hai wanita,

Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa behagia baginya

(Surat Kartini kepada Nyonya Van Kool, Agustus 1901)

saya menemukan tulisan itu dari wikiquote, dan sedikit terhenyak. pikiran saya tiba-tiba melayang pada kata-kata seorang Saudara jauh saya, saya ingat Beliau pernah berkata begini kepada saya;

“Perempuan itu… sekolahnya gak usah tinggi-tinggi, nanti susah cari suami”

Waktu itu saya menekuk muka saat si Saudara itu ngomong begitu. Kata-kata itu terucap dari Beliau saat saya menjelaskan keinginan saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saya gak banyak bicara saat itu, mau membalas dengan sedikit keras, kok si Saudara jauh lebih tua.

Tapi dalam hati saya mengumpat;

sial! Emang nya situ pikir ukuran berhasilnya seorang wanita adalah menemukan suami dengan mudah? Memangnya dengan anakmu yang masih piyek-piyek itu menikah muda, dia sudah sukses? Definisi sukses dan bahagia masing-masing orang kan beda. Sukses menurut kamu dan keluargamu bagi seorang wanita adalah membangun rumahtangga dengan segera, sukses menurut aku belum tentu seperti itu! Lagian kenapa juga kalau nyari suami susah? Yang susah kan aku! Bukan situ!

namun atas nama sopan santun, saya urung menelurkan kata-kata itu. karena saya sadar, bahwa apa yang Saudara itu omongkan hanyalah salah satu bentuk kepeduliannya terhadap saya.

Dan obrolan itu tidak pernah terhapus dalam benak saya, sampai saat ini. Sampai saat ini, saat saya menemukan kutipan dari Kartini di atas. Rasa-rasanya pengen saya tunjukkin kutipan tersebut ke Saudara saya itu

Ungkapan terimakasih saya rasa tidak akan pernah cukup saya haturkan atas kemauan keras mamah saya yang mengajarkan saya banyak hal untuk hidup mandiri, termasuk keinginannya yang kuat mendorong saya untuk melanjutkan sekolah. Hidup mandiri sebagai seorang wanita. Hal terkecil yang saya ingat saat mamah saya mati-mati an menyuruh saya belajar nyetir [yang sumpah, saya males banget waktu itu. karena dalam pikiran saya : please deh, saya punya saudara laki dua kalau kagak bisa disuruh nganter-nganter, buat apa dong?]. Mamah saya bilang begini:

“mamah mati-mati an nyuruh kamu belajar nyetir itu buat kamu sendiri, biar kamu itu bisa bergerak kemana aja, dari naek sepeda, motor ampe naek mobil. gak bergantung sama suami kamu besok”

Lalu, mamah saya juga yang mendorong saya untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. Mamah menutup telinga terhadap omongan sinis keluarga lain yang menyatakan ketidaksetujuan mereka mengenai anak perempuan sekolah tinggi-tinggi. Mamah berkata;

“Wanita itu nanti tempatnya anak bergantung. Rahim kamu itulah tempat anak mu nanti menjadi apa. Anak adalah bagaimana Ibu, jadi yang namanya Wanita itu harus mampu menjadi teladan terbaik buat anaknya nanti. Kamu harus mampu mendidik anak kamu dengan pendidikan terbaik. Sekolah bukan hanya mengenai titel, tapi ilmu apa yang bisa kamu amalkan. Mamah gak bisa melanjutkan pendidikan, dan mamah merasa banyak yang kurang dari mamah mendidik kamu. Mamah ingin kamu memberikan yang terbaik buat keluarga kamu nantinya. Biar bisa mengajarkan mamah juga bagaimana menjadi orangtua yang baik”

dan saya menangis waktu mamah saya ngomong begitu. Karena di mata saya, mamah adalah mamah terhebat sepanjang masa! Perjuangan nya untuk membahagiakan kami, tidak pernah pudar. Selalu saja ada yang Beliau lakukan untuk memajukan, membahagiakan, menyatukan kami.

kalau ada orang yang bertanya Kartini modern di mata saya, saya akan menjawab : mamah saya adalah Kartini dalam hidup saya. Memang karya Beliau belum ada yang mampu merubah dunia. Tidak seperti Martha Tilaar yang memiliki kerajaan bisnis kosmetik, atau Oprah Winfrey yang memiliki acara Talk Show yang tersohor itu. Tapi Mamah saya memiliki andil teramat besar dalam hidup dan pemikiran saya mengenai ‘menjadi wanita’. Bukan Wanita yang tidak membutuhkan pria, tetapi Wanita mandiri yang harus mampu memberikan kontribusi terbaik bagi sekitar.

Hei Wanita, jangan mau merendahkan diri kamu sendiri, karena yang bisa merendahkan dan merubah diri adalah diri kita sendiri

🙂

ps : Buat Saudara saya, kalau saya sampai sekarang belon dapet suami bukan karena saya punya pendidikan, tapi karena Allah belon ngasih saya jodoh🙂

ga perlu menyamar kek Mulan juga buat jadi Wanita mandiri🙂

postingan ini disponsoroi oleh : Wikiqoute, gambar dari sini , mamah saya yang hebat, Kartini dan pemikirannya, dan juga seluruh Wanita hebat dalam hidup saya.😉

39 Comments

Filed under [drama] sekitar

39 responses to “hai wanita,

  1. tengak-tengok…**

    eh, bukan aku yg dipanggil yah?

    y udah, tak pulang dulu..

  2. hiks hiks…
    terharuuuu….
    aku ajahh yg sekolahnya gak tinggi juga kaga laku-lakuu…
    huhuhuhuh…

    — ais ariani :
    huahahahhahaha.. bukan pendidikan atau hal lain ra yang berpengaruh,
    tapi Tuhan masih menginginkan kita belajar buat jadi istri yang baik🙂 —

  3. kalow saya malah jadi “taruhan” di rumah, karena keluarga lebih mementingkan pendidikan daripada gubuk reyot yang kami tempati, dan alhamdulillah setelah saya lulus kuliah saat itu juga Allah memberi kami rejeki untuk membangun rumah idaman kami.

    *akhirnya ada juga tetangga saya (cewek) yang kuliah

    — hueeee.. rejekinya Bunda itu berarti,
    syukurlah kalau ternyata ‘taruhan’ bunda bisa menjadi hal yang positif🙂
    *tumben serius si Bunda komennya. hihihihihihi —

  4. Wanita oh wanita…

    Gampang aja. Wanita gak usah terlalu berharap untuk bisa melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan pria. Itu gak mungkin, karena pria dan wanita diciptakan berbeda. Udah ada kodratnya. Pria dan wanita udah punya tugasnya masing2. Pria mencari nafkah untuk keluarga, menjadi pemimpin keluarga, jadi ujung tombak keluarga, dan pria bekerja paling lelah dalam keluarga. Wanita, mengurus anak, mengurus suami, menjaga kehormatan suami, menjaga aib keluarga, mendidik anak, dijamin deh bakal masuk surga.🙂

    Perihal wanita yang pengen berpendidikan tinggi, pengen sekolah sampe S2 dan S3, itu bagus, silakan aja. Jangan pikirkan perkataan orang yang bilang bahwa kalau pendidikan terlalu tinggi susah dapet suami. Yang terjadi adalah, wanita yang berpendidikan tinggi kadang merasa angkuh dan merasa lebih tinggi statusnya dari pada pria, sehingga wanita tersebut menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk calon suaminya. Akhirnya ya bisa ditebak, terlambat menikah. Gitu…😀

    Wanita berpendidikan tinggi gak masalah, asal nanti ketika menikah harus tahu tugas dan posisinya sebagai seorang istri dan ibu.🙂

    Intinya, emansipasi ya silakan, asal tetap harus tahu kodrat masing2.🙂

    *wuuuuaaah udah panjang banget komen saya dan mungkin gak nyambung*

    ais ariani :
    pria bekerja paling lelah dalam keluarga –> eheeem.. tunggu dulu nih, kenapa ada kata paling yah di sini?
    ehem.. sudah pernah dalam seharian merasakan menjadi Ibu Rumahtangga belon Sop?
    jangan bandingkan pekerjaan pria sebagai suami dan wanita sebagai istri sebagai sesuatu yang dianggap sebagai sebuah kompetisi ‘siapa-paling-banyak-pekerjaannya-atau-siapa-yang-lebih-berat-pekerjaannya [kabanyakan kata sebagai dah keknya].
    Karena in fact; menjadi Ibu rumahtangga gak mudah, sop. Apalagi menjadi Ibu rumah tangga fulltime, atau ibu rumah tangga yang -seperti katakamu- jaminannya adalah masuk surga, itu tidak mudah. dan tidak bisa dibandingkan dengan pekerjaan pria mencari nafkah. saat pria pulang ke rumah, satu atribut dia sebagai pekerja pencari nafkah terlepas sudah. namun Wanita; saat dia ke luar rumah maupun di dalam rumah, tidak ada satu atribut pun yang lepas dari pundaknya.
    tidak bisa disamakan. beda kelas. beda kelas bukan dalam artian mana lebih hebat dan mana lebih berat,
    namun : semua nya memiliki kemuliaannya masing-masing.

    *ikutan mbalesin komennya Asop jadi panjang juga😀 —

    • Kelupaan ngasih link untuk kata ‘wanita’. 😀

    • Anugrha13

      wah komennya kang asop sepanjang jalan kenangan🙂

      — ais ariani :
      jalan kenanganmu pasti ri..😛
      hiihihihihihihi.. —

    • bagus deh yang punya rumah udah nyautin,
      saya td sempat juga mo nyamber duluan,
      untung g jadi😀

      — ais ariani :
      hahahhahaha, semalam ada seorang Kawan juga yang protes mbak Niq sama komen si Asop ini
      semoga jawabanku mewakili apa yang mau disampaikan Mbak Niq dan kawanku itu yah🙂 —

    • Wow, panjaaaaaang!😀

      Yah saya maklumi kalo emang ada orang yang gak sepakat dengan pandangan saya. Mungkin saya salah dalam cara penulisan.

      Pastinya saya tahu betapa capeknya jadi ibu rumah tangga. Mulai dari melahirkan (yang amat sakit sekali), menjaga anak2 yang masih kecil di rumah, musti masak, nyuci baju, musti mikir mau masak apa buat besok, buat nanti malam. Belum lagi menjaga kulkas supaya terus terisi bahan makanan, mancatat semua pengeluaran, memikirkan gimana supaya bisa bertahan sebulan dengan uang yang (mungkin) ngepas. Itu semua berat.

      Iya Mbak Ais, di komen saya sama sekali gak ada melebih-lebihkan laki maupun perempuan. Memang benar juga gak bisa disamakan.
      Saya hanya menekankan, semua sama beratnya karena udah punya kodrat masing2, udah ada tugas masing2. Kodrat yang harus selalu diingat. Masing2 laki2 dan perempuan bisa aja melampaui batas kodratnya (mau merebut tugas sisi yang lain), tapi saya yakin gak akan maksimal.

      Eh eh, tapi saya percaya lho, kesulitan wanita dalam mengurus rumah tangga akan terbayarkan nanti ketika di akhirat. Saya percaya itu.🙂

    • Nah, kebetulan ada posting-an narablog yang mungkin bisa membantu. Posting-an ini yang saya maksud, yang ingin saya sampaikan. Klik di sini.

      Jadi, laki-laki dan perempuan diciptakan Allah berbeda. Ada di surat An-Nisa ayat 34. Monggo ke blog yang saya kasih itu.

      • subhanallah…kang asop pandai juga menelaah dengan seksama, hehehe…
        saya dukung juga, sebagai laki2, hihi..
        Allah telah menciptakan manusia dengan seadil-adilnya..

        — ais ariani :
        iya dong, Allah kan maha Adil😀
        *malah aku yang ngejawab
        hhehehehehe —

    • Oh ya, jangan2 Mbak Ais dan Mbak Nique salah paham sama paragraf pertama saya di komentar pertama ya…😯

      Oke, maap sebelumnya, kalo menyinggung perasaan Mbak Ais dan Mbak Nique. Saya klarifikasi, saya nulis begitu bukan berarti saya termasuk golongan yang menganggap bahwa “wanita di rumah aja”. Nggak, salah besar.😐

      Mungkin saya salah dalam penyusunan kalimatnya. Tolong Mbak Ais dan Mbak Nique jelaskan, bagian mana (komentar pertama saya) yang menurut Mbak berdua kurang sreg di hati. Biarkan saya juga menjelaskan nanti.

      Mohon tanggapannya ya.🙂

      — ais ariani :
      asop, aku pribadi sebenernya agak aneh dan janggal baca kalimatmu yang ini:

      dan pria bekerja paling lelah dalam keluarga
      itu loh yang aku tulis balik di komen ku di bawah komen pertamamu,
      karena menggunakan kata paling dan sedikit janggal ajah bacanya, agak kontras sama komen mu akhirnya dibawahnya.
      dan sepertinya di situ aku agak salah tangkep yah Sop,
      aku salah menginterpretasikan, dan kamu mungkin juga tidak bermaksud begitu,
      aku baca komen kamu berikutnya : aku setuju kalau begitu.
      memang pria dan wanita memiliki keistimewaan masing-masing🙂 —

      • Ooooh, tapi tetap saja kemarin saya kaget, Mbak.
        Dari komentar Mbak Nique dan Mbak Ais (komentar yang menanggapi komentar pertama saya), menyiratkan bahwa ada komentar saya yang mendiskreditkan ibu rumah tangga. Coba lihat lagi. Saya kaget, padahal saya sama sekali nggak menghina ibu rumah tangga. Nggak ada komentar saya yang mengatakan bahwa jadi ibu rumah tangga itu mudah.

        Nyatanya, komentar Mbak Ais dan Mbak Nique mengatakan demikian, sepertinya saya ini tokoh antagonis yang mempunyai pikiran salah. Kesannya saya menghina ibu rumah tangga.:| Itu yang membuat saya heran.

        Perihal kalimat tersebut (“pria yang paling lelah bekerja dalam keluarga”), saya maklumi kalo ada wanita yang nggak sepakat. Saya menulis itu hanya karena tugas pria nggak hanya sebagai pencari nafkah, tapi sebagai pemimpin keluarga. Seperti yang ditulis di surat An-Nisa ayat 34, kaum pria diciptakan mempunyai kelebihan2 yang nggak dimiliki wanita. Nah, berdasar dari situ, makanya saya berkata demikian, karena sudah sewajarnya pria bekerja lebih lelah dari pada wanita. Karena tugas pria sebagai pemimpin (rumah tangga) itulah, pria SEHARUSNYA nggak boleh menumpahkan begitu aja semua tugas rumah tangga ke wanita. Sebut aja beres2 rumah, mengajak anak bermain, menjaga anak, mendidik anak. Hal2 itu harusnya bisa dilakukan bersama-sama dengan wanita (istri). Nah, kenyataannya, banyak suami yang menyerahkan sepenuhnya urusan mendidik anak, beres2 rumah, dan lain sebaginya ke istri. Jadilah beban istri terlalu besar, dan akibatnya kalo anak bertingkah nakal, istri yang disalahkan (padahal itu tanggung jawab bersama).😦

        Itulah teorinya, yang seharusnya kaum pria bekerja lebih keras dari pada wanita. Inipun akan saya ingat selalu, untuk bekal nanti saya menikah. Insya Allah saya akan mencoba menjadi pemimpin yang baik dalam keluarga.

        Saya gak tahu, mungkin komentar Mbak Nique (yang di bagian bawah) hanya sekadar ego wanita. Entah apa yang dilihat Mbak Nique dari komentar saya. Maap kalo-kalo dia kesentil oleh komentar saya yang pertama. Pastinya pria juga punya ego. Jadi, silakan aja Mbak Ais ato Mbak Nique menganggap bahwa wanita bekerja paling/lebih keras dalam rumah tangga, karena wajar juga kalau pria menganggap dirinya bekerja lebih keras.


        — ais ariani :
        karena, kata paling lelah itu lah sop yang mendiskreditkan ibu rumah tangga, pemilihan kata paling mu itu harusnya dirubah,
        karena kami berpendapat bahwa menjadi Ibu rumahtangga juga lelah, tanggungjawab nya juga walau beda porsi tapi tetap sama beratnya.
        memang aku akui Pria diberi kelebihan2 yang tidak dimiliki Wanita, tapi Wanita juga memiliki kelebihan yang tidak dimiliki pria.
        kenapa Pria dan Wanita tidak bekerja bersama-sama, biar tidak ada kata paling lelah? —

  5. wah ada fotonya Mulan, jadi inget dulu suka banget sama film ini apalagi soundtracknya

    — ais ariani :
    sama mbak Lidya! aku juga suka, ampe nonton berkali-kali.
    pertama kali nontonnya di bioskop rame-rame sama keluarga besar.
    hehehhehehee —

  6. kalaupun harus bekerja, aku ingin mencurahkan waktu sebanyak mungkin untuk suami dan anak2 nantinya..😀

    — ais ariani :
    setujuuu bangeeet nan. kalau bisa malah bekerja dari rumah
    [amiiinnn semoga kesampaian..] —

  7. Idem…eiiits, tyunggu dulu..idem apa nie….aku idem kalau belum dapat suami bukankarena pemilih seperti yg orang katakan tapi ya emang hrs milih…pas tidak jadi bapak anak-anakku…karena aku juga sedang belajar mempersiapkan diri utk jadi ibu yang pas utk generasi mendatang😛

    (Aku tahu kamu serius, Ais,,,tapi ntah kenapa aku susah komen serius di sini :D)


    — ais ariani :
    hahahahahahhaha.. appa maksud komen terakhir ini Han?
    mencurigakaan😀
    yup, setuju kalau Hani begitu mah, toh buat dapatkan yang terbaik tiada lelah menunggu🙂 —

  8. baru tau Mulan Jameela jago silat juga ternyata…

    –ais ariani:
    *whaaat?!?!?! Where have you been? —

  9. Anugrha13

    wanita engkau lah sumber inspirasiku
    #halah

    — ais ariani :
    ciiiiieeeeee.. wanittta yang mannne niiiihh…. :mrgreen:

    • Anugrha13

      yang jelas bukan istri capten :p

      — ais ariani :
      uahahahahhahaa… si kapten belon punya istri kok,
      di tembung aja belon
      *sooooo?!??!
      uahahhahahahahhaa —

      • Anugrha13

        ini curcol apa promosi hahaha

        — ais ariani :
        colongan dong ah, kali aja si dia baca
        hahahahahhahahaa…. —

  10. ah Ais..mamahmu memang keren…
    mamah modern..
    mari cari ilmu sebanyak2nya..
    nantinya juga bermanfaat bagi keluarga..
    setinggi-tingginya karir wanita, sebagai seorang istri, dia tetaplah mengabdi pada suami..

    selamat hari kartini, Ais…🙂

    — ais ariani :
    betul ti, itu juga yang dimaksud sama mamahku,
    makanya aku tetap bertahan, walaupun malesnya minta ampun
    [hahahahhahahahaa.. *hush]
    selamat hari kartini, ti 🙂 —

    • tp jgn mau bertahan jd mahasiswa ya…😉

      — ais ariani:
      Titi nakaaaall😦
      hihihihihihi. yah gak laaaah. mau jalan-jalan ke luar negri aja tapinya😀 —

  11. Sejatinya para suami memang jadi bread-winner, tetapi para istri pun harus siap menjadi back up kapan saja dibutuhkan. Rejeki bisa datang lewat suami atau istri, sama saja.

    Perempuan yang nanti pasti jadi ibu harus pintar, agar mampu mendidik anak yang pintar nantinya.

    *kayaknya menginspirasi saya untuk bikin postingan tersendiri hehehe*

    — ais ariani :
    bener mbak, jadi wanita itu harus pintar dan memiliki pengetahuan yang luas,
    apapun pilihannya [mau bekerja ataupun mau tidak bekerja],
    masa depan Bangsa ini kan bergantung juga pada anak-anak kita
    *gayyyaaa mu is, kek udah punya anak aja😀 —

    • udah jadi postingan tersendiri is hehehe

      btw, saya sedih lho klo hari gini masih ada pria2 yang berpikiran seperti Asop😦 semoga saja komentarnya itu cuma asbun, bukan datang dari lubuk hatinya yang terdalam. tapi jika iya, sepertinya Asop harus mencoba menjadi fulltime Mom deh, siapa tau perspektifnya bisa berubah🙂

      — ais ariani :
      bennner banget Mba Niq, aku aja yang belon jadi Ibu rumahtangga bisa sedikit memahami bagaimana menjadi Ibu Rumahtangga itu merupakan sebuah pekerjaan yang berat, tapi menyenangkan… makanya tiap Ibu terlihat senang-senang aja. semoga Asop cuman kepleset ngomong yah mbak … —

      • Ada yang nggak setuju ya… Gak apa2. :

        Ini kebetulan ada posting-an teman narablog yang bisa mewakili perasaan saya.
        Klik di sini. Itu yang sebenarnya mau saya sampaikan. Mungkin cara penulisan saya salah di komentar saya yang awal.🙂

        Semoga posting-an narablog tsb bisa membantu.🙂

  12. Agung Rangga

    Selamat malam…😳

    Wah…
    Postingan buat Kartinian ya…😉
    Hoho…
    Kartini sejati, adalah wanita yang setia menjaga keluarganya…😀

    *besok bikin juga ah…*

    — ais ariani :
    gemanag rangga, udah jadi bikin tentang kartininya hari ini?🙂 —

  13. bintang

    ini postingan tentang sayaaa yaaa
    (wanitanya, bukan kartininya :lol:)

    eh,
    saia baru tau lo yang surat kartini itu
    ckckkckckckck
    *kok ga gaol bgd sii diriku nii*

    — ais ariani :
    aku juga baru tahu kemaren, habis nggoogling soal Kartini:mrgreen:
    hehehhehehee —

  14. Aiss.. pinter yah kamu bisa baca surat dari Ibu Kartini, jangan-jangan selain surat itu, kamu juga dapat surat wasiat ya dari beliau?😛

    — ais ariani :
    hiahahhahahahaha mbak Yuni! aku juga nemu kali tuh surat di Wiki. hihihihi
    surat wasiat nya kan sifatnya rahasia😀 —

  15. selamat hari Kartini yaaa…🙂

    — ais ariani :
    terimakasih Mas Arman🙂 —

  16. agama kita sangat memuliakan wanita lho ya…. hanya saja tak boleh melupakan kodrat yg telah Allah ciptakan sebagai seorang wanita…

    semangat,, dan bila saatnya tiba, pasti pangeran itu siap menjemput mba ais…. (kayanya sih msh belum selesai bikin kereta kudanya…. :D)

    — ais ariani :
    uahahahahahhaa… Pangerannya gak naek kereta kuda kok Mas,
    naeknya onta
    *what??!?!??!
    hehehehhehe. makasih mas Bruri🙂 —

  17. riez

    Itu pengertian orang2 kolot mbak…Jodohkan udah ada yang menggariskan

    — ais ariani :
    yup, betul riez.. —

  18. 'Ne

    suka banget postinganmu ini..
    terutama bagian wejangan dari mamahmu, sama banget kayak yg mamahku bilang.. karena sekolahnya juga gak tinggi..
    perempuan juga berhak atas pendidikan, berhak menentukan masa depannya sendiri, memang tidak selalu harus menjadi wanita karir yang hampir 10 jam berada di kantor, tapi dari rumah juga perempuan bisa berkarya kok.
    Ayo perempuan berada di rumah bukan berarti gak bisa berkarya.
    udah bukan jamannya lagi perempuan hanya untuk wilayah domestik, hanya seputar dapur, kasur dan sumur. banyak perempuan hebat yang bisa mengurus anak dan suaminya dengan baik meski mereka juga sibuk.

    — ais ariani :
    terimakasih ‘ne, dan yup. bener banget… sekarang ini semuanya bisa dilakukan kok ‘ne, termasuk menjadi Working mother yang bisa menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarganya.
    bukan hanya pria yang mampu beraktualisasi diri, wanita juga punya hak untuk memenuhi keinginan nya,
    asal jangan melupakan kewajiban masing-masing🙂 —

  19. Uh Ais, jd onget mamahku jg, yang kadang masih suka konservatif, tapi sebetulnya bangga sama aku *lah?
    hihihi… Be a great woman ya Neng😉

    — ais ariani :
    iyalah Teh, setiap orangtua biasanya bangga banget sama anaknya, apalagi Ibu sama anak perempuannya🙂
    Siaaap Teh.. —

  20. Rasulullah SAW saja menyuruh semua umatnya untuk menuntut ilmu baik laki-laki maupun perempuan, dari lahir ampai ke liang lahat..

    subhanallah, RA Kartini memang keren……

    — Subhanallah, iyah🙂 —

  21. suka sama bagian ini
    Bukan Wanita yang tidak membutuhkan pria, tetapi Wanita mandiri yang harus mampu memberikan kontribusi terbaik bagi sekitar.
    kadang suka geregetan…kalau denger orang-orang sekitar yang sibuk menerapkan doktrin..”perempuan itu ujung-ujunngya dapur”
    please dech..masih banyak yang bisa dilakukan oleh wanita2 hebat..
    bukan cuma dapur aja..
    memang begitulah masyarakat kita,,
    menilai kesuksesan hidup seorang wanita dari pernikahan semata..
    padahal banyak kan aspek sukses,,
    bukan cuma menikah..

    — ais ariani:
    kalau yang itu karena kultur kali yah put,
    budaya kita masih budaya patriarki,
    [ini aku jawab nyambung gak yah?]
    hahahahahha. jadi inget obrolan kita waktu kopdar itu,
    kita bisa serius ngebahas ini berapa lama yah put?
    kalau gak inget bekasi jauh, masih berlanjut kita ngobrol🙂 —

  22. Sya

    postingan ini disponsoroi oleh : Wikiqoute, gambar dari sini , mamah saya yang hebat, Kartini dan pemikirannya, dan juga seluruh Wanita hebat dalam hidup saya. Pasti saya masuk yang terakhir ya??? Ahahahaa pede banget nih orang😆

    — ais ariani :
    uahaahhahahahaa… pastinya dong sya,
    Wanita PD itu termasuk Wanita hebat😀
    hihihihihihihi —

  23. Belajarlah terus dan kejar cita-cita ..
    Semoga sukses dan menjadi tauladan ..

    Jodoh takkan kemana …

    Salam

    — ais ariani :
    yup, jodoh tidak akan lari kemana, pak. bener bangeet🙂 —

  24. Memang tak mudah membuatkan suami kopi yang nikmat
    kadang masih tak yakin apakah kelak bisa mendidik calon pemimpin umat
    namun dengan tekad yang kuat
    -Insya Allah- saya -kita- akan jadi wanita -ibu sekaligus istri- yang hebat…

    *Kapan ya sang pangeran mendekat🙂

    — ais ariani :
    weekksss.. pertanyaan terakhirnya sama kek pertanyaan aku des😀 —

  25. perempuan enggak cuma bisa masak di dapur, nyuci di sumur dan melayani di kasur. Begitu kan, Mba Ais?

    Setuju. Wanita juga musti pintar main komputer. Lumayan, kan nantinya bisa bantu-bantu pekerjaan suami.

    Sama. Aku juga menganggap emakku adalah Kartini di jaman kini.

    — ais ariani :
    gak cuman pinter maen komputer Cen, harus mampu mengoperasikan semua program nya dong😀 —

  26. aku memahami komentar bang asop di paragraf pertamanya itu. kata ‘paling’ mestinya diubah aja jadi ‘harus’. bang asop menurutku enggak salah, dia cuma ingin menyindir suami-suami jaman kini yang merasa dirinya tak perlu pusing mikir urusan rumah. padahal, suami adalah pemimpin keluarga. selain ia harus bekerja menafkahi keluarga, ia juga musti ikut mengatur urusan rumah tangga. bener. ini bukan masalah siapa yang PALING capek, siapa yang PALING lelah.
    bang asop nampaknya ingin mendefinisikan suami yang baik itu suami yang macam.

    Mudah-mudahan aku enggak salah ngomong. Aku paling merasa takut disemprot sama Mba Ais dan Mba Niq…

    — ais ariani : emang kapan aku nyemprot kamu Cen?😀 —

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s