may day

Saya punya kenangan indah mengenai hari buruh. Hari buruh tahun 2009 tepatnya. Saat itu saya sedang dalam masa training di sebuah radio swasta di kota ini. Tugas saya adalah membuat skrip sekaligus men-direct kedua penyiar saya.

Hari itu, 30 April 2009. Saya sudah brainstorming dengan senior saya mengenai tema yang akan diangkat pada siaran esok pagi. Dan skrip yang sudah saya buat pun sudah di setujui oleh senior saya untuk bahan siaran kedua penyiar saya esok paginya.

Namun ada satu masalah; saya tidak memiliki orang sebagai narasumber yang akan diwawancarai sebagai bahan penguat dalam materi yang akan disajikan. Saya gak kenal aktivis buruh. Boro-boro kenal, tahu saja tidak. Apalagi aktivis buruh di Jogja.

Satu-satu nya aktivis buruh yang saya kenal dengan baik adalah Bapak saya, Beliau adalah sekjen di Serikat Buruh dimana Beliau bergabung. Tapi mosok iyah saya meminta Beliau ngomong di radio saya? Apalagi Bapak saya ada di Jakarta. Tapi keren juga sih kalau bisa menghadirkan narasumber tingkat nasional. Kek nya seru dan keren ajah gitu.

Saya akhirnya menelpon Bapak saya. Curhat soal narasumber. Berharap Bapak saya mau dengan sukarela jadi narasumber saya. Tettot.. perkiraan saya salah. Beliau gak mau jadi narasumber saya. Beliau malah memberikan nomor telpon seorang aktivis buruh yang akan memimpin demo pada hari buruh esok haari.

Orang penting lah rupanya si Bapak satu ini. Apalah jabatannya, saya lupa. Tapi saya kan gak kenal. Gemana yah? Mosok ujuk-ujuk nelpon, kenalan, terus minta waktu buat jadi narasumber?!

Saya udah mau menyerah. Saya ingin menggunakan narasumber yang diberikan oleh senior saya saja; seorang aktivitis buruh local tingkat Jogja.

Namun ada semacam suara yang bego-bego in saya di kepala saya;

Heeeeh.. mana ada produser acara prime time kalah sama rasa takut menghubungi narasumber?

Terus, si lemah dalam diri saya menjawab :

“ Tapi kalau nanti si narasumber kagak mau gemana? Nanti kalau ditolak kek gemana?”

“Belon dilakonin! Mentoknya cuman dia nolak. Toh belon berhadapan langsung, cuman lewat suara.”

**

Dan, esok pagi nya dengan sedikit keribetan dan huru-hara, saya berhasil mengubungi Bapak aktivis buruh itu,

seorang aktivis buruh tingkat nasional berbicara secara on-air, diwawancarai dua orang penyiar saya, yang saya produseri.

Hahahahaha. Senang. Tidak ada pujian yang mampir memang, tapi saya menepok dada sendiri. *Bangga*. Berhasil mengalahkan rasa takut, takut untuk menghubungi orang tersebut.

Karena, musuh yang paling susah untuk dilawan adalah diri sendiri! Bukan begitu kawan?

Bagaimana dengan pengalaman Hari Buruh Kawan-kawan? Ikut demo? ATau kejebak macet di tengah-tengah demo?

selamat hari buruh
🙂

postingan kali ini disponsori oleh : gambar dari sini, hari-hari saya di radio itu [hari-hari yang sangat menyenangkan!].

test renang

emang yah BW membawa ide banyak,

tadi malam saya BW ke tempatnya Mamah Olive, yang biasa saya panggil Mbak Nchie. saya baca postingan nya yang Olive nemu HP,

nah di awal postingan ada Olive yang bercerita tentang pelajaran renangnya, terus saya kok jadi inget jaman SMA saya yah?

jadi jaman SMA, waktu mau lulus-lulusan sekolah saya ada test praktek. mata pelajaran yang ada test praktek salah satu nya adalah kesehatan jasmani alias olahraga. nah, dalam Ujian Praktek Olahraga ini salah satu nya adalah berenang, dimana kami siswa-siswi kelas 3 harus ke kolam renang berramai-ramai dan dinilai kemampuan berenangnya.

satu angkatan di SMA saya ada 9 kelas. dua kelas IPS dan sisanya kelas IPA. seingat saya, dari 9 kelas, untuk kedamaian dan kesejahteraan Bapak Pengampu mata Pelajaran Olahraga, dibagi menjadi tiga gelombang.
kelas saya, IPS satu bergabung bersama IPS dua dan IPA tujuh dalam satu kelompok untuk dinilai di hari yang sama.

di hari yang cerah itu, saya bersama rekan-rekan wanita lainnya yang tergabung dalam gelombang yang sama bergerombol di pinggiran kolam. Ukuran kolam standart nasional, kalau gak salah panjang 50m dan lebar 25m, dengan kedalaman terbagi 3. di ujung kanan atau kiri sekitar 125cm, dan ditengah sekitar 2m atau 200cm.

nah… pengampu mata pelajaran olahraga membagi kami sesuai kemampuan, untuk dinilai. kelompok-kelompok tersebut adalah :

– kelompok C untuk mereka yang hanya mampu kecipuk-kecipuk di pinggir kolam
– kelompok B untuk mereka yang belum begitu mahir, sehingga ujiannya berenang dengan jarak tempuh lebar kolam renang (25m x 2 )
– kelompok A untuk mereka yang sudah cukup mahir, sheingga ujiannya berenang dengan jarak tempuh panjang kolam renang (50m x 2 )

namun, pembagian kemampuan itu bukan berdasarkan kemampuan sesungguhnya, tetapi berdasarkan : pengakuan. Jadi kalau kamu ngaku kelompok C, kamu bakal ditaruh di kelompok C.

sebelum nyemplung saya duduk di pinggir kolam renang. liat-liat situasi, sambil ngeliat ke arah kawan-kawan wanita lainnya yang sudah lebih dulu nyebur. dan alangkah terkejutnya saya melihat wanita itu. sebut saja wanita itu dengan sebutan Dyah. argkhhh saya lupa si Dyah ini kan anak IPA 7!

sekilas info sebelum melanjutkan cerita : Dyah ini adalah mantan gebetan nya pacar saya waktu itu. Jadi Dyah pernah diakui oleh si pacar [iye, pacar saya waktu SMA, bukan si captain] sebagai wanita yang pernah ia kejar-kejar. sudah ditembak, tapi ternyata si Dyah udah punya pacar. tapi si Dyah gak nolak waktu ditembak, malah teteup mau aja dideketin [dassssar perempuaaan!!. hahahahhaa…]. dan saya cemburunya amit-amit ama nih orang waktu itu. Jangankan ngeliat mukanya, denger namanya aja saya suka sewot waktu itu.

nah sewaktu Bapak pengampu mata pelajaran olahraga menanyai siapa yang masuk kelompok apa, Dyah ini menjerit-jerit; “aku kelompok B pak! aku B!! aku B!”

wekksss.. saya gak mau disamaian kelompoknya sama dia., walaupun saya tahu kemampuan saya di kelompk B aja udah lumayan, rata-ratalah. bisa lah berenang 2x25M dengan sedikit ngos-ngosan *kalem* :mrgreen:

tapi saya gak mau di sama-in, saya harus punya kelebihan. entah kenapa, ego saya sebagai seorang wanita kesentil. Maaf yah, saya lebih hebat daripada kamu [baca : cemburu tanpa alasan] .

saya dengan gagah berani bilang; “pak… saya kelompok A”

padahal.. padahaaal.. berenang bolak-balik 2x25M ajah saya masih ngos-ngosaaan!! aliasnya , aselinya : saya harusnya masuk kelompok B.

namun, dasar waktu itu masih jiwa muda: gede nafsu dibandingin tenaga.

Tiba saat sang Guru akan menilai kelompok A, saya menuju ujung kolam renang, siap mengambil posisi. Karena diantara kawan-kawan sak gelombang hari itu yang terdiri dari 3 kelas, ternyata hanya ada empat atau lima orang yang berada di kelompok A.

dari ujung kolam seperti ini lah saya memulai

kawan karib saya ketawa cekikikan melihat saya bergaya di ujung kolam, karena dia paham alasan saya berada di kelompok A.

begitu bunyi priiiitt…
saya penuh semangat nyebur dan bergaya katak [gaya andalan saya, selaen gaya batu].

penuh semangat.. hap.. hap.. hap…

rasanya sudah hampir sampe di ujung dan rasanya paru-paru saya memberontak. rasanya seperti dipukul-pukul, argkhhhh….!!!!

saya meraih dinding pinggir kolam. take a break. ngambil nafas. berhenti. begitu saya melongokkan kepala; ternyata saya baru berrenang seperempat panjang kolaaam. [!!!!!]

ow em jiii…. padahal rasanya saya udah mau mati. ternyataaaa belum ada separuh. masih harus menempuh tiga perempat dan satu kali balik…

rasanya saat itu saya mau berhenti aja dah. mau ngaku ke Bapak Guru kalau saya bo’ong soal kemampuan saya. Tapi sammma kek wanita bernama Dyah itu? ogaaah!!

maka saya mengumpulkan semua energi, semua cemburu, semua emosi deh [termasuk harga diri! hahahahaha] untuk melanjutkan sisa jarak tempuh.

dan guess what? saya berhasil menyelesaikan nya! 2x50M, walaupun dengan waktu tempuh yang paling lelet diantara yang lain. tapi saya berhasssil!

dan terpuaskan sudah rasanya si ego ini. :mrgreen:
dan itu pertama dan terakhirnya saya berrenang dengan jarak tempuh sejauh itu, tanpa berhenti lebih dari semenit. karena aselinya saya emang gak bisa berenaaang

so do you think you can swim?

si pacar waktu itu ketawa ngakak pas saya ceritain kejadian itu. dia cuman bilang; “ada-ada aja.. dasar cewek”

see.. wanita itu bisa melakukan apa saja. sekali lagi : APA SAJA untuk sebuah alasan kecil. sebuah alasan kecil tidak jelas bernama cemburu. dan ternyata kekuatan cemburu dahsyat juga.

*setelah diinget-inget lagi : konyol bener dah tindakan saya waktu itu…
😀

postingan kali ini disponsori oleh : mbak nchie atas obrolan di meja makannya, gambar yang saya temukan di sini, mbak-mbak bernama Dyah [sekarang saya udah gak cemburu lagi loh sama mbak. beneran 😀 ], kolam renang tirta kembar yang katanya udah gak ada [terimakasih atas kenangan nya! ].

satu tahun yang lalu

cieeh sok nostalgia.

ternyata tanggal 29 april itu bukan hanya hari nikahnya mantan saya yang paling jaya itu
*kalau ada yang bener percaya sama kata-kata tersebut, harus baca postingan saya sebelumnya.

Tanggal 29 April tahun lalu, *kalau gak salah saya pernah dapet undangan dari sahabat saya. Namanya tiiit *di sensor*, saya biasa memanggil dia Chulun. Si chulun ini sebenarnya kakak kelas saya jaman SMA. satu tingkat di atas saya.

Lulus SMA, si chulun merantau ke Palembang, setahun di sana, dia didepak ke Lampung dan menetap di sana hingga saat tulisan ini diturunkan. Oh iya sebelon ada salah paham mengenai jenis kelamin, si Chulun ini ber- jenis kelamin pria.

saya sering curhat sama dia. dulu saya naksir sama kawan sebangkunya pas SMA. tapi saya malah dekatnya sama si Chulun. biassa lah.. nitip salam, sambil tanya-tanya kalau di kelas si gebetan ngapain.

usia ngegebet saya ke kawan sebangku si Chulun kandas cuman seumur jagung, tapi persahabatan saya sama Chulun masih berlanjut. paling tidak sampai tahun lalu, saat dia memutukan menikah dengan wanita pilihannya.

kenapa kandas?
Karena saya menghargai wanita pilihannya. karena wanita itu cemburu pada saya. karena wanita itu memusuhi saya. karena wanita itu menjadi penyebab saya gak boleh sering-sering sms dan kirim email [apalagi nelpon!] ke Chulun.

padahal, saya juga sebal sama wanita itu! saya yang berkenalan lebih dulu dengan Chulun, saya yang masuk terlebih dahulu dalam kehidupan Chulun. Saya lah pokok nya yang lebih ber hak deh kalau main sebel-sebel an.

tapi itu dulu, saat Chulun baru memadu kasih dengan wanita itu.

Namun saat Chulun memutuskan menikah dengan wanita itu, saya tahu diri; saya hanya seorang teman di mata Chulun. walaupun kita pernah makan malam romantis di atas bukit, walaupun kita pernah saling berbagi rahasia terdalam, tapi bukan saya yang akan jadi pendampingnya. bukan saya yang akan jadi makmum nya

saya cuman tokoh numpang lewat dalam drama kehidupannya. dia melangkah ke jenjang kehidupan nya yang berikutnya tanpa mengajak saya. bukan saya. dan saya memang tidak berharap yang diajak saya.

Sama seperti pernikahan Wills, saya juga tidak datang waktu si Chulun menikah tahun lalu. kenapa is? karena saya ngambek. Gara-gara dia gak mau angkat telpon dan membalas sms saya beberapa minggu sebelum hari H. [ngambeknya alasan nya kek anak kecil banget yak?!?!]

dan harusnya saya maklum, bisa jadi hal tersebut terjadi karena dia memang sibuk. Toh saat hari H, dia masih berusaha menghubungi saya, menelpon saya berkali-kali. Tapi saya teteup ngambek. Teteup gak mau bales sms dia, message via FB nya, telponnya,

tetapi saya menyesal nyuekin dia dan gak datang di hari ia berbahagia. saya menulis postingan di blog ini, setahun yang lalu.

dan beberapa bulan yang lalu, tiba-tiba dia menyapa saya di YM. dia bilang kangen. saya ketawa ngakak. saya bilang, saya juga. dan saya minta maaf atas ke‘ngambek-bombay’ an saya pas dia nikah.

lucunya, ternyata dia membaca postingan saya yang saya buat saat dia menikah. dia bilang dia terharu, dan dia sudah memaafkan saya yang tidak datang di hari bahagianya.

saya senang. karena ternyata tulisan saya mampu menyampaikan apa yang saya maksudkan, dan bermanfaat ternyata!
[walaupun seringnya berlebihan 😀 ]
hehehehhehee…

ps : kalau ada yang penasaran sama isi postingan saya buat chulun, klik di sini,
atau di sini saya lampirkan sedikit cuplikan dari postingan itu:

hai chulun..apa kabar kamu?

Semoga kamu baik-baik saja,sudah hampir seminggu undangan pernikahan elektronik berbentuk message di facebook aku terima,dan aku masih belum percaya kalau aku (akhirnya) tidak datang di hari sahabatku menikah.
Menyesal kah aku?

Sangat.Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akhirnya tidak melihat kamu bersanding dengan wanita pilihanmu…
Padahal,masih jelas dalam ingatan ku bagaimana kencan pertama mu dengan nya (*yeah..bagian kamu bolos dan mancing sama dia),lalu bagaimana kalian bertengkar,bagaimana kamu mati-mati an membela dia di depan orangtua mu,sampai bagian ketidak suka an dia sama aku (lewat sms : maaf yah Lun,cewek ku gak suka kalo aku sering-sering sms kamu).

……..

Aku memutuskan pada akhirnya untuk benar-benar melepasmu sebagai sahabat.Tidak ada lagi yang tersisa,kecuali email-email kita yang masih membuat aku tertawa kala aku membacanya lagi,kecuali cerita persahabatan sewaktu SMA kita bersama dua orang kawan lain nya yang mungkin tidak pernah murni persahabatan,

Sedih?Pasti.Sangat.
Kamu tidak tahu bagaimana rasanya menahan keinginanku untuk membalas telpon dan sms mu..
Kamu tidak tahu kalau aku meminta kawan mu untuk menceritakan bagaimana wanita pilihan mu..
Kamu tidak tahu bahwa aku menyesal dan bingung memulai memperbaiki hubungan dengan mu..

Aku masih peduli,tapi tidak tahu bagaimana caranya.

I’m happy for you,Lun..
absolutely happy for you.

Congrats on your wedding,Lun.

*eheeem.. ini mah bukan cuplikan, namanya menyadur!
hahahaha. awass kagak ada yang boleh protes
:mrgreen:

kopimu sudah dingin!

hati – hati, kopimu yang mulai mendingin jangan kau tinggalkan untuk teh hangat dikala hujan.
Bubuhkan hanya sedikit gula sebagai pemanis,
tetapi simpan dulu krimnya untuk pilihan minuman yang terbaik.
minuman untuk menemanimu, bukan hanya dikala hujan,
tapi juga di pagi yang cerah

seorang kawan pernah mengirimkan sms seperti itu untuk saya. Saya lupa dia mengirimkan untuk apa. Tapi saya pernah menulis kata-kata tersebut di draft. dan entah mengapa, saya ingin menaruh kata-kata tersebut di sini, sekarang.

terimakasih, Cesar

🙂

I think that possibly
Maybe I’m falling for you
Yes there’s a chance that I’ve fallen quite hard over you

[ falling in love at the coffee shop – by Landon Pigg ]

silahkan patah hati!

dalam hitungan hari lagi, saya bakal patah hati berat. Bukan karena si Captain, ah dia mah masih menanti untuk dijadikan bahan postingan, ada yang lebih seru, mengharu biru dan menyayat pilu *berlebih.

dalam hitungan hari, saya akan kehilangan pria lajang idaman saya. saya patah hati. berulang kali saya ditinggal menikah oleh para mantan, tapi yang kali ini lebih menyayat sembilu *sumpah, gak ada kata-kata yang lebih berlebihan lagi pho is?

dan dalam beberapa hari ke depan; saya harus puas-puasin memandang wajahnya, mendengar senyumnya (eee?), melihat tatapan malu-malunya.

ah entah… saya sanggup atau tidak datang ke pernikahannya. Maksud saya, saya kan bukan Oki mantannya Pasha yang datang ke nikahannya Pasha waktu itu dan jadi bahan infotainment. Bukan pula Anang, yang dengan gegap gempita datang ke pernikahan nya KD dan Raul.

saya kan cuman ais ariani, si drama Queen yang suka berlebihan. Gemana kalau saya gantung diri melihat mereka bersanding? Gemana kalau saya jatuh di jembatan di atas kali Code?

September 2010 lalu si mantan menikah, dan saya mendapat kabar dari senior saya.
Kabar dari senior saya ini manis deh, dia memberikan kabar tersebut sambil memposting kata-kata cantik di wall FB saya;

You know, it’s nothing new
Bad news never had good timing
Then, circle of your friends
Will defend the silver lining

dan saya udah berterimakasih dan berurai air mata; hebat sekali si senior, berkarya sebuah kalimat ciamik buat mendukung suasana patah hati saya. eh ternyata itu penggalan lagu nya John Mayer; Heart of Life [itu lagu sumpeh bagus loh…].

Selain ditemani oleh postingan wall dari senior, seorang kawan juga membuat list saat hari H si mantan menikah. Saya disuruhnya untuk :

– menjauhi benda tajam
– menjauhi jembatan atau balkon kontrakan atau tempat tinggi lainnya
– gak usah berharap diundang, apalagi datang kalau diundang, kalau timbul drama bisa repot nantinya. Gak lucu pas ijab kabul salah nyebut nama
– jauhkan segala macam alat komunikasi [yup, semua berita itu akan datang ‘meneror’ dalam bentuk SMS gosip menanyakan; ‘eh si itu menikah hari ini loh, udah tahu belon?‘ sampai reportase langsung dari TKP, berikut foto-fotonya!! di FB]. So, hindari membuka FB saat hari H
– jangan sendirian, habiskan waktu bersama sebanyak mungkin orang. Nonton konser adalah ide yang bagus, asal jangan nonton konser nya Glenn Fredly.
– kalau kamu tidak mendapatkan undangan langsung dari mantan kamu artinya : si mantan tidak mengundang kamu, mungkin karena dia tidak mau kamu bersedih. Bukan karena dia sudah melupakan kamu, ingetkan beberapa hari sebelumnya si dia masih menasehati via YM? Dia masih peduli, 😉

patah hati itu menyedihkan, tapi lebih menyedihkan lagi saat kamu gak bisa berbagi dengan orang lain saat patah hati.

Makanya saya mau berbagi sama kamu saat ini, saat beberapa hari lagi si dia akan menikah. Saya sedang mempertimbangkan untuk datang atau gak… secara… si Captain gak bisa ikut. Maksudnya; siapa yang bakal jadi pasangan saya? Ketahuan banget kan kalau saya patah hati jika datang tidak membawa pasangan?!?

hiks… hiks…
siapa yang akan menemani saya, atau saya gak perlu datang yah ke wedding of the year itu?

dan betapa mencelos hati saya, ternyata diantara para mantan yang diundang, nama saya gak ada!
hiks
😦

mereka mengundang Mr Bean! juga David dan Victoria Beckham! Elton John juga diundang. Kenapa saya enggak?

Tapi… sekali lagi : kalau saya diundang, apakah saya bisa datang? Inggris kan jauh bo, mamah saya bisa minta ikut, adek saya bisa nitip macem-macem, belon lagi kalau nanti saya ngebet pengen ke Liverpool, haduh.. haduh.. jadi jumat besok saya dateng gak yah?

si dia yang akan menikah Jumat besok

jadi, apakah kamu akan datang?

udah cek email, kotak pos kamu? dapet undangan ini gak?

*postingan sangat amat tidak penting [namun saya akui menghibur buat saya! hahahahaha] ini disponsori oleh : daya imajinasi saya yang berlebih, PMS akut tipe C, gambar dari sini dan juga dari sini ,

sebelon manyun menghadapi hari selasa, senyum dulu yah 😀 hehehhehehe

huru hara di ruang karoke

Saya hobi karoke. Cuman hobi dan gak jago nyanyi loh. Senang saja dengan ide : berteriak-teriak-layaknya-superstar-tanpa-ada-yang-mengira-saya-gila. Hehehehehe… biasanya partner karoke saya adalah kawan-kawan kampus saya, yang menjadikan ritual karoke semacam katarsis setiap selesai Ujian.

Namun diantara jam demi jam di ruang karoke, yang paling berkesan adalah karoke weekend kemarin. Kenapa?

Karena saya menghabiskan dua jam di ruang karoke bersama; tiga ABG, satu anak kecil, dua balita, satu manula serta tiga orang dewasa.

Yup, longweekend kemarin Purwokerto dijadikan meeting point sekali lagi oleh keluarga saya. Bapak dan mamah saya berangkat dari Jakarta menjemput keluarga kecil kakak saya di Cirebon lalu rombongan kecil itu berangkat ke Purwokerto bertemu dengan keluarga si oom yang memang berdomisili di kota Satria itu. Dan si artist satu ini *menunjuk diri sendiri* menyusul menemui mereka semua dari Jogjakarta.

Hari jum’at setibanya di Purwokerto, saya mengajak mamah saya karoke. Biasanya yang hobi dan langsung mau diajak karoke adalah mamah saya dan adek saya. Berhubung si agil gak ikut dalam huru-hara longweekend kemaren, saya hanya mengajak mamah saya. Dan entah bagaimana cara dan bujuk rayu mamah saya, akhirnya yang masuk ke ruang karoke adalah :

  1. Saya, ais ariani si artist utama
  2. Mamah saya, penyokong dana
  3. Tante saya, istrinya oom yang doyan banget nyanyi tapi suaminya gak pernah mau kalau diajak karoke
  4. Sasa, ABG yang masih duduk di Bangku SMP kelas satu, anak pertama  Tante saya
  5. Yaya, ABG kelas 5 SD yang tomboy banget, anak kedua Tante saya
  6. Avis, kalau ini sih masih anak kecil yang duduk di kelas 3 SD yang hobi banget make kaos nya David Villa tapi membela tim Madrid di Liga Champhions, ini anak ketiga Tante saya
  7. Nisa, balita centil berumur 4 tahun, anak bungsu Tante saya.
  8. Mbah putri, Ibu nya Tante saya yang tanpa dosa diseret [tidak secara harfiah loh] ikut dalam keramean ini.
  9. Mbak vety, kakak ipar saya yang keikutsertaannya tidak bisa tidak membawa;
  10. Zaidan, si kecil keponakan saya yang berumur 9bulan.
  11. Mbak Sari, pembantunya Tante saya [kenapa dia bisa ikut yak? kalau yang ini termasuk ABG sebenarnya. hehehehehe]
rombongan huru-hara karoke, minus mamah saya dan mbak vety yang udah ke luar duluan, gara-gara si kecil Zaidan ngambek

Heran nya, kok mereka yah mau aja ngikut saya dan mamah saya. Hahahahahaha. Yang ada saya gak banyak megang mic. Saya kebanyakan jadi operator dan tukang gendong Zaidan. Secara kakak ipar saya heboh ikutan nyanyi sewu kuto-nya Didi Kempot sama  caiyya-caiyya nya Norman [percaya atau gak, video klip caiyya caiyya ada Norman nya loh di ruang karoke itu, dan yang request lagu itu adalah avis, yang bisa nyanyi cuman bagian caiiyaa… caiyyaa… caiyyaa…].

Zaidan belon bisa nyanyi, tapi sudah bisa bergaya 😀

Dan komposisi lagu paling aneh yah saya alamin di karokean kali ini;

Sasa, ABG tanggung itu heboh minta lagunya Bieber, dan adek-adeknya yang dua orang itu ikut-ikutan joget [dan juga nyanyi!] pas kakaknya nyanyi. Si kecil Nissa? Ngintil sama Ibu nya yang heboh minta lagu-lagu tempo dulu sama saya, si operator. Sementara mamah saya jerit-jerit dari pojok ruangan; minta lagunya Ungu.

Namun selaku artist utama gagal dan memposisikan diri jadi operator, saya ingin semua orang senang, saya menemukan lagu yang bisa dinyanyikan Nisa; Satu Dua Tiga Empat-nya Bu Kasur, Hai Becak, Tik..tik.. bunyi hujan.

Lagu Bieber adalah lagu yang paling banyak dinyanyikan [dan saya cuman bisa geleng-geleng kepala, karena saya tidak paham sama sekali sama lagu-lagu itu], ada lagu surat cinta nya Nur Afni Octavia, ada lagu Fireworksnya Katy Perry [ini mah pilihannya saya] dan saya sempet berduet sama si Yaya buat nyanyi lagunya Bruno Mars yang Just The Way You are.

Karokean yang seru dan saya tidak sabar menunggu Zaidan cepat besar agar dia juga punya suara untuk meminta lagu macam apa yang ingin dia nyanyikan. Hehehehehehehe….

Bagaimana dengan loongweekend kamu?

avis dan Yaya, kakak ber-adik yang doyan njoget JB

dalam kenangan

Saya mengontrak rumah di daerah Terban [sarangnya preman katanya, tapi suwer… saya bukan preman loh. hehehehehe] bersama adek saya yang paling ganteng itu. Awalnya kami berbagi rumah dengan dua kawan lain, namun sudah dua tahun terakhir ini saya dan adek saya hanya tinggal berdua saja, bersama beberapa binatang lain nya.  :mrgreen:

Selama tiga tahun saya tidak kenal banyak tetangga, saya hanya tahu pak itu rumahnya di situ, pak RT istrinya yang itu, Bu hesty yang baru lahiran dua bulan yang lalu itu ternyata namanya Bu isty. Diantara tidak begitu banyak mengenal tetangga, adalah Pak Nur, seorang Bapak yang cukup dekat dengan saya dan adek saya.

Walau Beliau tidak tahu, saya mengangkat Beliau jadi Ayah saya di lingkungan ini. Karena tiap kali mau pergi dan Beliau ada di depan rumahnya, dia pasti menyapa saya; bertanya saya mau kemana, kuliah kok siang-siang, kok udah dua hari tidak kelihatan. Dan waktu air di kontrakan saya mati, Beliau mengijinkan saya dan adek saya menggunakan kamar mandinya sekaligus mengambil air sak ember dari rumah dia.

Yang cukup mengharukan adalah kebiasaannya menyapu teras rumah dan jalan depan rumah saya yang selalu berantakan. Beliau selalu menyindir saya yang pemalas ini, tapi saya senang di sindir oleh Beliau, karena menandakan betapa Beliau peduli pada saya dan adek saya. Beliau hafal loh kapan dalam seminggu saya ngepel dan nyapu rumah saya.

Hal terakhir yang Beliau bantu adalah saat keran kamar mandi kontrakan saya patah. Adek saya yang ganteng tapi tidak terlalu pandai bertukang itu tidak mampu membetulkan keran yang patah itu.

Kelimpungan kami, air sementara kami matikan dari keran pusat. Putar otak, huru-hara di pintu kamarmandi. Sampai akhirnya Pak Nur mengetahui hal itu, dan ikutan dalam pesta-huru-hara-membetulkan-keran-kamar-mandi-kami. Dan tarraaa… Pak Nur ternyata lebih jagu bertukang daripada adek saya!

Beberapa hari setelah membetulkan keran air, Pak Nur bersama anaknya ada di depan jendela kamar saya [jendela kamar saya memang langsung menghadap jalan setapak] sedang membetulkan motor. kami sempat berbincang di situ, berbincang tentang oleh-oleh yang saya berikan, tentang motor yang rusak dan tentang kuliah saya yang libur.

Tidak saya duga, ternyata itu adalah pembicaraan kami yang terakhir, karena dua hari setelah itu, Pak Nur meninggal dunia.  Penyakit jantung katanya. Saya sedih, tiap pulang kuliah saya kadang masih berharap melihat Beliau duduk di kursi biasa, menyapa saya dengan senyum manis; “Baru pulang Mbak ais?”

But, Life must goes on…

Tidak ada yang abadi di dunia ini.

Satu lagi tetangga saya yang saya cukup kenal baik. Bu Hesti [yang ternyata bernama Bu Isti]. Bu Isti tinggal di samping rumah saya, bersama suami, kedua orangtua  yang biasa saya panggil ‘mbah kakung dan mbah putri’ serta seorang anak yang baru lahir dua bulan lalu. Mbah Putri beberapa bulan lalu jatuh di kamar mandi, sehingga kegiatan Beliau sehari-hari hanya dilakukan di tempat tidur. Sedangkan Mbah Kakung menderita stroke ringan, hingga berjalan dan berbicara pun sulit.

Saya selalu mengagumi betapa lapangnya hati Bu Isti sekeluarga hidup dalam keterbatasan yang mereka miliki. Bahkan mamah saya selalu memuji ketabahan hatiBu Isti yang selalu mampu memberikan pertolongan tiap kami meminta bantuan.

Mbah Kakung adalah sosok yang menurut saya lucu dan ramah. Dia sanagt sulit berbicara, jadi kalau saya bertemu sama Beliau di depan gang, saya biasanya menyapa ramah dan bilang; “Mbah… ais pergi dulu yah..” nanti dia balas tersenyum. Begitu juga kalau saya pulang, Beliau dengan sedikit bergumam; “Pulang?” nanti saya menjawab panjang lebar.

Dan sapaan itu sekali lagi menjadi sapaan hangat bagi anak rantau kek saya yang sering mendapati rumah dalam keadaan kosong. Namun sapaan itu tidak akan ada lagi, karena Mbah Kakung sudah kembali ke hadapan Nya. Beliau meninggal dunia pagi tadi pukul sepuluh.

Saya nyaris menitikkan air mata saat saya berhasil menemui Ibu Isti sepulangnya saya dari luar kota siang tadi. Masih berbalut kesederhanaan, Beliau memohon maaf kepada saya kalau Mbah Kakung punya salah. Ingin rasanya saya memeluk Bu Isti dan si kecil Cahyo yang ada di gendongannya.

Tapi, saya tahu.. Mbah Kakung sudah diberikan yang terbaik, begitu juga dengan keluarga yang ditinggalkan. Tidak ada lagi sapaan hangat itu, namun di hati saya selalu ada senyum indah milik Pak Nur dan Mbah Kakung di hati saya.

Oh iya, sebelumnya saya juga mau mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya salah satu dosen dari jurusan saya yang dulu. Beliau adalah dosen hebat yang tetap mempertahankan cara ‘menghafal’  dalam mata kuliah yang diampunya [dan percayalah, metode itu berguna banget buat memahami pemikiran dan nama-nama filsuf].

Semoga Beliau-Beliau ditempatkan di sisi Nya, sesuai dengan amalan dan perbuatan di dunia. Dan semoga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan.

Although it’s difficult today to see beyond the sorrow,
May looking back in memory help comfort you tomorrow.


PS : asisten saya bernama schedule telah membantu saya beberapa hari belakangan ini saat dimana saya menghabiskan weekend di luar kota. So, maaf yah belon sempet BW dan bales komen kawan-kawan. But i’ll be back. ASAP 🙂

mata nya berat,

seperti menanggung beban

punggungnya berat,
seperti menanggung beban

jalannya tertatih,
lagi – lagi seperti menanggung beban…

*hasil perbincangan dengan si kawan : semakin hari, semakin banyak orang yang nyaman mengeluh dengan siapapun. Beban tiap orang itu berbeda-beda, namun yang perlu diingatkan juga adalah : kemampuan orang menanggung beban juga berbeda-beda.

So, kalau ada kawan kamu di FB atau twitter kamu mengeluh kalau hari ini dia gak bisa keluar nyari makan karena hujan, bisa dianggap dia belon pernah kelaperan gak bisa makan karena Negara nya perang. Atau ada kawan kamu mengeluh internetnya lemot jadi dia gak bisa maen game? Berarti dia belon pernah tahu hidup tanpa listrik.

Yeah… yeah… dalam hati kamu pasti bilang;

‘please deh.. aku juga gak tinggal di Negara yang lagi perang. Tapi aku juga tahu status kaya gitu itu lebay. Gak perlu juga kali seluruh dunia tahu kalau kamu kelaperan

hei.. dia bukan kamu. dia hanya dia, berbeda dengan kamu. itu saja.

🙂

oh yah?

peringatan penulis : tulisan ini bukan hanya gak jelas, tetapi juga mengandung hal-hal yang tidak begitu penting. kalau kamu lagi gak punya waktu luang, just skip this! :mrgreen:

easy come,easy go…

Tahu tidak kenapa itu bisa terjadi?
Mudah,karena apa-apa yang kita dapatkan dengan mudah,tidak akan pernah kita pertahankan dengan sekuat tenaga.Buang-buang energi,karena kita bisa mendapatkan nya lagi kapan waktu.

Sejalan dengan prinsip ekonomi klasik: dengan pengorbanan sekecil mungkin mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin (and not classic one? Kagak tahu saya…Sudah lama tidak berjibaku dengan ilmu ekonomi).

Dari situ,kita paham bahwa jika yang kita korbankan untuk sesuatu begitu besar,maka sesuatu itu kita jaga dengan jauh lebih hati-hati daripada menjaga sesuatu yang mudah didapat.

Ya atau tidak toh?

Karena sepertinya,mengikuti perkembangan zaman…pernyataan itu ikut menjadi absurd.

Karena, semakin sulit rasanya melihat orang menjaga apa yang dimiliki olehnya. Bersyukur termasuk dalam kategori menjaga yah.

Kenapa?
Entah.Mungkin semakin mudah mendapatkan segala sesuatu di jaman serba modern. Apapun bisa Anda dapatkan. Makanan? Rumah? Pasangan hidup? Duit? Pekerjaan? Kebebasan? Eksistensi?
You name it,then you should looking at google, you can find it! Anything…
😉
hahahahahahaha..

Walau hanya terbatas definisi. 😀

Mungkin harus dibalik saja,jika ingin sulit kehilangan sesuatu,kamu harus berusaha sekuat tenaga untuk itu.

Ya atau tidak?

*Xpesially buat kamu : yang pernah bilang betapa sulit mendapatkan diriku.
Am i?

senangnya menjadi wanita

” ternyata wanita itu kalau dandan lama yah..”

” dandan apaan sih.. cuman pake jilbab sama ngebedakin idung ajah dibilang lama”

” ya justru itu, tadi bilangnya cuman tinggal pake jilbab. kok bisa ampe 20 menit sendiri. emang lama yah pake jilbab itu?”

“pake jilbab gak lama kok, milih warna jilbab yang sesuai nya ajah yang lama” *kalem*

***

hai, kamu yang Wanita… pernah diprotes oleh pria soal ‘lamanya’ kamu berdandan? Saya adalah mereka yang tidak berdandan [atau belon?]. Paling banter pake bedak, itu juga baru di rutinin dua tahun terakhir sejak Mamah protes bedak yang Beliau belikan masih utuh sejak sebulan dibelikan. 😀

Tapi, ada aja yang protes soal saya dan rutinitas kewanitaan saya. Ya elaaah padahal saya cuman bedakan selaen pake jilbab. Dan pake jilbab saya gak lama kok. Suwer. Berasa di mata Pria itu ribet banget yak kalau Wanita dandan [even yang dilakukan cuman bedakan!].

Namun, menjadi Wanita itu menyenangkan loh bagi saya. Kenapa?

  1. Karena Wanita bisa terlihat cantik menggunakan rok maupun celana. Hanya di Skotlandia pria bisa [terlihat normal] memakai rok 🙂
  2. Bisa heboh cipika-cipiki kalau ketemu sama kawan yang udah lama gak ketemu. kalau Pria melakukan itu? ih rempong banget lo…
  3. Wanita bisa nangis sesungukan nonton film-film sedih macam If Only,
  4. Wanita bisa berfoto narsis dengan segala macam jari telunjuk bergaya, atau mulut dimonyongkan, atau muka jelek.
  5. Wanita bisa berdalih ‘lagi PMS nih’ untuk menjelaskan ke anomali an sikap :mrgreen:
  6. Karena Wanita menginspirasi banyak musisi 😀
  7. Boleh bilang ‘nunggu ada yang ngelamar’ kalau ditanya kenapa belon nikah  😉
  8. boleh seenak jidat minta ditraktir, ngaku gak punya duit rasanya sah-sah aja
  9. Terlihat cool kalau bisa melakukan pekerjaan Pria 🙂
  10. Menurut UU No.13, Pekerja Wanita berhak mendapatkan fasilitas kendaraan kalau bekerja diatas pukul sepuluh malem [bilangin yeh kalau saya salah]
  11. Jejeritan kalau ngeliat artis Favorit? Wanita bisa!
  12. Boleh punya alasan Gerrard ganteng kalau nonton Liverpool tanding :mrgreen:
  13. Boleh ribut nanya soal offside, cornerkick, penalti, tendangan bebas dan sebagainya saat nonton bola
  14. Wanita sah-sah aja pake high heels, sepatu kanvas, sepatu lari, flat shoes yang lucu-lucu dan cantik-cantik itu
  15. boleh jealous  sama Kate Middleton!

Kalau menurut kamu, asyiknya menjadi wanita apah? Atau ribetnya menjadi Wanita apa?

🙂

hai wanita,

Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa behagia baginya

(Surat Kartini kepada Nyonya Van Kool, Agustus 1901)

saya menemukan tulisan itu dari wikiquote, dan sedikit terhenyak. pikiran saya tiba-tiba melayang pada kata-kata seorang Saudara jauh saya, saya ingat Beliau pernah berkata begini kepada saya;

“Perempuan itu… sekolahnya gak usah tinggi-tinggi, nanti susah cari suami”

Waktu itu saya menekuk muka saat si Saudara itu ngomong begitu. Kata-kata itu terucap dari Beliau saat saya menjelaskan keinginan saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saya gak banyak bicara saat itu, mau membalas dengan sedikit keras, kok si Saudara jauh lebih tua.

Tapi dalam hati saya mengumpat;

sial! Emang nya situ pikir ukuran berhasilnya seorang wanita adalah menemukan suami dengan mudah? Memangnya dengan anakmu yang masih piyek-piyek itu menikah muda, dia sudah sukses? Definisi sukses dan bahagia masing-masing orang kan beda. Sukses menurut kamu dan keluargamu bagi seorang wanita adalah membangun rumahtangga dengan segera, sukses menurut aku belum tentu seperti itu! Lagian kenapa juga kalau nyari suami susah? Yang susah kan aku! Bukan situ!

namun atas nama sopan santun, saya urung menelurkan kata-kata itu. karena saya sadar, bahwa apa yang Saudara itu omongkan hanyalah salah satu bentuk kepeduliannya terhadap saya.

Dan obrolan itu tidak pernah terhapus dalam benak saya, sampai saat ini. Sampai saat ini, saat saya menemukan kutipan dari Kartini di atas. Rasa-rasanya pengen saya tunjukkin kutipan tersebut ke Saudara saya itu

Ungkapan terimakasih saya rasa tidak akan pernah cukup saya haturkan atas kemauan keras mamah saya yang mengajarkan saya banyak hal untuk hidup mandiri, termasuk keinginannya yang kuat mendorong saya untuk melanjutkan sekolah. Hidup mandiri sebagai seorang wanita. Hal terkecil yang saya ingat saat mamah saya mati-mati an menyuruh saya belajar nyetir [yang sumpah, saya males banget waktu itu. karena dalam pikiran saya : please deh, saya punya saudara laki dua kalau kagak bisa disuruh nganter-nganter, buat apa dong?]. Mamah saya bilang begini:

“mamah mati-mati an nyuruh kamu belajar nyetir itu buat kamu sendiri, biar kamu itu bisa bergerak kemana aja, dari naek sepeda, motor ampe naek mobil. gak bergantung sama suami kamu besok”

Lalu, mamah saya juga yang mendorong saya untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. Mamah menutup telinga terhadap omongan sinis keluarga lain yang menyatakan ketidaksetujuan mereka mengenai anak perempuan sekolah tinggi-tinggi. Mamah berkata;

“Wanita itu nanti tempatnya anak bergantung. Rahim kamu itulah tempat anak mu nanti menjadi apa. Anak adalah bagaimana Ibu, jadi yang namanya Wanita itu harus mampu menjadi teladan terbaik buat anaknya nanti. Kamu harus mampu mendidik anak kamu dengan pendidikan terbaik. Sekolah bukan hanya mengenai titel, tapi ilmu apa yang bisa kamu amalkan. Mamah gak bisa melanjutkan pendidikan, dan mamah merasa banyak yang kurang dari mamah mendidik kamu. Mamah ingin kamu memberikan yang terbaik buat keluarga kamu nantinya. Biar bisa mengajarkan mamah juga bagaimana menjadi orangtua yang baik”

dan saya menangis waktu mamah saya ngomong begitu. Karena di mata saya, mamah adalah mamah terhebat sepanjang masa! Perjuangan nya untuk membahagiakan kami, tidak pernah pudar. Selalu saja ada yang Beliau lakukan untuk memajukan, membahagiakan, menyatukan kami.

kalau ada orang yang bertanya Kartini modern di mata saya, saya akan menjawab : mamah saya adalah Kartini dalam hidup saya. Memang karya Beliau belum ada yang mampu merubah dunia. Tidak seperti Martha Tilaar yang memiliki kerajaan bisnis kosmetik, atau Oprah Winfrey yang memiliki acara Talk Show yang tersohor itu. Tapi Mamah saya memiliki andil teramat besar dalam hidup dan pemikiran saya mengenai ‘menjadi wanita’. Bukan Wanita yang tidak membutuhkan pria, tetapi Wanita mandiri yang harus mampu memberikan kontribusi terbaik bagi sekitar.

Hei Wanita, jangan mau merendahkan diri kamu sendiri, karena yang bisa merendahkan dan merubah diri adalah diri kita sendiri

🙂

ps : Buat Saudara saya, kalau saya sampai sekarang belon dapet suami bukan karena saya punya pendidikan, tapi karena Allah belon ngasih saya jodoh 🙂

ga perlu menyamar kek Mulan juga buat jadi Wanita mandiri 🙂

postingan ini disponsoroi oleh : Wikiqoute, gambar dari sini , mamah saya yang hebat, Kartini dan pemikirannya, dan juga seluruh Wanita hebat dalam hidup saya. 😉

telponnya berbunyi

pukul sepuluh lebih tiga puluh dua menit,
handphone saya berbunyi.

dan buyar sudaaaah semuaaaaa kata – kata yang saya rancang.

hahahaha.

*nerima telpon sambil bolak-balik antara new post dan tab comment. buka tab baru, buka blog si kawan, baca-baca sambil dengerin orang cerita di telpon. kagak nemu ide buat posting. terus sekarang ketawa ngakak gara-gara cerita si penelpon. terus si penelpon nanya lagi ngapain?

saya jawab : lagi berusaha mbikin postingan baru di blog

si penelpon : masih nge blog?

saya : masih dong

si penelpon : dari jaman dulu itu masih?

saya : jaman kapan?

si penelpon : jaman kamu nyeritain tentang **** itu loh

saya : hahahahhaha. masih inget aja. masihlah. sekarang makin bermacam-macam lah yang diceritain

si penelpon : emang ada yang baca?

saya : jangankan yang baca, yang ngefans aja ada.

si penelpon : PD bangeeet sihh…

saya : harus dong, toh di dunia maya apa saja bisa terjadi, jangankan over PD, over ngeselin, over expression, over charming juga ada.

si penelpon : ciee… pernah naksir temen ngeblog yah?

saya : hahahaha. so far sih belon, belon ada yang semenawan Tomy Kurniawan

si penelpon : ih itu kan laki orang

saya : gak apa-apa kan kalau aku bilang dia menawan?

si penelpon : tapi dia kan udah bawa kabur anak orang

saya : mereka cuman kawin lari. romantis malahan.

si penelpon : dasar! masih menganggap love is fairy tale

saya : Look! I know love isn’t fairy tale

si penelpon : ah itu kan kata-kata si Maya on definitely, maybe.

saya : hahahahaha. masih inget ajah.

si penelpon : btw, emang blog kamu isinya apa?

saya : macem-macem gitu deh. ada makanan, review buku, lirik lagu, cerita tentang kawan-kawan

si penelpon : tentang aku?

saya : emang siapa kamu?

si penelpon : hahahahahahhaha. kamu lagi ngapain sih? kok jawabnya ngambang-ngambang gak jelas

saya : sambil ngetik postingan

si penelpon : tentang apa?

saya : tentang pembicaraan kita

si penelpon: hah?

hai, terimakasih sudah menggusur ide saya buat nulis. jadinya percakapan kita saya jadikan postingan malam ini yah. Gak apa-apa kan?

*dengan sedikit editan dan modifikasi.

ps : postingan ini jadi kayak verbatim 😦

dan gak jelas blass mau ngomong apaan. biarin ah. lagi  pengen.

behind the scene : kembang 3 setaman

Kemaren Manager saya meng sms saya, begini bunyi sms nya :

Kita bikin postingan ttg latar trbentuknya kembang 3 setaman, pemilihan lagu dan ide cerita, yuk? Tapi versi masing-masing

Wow… saya pernah baca di beberapa tempat  [saya males nge link nya. Maaf yah kawan-kawan. hihihihihi] mengenai terbentuknya group mereka untuk mengikuti kontes Kecubung itu. Saya gak kepikiran mbuat bikin. Karena : jujur, saya lupa! Hahahahhaha. Ups.

kami

Tapi yang saya inget adalah begini: kalau gak salah semua berawal dari perbincangan saya dengan Bang Aswi di YM. Kita ngobrol ngalor ngidul lah, maklum baru pertama kali chatting, jadi banyak yang di eksplore. Sampai akhirnya sampai lah ke topik Kecubung 3 Warna itu. Saya lupa tepatnya siapa yang mengajak siapa, hingga akhirnya pembicaraan meluncur ke orang ketiga. Ngajak siapa yah. Saya memikirkan semua orang yang ada di kepala saya. Dan blank

😀

Lalu muncul lah sebuah nama; Jasmine Amira. e? Siapa tuh Bang? Maafkan aku yah put, dulu aku belum mengenal mu. Lalu mulailah saya bermain ke tempatnya si Jasmine Amira ini, ceritanya mau PDKT. soalnya kata si Abang, saya yang diminta ngajak putri. Dan saya suka sama gaya menulis dia, sederhana namun bermakna. Sampai suatu hari sms dari si Abang memberitahu kalau putri siap bergabung dengan kita [jiaaah… ebat kali kan si Abang? gerak cepat!]

Digelarlah waktu itu conference pertama kami yang di isi dengan hahahaha hihihi nya saya sama putri, karena baru di situ lah saya sama dia berkenalan.  Dari FB saya tahu kalau putri ternyata ngefans juga sama  Princess Diares-nya Meg Cabot. Hebohlah saya jadinya; maklum, jarang saya menemui orang doyan banget ama itu buku [secara umur juga saya udah agak tuwir buat baca itu buku, heh tapi saya mbaca itu dari jaman saya SMA loh! *membela diri*]

Owkey.. owkey… back to conference. Nah pas conference itu,  Bang Aswi sepertinya gregetan berbincang-bincang bersama kami. Harap maklumlah, di mata dia mungkin kami ini masih  ABG-ABG piyek. Ribut aja memperbincangkan hal-hal yang tidak berkaitan dengan kecubung. Termasuk saat memutuskan nama [kami memutuskan nama duluan loh dibanding dengan cerita seperti apa…].

Jadi, saat memutuskan nama itu saya sibuk cari wangsit. *mikir* mikirnya lamma. Ampe akhirnya si Abang *yang tidak sabaran sama kelakuan ABG-ABG ini* menelurkan nama Kembang 3 setaman yang singkatannya Kelompok Bareng-bareng 3 seleb cinta pertemanan. Nah, singkatan ini sempat mengalami perdebatan alot sebenarnya. Tapi perdebatan seperti apa, saya lupa 😀

Tapi, kami tidak merumuskan cerita. Kami hanya merumuskan urutan menulis, dan berhubung saya tidak mau menjadi penulis pertama, dan Bang Aswi memutuskan menjadi penulis terakhir, maka saya memutuskan menjadi si penulis tengah [entah kenapa, saya senang jadi si tengah. Hehehehhee]

Setelah memutuskan urutan menulis, kami sepakat bahwa ide cerita berasal dari kami semua, nanti kami akan kontak-kontakan lagi. Begitu kesepakatan di conference pertama.

Daaaan… saya melupakan sejenak soal kecubung ini, hingga suatu hari munculah email dari putri yang mengirimkan draft cerita pertama. Saya baca.. dan tarrrraaa….. saya gak punya ide ngelanjutin.

Oww c’mon… saya tahu kapasitas saya dalam menuliskan sebuah cerita. Dan jelas, saya agak sedikit kesulitan menuliskan sebuah kisah fiksi. Lama saya merenung. Hingga akhirnya saya mendapatkan ide; dan saya paham itu bukanlah karya maksimal saya. Maksudnya, saya senang menuliskan hal-hal yang saya pahami betul. Saya tidak paham kehidupan di panti asuhan, dan jujur, rasanya waktu itu saya sudah pengen nulis out of da box yang ngawur [saya mau bikin si Ali jadi artis, udah saya bikin judulnya segala loh waktu itu. hihihihihi].

beruntunglah ada seseorang yang meyakini bahwa saya bisa melanjutkan cerita itu 🙂

akhirnya saya baca berulang kali draft cerita putri yang dia kirimkan ke saya, saya bisa ‘mendapatkan’ nyawa dari cerita itu. dan saya memilih mengambil sudut pandang Vita sebagai orang pertama tunggal yang menceritakan cerita di bagian saya. dan yaah… saya tidak bisa lebay dan menjayus kek biasa. tadinya karakter Vita mau saya bentuk seperti saya. Tapi please deh, Vita itu bukan saya. Saya gak bakal berani ke kantor polisi buat mbebasin Ali

😀

Saya setor lah draft cerita saya ke Manager saya, [saya seenak udele ngangkat Bang Aswi jadi manager group kami]. Dan sempat terjadi diskusi antara saya dan manager saya. But, overall.. kami benar-benar tidak berkoordinasi mengenai cerita. Lebih banyak kami berkoordinasi mengenai masalah teknis.

Lalu setelah mendapat tanda okey dari manager, saya pun mempublish cerita versi  saya itu.

Nah di sinilah sedikit keteledoran tim kami. Kami tidak memposting tulisan pada hari yang sama. Melainkan hari yang berbeda [daaan sangaaat jauh jaraknya!].Ini sempet diprotes sama pakdhe via email ke saya. hiks. suwer, saya jadi gak enak banget waktu itu.

Sehingga pembaca dari tempatnya putri sedikit mengalami kebingungan. Maaf yah buat semua… dan lihatlah.. manager saya pun menutup cerita dengan cukup ciamik dan cantik setelah beberapa hari postingan saya di publish [ PS : waktu itu si manager sempet sedikit menggerutu karena saya memunculkan dua wanita asing di ending cerita saya! hahahahhaa… Tapi terbukti manager memang penulis handal. cerita pelangi ditutup dengan manis yah.. ]

dan, akhirnya… semua berakhir bahagia, buat Ali dan Pelanginya, serta buat kami bertiga. Hehehehhehehehe…

Terimakasih sangat saya ucapkan kepada kedua rekan saya; Bang Aswi selaku Manager group serta Putri selaku pencetus ide dan lagu [terus.. saya ngapain yak? hahahahhahaha…]. kepada Pakdhe Cholik tersayang, kepada mas Ibnu, Bu Piet dan Mbak Iyha selaku Dewan Juri, terimakasih atas pengalaman berharga ini.

Jujur, saya sedikit norak [banyak ding]… karena baru kali ini saya menang kontes menulis *terharu*

girang banget pas buka tali asih dari pakdhe. ini adalah buku yang direkomendasikan oleh seorang kawan! dan ternyata ini jadi tali asih dari PakDhe hehehehhee.. makasih sekali lagi pakDhe 🙂

*postingan ini disponsori oleh : gambar dari tempatnya pakdhe dan [sekali lagi] HP butut saya 😀

tentang C3 [bang…bang..]**

Saya mengenal mereka di tahun terakhir saya di bangku SMA. Sebenarnya dua di antara mereka adalah kawan saya di pramuka

Mereka menyebut diri mereka C3, Cowok Cakep Community [pleasee jangan percaya!] , atau bisa dibilang Cool, Calm and Confidence.

Mereka terdiri dari empat orang. Sebut saja mereka Sendy, Budi, Feri dan Unun. Pertama kali mereka heboh main ke kost-an saya adalah beberapa hari setelah saya menggelar semacam syukuran ulang tahun saya yang ke-17 [inget  gak sih bo dulu jaman SMA jaman nya mbikin sweet seventeen? Hihihihhihihi]. Kalau gak salah inget malam itu adalah malam minggu. Mereka berbondong-bondong dengan beberapa kawan lainnya dateng ke kost-an saya, dan cukup menyenangkan; mereka bermain gitar, hahahahihihi, dan kadang heri [alias heboh sendiri] karena joke internal mereka yang gak saya pahami. Saya lupa berapa lama tepatnya mereka main di teras kost-an saya itu. Yang saya ingat hati saya menghangat didatengi pria sebanyak itu di malam minggu [hahahahhahaa….]

Setelah malam itu, mereka lumayan sering main ke kost-an saya. Entah hanya bertiga, atau berdua, dan saya menyebut mereka gerombolan Saturday Night Club di dalam buku harian saya. Heh? Kenapa begitu is? Karena… belakangan saya tahu bahwa ternyata hobi mereka adalah berkeliling dari tempat kawan wanita mereka hanya untuk mencari makanan gratis [ini beneran loh…]

Di sekolah, mereka berempat berbeda kelas. Unun berasal dari kelas IPA 7, Feri dari IPS 2, dan dua orang lainnya yaitu Sendy dan Budi berasal dari IPS 1, sekelas dengan saya. Mereka berempat bukanlah gerombolan pria yang digilai wanita, mereka hanya gerombolan tukang main, tukang baca komik dan tukang nyari gratisan 😀

Lulus SMA, saya meninggalkan kota satria. Mereka berempat dinyatakan lulus SPMB di Unsoed, Universitas Negri yang ada di kota tersebut. Dan saya mulai kehilangan kesempatan bertemu dengan mereka. Namun yang saya ketahui, walau berbeda jurusan mereka masih sering bertemu.

Apalagi Sendy dan Budi. Inilah uniknya mereka berdua. Kalau dilihat dari perawakan agak mirip Boim dan Gusur di novel Lupus karya Hilman yang beken di tahun 90-an itu [inget gak sih?]. Mereka berdua akraaaaab banget. Pernah naksir cewek yang sama malahan[hahahahahaha. *ups*]. Mereka berdua sejak SMP, SMA, bahkan kuliah pun selalu bersama. Dan yang sedikit mengejutkan, mereka berdua keterima CPNS di intitusi yang sama.

Berasal dari Universitas yang sama, mereka berempat juga nyaris di- DO bersama. Karena masa studi mereka sudah mencapai batas maksimal, yaitu 14 semester. Dan heran nya, bukan salah satu di antara mereka saja yang tersendat menyelesaikan kuliah. Tapi empat-empat nya! Entah apa-apa yang dikerjakan oleh mereka. Ada yang sibuk berorganisasi, sibuk terjun di dunia politik, sibuk cari duit, entah sibuk apalagi.

Dan mereka di nyatakan lulus di tahun yang sama; si C3 itu. Beberapa saat sebelum mereka wisuda saya sempat bertemu dengan Sendy, Budi dan Unun di ruang karoke [hahahaha. Teteup]. Saya menggoda mereka dengan menyatakan siap jadi PW [pendamping wisuda] bagi mereka yang langsung dijawab tidak oleh mereka. 😀

Kesulitan menyelesaikan study tidak membuat mereka menjadi sosok pemuda tak bermasa depan. Sendy dan Budi sekarang sudah menetap di Jakarta, bekerja di salah satu Instansi Pemerintah di bawah salah satu Departemen Agama [bener kagak yah?], Feri sekarang sedang merintis usaha wiraswasta dan sudah memiliki keluarga kecil bahagia yang dikaruniai seorang anak kecil yang lucu, dan si Unun… [inilah bagian terfavorit saya untuk menceritakan] menjadi Kepala Desa salah satu desa di Banyumas dan memiliki kenginan menjadi Bupati [putra daerah yang mengagumkan. cihiyy…]

Kalau melihat ke belakang, saya sedikit takjub melihat mereka dalam posisi mereka sekarang. Why? Entah… ada rasa haru melihat empat serangkai itu sukses di jalan mereka masing-masing. Gak kebayang deh si Unun yang itu jadi kepala desa, secara dulu dia itu orangnya sangat amat penakut, bahkan untuk ke kamar kecil saat kami harus tinggal sampai malam hari di sekolah pun dia gak berani!

foto ini katanya buat cover album perdana mereka. hahahahahhaa...

Hai C3, rangkumkan sebuah kisah klasik dalam kotak kenangan kalian. Kisah klasik tentang kalian; saat nge band bareng [yang ngotot banget itu loh dan masih inget dreamland? hehehehhe] , saat ngajarin aku nyetir :D] saat menjelajah dalam kotak sauna berjalan bersama Forza itu, saat kalian rebutan wanita [hahahahahaha..!] , dan entah saat apalagi…kalian pasti lebih banyak menyimpan kisah nya.

Saya bangga pernah menjadi bagian dari perjalanan kalian, jalan kalian di depan masih terbentang jauh… Begitu juga jalan saya. Dan kita sudah menapaki jalan kita masing-masing, namun saya cukup senang kita pernah bertemu dalam perjalanan kita di masa itu

🙂

Keep bang… bang…!**

*PS : unun, kalau aku ke purwokerto kita karoke yuk. Ajak siapa lagi yak? Secara udah gak ada sendy-budi lagi..

: sendy dan budi, tetap eksis yah di Ibu Kota ! btw sen, sudah ku publish nih tentang kalian, next time lagi yah 🙂

***

** bang… bang biasanya diserukan oleh mereka setelah menyebut C3. C3 bang.. bang.. dengan lafal beng, beng sambil kedua jari telunjuk dan jempol membentuk seperti pistol

postingan kisah klasik ini disponsori oleh foto dari sendy, kisah klasik untuk masa depan by Sheila on 7 dan sekotak kenangan tentang masa SMA

kuliner minggu ini…

okey, ini berhubungan erat dengan makanan, tapi kalau berharap wisata kuliner, maaf yak… di sini cuman ajang narsis si makanan ajah 😀

hehehehhehehe….

saya mau bercerita tentang beberapa makanan yang saya santap minggu ini. ada yang beli, ada yang di beli in, ada yang bikin sendiri. kagak ada tema khusus atau kesamaan selaen makanan-makanan ini semuanya saya yang makan dan dimakan dalam kurung waktu seminggu ini

🙂

pertama : pempek

saya makan dua porsi sebenarnya, dan baru inget buat motret setelah tandas piring pertama. hehehehehe. saya biasanya makan pempek di jalan tamsis, deket kampus nya si kawan. dan kami pernah loh nongkrong di situ selama tiga jam. ntah apa yang kami obrolkan, saya lupa.

namun, pempek yang minggu ini saya coba berbeda, kali ini saya mencoba pempek Ny. Kamto. dari dulu penasaran pengen nyobain; tapi terhalang suatu kendala; kagak tahu harganya. Takut kemahalan, hehehehehe…

saya lupa waktu itu hari apa, saya dengan enteng melangkahkan kaki soalnya habis menang kontesnya pakdhe ke Ny.Kamto di deket Ramai Mall, di daerah Maliobro. dan ternyata… pempek nya harganya murah euy! Yah gak se murah pempek yang di jual di depan SD Blimbingsari sih, tapi gak semahal bayangan saya. Pesanan saya di total-toal habis 20rb an untuk satu teh, satu lenggang panggang dan satu pempek kapal selam.

pempek kapal selam

saya ingat memotret setelah menghabiskan lenggang panggang.dan rasanya enak! Ikan tenggiri nya kerasa banget, terus telurnya itu dalemnya gak pecah pas di belah, terus pinggirannya warna bisa putih begitu. Overall, lumayan deh. Sebenarnya ada semacam toping [ini yang membedakan dengan pempek langganan saya di Tamsis], topingnya itu kek mie kuning sama mie putih yang biasa kita jumpai di bakso-bakso itu loh.

Pempek Ny. Kamto bisa dijumpai antara lain di Jalan Gejayan [sebelum bakso Pak Narto] , di dalam Ambarukmo Plaza [depan carefour kalau gak salah]  dan di deket Ramai ini.

kedua : Molten Cake

saya adalah pemburu paket Attack di KFC. sebut merk kagak apa-apa kali yah bo? itu loh paket nya mahasiswa kere [kek saya] yang berisi satu sayap, nasi dan soda ukuran reguler.  Jadi beberapa hari yang lalu saya ber-attack ria. terus saya penasaran sama salah satu menu baru di menu Goceng nya KFC [kalau yang murah-murah begini saya mah hafal!]; yang namanya Molten Cake. di gambar iklan yang di belakang mbak-mbak nya itu sih kek nya gambarnya besar dan enak dan hmmm… nyummy! Mengingatkan saya akan chocomelt kesukaan saya.

Saya akhirnya memesan molten cake [tentu saja selaen paket attack yang sudah di sebutkan di atas] 😀

molten cake VS chocomelt favorit saya

okeh perbandingan nya adalah seperti ini : keduanya sama-sama terbuat dari cokelat yang menggiurkan, namun molten cake memiliki tekstur yang lebih padat dibandingkan chocomelt. Tetapi, chocomelt memiliki cokelat yang akan membanjiri begitu kamu memotong kue itu.

Untuk harga jelas beda; Molten Cake hanya berharga Goceng [ditambah pajak jadinya 5.500] sedangkan chocomelt, walau di awal muncul hanya diberi harga 6.500, namun sekarang harganya sudah menjadi 12.500

ketiga : Capcay Goreng

Okeh, setelah puas jajan di luar, hari kamis kemaren saya memutuskan berjibaku di dapur lagi. setelah bosan membuat soup, saya berkeinginan membuat Capcay. toh lebih banyak sayuran nya.

Total-total, saya memasak untuk porsi tiga orang yang Alhamdulillah langsung dihabiskan oleh saya dan Agil. Resepnya mana is? Saya nyontek di mana, lupa! Hehehehehehe… yang jelas… ujung-ujung nya saya seenak jidat mencampurkan bumbu dan menambah daging cincang di dalamnya.

capcay goreng bikinan saya, aseli loh! 😀

keempat : chocoball

kalau yang ini setelah nyontek dari tempatnya Bu Piet, pas saya liat kok mudah mbikinnya. dan bahannya juga gak sulit-sulit banget, tinggal naek sepedah ke pasar swalayan deket rumah, dapet deh.

dan kemaren, sambil nungguin tukang yang mberesin atep rumah kontrakan saya yang pada bocor, saya iseng nyobain itu resep. berhubung pas ke swalayan kagak ade meses warna-warni, akhirnya cuman pake mese warna cokelat deh, Jadi beginilah hasilnya:

chocoball versi ais ariani 😀

dan setelah sukses mbikin ini dan dipuji oleh adek saya, saya meng-sms mamah. biasa, saya kan suka norak kalau udah bisa mbikin sesuatu yang baru. setelah cerita-cerita, mamah bilang kalau itu mah namanya biterbalen.

oh, jebule mamah saya tahu toh cemilan ini. dan bener kata Bu Piet, cemilan ini mudah ini bener-bener pas banget buat mengisi waktu luang. so, kalau besok minggu gak ada kerjaan.. bagaimana kalau membuat nya?

***

itulah tadi keempat makanan yang saya masukkan ke dalam perut buncit saya ini minggu ini. saya tidak pandai mendeskripsikan soal rasa, tidak seperti mereka-mereka yang ada di TV. namun, semoga tulisan saya ini bisa menginspirasi kawan-kawan semua kalau mau mencari cemilan atau makanan. Besok-besok lagi yak!

🙂

tulisan ini disponsori oleh : HP butut saya.