhubung usia kami gak jauh berbeda, jadi kami mengalami ‘situasi’ Purwokerto yang sama, perubahan – perubahan Purwokerto yang berkembang pesat lima tahun terakhir.

Namanya juga wanita yah, ujung – ujungnya ngomongin anak, walopun bukan anak sendiri. begitu juga dengan kami kemarin. ahhh banyak sekali lah yang dibahas. dan as usual, setelah kopdar saya biasa mencocokkan imej si blogger yang di kepala dengan yang ada di realitas. dan Ne yang saya temui sedikit berbeda dengan yang ada di bayangan saya. bayangan saya Ne itu tipe serius yang mencintai sastra dan sedikit tertutup, ternyata gak loh. kami bisa ngobrolin soal kerjaan, pilihan hidup, nilai – nilai kehidupan (cieeeh..).

ah saya merasa berkualitas sekali minggu sore saya itu. Karena disamping bertemu dengan Ne, saya juga bertemu dengan salah seorang adek kelas saya sewaktu SMA. Mau tahu siapa dia? Tunggu episode selanjutnyah! karena saya akan menceritakan soal dia secara khusus.

so, terimakasih Ne untuk waktunya. maaf ya… kopdar karoke kita terpaksa ditunda. tapi next time kalok aku di Purwokerto lagi, kita karoke ya!

see u next post!

purwokerto : dulu dan sekarang

sudah beberapa hari terakhir (err.. owkey.. lebih dari seminggu terakhir) saya ada di Purwokerto. ada beberapa kisah yang pernah saya tulis di panggung ini, penasaran pengen tahu? silahkan cek di sini.

*itu gak wajib kok, cuman sekadar prolog ajah 🙂

dan semenjak kedatangan saya ke Purwokerto, ada buanyak hal yang berubah. mari kita bahas beberapa perubahan tersebut yah.

1. purwokerto dulu: jalan gatot soebroto (depan SMA saya) dulu itu jalannya satu arah. dari arah barat ke timur.

purwokerto sekarang: jalan itu menjadi dua arah. kenapa? jangan tanya saya. saya juga gak tahu.

2.  purwokerto dulu: jalanan depan GOR Satria Purwokerto sampai jalan Soeparno (depan biologi Unsoed) itu merupakan jalanan yang sepi, gelap di malam hari dan pemandangannya hanya sawah. suka dijadiin tempat mojok sama pasangan – pasangan yang gak mampu bayar hotel *Hlah?!?

purwokerto sekarang : jalanan depan GOR itu jadi area wisata kuliner, banyak banget tempat makan di sana. mulai dari Bebek Pak Slamet, Iga Bakar Mas giri, Ayam Penyet Suroboyo, Siomay Kuah, Blasta Casual Resto, ada banyak lagi deh….

3. Purwokerto dulu : kampusnya dikit. jelas, yang paling tersohor itu ada UNSOED, terus ada Unwiku dan setelah saya lulus SMA, baru itu heboh yang namanya UMP.

Purwokerto sekarang: ada beberapa kampus baru di kota ini. sebut aja BSI, LP3I (itu kampus kan yah?), Amikom. ditambah UNSOED yang mbukak beberapa program studi baru sepuluh tahun terakhir, dapat dipastikan jumlah mahasiswa di Purwokerto beragam sekali.

4. Purwokerto dulu: gak ada tempat nongkrong yang happening. dulu, kalau bubaran panitia – panitian acara sekolah, paling di Ayam Goreng Alfath, disusul kehadiran ABG (Ayam Baru Gedhe). mall? gak ada. kerjaannya kalau makan burger bukan di Mcd atau KFC. tapi di Aroma, di jalan Jendral Soedirman, tempat favorit saya.

Purwokerto sekarang: beeeuuughhh! ada kedai kopi, ada chocoklik yang jadi favorit temen – temen saya kalau nongkrong, ada… ada beberapa lah tempat nongkrong sekarang. belum lagi jumlah tempat karoke yang menjamur di kota ini. AGP (Anak Gaul Purwokerto) gak bakal haus hiburan kalau di sini.

reunion: high schools time at chocoklik

 

5. Purwokerto dulu: sepi. kalau jam delapan malam itu lewat depan perumahan saya di Dr. Soeparno, sepi banget.

Purwokerto sekarang: rame banget! rasanya jumlah kendaraan di Purwokerto nambah berapa kali lipat deh.

6. Purwokerto dulu : saya punya kenangan sendiri dengan suatu tempat di deket Unsoed, namanya ‘es jorok’. dulu si *ehem* mantan pernah ngajak saya ke sana. itu – menurut dia – tempat first date kami. tempatnya kecil, sumpek. tapi karena dulu makannya masih cengar – cengir sumringah mupeng, ya horeh horeh dan menyejukkan bangeeet. di dindingnya dulu aada coretan – coretan ABG yang mampir ke situ.

Purwokerto sekarang: tempat es joroknya udah pindah. iya masih rame, tapi sudah jauh lebih baik daripada tempat yang dulu. tapi isinya lebih dikit, dan tentu saja harganya juga sudah jauh berbeda!

penampilan es jorok, atau es campur tepatnya :mrgreen:

7. Purwokerto dulu: terminalnya kecil. dan rada – rada kumuh gitu. letaknya di deket Rajawali, satu – satunya bioskop di kota ini.

Purwokerto sekarang: terminalnya besar. sudah lebih bersih. dan letaknya di.. di… hadeh lupa nama daerahya. dan terminal lama sekarang dijadiin taman kota, namanya Andhang  Pangrenan yang asyiik banget buat duduk – duduk dan chitchat sama temen.

Andhang Pangrenan, should be: PURWOKERTO,

8. Purwokerto dulu: kalok lewat rumah berpagar ijo di jalan Piere Tendean, pasti mampir terus teriak – teriak: ‘Nduuuut!!!’

Purwokerto sekarang: pagernya udah jadi warna merah, udah gak pernah teriak – teriak lagi. kalok nengok sih masih. hahahahahahahaha…

***

ya itulah beberapa perubahan Purwokerto yang paling berasa bagi saya, disamping jalan – jalan yang bertambah lebar (beda yah boo sama jalan – jalan di Jakarta yang rasanya tambah sempit!). kalok hal yang sama sih ada beberapa, diantaranya: kost – kostan saya waktu SMA yang masih begitu – begitu aja bangunannya, jalan depan kostan yang masih kek begitu, tukang burger di Aroma yang masih banyak peminat dan masih banyak bawang bombaynya, warganya masih ngomong ngapak, radio tempat saya pernah siaran masih di Gandasuli, err… apalagi ya?!?

***

kawan – kawan sendiri pernah ke Purwokerto? Apa yang paling diingat dari kota ini?

kasih tak sampai

Tetaplah menjadi bintang dilangit
Agar cinta kita akan abadi
Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini,
Agar menjadi saksi cinta kita
Berdua…
Berdua..

hai kawans! pernah mengalami kasih tak sampai gak? saya pernah. beberapa kali. dan saya kan udah lama nih gak cerita soal cinta – cintaan (hah? iya po?). dan berhubung kemaren ada nih di postingan saya soal lulusan saya nyebutin soal – belum – menyampaikan – tapi sudah patah hati- maka saya akan menceritakan beberapa kisah kasih tak sampai saya. tapi sebelum membaca ini janji dulu yah semua jangan ada yang ke GR an kalok cerita ini bercerita soal orang yang kamu kenal atau malah kamu merasa itu diri kamu sendiri (hahaha!).

kisah pertama.

ini kejadian waktu saya SD. Saya naksir sama tetangga saya, temen maen nitendo-nya kakak saya. jarak rumahnya tiga rumah dari saya. dia punya adek yang masih kecil waktu itu. kerjaan saya nemenin adeknya maen.

nah… karena rumah kami deket, temen maennya kan itu – itu aja. adalah tetangga saya satu lagi yang ngomong sama dia kalok saya naksir dia. dan apa jawaban dia sodara – sodara? dia bilang; ‘hah? ais kan masih kecil, masak sih?!?’

saya anggap itu penolakan. lulus SMP saya pindah, dan pas kapan itu kami ketemuan dia udah gendut banget dan gendong anak umur dua tahun. masih naksir Is? err… gak sih.

tebak yang mana yang pernah saya taksir? hahahahaha

kisah kedua:

Lompat aja yah ke masa SMA. terlalu banyak kisah kasih tak sampai saya pas jaman SD – SMP (huahahahhahahahaha…). nah pas jaman SMA kisah kasih tak sampai saya yang paling fenomenal rasanya ampek saat ini. ampek kalok ketemu orangnya saya suka malu sendiri. dia kakak kelas saya. setahun di atas saya. rasa-rasanya satu sekolahan tau deh kalok saya naksir abis sama dia! pernah loh saya bela – belain dateng ke syukuran ulangtahunnya, padahal dia anak kelas tiga (saya anak kelas dua waktu itu).Pede. sekaligus nekat. sekaligus berani malu.

kenapa jadi kasih tak sampai? Karena ujung – ujungnya dia bilang sama saya ‘kamu itu dibilang bukan temen yah nyatanya temen. tapi kalau dibilang temen, nyatanya lebih dari temen’

dueeer…. dia merantau ke Jakarta, saya kuliah di Jogja. dan sempet beberapa kali ketemu setelah itu. sampai sekarang kadang masih YM an kalau pas sama – sama onlen.

kisah ketiga:

ini baru saja dialamin kemaren. ceritanya saya ini wisuda barengan sama banyak temen – temen angkatan di atas saya. salah satunya adalah yang katanya masih single dan niat cari pasangan. katanya loh ini. saya gak denger dari mulutnya langsung. nah, kawan – kawan saya niat njodohin saya sama dia. secara kami masih sama – sama single dan wisuda bareng. jadi menurut kawan – kawan cucoklah. kenyataan itu hadir dalam dunia realita-nya kawan – kawan saya pas GR wisuda;

ketahuilah..niat menjodohkan itu datang di satu hari menjelang wisuda. sehari setelah niat itu terucap, yaitu saat hari wisuda, si pria itu membawa seorang wanita yang diungkapkan sebagai calonnya. dueeer… dueeer se dueeer-dueernya. malu cyiiiiiin….

kesannya saya kan pengen bangeet. tapi sumpah loh, itu pengalaman kasih tak sampai paling jleb. secara sebenernya di awal saya ogah – ogahan gitu, maksud saya: dia kan kakak tingkat, dan gimana yah.. malu aja kalok sampai disampein ke dia saya mau dijodohin sama dia. secara si kawan – kawan itu udah nyampein ke pria itu. rasanya mau anjleb ke dalam tanah.

ngomongin soal gebetan di kuliah kemaren, ada satu pria lagi yang saya gebet. dia ini seangkatan sama saya dan pernah beberapa kali satu kelas, beberapa kali juga satu kelompok tugas. pernah sekali lah nonton bareng. tapi dia wisuda lebih dulu. nah, suatu waktu di saat dia udah lulus, dia ketemu saya… terus dia bilang ‘is nonton yuk!’

ya ampun rasanya saya mau jingkrak – jingkrak denger dia ngomong gitu. saya ampek ga berhenti senyum. tidak memperdulikan fakta bahwa beberapa hari yang lalu dia ngomong sama temen – temen kalau dia mau nikah. nah karena waktu itu saya belum dapet kiriman (hahahahaha!) saya ga ngabarin dia, saya bilang nanti minggu depan saya sms.

saya sms lah dia minggu depannya. dia menyampaikan ke saya, kalau dia mau mudik. dan bilang kalau mau lamaran. dueerrr….

terlepas dari itu becandaan dia atau gimana (karena menurut sumber lain, itu cuman becandaan), tapi tetep loh itu pernyataan bagi diri sendiri bahwa dia itu kasih tak sampai saya. case closed.

***

ya begitulah kisah kasih tak sampai saya. saya cuman berpesan pada anak muda di luar sana yang sedang menghadapi kasih tak sampai: ketahuilah, kasih tak sampai masih lebih baik daripada sakit gigi. sekian. terimakasih :mrgreen:

berbicara mengenai kejujuran

baiklah, sebelum blog ini ‘dituduh’ jadi blog yang dianggurin, maka di hari rabu selo ini (emang kapan kamu gak selo Is?) saya akan mencoba menjabarkan apa yang ada di kepala saya.

beberapa hari belakangan ini, saya sedikit terganggu dengan pemikiran-pemikiran yang loncat dari kepala saya. tentang satu hal: jujur.

bukan jujur kacang ijo, atau jujur ayam. tapi ini jujur yang saya ambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia Online  (yang versi cetak kagak punya soalnya…. hehehehe) sebagai:

[a] (1) lurus hati; tidak berbohong (msl dng berkata apa adanya); (2) tidak curang (msl dl permainan, dng mengikuti aturan yg berlaku): mereka itulah orang-orang yg — dan disegani; (3) tulus; ikhlas

kenapa jujur itu bukan diartikan sebagai apa adanya yah?
baiklah, baiklah.. abaikan saja pernyataan saya itu. saya akan mencoba menjelaskan kenapa kata itu berlompatan dari pemikiran saya beberapa hari belakangan ini. ini erat kaitannya dengan pemikiran lainnya.
apa itu?
pemikiran dengan siapa saya bisa menjadi diri saya sendiri. dulu saya berpendapat seperti ini: dengan teman terbaik lah saya bisa menjadi diri saya sendiri. nyatanya, semakin ke sini, semakin bertambah umur, semakin sedikit teman, maka semakin sedikit juga dengan siapa saya bisa menjadi diri saya sendiri.
Lalu tiba – tiba muncul pemikiran seperti ini: memang diri kamu sendiri itu seperti apa?
bossy. ceriwis. tukang komplen. ga mau kalah. suka plinplan. gak suka sama orang lelet. gak suka sama orang plinplan (hah! eat thaaat!!!). senang bersosialisasi. senang bercerita. cinta damai. ga suka cari masalah.
ah.. kalau dilanjutin pasti makin kontradiktiflah diri saya ini. gak suka cari masalah, tapi gak mau kalah. gak suka orang plinplan, tapi diri sendiri plinplan. saya sebagaimana manusia lainnya menyadari bahwa kata sempurna jauhlah dari penggambaran diri. nah, di tengah ketidaksempurnaan ini, saya masih mencari seberapa banyak sih orang yang bisa menerima sifat dan sikap saya ini?
siapa kawan terdekat saya saat ini? bahkan blog ini pun sudah tidak lagi menjadi kawan terbaik seperti waktu pertama kali dibangun. terlalu …. terlalu apa yah… terlalu malas akhirnya saya membagi semuanya di sini.
si partner in crime apa kabar Is? Persahabatan kami di bangun di awal bukan dengan tipe ‘menceritakan segala sesuatu setiap saat’. persahabatan kami dibangun di atas simbiosis mutualisme yang kental. kami saling membutuhkan di awalnya. saya butuh kawan untuk mendengarkan cerita saya yang banyak, dia butuh kawan untuk nganter ke kampus. saya butuh kawan untuk memberitahu bahwa yang saya lakukan tidak salah, dia butuh kawan untuk mendengarkan otak kriminalnya (hahahahaha!). ya… kami sama-sama menyadari bahwa yang kami sama-sama membutuhkan. hingga saat ini, saat dia sudah tidak tinggal di Jogja dan dengan segala macam kesibukannya (cie… sibuk..), kami jadi jarang berkomunikasi. sehingga dia tidak mengetahui gelisah apa yang bergelayut di otak saya yang sering dibilang lemot ini sama dia.
sama ranger hitam yang digadang-gadang jadi partner saya di kampus? ah.. hubungan kami hanya sebatas sks *hlah?!?! hahahahaha. adalah beberapa sisi yang diketahui olehnya, namun saat ingin bercerita lebih banyak, saya takut mendapat pandangan celaan dari dia. saya merasa kok dia bukan tipe orang yang akan senyum – senyum yah kalau mendengar hal – hal yang berkeliaran di kepala saya? yang ada dia malah bilang; ‘apaan sih mbek??’
sama si captain? well… hubungan kami sudah berakhir setengah tahun yang lalu, walau masih berkomunikasi dengan baik, tapi tetap saja saya tidak bisa membagi diri saya sepenuhnya ke dia.
sama beruang kutub tetangga saya? walau kemarin dia saya curhati habis-habisan soal kegelisahan saya dua minggu terakhir, dan cuman dia yang menyadari kalau saya gelisah, tapi tetap saja dia bukan orang yang saya jadikan ‘tempat menjadi diri sendiri, apa adanya’.
sama mamah dan bapak? hahahahahaha… bisa abang ijo muka mereka kalau mendengar isi kepala saya (iyah, ada beberapa part tentang mereka).
sama si oom udin yang pernah saya gilai tulisannya? ya… walaupun kemaren juga habis curhat sama dia, tapi saya belum bisa saja menjadi apa adanya di depan dia. walaupun saya tahu, dia paling cuman bilang dodol atau apalah atas semua perkataan saya yang ga penting.
sama kawan saya yang seniman handal itu? err…  banyak hal yang tertinggal di antara kami yang harus diceritakan. dan butuh lebih dari sekedar hai untuk mengatasinya.
atau sama mamahnya Ardian? si sahabat sebangku saya sewaktu SMA? status kami berdua banyak banget bedanya. dia sudah menikah dengan satu anak berumur enam tahun, saya masih single belum menikah walau jatuh cinta sama anak kecil. dia PNS yang sudah bisa menyicil rumah, saya masih pengangguran yang luntang – luntung ditraktir melulu kalo ketemuan. dia sudah membangun hubungan yang manis dengan teman SMA kami lebih dari tujuh delapan tahun, saya masih mencari pangeran (atau kodok?) saya.
perbedaan – perbedaan itu memang tidak terlalu terasa saat kami mengobrol hahahahihihi selama enam jam atau bahkan tiga hari. tapi harus diakui bahwa pola pikir kami berbeda. apalagi selama bertahun tahun kami tidak berkomunikasi.
Lalu dengan siapa sebenarnya saya bisa jadi diri sendiri???? bisa menceritakan semua pemikiran saya, bisa bersikap apa adanya, bisa tanpa beban bersikap tanpa takut orang berpikiran macam – macam.
mungkin. mungkin tidak akan pernah ada. karena dalamnya laut bisa dikira, dalamnya hati siapa yang tahu? saya tidak pernah tahu apa yang ada di pikiran teman – teman saya setelah nama mereka saya tulis di sini. eh tapi emang mereka tahu kalo itu mereka?
hahahahha.. ini lagi nulis apa sih? kagak jelas amet yak…. tadinya ngomongin jujur, ujung2nya ngomongin temen, ujung2nya gak tahu dah apaan!
eh btw, actually sekarang saya gak pengangguran lagi loh. nih jadwal saya:
06.30 : nganter sasa dan yaya, ke jalan jensud dan yang stunya ke deket lapangan porka
10.30 : njemput nisa di bancarkembar
14.30 : njemput yaya dan nisa, satu di  Jatiwinangun dan satu di deket lapangan Porka.
late lunch with avis and Yaya

jadi saya gak pengangguran – pengangguran bangetlah yah :mrgreen:

***

so, the point is: sama siapa sih sebenarnya kamu bisa menjadi diri sendiri? atau malah gak tahu seperti apa diri kamu sendiri itu?

cerita yang belum sempat diceritakan

hai!

Selamat pagi, siang, sore, atau malam :mrgreen:

Hehehehehehe. Bagaimana kabar kawan-kawan semua? kabar saya luar biasa. luar biasa capek *gelosoran di lantai*

bagaimana tidak? dalam kurung waktu empat hari terakhir saya melintas ke tiga benua (hadeh mulai lebay deh….) padahal yang dimaksud cuman tiga propinsi; dari Jogja – Jakarta – Pekanbaru – Jakarta lagi. itu semua ditempuh dengan status saya sebagai pengangguran gembira!

well, seperti yang disinggung di postingan sebelumnya: saya ini officially pengangguran. benar-benar pengangguran, karena ktm udah gak punya (diganti dengan kartu alumni), status kemahasiswaan saya juga udah gak diakui sama Universitas (diganti dengan ijazah), jadi benar – benar deh saya ini pengangguran.

and please welcome da new me: wanita dua puluhan.  single.  jobless.

tapi kedatangan saya di panggung sandiwara ini belum akan menceritakan derita sarjana pengangguran macam saya ini (did I said ‘derita’?!? padahal yang saya rasakan justru bersenang-senang!!! hahahahahaha…), karena saya mau menceritakan hari kelulusan saya beberapa minggu yang lalu (seperti yang dijanjikan di postingan sebelumnya)

***

Rabu, 25 April 2012

hari dimulai dengan celotehan Zi, ponakan saya yang tidur bareng saya malem itu. jam menunjukkan pukul 04.45. saya loncat. karena saya punya janji dengan Mbak Aan (perias yang saya kontak berkat rekomendasi Nandini) pukul lima kurang. dan benar saja… ternyata gak berapa lama Mbak Aan ternyata sudah menelpon dan memberitahu bahwa ia sudah ada di depan. gedebukanlah saya mandi, sambil meminta Mbak Aan menempatkan diri dimanapun ia bisa menempatkan diri (heleh.. bosomu cah!). kelar mandi, saya diminta Mbak Aan untuk tiduran. ya ampuuun… perias ini memang juara! sudahlah ia yang mendatangi saya sehingga saya tidak perlu mengantri di salon, ia juga merias saya yang dalam posisi tidur.

dan …. ia merias saya dengan cekatan sekali. rasanya sebentar dan tidak terlalu banyak ‘dempul’ yang ia tempel di wajah saya. begitu ngaca saya spechless. muka bantal saya gak keliatan lagi! berganti wanita cantik bergaya india (itu yang dibilang Mbak Aan, katanya habis didandanin muka saya kek gadis india. Gak apa-apalah, masih mending daripada dikira gadis dari Mars!).

Kelar dandan dan masang toga, masih jam setengah enam. di luar masih gelap. mau jalan ke kampus juga niat banget… yang ada nanti disuruh bantuin petugas buat ngusung2 papan.  ya udah saya maenan dulu sama si Zi (yang ngeliat takjub ke no’anya yang full makeup).

Akhirnya setelah puas maen, puas foto-foto, puas teriak-teriak ke Adek saya yang tampan mempesona, saya berangkat dianterin adek saya itu. Sesampainya di GSP, saya meluncur mencari tulisan Fakultas Psikologi, karena sesuai dengan arahan protokoler kemaren, calon wisudawan harus tandatangan dulu biar nanti dapet ijazah dan namanya dipanggil di atas panggung.  Saya merasa dejavu, karena inget tiga tahun yang lalu pernah mengalaminya, separuh gak nyangka juga akhirnya mengalaminya lagi, dengan nilai yang jauh lebih baik, toga yang berbeda, dan teman-teman yang juga berbeda. Euforianya mulai kerasa begitu ketemu temen – temen yang lain. kami dari fakultas psikologi terdiri dari dua kelompok yaitu temen – temen dari Magister Profesi (ini yang begitu diwisuda menjadi psikolog) dan kami yang dari Magister Psikologi (dulu namanya Magister Psikologi Sains, namun sejak beberapa bulan yang lalu dirubah menjadi Magister Psikologi).

Heboh foto – foto dan hahaha hihihi bareng temen-temen yang diwisuda bareng, tidak lupa mematri kenangan bersama si Ranger Hitam, sparing partner nomor satu saya :

me and ranger hitam

 

Yup…. dia lah partner saya di kampus. dari awal kuliah, saya bareng dia terus dan akhirnya bisa wisuda bareng, saya seneng bangeeeet. karena cuman dia-lah yang berhasil saya barengi kelulusannya diantara gerombolan power rangers yang laen.

dan setelah dilihat-lihat, momen kebersamaan kami banyak sekali selama dua tahun ini… hiks… aduh jadi terharu kan harus pisah sama penggemar berat Agnes Monica dan Budi Do Re Mi ini. Maka melalui tulisan ini saya menyampaikan terimakasih yang mendalam buat Ranger Hitam: Demput Raharja (bukan nama sebenarnya), yang tiada pernah lelah ngingetin saya soal tugas-tugas, yang selalu bersedia jadi kawan sekelompok tiap ada tugas, yang selalu bersedia saya contek tugas-tugasnya (iiih.. mendadak sentimentil deh ah!).

look that silly face!

udah ahhh lanjut ke acara wisudaan aja. sekitar pukull setengah delapan, setelah kami puas foto-foto (bosan tepatnya, bukan puas!) akhirnya kami disuruh baris mengikuti nomor presensi yang tersedia saat kami tandatangan, dan mulai memasuki  GSP. daaaan…. berkat teman-teman saya yang super duper, saya berhasil membawa masuk rombongan sirkus saya yang jumlahnya lima orang untuk masuk menjadi pendamping (padahal aselinya masing – masing wisudawan hanya boleh membawa dua orang pendamping. hahahahahaha…).

seremonial acara berlangsung lumayan lama (ya iyalah ya… secara memanggil 1209 nama!! ).

terdiri dari pemanggilan lulusan doktor (iya, yang lulus S3 dipanggil satu – satu dan FYI aja, periode ini psikologi belum meluluskan doktor), kemudian pemanggilan wakil fakultas, kemudian menyanyikan hymne Gadjah Mada (terharu berat nyanyi lagu ini!), terus ada penyerahan ijazah (diserahkan oleh dekan masing – masing fakultas), kemudian pembacaan janji alumni (ow em ji, namanya aja saya lupa!), sambutan dari wakil wisudawan (yang diwakili oleh kawan saya dari fakultas psikologi yang IPK 4! FYI, yang memberikan sambutan ini  merupakan kakak tingkat saya di jurusan dan sering menulis untuk koran, gak heran bahasa yang digunakan puitis sekaliii) dan sambutan dari rektor.

setelah kelar acara di GSP, masing – masing fakultas ada yang memiliki acara di kampus masing – masing. kalau di Fakultas Psikologi, acara pelepasan dipusatkan di gedung G100, aula paling owkeynya kampus saya. Dan bapak saya menjadi wakil orangtua lulusan; dipilih buat memberikan sambutan. acara di fakultas berlangsung singkat, karena hanya menjadi ajang pelepasan bagi 47 wisudawan dan pengucapan sumpah profesi bagi kawan – kawan Magister Profesi.

selesai dua acara tersebut, saya dan keluarga (yup, rombongan sirkus!) beranjak ke studio foto di daerah jalan solo, untuk foto studio. sayang disayang… saat tulisan ini diturunkan, saya belum sempet ngeliat itu fotonya gemanah hasilnya; karena saya keburu minggat ke Jakarta, karena duit jajan saya habis :mrgreen:

menutup rangkaian acara hari Rabu itu, saya dan kawan – kawan serta rombongan sirkus mengadakan acara makan malam bersama di rumah makan di daerah Jalan Palagan.

well, begitulah rangkaian acara wisuda saya. daaaan…. untuk menutup tulisan ini, saya akan memberikan sedikit tips untuk menghadapi hari wisuda. percayalah…. wisuda itu memang gak seribet ngurusin nikah, tapi cukup bikin kepala berkerut – kerut.

Tips menghadapi wisuda

  1. Persiapkan kendaraan dan supir. ini penting. apalagi buat kamu yang cewek. gak mungkin kamu nyetir mobil pake kaen dan bolak balik nganterin keluarga kamu. apalagi biasanya kalau wisuda itu yang diwisuda harus datang lebih awal.
  2. Undangan. Biasanya, buat masuk ke tempat upacara wisuda, kudu ada undangan. jangan sampai ortu kamu yang udah dandan gak bisa masuk gara-gara anaknya teledor gak ngambilin undangan buat ortu.
  3. Ga usah sibuk mikirin PW atau pendamping wisuda. karena PW yang dikenal umum adalah kekasih atau suami atau calon, bagi yang masih single kek saya dan gak jelas siapa calonnya, mendingan gak usah asal comot cowok deh, kasihan besok – besok kalau liat foto wisuda dan mengernyitkan dahi dengan cowok yang ada di sebelah kamu! Dan didampingi oleh kedua orangtua adalah anugerah besar! Believe me, melihat kedua orangtua tersenyum sumringah atas pencapaian anaknya merupakan hal yang sangat amat berharga.
  4. Booking studio. buat foto wisuda. ini penting loh. kamu gak tiap tahun diwisuda. dan gak tiap hari pake toga. pilih studio foto yang sesuai karakter kamu. mau yang seriusan dengan real set, atau foto – foto gokil dengan fotografer ceria, pilih aja. dan jangan lupa tanya soal harga, beberapa studio foto menyediakan paket khusus untuk wisuda. survey dan booking dari jauh hari.
  5. buat cewek, jangan lupa booking salon. atau mau merias sendiri? Gak masalah (jangan lupa pake wtarproof mascara, takut nangis cyiiin…..!).  That’s your day!
  6. Ngomongin soal ‘your day’, don’t let anyone makes you upset on that day. percaya deh, bakal banyak banget yang harus diurusin dan dipikirin di hari itu, ngurus jemput sodara yang ini, sodara yang itu tidur di mana, nanti parkir mobil di mana, dan pasti bakal ada beberapa rencana yang gagal, tapi jangan biarkan semua itu menghancurkan hari kamu, bergembiralah dan bersenang – senanglah.
  7. Nyatakan perasaan kamu ke gebetan kamu. eh jangan ketawa. ini serius. karena, kan udah ga mungkin ketemu – ketemu lagi tuh…  dinyatakan aja perasaanmu. paling apes ditolak, toh habis itu gak ketemu lagi. atau mau lebih apes kek saya? yang belum menyatakan tapi udah ditolak?? *dueer…

hahahahahaha… cukup sekian tulisan come back-nya saya. next time saya lanjut deh. beneran!

see u next post! :mrgreen:

***

ps: ada yang mau nerima saya sebagai karyawan? atau ada yang mau saya titipin CV? atau ada yang bersedia jadi mertua saya? *HLAH?!?!