berbincang dengan diam

Aku tidak akan pernah lupa berapa detik yang hadir antara helaan nafas mu dari yang satu ke yang berikutnya. Bunyinya yang  terdengar berirama bagaikan alunan musik terindah di telingaku. Lalu kita seperti berbicara, saling menyahut di antara alunannya.

Kamu tidak pernah tahu bahwa aku mengatur helaan nafas ku agar se irama dengan milikmu.  Seolah helaan nafasmu itu berbicara banyak tentang dirimu.

Dirimu yang perlahan namun pasti mempesona diriku, dengan semua ceritamu. Kamu bercerita tentang indahnya masa kecil yang kamu lewatkan. Perlahan aku jatuh cinta pada sosok cilik berkatapel yang sering kamu ceritakan. Beranjak dewasa, aku pun jatuh cinta pada sosok abu – abu mu dalam seragam masa remajamu. Aku tidak pernah bertemu denganmu di masa itu, namun aku yakin aku pasti jatuh cinta padamu jika diberi kesempatan bertemu denganmu saat itu. Pada sosok ketua kelas yang belajar gitar di teras rumah.

Perlahan, helaan nafasmu membawaku ke cerita mengenai dunia yang kamu geluti. Berapa banyak kata yang telah kamu olah, berapa banyak garis yang sudah kamu goreskan, berapa banyak titik yang telah kamu hubungkan. Sederhana sekaligus kompleks, dan kamu tahu? Itu semua membuatku tidak ingin membangunkanmu dari helaan nafasmu yang teratur itu, karena aku tidak ingin semuanya hilang.

Lalu kamu bergerak, bergeser dari posisimu semula. Meraih guling di dekatmu, mungkin.

Cerita lain bergulir… tentang keluargamu. Ayah, emak, abang Sinyo dan dek Warni. Kamu bercerita betapa kamu menyayangi dek Warni, si bungsu yang menggemaskan itu. Detail juga kamu menggambarkan perasaanmu saat menyadari bahwa dek Warni sudah beranjak dewasa dan memiliki pacar. Padahal di matamu dek Warni itu tetaplah si kecil yang selalu kamu ajak bermain dengan kain gendongan di belakang punggung. Abang sinyo memiliki tempat berbeda dalam ceritamu. Kamu menyanjungnya, sekaligus iri dengan kecerdasannya. Tapi aku tahu dari semua ceritamu, kamu menyayanginya. Ayah dan emak adalah dua sosok yang paling sering kamu ceritakan. Lekat dalam ingatanku bagaimana sosok mereka yang menurutmu merupakan orangtua nomor satu di dunia, dan membuatku iri karena Aku tidak bisa mencintai orangtuaku seperti kamu mencintai orangtuamu.

Nafas mu masih teratur di seberang sana, dan kata – kata itu masih terngiang;

nduk, mas bobo duluan yah. Telpon nya mau di matiin atau gimanah? Mas dah gak kuat menahan kantuk nih. Maaf, mas gak bisa nemenin kamu cerita malam ini. Tapi kalau ndak kamu matiin, nanti yang kedengeran suara ngorok mas lagi…

Dan kamu tertawa renyah di seberang sana, sebelum akhirnya nafasmu teratur dan terdengar indah.

***

cerita fiktif ini dibuat untuk memeriahkan ultahnya mbak eka

*semoga gak telat.
😀

8 Comments

Filed under [drama] lepas

8 responses to “berbincang dengan diam

  1. manteepp deh….keren ceritanya
    moga menang yaaa….

  2. Belum telat koq🙂
    Ma kasih ya partisipasinya.. sudah saya catat linknya..

    Btw yg ultah bukan saya😛 tp blog saya plus ultah perkawinan hehehe

    Salam,
    Eka

  3. Kalau ada drama seperti ini asyik lho.
    pasti di panggung gak ada suara apa-apa ya nduk.

    Saya juga ikut untuk memeriahkan acaranya nak Eka.
    Tak doakan semoga menang yank

    salam sayank selalu

  4. aku suka bait pertama, kedua, ketiga dan keempat, lembut mengalun indah menyentuh jiwa…moga menang🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s