may day

Saya punya kenangan indah mengenai hari buruh. Hari buruh tahun 2009 tepatnya. Saat itu saya sedang dalam masa training di sebuah radio swasta di kota ini. Tugas saya adalah membuat skrip sekaligus men-direct kedua penyiar saya.

Hari itu, 30 April 2009. Saya sudah brainstorming dengan senior saya mengenai tema yang akan diangkat pada siaran esok pagi. Dan skrip yang sudah saya buat pun sudah di setujui oleh senior saya untuk bahan siaran kedua penyiar saya esok paginya.

Namun ada satu masalah; saya tidak memiliki orang sebagai narasumber yang akan diwawancarai sebagai bahan penguat dalam materi yang akan disajikan. Saya gak kenal aktivis buruh. Boro-boro kenal, tahu saja tidak. Apalagi aktivis buruh di Jogja.

Satu-satu nya aktivis buruh yang saya kenal dengan baik adalah Bapak saya, Beliau adalah sekjen di Serikat Buruh dimana Beliau bergabung. Tapi mosok iyah saya meminta Beliau ngomong di radio saya? Apalagi Bapak saya ada di Jakarta. Tapi keren juga sih kalau bisa menghadirkan narasumber tingkat nasional. Kek nya seru dan keren ajah gitu.

Saya akhirnya menelpon Bapak saya. Curhat soal narasumber. Berharap Bapak saya mau dengan sukarela jadi narasumber saya. Tettot.. perkiraan saya salah. Beliau gak mau jadi narasumber saya. Beliau malah memberikan nomor telpon seorang aktivis buruh yang akan memimpin demo pada hari buruh esok haari.

Orang penting lah rupanya si Bapak satu ini. Apalah jabatannya, saya lupa. Tapi saya kan gak kenal. Gemana yah? Mosok ujuk-ujuk nelpon, kenalan, terus minta waktu buat jadi narasumber?!

Saya udah mau menyerah. Saya ingin menggunakan narasumber yang diberikan oleh senior saya saja; seorang aktivitis buruh local tingkat Jogja.

Namun ada semacam suara yang bego-bego in saya di kepala saya;

Heeeeh.. mana ada produser acara prime time kalah sama rasa takut menghubungi narasumber?

Terus, si lemah dalam diri saya menjawab :

“ Tapi kalau nanti si narasumber kagak mau gemana? Nanti kalau ditolak kek gemana?”

“Belon dilakonin! Mentoknya cuman dia nolak. Toh belon berhadapan langsung, cuman lewat suara.”

**

Dan, esok pagi nya dengan sedikit keribetan dan huru-hara, saya berhasil mengubungi Bapak aktivis buruh itu,

seorang aktivis buruh tingkat nasional berbicara secara on-air, diwawancarai dua orang penyiar saya, yang saya produseri.

Hahahahaha. Senang. Tidak ada pujian yang mampir memang, tapi saya menepok dada sendiri. *Bangga*. Berhasil mengalahkan rasa takut, takut untuk menghubungi orang tersebut.

Karena, musuh yang paling susah untuk dilawan adalah diri sendiri! Bukan begitu kawan?

Bagaimana dengan pengalaman Hari Buruh Kawan-kawan? Ikut demo? ATau kejebak macet di tengah-tengah demo?

selamat hari buruh
🙂

postingan kali ini disponsori oleh : gambar dari sini, hari-hari saya di radio itu [hari-hari yang sangat menyenangkan!].

test renang

emang yah BW membawa ide banyak,

tadi malam saya BW ke tempatnya Mamah Olive, yang biasa saya panggil Mbak Nchie. saya baca postingan nya yang Olive nemu HP,

nah di awal postingan ada Olive yang bercerita tentang pelajaran renangnya, terus saya kok jadi inget jaman SMA saya yah?

jadi jaman SMA, waktu mau lulus-lulusan sekolah saya ada test praktek. mata pelajaran yang ada test praktek salah satu nya adalah kesehatan jasmani alias olahraga. nah, dalam Ujian Praktek Olahraga ini salah satu nya adalah berenang, dimana kami siswa-siswi kelas 3 harus ke kolam renang berramai-ramai dan dinilai kemampuan berenangnya.

satu angkatan di SMA saya ada 9 kelas. dua kelas IPS dan sisanya kelas IPA. seingat saya, dari 9 kelas, untuk kedamaian dan kesejahteraan Bapak Pengampu mata Pelajaran Olahraga, dibagi menjadi tiga gelombang.
kelas saya, IPS satu bergabung bersama IPS dua dan IPA tujuh dalam satu kelompok untuk dinilai di hari yang sama.

di hari yang cerah itu, saya bersama rekan-rekan wanita lainnya yang tergabung dalam gelombang yang sama bergerombol di pinggiran kolam. Ukuran kolam standart nasional, kalau gak salah panjang 50m dan lebar 25m, dengan kedalaman terbagi 3. di ujung kanan atau kiri sekitar 125cm, dan ditengah sekitar 2m atau 200cm.

nah… pengampu mata pelajaran olahraga membagi kami sesuai kemampuan, untuk dinilai. kelompok-kelompok tersebut adalah :

– kelompok C untuk mereka yang hanya mampu kecipuk-kecipuk di pinggir kolam
– kelompok B untuk mereka yang belum begitu mahir, sehingga ujiannya berenang dengan jarak tempuh lebar kolam renang (25m x 2 )
– kelompok A untuk mereka yang sudah cukup mahir, sheingga ujiannya berenang dengan jarak tempuh panjang kolam renang (50m x 2 )

namun, pembagian kemampuan itu bukan berdasarkan kemampuan sesungguhnya, tetapi berdasarkan : pengakuan. Jadi kalau kamu ngaku kelompok C, kamu bakal ditaruh di kelompok C.

sebelum nyemplung saya duduk di pinggir kolam renang. liat-liat situasi, sambil ngeliat ke arah kawan-kawan wanita lainnya yang sudah lebih dulu nyebur. dan alangkah terkejutnya saya melihat wanita itu. sebut saja wanita itu dengan sebutan Dyah. argkhhh saya lupa si Dyah ini kan anak IPA 7!

sekilas info sebelum melanjutkan cerita : Dyah ini adalah mantan gebetan nya pacar saya waktu itu. Jadi Dyah pernah diakui oleh si pacar [iye, pacar saya waktu SMA, bukan si captain] sebagai wanita yang pernah ia kejar-kejar. sudah ditembak, tapi ternyata si Dyah udah punya pacar. tapi si Dyah gak nolak waktu ditembak, malah teteup mau aja dideketin [dassssar perempuaaan!!. hahahahhaa…]. dan saya cemburunya amit-amit ama nih orang waktu itu. Jangankan ngeliat mukanya, denger namanya aja saya suka sewot waktu itu.

nah sewaktu Bapak pengampu mata pelajaran olahraga menanyai siapa yang masuk kelompok apa, Dyah ini menjerit-jerit; “aku kelompok B pak! aku B!! aku B!”

wekksss.. saya gak mau disamaian kelompoknya sama dia., walaupun saya tahu kemampuan saya di kelompk B aja udah lumayan, rata-ratalah. bisa lah berenang 2x25M dengan sedikit ngos-ngosan *kalem* :mrgreen:

tapi saya gak mau di sama-in, saya harus punya kelebihan. entah kenapa, ego saya sebagai seorang wanita kesentil. Maaf yah, saya lebih hebat daripada kamu [baca : cemburu tanpa alasan] .

saya dengan gagah berani bilang; “pak… saya kelompok A”

padahal.. padahaaal.. berenang bolak-balik 2x25M ajah saya masih ngos-ngosaaan!! aliasnya , aselinya : saya harusnya masuk kelompok B.

namun, dasar waktu itu masih jiwa muda: gede nafsu dibandingin tenaga.

Tiba saat sang Guru akan menilai kelompok A, saya menuju ujung kolam renang, siap mengambil posisi. Karena diantara kawan-kawan sak gelombang hari itu yang terdiri dari 3 kelas, ternyata hanya ada empat atau lima orang yang berada di kelompok A.

dari ujung kolam seperti ini lah saya memulai

kawan karib saya ketawa cekikikan melihat saya bergaya di ujung kolam, karena dia paham alasan saya berada di kelompok A.

begitu bunyi priiiitt…
saya penuh semangat nyebur dan bergaya katak [gaya andalan saya, selaen gaya batu].

penuh semangat.. hap.. hap.. hap…

rasanya sudah hampir sampe di ujung dan rasanya paru-paru saya memberontak. rasanya seperti dipukul-pukul, argkhhhh….!!!!

saya meraih dinding pinggir kolam. take a break. ngambil nafas. berhenti. begitu saya melongokkan kepala; ternyata saya baru berrenang seperempat panjang kolaaam. [!!!!!]

ow em jiii…. padahal rasanya saya udah mau mati. ternyataaaa belum ada separuh. masih harus menempuh tiga perempat dan satu kali balik…

rasanya saat itu saya mau berhenti aja dah. mau ngaku ke Bapak Guru kalau saya bo’ong soal kemampuan saya. Tapi sammma kek wanita bernama Dyah itu? ogaaah!!

maka saya mengumpulkan semua energi, semua cemburu, semua emosi deh [termasuk harga diri! hahahahaha] untuk melanjutkan sisa jarak tempuh.

dan guess what? saya berhasil menyelesaikan nya! 2x50M, walaupun dengan waktu tempuh yang paling lelet diantara yang lain. tapi saya berhasssil!

dan terpuaskan sudah rasanya si ego ini. :mrgreen:
dan itu pertama dan terakhirnya saya berrenang dengan jarak tempuh sejauh itu, tanpa berhenti lebih dari semenit. karena aselinya saya emang gak bisa berenaaang

so do you think you can swim?

si pacar waktu itu ketawa ngakak pas saya ceritain kejadian itu. dia cuman bilang; “ada-ada aja.. dasar cewek”

see.. wanita itu bisa melakukan apa saja. sekali lagi : APA SAJA untuk sebuah alasan kecil. sebuah alasan kecil tidak jelas bernama cemburu. dan ternyata kekuatan cemburu dahsyat juga.

*setelah diinget-inget lagi : konyol bener dah tindakan saya waktu itu…
😀

postingan kali ini disponsori oleh : mbak nchie atas obrolan di meja makannya, gambar yang saya temukan di sini, mbak-mbak bernama Dyah [sekarang saya udah gak cemburu lagi loh sama mbak. beneran 😀 ], kolam renang tirta kembar yang katanya udah gak ada [terimakasih atas kenangan nya! ].

satu tahun yang lalu

cieeh sok nostalgia.

ternyata tanggal 29 april itu bukan hanya hari nikahnya mantan saya yang paling jaya itu
*kalau ada yang bener percaya sama kata-kata tersebut, harus baca postingan saya sebelumnya.

Tanggal 29 April tahun lalu, *kalau gak salah saya pernah dapet undangan dari sahabat saya. Namanya tiiit *di sensor*, saya biasa memanggil dia Chulun. Si chulun ini sebenarnya kakak kelas saya jaman SMA. satu tingkat di atas saya.

Lulus SMA, si chulun merantau ke Palembang, setahun di sana, dia didepak ke Lampung dan menetap di sana hingga saat tulisan ini diturunkan. Oh iya sebelon ada salah paham mengenai jenis kelamin, si Chulun ini ber- jenis kelamin pria.

saya sering curhat sama dia. dulu saya naksir sama kawan sebangkunya pas SMA. tapi saya malah dekatnya sama si Chulun. biassa lah.. nitip salam, sambil tanya-tanya kalau di kelas si gebetan ngapain.

usia ngegebet saya ke kawan sebangku si Chulun kandas cuman seumur jagung, tapi persahabatan saya sama Chulun masih berlanjut. paling tidak sampai tahun lalu, saat dia memutukan menikah dengan wanita pilihannya.

kenapa kandas?
Karena saya menghargai wanita pilihannya. karena wanita itu cemburu pada saya. karena wanita itu memusuhi saya. karena wanita itu menjadi penyebab saya gak boleh sering-sering sms dan kirim email [apalagi nelpon!] ke Chulun.

padahal, saya juga sebal sama wanita itu! saya yang berkenalan lebih dulu dengan Chulun, saya yang masuk terlebih dahulu dalam kehidupan Chulun. Saya lah pokok nya yang lebih ber hak deh kalau main sebel-sebel an.

tapi itu dulu, saat Chulun baru memadu kasih dengan wanita itu.

Namun saat Chulun memutuskan menikah dengan wanita itu, saya tahu diri; saya hanya seorang teman di mata Chulun. walaupun kita pernah makan malam romantis di atas bukit, walaupun kita pernah saling berbagi rahasia terdalam, tapi bukan saya yang akan jadi pendampingnya. bukan saya yang akan jadi makmum nya

saya cuman tokoh numpang lewat dalam drama kehidupannya. dia melangkah ke jenjang kehidupan nya yang berikutnya tanpa mengajak saya. bukan saya. dan saya memang tidak berharap yang diajak saya.

Sama seperti pernikahan Wills, saya juga tidak datang waktu si Chulun menikah tahun lalu. kenapa is? karena saya ngambek. Gara-gara dia gak mau angkat telpon dan membalas sms saya beberapa minggu sebelum hari H. [ngambeknya alasan nya kek anak kecil banget yak?!?!]

dan harusnya saya maklum, bisa jadi hal tersebut terjadi karena dia memang sibuk. Toh saat hari H, dia masih berusaha menghubungi saya, menelpon saya berkali-kali. Tapi saya teteup ngambek. Teteup gak mau bales sms dia, message via FB nya, telponnya,

tetapi saya menyesal nyuekin dia dan gak datang di hari ia berbahagia. saya menulis postingan di blog ini, setahun yang lalu.

dan beberapa bulan yang lalu, tiba-tiba dia menyapa saya di YM. dia bilang kangen. saya ketawa ngakak. saya bilang, saya juga. dan saya minta maaf atas ke‘ngambek-bombay’ an saya pas dia nikah.

lucunya, ternyata dia membaca postingan saya yang saya buat saat dia menikah. dia bilang dia terharu, dan dia sudah memaafkan saya yang tidak datang di hari bahagianya.

saya senang. karena ternyata tulisan saya mampu menyampaikan apa yang saya maksudkan, dan bermanfaat ternyata!
[walaupun seringnya berlebihan 😀 ]
hehehehhehee…

ps : kalau ada yang penasaran sama isi postingan saya buat chulun, klik di sini,
atau di sini saya lampirkan sedikit cuplikan dari postingan itu:

hai chulun..apa kabar kamu?

Semoga kamu baik-baik saja,sudah hampir seminggu undangan pernikahan elektronik berbentuk message di facebook aku terima,dan aku masih belum percaya kalau aku (akhirnya) tidak datang di hari sahabatku menikah.
Menyesal kah aku?

Sangat.Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akhirnya tidak melihat kamu bersanding dengan wanita pilihanmu…
Padahal,masih jelas dalam ingatan ku bagaimana kencan pertama mu dengan nya (*yeah..bagian kamu bolos dan mancing sama dia),lalu bagaimana kalian bertengkar,bagaimana kamu mati-mati an membela dia di depan orangtua mu,sampai bagian ketidak suka an dia sama aku (lewat sms : maaf yah Lun,cewek ku gak suka kalo aku sering-sering sms kamu).

……..

Aku memutuskan pada akhirnya untuk benar-benar melepasmu sebagai sahabat.Tidak ada lagi yang tersisa,kecuali email-email kita yang masih membuat aku tertawa kala aku membacanya lagi,kecuali cerita persahabatan sewaktu SMA kita bersama dua orang kawan lain nya yang mungkin tidak pernah murni persahabatan,

Sedih?Pasti.Sangat.
Kamu tidak tahu bagaimana rasanya menahan keinginanku untuk membalas telpon dan sms mu..
Kamu tidak tahu kalau aku meminta kawan mu untuk menceritakan bagaimana wanita pilihan mu..
Kamu tidak tahu bahwa aku menyesal dan bingung memulai memperbaiki hubungan dengan mu..

Aku masih peduli,tapi tidak tahu bagaimana caranya.

I’m happy for you,Lun..
absolutely happy for you.

Congrats on your wedding,Lun.

*eheeem.. ini mah bukan cuplikan, namanya menyadur!
hahahaha. awass kagak ada yang boleh protes
:mrgreen:

kopimu sudah dingin!

hati – hati, kopimu yang mulai mendingin jangan kau tinggalkan untuk teh hangat dikala hujan.
Bubuhkan hanya sedikit gula sebagai pemanis,
tetapi simpan dulu krimnya untuk pilihan minuman yang terbaik.
minuman untuk menemanimu, bukan hanya dikala hujan,
tapi juga di pagi yang cerah

seorang kawan pernah mengirimkan sms seperti itu untuk saya. Saya lupa dia mengirimkan untuk apa. Tapi saya pernah menulis kata-kata tersebut di draft. dan entah mengapa, saya ingin menaruh kata-kata tersebut di sini, sekarang.

terimakasih, Cesar

🙂

I think that possibly
Maybe I’m falling for you
Yes there’s a chance that I’ve fallen quite hard over you

[ falling in love at the coffee shop – by Landon Pigg ]

silahkan patah hati!

dalam hitungan hari lagi, saya bakal patah hati berat. Bukan karena si Captain, ah dia mah masih menanti untuk dijadikan bahan postingan, ada yang lebih seru, mengharu biru dan menyayat pilu *berlebih.

dalam hitungan hari, saya akan kehilangan pria lajang idaman saya. saya patah hati. berulang kali saya ditinggal menikah oleh para mantan, tapi yang kali ini lebih menyayat sembilu *sumpah, gak ada kata-kata yang lebih berlebihan lagi pho is?

dan dalam beberapa hari ke depan; saya harus puas-puasin memandang wajahnya, mendengar senyumnya (eee?), melihat tatapan malu-malunya.

ah entah… saya sanggup atau tidak datang ke pernikahannya. Maksud saya, saya kan bukan Oki mantannya Pasha yang datang ke nikahannya Pasha waktu itu dan jadi bahan infotainment. Bukan pula Anang, yang dengan gegap gempita datang ke pernikahan nya KD dan Raul.

saya kan cuman ais ariani, si drama Queen yang suka berlebihan. Gemana kalau saya gantung diri melihat mereka bersanding? Gemana kalau saya jatuh di jembatan di atas kali Code?

September 2010 lalu si mantan menikah, dan saya mendapat kabar dari senior saya.
Kabar dari senior saya ini manis deh, dia memberikan kabar tersebut sambil memposting kata-kata cantik di wall FB saya;

You know, it’s nothing new
Bad news never had good timing
Then, circle of your friends
Will defend the silver lining

dan saya udah berterimakasih dan berurai air mata; hebat sekali si senior, berkarya sebuah kalimat ciamik buat mendukung suasana patah hati saya. eh ternyata itu penggalan lagu nya John Mayer; Heart of Life [itu lagu sumpeh bagus loh…].

Selain ditemani oleh postingan wall dari senior, seorang kawan juga membuat list saat hari H si mantan menikah. Saya disuruhnya untuk :

– menjauhi benda tajam
– menjauhi jembatan atau balkon kontrakan atau tempat tinggi lainnya
– gak usah berharap diundang, apalagi datang kalau diundang, kalau timbul drama bisa repot nantinya. Gak lucu pas ijab kabul salah nyebut nama
– jauhkan segala macam alat komunikasi [yup, semua berita itu akan datang ‘meneror’ dalam bentuk SMS gosip menanyakan; ‘eh si itu menikah hari ini loh, udah tahu belon?‘ sampai reportase langsung dari TKP, berikut foto-fotonya!! di FB]. So, hindari membuka FB saat hari H
– jangan sendirian, habiskan waktu bersama sebanyak mungkin orang. Nonton konser adalah ide yang bagus, asal jangan nonton konser nya Glenn Fredly.
– kalau kamu tidak mendapatkan undangan langsung dari mantan kamu artinya : si mantan tidak mengundang kamu, mungkin karena dia tidak mau kamu bersedih. Bukan karena dia sudah melupakan kamu, ingetkan beberapa hari sebelumnya si dia masih menasehati via YM? Dia masih peduli, 😉

patah hati itu menyedihkan, tapi lebih menyedihkan lagi saat kamu gak bisa berbagi dengan orang lain saat patah hati.

Makanya saya mau berbagi sama kamu saat ini, saat beberapa hari lagi si dia akan menikah. Saya sedang mempertimbangkan untuk datang atau gak… secara… si Captain gak bisa ikut. Maksudnya; siapa yang bakal jadi pasangan saya? Ketahuan banget kan kalau saya patah hati jika datang tidak membawa pasangan?!?

hiks… hiks…
siapa yang akan menemani saya, atau saya gak perlu datang yah ke wedding of the year itu?

dan betapa mencelos hati saya, ternyata diantara para mantan yang diundang, nama saya gak ada!
hiks
😦

mereka mengundang Mr Bean! juga David dan Victoria Beckham! Elton John juga diundang. Kenapa saya enggak?

Tapi… sekali lagi : kalau saya diundang, apakah saya bisa datang? Inggris kan jauh bo, mamah saya bisa minta ikut, adek saya bisa nitip macem-macem, belon lagi kalau nanti saya ngebet pengen ke Liverpool, haduh.. haduh.. jadi jumat besok saya dateng gak yah?

si dia yang akan menikah Jumat besok

jadi, apakah kamu akan datang?

udah cek email, kotak pos kamu? dapet undangan ini gak?

*postingan sangat amat tidak penting [namun saya akui menghibur buat saya! hahahahaha] ini disponsori oleh : daya imajinasi saya yang berlebih, PMS akut tipe C, gambar dari sini dan juga dari sini ,

sebelon manyun menghadapi hari selasa, senyum dulu yah 😀 hehehhehehe

huru hara di ruang karoke

Saya hobi karoke. Cuman hobi dan gak jago nyanyi loh. Senang saja dengan ide : berteriak-teriak-layaknya-superstar-tanpa-ada-yang-mengira-saya-gila. Hehehehehe… biasanya partner karoke saya adalah kawan-kawan kampus saya, yang menjadikan ritual karoke semacam katarsis setiap selesai Ujian.

Namun diantara jam demi jam di ruang karoke, yang paling berkesan adalah karoke weekend kemarin. Kenapa?

Karena saya menghabiskan dua jam di ruang karoke bersama; tiga ABG, satu anak kecil, dua balita, satu manula serta tiga orang dewasa.

Yup, longweekend kemarin Purwokerto dijadikan meeting point sekali lagi oleh keluarga saya. Bapak dan mamah saya berangkat dari Jakarta menjemput keluarga kecil kakak saya di Cirebon lalu rombongan kecil itu berangkat ke Purwokerto bertemu dengan keluarga si oom yang memang berdomisili di kota Satria itu. Dan si artist satu ini *menunjuk diri sendiri* menyusul menemui mereka semua dari Jogjakarta.

Hari jum’at setibanya di Purwokerto, saya mengajak mamah saya karoke. Biasanya yang hobi dan langsung mau diajak karoke adalah mamah saya dan adek saya. Berhubung si agil gak ikut dalam huru-hara longweekend kemaren, saya hanya mengajak mamah saya. Dan entah bagaimana cara dan bujuk rayu mamah saya, akhirnya yang masuk ke ruang karoke adalah :

  1. Saya, ais ariani si artist utama
  2. Mamah saya, penyokong dana
  3. Tante saya, istrinya oom yang doyan banget nyanyi tapi suaminya gak pernah mau kalau diajak karoke
  4. Sasa, ABG yang masih duduk di Bangku SMP kelas satu, anak pertama  Tante saya
  5. Yaya, ABG kelas 5 SD yang tomboy banget, anak kedua Tante saya
  6. Avis, kalau ini sih masih anak kecil yang duduk di kelas 3 SD yang hobi banget make kaos nya David Villa tapi membela tim Madrid di Liga Champhions, ini anak ketiga Tante saya
  7. Nisa, balita centil berumur 4 tahun, anak bungsu Tante saya.
  8. Mbah putri, Ibu nya Tante saya yang tanpa dosa diseret [tidak secara harfiah loh] ikut dalam keramean ini.
  9. Mbak vety, kakak ipar saya yang keikutsertaannya tidak bisa tidak membawa;
  10. Zaidan, si kecil keponakan saya yang berumur 9bulan.
  11. Mbak Sari, pembantunya Tante saya [kenapa dia bisa ikut yak? kalau yang ini termasuk ABG sebenarnya. hehehehehe]
rombongan huru-hara karoke, minus mamah saya dan mbak vety yang udah ke luar duluan, gara-gara si kecil Zaidan ngambek

Heran nya, kok mereka yah mau aja ngikut saya dan mamah saya. Hahahahahaha. Yang ada saya gak banyak megang mic. Saya kebanyakan jadi operator dan tukang gendong Zaidan. Secara kakak ipar saya heboh ikutan nyanyi sewu kuto-nya Didi Kempot sama  caiyya-caiyya nya Norman [percaya atau gak, video klip caiyya caiyya ada Norman nya loh di ruang karoke itu, dan yang request lagu itu adalah avis, yang bisa nyanyi cuman bagian caiiyaa… caiyyaa… caiyyaa…].

Zaidan belon bisa nyanyi, tapi sudah bisa bergaya 😀

Dan komposisi lagu paling aneh yah saya alamin di karokean kali ini;

Sasa, ABG tanggung itu heboh minta lagunya Bieber, dan adek-adeknya yang dua orang itu ikut-ikutan joget [dan juga nyanyi!] pas kakaknya nyanyi. Si kecil Nissa? Ngintil sama Ibu nya yang heboh minta lagu-lagu tempo dulu sama saya, si operator. Sementara mamah saya jerit-jerit dari pojok ruangan; minta lagunya Ungu.

Namun selaku artist utama gagal dan memposisikan diri jadi operator, saya ingin semua orang senang, saya menemukan lagu yang bisa dinyanyikan Nisa; Satu Dua Tiga Empat-nya Bu Kasur, Hai Becak, Tik..tik.. bunyi hujan.

Lagu Bieber adalah lagu yang paling banyak dinyanyikan [dan saya cuman bisa geleng-geleng kepala, karena saya tidak paham sama sekali sama lagu-lagu itu], ada lagu surat cinta nya Nur Afni Octavia, ada lagu Fireworksnya Katy Perry [ini mah pilihannya saya] dan saya sempet berduet sama si Yaya buat nyanyi lagunya Bruno Mars yang Just The Way You are.

Karokean yang seru dan saya tidak sabar menunggu Zaidan cepat besar agar dia juga punya suara untuk meminta lagu macam apa yang ingin dia nyanyikan. Hehehehehehehe….

Bagaimana dengan loongweekend kamu?

avis dan Yaya, kakak ber-adik yang doyan njoget JB

dalam kenangan

Saya mengontrak rumah di daerah Terban [sarangnya preman katanya, tapi suwer… saya bukan preman loh. hehehehehe] bersama adek saya yang paling ganteng itu. Awalnya kami berbagi rumah dengan dua kawan lain, namun sudah dua tahun terakhir ini saya dan adek saya hanya tinggal berdua saja, bersama beberapa binatang lain nya.  :mrgreen:

Selama tiga tahun saya tidak kenal banyak tetangga, saya hanya tahu pak itu rumahnya di situ, pak RT istrinya yang itu, Bu hesty yang baru lahiran dua bulan yang lalu itu ternyata namanya Bu isty. Diantara tidak begitu banyak mengenal tetangga, adalah Pak Nur, seorang Bapak yang cukup dekat dengan saya dan adek saya.

Walau Beliau tidak tahu, saya mengangkat Beliau jadi Ayah saya di lingkungan ini. Karena tiap kali mau pergi dan Beliau ada di depan rumahnya, dia pasti menyapa saya; bertanya saya mau kemana, kuliah kok siang-siang, kok udah dua hari tidak kelihatan. Dan waktu air di kontrakan saya mati, Beliau mengijinkan saya dan adek saya menggunakan kamar mandinya sekaligus mengambil air sak ember dari rumah dia.

Yang cukup mengharukan adalah kebiasaannya menyapu teras rumah dan jalan depan rumah saya yang selalu berantakan. Beliau selalu menyindir saya yang pemalas ini, tapi saya senang di sindir oleh Beliau, karena menandakan betapa Beliau peduli pada saya dan adek saya. Beliau hafal loh kapan dalam seminggu saya ngepel dan nyapu rumah saya.

Hal terakhir yang Beliau bantu adalah saat keran kamar mandi kontrakan saya patah. Adek saya yang ganteng tapi tidak terlalu pandai bertukang itu tidak mampu membetulkan keran yang patah itu.

Kelimpungan kami, air sementara kami matikan dari keran pusat. Putar otak, huru-hara di pintu kamarmandi. Sampai akhirnya Pak Nur mengetahui hal itu, dan ikutan dalam pesta-huru-hara-membetulkan-keran-kamar-mandi-kami. Dan tarraaa… Pak Nur ternyata lebih jagu bertukang daripada adek saya!

Beberapa hari setelah membetulkan keran air, Pak Nur bersama anaknya ada di depan jendela kamar saya [jendela kamar saya memang langsung menghadap jalan setapak] sedang membetulkan motor. kami sempat berbincang di situ, berbincang tentang oleh-oleh yang saya berikan, tentang motor yang rusak dan tentang kuliah saya yang libur.

Tidak saya duga, ternyata itu adalah pembicaraan kami yang terakhir, karena dua hari setelah itu, Pak Nur meninggal dunia.  Penyakit jantung katanya. Saya sedih, tiap pulang kuliah saya kadang masih berharap melihat Beliau duduk di kursi biasa, menyapa saya dengan senyum manis; “Baru pulang Mbak ais?”

But, Life must goes on…

Tidak ada yang abadi di dunia ini.

Satu lagi tetangga saya yang saya cukup kenal baik. Bu Hesti [yang ternyata bernama Bu Isti]. Bu Isti tinggal di samping rumah saya, bersama suami, kedua orangtua  yang biasa saya panggil ‘mbah kakung dan mbah putri’ serta seorang anak yang baru lahir dua bulan lalu. Mbah Putri beberapa bulan lalu jatuh di kamar mandi, sehingga kegiatan Beliau sehari-hari hanya dilakukan di tempat tidur. Sedangkan Mbah Kakung menderita stroke ringan, hingga berjalan dan berbicara pun sulit.

Saya selalu mengagumi betapa lapangnya hati Bu Isti sekeluarga hidup dalam keterbatasan yang mereka miliki. Bahkan mamah saya selalu memuji ketabahan hatiBu Isti yang selalu mampu memberikan pertolongan tiap kami meminta bantuan.

Mbah Kakung adalah sosok yang menurut saya lucu dan ramah. Dia sanagt sulit berbicara, jadi kalau saya bertemu sama Beliau di depan gang, saya biasanya menyapa ramah dan bilang; “Mbah… ais pergi dulu yah..” nanti dia balas tersenyum. Begitu juga kalau saya pulang, Beliau dengan sedikit bergumam; “Pulang?” nanti saya menjawab panjang lebar.

Dan sapaan itu sekali lagi menjadi sapaan hangat bagi anak rantau kek saya yang sering mendapati rumah dalam keadaan kosong. Namun sapaan itu tidak akan ada lagi, karena Mbah Kakung sudah kembali ke hadapan Nya. Beliau meninggal dunia pagi tadi pukul sepuluh.

Saya nyaris menitikkan air mata saat saya berhasil menemui Ibu Isti sepulangnya saya dari luar kota siang tadi. Masih berbalut kesederhanaan, Beliau memohon maaf kepada saya kalau Mbah Kakung punya salah. Ingin rasanya saya memeluk Bu Isti dan si kecil Cahyo yang ada di gendongannya.

Tapi, saya tahu.. Mbah Kakung sudah diberikan yang terbaik, begitu juga dengan keluarga yang ditinggalkan. Tidak ada lagi sapaan hangat itu, namun di hati saya selalu ada senyum indah milik Pak Nur dan Mbah Kakung di hati saya.

Oh iya, sebelumnya saya juga mau mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya salah satu dosen dari jurusan saya yang dulu. Beliau adalah dosen hebat yang tetap mempertahankan cara ‘menghafal’  dalam mata kuliah yang diampunya [dan percayalah, metode itu berguna banget buat memahami pemikiran dan nama-nama filsuf].

Semoga Beliau-Beliau ditempatkan di sisi Nya, sesuai dengan amalan dan perbuatan di dunia. Dan semoga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan.

Although it’s difficult today to see beyond the sorrow,
May looking back in memory help comfort you tomorrow.


PS : asisten saya bernama schedule telah membantu saya beberapa hari belakangan ini saat dimana saya menghabiskan weekend di luar kota. So, maaf yah belon sempet BW dan bales komen kawan-kawan. But i’ll be back. ASAP 🙂