welcome to real life, marsita ariani!

welcome to real life, ais ariani!

 

happy graduation dear me!

(hehehehehehehe…. ceritanya next episode yak! mau ngurus rombongan sirkus yang dateng dulu nih 🙂

Advertisements

adaptable, bukan adaptor

Hidup ini merupakan sebuah proses adaptasi yang tidak berkesudahan. Hal ini saya sadari saat melihat anak dari sepupu saya yang berumur enam tahun (anaknya, bukan sepupu saya yang umurnya enam tahun), sedang bermain pasir di depan rumah tetangganya. Padahal di rumahnya sedang ada hajatan besar, si Bude dari anak itu menikah. Semua orang sibuk, keadaaan hiruk pikuk dan mungkin anak ini tersingkirkan. Bisa karena itu ia bermain pasir di luar, atau bisa juga karena kehadiran sodaranya, anak dari Budenya yang lain yang baru berumur dua bulan. ia tersingkirkan. hanya itu yang saya pahami,

Padahal beberapa tahun yang lalu ia adalah pusat dunia di sekitarnya. Bude- budenya, Uti dan Opa nya, semua ‘menanggap’ ia. Ia adalah matahari, dan Bude-Bude, Opa-Uti dan yang lain adalah planet-planet yang mengitarinya.

Setelah menemukan ia bermain pasir di rumah tetangga dengan baju pesta itu, saya menyadarinya bahwa saya juga pernah ada di posisi itu. Pernah menjadi pusat dunia dari orangtua saya saat saya lulus S1 tiga tahun lalu, namun beberapa saat kemudian lenyap karena hamilnya Kakak Ipar, calon cucu pertama di dalam keluarga. Dan kehadiran saya makin lenyap setelah si kecil Zi lahir. Zi adalah pusat dunia dari orangtua saya.

Saya beberapa kali berulah menarik perhatian orangtua saya saat itu, tapi tetap saja dunia mereka berputar di  Zi.

Dan sekarang mungkin saya sedang menjadi pusat dunia mereka. saya mau wisuda. saya lulus. anak mereka yang pertama kali meraih gelar master (masterchef kaliii). Saya tahu beberapa saat pusat dunia keluarga ini adalah Kakak saya, yang dipindahtugaskan ke Pekanbaru dengan gaji yang cukup besar. Ouch…. dan saya pengangguran. dan single ting ting yang belum punya ‘calon’ buat digandeng.

jadi pusat dunia mereka juga pastinya, someday. but in different way.

kenyataan itu membuat saya galau berkepanjangan dan resah serta gelisah tak berkesudahan (yeah sampai saat ini). Ya ampuuun… gue udah lulus. Ya ampuuun… gue bukan mahasiswa lagi. Ya ampuuun kalau ada yang nanya-nanya soal kuliah terus gue gak bisa jawab gemana dong? Kalau gue ketahuan begonya gemana dong? Kalau gue ngomong bahasa inggris belepotan gemana dong? bedanya Plato ama Socrates apaan? bedanya fenomenologisnya Russel sama Heidegger apaan? err…. Ibnu Sina itu dokter bukan? err… bedanya Maslow sama Roger apaan? tahap perkembangan dari teori psikoanalisa itu apa aja?  PERFECT itu kepanjangan dari apa? Reliabilitas sama Validitas apa bedanya dalam mengukur Performance karyawan?  eh ya ampuun… gue make alat tes aja kagak bisa!!!!

Rasanya pengen banget membalikkan waktu ke usia awal dua puluhan, di saat tuntutan dari lingkungan sekitar masih belum begitu banyak.

Lalu tiba-tiba saya sadar; (persis saat melihat si anak kecil bermain pasir itu) hei… hidup ini proses. dan di dalam sebuah proses itu ada perubahan, dan dalam perubahan itu kita harus beradaptasi bukankah?

Jika hidup ini adalah proses yang berubah terus menerus, maka kita harus bisa beradaptasi terhadap semua perubahan itu. Kita harus adaptable terhadap ini semua.

saat balita, kita harus beradaptasi dari bayi ke balita. lalu setelah itu kita harus beradaptasi ke masa anak-anak awal, anak-anak tengah, anak-anak akhir lalu masuk ke remaja awal, remaja tengah, dan seterusnya. itu jika dilihat hanya dalam kacamata tahap perkembangan. belum dengan peran kita yang tadinya jadi anak bungsu eh tiba-tiba adek lahir. tadinya jadi anak es de, eh jadi anak es em pe. tadinya anak sekolahan jadi mahasiswa. dan masih banyak lagi…

itu semua adalah suatu kemutlakan yang harus dihadapi.

Kita berpindah dari satu proses ke proses yang lain, dari satu peran ke peran yang lain, dari satu masalah ke masalah yang lain. Kita manusia dirancang sempurna untuk semua proses ini.

Lalu saya berkata pada diri saya sendiri: semua orang punya berbagai cara untuk beradaptasi. Si anak kecil yang bermain pasir mungkin caranya adalah menyingkir dari keramaian dan menemukan permainannya sendiri yang mengasyikkan dan nyaman bagi dirinya. tugas saya saat ini adalah mencari cara untuk beradaptasi dengan proses perubahan yang sedang terjadi dalam hidup saya seraya meyakinkan diri sendiri bahwa saya juga merupakan makhluk Tuhan yang memiliki proses adaptasi yang begitu hebat untuk bisa ada di titik ini sekarang.  dan, tidak lupa satu hal penting: bahwa tiap proses adaptasi ada proses belajar di dalamnya. karena pada dasarnya manusia adalah makhluk pembelajar.

Seperti kata seorang sahabat, Tuhan tidak pernah bermain dadu dengan alam semesta, termasuk dengan makhluk ciptaanNya.

potong bebek angsang, angkot meywah dan majalah bekas

pfiuuuuh… sudah lama sekali ternyata si ais ini gak ngupdate blog *bersihin sarang laba-laba* . padahal katanya udah nganggur, padahal katanya mau nulisfiksi, padahal katanya punya program hari kamis manis, padahal katanya…

padahal katanya….

ah banyak sekali padahal katanya. gak ada sih yang disalahin.. emang dasarnya si ais nya  aja gak bisa konsisten. mari kita bercerita sajalah yah… daripada terus-terusan ngarang alasan 😛

sudah seminggu ini saya ada di rumah orangtua saya, di Jakarta. Hari-hari saya di rumah orangtua biasanya garing bin garing. Maksudnya, kerjaan saya gak jauh beda kalok lagi di kontrakan saya di Jogja: tidur, makan, tidur, makan aja… paling ketambahan nyuci sama disuruh-suruh sama mamah.

nah..tapi laen ceritanya kalok ada ponakan saya, si Zi yang cerdas nian itu. Si Zi ini ceritanya lagi liburan di rumah Uti-nya, berbarengan dengan saya yang juga lagi liburan (er… er… bukan liburan. tepatnya menghibur diri jadi pengangguran! hahahaha..).

salah satu contohnya adalah hari ini. hari ini as usual Zi bangun tepat saat adzan shubuh berkumandang. Setelah Mamah Zi sholat, Mamah Zi menyiapkan keperluan Papah Zi untuk berangkat ke kantor. yaaaah… kek nyiapin sarapan, baju kantor dan sebagai-bagainya.

Terus Zi gimana? Zi tiada lain tiada bukan bersama dengan No’anya ini (FYI, saya dipanggil No’a yang merupakan singkatan No’o Ais. No’o itu bahasa kampung Bapak saya yang artinya Adeknya Ayah).

Kebayang bukan, si ais yang nyawanya belon lengkap ini harus menjaga balita shubuh-shubuh. biasanya saya ngajak Zi maen boneka, jadi saya mendongeng dan ngoceh. Dulu waktu masih bayi, saya masih bisa sambil tidur-tiduran ngedongengnya. Tapi sekarang udah umur 21 bulan lebih, saya harus lebih kreatif kalau gak dia bisa nangis dan sibuk nyariin dan nginthil sama mamahnya.

Dan pagi ini titik kreatifitas saya mungkin sudah sedikit mati. akhirnya saya dunlud video lagu anak-anak di youtube. judulnya potong bebek angsa. Zi keliatan seneng banget nonton bebek-bebek joged. Bosen dengan potong bebek angsa, dia saya puterin hockey Pokey. Begitu video selesai, Zi bergumam; ‘potong bebek angsang…’

gubraaaak

jadilah hari ini saya cekikan dengerin Zi nyanyi potong bebek angsang.

***

okey, baiklah cukup opening dari saya… mari kita lanjut ke inti tulisan (Whaaat???  Jadi ini belum nyampek inti tulisan? Pengantar sepanjang itu??)

gak, saya cuman becanda kok. saya cuman mau nulis itu aja. tadinya niat cerita soal kejamnya ibu kota. tapi kok saya kesannya sok tahu sekali. tahu apalah saya ini soal kejamnya ibu kota. jarang-jarang juga saya di Jakarta. Jakarta saya juga Jakarta pinggiran.

Tapi biarkan pengangguran dari Jakarta pinggiran (yang jarang ada di Jakarta) ini menuliskan beberapa patah kata soal Jakarta:

‘Jakarta itu istimewa, tempat kita belajar banyak hal. Yang patut diperhatikan  dari orang-orang Jakarta adalah bukan fisik yang lelah, tapi jiwa-jiwa yang lelah yang membuat mereka heartless.’

kok begitu? entahlah. seminggu di Jakarta setelah menghabiskan waktu sekian tahun di Jogja (dan Purwokerto) membuat saya kadang ‘norak’ dengan kesenjangan sosial (dan masalah-masalah sosial) di Jakarta. Err.. ini bukannya jarang terjadi, tapi saya sering ngerasa norak ngeliat kehidupan di sini.

maksud saya: sudah tiga kali lebih saya naek metromini yang kernetnya anak kecil di bawah umur, yang kalok dia berdiri di depan metromini kagak keliatan kali! sudah dua kali saya melihat lansia jatuh turun dari bis kota. sudah puluhan kali (er… berlebihan!) saya melihat lansia berdiri susah payah dan anak-anak muda itu duduk santai di busway. sudah tiga kali saya ‘dipalak’ sama preman yang bilang ‘lebih baik kami meminta ikhlas seribu-dua ribu daripada kami nyopet atau merampok!’ (what the ??!?! ) –> see?? see?? see betapa noraknya saya!!!!

Ya Tuhan…. kadang saya cuman bisa ngucap dalam hati berulang kali. Sambil melirik orang-orang lain yang nampaknya wajar-wajar saja menanggapi hal yang saya anggap fenomena melalui kacamata saya.

Maka kalau ada yang bernyanyi di depan saya lagu ‘siapa suruh datang Jakarta’… saya akan dengan (tidak begitu) lantang menjawab ‘rasa cinta saya pada mamah saya yang membawa saya kembali ke sini,’

***

PS: buat kamu… kamu dan kamu yang mau datang ke Jakarta (untuk menetap), Bukan hanya siapkan fisik dan mental. Tapi juga hati. Capek fisik bisa hilang dengan istirahat, tapi capek emosi itu sungguh menguras energi dan kadang gak bisa dihilangkan hanya dengan mengistirahatkan badan.

PS lagi: kenapa judulnya begitu? karena tadinya mau cerita soal Zi yang heboh sekali tiap kali liat angkot meywah, dan juga seorang Pak Tua yang membawa setumpuk majalah bekas yang jatuh di terminal senen. Tapi gak jadi. kepanjangan :mrgreen: