kabar terbaru si C3

hai kawan, selamat hari Minggu, sudah memasuki hari ke-21 nih, bagaimana kabar kawan-kawan? Semoga selalu sehat yah….

Btw, sebelum saya bercerita lebih jauh, masih ingat dengan pria-pria mempesona (huek) ini?

masih ingat gak sih? Kalau belum, review dikit yah tulisan saya bulan April ini, saat saya bercerita tentang keempat kawan SMA saya yang nyaris di DO dari kampus mereka. Owkey…owkey kalau males nge klik saya ulas di sini dikit.

Saya kenal sama mereka saat kami berlima duduk di bangku SMA. nama mereka adalah Budi, Ferri, Sendy dan Unun. Ada satu alasan yang tidak saya sebutkan pas saya cerita mengenai mereka beberapa bulan yang lalu. Salah satu alasan kenapa saya bisa berkawan dengan mereka. Alasan tersebut adalah: saya pernah memiliki sejarah percintaan dengan salah satu diantara mereka. Eheeeem… yang mana Is? Hahahahahaha…. gak penting juga sih yah yang mana… yang jelas sekarang kami sudah menjalani hidup kami masing-masing dan kadang masih bisa bernostalgia atas apa yang terjadi saat kami masih duduk di bangku abu-abu.

Budi, pria mungil yang lahirnya beda empat hari sama saya ini punya bakat terpendam sebagai tempat curhat-an buat saya. Diantara mereka berempat, sama budi lah saya paling sering curhat. Kalau Sendy laen lagi, dia mengakui dirinya sebagai pria paling peka di dunia. Punya bakat makan yang luar biasa (hahahahaha), tapi dia merupakan kawan yang paling menjaga perasaan dibandingkan tiga kawan lainnya (bagian dari pengakuan paling pekanya itu kali yak)

Laen lagi sama Ferri, Bapak beranak satu ini memiliki kemampuan luar biasa untuk berlagak jadi homo. Tanyakan saja pada Budi, kekasih prianya (hahahahaha). Tapi dia yang paling cepat berkeluarga diantara kami. dia juga yang baik hati membagi pengalaman suksesnya dengan yang lain.

Nah, si Unun yang punya kebiasaan ngomong berapi-api. Pak lurah satu ini hobi karoke, doyan menggoda wanita tapi hatinya setia untuk satu wanita.

So, ada kabar terbaru apa dari pria-pria yang mengaku sebagai pria-pria tampan ini?

Budi, masih menjomblo dan tambah gemuk setelah empat bulan menjadi abdi negara. Berbeda dengan Sendy yang tampak kurus. Mereka berdua saya temui beberapa hari yang lalu. Berawal dari sms-an, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu. Mencoba menjalin tali silahturahmi,

Tertawalah saya saat saya menemui mereka. Seperti flashback saat SMA: dua orang itu berjalan menghampiri saya. yang satu dengan badan besar sedangkan yang lain dengan badan kecil yang membawa backpack cukup besar. Langkah mereka pun masih sama. Sendy dengan gaya percaya dirinya dan Budi dengan gaya menyeret langkahnya.

Kami bertemu, bercanda, makan bersama, membicarakan planning dan kabar masing-masing, membicarakan dua kawan kami lainnya, bernostalgia tentang masa SMA kami.

Lucunya, saat kami sedang mengukur luas mall, tiba-tiba Ferri mengirim sms ke Sendy, menanyakan kabar, mengucapkan selamat ulang tahun buat saya, dan bla…bla..bla… sampai akhirnya saya mengungkit soal tulisan saya mengenai mereka di blog ini.

Dan yang mengharukan, saat saya membuka kolom komentar tulisan saya yang bulan April lalu tentang mereka, saya menemukan tulisan lama saya itu dikomentari oleh salah dua diantara mereka. Bahkan Unun mengirim sms ke saya, dan mengatakan bahwa ia akan menikah akhir tahun ini. Wow…. another kabar gembira dari mereka.

So, kalau ada yang nanya kabar terbaru kawan-kawan C3 saya, maka inilah kabar terbaru mereka: Sendy dan Budi masih berjuang memantapkan diri menjadi abdi negara. Ferri sibuk menjadi imam bagi keluarga kecilnya, dan Unun akan segera menikah dalam waktu dekat.

Bagaimana dengan kawan-kawan semua? Apa kabar terbaru dari kawan-kawan? Apakah ada yang akan melangsungkan lamaran setelah lebaran ini?

kalau udah kek begini, siapa yang traktir hayo?
Advertisements

dear Indonesia, happy birthday to us

Indonesia, hari ini kita berulangtahun. Iyah, kita…. kita berdua. Ulang tahun. Kamu merayakan kemerdekaanmu yang ke-66, sedangkan aku merayakan ulang tahunku yang ke… yang ke…. *mikir* yang ke… *@!#&()@!&$#Β  (age is just number i know, but for me age is not only just number. Hahahhahahahaha…)

Indonesia, apa kabarmu dan apa harapanmu di usiamu yang ke 66 ini?

Indonesia, aku beritahu satu hal padamu: aku masih memendam begitu banyak permintaan padamu. Tidak, aku tidak minta disubsidi selain yang sudah kau berikan. Buatku subsidi bahan bakar, listrik dan pendidikan yang kau berikan padaku sudah cukup buatku. Aku hanya minta perbaikan jalan. Perbaikan jalan yang sesungguhnya. Bukan sekedar tambal sana tambal sini seperti yang terlihat di beberapa jalan di sudut kotaku.

Dan mungkin sedikit perbaikan transportasi umum. Aku tahu, sudah begitu banyak ahli berbicara mengenai ini, tapi biarkan aku si orang awam ini ikut berbicara. Hei, ini hari ulangtahunku juga, jadi aku bolehkan mendapatkan hadiahku sendiri?

Perbaikan jalan, transportasi umum dan mungkin sedikit perbaikan di bidang pendidikan. Pendidikan yang ditujukan bukan hanya pada anak-anak (itu sudah harus), tetapi juga calon Ibu.

Indonesia, calon Ibu adalah mereka yang akan mendidik penerus Bangsa yang akan meneruskan mempertahankanmu sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bayangkan jika seorang Ibu tidak mampu mendidik anak-anak mereka dengan baik dan selalu menyalahkan sekolah, pemerintah, dan lingkungan sekitar atas rusaknya moral anak-anak mereka. Dan akan hanya terjebak pada persoalan itu-itu saja tanpa mampu mencetak penerus bangsa yang hebat.

Ah… Indonesia, bicara apa aku ini. Menjadi Ibu saja aku belum.

Lanjut ke masalah berikutnya. Masalah listrik. Aku adalah satu dari sekian juta penduduk yang beruntung merasakan listrik dari sejak aku lahir. Tahun 2005, saat aku menemani Bapak dan Mamahku ke Pulo Ende, di Kabupaten Ende, Flores Nusa Tenggara Timur, di pulo kecil itu listrik belum ada. Hanya ada generator yang hidup dari jam enam malam hingga jam enam pagi. Jadi, maafkan penduduk pulau itu yang tidak pernah bisa menyaksikan upacara memperingati hari-mu setiap tanggal 17 Agustus di istana negara. Dan maafkan mereka juga yang mungkin tidak tahu siapa Mentri Pemuda dan Olahragamu. Dan keadaan itu tidak berubah sepertinya selama berpuluh-puluh tahun.

Indonesia, ada seorang pemimpin Negara maju yang berkata bahwa jangan pertanyakan apa yang sudah Negara berikan padamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu! pada pelantikannya di tahun 1961 (kalau gak salah). Maka kalau kamu bertanya apa yang sudah aku berikan padamu. Mungkin jawabanku: belum ada. Aku hanya menyumbangkan sedikit tarian saat kamu berulang tahun ke 59. Saat itu aku bersama tim ku memeriahkan parade senja di Upacara Penurunan Bendera memperingati hari-mu. Apakah itu ‘pemberian’ yang dimaksud?

Aku rasa bukan.

Impianku menjadi guru kandas dan belum terwujud lagi, dibinasakan oleh keinginan lain dan hal lain yang mungkin tidak berhubungan dengan aku sebagai warga negaramu, hanya berhubungan dengan rasa egoisku saja. Mulut dan otakku hanya bisa mencaci, menggerutui berbagai kebijakan yang ada. Tanpa ada satu tanganku terlibat di dalam perbaikannya.

Indonesia, aku belum mampu memberikan sesuatu yang besar untukmu. Aku hanya sibuk dengan urusanku sendiri. Sama sepertimu yang pernah dibilang oleh salah seorang tokoh bangsa bahwa kamu sedang galau. aku pun sedang galau. Namun hanya untuk urusan yang sedikit berbeda. Sama sepertimu yang bingung melangkah, akupun demikian. Sama sepertimu yang sering dilanda konflik, akupun demikian.

Indonesia, lihat saja… bukan hanya tanggal lahir kita saja yang sama. Tetapi ada beberapa hal juga kita memiliki kesamaan. Dan aku tahu, kita berdua sama-sama bisa menghadapi semuanya.

Kita pasti bisa, Indonesia. Karena kita lahir dan ada bukan tanpa tujuan dan alasan. Bukan begitu?

Indonesia, terimakasih.

ulang Janji

SMA adalah masa jaya-jayanya sebagai seorang pemuda (cieee…). Masanya mencari jati diri (yang ternyata ampek setua ini belon ketemu), masanya jatuh cinta pertama kalinya, masanya belajar mengenai komunitas dengan segala konflik di dalamnya, masanya belajar bertanggungjawab pada pilihan-pilihan.

Heleh ngemeng apa coba si ais.

Pengantar ceritanya aneh banget deh. Padahal hari ini saya mau cerita soal hari Pramuka. Yup, tepat hari ini, tanggal 14 Agustus diperingati sebagai hari Pramuka. Saya tidak akan pernah melupakan itu, sama seperti saya tidak melupakan tanggal 17 Agustus sebagai hari kelahiran saya hari kemerdekaan RI maksudnya πŸ˜‰

Terus hubungannya masa SMA sama tanggal 14 Agustus sebagai hari pramuka apaan Is? Karena, pertama kali tahu hari pramuka itu jatuh pada tanggal 14 Agustus, pas saya SMA. Harap maklum, di Ibu Kota keknya sepahaman saya ekskul Pramuka tidak membahana seperti di daerah. Di Purwokertolah saya belajar mengenal Pramuka. Awalnya sempet gondok waktu tahu ekskul Pramuka wajib buat siswa kelas satu. Gondoknya karena: what? Pramuka? Terakhir kali ‘pramuka’an itu waktu SD, masih Siaga, masih belajarnya Dwi Dharma, masih belajar simpul-simpulan yang gampang-gampang itu. Eh ini kok pas SMA suruh ngapalinnya Dasa Dharma, terus tali temalinya emang udah gak ada yang ada belajar masang dragbar (ini nulisnya pegimane sih?), terus rasanya semua orang sekitar saya pada bisa sandi Morse, sandi rumput dan atau Semaphore!

Owemji… Pramuka adalah horor bagi saya. Gak seperti kebanyakan anak-anak kelas satu laennya yang males berangkat latihan pramuka, saya tidak malas, saya hanya takut. Takut karena saya gak hafal Dasa Dharma, takut karena saya gak bisa bahasa jawa, takut karena saya gak bisa semaphore, pokoknya ketakutan-ketakutan atas ketidakmampuan saya sebagai seorang Pramuka.

Tappppi… bagian yang paling konyol dari keaktifan saya di Pramuka pas SMA adalah: si anak baru yang tidak bisa apa-apa, yang ngapalin Dasa Dharma pas Kemah Bakti Bina Laksana (ini bener bukan kepanjangan dari KBBL?), yang ujian SKU (Syarak Kecakapan Umum, isn’t it?) untuk Penegak Bantara-nya bisa dirapel dalam waktu singkat, yangΒ  ngeloncatin dragbar ini terpilih sebagai Pradana. Kamu gak tahu Pradana? Coba cek di sini buat mengetahui struktur kepengurusan Dewan Ambalan.

Konyol menurut saya adalah karena ituΒ  pertama kalinya sifat sok ngatur dan sok tahu saya diakui dalam struktur (Hahahahahahaha….).

Sepanjang karir saya sebagai Pradana *tsaah saya mengalami banyak peristiwa yang membuat saya belajar bahwa: tidak selamanya kawan yang mendukung secara politikΒ  atas kepemimpinan kamu mendukung setiap keputusan kamu. Dan mereka bisa jadi merupakan kritikus handal dalam setiap langkah kepemimpinan kamu. Politik itu hebat loh, bisa menjadikan kamu musuh publik sekaligus dicintai oleh publik. Jadi, buat adek-adek yang pengen belajar politik praktis, masuklah organisasi. Gak usah Pramuka kalau kamu bersin-bersin pas pake baju cokelat itu. Kamu bisa ikut Pencinta Alam, PMR, atau Paskibra atau OSIS.

FYI aja nih… Pramuka menurut saya mencakup semua ekskul. Kamu bisa jadi anak pencinta alam di Pramuka (saya nyicip rapling juga di Pramuka), kamu bisa jadi anak PMR di Pramuka (hei,kan udah dibilang: belajar bikin dragbar), terus kamu bisa belajar baris bebaris juga di pramuka, dan yang pasti: kamu bisa belajar mengenai Organisasi di Pramuka.

dan, kamu bisa belajar mengenai cinta di Pramuka. Huahahahhahaha…..

***

Salah satu prosesi yang tidak dilupakan saat memperingati hari Pramuka pas SMA adalah: Ulang Janji. Ulang janji biasanya dilakukan di malam 14 Agustus, biasanya tanggal 13 malem. Ulang janji pertama saya itu tanggal 13 Agustus 2001, saat itu saya sudah dilantik menjadi Penegak Bantara, tapi belum menjadi Dewan Ambalan. Kami berbaris memutari semacam api unggun lalu ada sepuluh petugas yang membawa obor dan mengucap Dasa Dharma Pramuka:

  1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
  3. Patriot yang sopan dan ksatria
  4. Patuh dan suka bermusyawarah
  5. Rela menolong dan tabah
  6. Rajin, trampil dan gembira
  7. Hemat cermat dan bersahaja
  8. Disiplin, berani dan setia
  9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
  10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan

Dan entah kenapa, setelah itu saat berkumandang lagu Syukur saya merinding. Haru. Saya mencintai masa-masa keaktifan saya di Dewan Ambalan Pandawa Srikandi tempat saya bernaung dulu. Itu adalah masa-masa penuh kenangan, penuh pengalaman, penuh pembelajaran dari masa SMA saya.

Walaupun sangat sedikit kawan-kawan saya sekarang yang percaya kalau saya ini Pradana Dewan Ambalan (jangankan mereka, hlahwong saya ajah juga kadang gak percaya…).

Selamat Hari Pramuka wahai Pramuka Indonesia

πŸ™‚

Salam Pramuka!!

 

***

Postingan kali ini didukung oleh kenangan tahun-tahun saya di Dewan Ambalan Pandawa dan Srikandi GuDep 02.456-02.457 (yang kalau ditulis di sini bakalan jadi ber part-part), dukungan dari Wikipedia untuk Dasa Dharma Pramuka-nya (it’s been 10 years! udah lupa banyak saya. Hahahhahaha).

PS: Foto yang saya punya cuman ini, maklum jaman saya SMA belon ada teknologi kamera digital, dan saya terlalu malu buat ‘nyuri’ foto di sanggar, dan ini juga hasil tag-tag an di FB. Hehhehehehe…Gak akan ketebak juga saya yang mana. Hlahwong burem ngono kuwi og

belajar tentang kehilangan

Some people come into our lives and quickly go. Some stay for awhile and leave footprints on our hearts. And we are never, ever the same.

Sewaktu SMP, saya memiliki dua orang sahabat yang sangat dekat. Kami memiliki buku curhat, dan di salah satu halamannya saya menuliskan kata-kata di atas. Entah saya menemukan tulisan itu dimana, saya lupa. Tapi kata-kata itu menancap dalam di hati saya.

Sampai sekarang, saat ini. Saat saya menuliskan postingan ini. Beberapa minggu belakangan ini saya sedang belajar memahami kehilangan. Mulai dari kehilangan kunci sepedah, kehilangan waktu, kehilangan kesempatan, kehilangan semangat, kehilangan kekasih, hingga kehilangan beberapa kawan terdekat.

But, this is life. C’est la vie. Terlalu sedikit waktu yang ada kalau hanya digunakan untuk meratapi kehilangan. Toh kita sudah sepakat bahwa saat kita kehilangan sesuatu maka kita akan mendapatkan sesuatu. Bukan begitu? Ini hanya masalah menemukan another comfort zone.

Enjoy your time, ais ariani. Face it πŸ™‚

melawan

apa yang terberat di bulan puasa?

Waktu SD, kawan-kawan SD saya satu sekolahan yang puasa bisa dihitung pake jari. Dulu saya SD nya di SD Katolik, rata-rata muridnya emang non muslim. Jadi jaman itu bagi saya puasa adalah menahan lapar dan haus. Sementara tetangga yang seumuran saya libur, sekolah saya gak pernah libur pas bulan ramadhan. Kantin juga gak tutup. Kehidupan sekolah seperti biasa. Masih maen karet, maen benteng, istirahat juga masih pada maen ke kantin. Yang istimewa hanyalah: duit jajan saya aman, karena saya gak ngeluarin duit buat jajan.

Satu peristiwa tidak terlupakan bagi saya pas puasa jaman SD adalah: saya pernah batal puasa, gara-gara ndorong mobil jemputan saya yang mogok. Waktu itu kelas 3SD kalau gak salah. Saya menelpon mamah saya di kantor pas mau batal puasa itu. Minta ijin batal. Mamah ngomel, tapi saya tetep buka kulkas buat minum. Haus banget.

Pas maghrib tiba, saat seisi rumah duduk dan membatalkan puasa pake kacang ijo buatan mamah, saya mupeng berat. Mau pura-pura ikutan buka kok aneh. Padahal dari batal puasa ampek maghrib itu saya gak ngapa-ngapain; saya cuman tidur.

Nyesel banget waktu itu. Sampai hati saya bersumpah kagak bakalan ada batal puasa-batal puasa berikutnya. Tapi namanya juga anak kecil (tapi harusnya ini bukan pemakluman sih. hihihihihi…).. besok-besok emang gak ada batal-batal di muka umum, tapi di belakang (apa namanya? di belakang umum? atau tidak di muka umum?) saya sering banget belagak ketelen aer wudhu pas ambil aer wudhu. Terus pas masuk kamar mandi gosok gigi sehari ampe lima kali, pas ada tukang yang ngerjain perbaikan rumah kan ada minuman yang disajikan, saya minum aja loh jatah tukang itu. Terus yang paling tidak terlupakan adalah makan buah belimbing di bawah pohon belimbing bareng sama tetangga saya pas orang-orang pada sholat Jum’at.

Dan setelah semua kecurangan dan kejahatan itu saya lakukan, saya pun belagak senang dan girang pas bedug maghrib datang. Saya pun ceria minum teh hangat yang disajikan. Itulah kenangan bulan ramadhan waktu saya kecil yang paling saya inget. Minus ngejar-ngejar ustadz untuk minta tandatangan buat buku ramadhan kek punya tetangga-tetangga saya yang bersekolah di sekolah umum atau sekolah negri, karena di sekolah saya pelajaran agama islampun gak ada. Hehehehehehe.

Alhamdulillah, udah setua ini udah bisa menahan lapar dan haus, masih belajar menahan hawa nafsu lainnya, termasuk nafsu marah-marah, nafsu buat ngomongin orang, nafsu yang laen deh. Tapi bulan puasa tahun ini yang agak berat saya jalani adalah melawan rasa malas. Bangun tidur dan mengangkat badan ke kamar mandi rasanya berat banget buat saya.

Kalau kamu, bagaimana pengalaman puasa waktu kecilmu? Dan, tahun ini puasa gimanah?

bau badan

kamu pernah punya seorang kawan yang *maap bau badannya gak enak? Gak usah kawan deh… misalnya kamu lagi naek bis, bis AC yah yang gak ada pertukaran udara di dalamnya, nah kamu nyium bau asem, bau sepet, bau yang membuat kamu gak doyan makan, bau yang membuat kamu ingin menutup hidung secepatnya.

Atau kawan sekelas kamu di kampus, atau kawan satu ruangan di kantor, ada gak yang punya bau badan? Dan, seberapa besar keinginan kamu dan kemauan kamu mbuat mbilangin ke dia yang bersangkutan soal bau badan itu?

Saya sih lebih memilih diam. Saya memilih tidak bilang apa-apa. Dan syukurlah orang-orang yang berinteraksi intens sama saya gak ada yang bau badannya sepet.

Tapi, sering terlintas dalam pikiran saya: kira-kira siapa yah yang bakalan bilang ke dia yang punya bau badan gak enak soal bau badannya yang gak enak itu? *eh dong gak sih?

Maksud saya, mamahnya dia, adek nya dia, atau pasangannya dia gak ngebilangin ke dia yah kalau badannya bau? Bukan bau badan yang sesekali gituloh. Tapi ini the real bau badan. Kan bisa yah pake cologne, deodoran, atau bedak BB Har*m S*ri gitu (jadi inget seseorang yang gak make deodoran tapi kebiasaannya pake bedak itu. ihiir…).

Apa saya ajah sih yang bawel soal beginian? Serius deh. Saya suka agak terganggu sama bau badan yang asem, sepet dan bikin selera makan ilang. Makanya kadang saya kalau udah seharian kagak mandi, biasanya iseng nyium-nyiumin ketek saya. Make sure ajah gak bau. Indikasi saya harus mandi biasanya adalah: saya gak doyan nyium-nyiumin ketek saya (gak usah dibayangin yah bo, takut nanti gak doyan makan lagi. Hahahahahaha…). Tapi pertanyaan berikutnya adalah: darimana saya tahu ketek saya bau kalau hidung saya sudah sangat familiar dengan bau badan saya yang gak enak.

Kemaren saya lagi mikir: kalau badan saya bau nya gak enak, kira-kira kawan-kawan saya bakal ngasih tahu saya gak yah? Karena saya yakin.. yang bersangkutan gak ngerasa terganggu dengan bau badannya: udah biasa boo. Udah familiar itu tadi.

Sama kek sifat buruk saya : manja, lebay, emosian. Saya gak bakal tahu kalau saya itu manja, kalau gak dibilangin sama gebetan saya pas kelas dua SMA *ehem.Β  Saya gak bakal tahu kalau saya itu dangkal dalam menghadapi cobaan hidup kalau gak captain yang bilangin *ehem lagi. Saya gak tahu kalau saya itu galak dan jutek kalau gak dibilangin sama kawan-kawan dekat saya. Terakhir kemaren salah seorang kawan bilang saya naif. Saya belum bisa memutuskan itu sifat buruk atau baik.

Ah … ukuran baik dan buruk ajah saya belon bisa menentukan. Tapi saya bisa menentukan loh badan yang bau atau gak!

πŸ˜€

Terus korelasinya apa Is bau badan sama sifat buruk? Entahlah, tapi sempet kepikiran begini: sangat sedikit orang yang bakal bilang ke saya soal sifat buruk saya. Sama sedikitnya dengan orang yang bakal bilang ke saya kalau badan saya bau *nyiumketek*

Hanya mereka yang peduli yang berani bilang itu. Yah gak sih?

Dan lagi, kita sudah terlalu terbiasa dengan sifat buruk dan bau badan yang kita punya. Kita merasa owkey-owkey aja. Kita merasa diri kita baik-baik saja, bau badan kita sip lah. Karena it’s in me. *kek slogan iklan. Hidung kita sudah terlalu familiar dengan bau badan kita dan diri kita sudah terlalu terbiasa dengan sifat buruk kita.

Beberapa tahun lalu ada yang pernah bilang ke saya gini:

“Sahabat sejati itu bakaln ngebilangin ke kita kalau bulu idung kita keluar.”

So, kita butuh cermin, buat lihat bulu idung kita. Kita butuh nyium ketek kita dan make sure sama orang-orang sekitar kita bertanya: badan gue bau gak sih?

Kita butuh introspeksi diri soal sifat buruk kita, dan kita juga butuh orang lain sebagai ‘cermin’.

tiga dus

huahahahhaha…. *ketawa ngakak dulu*

hahahhahahaha *ketawa lagi*

maaf yah. Tapi saya geli banget sama kejadian hari ini. Kenapa? Ntah ini namanya rejeki kali yah.

Jadi begini…. Beberapa hari belakangan ini saya lagi rajin-rajinnya masak di rumah. Disamping ngirit bensin dan duit makan, saya juga lagi mencoba belajar masak buat buka dan sahur. Biar kalau pulang ke rumah mamah, saya bisa ikutan mbantuin mamah masak (ini niatnya, tapi entah yah kenyataannya besok. hehehehehe…).

Menunya standart ajah sih, cuman sop-sopan, ayam kecap, tempe goreng. yah diputer-puter ajah gitu. Biar si perut gak bosen makannya. Untunglah ada beberapa kawan yang dengan setia ngajak saya makan di luar, itulah variasi nya, makanya kalau gak sama kawan-kawan, Β  saya menghindari makan di luar.

Naaaah… hari ini satu variasi datang lagi: berupa 3dus mie instan. Yup, benar sodara-sodara …. saya dapat tiga dus mie instan. For free Is? Yup, for free. Tiga dus mie instan for free..

HUahhahahahahahha…

Kek dapet rejeki tiba-tiba gitu. Lagi asik memandangi cicak yang lewat di depan saya, tiba-tiba ada yang getok-getok pager depan. Dan ada pick up berlogo mie instan itu.

Dan jreeeng… dari pick up itu turun ajahlah itu rejeki saya: tiga dus mie instan!

*ngelus-ngelus kardus*

kira-kira ini buat berapa bulan yah? Ada yang mau bantuin gak yah?