i don’t know how she does it

itu adalah judul buku karya Allison Pearson. bukan buku hebat sebenarnya. hanya saja karena ini buku pinjeman dari si kawan yang bilang buku ini ada hubungannya sama permasalahan yang saya angkat di tesis saya. saya jadi tertarik. membaca cerita fiksi entah kenapa selalu menarik bagi saya.

bercerita tentang Kate Reddy, seorang manajer investasi yang memiliki keluarga dengan dua orang anak. secara garis besar, buku ini menceritakan work-family conflict yang dialami oleh seorang Ibu yang bekerja. Kate memiliki dua peran yang harus dijalaninya, peran di kantor sebagai satu dari sedikit wanita yang bekerja di kantornya dan juga perannya di rumahtangga.

Kate memiliki seorang suami dan dua orang anak; Emily yang berusia lima tahun dan Ben yang masih berumur satu tahun. Kate mencintai pekerjaannya, namun dia juga berusaha yang terbaik bagi keluarga yang [sudah pasti] dicintainya.

Dalam buku ini digambarkan bagaimana Kate berusaha menyeimbangkan kedua perannya. menjadi Ibu yang bekerja akan jauh lebih sulit dibandingkan menjadi Ayah yang bekerja, dan satu part yang paling menggambarkan bagian ini adalah saat Kate bercerita bagaimana seorang pria akan terlihat keren, terlihat sangat mencintai keluarga saat memajang foto anak, istri dan keluarga-lah secara garis besar. Tapi menurut Kate, semakin tinggi jabatan seorang wanita bekerja, maka semakin sedikit foto yang dipajang.

Sama halnya seperti saat rapat mahapenting terjadi di suatu divisi dan seorang Pria meminta ijin untuk tidak ikut meeting, dengan alasan; “mengambil raport anak” maka akan mendapat respon; ‘aaah soooo sweeet’. tapi jika wanita yang melakukannya, maka biasanya yang ia dapatkan adalah celaan betapa ia tidak bisa mengatur waktu.

The women in the offices of EMF [Kate’s firm] don’t tend to display pictures of their kids. The higher they go up the ladder, the fewer the photographs. If a man has pictures of kids on his desk, it enhances his humanity; if a woman has them it decreases hers. Why? Because he’s not supposed to be home with the children; she is.

well, buku ini memuat jungkir baliknya seorang Kate berusaha menjadi ibu dan karyawan serta istri yang baik. bagaimana ia mengakali ‘kue supermarket’ menjadi seperti  kue homemade, bagaimana ia selalu berusaha ‘menyogok’ anaknya dengan berbagai mainan yang ia beli setelah bertugas ke luar negri, bagaimana ia berusaha menolak berhubungan seks dengan suaminya, bagaimana Kate mengupah pengasuh anak-anaknya dengan upah yang cukup tinggi agar memperlakukan anak-anaknya dengan baik, bagaimana akhirnya suaminya pergi dari rumah mereka saat Kate sedang bertugas di luar negri.

Saya belum mengalami posisi seperti Kate; seorang Ibu yang bekerja. Makanya saya terkejut menyadari betapa beratnya menjadi Ibu yang bekerja. No offense buat Ayah yang bekerja, suwer. Coba kalau kawan-kawan lagi nganggur dan mencari jurnal penelitian mengenai ‘working mother’ maka kawan-kawan akan menemukan sejumlah penelitian.

Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan  oleh Cinamon dan Rich (2002), yang mengatakan bahwa sumber konflik pada ibu yang bekerja biasanya adalah karena adanya peran ganda, yaitu peran sebagai ibu rumah tangga (istri dan ibu dari anak-anaknya) dan juga peran sebagai pekerja. Setiap peran tentu saja menuntut konsekuensi dan tanggung jawab yang berbeda, yang terkadang saling bertentangan.

Mereka juga berkata wanita yang bekerja ternyata lebih sering mengalami konflik dan permasalahan keluarga dibanding pekerjaannya karena bagi kebanyakan wanita keluarga merupakan domain yang paling penting dalam kehidupannya. Permasalahan ini tidak sedikit mempengaruhi pekerjaan dan dapat menciptakan gangguan bagi mereka, sehingga menyebabkan penurunan kinerja.

Lagi, ngapain sih seorang wanita bekerja? Well, itu akan bergeser sedikit mengarah ke Tesis yang saya angkat. Terdapat beberapa dorongan kenapa wanita bekerja. Bisa karena faktor ekonomi, faktor relasional yang berkaitan dengan kebutuhan sosialisasi mereka, faktor aktualisasi diri juga menjadi salah satu faktor pendorong seorang wanita bekerja.

Faktor yang mendorong seorang wanita bekerja pada akhirnya berhubungan erat dengan bagaimana wanita memaknai pekerjaan mereka.

Pemaknaan wanita bekerja berbeda dengan pemaknaan bekerja pada pria, karena wanita pekerja memiliki konflik dan dorongan yang mungkin berbeda dengan pria dalam bekerja. Maka makna kerja bagi wanita pekerja dipengaruhi oleh alasan yang mendorong mereka untuk bekerja yang nantinya akan membawa kepada penetapan peran kerja, hasil yang diharapkan dari bekerja, serta batasan aktivitas pada wanita dalam bekerja.

Jadi, makna kerja bagi tiap Ibu yang bekerja akan kembali lagi pada tujuan dan nilai-nilai yang dianut oleh Ibu tersebut.

Hehhehehehehehe. saya mengacungkan jempol saya empat-empatnya untuk semua Ibu yang bekerja. Mereka hebat. Walaupun kalau boleh memilih pilihan saya di masa depan, saya ingin bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga full time. Andai saja, saya bisa 😀

Back to book again, bagian yang paling lucu dan menyenangkan bagi saya adalah kebiasaan Kate untuk mengakhiri tiap emailnya dengan tulisan ‘xxx’

why?

Karena mengingatkan kebiasaan saya dengan seseorang dulu. Jadi saya punya kebiasaan untuk mengakhiri tiap sms, surat, ataupun apapun dengan orang tersebut dengan tulisan ‘xxx’ . tulisan itu saya ambil waktu itu saat membaca komik Conan jaman saya SMP kalau gak salah. Makanya pas saya baca email-nya Kate di buku itu, saya senyum-senyum sendiri deh; inget si dia yang dulu juga sering nulis; Love u my princess wonderwall, XXX

dan soal kenapa XXX itu, ada alasannya kenapa hanya X yang dipilih dan kenapa cuman 3kali. aaah penjelasannya nanti ajah ah, kapan-kapan yah.

hahahahhahaha.. memori…

Eh tapi kamu udah tahu kan XXX itu artinya apa?

XOXO,*

ais ariani

*kalau ini tahu artinya apa? hahahaha…

postingan kali ini disponsori oleh : i don’t know how she does it by Allison pearson [fyi; bakal dibikin film yang akan dirilis September besok], beberapa jurnal penelitian dari folder jurnal saya di laptop ini [kalau ada yang membutuhkan bisa kontak saya loh…], dan link ini, gambar dari sini. dan some part of him 😉

Balada si motor orange.

Vina Panduwinata telah membuat pak post menjadi bagian dari sesuatu yang berbau romantis.paling tidak dalam kehidupan percintaan saya. Hehehehee… saya sempet loh ngalamin menanti surat dari si pacar waktu itu. Waktu itu saya masih duduk si bangku SMA, dan masih surat-surat an sama si pacar yang berdomisili di ibu kota. Bukan karena kami belum mengenal ada nya internet. Tapi karena rasanya lebih deg-deg an, lebih ada nilai perjuangan yang membuat nilai romantis bertambah dalam sepucuk surat.

Jadi dulu urutan nya adalah; selama seminggu saya menanti surat dari dia, kemudian saya baca, habis itu saya wajib membalas surat dari si dia. Setelah menerima surat, saya wajib menelpon si dia dulu. Untuk mengabarkan bahwa suratnya sudah sampai. Lalu saya lari ke wartel.

Ih padahal… di wartel itu saya juga nge gebet mas-mas penjaga wartel nya [hahahahaha]. Dasssaar.

Eh bukan mau cerita itu sebenernya. Mau nyeritain soal pak pos. tahu dong dulu kendaraan pak pos kek gemanah?  Bukan sepeda kumbang, maksud saya pak pos yang udah naek motor. Motor warna orange, yang jadi warna nya PT Pos Indonesia.

Dan saya pernah loh ngerasain naik motor orange-nya pak pos. Bukaan… saya bukan nyuri itu motor dari pak pos, bukan nyabotase motor itu, bukan juga saya dibonceng sama Pak Pos. Tapi saya dibonceng sama anaknya pak pos.

Hihihihihihi.. jadi geli kalau inget itu. Sebut saja nama kawan saya itu si Wahyu [believe me, itu nama aseli sebenarnya. Dan semoga dia tidak membaca tulisan saya ini, hahahahaha]. Saya berkenalan dengan si Wahyu ini saat kami masih sama-sama jadi penyiar muda di salah satu radio swasta di Purwokerto. Awal melihatnya saya tersipu malu berniat menggebet dia yang bersekolah di sekolah yang berbeda dengan saya.

Namun niat itu diurungkan saat saya tahu ternyata dia itu temennya temen sebangku saya. Segala macam aib dia diungkapkan lah oleh si temen sebangku saya itu. Wahyu begini, wahyu begitu…

Tapi seiring berjalan nya waktu, saya dan Wahyu kompak menjadi partner dalam bekerja. Beberapa kali kami saling menukar shift siaran, kalau Wahyu siaran kadang saya nungguin dia, begitu juga sebaliknya dan beberapa kali kami reportase bareng. Hingga dia pernah membuat  pernyataan cinta dengan dibantu oleh saya dan kakak saya. Hubungan kami menjadi lumayan dekatlah. Bahkan saya, dia dan adek saya pernah naek motor bertiga; entah untuk alasan apa saya lupa.

Saya sering ‘ngebawa’ dia ke sekolah, kalau pas di sekolah ada acara-acara nonformal gitu. Karena ada beberapa temen dia yang juga temen saya. Seru lah berkawan dengan si Wahyu ini. Gak hanya pintar, tapi wajahnya enak di pandang [hloh!???!?!].

Lalu apa hubungan si Wahyu dengan motor orange? Karena motor nya si Wahyu ini orange warnanya. Bukan model atau striping yang di modif. Tapi beneran orange yang ada tulisan nya PT Pos itu. Jadi awal saya dibonceng sama dia saya gak ngeh. Setelah beberapa kali reportase bareng, saya baru ngeh kalau motor dia itu adalah motornya pak pos. Dari motor dia yang agak preman itu sampe bebek keluaran terbaru, semua nya berwarna orange. Yang saya ketahui, ayah dari Wahyu memang bekerja di PT Pos. Saat perbincangan  terakhir kami di telpon, dia bercerita pernah di kejar polisi saat mengendarai motor itu di kota semarang.  Dan dia bercanda dengan bilang untung pas mboncengin saya gak pernah di kejar polisi. hehehehe

Saat ini, saya dan Wahyu sudah lepas kontak. Terakhir yang saya denger dari kakak saya [kakak saya dan dia satu jurusan waktu kuliah dulu], dia ada di Ibu kota, mengadu nasib. Walaupun lepas kontak, setiap melihat motor orange, apalagi orange nya pak pos, saya teringat dia. Dia dan kenangan abu-abu kami serta cerita di antaranya. Cerita saat putih abu-abu kami belum terpercik merahnya asmara [haiiiiiiaaaahhhh… apppa coba yang saya tulis?].

Betapa hebatnya kan sesuatu bisa menyimpan cerita yang begitu panjang. Yakin deh … kalau gak inget menulis panjang itu akan membosankan untuk di baca, saya akan bercerita secara mendetail mengenai petualangan kami dan si motor orange. hehehehehe.

So, kalau kamu? Punya cerita seru dengan pak pos? [masih jaman gak sih kirim-kiriman surat sekarang ini?]

 

XOXO,

ais ariani

edisi: mbak ais ngambek

saya itu nyebelin, jutek, ngambekan, emosian, yaah kurang lebih intinya: ekspresif lah. mangkanya seringkali saya bentrok sama orang-orang sekitar saya.

emosi saya kek aliran listrik di rumah saya belakangan ini: labil. se-labil ABG-ABG yang bisa kamu temukan lagi nonton acara-acara musik live di televisi.

saya suka seenak jidatnya sendiri kalau ngomong, apalagi ngomel. pernah loh waktu itu pas captain masih kerja di ibu kota, saya sama dia janjian ketemuan di Blok M. tahu sendirikan yah boo Blok M jaman sekarang gak kek Blok M jaman tahun 80an, jamannya Bapak saya sama emak saya begaul disono. jaman sekarang yang namanya Blok M kan identik dengan terminal. hehehehe. tapi saya sama captain gak sekurangkerjaan itu sih buat ngernet. kami berdua seperti biasa; ngobrol, ngupi-ngupi, makan, nonton dan belanja-belanji di pasaraya. nah pas saya pulang, saya lupa masalahnya apa, saya ngambek aja gitu sama si captain. dan saya ninggalin dia di pinggir jalan. dengan dramanya saya belagak maen sinetron dengan episode: kalau cinta kejarlah daku. berharap dia ngejar saya.

dan dia gak ngejar saya ajah lohh ternyata. jadi saya balik lagi ke tempat saya ninggalin dia. eh dia gak ada. terus saya maen sinetron lagi pas pulang, dengan episode: kalau ngambek jangan norak.

***

mangkanya adalah mereka yang hebat bisa berinteraksi secara intens dengan saya. termasuk salah satunya adalah adek saya. empat tahun-an adalah waktu yang lumayan buat adek saya memahami saya sebagai teman serumah, setelah beberapa tahun sebelumnya kita tinggal terpisah.

jadi kalau tiba-tiba saya maen drama dan ngambek di depan dia, dia cuman kalem-kalem aja nanggepin saya.

seperti kemaren sore. saya mau ngeprint proposal yang udah dua hari ini saya revisi. niatnya baek, mau diprint langsung sore itu, biar pagi ini bisa saya serahkan ke dosen saya. nah lagi asik ngeprint gitu, tinta printernya habis. wuiiih… saya yang udah capek seharian di perpust [lebay], langsung mrintah adek saya;

agil.. kalau ke luar nanti tolong isiin tinta” saya ngomong gitu dari depan kamar, ke dia yang ada di depan TV. dia nggak nyaut. boro-boro nyaut. nengok ajah enggak. ih saya sebel. saya ulangi lagi pertanyaan tadi. dijawab ; “iyah.” dengan nada jengkel tanpa memalingkan wajah dari depan TV.

dan entah kenapa, reaksi dia yang cuek itu mbikin saya sebel. saya taro itu catridge di atas meja makan. saya masuk kamar. niatnya mbanting pintu. tapi berhubung kontrakan baru, gak enak baru nempatin seminggu nanti ada retak-retak di dinding.

akhirnya saya kalem nutup pintu, udah gitu naek ke kasur. menghitung hingga tujuh. meredakan kesal di dada. setelah itu, saya akhirnya memutuskan untuk pergi isi tinta sendiri. bagian dramanya adalah: saya sama sekali gak pamit sama adek saya. padahal saya pergi di bawah idung adek saya yang mekar itu.

saya gak ngomong apa-apa sama dia. saya cabut gitu ajah dari rumah. saya niat ngisi tinta ke ruko depan gang rumah saya. eh mereka bilang saya harus ganti catridge. seharga seratus sekian. saya kaget. kemaren-kemaren di tempat saya biasa isi tinta gak ada pemberitahuan kalau catridge saya bermasalah. bukannya saya memberikan reaksi, saya malah nangis. nangisnya bukan karena sayang banget sama catridge itu. tapi saya nangis gara-gara kesel sama adek saya;

“bisa-bisanya dia nyuekin saya??!?! bisa-bisanya dia gak nengok diajak ngomong?!?! bisa-bisanya dia gak nanggepin saya?!?! padahal saya udah mau kompromi dengan segala macam syarat yang dia ajukan selama beberapa minggu ini. termasuk harus menerima kucing yang dia pungut ke dalam kontrakan saya. padahal dia tahu saya fobia kucing!! mosok saya harus jerit-jerit tiap kali mau ke dapur demi ngeliat kucing itu ngeong-ngeong ngikutin saya? mosok saya jadi gak bisa nonton OVJ gara-gara kucing itu tidak pernah tinggal diam melihat saya berleha-leha di depan TV...” *ini jeritan hati saya waktu itu. tapi tidak saya ungkapkan. nangis di depan toko ajah udah aneh, kalau pake teriak-teriak bakal dikira apa saya ini?*

saya maen drama deh sore itu dengan judul : mbak ais ngambek mencari cinta [eh]  tinta. namun sekali lagi saya mengambil nafas panjang-panjang dan menghitung hingga tujuh. akhirnya saya memutuskan untuk beralih ke tempat saya biasa ngisi tinta di deket kontrakan lama. itu berarti jaraknya lumayan jauh dari kontrakan baru. ah daripada saya pulang ke rumah dan maen drama di rumah, saya memutuskan untuk pergi ke daerah kontrakan lama.

di tempat biasa saya ngisi tinta deket kontrakan lama, mereka masih mau terima catridge saya. walaupun tau itu bakalan gak tahan lama, lumayanlah buat bisa ngeprint dan memuaskan hasrat ngambek saya sama adek saya.

setelah ngisi tinta, saya lirik warung mie ayam kesukaan saya, lalu saya dengan nyantai masuk ke warung itu. makan mie ayam bakso, sendirian. dan dengan sewotnya misuh-misuh pas ada kucing lewat di bawah saya.

ketahuilah kawan; saya tidak benci kucing. beneran. saya hanya takut. benar- benar takut. kalau ada kucing di dekat saya biasanya jantung saya sudah berdetak lebih cepat, bulu kuduk saya berdiri, dan terkadang dalam jarak tertentu, saya bisa keringet dingin. membayangkan menyentuh bulu-bulunya saja bikin saya merinding

Makanya saya punya alasan buat mendadak gak nyaman di rumah sejak adek saya bertekad merawat kucing hasil nemu di pinggir jalan itu.

balik lagi ke semangkuk mie ayam. lagi asiknya meredam ngambek bombay saya dengan semangkuk mie ayam, tiba-tiba HP saya bunyi. begini isi SMS yang adek saya kirim:

“mbak ais, dimana lu?gw mau brgkt latihan. stnk mtr lo gw taro di atas meja makan”

saya diem sesaat. panik. hadeh. *buka dompet*

heallaaaah… jadi saya melintas dari daerah barat sampe daerah utara ini gak bawa STNK? gini nih kalau ngambek gak liat kondisi.

dan lalu sore itu saya pulang dengan perut kenyang, tinta printer full, dan perasaan yang udah gak gitu BT. pulang, pasang catridge, ngeprint, setelah itu mandi.

daaaaaaaaaan… sudah lupa alasan apa yang membuat saya begitu ngambek sama adek saya; sampai pergi ajah gak pamit sama dia. saya berangkat tidur lebih dulu sebelon dia pulang. tapi siang tadi saya sudah berdamai dengannya, dengan semangkuk sop hangat dan jus jambu untuk makan siang setelah ia capek melaksanakan ujian akhir. dan sore ini bahkan kami sudah saling melempar joke soal berita di TV.

so, buat kamu yang punya sifat ngambekan kek saya; saran saya carilah makan, penuhi perutmu sebelon kamu ngambek. kalau udah kenyang, tidur dulu baru ngambek. nah.. bangun dari tidur kalau masih ada hasrat ngambek, ngambeklah

😀

XOXO,

ais ariani

lagi musim apa?*

kalau di Jogja keknya lagi musim liburan. secara kemaren saya iseng jalan-jalan ke Malioboro sama si kawan. dan ya… ampun … itu …ramenya ….

setelah sibuk clingak-clinguk baru ngeh kalau di Jalan Malioboro ada karnaval yang cuman sebentaran lewatnya. dan keknya itu bagian dari FKY, yang rutin diadain oleh Disparbud nya Jogja [ntar yah kalau udah pembukaan, saya ceritain apa itu FKY]. Pake acara kena usir pas lagi nawar kaos lagi !

Jadi kemaren itu pas saya lagi nawar kaos di emperan malioboro, si mas-mas penjualnya diserbu sama ABG-ABG yang dari logatnya kedengerannya sih dari luar Jogja. mereka heboh ngegeser-geser saya . sekali geser saya biarin, dua kali saya melengos. sampe digeser terakhir kali saya udah di ujung lapak si mas-mas penjualnya coba! saya mau melototin kok yo kurangkerjaan, mau saya omelin kok keliatan gak behave banget. akhirnya saya menuntaskan acara belanja saya, sambil misuh-misuh.

Begitulah kalau Jogja lagi musim liburan, sebaiknya menghindari daerah-daerah wisata. daripada kalah pamor sama turis [hahahahaha…].

dan menanti pengumuman SNMPTN, saya sudah mengatasinya dengan pergi ke luar kota di awal bulan depan. Jogja dirubung mahasiswa baru adalah mimpi buruk bagi kami mahasiswa tuwir. Karena bukan hanya tempat makan yang dipenuhi oleh muka-muka cerah nan sumringah [kenapa, berasa tua yah Is ngeliat daun muda itu? hahahahha], tapi yang nganter itu loh bo.. bisa satu kampung sendiri. dapat dipastikan jalanan penuh dengan kendaraan berbagai plat nomor. apalagi di Jakal. ah ucapkan sampai jumpa sejenak pada daerah Jakal dan sekitarnya.

Selaen musim liburan, di Jogja juga lagi musim pindahan. bukan cuman saya, tapi dua kawan saya juga baru pindahan beberapa minggu lalu. kalau ini sih sepertinya berkaitan dengan kontrakan yang biasanya habis di awal tahun ajaran baru. Dan dapat dipastikan sekali lagi segala macam ember, kasur, serta perlengkapan kost dicari dengan penuh minat. Coba ajah tengok toko Liman di jalan malioboro [pssst buat adek-adek mahasiswa baru, kalau mau beli kasur atau karpet, belinya di situ ajah… murah], atau di Progo [kalau ini buat beli ember, gelas, piring, dan ada pasar swalayannya juga].

Lalu… selaen musim liburan, musim pindahan dan musim belanja-belanji keperluan kost, apalagi? Kemaren-kemaren pas di jalan saya hanya mampu melap iler saya yang menetes melihat durian dipajang di jalan-jalan yang saya lewati. kenapa gak beli Is?

bukan karena harga yang mahal … kalau itu masih bisa diatasi laaaah *ngelus-ngelus dompet*, tapi masalahnya adalah : gak punya kawan buat makan durian! keistimewaan dari makan durian bagi saya adalah saat pertama kali dibelah dan harus berrebut buahnya dengan orang lain. makan durian berdua bagi saya adalah sepi. apalagi sendiri! kurang menantanglaaah… kurang pas makan durian sendirian. secara kawan saya yang biasa saya ajak keluyuran nyium bau durian aja udah mau pingsan. adek saya yang ngganteng juga gak doyan.

gak mungkinkan saya ncolek-ncolek masnya yang jualan buat berebutan? tapi kalau cakep bolehlah, apalagi kalau mau gratis-in saya duriannya *ups!

okeh. musim apalagi?

*ceklak-ceklik mouse, buka-buka tab di kanan kiri,*

ahay!!!

saya tahu!

musim nikah!!! *ngelirik undangan yang ada di FB* deeeuuu….. yang mau nikaah. berapa pasang iki. apa korelasi musim-musim diatas dengan musim nikah?

mungkin, dengan adanya musim liburan, maka mereka mengadakan pernikahan, biar adek-adek sodara-sodara mereka yang masih duduk di bangku sekolah yang ada di luar kota bisa dateng [karena beberap atanggal pernikahan di keluarga besar saya dihitung berdasarkan libur sekolah, biar sodara-sodara yang di luar kota bis aikutan kumpul].

Bukan rahasiakan kalau pernikahan itu bagi beberapa keluarga besar jadi semacam reuni keluarga. apalagi keluarg besar yang tinggalnya berbeda provinsi.

Kalau sama musim pindahan apa Is? Yaaah.. kalau itu sih mungkin banyak penganten baru yang keuangannya belon mapan nyari rumah kontrakan juga, berrebut sama mahasiswa-mahasiswa baru kelebihan uang yang bukan ngekost tapi malah ngontrak rumah.

Kalau sama belanja kebutuhan kost apa is? Yaaaah… kalau itu sih persamaannya bagi saya : perlengkapan kost sama hadiah pernikahan bisa dibeli di Progo [semacam toko yang saya juluki one stop shopping, letaknya di belakang Pasar Beringharjo].

Kalau sama musim durian? :mrgreen:

Let you guess!

hahahahahhahahaaa.

So, di sana lagi musim apa?

*penggunaan kata musim sini dimaksudkan bukan merujuk pada keadaan cuaca, karena entah sejak kapan saya bingung sama musim yang merujuk pada cuaca.

 

XOXO,

ais ariani

ya ampun… apa kabar Is?

Kabar saya baik-baik saja [kali aja ada yang nanya]. hehehehhehe… belakangan ini lagi sibuk berkutat dengan kardus-kardus pindahan. FYI aja nih, saya dan adek saya resmi meninggalkan kontrakan saya yang lama. pindahnya gak begitu jauh sebenarnya, tapi secara di jogja kategori jauh-dekat agak-agak kabur yah bo, jadi bingung mendefinisikan jarak kontrakan lama saya dan kontrakan baru saya.

Yang jelas… jaraknya menjauh dari kampus kami berdua. Jarak yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu lima menit, jadi melar menjadi 15menit-an. kalau pas apes dapet lampu merah melulu, atau pas siang yang rame banget, 20menitan gitu lah parahnya.

rumah kontrakan saya yang sekarang bentuknya agak aneh sebenarnya, tapi yang pasti jauh lebih luas dibandingin kontrakan saya yang lama. saya dan adek saya bisa mendapatkan kamar masing-masing yang jauh lebih luas, dapet ruangan bersama yang kita pake buat nonton TV dan naro  meja yang diharapkan bisa jadi meja makan [tapi berdasarkan kebiasaan dulu, meja itu keknya bakalan jadi tempat naro beraneka ragam macam benda; dari kunci, sarung tangan, tas, buku, sisir, ampe apapun yang bisa ditarok di situ]

kami officially pindah tanggal 14 kemaren, tapi beberapa hari sebelonnya saya udah huru-hara mencoba memasukkan berbagai macam benda di kontrakan lama ke dalam beberapa kardus dan karung. dan awalnya saat beberes saya meyakinkan diri sendiri bahwa saya dan adek saya gak punya barang banyak. tapi percaya atau tidak… barang-barang kami diangkat dengan tiga gelombang. dua kali pick-up dan satu kali pake mobil katana si kawan.

hebohkan. saya juga kaget. bagaimana bisa kedatangan saya ke Jogja delapan tahun yang lalu yang hanya membawa dua travel bag, satu tas ransel beserta harapan yang membuncah-buncah untuk menaklukan kota Jogja bisa berbuah bawaan sebanyak dua pick-up dan satu katana? Yah ditambah bawaannya agil juga sih. tapi dia juga modal dateng ke Jogja tiga tahun lalu kurang lebih sama kek saya: travel bag dan ransel.

dan itu barang-barang semuanya membutuhkan waktu yang lumayan lama buat dipacking, dipindahkan dari kontrakan saya yang lama ke kontrakan saya yang baru, kemudian untuk ditata dengan baik di kontrakan baru.

lumayan lama dan menyita pikiranlah dan membuat saya sedikit menyingkirkan episode complicated saya, revisi proposal yang lumayan, dan beberapa masalah sosial lainnya [ciee…sok mikir banget. padahal aselinya : berbagai gosip dan berita soal kawan-kawan di sekitar saya] dan juga blog ini [duh!!].

salah satu pekerjaan yang pertama selesai : majang phutu.

dan semua pekerjaan itu terasa lumayan ringan, karena saya dibantu kawan saya yang suka petakilan itu *aduhmalesngelink* hehehhehehe.jadi ada masanya saya bolak-balik Terban-Tamansiswa-Jalan Godean-Terban-Tamsis lagi. Lumayan cape, tapi saya sih seneng-seneng ajah. Kan apa saja kalau dikerjakan dengan hari senang katanya akan jauh lebih mudah.

dan malam ini adalah malam pertama saya tidak melihat kardus ataupun karung di sekitar saya lagi. karena semua barang sudah pada tempatnya [menurut saya] dan kardus serta karung juga udah saya selipin di gudang [semoga kardus dan karung tersebut masih bisa dipake kalau dua tahun lagi kalau saya pindahan].

adek saya nangkring di pager kontrakan baru

banyak cerita yang mau saya ceritain di balik episode pindahan kali ini. tapi besok lagi yah. si gigi yang udah dua hari ngilu ini semakin ngilu saja malem ini, keknya lebih baek saya tidur daripada menahan sakit dan mengeluh melulu 😦

torn: natalie

When?  waktu Indonesia Bagian kamarnya ais ariani. Where:  kamarnya ais ariani. Who: ais ariani and her partner in crime. How? via Short Message Service.

For: Partner in Crime

Ntah besok ya ri.gw skarang punya kekuatan hati buat ngejauhin dia.tapi gw ga tau kalau someday dia muncul di hadapan gw lg. Kita kan tau gw orang yg lemah…

beberapa menit kemudian, handphone buluk di atas meja itu berbunyi;

From : Partner in Crime

Iya ga tau juga, secara klo uda di depan mata segala sesuatu bisa terjadi

***

begitulah wanita; kadang jatuhnya terlalu lelah untuk bertahan namun terlalu cinta untuk melepas *cih* padahal katanya: yang terlalu-terlalu dan berlebih-lebihan itu gak baek.

hahahahahaha.

mari menikmati hidup dan menata barang sebelon pindahan!

Giving up doesn’t always mean you are weak; sometimes it means that you are strong enough to let go

[not so] original soundtrack:

torn by Natalie Imbruglia

I thought I saw a man brought to life
He was warm, he came around like he was dignified
He showed me what it was to cry
Well you couldn’t be that man I adored
You don’t seem to know, don’t seem to care what your heart is for
But I don’t know him anymore
There’s nothing where he used to lie
My conversation has run dry
That’s whats going on, nothing’s fine I’m torn

i’m all out of faith, this is how I feel
I’m cold and I am shamed lying naked on the floor
Illusion never changed into something real
I’m wide awake and I can see the perfect sky is torn
You’re a little late, I’m already torn


***

postingan ini disponsori oleh: gambar dan potongan liriknya Mbak Nat dan smsannya saya dan my partner in crime di tengah rumah kontrakan saya yang berantakannya minta ampun. ehmm.. ada yang mau bantuin saya ngerapihin [ngerapihin rumah, bukan hati saya] ?

ini dia!

hai kamu yang sudah berbaik hati mengikuti dramaLand punya gawe, hari ini saya punya sesuatu yang istimewa buat kamu. weks, istimewa apaan nih Is?

setelah beberapa hari mundur, tadi malem akhirnya saya berhasil memaksa salah satu juri untuk membantu saya melakukan penilaian. sedangkan Juri yang satunya sudah menyerahkan form penilaian dari dua hari lalu [terimakasih, kawan!].

jadi begini, inti dari dramaLand punya gawe itu sebenarnya ada dua bagian. yang pertama adalah tentang saya dan yang kedua adalah tentang kamu. yang pertama saya meminta kawan-kawan mendeskripsikan tentang saya dan yang kedua kawan-kawan diminta menuliskan mengenai fiksimini karya kamu atau kutipan favorit kamu. kenapa? karena itu berkaitan dengan paket yang akan saya berikan.

so, daripada panjang lebar, inilah dua pemenang yang memiliki penilaian tertinggi dari dua juri kesayangan saya. mereka adalah:

Bu Irma [http://bintangtimur.blogdetik.com/]

dan

Bu Piet [http://chocovanilla.wordpress.com/]

mereka dinyatakan sebagai pemenang setelah menjumlahkan nilai yang diberikan adek saya [saya meminta adek saya buat menilai bagian pertama, mengenai bagaimana frasa-frasa yang berkaitan dengan saya] dan kawan saya yang suka pethakilan [saya meminta tolong sama dia, karena saya dan dia memiliki kesamaan dalam sejarah memulai menulis dan saya merasa dia kritikus yang cukup handal dan saya bisa meminta tolong dia dengan gratis *ups* hehehehehe…]

so, buat dua ibu favorit saya yang menang kuis, tolong saya di kirimin email alamat lengkapnya yah, janji gak saya sebar deh. hihihihi. bisa kirim ke alamat email marsita.ariani@gmail.com

buat yang belon menang, mohon maaaaaf banget. tetep stay tune yah di dramaLand. walaupun mungkin say agak bikin kuis-kuisan dalam waktu dekat, tapi saya bakal membuat kamu tersenyum dengan kalimat saya [PD gilla si ais… hahahahhahaha].

saya mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya untuk ke 34 peserta dan untuk semua kawan yang urun komen dan untuk semua kawan-kawan atas kebersamaan kita selama dua tahun ini.

mari kita menjadikan blog sebagai arena mencari eksistensi diri yang tidak kebablasan. and don’t foget: drama is always fun!

hahahahahhaa….

😉

Terimakasih yah 🙂