dan jumat belum lagi berakhir

Pagi tadi merupakan pagi yang menakjubkan buat saya. Benar-benar mampu membuat lutut saya lemas.

Mari saya ceritakan dengan lebih mendetail:

Pagi tadi sekitar jam setengah Sembilan lebih sepuluh saya berangkat dengan Astrea Grand kebanggaan saya itu. Sampek di parkiran kampus, motor saya itu gak mau dimatiin mesinnya. Padahal kontak sudah saya puter, tekan sampek beberapa kali. Panik. Pasti ada yang salah dengan kontak motor saya.  Dan memang beberapa hari terakhir saya merasakan ada yang aneh dengan aki motor saya. Ya sudahlah, akhirnya saya memutuskan ke bengkel, sekalian di cek kalau ada apa-apa.

Sesampainya di bengkel, teteup itu motor keren gak mau mati. Datanglah Bapak- Bapak menghampiri saya… Terjadilah perbincangan seperti di bawah ini

 

Saya   : “Pak, ini motornya saya kok gak bisa mati ya?”

Bapak2 : “Oh ini kontaknya harus ganti sepertinya mbak”

Saya   : “oh..” *sokcool*   “itu  sampai berapa yah Pak harganya?”

Bapak2 : “itu kalau yang bagus sampek seratusan berapa ya”

Saya : *terkejut* “kalau yang dibawah itu?”

Bapak2 : “waah… kalau itu sayang e mbak kalau yg jelek. nanti begini lagi”

Saya : “masalahnya, saya gak bawa duit banyak Pak”  *berbisikpelan*

Bapak2 : “ya sudah.. ya sudah kalau gitu di cek dulu sama mekaniknya”

Dan lalu saya dengan aman damai sentosa merasa sedikit lega sudah di bengkel, saya duduk di ruang tunggu. Sms an sama cemceman (hahahaha). Selesai sms an, mencoba melihat isi dompet: bawa duit berapa, biar kalau suruh ganti saya  memutuskan perlu bisa diganti atau gak.

Kubek-kubek tas. Gak nemu dompet. Panik. Mengeluarkan isi tas: Laptop, tas mukena, tas hp, tas charger (percayalah, di backpack saya itu isinya banyak tas-tas kecil), kartu uno, semua ada. Kecuali dompet item itu.

Panik.

Dan dari kejauhan tampaklah itu motor lagi dibongkar. Dipasangi kontak baru. Mulai sesak nafas. Mata berkunang-kunang, keringet dingin keluar (hahahaha). Otak mulai muter: gemana nih?!?!

Sms salah seorang kawan: dia menyanggupi dateng. Tapi rumahnya jauh. Aduuuh.. lagi mumet mikir, si Bapak-Bapak tadi menghampiri saya:

“Mbak.. itu ternyata kiproknya harus diganti Mbak…”

Saya : “bukannya kemaren baru diganti? Itu baru ganti loh Pak dua bulan yang lalu”

Bapak2 itu : “tapi itu pasti yang imitasi. Berapa Mbak beli dulu?”

Saya : “ mahal kok.. enam puluh ribuan gitu”

Bapak2 itu : “ itu kalau yang aseli bisa ampek seratus ribu lebih..”

Saya : *hening*

Bapak2 : “mendingan Mbak ngomong sama mekaniknya dulu gimana?”

Akhirnya saya menghampiri mekaniknya dan sok PD gitu nanya-nanya apa yang rusak. Dan ternyata harus ganti kiprok dan kontak. Kalau gak, bisa parah… even saya baru ganti aki.

Setelah penjelasan panjang lebar, saya nyengir semanis yang saya bisa, terus bilang; ‘e.. begini Pak… gimana kalau gak jadi? Saya gak bawa dompet Pak. Maaf…’

Mekaniknya bilang: ‘Oh.. gpp… gak maksa loh ini mbak’

Saya menghela nafas lega. Tapi begitu saya menghampiri Bapak-Bapak yang pertama kali menemui saya, dia manyun sambil nanya: ‘Tapi bawa STNK kan?’

Yang saya jawab ‘tentu tidak. Semua surat berharga saya ada di dompet, termasuk STNK’

Dan Bapak itu manyun waktu saya minta maaf.

Dengan masih memasang senyum termanis yang saya bisa, saya ngeloyor pamit dan minta maaf sama kedua orang tersebut. Dan sambil bersimbah keringat saya meluncur ke kampus.

Lutut saya lemas, pikiran panik bagaimana mengganti itu semua dengan jatah duit bulanan yang belum datang, belum sarapan, keringet yang membasahi baju batik saya dan itu semua terjadi sebelum pukul setengah sepuluh pagi. Bahkan infotainment gelombang kedua belon juga hadir.

Tapi syukurlah sisa hari ini bisa saya hadapi dengan penuh sukacita! Karena biaya makan saya seharian ditanggung teman saya. Hahahaha. *eluselusperut*

Advertisements

completely broken heart

berusaha untuk tidak terjebak euforia final sepakbola-nya SEA Games. bukan karena apa-apa, karena saya deg-deg an banget nonton final ini. Saya mencoba mengalihkan perhatian dari rasa deg-degan karena nonton final.karena ada yang lebih final di hati saya sekarang: final sudah keputusan saya untuk patah hati

*opo toh yo… kok pembukanya wagu tenan, mekso tenan. tapi baiklah.. mari kita buka dengan berita bahagia yang datang dari Mr. Charming.

mash inget gak sih sama Mr. Charming yang pernah saya ceritakan bulan mei kemaren? yang ditaksir sama saya dan dua orang kawan saya yang laen?

kabar gembira dari dia adalah: dia telah melangsungkan pernikahan dengan wanita pujaannya. Siapa wanita pujaannya? Apakah salah satu dari kami? Ya gaklah, kalau salah satu dari kami maka judul dari tulisan ini pasti gak kek gini.

dan apakah niat saya dan kawan-kawan saya untuk menyampaikan perasaan ke Mr. Charming kesampaian? tentu tidak. karena, karena… kabar berita Mr. Charming mau menikah ini datang mendadak. dan karena satu dan laen hal, kami memang ada di posisi jarang bertemu dengan Mr. Charming. Kami sudah tidak memiliki jam-jam di kelas yang sama, kami tidak memiliki alasan ‘tugas kelompok’ bareng lagi untuk waktu-waktu di tempat nongkrong favorit, ibarat kata OVJ, kami udah gak punya benang merah.

kontak terakhir yang saya lakukan dengan Mr. Charming adalah sms-sms saling ledek mengenai ajakan karoke, dan jadwal ujian kompre. tapi selain itu gak ada lagi yang laen. sampai kamis kemaren salah satu kawan memberi kabar soal undangan dari Mr. Charming. dan teman saya mau berangkat bareng ke acara, dengan satu syarat: saya gak boleh nangis.

idiiih. seribu kali idih kalau saya nangis gara-gara Mr. Charming nikah. mantan saya dua orang nikah aja saya kagak nangis. dan waktu tahu Oom Tio Pakusadewo nikah juga saya gak nangis. Hiks. padahal.. hiks.. padahal… saya ngefans banget sama dia. Tapi inget juga sih kata salah seorang kawan: kalau dia gak nikah juga belon tentu dia sama kamu.

iya juga sih.

sama kek pas Darius nikah, Choky Sitohang nikah, pasti saya dapet kata-kata itu: kalau dia gak nikah, belon tentu dia sama kamu.

dan, yang kemudian bikin saya patah hati juga adalah saat salah seorang kawan saya menelpon saya dan curhat soal berita yang dia dapet:  mantannya melangsungkan pernikahan.

saya spechless. saya tahu benar bagaimana si kawan ini menata hati setelah memutuskan berpisah dengan si mantan. dan saya benar-benar tidak tahu menghibur bagaimana. walau sudah dua kali mengalaminya, tetapi saya paham benar: apa yang saya rasakan berbeda dengan si kawan.

karena begini yang juga saya pahami: setiap masalah ada mudah dan pasti ada jalan keluar dan pasti selalu ada bright side-nya, asalkan bukan kita sendiri yang mengalaminya. Because is always easier to said than done.

owkey, selaen musim hujan, sekarang merupakan musim nikah dan dapat dipastikan juga merupakan musim patah hati. Hahahhahahaha… bukan cuman mantan istrinya si ustadz itu aja loh yang patah hati, bisa juga banyak wanita-wanita di luar sanayang patah hati karena ditinggal menikah oleh mantan pacar, mantan suami/istri, mantan gebetan, mantan TTM-an, mantan Ibu Kost, mantan pembantu atau bahkan mantan majikan.

Saya bukan yang ahli dalam soal menata patah hati, tapi saya akan mencoba berbagi tips dan trik mengurangi patah hati ditinggal menikah:

  1. Yakinkan diri bahwa: bukan kamu yang membuat dia bahagia. Camkan itu baik-baik. tanamkan itu di pikiran, karena bisa jadi kamu dan dia tidak menjadi diri kalian masing-masing saat kalian bersama-sama
  2. Tidak ada yang kalah, ini bukan pertandingan, bukan berarti dengan dia menikah duluan dia yang menang. Lagian memangnya apa yang diperlombakan?
  3. Besarkan hati…. kamu gak diundang? itu karena mantan kamu takut kalau hatinya berpaling saat melihat kamu. Salah nyebut nama pas ijab kabul kan gak lucu. Kapan-kapan saya ceritain deh gemana cara saya tahu dua orang mantan saya menikah. Itu lucu banget (sekarang bisa dibilang lucu, dulu sih enggak. hahahaha..)
  4. persis kata si kawan saya : waktu gak pernah bohong. waktu juga yang akan menghapuskan semua luka yang ditinggalkannya. kalau sekarang kamu ngerasa berdarah-darah, itu adalah fase: nikmati saja fase berdarah-darah itu.
  5. Masing – masing orang memiliki cara copingnya sendiri: si mantan istri Ustadz punya coping yang mungkin sedikit show off: dia berbicara di depan media soal ‘perasaan’-nya setelah si Ustadz menikah. Pilih coping-mu sendiri, pilih caramu menyesuaikan diri dengan berita itu. Tapi catetan saya nih: pilih cara yang behave, pilih cara yang sopan dan gak keliatan ‘murahan’ dan bodoh.
  6. Berceritalah dengan kawan-kawanmu. karena kamu membutuhkan mereka untuk berbagi kesinisan, memaki-maki, mencela (hahahaha. orang patah hati sah-sah aja melakukan itu dalam kurung waktu tertentu yah, gak selamanya….). dan sekali lagi: pilih cara yang gak ‘asal’ ya.
  7. dengarkan lagu yang tepat. Saran saya: Heart of life by John Mayer.
  8. Jadikan itu semua motivasi. Seperti yang juga saya bilang ke kawan saya semalem: buat dia merasa rugi meninggalkan kamu. Tunjukan bahwa kamu memiliki nilai lebih dibandingkan kamu yang ditinggalkan dia dulu. Ini hanya permainan hati, so just keep it in your heart
  9. Jangan menempatkan diri menjadi pihak yang ter-dzolimi. Gak ada satu orang pun di dunia ini yang berhak menghina diri kamu.
  10. Beri mereka doa restu, yang tulus.
  11. Jauhkan benda tajam, tempat tinggi dan obat serangga
  12. Gak usah dateng kalau  diundang kalau kamu gak yakin bisa menahan diri (huahahahahahaha..)
  13. dan gak usah maksa juga buat dateng kalau nikahannya di Timbuktu. kesannya niat amet.
  14. diundang? Dateng aja, tapi urungkan niat untuk memberi kado berupa benda kenangan berdua dengan si mantan. Mungkin itu terlihat so sweet di film dan sinteron, tapi itu annoying di dunia nyata

ahahahaha.. cukup sekian tips menerima kabar kalau si mantan menikah. nanti kapan-kapan saya lanjutkan lagi ya.

:mrgreen:

***

hey you: don’t take this too serious. huahahahhahahaha…

berlatih mengatur anggaran bulanan

udah lama gak ikut kontes. pas jumat pagi ini jalan-jalan ke rumah kawan-kawan banyak yang isinya soal anggaran-anggaran gitu deh. meyakinkan diri bahwa mereka bukan anggota Banggar DPR *hloh?!?!

latihan deh ikut kontes nya pakdhe. actually ragu-ragu juga apa saya boleh ikutan atau gak. mau nanya takut.. pakdhe galaknya lagi keluar di komen (hahahahaha).

kenapa saya gasih judul berlatih? Karena ini memang latihan bagi saya sebelum benar-benar menyusun anggaran bulanan sungguhan besok.

😀

well, this is me, mencoba untuk ngikut kontes anggaran belanja bulanannya Pakdhe

saya tinggal berdua dengan adek saya yang ganteng dan mempesona. di perumahan di daerah barat Jogja, dan setelah beberapa bulan tinggal di sini, baru ngeh kalau ternyata lingkungan perumahan ini udah gak di wilayah Kota Jogja, melaenkan masuk daerah Sleman.

mari kita melihat Anggaran bulanan saya dan adek saya.

di rumah, kami memiliki beberapa barang- barang sebagai berikut:

  1. Televisi
  2. Kulkas
  3. Dispenser
  4. Rice Cooker
  5. Dua buah laptop
  6. Pompa Aer (ini termasuk dihitung di listrik kan yak?).

daaaan… FYI aja nih, listrik di rumah saya 2.200, dan untuk bulanannya kami membayar listrik Rp. 70.000

untuk PDAM, kami gak mbayar, karena kami masih menggunakan air tanah.

kemudian untuk telpon, kami memakai paket langganan yang 63.000, ditambah PPn dan denda telat, kami biasanya bayar telpon sebesar Rp. 65.000

Handphone ada dua eh empat ding. masing-masing dari kami memilki dua handphone dan biasanya saya dan adek saya menghabiskan 50.000 untuk masing-masng dari kami. Jadi, kalau ditotal pengeluaran HP untuk kami berdua Rp. 100.000

next: biaya internet. saya dan adek saya menggunakan modem yang berbeda. saya menggunakan paket modem yang 50.000 dan  adek saya menggunakan paket 110.000 jadi kami berdua biaya internetnya ditotal Rp. 160.000

lalu untuk bensin: kami berdua bulan ini lagi mendadak kere, karena satu motor kami dikirim pulang ke rumah orangtua kami. Jadi motor kami hanya ada satu; dengan asumsi biaya si motor grand itu hemat banget 10.000 bensin bisa untuk adek saya mubeng-mubeng sekitar empat hari. so, sebulan biasanya adek saya mengeluarkan bensin sebanyak Rp. 75.000 (mari kita genapkan sodara-sodara).

beralih ke urusan dapur. untuk urusan dapur, kami menggunakan gas 3kg yang dipake angin-angin oleh saya (hahahaha). biasanya 3 kg itu bisa awet banget loh. mari kita genapkan gas 3kg itu biasanya harganya di sekitar rumah kami Rp. 14.000

untuk kebutuhan ‘isi kulkas’ saya lebih sering belanja random. dari supermarket sampe ke Yu’ sayur yang doyan lewat di depan rumah. mari  kita gabungkan itu dalam kebutuhan bulanan kami. dan untuk sebulan saya bisa menghabiskan duit sebesar Rp. 400.000 (percayalah, saya bisa boros banget kalau udah belanja isi kulkas. Oh iya, biaya itu termasuk kebutuhan kamar mandi kami masing-masing. karena kami memiliki kamar mandi sendiri-sendiri jadi segala macem sabun, odol, shampo itu sendiri-sendiri.

dan itu gak termasuk biaya kami makan di luar (which is lebih sering.)

mari kita bikin rerata, saya dan adek saya dalam sehari kalau makan di luar dalam sehari bisa habis 30.000 (untuk satu orang) dikurang jumlah kami makan di rumah yang mungkin dari 30 hari hanya 10 hari kami makan di rumah. jadi dari 30.000 X 20 = Rp. 600.000

eh iya nyaris lupa! di perumahan kami ada juga iuran sampah dan kemanan yang keduanya ditotal menjadi Rp. 60.000

dan terakhir; untuk biaya tidak terduga seperti untuk ngasih kado, biaya nongkrong atau mendadak harus beli buku dan sebagainya kami mengalokasikan dana Rp. 300.000

dan untuk mempermudah ngitung, saya coba membuat tabel di sini:

Jenis Pengeluaran Jumlah (Rp.)
Listrik

      70. 000

Telpon

      65.000

Handphone

    100.000

Internet

     160.000

Bensin

       75.000

Gas

       14.000

Belanja Bulanan

    400.000

Jajan makan di luar

    600.000

Kemanan + Kebersihan

      60.000

Tak terduga

    300.000

Total

1.844.000

Seru juga ternyata ikut kontes begini. udah lama gak ngerasain 😀

hehehehehe. owkey deh sebelon lupa:

Artikel ini diikutsertakan pada kuis Anggaran Belanja Bulanan  di Blogcamp

***

PS: barusan di update setelah ada yang ngomen kalau ada kode aneh. dan setelah di update kenapa tabel nya kagak jadi yak? hiks. ya yang penting masih bisa kebaca kan yak? hehehehe

‘kamu udah ngerjain PR?’

mungkin, sampai SMA, kalimat itu adalah kalimat yang paling sering saya ucapkan di pagi hari saat memasuki gerbang sekolah. dari basa-basi buat ngobrol sama gebetan yang ketemu di depan gerbang, sampek pertanyaan sungguhan yang diajukan buat kawan paling pintar sak kelas dengan maksud meminjam PRnya (buat dicontek maksudnya). Hahahahaha…

saya paling males dari dulu buat ngerjain PR. dari jaman SD. waktu SD ada namanya KunTi, kepanjangan dari tekun dan teliti. waktu SMP ada namanya LKS, Lembar Kerja Siswa. Waktu SMA ada… ada (ada apa yak? lupa saya!).

dan selalu aja ada PR dari LKS dan KunTi itu. selalu saja dari guru-guru itu bilang begini: ‘coba dikerjakan di rumah halaman tujuh sampai sepuluh’

atau

‘lanjutkan di rumah ya sampai halaman lima belas’

seringnya LKS belon lunas, tapi udah penuh dengan coret-coretan. karena kan biasanya suruh ngambil dulu dari koperasi, bayar belakangan.

dan ternyata setelah saya sudah tidak pernah mengucapkan kalimat; ‘kamu udah ngerjain PR?’ – lagi, saya dapet PR dari kakak saya yang cantik dan istimewah itu *nyuap*

PR ini udah dikasih dari lama banget sama KakJul. dia ngasih dari bulan lalu. dan saya baru niat ngerjain malem ini. dengan ditemani susu cokelat panas dan suara jangkrik, mari bersama-sama kita mengerjakan PR ini.

udah siap? Lets go heiho!

1. Guru Favorit

Ada guru favorit saya di kelas IV. namanya Pak Agus. Galak Beliau ini. Tapi entah kenapa saya malah menjadikan Beliau guru favorit. Soalnya dulu saya suka banget sama pelajaran Bahasa Indonesia. dan Pak Agus ini jago sekali waktu ngajar Bahasa Indonesia. dan dia keliatannya sayang banget sama saya (kecil-kecil ternyata saya udah GR-an yak?!? huehehehe..).

2. Guru Killer

ah di SD saya dulu gurunya satu kelas satu. tiap angkatan ada dua kelas. jadi gurunya cuman 12, ditambah satu kepala sekolah. rasa-rasa nya, dan seinget saya, gak ada guru yang killer.

3. teman bolos

gak tahu kenapa, perbendaharaan kata bolos belum ada di kepala saya waktu SD. polos. gak paham kalau sekolah itu bisa di’bolos’-in. jadi paling mentok gak masuk sekolah karena sakit. teman-teman sekolah kebanyakan dari keluarga yang disiplin semua, jadi gak ada anak nakal rasanya di SD saya dulu. dan entah kenapa, waktu SD saya selalu bersemangat berangkat sekolah. soalnya daripada di rumah, lebih senang di sekolah: banyak temen-temennya.

4.teman berantem

di SD saya kebanyakan muridnya merupakan siswa keturunan TiongHoa, jadi saya termasuk ke dalam golongan minoritas. Kalau lagi di lapangan upacara kelihatan bangetlah saya ini.Cari aja anak cewek yang paling item. Itu pasti saya.

(sedikit selingan dan sedikit aib jaman SD: saya pernah nge geng dan geng kami cukup berbau SARA, kami anak-anak cewek yang BUKAN keturunan tionghoa membentuk geng. dan nama geng kami keren sekali: KANSSAS kepanjangan dari Kami Anak Nakal Suatu Saat Akan Sadar. Idih banget gak sih???)

gara-gara ‘keberbedaan’ saya, saya memiliki berbagai julukan; mulai dari item, kunyit, tempe sampai kecap. ada satu teman sekelas saya yang tidak henti-hentinya ngeledekin saya soal warna kulit saya. dan entah ada angin apa saat duduk di bangku kelas enam, saya menampar dan memukul dia dengan penuh emosi. di depan kelas. dan itu adalah pengalaman pertama saya menampar pria (dan gak terakhir ternyata. hahahahahaha…)

dan sejak itu, kami tidak pernah akur. selalu saja bertengkar mulut. saya lupa nama dia. kalau tidak salah Hendrik D.W (lupa kepanjangannya apa).  Sebenarnya wajahnya lumayan, tapi karena mulutnya seperti perempuan, saya sebel banget sama dia. Jujur, saya penasaran sama kabar dia sekarang.

5. jajanan makanan / minuman favorit

batagor dan es sirup. hmm… nyum! dan satu lagi: otak-otak. eh ini gak harus satu kan yak?

6. jajanan mainan favorit

orang-orangan dan kartu tos-tos an (apa namanya? yang kalau kita mainin itu di tos kalau yang gambarnya kebalik, berarti kalah). orang-orangan itu yang dari karton, yang bisa kita ganti baju sesuka hati kita

7. sepatu favorit

apalagi selaen docmart (bagaimana sih menulisnya?)? semua anak SD tahun 90-an pasti menginginkan sepatu itu.

8. tas favorit

apa ya… tas parasut yang banyak kantongnya di luar, dan setelah besar baru tahu kalau itu merk kipling.

***

itulah delapan soal yang harus saya jawab. kepada bu Guru Julie, mohon maaf atas keterlambatan ini. saya rasa saya sudah disuruh angkat satu kaki  kalau PR nya lama kek gini dikerjainnya.

berhubung saya lagi disetrap, PR berantai ini gak saya kasih ke siapa-siapa. tapi kalau ada yang mau ngerjain, boleh banget loh. ayoh ngacung…

kamu!

iyah kamu yang duduk depan sendiri. yang tempat pensilnya gambar Fido Dido (tempat pensil favorit jaman SD) cepet kerjain PR ini!

:mrgreen:

yang bilang hari ini tanggal cantik angkat tangan!

ayok angkat tangan. saya sih bingung dan belon menentukan sikap ini tanggal bagus atau enggak. yang jelas, di tanggal ini saya pernah punya janji denagn seseorang *woops*

tanggal ini sebenarnya terlupakan oleh saya, sampai tadi pagi waktu lagi mau b’erkicau’ saya nemu ‘kicauan’ salah seorang kawan saya. dan sumpah sekarang saya lagi males banget nyarinya, kurang lebih begini kata-katanya:

tidak perlu berlebihan, tanggal dan tahun itu hasil budaya manusia loh

saya ngakak. inget kuliah jaman S1 dulu; pas dosen bilang soal konsep waktu menurut Henri Bergson, seorang filsug Perancis yang terkenal denga teori mengenai kesadaran.

Bergson membagi waktu menjadi dua, yaitu temp (dalam bahasa Perancis) sebelum menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia ada baiknya saya menceritakan dulu definisi dari temps ini. temps menurut Bergson merupakan waktu yang digunakan dalam kehidupan rutinitas kita sehari-hari. misalnya satu jam, dua jam, atau tanggal satu tanggal dua. dan ini merupakan waktu yang objektif.

yang kedua menurut Bergson adalah duree (atau duration) ; yaitu merupakan waktu yang tidak berhubungan dengan ruang, waktu yang bersifat tidak objektif. waktu yang ini berkaitan dengan kesadaran dan perasaan.

bingung?

baiklah mari kita memberikan contoh. karena biasanya pemberian contoh akan memudahkan pemahaman. pernahkah kamu mengalami hal seperti ini: kamu berbincang – bincang dengan kekasihmu, dari pukul 09.00 hingga pukul 12.00 dan menurut kamu perbincangan itu rasanya cepaaat banget berlalu.. berbeda dengan jikalau kamu duduk di kelas Aljabar setengah jam. rasanya seperti serius lo lama banget nih kelas, kapan Bapaknya kelar ngomongnya? Kapan bel berbunyi? . Atau saat menunggu si ‘dia’ menelpon dari pagi hingga siang rasanya seperti tiga juta tahun kamu menunggu. nah itu lah yang disebut dengan duree, berhubungan dengan pengalaman eksistensial, berkaitan dengan ‘kesadaran’dan tidak ada alat ukur objektif didalamnya,

sedangkan tempt merupakan waktu yang setengah jam itu, dua jam itu dan ukurannya lebih objektif, di belahan dunia manapun kamu bilang setengah jam yah 30 menit. waktu ini bisa diukur  (karena bersifat objektif tadi)

terus saya mencoba merefleksikan mengenai pernyataan si kawan yang bilang tanggal itu merupakan budaya manusia. kalau penasaran baca ini deh mengenai kalender. dimana disebutkan disitu bahwa awal mulanya adalah si Julius Caesar yang mengganti penanggalan tradisional bangsa Romawi. Ia dibantu Sosiegenes seorang ahli astronomi dari Iskandariyah yang menyarankan penanggalan mengikuti revolusi  matahari.dan itu dimulai pada tahun 45SM.

nah, sedangkan kalender  yang kita pakai secara internasional sekarang dinamakan kalender Masehi yang digunakan oleh umat kristiani yang mengikuti kelahiran Yesus. akan tetapi, untuk perhitungan tahun dan bulan mengikuti kalender yang dibuat oleh Julius Caesar dan Sosiegenes.

kadang kepikiran juga sih: wow… si Julius Caesar itu ebat dan keren ya bisa menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM.

Percayalah, saya juga bingung dengan segala konsep yang baru saya temukan di google ini. karena mungkin konsep tanggal dan kalender ini pernah dibahas di kelas IPA, tapi saya lupa. sama seperti saya melupakan Ibu Kota Kalimantan Barat atau Sulawesi Utara.

jadi, kesimpulannya apa Is?

yah sama seperti postingan melompat yang sering saya tulis, melompat kemana-mana, dan gak jelas ujungnya. but in the end of this post, saya mau bermain dengan angka 11. walaupun itu produk manusia, tapi saya kan mainstream banget… pengen juga ikutan efouria lucky eleven ini.

Apa partisipasi saya kali ini? Saya pengen menyebutkan 11 hal mengenai diri saya yang kepikiran saat saya menulis postingan ini (woi, this is my blog, jadi narsis dikit gak apa-apa kan? kalau udah bosen baca di close aja boleh kok window nya. huehhehehehe…):

  1. masih mengendarai astrea grand hijau dari tahun 2000 dulu
  2. gak suka naek becak. kasian sama tukang becaknya
  3. sering merasa inferior terhadap siapapun
  4. gak suka berada di kamar mandi
  5. pernah punya mimpi buat kerja di hotel atau Bank (mereka entah bagaimana terkihat sangat bersinar kan?)
  6. waktu kecil suka bikin denah rumah masa depan
  7. pernah punya teman khayalan dua orang sampai SMP
  8. pernah diputusin gara-gara bukan dokter (hahahahahahaha.. )
  9. punya jilbab hanya dalam beberapa warna dan itu polos semua
  10. sering sok tahu (kontradiktif sama pernyataan inferior itu yak?!?)
  11. suka sama sensai berkendara di kala hujan

cihiy!

so, yang bilang hari ini tanggal cantik siapa? ketahuilah cantiknya itu cuman cantik ditempel di undangan sama souvenir!

*sinis*

****

PS: thanks buat wikipedia atas informasi mengenai Bergson dan Heidegger. dan juga google yang bisa menjawab pertanyaan saya 🙂

november sekian tahun yang lalu

eh udah bulan november aja, eh udah bulan ke-11 ajah, eh udah musim hujan, eh masih jadi mahasiswa, eh masih lajang aja, eh masih berkutat di masalah cinta-cintaan (kek gak punya kehidupan aja Is. Hahahahahaha…)

Buat saya, bulan november menyimpan banyak cerita. dari bertahun-tahun lalu. sebut saja november 2000, sebelas tahun yang lalu. Masih segar dalam ingatan waktu menginjakkan kaki di Purwokerto, dan menjadi warga di kota satria itu.

Iya… November tahun 2000 merupakan titik dimana saya menjadi anak kost. awalnya waktu itu tinggal di kost-kostan yang dikelola olah oom saya, namun di tahun kedua, oom saya pindah rumah dan jadilah saya penghuni kost-kostan sama kek yang laen: makan sendiri, nyuci sendiri, tidur sendiri, ngomel sendiri, hehehehehe…

kalau ada yang tanya alasan saya pindah dari Jakarta ke Purwokerto, maka akan saya jawab begini:

“biar gak ikut tawuran, gak kena narkoba, dan gak hamil di luar nikah”

dan biasanya habis saya jawab gitu, yang bertanya akan bilang; ‘serius!?!’

mereka mengira saya bercanda. Padahal saya serius menjawab pertanyaan itu. Alasan saya pindah ke Purwokerto padahal orangtua gak tinggal di sana dan lagi usia saya waktu itu belon menginjak 16tahun adalah memang benar adanya begitu: biar saya gak terlibat kanakalan remaja Ibukota.

Perlu diketahui, saya sempat bersekolah selama 3bulan di SMA Negri di Ibukota (cara nulisnya Ibu Kota apa Ibukota sih?!!? jadi bingung dan males nyari yang bener. hehehehehhe…)

kita ganti aja jadi Jakarta. Jadi, selama tiga bulan saya sempat sekolah di SMA di daerah Jakarta Pusat. di daerah Rawasari tepatnya (ah cuman ada satu SMA Negri saya rasa disitu). nah pas SMA disitulah saya melihat realita kenakalan remaja. sebutlah saya norak. tapi saya baru tahu kalau ada anak sekolah bisa ngerokok di lorong sekolah. baru tahu ada anak sekolah bisa madol. tuh kan bener saya norak.

karena dari TK, SD sampai SMP saya bersekolah di sekolah swasta yang memiliki aturan cukup ketat, dari seragam hingga jam pelajaran. mungkin juga karena saya sekolahnya gak di sekolah unggulan yak pas SMA. hehehehe

tapi jujur, saya menikmati itu. menikmati ngobrol dan makan di kelas pas jam pelajaran, menikmati cabut pas upacara 17an, menikmati bergerombol dan santai-santai di kantin menjelang jam masuk, menikmati cabut ke UKS, ya some kind of that lah. walau cuman 3bulan, tapi saya lumayan menikmati dan sempet pulak dapet cinta lokasi di kelas.

november 2000, kepindahan saya ke Purwokerto mengikuti jejak kakak saya yang sudah lebih dulu pindah. Dan sampai saat ini saya tidak menemukan alasan yang lebih masuk akal dibandingkan jawaban saya itu atas kepindahan saya. Karena memang saya seperti hilang ingatan saat mau pindah dari Jakarta ke Purwokerto

dan, percayalah Purwokerto jauh lebih sepi sebelas tahun yang lalu dibandingkan sekarang. Bagaimana Anak Baru Gede yang pengennya jalan-jalan ke mall dan kongkow-kongkow bareng ama temen-temennya mau pindah ke kota kecil yang gak punya bioskop?

eh tapi bioskop bukan masalah buat saya, karena saya juga jarang nonton di bioskop. lebih nyaman nyewa VCD buat ditonton di rumah. bisa di skip, bisa di fwd kalau bosen.

di bulan-bulan pertama kepindahan saya, saya memang ngomel dan misuh-misuh menyatakan ketidaksetujuan saya, serta bersikap bermusuhan dengan siapa saja.BT berat. kemana-mana mesti dibonceng Kakak saya, atau gak naek becak. Belum lagi ada mata pelajaran muatan lokal yang isinya nari sama karawitan, belum lagi kawan-kawan sekelas yang terlihat menahan tawa setiap kali saya ngomong dengan logat Jakarta (mereka gak tahu kalau saya menjepit pipi saya dengan gigi; menahan tawa mendengar logat ngapak mereka! hahahahhaha…)

ah tapi benar kata orang tak kenal maka tak sayang. waktu jugalah yang mengenalkan saya pada Purwokerto dan cuaca ajaibnya, ramah penduduknya dan logat ngapak-ngapak yang lucu itu.dan waktu juga yang membuat saya jatuh cinta pada Purwokerto. kalau ibarat orang, Purwokerto adalah cinta pertama saya. karena bersama Purwokertolah saya membentuk diri saya, mencari jatidiri saya (dan mungkin sampai sekarang belum ketemu, hihihihihi…), dan di Purwokerto lah saya banyak belajar.

Bahkan, dulu saat pertama kali kuliah, ditanya asli mana, saya selalu menjawab; ‘Purwokerto’. cihuy kan? sampai akhirnya saya sadar; saya gak segitu ngapaknya buat dibilang orang Purwokerto 😦

dibalik sepi dan ajaib cuacanya, buat saya Purwokerto adalah kota yang akan selalu memiliki tempat di hati saya.

karena hanya di Purwokerto saya bisa ngomong ngapak tanpa diketawain. Hahahahahaha..

hidup ngapak!

so, itu cerita saya di bulan november sebelas tahun lalu, gimana dengan ceritamu? *iklan mode : on*