anak dan hukuman

Salah satu mata kuliah favorit saya saat baru belajar di kelas matrikulasi psikologi satu setengah tahun yang lalu adalah psikologi pendidikan. Bukan hanya karena dosen yang mengajarkan begitu menyenangkan, namun karena saya tertarik dengan pendidikan. Saya jatuh hati pada dunia pendidikan saat menyusun skripsi dulu.

Skripsi saya dulu menyangkut dunia pendidikan, berkaitan dengan homeschooling dan penerapannya di Indonesia. Kaitan nya dengan filsafat sebagai jurusan kuliah saya di S-1 dulu adalah bagaimana Aliran Pendidikan Pembebasan memandang model pendidikan homeschooling tersebut.

Kenapa homeschooling?

Karena someday saya punya impian untuk mendidik anak – anak saya sendiri di rumah. Selama sistem pendidikan di Indonesia masih berpusat pada kurikulum, selama itu juga saya masih belum bisa percaya pada pendidikan formal di negri tercinta ini. Bukan sok – sok an, tapi saya lebih menyayangkan saat kebutuhan dan minat belajar anak saya mati dan pudar gara – gara sistem.

Lekat dalam bayangan saya adalah kejadian beberapa tahun mendatang :

saat saya mengajarkan si Kakak (panggilan untuk anak saya yang pertama besok) mengenai matematika. Lalu si Kakak malah asyik online, chatting sama sepupu nya, si Abang Zaidan. Yang saya lakukan berikutnya adalah : menegur dia secara perlahan, kemudian melanjutkan belajar matematika.

Dan saat tiba makan siang, kakak tidak mendapatkan jatah puding cokelat favoritnya. Saat dia bertanya (protes) kenapa dia tidak mendapatkan nya, saya menjawab :

“Tadi sewaktu Bunda mengajak Kakak belajar matematika, kenapa Kakak kok chatting sama abang Zaidan? Kan waktu chatting sudah ada sendiri… Kemarin kan kita sudah sepakat kalau jam belajar digunakan untuk belajar, kan kakak bisa online sore hari atau siang hari saat jam makan siang”

Si kakak dipastikan cemberut.

Tapi saya harus melakukan itu sebagai Punishment.

Punishment di definisikan sebagai :  memberikan  stimulus yang menyakitkan atau ditiadakannya stimulus yang menyenangkan ketika respons terjadi sehingga perilaku berkurang atau tidak dilakukan. Dalam kasus si  Kakak, saya meniadakan puding cokelat favoritnya.

Kategori hukuman itu sendiri terdiri dari tiga:

1.      Kehadiran situasi yang tidak menyenangkan

Misalnya ; saat Kakak terlihat chatting dengan si Abang di jam belajar, saya menyuruh dia untuk mengerjakan soal matematika yang sulit

2.      Peniadaan konsekuensi yang positif :

  • Kehilangan apa yang diharapkan pada periode waktu tertentu.
  • Kehilangan penguat positif mengikuti  perilaku yang tidak diinginkan

Misalnya; seperti tidak memberikan puding favoritnya saat anak melakukan kesalahan.

3.       Pengalaman yang berlawan dengan pelanggaran (menunjukkan cara yang benar)

Misalnya dengan memberikan contoh untuk tidak SMS an, chatting, telpon – telpon an saat Kakak belajar.

Namun yang harus diingat adalah ; peraturan apa yang boleh dan tidak harus di susun bersama dan jelas bagi anak.

Itu semua saya pelajari di kelas Psikologi Pendidikan, di bagian Operant Conditioning Theory. Dimana dipelajari juga mengenai Reinforcement (penguatan).

Tulisan ini saya simpan untuk bekal membimbing anak saya besok, walau saya belum berpengalaman mendidik anak dan walaupun banyak orang bilang teori itu nantinya akan sia – sia, tapi saya yakin sebaik – baik nya ilmu adalah ilmu yang bermanfaat dan bisa di aplikasikan dalam kehidupan kita.

Semoga teori ini bisa segera dipraktekkan

Hahahhahahahaha.

Special request by Mbak Dev yang meminta saya menulis tentang hukuman. Kurang banyak yah Mbak? Ada banyak yang bisa di eksplore dari hukuman anak ini, termasuk metode ‘time out’ itu…

 

* postingan ini dengan meminjam gambar dari sini dan sini

🙂

22 Comments

Filed under [drama] cinta melulu, [drama] lepas

22 responses to “anak dan hukuman

  1. Dari awal sampai akhir saya baca, cuma tertarik dengan kalimat yang ada di dalam kurung. Itu lho, tentang nama si kakak, haha…

    — ahahhahahahaha so drama yak mass..😀 —

  2. Jadi mau tanya, kapan mau punya anak😛

    — secepatnya!
    hahahhahahaha. mas mood inni. nikah aja belon mas😀 —

  3. tengkyu mbak artikel yang bermanfaat
    bisa menjadi referensi saya kelak dalam mendidik anak-anak..

    kemarin nanya saya, ya saya asli banyumas mbak.. bisa ngapak ngapak hehe…

    — hehehehhee. samimawon, di simpan dulu dengan baik dan benar artikel nya berarti yah mas.
    aku juga bisa ngapak mas. tapi dikiiittttttt banget. —

  4. wah mbak psikofat dong….psikologi campur filsafat…:)

    — iyah, dulu sebelon jadi mahasiswa psikologi, aku pun sudah menerima gelar itu.
    untung kagak jadi psikopat beneran yak (apa udah? hahahhaha) —

  5. he.. kata2 yang keren menurut saya “minat belajar mati karena sistem” mantap…

    — makasih. karena mungkin itu yang terjadi di kebanyakan anak – anak Indonesia.
    bukan begitu?🙂 —

  6. Asek..asek…Nambah ilmu lagi…
    Makasih mbak udah berbagi,,
    wah saya jadi pingin juga nih homeshcooling
    hihihihihi…
    semoga semua harapannya tercapai mbak..
    salam buat si Kakak ya Mbak..
    *Hloh, emang udah ada?hihiii*

    — ahahhahahahha.. prit innni… nanti salam nya di sampein sama (calon) ayah dulu yah
    *hlaaah?? makin ngelantur deeh.. —

  7. Iya homeschooling akan ngetrend satu dasawarsa ke depan, enggak tahu juga setelah itu, mungkin online schooling lebih ngetrend lagi..

    — mas Gie, online schooling itu kan sekarang jadi bagian dari homeschooling gitu,
    jadi belajarnya basis nya teteup di rumah, materi dan pengajar nya dari mana – mana.
    esensi homeschooling kurang lebih seperti itu
    *mendadak serius*
    hehehehhehehe —

    • Online schooling enggak seperti itu kayaknya..
      Maksud saya, sekolah yang bisa dibuka oleh semua ineter dan ada tema-tema yang bisa dipilih bebas..

      — oh yang kek gitu maksudnya tah
      hehehehhe. maap yak mas. baru ngeh..
      hehhehehehe. jadi maluu.. —

  8. Ya sekarang lagi mulai mengarah kesana. Tapi kami hanya dapat memberikan fasilitas pendidikan gratis dilingkungan kami untuk penduduk setempat yang kami himpun dari sahabat-sahabat. Semoga langkah kita bermanfaat untuk orang banyak.

    Sukses selalu

    Salam

    “Ejawantah’s Blog”

    — waw… yang sudah dimulai itu jauh lebih bermakna loh. sementara aku hanya bisa menulis dan sedikit mengkritisi.
    belon banyak berbuat
    >< —

  9. Mbakyu

    pagi mbak ais, tanpa bermaksud merepotkan saya mau kasih award, kalo gak keberatan di jemput ya🙂

    — tary.. lama ndak muncul, eh memberikan aku award..
    makasssih yah tar. aku meluncur ke sana🙂 —

  10. ais serius ya,
    tapi mau nanya dikit nih.. emang di psikologi belajar bahasa Palembang juga? …
    ais, mau dong artikel psikologi anak remaja….. special request juga nih…:D

    -- belajar bahasa palembang nya waktu di S1 dulu bu Mon, ada mata kuliah bahasa daerah,
    kek nya buat menggenapi SKS. hehehhehehe
    psikologi anak remaja dalam kasus apa bu Mon? itu pernah jadi topik favorit aku juga
    (favorit kok banyak yah?)
    hehehhe --

  11. smg ilmunya bisa diterpakna buat masa depan ntar ya sob…….. amin

    salam persahabatan dr MENONE

    — amiiiiiiiiin.. makasih 🙂 —

  12. cepetaaaaaaaaaaaaaan nikah deh , Mbak Ais.
    biar segera bisa diaplikasikan tuh teori2 yg dah dikuasai ttg pendidikan anak .
    kebayang nanti Mama Ais agak2 galak sama si kakak….xixixixixi……..😛
    salam

    — ahahhahahaha. iyah bun, banyak temen juga bilang gitu. saya kalau udah jadi ibu – ibu bakalan galak sama anak😀
    aamiiiiiin… doakan segera yah bun🙂 —

  13. buat murid-murid disekolah saya menghukum lebih banyak melalui personal approach. menghukum yang mendidik

    cara di atas bagus mbak

    — kak Lely.. terimakasssih…🙂
    huhuhuhuhu. aku dulu sempet kepikiran pengen jadi guru loh. serius.
    tapi kata kawan – kawan, batas kesabaran aku gak bisa masuk kaetgori guru😦 —

  14. uhuiiyyyy teorinya dah manteb banget nih…aihihihii

    — teori nya sudaaaah mantaaap. tinggal praktek
    (hahahhahahahahaha..) —

    • tapi wagu banget nek mengko prakteke ra podo karo teorine…xixixixii

      — hush.. mas langit kok ikut – ikutan mas wien sih
      hahahahhahahahahhaha. hlah nek prakteke bedo yo ra po po no, asal masih sejalan
      *hloh?!?!? —

  15. mampir baca2 teorinya yak…bagus bgt nih mbak🙂

    — bagus dong mas langit.
    *menepok dada bangga*
    hahahahha. jan jane aku rodo isin loh nulis kek gini.
    secara ini baru teori kan…
    >< —

  16. horeeeee…

    makasih ya jeng..tar kusambung deh tulisannya di blogku, suwun suwun…

    btw, piye tesisnya ttg apa?

    — hadoh hadohh.. tiba – tiba keinget deh sama calon tesis yang harus diperbaiki itu
    tentang konflik kerja – keluarga pada orangtua tunggal Mbak, tapi masih harus cari judul laen, karena yang itu kek nya di tolak sama pembimbingku, terlalu kompleks katanya —

    • Is….iku harus dikaitkan sama managemen yak?

      penasaran neliti, pengaruh pengasuhan masa kecil thd pengasuhan kala punya anak…resiliensi, bgmn cara memutus mata rantai pola pengasuhan yg tidak baik, dll…🙂

      — wekss.. banyak banget mbak pengen nya, sini .. sini.. aku mau mbantu. tapi kok semuanya masuk ranah perkembangan yak?
      minat utama ku industri organisasi mbak, tapi aku tertarik banget sama perkembangan. kek nya ada loh tesis tentang pengaruh pengasuhan masa kecil itu. kalau resiliensi itu juga banyak. sempet jadi semacam trending topic tesis (hehehehehhe) —

  17. makasih ais sudah berbagi ilmu, artikelnya bagus.

    — waaah makasih. syukurlah kalau bermanfaat 🙂 —

  18. jika cerita ini bukan drama tapi nyata🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s