i don’t know how she does it

itu adalah judul buku karya Allison Pearson. bukan buku hebat sebenarnya. hanya saja karena ini buku pinjeman dari si kawan yang bilang buku ini ada hubungannya sama permasalahan yang saya angkat di tesis saya. saya jadi tertarik. membaca cerita fiksi entah kenapa selalu menarik bagi saya.

bercerita tentang Kate Reddy, seorang manajer investasi yang memiliki keluarga dengan dua orang anak. secara garis besar, buku ini menceritakan work-family conflict yang dialami oleh seorang Ibu yang bekerja. Kate memiliki dua peran yang harus dijalaninya, peran di kantor sebagai satu dari sedikit wanita yang bekerja di kantornya dan juga perannya di rumahtangga.

Kate memiliki seorang suami dan dua orang anak; Emily yang berusia lima tahun dan Ben yang masih berumur satu tahun. Kate mencintai pekerjaannya, namun dia juga berusaha yang terbaik bagi keluarga yang [sudah pasti] dicintainya.

Dalam buku ini digambarkan bagaimana Kate berusaha menyeimbangkan kedua perannya. menjadi Ibu yang bekerja akan jauh lebih sulit dibandingkan menjadi Ayah yang bekerja, dan satu part yang paling menggambarkan bagian ini adalah saat Kate bercerita bagaimana seorang pria akan terlihat keren, terlihat sangat mencintai keluarga saat memajang foto anak, istri dan keluarga-lah secara garis besar. Tapi menurut Kate, semakin tinggi jabatan seorang wanita bekerja, maka semakin sedikit foto yang dipajang.

Sama halnya seperti saat rapat mahapenting terjadi di suatu divisi dan seorang Pria meminta ijin untuk tidak ikut meeting, dengan alasan; “mengambil raport anak” maka akan mendapat respon; ‘aaah soooo sweeet’. tapi jika wanita yang melakukannya, maka biasanya yang ia dapatkan adalah celaan betapa ia tidak bisa mengatur waktu.

The women in the offices of EMF [Kate’s firm] don’t tend to display pictures of their kids. The higher they go up the ladder, the fewer the photographs. If a man has pictures of kids on his desk, it enhances his humanity; if a woman has them it decreases hers. Why? Because he’s not supposed to be home with the children; she is.

well, buku ini memuat jungkir baliknya seorang Kate berusaha menjadi ibu dan karyawan serta istri yang baik. bagaimana ia mengakali ‘kue supermarket’ menjadi seperti  kue homemade, bagaimana ia selalu berusaha ‘menyogok’ anaknya dengan berbagai mainan yang ia beli setelah bertugas ke luar negri, bagaimana ia berusaha menolak berhubungan seks dengan suaminya, bagaimana Kate mengupah pengasuh anak-anaknya dengan upah yang cukup tinggi agar memperlakukan anak-anaknya dengan baik, bagaimana akhirnya suaminya pergi dari rumah mereka saat Kate sedang bertugas di luar negri.

Saya belum mengalami posisi seperti Kate; seorang Ibu yang bekerja. Makanya saya terkejut menyadari betapa beratnya menjadi Ibu yang bekerja. No offense buat Ayah yang bekerja, suwer. Coba kalau kawan-kawan lagi nganggur dan mencari jurnal penelitian mengenai ‘working mother’ maka kawan-kawan akan menemukan sejumlah penelitian.

Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan  oleh Cinamon dan Rich (2002), yang mengatakan bahwa sumber konflik pada ibu yang bekerja biasanya adalah karena adanya peran ganda, yaitu peran sebagai ibu rumah tangga (istri dan ibu dari anak-anaknya) dan juga peran sebagai pekerja. Setiap peran tentu saja menuntut konsekuensi dan tanggung jawab yang berbeda, yang terkadang saling bertentangan.

Mereka juga berkata wanita yang bekerja ternyata lebih sering mengalami konflik dan permasalahan keluarga dibanding pekerjaannya karena bagi kebanyakan wanita keluarga merupakan domain yang paling penting dalam kehidupannya. Permasalahan ini tidak sedikit mempengaruhi pekerjaan dan dapat menciptakan gangguan bagi mereka, sehingga menyebabkan penurunan kinerja.

Lagi, ngapain sih seorang wanita bekerja? Well, itu akan bergeser sedikit mengarah ke Tesis yang saya angkat. Terdapat beberapa dorongan kenapa wanita bekerja. Bisa karena faktor ekonomi, faktor relasional yang berkaitan dengan kebutuhan sosialisasi mereka, faktor aktualisasi diri juga menjadi salah satu faktor pendorong seorang wanita bekerja.

Faktor yang mendorong seorang wanita bekerja pada akhirnya berhubungan erat dengan bagaimana wanita memaknai pekerjaan mereka.

Pemaknaan wanita bekerja berbeda dengan pemaknaan bekerja pada pria, karena wanita pekerja memiliki konflik dan dorongan yang mungkin berbeda dengan pria dalam bekerja. Maka makna kerja bagi wanita pekerja dipengaruhi oleh alasan yang mendorong mereka untuk bekerja yang nantinya akan membawa kepada penetapan peran kerja, hasil yang diharapkan dari bekerja, serta batasan aktivitas pada wanita dalam bekerja.

Jadi, makna kerja bagi tiap Ibu yang bekerja akan kembali lagi pada tujuan dan nilai-nilai yang dianut oleh Ibu tersebut.

Hehhehehehehehe. saya mengacungkan jempol saya empat-empatnya untuk semua Ibu yang bekerja. Mereka hebat. Walaupun kalau boleh memilih pilihan saya di masa depan, saya ingin bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga full time. Andai saja, saya bisa😀

Back to book again, bagian yang paling lucu dan menyenangkan bagi saya adalah kebiasaan Kate untuk mengakhiri tiap emailnya dengan tulisan ‘xxx’

why?

Karena mengingatkan kebiasaan saya dengan seseorang dulu. Jadi saya punya kebiasaan untuk mengakhiri tiap sms, surat, ataupun apapun dengan orang tersebut dengan tulisan ‘xxx’ . tulisan itu saya ambil waktu itu saat membaca komik Conan jaman saya SMP kalau gak salah. Makanya pas saya baca email-nya Kate di buku itu, saya senyum-senyum sendiri deh; inget si dia yang dulu juga sering nulis; Love u my princess wonderwall, XXX

dan soal kenapa XXX itu, ada alasannya kenapa hanya X yang dipilih dan kenapa cuman 3kali. aaah penjelasannya nanti ajah ah, kapan-kapan yah.

hahahahhahaha.. memori…

Eh tapi kamu udah tahu kan XXX itu artinya apa?

XOXO,*

ais ariani

*kalau ini tahu artinya apa? hahahaha…

postingan kali ini disponsori oleh : i don’t know how she does it by Allison pearson [fyi; bakal dibikin film yang akan dirilis September besok], beberapa jurnal penelitian dari folder jurnal saya di laptop ini [kalau ada yang membutuhkan bisa kontak saya loh…], dan link ini, gambar dari sini. dan some part of him😉

28 Comments

Filed under [drama] lepas, [drama] sekitar

28 responses to “i don’t know how she does it

  1. daku wanita bekerja.. dont ask me why…
    TFS

    — ais ariani:
    hehehehehe. aku lupa. judul buku ini diambil dari kata-kata orang sekeliling Kate yang selalu bilang;
    i don’t know how she does it…
    dan Kate pun bilang sama kek yang Mbak bilang: dia gak tahu😀
    *punten, TFS singkatan apaan yah…
    *mau sok gak nanya tapi penasaran*
    hihihi.. —

  2. untuk cwo, XXX itu suka artikan berbeda,, eheu😀

    • jadi saya teh baca panjang2 yang ada dipikiran cm XXX? halahhhh :hammer:


      — ais ariani:
      dieeeekaaaaaaaaaaaa….!!!
      *siap-siap ngomel kek emak-emak*
      bukan some kind of XXX yang ituuuuu —

  3. Saya nyoba juga ah, mengakhiri komentar dengan xxx hehe…

    — ais ariani:
    ahahahahha… jangan mas aim, 😀 —

  4. Aiiiiis…
    daku adalah salah satu dari emak emak cemen yang berasa gak bakalan kuat menghadapi tekanan kayak gitu sehingga langsung memutuskan untuk resign waktu Kayla lahir….

    Aku bertekad buat kasih waktu ku full selama 5 tahun buat masing masing anak buat melewati golden age nya mereka…gak pengen lewatin satu momen pun….

    Setelah Fathir udah 5 tahun dan tingkat ketergantungan nya udah gak terlalu tinggi lagi sama aku, barulah aku mau mikirin buat cari kegiatan yang menghasilkan duit…
    Enaknya bisnis apaan ya Ais???
    *lho malahan ngajak diskusi?*

    — ais ariani:
    Mbak Ery.. itu merupakan pilihan yang berani dan pilihan yang hebat menurut aku mbak.
    gak mudah bukan memutuskan hal seperti itu?
    ngomong-ngomong soal bisnis, gemana kalau kita mulai bisnis laundry?
    seperti menjanjikam.😀
    hehehehhehee… —

  5. setuju sama emak diatas🙂 makin keisni makin ga tega ninggalin anak


    — ais ariani:
    ittu dddiiiaaa mbak… gak semua orang punya mental untuk menjadi Ibu Bekerja.. ataupun ibu bekerja yang akhirnya memilih resign.
    ah semua pilihan ada resiko nya kan mbaak… —

  6. Yella Ojrak

    Saya nggak pernah sreg kerja ikut orang. Apalagi tipe pekerjaan yang segala-gala diperintah-perintah. Jadi dari dulu kerjanya ya freelance aja. Kalo ada om-om yang booking, ya kerja, kalo nggak ya di rumah aja… (memfitnah diri sendiri)

    — ais ariani:
    uahahahhahahahaha.. emang kalau sama oom-oom kagak diperintah-perintah yah Tan?
    bukannnya si oom suka mrintah-mrintah
    hahahhahahaha… —

    • Yella Ojrak

      om-om adalah makhluk paling penurut sedunia, Ais. Coba deh kalo nggak percaya… #bujukanSyaiton

      — ais ariani :
      ahahahahhaha.. kalau Tante yang ngomong kok membuat aku curiga-curiga gemannna gituuh😀 —

  7. Aku cewek pekerja, tapi gak tahu juga seh ntar pas punya anak gimana2nya. Coz rasanya aneh aja gak ada kerjaan soalnya semua cewek di keluarga aku gak ada yg jadi ibu rumahtangga full.

    Kalau aku mikir seh, kalau pendapatan suami lebih daricukup ya aku tetep kerja, tapi yang staf biasa aja. Gak mau yg sibuk bener, hehehe..
    Terus XXX itu aku ada satu fikiran, tp gak tahu juga bener or gak😛

    — ais ariani:
    mungkin akhirnya nanti sebatas bekerja yah Nie, bukan mengejar karir. bekerja tapi tidak berkarir. eh begitu bukan yah?
    ayoooh apaan XXX itu… hihihihihi… —

  8. Sampai saat ini msh dilematis Is. Coz jadi istri pekerja aja udh ampun2an riweuhnya, gimana nanti jadi ibu pekerja *udh mules duluan*. Tapiiii, msh kepikiran kalo ga kerja kok rasanya gimanaaa gituh ya di rumah mulu udh terbiasa ngantor #_#

    — ais ariani:
    hehehehhehehe… itu dia Teh yang akhirnya jadi bahan pertimbangan; kalau di rumah melulu apa gak bosen?
    tapi sejauh yang aku amatin dari Mamahku yang dari bekerja akhirnya memutuskan resign, Beliau cukup fun menjalaninya, walaupun di awal Beliau agak bingung,
    dan sempet down juga dengan doin’ nothing, tapi setelah beberapa lama, akhirnya bisa menemukan ritme sebagai Ibu Rumah Tangga full time🙂
    eh tapi itu yang aku lihat yah Teh, secara aku belon pernah ngerasain. hehehhehehee —

  9. dilema..

    — ais ariani:
    aku tiap mau maen ke tempat airul kok gak bisa yah😦 —

  10. Sya

    Bunda saya dulu bekerja sekitar 20 tahunan. Karena saya tahu gimana rasanya jadi anak yang bundanya bekerja, saya lebih milih -sama kayak kamu- full time mother.

    — ais ariani:
    ihhh sama yah Sya. jadi anak dari Ibu yang bekerja padahal kata sebuah Jurnal, membuat kita memiliki pandangan untuk lebih memilih bekerja.
    eh tapi ternyata gak berlaku di kita yah Sya. hehehehhe…
    semoga terkabul yah Sya pilihan kita😀
    (semoga berani mengambil keputusan itu juga… hehehehhehe) —

  11. paling enak bila bisa bekerja di rumah ya mba,,, punya usaha sendiri dikelola sendiri atau bareng keluarga dan tentunya jadi banyak waktu buat keluarga juga..

    — ais ariani:
    yup, bener mas. itu juga salah satu cita-citaku: bekerja dari rumah. wuyyy, bisa jadi full time ibu rumah tangga sekalian kan😀 —

  12. Agung Rangga

    jelasin arti ‘xxx’-nya dong kak, penasaran nih~😕
    apa pula arti ‘xoxo’ di gambar terakhir?🙄

    — ais ariani:
    hehehehehhe. ituh sama oom dewo dibawah udah dijelasin loh Ngga🙂 —

  13. Hehehe jadi penasaran arti XXX & XOXO.
    Ditunggu penjelasannya yaaaa…

    — ais ariani:
    hehehehhe, mas Dewo akhirnya mencari tahu sendiri sepertinya😀 —

  14. Eh menurut Mbak Wiki:
    http://en.wikipedia.org/wiki/Xoxo

    Xoxo artinya hugs and kisses. Kalau XXX apa ya?

    — ais ariani:
    hehehhehe… XXX itu artinya kisses 3 kali Mas,
    satu di jidat, satu di pipi dan satu di bibir
    hahahhahahahaha…..
    harusnya 5 kali. tapi kalau 5 kali kebanyakan. 😀 —

  15. Wuuuiiih, kayaknya buku yang keren nih, atau karena yang nge-review-nya ok…?
    Ais, ais…banyak banget huruf X di blog Ais ini, dan swear…nggak ada satupun yang saya ngerti…hehehe😀

    — ais ariani:
    hehehehhe Bu Irma, review bukunya harusnya jauh lebih banyak dari ini, tapi bacanya udah agak lama, jadi banyak part nya udah lupa😦
    x ituu…*jadi malu*
    tapi udah aku jawab di atas loh Bu 😉 —

  16. Full time di rumah juga tak ada salahnya kalau punya usaha sendiri. Menambah pendapatan keluarga kan gak harus dengan bekerja menjadi karyawan atau pegawai…

    — ais ariani:
    betul, akhirnya namun kembali juga ke dorongan yang dilakukan. kalau dorongannya masalah finansial, mungkin itu akan menjadi salah satu jalan keluar
    bagaimana dengan dorongan alasan lainnya yah?
    aahh permasalahan ini ternyata tidak semudah itu… —

  17. makanya salut dg ibu yg bekerja namun tetap menjalankan rumah tangga dan sekalian ngeblog, hebat ya mbak, hehe..
    salam

    — ais ariani:
    hoooohhh apalagi itu dek.
    hebat sekali😀 —

    • saya aja yg masih bujang tur lelaki masih susah sana sini😀

      — ais ariani :
      tenang dek, nanti kalau udah nikah akan lebih teratur kok katanya
      katanya looh…😀 —

  18. Hmm… aku penasaran… bakalan gimana aku nanti menghadapi kehidupan dengan peran ganda itu ya… Semoga bakalan survive😀
    Oiya, aku juga pernah baca Conan yang XXX itu. Chu chu chu😉

    — ais ariani :
    betul kak, aku juga penasaran. semoga bakalan survive yah kita berdua🙂
    hihihihi.. Conan berapa tahun yang lalu yah Kak? —

  19. tesisnya tentang ibu bekerja, mbak? tadinya saya mau pake itu buat skripsi saya😆 tp ga jadi.

    eh iya, emang xxx itu artinya apa sih? terus kalo xoxo itu aku pertama kali tau di film gosip girl *dibahas loh sama saya. hahahaa😀

    — ais ariani:
    kenapa gak jadi Put? biar bisa barengan gitu tinjauan pustaka kita
    hehehhehehe…
    yo xxx kuwi diambil dari xoxo put, cuman dipotong gitu. biar lebih personal😉
    *eh walaupun sekarang jadi gak personal lagi ding. hehehehhe… —

  20. bukannya itu artinya pilem porno ya?!??!!? hehehehe… *kidding… mabbuuuuurr :p

    — ais ariani :
    hadeh hadehhh bukaaan😦 —

  21. Menarik sekali. Topik wanita/ibu bekerja memang selalu kontroversial. Aku senang Ais mengambil topik ini.

    Barusan aku dijadikan responden oleh seorang temannya teman yang sedang mengambil master di Curtin University, Australia, tentang seberapa besar dukungan keluarga dalam pekerjaan seorang wanita. Apakah suami dan anak-anak memberikan bantuan, tidak bermasalah, atau justru menghalangi pekerjaan sang ibu/istri.

    Bagi seorang wanita, bekerja atau tidak adalah pilihan. Yang jelas, seorang wanita sedapat mungkin harus mampu mandiri secara emosi, ekonomi, dan sosial. Ini sangat penting jika suatu saat terjadi sesuatu pada pernikahan. Tidak ada yang pasti di dunia ini, bukan?

    — ais ariani :
    bundaaaa… pengen banget bisa komunikasi sama temen Ibu itu. siapa tahu kami bisa tuker-tukeran jurnal
    [eh keknya aku ding yang minta jurnalnya.. hehehehehhe. secara aku dapet jurnal udah agak lama semua]
    Wow… iyah yah Bun. bukan hanya mandiri secara emosi, tapi ekonomi dan sosial juga penting
    karena… yess, tidak ada yang pasti dalam dunia ini, kecuali ketidakpastian itu sendiri🙂
    Ahh Bunda.. kapan kita kopdar lagi yah…. —

  22. jadi ngebayangin ipar saya yang single-parent dan bekerja menjadi kewajiban buat dia, suka ataupun tidak dia harus bekerja.
    kalau ais mo kasi 4 jempol ke ibu2 bekerja, saya kok mo nyariin 36 jempol lagi buat mereka, karena saya sendiri tidak yakin sanggup ngejalanin jadi ibu bekerja, apalagi yang harus ngantor 9 to 5 hiks ..


    — ais ariani :
    mbak nike curaaang!! 32 lagi sisanya jempol dari mana?
    opo tangane jempol kabeh pho mbak?
    hehehehehehehe.. —

  23. Lha ?
    Inget seseorang di masa lalu ?
    Aiiihhhhh …

    Yang jelas buku ini bisa jadi referensi ya Is …

    Salam saya

    — ais ariani:
    biassalah oom, sok mengenang gitu.
    heheheheh.
    iyah oom, setidaknya dapet bayangan sedikit tentang betapa beratnya tugas Ibu bekerja… —

  24. Postingan yang Keren..
    Salam Kenal dari Blogger Papua..
    Blogwalking


    — ais ariani:
    salam kenal dari dramaLand
    terimakasih atas kunjungannya🙂 —

  25. Pingback: reblog : i don’t know how she does it | dramaLand

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s