bukan nasihat, sekedar sharing

hai! Hai kawan-kawan sekalian. saya muncul lagi nih. iyah, saya ngilang. gak kemana-mana kok. mash di Jogja, masih berstatus mahasiswa (mahasiswa semi pengangguran sebenarnya! hahahahaha).

saya mau cerita nih, kalau ada waktu banyak yah sumonggo dibaca, kalau gak yah diliatin aja juga boleh, dan semoga di akhir postingan ini nantinya bermanfaat buat kawan-kawan semua. Amiin

***

beberapa minggu sebelum saya mendapatkan jadwal sidang pendadaran, saya sibuk mempersiapkan berkas-berkas untuk pendaftaran. ketahuilah kawan, mendaftar untuk ujian pendadaran itu lumayan sulit. kesulitannya setingkat di atas mendaftar kuliah jaman dulu itu. salah satu yang harus disiapkan adalah lembar acc dari dosen pembimbing yang menyatakan bahwa saya sudah diperbolehkan untuk ujian pendadaran. namanya adalah lembar pengesahan.

hari itu hari Jumat. saya harus menemui dosen pembimbing saya untuk mendapatkan tandatangan Beliau di lembar pengesahan saya. dari sehari sebelumnya saya sudah mencari Beliau, kabar yang saya dapat Beliau sakit. Saya bukannya gak mau njenguk, tapi kata senior saat-saat kritis kek di posisi saya saat itu, lebih baik pura-pura tidak tahu soal sakitnya Beliau, daripada datang menjenguk dan bla dan bla malahan kena isyu gratifikasi padahal niatnya baik, mendingan duduk diam menunggu kabar baik.

Jumat pagi itu saya menunggui Beliau di tempat biasa. Katanya ada yang bilang, Beliau sempat datang ke ruangan, tapi setelah itu menghilang entah ke mana. tapi saya memang berniat memaku diri saya di depan ruangan Beliau hingga kampus tutup. Poko’nya harus dapat tandatangannya hari Jumat itu.

Jarum jam (jamnya siapa yah yang masih pake jarum? keknya sih jarumnya si ranger hitam) menunjukkan jam sepuluh lebih. jam perut saya menunjukkan waktunya brunch. saya menerima ajakan si Ranger Hitam untuk pergi ke kantin. Si ranger hitam ini adalah kawan senasib seangkatan seperjuangan dan sejurusan yang juga sama-sama lagi menunggu dosen.

melangkahlah kami dengan langkah gontai (sok gontai, lagian melangkah gontai ini kek gemanah toh??) ke Kantin kampus yang tidak seberapa luasnya itu. duduk, pesen makan, saya satu porsi nasi rames, dan satu porsi nasgor buat si Ranger Hitam. Lagi asyik mengobrol sesudah menyantap makanan, lewatlah dosen yang ditunggu oleh si Ranger Hitam. Iya, dosen yang ditunggu malah dateng di kantin. rejekinya si Ranger Hitam berarti.

saya ikut seneng si ranger Hitam bisa ketemu sama dosennya. sambil ngayal siapa tahu dosen saya juga siang itu lagi sempet maen ke kantin, syukur-syukur makan di kantin. saya cuman minta waktunya sepuluh menit paling lama buat minta tandatangan Beliau.

dan khayalan saya dijawab beberapa saat kemudian. Ibu dosen saya datang ke kantin kampus. dan setelah memesan makanan, Beliau duduk di meja kami!!! saya gak bisa berhenti mengucap syukur saat itu.

***

namun yang syukuri lebih dari sekedar bertemu dengan dosen saya yang saya cari dua hari, yang saya syukuri adalah lebih dari itu. saat duduk dan berbincang dengan Beliau, saya mendapatkan beberapa pelajaran yang gak saya dapat dari ruangan kuliahnya.

Salah satunya mengenai komitmen moral. ada kalimat Beliau yang terpatri kuat di kepala saya hingga saat ini…

” saat ini, pernikahan itu bukan hanya membutuhkan komitmen keluarga, tetapi harus memiliki komitmen moral”

Jadi kondisi yang dipahami adalah seperti ini: di era komunikasi yang sudah sangat amat mudah dan memungkinkan segala hal terjadi, bukannya tidak mungkin lagi yang namanya selingkuh. segala jenis kesenangan di luar rumah bisa diperoleh. bukan hanya sekedar jenis kesenangan karoke dan hahahahihihihi yang saya dan teman-teman lakukan, tapi bisa lebih dari sekedar itu.

tuh kan ngomongnya lompat-lompat.

jadi, pembicaraan tersebut berawal dari bagaimana Dosen saya merefresh diri, mulai dari menonton sepakbola, menonton film, mendengarkan musik, hingga berkaroke. Lalu terucaplah bahwa jaman sekarang, kita ini harus pintar-pintar mencari hiburan diri yang tidak merusak. merusak apapun. termasuk merusak keharmonisan rumahtangga.

pembicaraan beralih ke berbagai macam perilaku masyarakat dari arisan berondong (mulai dari kumpulan ibu-ibu di Sanggar senam, arisan yang melibatkan Cut Tary itu hingga arisan pedagang-pedagang pasar klewer), berbagai situs penyedia jasa esek-esek sehingga ke pernyataan

‘hloh.. kalau rumahtangga aman damai sentosa serta harmonis, gak masalah dong melakukan kesenangan-kesenangan itu?’

Maksud saya, toh semua orang senang. istri senang suami pulang bawa uang, suami hepi karena dilayani sepenuh hati. gak pedulilah apa yang dikerjakan di luar rumah. yang penting gak ketahuankan? ya kan? daripada punya suami tukang pukul? Bukan maksud saya menyetujui hal-hal kek gitu. Tahu apa sih saya soal kek gituan.

Tapi gak munafik, di sekeliling saya ini banyak sekali suami-suami dan juga istri-istri yang terikat tali pernikahan tapi perilakunya ajaib dan minta digetok. saya  cuek bebek, karena di kepala saya orang-orang tersebut pastinya lebih tahulah mana yang benar dan mana yang salah, dan entah ada dorongan apa mereka melakukan itu. saya gak pengen ngejudge juga, gampangnya: kalau mereka seneng dan gak nyerempet saya, saya ikut seneng kok. syukur-syukur kalau mereka minta saran, saya bisa mbilangin. tapi itu sangat jarang terjadi, lagian ngapain minta saran sama anak ingusan kek saya?

Jadi di kepala saya; kalau semua orang senang, kenapa harus ribut? Sambil terus berdoa, semoga rumahtangga saya besok gak seperti itu.

Hari gini.. nyari yang lebih muda, lebih cantik, lebih sekseh, lebih pinter, lebih nurut, lebih sholehah gampangnya minta ampun. Tinggal bagaimana memenejemennya aja. Ya kan?

Gak, saya gak pesimis terhadap pernikahan. tapi saya adalah mereka yang kalau boleh menghindar, saya akan menghindar membahasnya. saya punya ketakutan-ketakutan luar biasa terhadap mahligai pernikahan. apalagi dengan cerita-cerita ajaib di sekeliling saya. mungkin ini juga alasan kenapa wanita-wanita seumur saya ini sudah pada menikah. mereka itu pasti adalah mereka yang tidak ingin memiliki ketakutan yang makin membesar mendengar perilaku  manusia yang semakin ajaib.

kalian boleh sebut itu trauma, tapi saya menyebutnya ini sebagai pelajaran.

***

kembali lagi ke meja kantin di hari Jumat bersama dosen saya. jadi saat menggulirkan perilaku-perilaku ajaib masyarakat saat ini, dosen itu mengeluarkan pernyataan bahwa saat ini komitmen keluarga tidak lagi cukup. Harus ada komitmen moral di dalam membangun rumahtangga.

apa bedanya?

Jika seorang suami memegang teguh komitmen keluarga, maka saat di rumah ia berperilaku baik, yang penting istri senang, anak tercukupi kebutuhannya, tidak pedulilah di luar rumah dia gemanah. Namun jika komitmen moral yang ia pegang, maka terhadap moral lah ia bertanggungjawab. dia tidak akan melakukan hal-hal yang tidak bermoral baik di dalam maupun di luar rumah.

dan, itu merubah pandangan saya entah bagaimana caranya, saya ingin sekali menyampaikan hal tersebut kepada kawan-kawan saya.terutama ke Unun, si kawan yang beberapa minggu yang lalu melangsungkan pernikahan dengan wanita pilihannya. ingatlah bahwa bukan hanya komitmen keluarga yang harus dipegang, tetapi harus ada komitmen moral juga.

gak,  ini bukan nasehat pernikahan, ini hanya sekedar sharing.

semoga bermanfaat. buat kamu. iyah, buat kamu yang ngintip-ngintip baca tulisan ini

:mrgreen:

see u next post.

***

p.s : WP-nya ngambek sama saya, daritadi saya mau masupin foto gak bisa-bisa. so, nantikan postingan berikut yah. soal weddingnya si Unun. saya ketemu mantan. hahahahahaha….😉

20 Comments

Filed under [drama] sekitar

20 responses to “bukan nasihat, sekedar sharing

  1. Eh? Trus surat pengesahannya dapet, kan?
    Kalo dulu, aku mencari jodohnya yang gampang2 saja. Bisa dikatakan dari cobek (penghalus sambal) naik ke hati. Imaji-ku mengatakan, cowok yang luwes memegang alat masak pastilah dekat dan selalu perhatian pada keluarga. Alhamdulillah ternyata benar. Dan pada beberapa teman selalu kunasehatkan, carilah pasangan yang dekat dengan ibu, karena biasanya dia sangat menghargai perempuan, terlebih istrinya. Bukan nasehat, ya… hanya sharing.

    • iiih Mbak Susi filosofi cobeknya kok lucu sih. hehehehhe… bisa dicontek tuh,
      ah soal pria yang dkeat denagn ibu itu juga ada benarnya Mbak, mungkin itu akan masuk kriteria aku juga
      *sambil lirik kanan kiri*

  2. Ais … bener banget tentang komitmen moral itu.
    tak perlulah dibahas panjang lebar oleh saya karena sudah jelas di tulisanmu itu
    gaya hidup setiap pasangan memang berpengaruh juga pada urusan satu ini.
    jadi nanti klo Ais menikah ………..eh gak jadi, sapa juga yg mo nasehatin xixixi

    biar nanti njalanin sendiri aja😛

    nice post! hahaha

    • hahahhaha.. Mbak Niiiik.. aku mau loh dinasehatin. dikiit ajaaah.
      setidaknya gemana biar jodohnya lancar
      *hlah?!?!
      hehehhe… teriamkasih Yah Mbak, ini juga jadi pengingat aku buat ke depannya.

  3. aku baca dari awal sampe selesai lho mbaak.. kebetulan kantor masih sepi. heheh…
    tapi fokus utamanya adalah bagia p.s-nya wkwkkwkw

  4. Ah, pernikahan memang bukan untuk dibahas Is, tapi dijalankan *hadeuuuh…abaikan!*😛

  5. ehmmm… seseorang harus baca tulisan ini…… thanks for share,,,,,,,,

  6. hehehehe.. hayooo, Ais…. *nggak jadi deh*:mrgreen:

    ketemuan sama ma**an? hmm… jadi penasaran❓

  7. aduh-aduh, jadi kangen masa2 bimbingan😀

  8. faa

    wis meh nikah to mbak…?
    hahahahhaa

  9. Semoga ujiannya lancar dan cepet selesai Mbak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s