si penyusup

malam minggu kemaren,

saya di depan laptop semaleman, dari saya buka mata sampe ini mata terkantuk – kantuk. tulisan ini harusnya sudah dari dua malam lalu. tapi ada beberapa kendala yang terjadi, sehingga baru terpubliss sekarang (tentu saja dengan sedikit edit -an).

malam minggu kemaren saya bertemu dengan rekan – rekan saya jaman SMA, jaman menghabiskan masa muda (aih… pilihan kata saya….) di kota ngapak tercinta. Kami ngobrol di confrence via YM. Kawan saya yang satu lagi di kalimantan, yang satu di Jogja, dan saya di sini. hehehehe.

Lagi ngobrol – ngobrol seru… pembicaraan menarik kami ke masa SMA. Lalu ingatan saya terseret (meminjam bahasa seorang kawan) ke masa itu. masa putih abu – abu. Masa muda, beda dan berbahaya (hahahahaha). Masa AADC booming, lengkap dengan kaus kaki panjang dan tas – tas ransel plastik. Masa itu bukan jaman millenium kawan. Millenium sudah lewat dua tahun. Tapi handphone dan kamera digital belum di tangan. Internet masih barang langka. Saya harus ke warnet kalau mau online. Chattingnya belum mengenal YM atau FB, masih pake mirc. hahahaha..

di masa itu lah saya mengenal dalri andita, temen sekelas sewaktu kelas dua SMA N 1 Purwokerto. Dulu kami nge geng barengan dua orang kawan lain. Namanya Titin dan Fajar Wulan (nge geng nya gak beneran loh.. itu cuman karena tempat duduk kami sering depan – belakang gitu, jadi kami sering main bareng).

yang membuat saya teringat sama persahabatan kami itu di malam minggu kemaren adalah perbincangan saya sama dita di conference itu: karena secara tiba – tiba dita mengungkit keikutsertaan saya di Paduan Suara sekolah, dengan alasan yang enggak banget.

serius (serius enggak banget – nya…)

sampe sekarang saya suka geleng – geleng kepala kalau inget alesan itu.

alesan nya gak lain gak bukan adalah : kakak kelas. Kakak kelas yang di wisuda.

jadi ada tradisi wisuda yang seperti pelepasan di SMA kami. yang boleh dateng adalah siswa – siswi kelas 3 dan orangtua, serta adik – adik kelas yang bertugas.

Saya dan dita dan waktu itu kelas dua. Dita tergabung dalam paduan suara, dan paduan suara bertugas di hari wisuda. Saya pengen banget hadir di acara wisuda itu (iyah… iyah.. alasan saya mau hadir itu gara – gara saya ngegebet kakak kelas tiga yang mau lulus. dan prospek melihat dia mengenakan jas tuh kayak nya kesempatan yang tidak boleh terlewatkan).

nyari akal.

saya dan titin dan fajar. Nyari akal buat hadir di acara wisuda. Sengan satu alasan yang sama : pengen liat kakak kelas gebetan kami mengenakan jas dan kalau ada kesempatan bisa foto bareng sama mereka (berharap).

petugas adik kelas yang hadir terdiri dari : Paduan suara, pemain gamelan, penari, penerima tamu, pembawa acara.

kami saya maksudnya gak bisa maen gamelan (jelas), gak bisa nari (sangat jelas), tidak cukup goodlooking untuk jadi penerima tamu. Dan di angkatan kami pembawa acara itu sudah ada satu orang yang tak tergantikan. Pilihan nya hanya paduan suara.

lalu… *tring *

teringatlah kami sama kawan kami, dita. Dengan ‘setia kawan’ nya dita mengajak kami menyusup ikut paduan suara. Jadilah satu hari menjelang hari wisuda, berbekal surat ijin dari ruang piket (masih ada gak sih ruang piket sekarang di sekolahan?), kami berempat yang satu kelas itu dapet ijin keluar untuk latihan nyanyi.

kami menyusup.

sebelah kanan deret nomor dua dari depan : dita - titin - fajar - saya

demi melihat gebetan memakai jas. dan tahukan kawan – kawan semua.. pemandang gebetan – mengenakan – jas – itu – berlangsung berapa menit?

Dua kali satu menit.

Satu menit pertama saat mereka memasuki tempat upacara wisuda dan harus melewati kelompok paduan suara.

Satu menit kedua saat mereka dipanggil satu per satu dan menerima ijazah dari kepala sekolah.

Sisanya… gebetan kami duduk nun jauh dari tempat kami bertugas menyanyikan lagu.

๐Ÿ˜€

itu adalah peristiwa yang gak mungkin kami berempat lupakan. Gak.. bukan karena sang gebetan nya. Tapi niat kami buat belajar nyanyi (iyah, suara saya fals….), bela – bela in dateng ke sekolah saat kawan seangkatan kami diliburkan, menggunakan seragam dan bernyanyi. dan, sehari setelah itu anggota paduan suara kembali bertugas untuk upacara.

saya dan tiga kawan penyusup lainnya masih ikut bertugas untuk bernyanyi saat upacara.

itulah yang terkenang. Kebersamaan kami yang sangat indah untuk ditertawakan dan dikenang. Ke ‘bodoh’ an kami yang bela – bela in untuk menyusup ke anggota paduan suara. hanya demi dua menit melihat sang gebetan mengenakan jas.

ah masa muda
*sok tua deeeh….

kami minus fajar dan plus ida,

PS : buat Farid yang tadi ikut nimbrung, makasih loh udah ngingetin satu jam bersama di rental musik. terimakasih juga udah ngingetin kalau suara saya lumayan. lumayan datipada enggak ada vokalisnya
๐Ÿ˜€

9 Comments

Filed under [drama] lepas

9 responses to “si penyusup

  1. wah peyusup aku pikir peyusup apa, ternyata nyusup paduan suara. he he he. met malam

  2. bintang manize

    wkakakakakakak mengenang masa2 INDAH wkt SMA
    emang gakada matinya fajar dah jd ibu,sbk dgn ekornya si kcil ardi
    who’s NEXT??
    AIsDitta misS u aLL ‘@’

  3. ditta

    Ais u’re rock beibeh..ahhahha..ditta ngaakak trus baca critanya..hooaaa..masa putih abu-abu..masa muda..masa yg berapi-api..wkwwkwkkwk..
    Miss u all sistaaaa..

    • ais

      ahahahahahahaaa…..
      mengingat masa muda memang menyenangkan
      *berasa udah tua yah dit? padahal baru 8 tahunan gitu berlalu…

  4. misi mbak.,๐Ÿ™‚
    jadi nyasar ke sini nih mbak.,
    jadi baca postingan yg ini jg, dan jadi inget dulu punya kenangan persis kek gini.,
    hihihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s